Work Text:
“Peliharalah seekor anjing! Agar sikapmu tidak terlalu kaku begitu!”
Bicara saja memang mudah, tapi realitanya tidak sama sekali. Sudah berjam-jam aku memutari toko hewan, namun tidak menemukan anjing yang sesuai. Semuanya terlanjur takut padaku. Loki yang menemaniku juga sudah hampir putus asa. “Wajahmu terlalu mengintimidasi, Kak”, kata Loki sambil mengunyah crepe-nya. “Mungkin kita akan menemukan anjing yang kau mau di tempat penangkapan anjing liar”, guraunya.
Itu dia.
“Ayo kita ke sana”, balasku. Loki yang mendengarnya hampir menjatuhkan cemilannya, “Serius?!”. Aku mengangguk, sedangkan pemuda berambut hijau itu hanya menghela nafas panjang.
“Baiklah, jika itu maumu”
“Tunjukkan saja jalannya”
Akhirnya kami sampai di tempat penangkapan yang dimaksud. Di sana benar-benar banyak anjing entah liar maupun rumahan yang tersesat dan dikandangkan di sana. Awalnya aku merasa hampir tidak ada yang membuatku tertarik, sama seperti ketika di toko hewan. Sampai akhirnya aku bertemu dengannya.
Dobermann hitam yang sedari tadi menggeram dan menatapku tajam.
Inilah dia, anjing yang kumau.
“Aku ingin mengambil Dobermann yang itu”, kataku kepada sang penjaga yang sedari tadi berbincang bersama Loki.
“T-tapi anjing itu terkenal paling galak…”, ujarnya. “Tidak cari yang lain saja---“
“Aku mau yang ini. Siapa namanya?”
Akhirnya sang penjaga menyerah, “Namanya Lu Bu. Pemilik sebelumnya kesulitan untuk menjinakkannya jadi ia membuangnya kemari. Katanya ia terlalu ganas sampai hampir menggigit majikan sebelumnya”
“Hooo. Baiklah, anak yang nakal, ya. Loki, segera urus dokumen dan kandangnya dan lain-lainnya. Aku tetap akan ambil yang ini”, ujarku. Loki hanya memasang senyum tipis lalu kembali bicara dengan si penjaga, “Kau dengar itu. Maaf, kakakku ini punya pendirian yang kuat dan selera yang aneh”.
Lu Bu, ya. Nampaknya kita sudah pernah bertemu… Jadi tidak sabar membawanya.
Sudah beberapa bulan setelah aku membawa Lu Bu ke rumah. Ternyata ia tidak segalak yang dikatakan si penjaga. Setelah aku dan Loki memberinya sedikit latihan, akhirnya Dobermann hitam itu mau menurut padaku. Bahkan ia juga berhasil menarik perhatian Ayah yang awalnya sama sekali tidak tertarik juga dengan peliharaan apapun
“Lu Bu, kemarilah”, kataku sambil memberikan gestur tangan menyuruhnya duduk di sebelahku. Ia menurut, lalu menghampiriku dan tidur di sebelahku. Kuelus kepalanya beberapa kali hingga turun ke perutnya, namun ia tiba-tiba menggigitku dengan gigitan yang tidak menyakitkan. Pasti ia ingin bermain karena bosan. Aku segera bangkit dari sofa tempatku duduk dan mencari mainannya.
“Benar-benar teman yang menarik”
