Work Text:
Rimbaud kadang tidak mengerti mengapa dari awal mereka harus putus. Kalau dipikir-pikir, bukannya teknologi sudah canggih? Masih bisa komunikasi tatap muka walau sedikit ngga puas. Yah walau jarak waktu yang sedikit mengerikan, dia tetap bisa tahan begadang demi chattingan sama si cantik jelita kesayangan hati.
Tapi, apa daya kalau Verlaine dengan lugas berkata kalau dia ogah LDR. Dirinya cuma bisa pasrah sambil ngomel-ngomel di belakang patah hati. Sudah sih, diperjuangin seperti saran-saran gen z di-aplikasi burung, eh malah berujung adu mulut sampai saling blokir kontak.
Cerita sama temannya, malah dibilang semua terjadi karena kehendak Tuhan. Ya dia tahu, tahu banget malah, tapi tetap what the fuck?
Kalau kata yang temannya yang lain, banyak ikan dilaut. Nah, tapi kan Rimbaud cuma suka ikan jenis Verlaine, masakan dipaksa suka ikan teri? Ya ngga bisa dong.
Kopi kembali disesap, pesanan dari salah satu kafe kecil yang cukup memenuhi sense aesthetic- nya. Tema warnanya seperti bumi. Dihiasi warna coklat dan biru muda seperti awan. Jendelanya membentang lebar, membiarkan kucing-kucing dapat berjemur leluasa. Harganya tentu juga tidak begitu ramah dikantong --lebih ke menggerogoti malah--, tapi sangat enak dan dapat bermain bersama kucing-kucing hiperaktif seperti adik kelasnya dulu. Sudah beberapa kali ia datang setiap awal bulan dan ada satu menu yang sangat menarik perhatiannya.
Cheesecake.
Rimbaud sangat ingat. Dulu awal mula mereka bertemu adalah karena cheesecake . Teman satu kelas, yang hobi bikin kue. Entah kenapa, Verlaine dengan kerasukannya menawarkan sepotong besar cheesecake buatannya. Padahal sekelas mengerti kalau si anak emo jadi-jadian benci manis.
Yah, tentu, demi tidak menyakiti hati si anak baru pindahan, ia menerimanya. Mungkin karena rambut Verlaine sangat cantik, hingga-hingga ia mengiyakan tanpa pikir panjang.
Sesuap dilahap, rasanya seperti menjanjikan.
Dua suap ditelan, rasanya kok pas di lidah.
Tiga suap dikunyah, rasanya sangat enak.
Dan yang diketahui, kue yang dipegang sudah habis. Kemudian, terdapat suara tawa renyah milik Verlaine. Sangat indah, selembut angin musim gugur.
"Kamu katanya ngga suka makanan manis, tapi kamu lahap banget makannya."
"Ya." Jawabannya sekaku kanebo kering. Namun, hal ini membuat suara yang selalu ingin ia dengar lagi, kembali mengudara.
Semenjak itu, Rimbaud menjadi kelinci percobaan Verlaine setiap kali si blonde memasak.
Si rambut hitam menghela napas, kembali mencoba untuk berdamai dengan masa lalu. Lidahnya dengan ragu memesan untuk pertama kali kue yang telah menjadi kenangan selama empat tahun belakangan.
Jujur ia ragu. Sangat ragu hingga saat piring datang bersama kopi Americano , dirinya enggan memakan kue tersebut.
Tapi, yang sudah dipesan harus dihabiskan. Apalagi dengan uangnya yang menipis gara-gara sepotong kecil kue berisi keju.
Sesuap dilahap, rasanya seperti familiar.
Dua suap ditelan, rasanya kok seperti kenangan.
Tiga suap dikunyah, rasanya sama persis dengan yang ia rindukan.
Terakhir yang ia tahu ialah, kuenya habis dibarengi air mata mengalir deras.
Selama ini, atau setidaknya sebelum hari ini, Rimbaud mengira kalau dirinya telah berganti laman kisah. Pikirannya sudah memberikan ilusi kalau yang lalu telah menjadi lampau. Hatinya berisi kepingan palsu, yang memberikan lindungan kepada rasa kangen yang asli.
Rimbaud enggan mengakui. Lebih memilih untuk buta.
Makannya saat si pemilik mendatangi dirinya yang menangis sesenggukan seperti bayi lapar. Dirinya cuma bisa berkata, "Ini yang buat Verlaine?"
Sangat aneh. Seharusnya, sebagai pelanggan tak elok untuk berkomentar seperti itu. Bapak berkumis yang diketahui bernama Fukuchi cuma bisa tertawa khas bapak-bapak ronda dan duduk di kursi yang berhadapan persis dengan Rimbaud.
"Bukan, ini yang buat bapak. Cuma memang resepnya betul dari Verlaine. Bapak kenal dia melalui blog di internet."
“Kok bisa?”
“Yah awalnya bapak kan lihat-lihat resep begitu di blog , terus bapak ajak ngobrol yang punya. Terus bapak tawari buat ajarin bapak. Les online begitu, kebetulan nak Verlaine mau….”
"Lalu? Sekarang Verlaine gimana pak?"
"Kalau sekarang bapak engga tahu, terakhir kontakan itu sekitar setahun lalu. Terakhir yang bapak lihat dari blog -nya dia sih, sepertinya dia sudah ngga ada."
Hah?
Hah?
“Dia seperti bikin puisi mengenai ingin mengakhiri segalanya. Memang dia suka ngawur gitu. Diakhir resep suka sekali ditambah puisi aneh-aneh.”
“Bapak sudah tanya ada apa, tapi dia cuma ketawa lalu bilang ngga apa-apa. Ya bapak ngga paksa buat jawab. Lalu setelahnya hilang, seperti ditelan bumi.”
“O-oh.”
“Kamu itu temannya Nak Verlaine ‘kah? Kok sampai tahu rasa kue buatannya Nak Verlaine?” Pak Fukuchi tertawa sambil mengangkat salah satu anakan kucing berwarna oranye. “Atau kamu itu jangan-jangan mantannya Nak Verlaine?” Alis tebal itu naik turun menggoda pelanggannya.
“Hahaha.” Tawanya sangat kentara dipaksakan. Namun laki-laki tua dihadapannya seperti tidak memedulikan dan lebih asik bermain dengan anak kucing tersebut.
Kepalanya kalut, berusaha mengajak bercanda kenyataan. Bagaimana?
Bagaimana maksudnya ia tidak dapat bertemu lagi dengan si kasih? Bukankah terakhir yang ia lihat, Verlaine hendak pulang ke kampung halaman dengan ijazah di tangan sambil membawa rasa bangga pada pundak?
Yang akan pasti dengan berbunga-bunga, mengabari semua teman jika ia sudah kembali dan mau memasakan kembali kue kesenangan semua orang, terlebih dirinya?
Kenapa malah kembali ke Yang Maha Kuasa dari pada ke pelukannya?
Padahal Rimbaud sudah berniat untuk mengajaknya makan malam dan bernostalgia mengenal kembali wisata masa lalu yang sering secara tidak sengaja ia kunjungi pada tengah malam?
Apakah ia terlambat? Apakah tidak ada kesempatan lain? Mengapa takdir selalu dan terus selalu memisahkannya dari sumber bahagia?
Apakah ini karma karena memilih untuk kabur daripada menghadapi? Kenapa begitu mengerikan? Bukannya terlalu kejam? Kesalahannya ialah hanya tidak berani mengambil tindakan awal. Mengapa takdir mengutuknya lebih parah?
Hati Rimbaud hancur seketika itu juga.
