Work Text:
“ Hadeh, bocah-bocah saiki njancuki kabeh ”. (Haduh, anak-anak sekarang selalu bikin jengkel)
Fukuchi Ouchi, pemilik kafe yang medhok suroboyo -nya keluar di saat-saat jiwa tertekan laksana rusa kehausan menatap pemandangan di depannya dengan jengah. Bahasa kerennya, he didn’t sign up for this saat memutuskan untuk punya kafe.
Saat bapak-bapak seumurannya berinvestasi pada batu akik dan tanah di sekitar area-area yang berpotensi jadi objek wisata internasional lima tahun ke depan, Fukuchi berani beda. Hasrat masa remaja yang direpresi karena sedari kecil sudah dididik militan untuk meneruskan kejayaan keluarga mengabdi bagi negara akhirnya berkulminasi pada usia 45 tahun hingga mendorong jiwa untuk merealisasikan hasrat itu.
Awalnya, Fukuchi sama sekali tidak terpikir akan ide ini. Habisnya, bapak-bapak berkumis membuka kafe bertema imut-imut gemas bukanlah gambaran yang umum. Tetapi untunglah selamat dari investasi bodong berhasil membuka matanya, bahwa daripada menjunjung konformitas dan mengikuti arus, lebih baik jadi diri sendiri dan mengikuti kata hati. Kalau hati mau yang lucu-lucu imut gemas ya mari ikuti.
Jadilah, cat cafe— konsep baru yang ia dapatkan dari sobat karib yang punya seribu scrapbook bertema kucing dalam ponsel—menjadi jalan tengah untuk merekonsiliasi afeksinya terhadap benda-benda lucu dalam berbagai spektrum.
Kalau kata lagu yang sering dimainkan tempat les-lesan di depan kafe Fukuchi, the world is full of surprises. Gaul kali kau Pak, referensinya macam-macam.
Meskipun begitu, karena bersikeras melakukan semuanya sendirian—mulai dari mendesain konsep, memikirkan business model, sampai cari modal sana-sini—hasilnya kurang maksimal, seperti ada potensi bagus, tapi tetap ada yang kurang. Contohnya pembangunan kafe yang masih kurang sepertiga bagian tapi dipaksa beroperasi. Alhasil, konsep semi-industrial terserap dengan sendirinya.
Kata Ranpo, anak tetangga yang menurut Fukuchi lumayan cerdas—meskipun kerjaannya memalak jualan Fukuchi setiap hari—upayanya ini mengamini slogan ‘jack of all trades, master of none’. Meskipun Fukuchi masih sering bingung jeki-jeki iki opo toh maksud e – dia kenalnya cuma Bleki anjing tetangga yang lebih kalem dari tuannya – tapi menurut hasil pencarian Google, itu artinya meskipun nggak jago-jago amat di bidang apapun yang penting mengerjakan segala urusan kelar meskipun skill pas-pasan.
Dan Fukuchi menjadikan itu motto hidupnya : walau tidak jago yang penting kelar.
Jadilah ia bertekad menyelesaikan masalah di depannya saat ini. Seorang pelanggan di salah satu sudut kafenya tengah mengalirkan air mata yang semakin lama semakin deras. Kebetulan sedang jam sepi, sehingga yang menjadi penonton melodrama di siang hari ini hanya Fukuchi dan kucing-kucing yang berkumpul di sekitarnya pemuda itu, mengeong-ngeong menambah keruh suasana. Fukuchi berpikir sejenak.
Haruskah dia beri sebotol air putih gratis dengan kata-kata penyemangat di bungkusnya? Saat jarinya sudah mulai menelusuri deretan panjang chat dari grup RT bapak-bapak, mencari ucapan konsolasi yang sekiranya dapat menenangkan hati melintasi perbedaan generasional, rupanya pemuda yang sedari tadi diperhatikan menoleh balik. Jadilah mereka tatap-tatapan.
Sepuluh detik.
Dua puluh detik.
Tiga puluh lima detik.
Empat puluh tujuh detik…
—dan Fukuchi berkedip. Kemampuan adu tatapnya harus ditingkatkan lagi rupanya. Tatapan pemuda itu mulai berkaca-kaca lagi.
Agar situasi tidak jadi canggung, Fukuchi sesegera mungkin menghampiri yang ditatap. Belum sempat dia menyapa duluan, sebuah pertanyaan di sela-sela sesenggukan menyambar.
“Ini yang buat Verlaine?”
Bak tersetrum listrik dari kabel terkelupas, nama itu menggesek memori yang hampir terlupakan dalam otak Fukuchi. Verlaine. Meskipun pemuda di depannya ini mengucapkan nama tersebut dengan sedikit berbeda darinya— vwerlein , bukan farlan— tetap saja pertanyaan itu mengingatkan pada sosok yang sudah setahun tak terdengar kabarnya.
Fukuchi memelintir kumisnya, berusaha mengingat-ingat lagi sosok yang lebih sering ia jumpai dalam butir demi butir instruksi membuat kue dan pastry—yang akhirnya juga sebagian besar jadi fondasi resep kafe Fukuchi—di blognya. Verlaine-yang-nama-depannya-lupa-apa adalah sosok yang menarik, meskipun agak mengkhawatirkan juga. Meskipun resep-resep yang dia bagikan Fukuchi akui sangat luar biasa, kejeniusan itu bersanding dengan bait-bait puisi galau yang metaforanya hanya berkisar pada bintang bulan matahari pada setiap unggahan tapi tetap terasa pedihnya.
Orang aneh, pikir Fukuchi saat itu. Tapi toh, akhirnya dia juga yang berinisiatif mengajak ngobrol orang itu duluan, dan bahkan sampai meminta diajari sekaligus diwarisi keahliannya, sehingga saat Verlaine menghilang tanpa jejak setelah mengunggah sebuah larik yang sedih mendayu, Fukuchi benar-benar khawatir terjadi apa-apa padanya.
Bahkan permintaan saran yang ia ajukan pada tidak kurang dari lima groupchat berisi orang-orang paruh baya juga tidak berhasil menenangkan hatinya—terutama karena tidak dibalas sama sekali tapi bukan itu intinya.
Dan sekarang, di tengah kehilangan si penyair blog resep yang masih menjadi misteri, datanglah seseorang yang menangis menyebut-nyebut nama itu. Fukuchi mau tidak mau agak suudzon juga.
Tapi , pikirnya, jika orang di depannya ini bisa mengenali seseorang yang ribuan mil jauhnya hanya dari rasa dan tekstur yang diduplikasi tangan lain, maka ada baiknya jujur menjawab.
“Bukan, yang buat saya. Cuma memang resepnya betul dari Verlaine. Bapak kenal dia melalui blog di internet”.
“Kok bisa?”
“Yah awalnya bapak kan lihat-lihat resep begitu di blog , terus bapak ajak ngobrol yang punya. Terus bapak tawari buat ajarin bapak. Les online begitu, kebetulan nak Verlaine mau….”
"Lalu? Sekarang Verlaine gimana pak?"
"Kalau sekarang bapak nggak tahu, terakhir kontakan itu sekitar setahun lalu. Terakhir yang bapak lihat dari blog -nya dia sih, sepertinya dia sudah nggak ada."
Raut wajah pemuda di hadapannya berubah murung, seolah pernyataan Fukuchi adalah garam di atas luka. Tapi sudah kepalang tanggung, ya Fukuchi beberkan saja semuanya.
“Dia seperti bikin puisi mengenai ingin mengakhiri segalanya. Memang dia suka ngawur gitu. Di akhir resep suka sekali ditambah puisi aneh-aneh. Bapak sudah tanya ada apa, tapi dia cuma ketawa lalu bilang nggak apa-apa. Ya bapak nggak paksa buat jawab. Lalu setelahnya hilang, seperti ditelan bumi.”
Suara pemuda di depannya kian serak, dan wajahnya kian pasi, seolah syok. Fukuchi terdorong untuk mengambilkannya air hangat untuk menenangkan diri, tapi godaan setan untuk mengorek gosip memang lebih kuat. Jadi disuarakannya kekepoannya sedari tadi. Perihal hubungan si pemuda misterius dengan Verlaine yang menghilang ditelan bumi.
Sayang, yang menjawab hanya tawa hambar ditambah tatapan menerawang. Tak ingin menambah kalut suasana, Fukuchi mengarahkan perhatiannya pada kucing-kucing yang berkerumun di kakinya, urung bertanya lebih jauh, takut tak sengaja menekan luka yang tak disangka-sangka.
★★★
Berbeda dengan kerincing lonceng angin yang lembut saat pelanggan sebelumnya dengan lunglai meninggalkan kafe, saat ini polusi suara mendera pendengaran Fukuchi. Kombinasi suara pintu kaca yang didorong dengan kasar hingga berulang-ulang ditabrak lonceng angin dengan derap langkah ceroboh sana-sini mewujud seseorang dengan topi pet coklat dan rambut berantakan.
“ Kon meneh, kon meneh”, keluh Fukuchi (kamu lagi, kamu lagi)
Yang jadi sasaran keluhan itu tidak menggubris, melainkan berjalan ke etalase kue dan mencomot salah satu isinya.
"Siapa tuh?"
Fukuchi mengangkat alis.
“Yang barusan keluar”, perjelas Ranpo, tangannya sigap mencomot potongan kedua.
Fukuchi menghela nafas, mau tidak rela tapi sudah pasrah. Pantas saja kafe ini lama sekali break even-nya.
"Sepertinya mantannya yang punya blog resep kapan hari", balas Fukuchi singkat.
"Kok bisa nyasar sampe sini?"
“Kebetulan kayaknya, tapi tadi nangis-nangis di sini habis makan cheesecake, terus ya udah saya bilangin yang punya blog sudah meninggal".
Ketika mendengar ini, alis Ranpo terangkat. "Loh, kok tau kalo udah meninggal? Bukannya orangnya di luar negeri?"
Fukuchi mengirim tatapan sengit. “Kamu waktu itu saya panik nanya kamu di WA kamu hanya read makanya nggak tau”, timpalnya ketus.
“Males reply WA”
Meskipun kecewa dengan jawaban tersebut, Fukuchi tetap memaparkan ulang kejadiannya. “Dia kan nulis macam-macam hal yang nggak-nggak di bawah resepnya, terus suatu hari kirim sesuatu yang mengkhawatirkan banget terus menghilang”.
Mendengar itu, mata Ranpo berkilat. Ditariknya kursi terdekat, lalu duduk dengan posisi yang songong banget. “Mana coba, buka puisi terakhirnya!”
“ Yo sek sabaran, sudah lama nggak buka”. Ditekan-tekannya ponselnya, hingga akhirnya sampai pada laman blog Verlaine yang sudah tidak aktif. Terpampanglah curhatan terakhir Verlaine.
Jangan cari aku, aku mau menubruk takdir dan bergelut dengan malaikat di kaki langit sampai nama yang selalu dia sebut selama ini berganti jadi nama baru.
Ranpo menghela nafas. “Alah, puisi galau doang ini mah! Palingan dia cuma bosen ngeblogging terus”
“ Tapi puisi-puisi sebelumnya sudah seperti orang mau mengakhiri hidup, sepertinya galau sekali dia ditinggal mantannya”, sanggah Fukuchi skeptis.
“Mana coba aku lihat tulisan-tulisannya dari awal”, Ranpo tidak mau kalah mempertahankan argumennya. Disambarnya ponsel Fukuchi. Fukuchi pasrah dan beralih mengambil segelas kopi yang hampir terlupakan di atas meja.
Dalam beberapa menit, Ranpo mengutak-atik ponsel dalam genggamannya, mencari petunjuk di sana sini dalam setiap baris yang pernah ditulis Verlaine. Belum sampai dua teguk Fukuchi menenggak kopi, Ranpo sudah tersenyum puas.
“Nggak mati ini mah, cuma… yaaaa, masih hidup lah, tapi aku sih males tau dia lagi ngapain sekarang”.
Alis Fukuchi berkedut, tak mampu membendung rasa ingin tahu yang terpancar di wajahnya. “Kamu boleh ambil kuenya satu lagi kalo kasih tahu”.
“Nggak ngasih tau juga biasa aku dapet jatah unlimited ”.
Fukuchi hanya melengos pasrah, paham bahwa tidak ada gunanya berdebat dengan tuyul kecil di depannya yang tidak pernah absen mengunyah. Ya sudahlah, biarkan dia di sini sampai dijemput nanti sore.
Tiba-tiba, Ranpo terlonjak dari posisi santainya lagi.
“Loh Pak, terus orang tadi gimana? Kan tadi kalian berdua kayak orang buta nuntun orang buta masuk jurang. Jadi sekarang dia percaya mantannya udah mokad dong?”
