Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2021-12-23
Words:
1,966
Chapters:
1/1
Comments:
1
Kudos:
2
Hits:
23

After investigation

Summary:

Sebuah hari di mana Kira telah mati, di sebuah akhir bahagia antara Ryuzaki dan Light. Selamat tinggal.

Notes:

Gue mendadak kangen mereka setelah baca novel L : Change The World, terbitan M&C, nangis banget.

Work Text:

 

 

Sudah seminggu semenjak Kyosuke Higuchi ditangkap atas tuduhan sebagai Kira. dengan bukti bukti yang aku dan L kumpulkan dalam investigasi, sebenarnya dapat membuat Higuchi dijebloskan kedalam penjara atau bahkan mendapatkan hukuman mati atas kejahatan pembunuhan masal di Kanto, Jepang. 

 

Namun hukuman hukuman serupa tidak terjadi. Higuchi tewas di tempat tak berapa lama ditangkap tim kepolisian jepang dengan penyebab serangan jantung. L mengatakan bahwa kematian Higuchi disebabkan oleh seorang 'monster' atau mungkin lebih tepatnya Shinigami. Entahlah, aku tidak tahu pasti, aku tidak melihat monster yang dimaksud. 

 

Setelah kejadian, itu markas besar mulai dikosongkan. Anggota kasus Kira mulai dibubarkan. Ayahku dan anggota yang lainnya mulai membersihkan barang barang mereka dan kembali ke rumah masing masing.

 

 

Sebenarnya para anggota yang terlibat investigasi bisa saja memilih untuk tidak berkerja. Hidup mereka akan ditanggung sepenuhnya oleh L (atau mungkin Watari) tapi kebanyakan dari mereka memilih untuk kembali menjadi tim kepolisian. Sedangkan yang lainnya – maksudku tuan Mogi – memilih untuk menjadi manager pribadi Misa Amane. Padahal, kupikir dia akan berhenti dalam waktu dekat karena wajahnya yang selalu nampak tertekan setiap kali ditugaskan bersama Misa.

 

Semuannya beranjak, tidak terkecuali aku. Setelah lulus universitas aku berpikir untuk masuk tim kepolisian seperti ayahku. Bagaimanapun juga Kira sudah tidak ada. Karna pembunuhan terhadap penjahat telah berakhir, kurasa mereka akan lebih leluasa untuk melakukan tindak kriminal dan mungkin angka kejahatan akan semakin meningkat seperti sedia kala. Pada saat saat seperti itu kekuatan kepolisian akan sangat dibutuhkan.

 

Aku melihat toko kue diseberang, atau lebih tepatnya menatap seseorang yang tengah melambai lambaikan tangannya padaku sambil memasang senyum bodoh – atau lebih tepatnya cengiran yang mengerikan.

 

"Astaga, Ryuzaki! kenapa kau lama sekali?!" Masih tidak menghilangkan senyumannya, laki laki berkaus putih itu masuk ke mobil sambil menggandeng box berisi kue berukuran jumbo.

 

"Maaf, Light-kun. tadi aku sempat berdebat kepada perempuan dengan riasan wajah tebal yang ingin mengambil kueku," ucapnya sambil membuka box dan menyicipi krim manis. Aku menghela nafas kesal dan melajukan mobil kembali ke markas.

 

"Bukannya tadi Matsuda sudah membelikanmu kue?"

 

"Matsuda bodoh, dia malah membelikanku kue blueberry. Padahal sudah kukatakan untuk membeli kue stroberi, jadi terpaksa aku membeli lagi. Matsuda benar benar bodoh, 'kan? Yagami-kun?"

 

Aku mengacuhkan Ryuzaki yang mulai lupa dunia akibat krim krim yang memenuhi jari jarinya dan kembali fokus pada jalanan. Beberapa jam yang lalu Ryuzaki terus terusan memaksaku untuk mengantarkannya ke toko kue. Berbagai macam alasan ia lontarkan agar aku mau mengantarnya.

 

"Kenapa kau tidak pergi sendiri saja?" ucap ku sambil menyilangkan tangan di dada.

 

"Aku tidak bisa menyetir, Light-kun." Bohong. Minggu lalu aku melihatmu menerbangkan helikopter tanpa menabrak, seharusnya kau bisa mengendarai mobil, dasar Ryuzaki sialan. Sebelum aku mengatakan 'iya' dia tidak akan berhenti menggoyang goyangkan kursiku, memutarnya sehingga aku pusing, dan kemudian menunjuk nunjuk pipiku dengen garpunya.

 

"Ayolah, Lightttt! Watari tidak bisa mengantarku, dia sedang sibuk membereskan data data investigasi. Nanti akan kuberikan potongan besar – maksudku kecil, dari kue, ya ya ya?"

 

kau pikir aku tidak sibuk?

 

Dan sekarang disinilah aku. Berkendara berkilo kilometer dari satu toko kue ke toko yang lainnya hanya untuk mencari dan bertanya; apakah disini ada kue stroberi? 

 

Matahari semakin jatuh di ujung sana. Udara semakin dingin, musim terlah berganti menjadi gugur. Kami berhenti di dekat sebuah sungai, Ryuzaki bilang ingin menikmati matahari terbenam. Dia meninggalkan box kuenya di mobil dan pergi meninggalkanku yang masih mencari cari jaket dan syal di bagasi.

 

Ryuzaki duduk di pagar pembatas sambil menikmati angin sore, matanya sesekali terpejam, dia tampak begitu damai. Dia menepuk nepuk samping tempat duduknya mengisyaratkan agar aku duduk di sana. Tentu aku tidak mau.

 

"Nah," ucapku sambil menyerahkan syal padanya.

 

"Tidak usah. Light saja yang pakai."

 

"kau itu jangan keras kepala." Dia tidak menolak ketika aku melilitkan syal di lehernya. Angin berhembus kencang. Rambut Ryuzaki bergerak tak beraturan hingga menutup matanya. Sepasang mata yang tajam langsung terlihat setelah rambut yang menutupinya berhasil tersingkirkan. Mata bulat dengan garis hitam dibawahnya seolah bercerita bahwa Ryuzaki yang pemaksa ini jarang terlelap untuk waktu yang lama.

 

Ryuzaki mengalihkan wajahnya, lantas bertanya, "Apa yang kau lihat dariku, Light?"

 

Aku tertawa pelan kemudian mengalihkan pandangan. "Tidak ada. aku hanya berpikir bahwa kau terlihat seperti panda, Ryu" dia tampak mengerutkan dahinya "aku rasa itu bukan pujian"

 

Agak menaikkan bahu, aku tersenyum padanya, "Memang bukan, kok."

 

dia menatap matahari terbenam sambil tersenyum kecil. "Cantik," ucapnya sambil merasakan belaian angin. 

 

Kami terdiam selama beberapa saat. Terjebak dalam pikiran masing masing sambil menatap sungai dan matahari tenggelam. Sepertinya Ryuzaki tidak terlalu sering menikmati sunset atau bahkan pergi ke luar, bisa dilihat dari cara dia begitu menikmati cahaya matahari dengan damai seperti orang mati. Kemudian dia tiba tiba saja menatap ke arahku, mengejutkan aku yang tengah melamun.

 

"Light?"

 

Kesadaranku kembali seutuhnya ketika dia memanggilku. Aku mengusap wajah perlahan karena terasa dingin dan agak mati rasa. "Ah, maaf. Pikiranku ada ditempat lain. Apa yang kau katakan tadi?"

 

"Aku bilang, apa yang yang akan kau lakukan setelah ini?"

 

"Ah, ituu, aku pikir akan masuk kepolisian seperti ayahku." kemudian aku menceritakan tentang pikiranku untuk masuk kesana yang dibalas anggukan dan sesekali bertanya dan mengernyitkan dahi. Dia bilang itu ide bagus. Katanya dengan kemampuanku sekarang aku akan melakukan tugas kepolisian dengan baik seperti ayahku.

 

"Bagaimana denganmu? Apa yang akan kau lakukan setelah ini?" Ryuzaki tampak berpikir sebentar sambil menggigiti jempolnya.

 

"Entahlah, mungkin aku akan pensiun apabila diperbolehkan. Lagi pula, calon penerus L selanjutnya telah siap. Jadi tidak ada alasan untukku tetap di sana." aku sedikit tidak mengeti kata kata 'di sana' dan 'telah siap' yang diucapkannya.

 

"Mungkin aku akan menyewa apartemen, berkerja, minum minum, yaaah seperti orang normal pada umumnya," ucapnya sambil melompat melewati pagar dan menggelinding. Aku tidak bercanda soal menggelinding, dia benar benar menggelinding seperti bola sehingga aku takut dia akan masuk ke sungai. Dibawah sana dia kembali melambai lambaikan tangannya ke arahku seolah berkata; hey, Light! Lihat! aku masih hidup!

 

Kadang aku meragukan gelar detektif terhebat yang disandangnya. Dilihat dari sisi manapun dia hanyalah seorang anak laki laki yang sangat kekanakan. Terkadang dia melakukan hal hal acak dan tak bisa diprediksi. Seperti kemarin dia tiba tiba menggigit leherku dan bilang kalau kulitku seperti puding vanilla jadi dia penasaran bagaimana rasanya.

 

Aku turun ke arahnya dengan hati hati – tidak menggelinding. Kami bertingkah seperti anak anak. Tubuhnya banyak ditempeli ilalang dan rumput rumput kecil. Dia meringis berkali kali karena bagian tubuhnya tertusuk duri duri, jadi aku membersihkannya sambil tertawa.

 

"Berhenti menertawaiku, Light!" aku tidak berhenti tertawa meski begitu. Duri duri liar menempel sangat banyak di punggung dan rambut miliknya. 

 

"Kau bertingkah sangat tolol, Ryuzaki."

 

Sepertinya ini pertama kali semenjak kasus Kira kami bersenang senang tanpa harus mencurigai satu sama lain. Entah dengan Ryuzaki yang masih menuduhku Kira atau tidak, tapi aku benar benar menikmati ini. Seolah kami bersikap seperti dua mahasiswa akhir yang terbebas dari jeratan skripsi dan bersenang senang sebelum memasuki dunia kerja-super-serius.

 

Untuk beberapa saat aku benar benar merasa kami hanyalah dua anak normal yang habis pulang minum-minum.

 

###

 

"Terimakasih atas kerja keras kalian selama ini." Watari membungkuk hormat. Untuk ukuran pria yang sudah ubanan, dia benar benar masih gagah dan tegap. Dan lagi, dia masih bisa mengendalikan sniper dan membidik dari atas helikopter yang sedang bergerak dengan sangat akurat. Aku dan tim investigasi yang lainnya balas membungkuk.

 

Sudah saatnya kami kembali ke tempat masing masing. Barang barang sudah dibersihkan, data data sisa investigasi juga telah diamankan oleh Watari untuk disimpan sebagai laporan dan riwayat riwayat pencapaian L yang sekarang. Ngomong ngomong soal L, dia sekarang berdiri di depan kami tanpa membungkuk seperti Watari, lagi lagi menggaruk garuk kepalanya seperti monyet.

 

"Apakah sudah tidak ada yang tertinggal, Light?" tanya Ayah memastikan lagi.

 

"Aku rasa tidak ada, Ayah. Tapi ... sejak pagi tadi aku tidak dapat menemukan jam tangan milikku. Aku rasa dia hilang atau mungkin terselip di suatu tempat." Sebenarnya aku sudah menyerah mencarinya. Jam tangan itu tidak ada di kamar, ruangan investigasi, dapur, atau di manapun itu. Bahkan aku sudah memeriksa sebagian dari kamar mandi di gedung yang besar ini.

 

"Jam tangan? Maksudmu jam tangan berwarna abu abu yang baterainya hampir habis itu, Light?"

 

Aku mengangguk cepat. "Ya, apa kau melihatnya, Ryuzaki?"

 

Dia tampak berpikir sambil menggigiti kukunya. Kemudian matanya membulat, langsung menatapku dengan kantung mata yang lebih hitam dari biasanya.

 

"Ah! Aku melihatnya! Aku menyimpannya di suatu tempat, entah di mana. Kau mau membantuku mencarinya, Light?" aku menatap pada ayah, bertanya apakah dia akan keberatan atau tidak jika menunggu sedikit lebih lama lagi. Ayah bilang tidak masalah, dia juga memiliki beberapa hal lain yang ingin diperbincangkan, baik dengan Watari, maupun teman teman satu timya sekarang.

 

Jadi aku mengikutinya menuju kamar yang dulunya digunakan kami ketika saling terjerat dengan borgol, bekas gelang besi itu masih tersisa di pergelangan tangan, membentuk lingkar biru keunguan. Aku mulai merasa jengkel ketika dia terus terusan menyuruhku untuk mencari sementara dia hanya membongkar seprai dengan malas malasan. Seharusnya aku tau jika dia hanya mengerjaiku.

 

"Light, coba kau cari di laci lemari di sana." Ryuzaki menunjuk nunjuk laci yang di bawah, dia masih memisah misahkan sarung bantal.

 

"Aku sudah mencarinya di sana, tidak ada. Kau hanya ingin mengerjaiku, 'kan, Ryuzaki?" aku mulai merasa jengkel, merasa benar benar dipermainkan.

 

"Tentu tidak, Light. Coba kau cari lagi. Di sana terdapat kolom rahasia yang ditutupi papan yang hanya bisa terbuka jika kau menariknya ke atas. Terkadang aku menyimpan makananku di sana agar Matsuda tidak mengambilnya."

 

Aku menuju ke sana dengan menggerutu. Awas saja jika kali ini pun dia mengerjaiku. Aku bisa saja meninggalkan jam itu di sini, seingatku tidak ada hal yang istimewa padanya. tapi karena sudah menjadi kebiasaan, pergelangan tanganku terasa sangat dingin dan kosong.

 

Sial. Tidak ada yang namanya 'kolom rahasia' yang dia bicarakan. Lagi lagi aku dikerjai olehnya. Aku ingin beranjak kemudian keluar, namun sebelum itu terjadi, punggungku terasa berat.

 

"Apa yang kau lakukan, Ryuzaki?" aku merasakan kepalanya bersandar di punggungku. Aku tidak tau apa yang dia lakukan, yang aku tau napasnya terasa dingin. Entah ini bagian dari leluconnya atau tidak, tapi ini terasa sangat diam dan serius.

 

"Light," ucap Ryuzaki memanggil namaku. Aku tidak merespon, menunggu dia mengucapkan kata kata lain. Terasa jarinya menyentuh punggungku. Sebenarnya aku agak khawatir Ayah sudah lama menunggu, tetapi aku tetap diam dengan posisi yang membuat punggung pegal ini.

 

"Apa yang akan terjadi jika Kira tidak pernah muncul?"

 

"Kita tidak akan pernah bertemu dan angka kejahatan di jepang tidak akan menurun sedrastis ini."

 

Terasa kepalanya bergerak gerak, menyetujui jawabanku yang seharusnya dia sendiri sudah tahu.

 

Aku tidak tahu kemana arah percakapan ini akan berlanjut, dan tidak mengerti mengapa dia bertanya seperti barusan hingga aku mendengar bisikan super pelan darinya. Aku tertegun sebentar, kemudian membalikkan badanku dan menatapnya.

 

"Terimakasih," katanya lalu mengulurkan tangan. "Untuk menemani membeli kue dan untuk menjadi Kira."

 

Aku tertawa pelan dan meraih tangan putih-pucat Ryuzaki. Rasanya begitu dingin, seperti tidak ada aliran darah di bawah sana. "Bodoh."

 

Kami berjabat tangan sesaat, terlihat jam tanganku di tangannya yang tertutup baju putih lusuh juga bekas jeratan borgol yang menyisahkan bekas keunguan yang serasi dengan bekasku.

 

Ryuzaki memelukku, ternyata tinggi badan kami hampir mirip jika saja dia tidak terlalu membungkuk dan berjalan seperti katak.

 

"Sepertinya jam tanganku benar benar hilang, ya?"

 

"Kau benar, sepertinya sudah hilang selamanya."

 

Benar saja, ayah sudah menunggu di depan lobi. Dia bertanya apakah jam tanganku ketemu atau tidak, lalu kukatakan padanya jam tanganku sudah hilang selamanya. Kami melambai pada Watari yang menghantar sampai depan hingga beberapa mobil hitam menjemput dan kami pulang ke rumah masing masing. Sementara L – ah, Ryuzaki, tidak terlihat sama sekali.

 

Aku menatap pergelangan tangaku, bekas borgol dan tonjokan di wajah masih benar benar terasa, seperti baru kemarin atau beberapa jam yang lalu. tiba-tiba teringat kata katanya tadi.

 

Kau adalah  teman pertama yang sangat berharga buatku, Light.

 

Benar, dia hanyalah anak laki laki biasa yang dituntut untuk bisa dan luarbiasa. Padahal, aslinya dia hanyalah remaja biasa seperti pada umumnya. Entah selanjutnya bisa bertemu atau tidak, sedikit banyaknya aku bersukur bisa dituduh menjadi Kira dan terjebak dengan orang aneh seperti dia.

 

Terimakasih, untuk sudah menjadi L, Ryuzaki.