Actions

Work Header

Hujan, Petir, Kilat

Summary:

Nanon memiliki trauma yang buruk terhadap hujan deras, kilat, dan petir. Untung saja ada Ohm yang menenangkannya saat hujan badai turun ke bumi pada hari itu.

Notes:

this story is inspired by my childhood experience where at that time, I used to be afraid of raining's sound eventhough until now I still don't know why it happened.

Chapter 1: Asal Mula

Chapter Text


 

Hujan deras, kilat, dan petir.

Lengkap sudah kombinasi hal-hal yang ditakutkan oleh Nanon.

Sudah sejak kecil Nanon benci dengan tiga hal yang disebutkan di atas tadi. Kejadian buruk di masa lalu membuat otaknya mengalami trauma setiap kali ia melihat atau mendengar ketiganya. 

Hujan yang deras, kilat-kilat menyambar, dan petir yang bersahutan merupakan saksi bisu di mana orang tua Nanon mengalami kecelakaan. Merengut kedua nyawa mereka, dan membuat hidup Nanon seakan-akan terhempas dari bumi.

Hidup Nanon sangat tersiksa setelah itu. Apalagi ia sudah tak memiliki siapapun, seluruh kerabatnya tinggal di luar negeri. Sejak itulah ia hidup sebatang kara, walaupun masih duduk di bangku SMP. 

Dirinya juga tidak ingin melakukan terapi. Nanon takut masalah yang dialaminya akan dianggap sepele oleh orang lain. Dan sampai sekarang ia telah menjadi mahasiswa di sebuah universitas, Nanon masih menyimpan rapat-rapat kelemahannya itu.

Hingga sebuah kejadian buruk kembali menimpanya. Tanpa dijemput dan tanpa diminta, tiga hal yang paling dibenci Nanon muncul secara tiba-tiba.

Padahal siang harinya, cuaca bisa dibilang sangat terik. Membuat siapapun mengira tak akan ada hujan di hari itu.

Termasuk Nanon.

Saat itu Nanon sedang berjalan pulang menuju apartemennya yang tidak jauh dari universitas tempat ia berkuliah. Namun tanpa adanya pertanda, hujan turun dengan deras beberapa menit sebelum Nanon sampai di apartemen.

Akibat trauma masa lalu yang dialaminya, sampai-sampai ia diam berkutik walaupun saat itu hujan benar-benar turun dengan sangat deras. Seluruh tubuhnya basah kuyup begitu juga barang bawaannya. 

Nanon benar-benar ketakutan, ia menutup kedua telinganya erat, bermaksud memblokade suara hujan dan petir yang keras. Isakan-isakan tangis keluar dari mulutnya yang bergetar, menggigil kedinginan.

Sayangnya semua usaha yang ia lakukan itu nihil. 

Matanya mulai berkunang-kunang, dan semuanya menjadi gelap. Namun untung saja, seseorang dengan sigap menangkap tubuhnya sebelum terjatuh di atas pedestrian.

Dan seseorang itu pula yang akan mengubah kehidupan Nanon menjadi lebih berwarna. Namanya Ohm Pawat.

 


 

to be continued . . .