Actions

Work Header

WHITE COFFEE

Summary:

Halus, lembut, ringan namun sedikit asam. Itulah rasa dari cinta pertama Kim Namjoon.

Work Text:

Pagi ini, Namjoon keluar kamar dengan merasa sedikit terkejut akan kehadiran sosok asing yang belum pernah dijumpai. Seorang pemuda yang tidak dia kenal tengah sarapan dengan lahap di meja makan mereka. Handuk kecil tersampir di bahu yang berbalut kaus putih bersih, celana pendek hitam terlihat dari bawah meja.

“Ma, siapa itu?” bisiknya kecil

Namjoon menjumpai Mamanya yang sedang menggoreng telur didapur dengan sedikit antusias. Batasan antara dapur dan ruang makan sangat dekat, jadi dia berbisik supaya tidak terdengar kepo.

“Itu anaknya temen papa. Katanya dia ada tugas disini. Kamu sapa gih, jarang-jarang ada anak dari Jakarta mampir ke Lembang. Mana cakep lagi anaknya.”

Memperhatikan dengan seksama dari samping, Namjoon menyadari kalau apa yang dikatakan ibunya adalah benar. Lelaki itu sangat tampan. Rambut hitam seleher, kulit putih mulus, mata tajam dan bibir merekah. Ada sedikit debaran dalam hati melihat sosok mempesona itu. Namun ia segera memaki dirinya sendiri untuk menghalau perasaannya. Tak mungkin dia dengan mudah terpesona pada orang yang baru ditemui. Padahal dia pun belum tahu mengenai keberadaan orang itu.

“Ngapain dia kesini? KKN”

Mama Namjoon melihatnya sambil memicingkan mata, lalu tersenyum simpul.

“Benar juga, dia mirip mahasiswa ya. Padahal dia sudah kerja, looh. Beda umur sama kamu lima tahun. Emang klo orang ganteng keliatan lebih muda…. Hihihi”

“Mama genit, ih. Bilangin papa nih”

“Bilangin aja, lagian mama cuma kagum sama wajahnya, berharap sih suatu saat nanti dia bisa jadi anak mama”

Namjoon mengernyitkan dahi

“Gimana caranya dia bisa jadi anak mama?”

“Dengan nikah sama anak mama, otomatis dia jadi anak mama juga…”

“Nikah sama anak mama? Maksudnya siapa?”

Mama Namjoon memelototi anaknya. Heran, sudah mandi, sudah wangi mau ke kampus masih saja bolot.

“Ya kamu. Siapa lagi?”

Otomatis wajah Namjoon memerah sempurna. Entah mengapa dia menjadi gugup dan jantungnya berdetak kencang.

“A-aku?” tanyanya sedikit melengking

“Ciee langsung malu-malu… padahal mama cuma bercanda…” tawa ibunya

“Mama….iiiihhhhhhh” rajuk Namjoon memajukan bibir

“Tapi kamu suka gak sama dia?”

“Liat aja baru sekali, Maaaaaa”

“Kata orang cinta pada pandangan pertama itu bisa berlanjut sampai seterusnya. Kamu gimana? Kesan pertama suka nggak sama Seokjin?"

Oh, nama pria itu Seokjin

“Nggak…”

“Kenapa?”

“Dia terlalu cakep, gak mungkin suka sama cowok cupu kayak aku”

“Kenapa sih selalu gak pede gitu? Bagi mama, kamu manis kok…”

“Itu kan hanya pendapat Mama, semua orang dikampus bilang aku cupu karena aku sukanya main di perpustakaan sama Yoongi. Gak suka hangout dan pergi ke club kayak mereka”

“Kamu terlalu mendengarkan apa kata mereka. Main di perpustakaan gak cupu, malah bagus bisa menambah ilmu. Nanti, saat mereka bikin tugas akhir mereka akan iri sama kebiasaan kamu yang suka ke perpustakaan. Liat aja…”

Tidak tahu harus menganggapi bagaimana perkataan ibunya, Namjoon lanjut memajukan bibir.

“Sudah,,, sana kenalan sama Seokjin. Jangan lupa bersikap baik sama dia ya”

Ragu-ragu, Namjoon melangkahkan kakinya menuju meja makan. Sebenarnya dia sudah siap berangkat kuliah, tadi berniat sarapan dulu sebelum pergi. Tapi, jika ada mahluk tampan begini di meja makan, apakah Namjoon sanggup menelan makanan?

“Ha-halo…. Kak Seokjin…” sapanya. Merutuk dalam hati, kenapa juga dia tergagap begitu.

Lelaki yang sedang makan itu menaikkan wajahnya yang ternyata setelah dilihat lebih dekat bisa membuat jantung berhenti berdetak. Lalu, setelah jantungnya berhenti berdetak, Namjoon akan mati karena dia tersenyum dengan luar biasa mempesona.

“Hai, Kamu Namjoon kan?” tanyanya ramah. Ujung mata yang berkerut menandakan kalau dia memang tulus tersenyum padanya.

“Iya… haha.. kakak udah tahu ya…” tawa gugup yang memalukan! Rutuk Namjoon dalam hati.

“Hmm… aku kan pernah main kesini waktu kecil”

Hah? Kapan? Mana mungkin Namjoon melewatkan seorang pria tampan.

“Waktu aku umur sepuluh tahun kayaknya. Papa ngajak aku liburan ke sini”

Oh. Tentu saja Namjoon tidak akan ingat, dia baru berumur lima tahun saat itu.

“Sekarang kamu kuliah? Semester berapa?”

“Semester enam…”

“Wow.. sebentar lagi lulus dong. Abis lulus mau ngapain? Nikah?”

Hampir saja dia tersedak susu yang sedang diminum. Ada apa sih dengan orang-orang hari ini? Obrolannya nikah melulu.

“Ng-nggak….”

“Kenapa?”

“Nggak punya pacar”

Oke, kenapa Namjoon jadi curhat. Oh my god, memalukan sekali membicarakan hal ini dengan orang yang baru dikenal, apalagi pria itu sangat tampan. Ketahuan deh kalau Namjoon selama ini kurang pergaulan.Tapi Seokjin tidak melanjutkan pertanyaannya malah tersenyum-senyum sendiri dengan tidak jelas. Namjoon bertambah grogi. Daripada dia mati berdiri, baiknya dia berangkat kuliah sekarang.

“Aku berangkat kuliah dulu ya…”

“Oke,, hati-hati…” jawab pria itu memamerkan senyuman.

Buru-buru Namjoon bangkit, mencium pipi mamanya dan menghidupkan mobil untuk segera berangkat. Ini berbahaya. Umur Namjoon bisa lebih pendek jika pria itu semakin lama berada dirumahnya. Bernafas saja dia sulit setelah disenyumi, apalagi jika berjumpa dan bertemu setiap hari dirumah. Aduh, bagaimana ini.. hati Namjoon selamat tidak ya…

********

Jika ada yang lebih mengagetkan lagi, maka itu bukan apa-apanya dibandingkan dengan pemandangan yang dia lihat saat pulang kuliah. Sungguh, dia pikir Seokjin sedang pingsan dilantai ruang tamu dan seketika panik berniat berteriak, namun pria yang sedang terbaring dilantai dengan gaya bintang laut itu membuka mata dan tersenyum.

“Udah pulang kuliah?” sapa pria itu

“Ke-kenapa kakak tidur disitu?” Namjoon bertanya dengan sangat heran.

“Aku abis lari keliling lapangan depan rumah tadi. Trus kecapean dan kepanasan. Jadinya ngadem dulu disini. Hehe… boleh kan, Namjoon?”

Dia menelan ludah. Boleh-boleh aja sih, tapi apa tidak menggiurkan sekali ya… dia tiduran dilantai yang putih menyerupai kulitnya dan hanya menggunakan celana pendek. Otot paha dan betisnya membuat Namjoon tidak fokus sama sekali.

“I-iya.. boleh kok…”. Ah, kenapa sih harus selalu gugup begitu didepan Seokjin.

Mengusir pikiran aneh yang berkeliaran kemana-mana, Namjoon berniat mencari Mamanya di dapur, minta dimasakkan makan siang ketika Seokjin sudah berdiri dibelakang sambil berbisik ringan ditelinga.

“Mama kamu pergi kondangan katanya. Makan siang tinggal dipanasin pake microwave”

Merinding sampai deg-degan, itulah yang dirasakan kini. Ngapain juga dia bisik-bisik gitu, padahal tadi masih selonjoran dilantai.

“O-oh….. kak Seokjin udah makan?” Namjoon harus belajar cara mengatasi gagap. Pokoknya harus!

“Belum… Kamu panasin buat aku juga ya…. Aku mandi dulu” ujarnya.

Harusnya Namjoon agak kesal, kok nyuruh-nyuruh ya, tapi bukannya marah dia malah dengan semangat memanaskan dua porsi macaroni schotel buatan mamanya dengan riang gembira. Anggap aja belajar menjadi pasangan yang baik buat suami nanti. Tunggu dulu… Lagi-lagi Namjoon merasa dirinya sudah luar biasa tidak waras. Mengapa harus membiasakan diri menjadi pasangan yang baik dengan berlatih memasak makanan untuk Seokjin?

Kenapa?

“Ngelamun. Nanti gosong looh…”

Namjoon harus dengan tegas mengatakan pada Seokjin untuk tidak berbisik di telinganya karena hal itu bisa membuat dirinya mati berdiri. Tapi bagaimana mengatakannya ya? Masak dia harus bilang kalau bisikan Seokjin membuatnya deg-degan sih? Jadi, dia diam saja. Mereka lanjut makan siang bersama di meja makan. Mungkin Seokjin akan menganggap Namjoon anak yang sombong atau pendiam karena daritadi dia tidak berbicara apapun dan hanya menanggapi sekali dua kali ucapan pria itu. Padahal sejujurnya dalam hati Namjoon gugup sekali dan tidak tahu harus berbuat apa. Makan saja sambil dikunyah pelan-pelan, takut jika membuka mulut terlalu lebar akan terlihat aneh. Istilah anak jaman sekarang, Namjoon itu salting.

“Aku udah pesenin kopi buat kita berdua. Kata mama kamu, kamu gak bisa minum kopi, tapi suka white coffee kan?”

“I-iya kak…”

“Nah, aku udh pesen online tadi, abis ini kita minum di taman belakang rumah yuk… sambil liat hasil karya papa kamu”

Memang, papa Namjoon itu seorang arsitek lanskap yang terkenal di Jawa Barat, sampai-sampai desain taman ibukota dilakukan oleh papanya. Tak heran taman belakang rumah Namjoon sangat cantik dan estetik. Hanya saja, mengajak minum kopi berdua di taman, bukankah seperti ajakan kencan? Walaupun taman itu adalah rumah Namjoon sendiri.
Bolehkan Namjoon merasa geer? Tapi bisa saja Seokjin cuma basa-basi. hiks

Lalu, mereka pun duduk berdua di ayunan dari kursi kayu yang disusun dengan sangat apik oleh papanya sambil menyesap kopi masing-masing. Namjoon dengan White Coffee dan Seokjin Americano yang kental. Biasanya, Namjoon akan selonjoran sambil membaca buku disitu sambil bersantai, tapi kali ini dia duduk dengan melipir pada pegangan kursi, dengan melipat tubuhnya kecil-kecil karena disampingnya duduk pria dengan bahu sangat lebar. Tadi bahu mereka bersentuhan saat akan duduk dan Namjoon merasa jantungnya berdebar sampai hampir muntah.

“Namjonie….” Panggil Seokjin lembut sambil menatap matanya.

Sejak kapan pria itu tahu panggilan kecilnya?

“Iya.. kak…”

“Dulu waktu kecil kamu lucu banget deh, pipi kamu gembul” ujar pria itu terkekeh.

Oke, Namjoon mengakui dulu dia sangat gendut dan jelek. Tapi haruskah pria itu mengungkitnya sekarang?

“Iya, aku emang gendut dulu” mulutnya maju mencebik.

Seokjin terkekeh lagi.

“Bukan bermaksud mengejek kok, jangan marah…”

“Aku gak marah…”

“Gak marah kok mulutnya maju..”

“Emang mulut aku kayak gini…”

“Ntar klo maju terus, nanti nabrak loh…”

“Nabrak apa?”

“Nabrak mulut aku…..hehe”

Oh, tidak.

Mama, Namjoon sudah tak sanggup lagi. Hilang sudah tingkah jaimnya. Sekarang kepiting rebus jika disamakan dengan wajah Namjoon, maka akan sama persis merahnya. Gombalan Seokjin benar-benar membuat hatinya bergetar.

“Lucu banget sih” cubitan di pipi mampir sekilas karena gemas. Cubitan dari Seokjin. Sudahlah, Namjoon mati saja kalau begini.

“Jangan cubit…..”

“Emang sakit?”

“Sakitlahh…”

“Masa sih, sini cubit pipi satu lagi…”

“Gak mau….”

Herannya, kekakuan mereka bisa mencair dalam sekejap akibat tingkah iseng Seokjin itu. Mereka akhirnya bisa bercanda-canda dengan akrab seolah sudah saling mengenal sejak lama. Dan mau tak mau dalam hati Namjoon merasa sangat senang. Debaran ini, degup yang tak mau berhenti serta kebahagiaan yang diberikan hanya dengan duduk bersama, apakah ini yang dinamakan dengan cinta? Karena Namjoon belum pernah merasakan perasaan seperti ini sebelumnya.

********

Hari-hari selanjutnya kegiatan Namjoon dipenuhi dengan makan siang bersama Seokjin dilanjutkan minum kopi ditaman belakang. Kadang Namjoon balik lagi ke kampus jika ada jam kuliah, kadang mengobrol dengan Seokjin sampai sore. Mama Namjoon entah mengapa akhir-akhir ini sangat sibuk. Entah belanja, arisan, kondangan, dan hal lain yang biasanya tidak dia lakukan. Menjadikan mereka sering berdua saja dirumah. Hal itu tentu saja membuat jantung Namjoon tak mau berhenti berdetak, sibuk bertanya-tanya dalam hati mengenai perasaan pria itu padanya. Apakah dia menganggap Namjoon spesial ataukah dia hanya dianggap sebagai adik dan teman masa kecil?

Namjoon sudah bertanya pada Seokjin, tentang pekerjaan yang membawanya ke Lembang, karena setiap siang dia selalu ada dirumah Namjoon. Pria itu berkata kalau kerjaannya hanya memantau kebun teh di pagi hari sesuai arahan dari kantornya. Jadi, dia punya banyak waktu untuk beristirahat dirumah Namjoon. Dia bahkan merasa Seokjin sudah sangat akrab dengan rumah ini. Apalagi tingkah papa mamanya yang memperlakukan Seokjin seperti anak sendiri, herannya pria yang lebih tua dari Namjoon itu menerima kasih sayang dari orangtua Seokjin tanpa malu-malu. Seperti yang terlihat malam ini didapur, Mama Namjoon sedang menyuapi Seokjin daging yang sedang dibakar dan pria itu memuji habis-habisan rasa masakan Mamanya. Namjoon yang baru pulang kuliah, cemberut dibelakang melihat keakraban mereka berdua.

“Ma, Namjoon cemburu liat kita” ujar Seokjin yang terkekeh karena melihat Namjoon yang menempel di tembok sambil menggigit jari.

Lelaki yang lebih muda itu langsung membantah

“Nggak kok…”

“Nggak tapi kok kayak mau nangis gitu…. Takut ya, mamanya aku ambil”

Herannya dia juga tidak segan-segan memanggil “Mama” pada ibu Namjoon, bukan “Tante” seperti yang biasa dilakukan orang lain.

“Idih,,, Namjoon kok kayak anak kecil sih. Sini mama suapin juga”

“Gak. Aku mau mandi..”

Namjoon buru-buru pergi dari dapur, takut isi hatinya ketahuan. Sebenarnya dia bukan cemburu karena Seokjin mau mengambil Mamanya, tapi karena dia membayangkan pria itu menjadi menantu rumah ini dan bertingkah seperti pasangan Namjoon. Bercengkrama dengan Papa dan Mamanya bagai anak sendiri. Membuat hatinya semakin berharap lebih terhadap perhatian dan keakraban pria itu dengan dia dan keluarganya. Tetapi rasa takut masih ada. Namjoon bukanlah pria tampan atau lelaki imut yang manis. Wajahnya biasa-biasa saja, prestasi kuliah juga biasa, pergaulan malah tidak punya teman selain Yoongi. Tak ada hal yang bisa dibanggakan dari dirinya. Jadi, wajar Namjoon selalu menutupi perasaan tertariknya pada Seokjin didepan orangtuanya. Dia tidak ingin mendapat malu jika berharap lebih, yang nyatanya pria itu tidak punya perasaan apa-apa untuk dirinya.
Namun, sepertinya Tuhan ingin menjawab pertanyaan yang berkecamuk dalam hati Namjoon terhadap perasaan Seokjin padanya langsung malam ini. Dia tak menyangka, sungguh-sungguh tak menyangka kalau Seokjin punya kenalan di Lembang selain Namjoon dan keluarganya.

Dan kenalan itu berwujud pria tampan bernama Jeon Jeongguk. Perpaduan antara imut,manis namun juga macho adalah deskripsi yang pas untuk lelaki itu. Dia menjemput Seokjin untuk diajak jalan-jalan dengan motor Harley Davidson terbaru yang sangat keren. Papa Namjoon bahkan tidak henti-hentinya mengucapkan kagum atas motor tersebut.
Jeongguk dipersilahkan masuk sambil menunggu Seokjin berganti baju. Mama Namjoon yang suka pria tampan tak segan mewawancarainya habis-habisan. Ternyata dia itu seorang dokter hewan yang terkenal di Bandung. Sengaja main ke Lembang untuk bertemu Seokjin karena kangen katanya.

Sampai disitu saja hati Namjoon sudah teriris-iris. Kangen? Artinya mereka punya hubungan khusus kan? Lagipula Jeongguk itu lelaki hebat, tidak seperti dirinya yang biasa-biasa saja. Hampir saja airmata mengalir di pipi Namjoon jika dia tidak menahannya, juga seandainya Seokjin lebih lama berganti pakaian.

“Hayuklah… jangan kemaleman nanti” ajak Seokjin.

“Kemaleman juga gw anterin ke sini kok, tenang aja. Hehehe” sahut Jeongguk.

Oke, mereka punya dunia sendiri yang Namjoon tidak tahu. Lagi-lagi senyum pahit merayapi perasaan.

“Bye, Namjoonie…” Seokjin melambai padanya dengan ceria, hanya dibalas senyum datar oleh Namjoon.

Pria itu agak terkejut dengan reaksi Namjoon, tetapi lengannya sudah ditarik oleh Jeongguk untuk segera pergi. Meninggalkan Namjoon dibelakang dengan hati yang patah. Dari cara Jeongguk merangkulnya dan cara Seokjin memeluk pinggang pria itu saat naik motor, Namjoon tahu hubungan mereka bukan teman biasa.
Entah mengapa hatinya tercabik-cabik. Seokjin tidak salah, dia hanya mencoba bersikap baik pada Namjoon yang dulu dia anggap teman kecil, juga pada orangtua Namjoon yang sudah dia tumpangi. Namjoon saja yang berharap lebih karena perlakuan istimewa Seokjin padanya.

Sungguh bodoh. Padahal baru kali ini Namjoon jatuh cinta. Baru kali ini juga dia merasakan debaran yang lain pada seorang lelaki. Harusnya dari awal dia menutup saja perasaan itu tanpa melanjutkan lagi. Salahnya yang membiarkan harapan dalam hati berkembang tanpa henti, membebaskan angannya melambung ke awan, yang pada akhirnya harus jatuh dengan nyeri. Sakit menghadapi kenyataan.

Cinta pertama Namjoon, haruskah berakhir begini?

*******

Besoknya, Namjoon tidak pulang makan siang. Begitu juga besok dan besoknya lagi. Dia beralasan pada Mamanya kalau dia sibuk membuat tugas kuliah, sedangkan pada Seokjin dia hanya mengabaikan saja tanpa mengucapkan apapun. Sengaja pulang saat matahari hampir tenggelam dengan belajar di perpustakaan. Yoongi sudah bilang, baiknya Namjoon menanyakan langsung masalah perasaan Seokjin padanya, atau benarkah pria yang bernama Jeon Jeongguk itu adalah pacar Seokjin. Tetapi Namjoon sendiri belum punya keberanian untuk menanyakan hal itu. Takutnya dia menangis di depan Seokjin dan itu pasti akan memalukan sekali.

“Baru pulang kuliah?” tegur Seokjin saat dia masuk ke rumah. Pria itu sudah memakai pakaian rumah yang benar-benar membuatnya bisa diraih. Padahal tidak.

“I-iya kak…” sahut Namjoon, berniat buru-buru masuk ke kamar, sebelum tangannya ditarik oleh Seokjin. Sentuhan lembut, dan tarikan halus di genggaman hangat itu membuat Namjoon ingin menangis.

“Kak?”

“Aku tadi beliin kamu white coffee, ada di kulkas kalau kamu mau….” Ucapnya tersenyum manis.

Tetapi Namjoon sudah bertekad untuk tidak akan terpesona lagi pada senyuman itu.

“A-aku…. lagi diet kopi untuk sementara karena mag-ku kambuh”

“Oh.. begitu…”

Dia berbohong, dia bahkan tidak punya penyakit mag. Tetap hanya itu alasan yang terpikir, kemudian dia lari ke kamar untuk bersembunyi. Gemuruh didadanya makin bertalu-talu. Namjoon berharap Seokjin bisa segera pergi dari rumah agar dia bisa menghapus perasaan ini secepatnya. Sedih, marah, dan merasa dipermainkan. Semuanya bercampur aduk dan membuat pusing. Namun harapan untuk tidak melihat Seokjin lagi sepertinya masih jauh, karena selesai mandi, pria itu tengkurap di tempat tidurnya dengan santai. Terkesiap, hampir saja Namjoon terpeleset di depan pintu kamar mandi.

“Kak?” panggilnya heran. Mengapa Seokjin tiba-tiba tidur disana?

“Namjoonie, tempat tidur kamu wangi banget ya…” guman pria itu sambil terpejam menyamping di bantal Namjoon, menghirup aroma kain yang menyelubungi tempat tidur Namjoon sambil tersenyum. Memang, Namjoon itu orangnya bersih dan tidak suka bau. Dia rela mengganti seprai dan sarung bantal setiap dua hari sekali demi kenyamanan sendiri. Tetapi laki-laki ini, yang membuat hatinya patah beberapa hari yang lalu tiduran diatas seprai yang baru Namjoon ganti untuk meninggalkan baunya disana dan membuat Namjoon menghirup wanginya semalaman?

Luar biasa sekali dia itu.

“Ah… iya….” Tidak tahu harus berbuat apa, Namjoon berdiri dengan gugup disana. Masa sih dia harus mengusir Seokjin? Tidak tega rasanya. Lagipula pria itu pasti punya alasan berkunjung kekamar Namjoon. Karena dia tidak pernah melakukan itu sebelumnya.

“Kamu marah aku tidur di kasur kamu?” tanya Seokjin. Dia sudah berbaring miring dan menopang sebelah dagunya dengan tangan.

“Nggak kok.. Silahkan aja kalau kakak suka” jawabnya tanpa menatap pria itu. Dia menyibukkan diri dengan menyimpan handuk atau merapikan rambut yang berantakan.

“Kamu marah aku beliin kopi tadi?”

“Nggak. Silahkan saja klo kakak suka beli kopi”

“Lalu, kamu marah sama aku?”

“Iya…. Eh… nggak…kak”

Tertangkap. Bodohnya Namjoon bisa keceplosan begitu.

“Berarti bener ya, kamu marah sama aku?”

“Nggak kok.. maaf aku tadi salah ngomong”

“Yang bener?”

“Iya.. aku nggak marah sama kakak. Terserah kakak mau pergi dan kencan dengan siapapun aku nggak keberatan”

“Kencan?”

Seokjin bangun dari tidurnya untuk duduk dan menatap heran pada Namjoon.

“Maksud kamu aku kencan sama siapa?”

Namjoon yang masih berdiri gugup menggigit bibir menyumpahi dirinya sendiri yang terlanjur curcol.

“Itu… anu… kencan sama Jeongguk. Ma-maksudnya aku tahu kalian punya hubungan khusus dan aku gapapa kok”

Wajah Seokjin yang tadinya berkerut akhirnya terlihat lega dan dia tersenyum simpul.

“Aaa… yang itu,,, jadi kamu pikir Jeongguk pacar aku ya? Makanya kamu jauhin aku tiga hari ini?”

“A-aku gak jauhin kakak…”

“Bohong sekali. Kamu gak pulang makan siang biar gak ketemu aku kan? Trus pulang sore-sore biar langsung bisa masuk kamar gitu?”

Hah? Kok dia bisa tahu sih? Ya ampun apakah Namjoon sejelas itu? Dan untuk apa dia mengatakannya sekarang? untuk mengejek perasaan Namjoon?
Menyebalkan.

“Nggak gitu kok. Aku kan udah bilang gak keberatan apapun yang kakak lakukan. Jadi, aku minta maaf klo kakak udah selesai ngomong, baiknya keluar dari kamar aku. Aku mau tidur” sungutnya marah.

Dan sekali lagi ada tarikan di lengan Namjoon dengan lembut, membuatnya berbalik dan menghadap pria yang duduk di hadapannya dengan senyum lebar. Kedua tangan kini digenggam erat.

“Urusan aku belum selesai. Ada hal yang ingin aku katakan sama kamu. Kalau kamu mau dengerin, duduk disamping aku, please..”

Permohonan itu tidak dapat ditolak oleh Namjoon, akhirnya dia duduk disamping Seokjin dengan perasaan campur aduk. Mau tidak mau dia harus mengakui kalau genggaman tangan Seokjin tadi memberikan efek luar biasa pada dirinya.

“Aku mau cerita tentang kejadian waktu aku kecil dulu….”

“hmm… okey…” jawab Namjoon tidak tertarik. Sudahlah dengarkan saja, nanti baru diusir.

“Waktu umur aku sepuluh tahun, ibu aku meninggal dunia karena sakit. Hari-hari setelah kepergian ibu, aku gak mau keluar kamar atau bergaul dengan orang lain. Badan aku juga jadi kurus karena aku skip makan. Bahkan saat itu hampir saja aku didiagnosis kurang gizi…”

“Kak……” Namjoon tak menyangka kalau Seokjin mengalami hal yang buruk saat dia kecil. Dia jadi menyesal meremehkan cerita pria itu.

“Dan setelah itu, Ayah memaksa aku keluar rumah dan membawa aku ke Lembang. Aku yang merasa dipaksa saat itu marah padanya dan berontak. Kami menginap di rumah teman Ayah untuk bersantai sejenak dan mengobati hati kami yang sama-sama kehilangan. Tapi tak disangka disana aku menemukan malaikat kecil yang menghibur aku saat itu sampai aku bisa melupakan kesedihanku. Awalnya aku merasa terganggu karena dia terus mengikuti aku kemana-mana dan memanggil aku “Kak” seenaknya…”

“Tapi suatu hari dia bilang, Kak, kakak kehilangan mama ya, pasti kakak sedih, tapi jangan khawatir aku akan ikut nangis sama kakak sampai kakak capek nangis, abis itu kakak senyum lagi. Jadi, ayo kita nangis sekarang supaya kakak cepat tersenyum…”

“Setelah itu aku sadar kalau aku nggak boleh berlarut-larut dalam kesedihan. Ibu aku pun pasti nggak akan senang lihat aku kayak gini. Aku jadi sayang banget sama anak itu dan kami main terus sampai liburan aku habis. Sejak itu, aku nggak pernah ngelupain dia dan berharap suatu saat kita bisa berjumpa lagi karena dia udah janji sama aku..”

“janji apa?” tanya Namjoon

“Janji untuk menangis dan tertawa denganku seumur hidup sampai maut memisahkan. Dan aku kesini untuk menagih janji anak itu…”

Lama terdiam, Namjoon berusaha mencerna apa maksud dari cerita Seokjin.

“Dan kamu tahu, anak itu siapa?”

Oke, Namjoon disuruh menebak.

“Hmm… Jeongguk?”

Seokjin tertawa keras. Tawa adiktif yang sangat merdu.

“Kalau itu Jeongguk, ngapain aku cerita sama kamu…”

“Ja-jadi.. maksudnya anak itu…..”

Namjoon tak bisa membayangkan karena dia tidak ingat sama sekali tentang masalah itu.

“Iya, anak itu kamu….” Ucap Seokjin dengan senyuman yang bisa membuat jantung Namjoon berhenti berdetak. Bahkan sekarang dadanya bertalu dengan sangat hebat.

“Ta-tapi aku…..”

“Kamu pasti nggak inget, karena kamu masih sangat kecil pada waktu itu..”

Ternganga. Namjoon tak menyangka kalau cerita indah yang disampaikan Seokjin adalah tentang dirinya. Jadi, apakah niat lelaki itu ke Lembang untuk….

“Jeongguk itu sahabat aku saat kuliah, dan dia bahkan sudah menikah. Kamu sih gak pake nanya-nanya dulu langsung cemburu aja..”

“Aku gak cemburu kok….” Jawab Namjoon dengan wajah memerah

Malu sekali, demi Tuhan. Ternyata Jeongguk itu sahabatnya Seokjin, bahkan udah nikah lagi. Ya ampun, apa sih yang Namjoon pikirkan sampai salah paham begitu.

“Kalau nggak cemburu, kok bisa marah-marah gitu? Hayoo ngaku aja… kamu cemburu kan sama Jeongguk? Iya kan???..”

“Nggak iiiih….”

“Cemburu artinya cinta loh…”

“Aku gak cemburu…”

“Artinya kamu cinta kan sama aku?” godanya lagi.

“Apa sih, kak….”

“Kalau kamu jawab nggak, aku langsung pulang ke Jakarta loh…”

“Kok gitu…”

“Jadi, jawab aja… kamu suka sama aku, kan?”

Tak bisa lagi mengelak, Namjoon mengangguk dengan lucu di depan Seokjin hingga membuat pria itu gemas dan membawa Namjoon dalam pelukan. Didekap begitu saja hampir membuat Namjoon meleleh.

“Aku juga suka sama kamu. Bahkan sejak dulu saat kita pertama kali berjumpa. Dan kamu tahu nggak, kalau aku sebenarnya nggak dinas luar disini. Aku cuti kerja buat ngejar kamu dengan berpura-pura ada tugas disini..”

“Kak….” Rengek Namjoon malu. Menyembunyikan wajah dalam dada Seokjin.

“Dan Ayah aku dukung banget, katanya aku harus perjuangin hati kamu dulu supaya lamarannya lancar”

Namjoon melepas kepalanya dari dada Seokjin.

“La-lamaran???” tanya Namjoon kaget.

“Iya, Minggu ini papa aku dateng buat lamar kamu”

“Hah? Kok cepet banget gitu?”

“Orangtua kamu dan Ayah aku berencana mau ngejodohin kita. Tapi aku takut kamu nolak, karena kamu udah lupa sama aku, jadinya aku usulin ide ini buat ngambil hati kamu supaya kamu jatuh cinta sama aku…”

“Trus klo aku nggak suka sama kamu, gimana?”

“Aku akan berusaha setengah mati sampai kamu suka sama aku..” senyum Seokjin

Namjoon merengut sambil memajukan bibir.

“Gombal banget…”

“Nggak kok. Aku memang suka sama kamu…”

“Padahal aku gak tampan, gak manis, aku gak ada kelebihan apapun”

Seokjin mengambil kembali kedua tangan Namjoon, meletakkan dipangkuannya sambil digenggam erat.

“Bagi aku, kamu tampan, manis, wangi dan mempesona. Aku gak perlu kelebihan yang dipamerkan orang lain, karena aku tahu kelebihan kamu adalah hati kamu yang hangat dan tulus. Aku mencintai kamu apa adanya, Kim Namjoon”

Perasaan Namjoon sudah melambung ke udara dan bahkan telinganya memerah mendengar pernyataan cinta Seokjin. Tidak menyangka pria tampan dan menawan seperti dia bisa jatuh cinta pada Namjoon.

“Jangan pasang wajah tersipu gitu, nanti aku gemes…”

“Emang kalau gemes kakak mau ngapain?”

“Mau tahu?”

Namjoon mengangguk polos.

Lalu ada sebuah kecupan ringan dan lembut hadir dibibirnya. Membawa tubuh Namjoon gemetar bagai ada aliran listrik yang mengaliri dalam nadi dan kupu-kupu yang beterbangan diperut.

Rasa ciuman pertama Namjoon sangat manis.

********

“Ciee…. yang mau dilamar, cermin kayaknya mau pecah tuh diliatin terus. Udah cakep kok”

“Iih,,, Mama… godain terus. Ini juga salah mama…”

“Lah, kenapa jadi salah mama? Kamu sendiri yang suka sama Seokjin, kamu sendiri yang salah paham, trus kamu sendiri juga yang nerima lamaran dia”

“Coba aja mama bilang kalau mau jodohin aku sama kak Seokjin, aku kan nggak bakal cemburu sama Jeongguk”

Mama Namjoon tertawa kecil

“Sayang, kamu itu orangnya sering insecure sama diri sendiri. Kalau mama langsung bilang niat kami buat ngejodohin kalian berdua, pasti kamu bakal ngira Seokjin terpaksa ngelakuin itu semua. Jadi kami ingin Seokjin ngedeketin kamu pelan-pelan dan ngeyakinin kamu kalau dia beneran suka sama kamu sejak dulu…”

“O-oh… gitu…”

Iya juga sih, seandainya Namjoon diberitahu bahwa dia akan dijodohkan sama orang yang nggak dia kenal, pasti dia akan merasa orang itu terpaksa.

“Udah, gak usah overthinking. Itu calon suami dan calon mertuamu udah dateng”

Acara pertunangan dihadiri hanya keluarga kecil mereka dan sahabat dekat, sesuai permintaan Namjoon dan Seokjin. Mereka ingin acara ini sakral tanpa banyak keramaian. Tempat acara juga hanya dilakukan di restoran privat kenalan Papa Namjoon. Dia melirik pria gagah dan pria setengah baya yang masuk ruangan. Seketika rongga dadanya menjadi penuh dengan kebahagiaan.

Namjoon terpesona dengan ketampanan Seokjin yang memakai jas putih sama dengan dirinya. Hanya saja pria yang lebih tua itu menggunakan korsase warna pink, sedangkan Namjoon menggunakan korsase biru muda kesukaannya. Ayah Seokjin dengan terharu mengucapkan bahwa melamar Namjoon adalah impian Seokjin sejak lama. Jadi, dia sangat bahagia ketika Namjoon dan keluarganya menyambut mereka dengan gembira.

Namjoon yang disebut menjadi salah tingkah sendiri karena tidak tahu bahwa ada orang yang tulus mencintainya selama ini, sedangkan Seokjin tersenyum bahagia padanya. Tampaknya Namjoon harus banyak mengikuti acara amal untuk mensyukuri anugerah Tuhan yang satu ini untuknya. Saat acara pertukaran cincin, mereka berdiri saling berhadapan dengan malu-malu. Lebih tepatnya, Namjoon sangat malu luar biasa dihadapan sang calon suami. Apalagi setelah menyematkan cincin, Seokjin mencium dahinya sangat lama sampai wajah Namjoon merona. Para hadirin bertepuk tangan dan memberi selamat dengan turut gembira.

Cinta pertama Namjoon mengalir dengan halus, ringan dan lembut, walau ada sedikit asam dalam perjalanan seperti rasa white coffee yang merupakan minuman kesukaannya. Namun Namjoon bersyukur bisa mendapatkan orang yang dia cintai dengan tulus hati.

END