Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2022-01-12
Words:
1,881
Chapters:
1/1
Comments:
7
Kudos:
27
Bookmarks:
3
Hits:
497

I was Made for Loving You

Summary:

Hanya sepotong cerita tentang liburan mereka berdua yang harus gagal karena sesuatu di ketinggian 36.000 kaki

Notes:

100% fiction
Be a wise reader
Please support me through your comment and kudos<3

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

"Gyu, kau masih ingin diam?" Taehyun tetap berusaha mengajak kekasihnya berbicara walaupun dia telah berhari-hari diabaikan.

Beomgyu masih diam tidak berkutik. Pandangannya mengarah ke luar. Mungkin langit di luar lebih menarik daripada Taehyun. Kini mereka sedang berada di dalam pesawat. Mereka tetap melakukan liburan karena rencana liburan ini sudah mereka berdua rencanakan jauh sebelum pertengkaran beberapa hari yang lalu.

Melihat tak ada respon dari Beomgyu, Taehyun memilih untuk diam.

Setelah keheningan yang cukup lama, Taehyun kembali mengajak Beomgyu berbicara. Kali ini hanya hal-hal kecil seperti menawarkan minum, makan, dan menawarkan pundaknya jika Beomgyu mengantuk.

"Kau diam saja," balas Beomgyu saat Taehyun menawarkan bahunya untuk Beomgyu bersandar.

Terdengar helaan napas lega dari Taehyun. Senyuman kecil terbit di wajahnya. Paling tidak Beomgyu sudah mau berbicara dengannya.

"Gyu—"

"Aku belum memaafkanmu," ucap Beomgyu memotong kalimat Taehyun. "Aku mengantuk. Jangan berisik."

Dan begitulah percakapan mereka dimakan keheningan.

---

Beberapa hari yang lalu, Beomgyu mendapati sebuah kotak obat tertinggal di dashboard mobilnya. Dia tahu betul, obat itu selalu ada di dalam tas Taehyun. Kemanapun laki-laki itu pergi, kapanpun arloji di tangannya berbunyi, dia selalu mengeluarkan kotak obat ini lalu meminum beberapa tablet.

"Kau sakit?" Tanya Beomgyu saat pertama kali melihat Taehyun meminum obat itu.

"Ini hanya vitamin," jawab Taehyun.

Beomgyu hanya mengangguk setelah Taehyun menjawab seperti itu. Rasanya aneh. Mengapa ia harus memasang alarm jika itu hanya sebuah vitamin? Beomgyu membuang jauh-jauh pikiran negatifnya. Dia percaya Taehyun akan mengatakan sesuatu padanya suatu saat nanti.

Saat Beomgyu merasa curiga dengan Taehyun yang terus-menerus meminum obat itu baru dia memberanikan diri untuk bertanya, "Vitamin itu sangat penting ya? Kau sampai harus susah-susah memasang alarm dan tidak pernah terlambat meminumnya."

"Sehat itu mahal, Beomgyu. Kau mau coba?" Taehyun menyodorkan kotak obat itu ke Beomgyu. Beomgyu tertawa kecil sambil menggelengkan kepalanya.

"Senyummu juga mahal. Dalam satu hari ini baru sekali kau tersenyum," ucap Taehyun.

"Basi," balas Beomgyu dengan wajah kesal. Taehyun tertawa puas melihat wajah kesal Beomgyu.

"Ada tempat makan baru dan mereka menjual ayam. Setelah kelas kita berdua selesai, temani aku makan di sana," ucap Beomgyu mengalahkan gengsinya.

"Tidak mau," balas Taehyun. "Untuk apa aku menemani seseorang makan?"

"Baiklah, ayo kita berdua makan di sana, Pangeran," ucap Beomgyu sambil tersenyum. Senyum yang dipaksakan karena Taehyun sesungguhnya paham apa maunya. Dia hanya ingin Beomgyu mengganti kalimatnya.

"Hahahaha siap, Pangeran!" Taehyun tertawa renyah.

Beomgyu tersenyum melihatnya. Melihat tawa Taehyun adalah hal yang tidak akan pernah membosankan. Namun tentu saja dia tidak pernah mengatakannya pada sang empunya tawa.

Hari itu—saat Beomgyu mengajaknya mencoba tempat makan baru—Taehyun nampak lebih pucat dari biasanya sehingga Beomgyu memutuskan untuk melawan gengsinya dan mengajak kekasihnya itu makan berdua.

---

Beomgyu sebenarnya sudah hampir lupa bagaimana pucatnya Taehyun hari itu namun ingatannya kembali mencuat ketika dia tiba-tiba menemukan obat Taehyun di mobilnya. Dengan tergesa-gesa dia menghidupkan mesin mobilnya dan segera mencari apotek terdekat. Perasaannya tidak pernah tenang. Dia harap perasannya bisa tenang ketika dia mendapatkan jawaban dari apoteker nanti.

Sesampainya di apotek, Beomgyu langsung menuju ke seorang apoteker dan menanyakan obat apakah yang ada di tangannya.

"Kalau saya boleh tahu, orang yang meminum obat ini memiliki penyakit apa?" Tanya Beomgyu dengan lancar sekalipun dia sedang panik.

Sambil harap-harap cemas, Beomgyu menunggu jawaban. Dia berusaha mengalihkan pandangannya kesana kemari agar tidak terlalu terlihat sedang panik.

Seorang apoteker kembali dari belakang dan menghampiri Beomgyu. Terlihat mata Beomgyu yang menyiratkan ketakutan.

"Dari mana kau mendapatkan benda ini? Ini bukan obat yang bebas beredar di apotek seperti ini," jelas apoteker itu. "Ini obat untuk penyakit jantung."

Dunia Beomgyu seperti berhenti berputar. Dia menatap apoteker di hadapannya tak percaya.

"Stadium akhir," lanjut apoteker.

"Aku menemukan ini di mobilku. Sepertinya milik temanku. Benarkah ini obat untuk penyakit jantung?" Beomgyu bertanya sekali lagi untuk memastikannya.

Apoteker itu mengangguk sembari mengembalikan obat milik Taehyun kepada Beomgyu.

Setelah mengucapkan selamat tinggal kepada apoteker, Beomgyu segera masuk ke mobilnya dan menelepon Taehyun sebelum menghidupkan mesin.

Taehyun tidak langsung mengangkat telepon dari Beomgyu. Dia mengangkat telepon Beomgyu pada dering ketiga.

"Kenapa lama sekali?" Tanya Beomgyu tanpa basa-basi. Dari nada bicaranya saja terdengar kesal.

"Maaf, aku sedang mengurus sesuatu," jawab Taehyun di seberang sana.

"Mengurus apa?" Tanya Beomgyu cepat.

"Aku—" Taehyun terdengar ragu mengatakannya.

"Apa?"

Ah, aku harus mengatakannya, batin Taehyun

"Aku kehilangan sesuatu. Kau ingat vitamin yang selalu aku minum kan? Benda itu hilang sejak kemarin. Aku sudah melewatkan beberapa—"

Tuutt. Sambungan diputus oleh Beomgyu. Dia melemparkan ponselnya ke sembarang tempat di mobilnya.

Perlahan-lahan mobilnya mulai menjauh dari tempatnya semula menuju apartemen Taehyun. Perjalanannya tidak memakan waktu yang lama. Begitu sampai di apartemen Taehyun, Beomgyu langsung menuju tempat yang sudah sangat dia hafal. Beomgyu juga memasukkan passcode yang sudah dia hafal di luar kepala.

"Taehyun!" Panggil Beomgyu dengan emosi yang membuncah.

Sang empunya nama menghampiri Beomgyu dengan tatapan bingung. Walaupun Beomgyu sering datang kemari tanpa aba-aba, yang hari ini dia tampak berbeda.

Tanpa basa-basi lagi, Beomgyu melayangkan tinjunya ke pipi Taehyun. Laki-laki yang tidak tahu apa-apa itu terjatuh ke lantai.

"Beomgyu, ada apa?!" Tanyanya dengan sedikit berteriak.

Beomgyu melemparkan benda ke arahnya. Taehyun dengan sigap menangkap benda itu. Benda yang sedari tadi dia cari-cari ternyata ada bersama Beomgyu.

Taehyun ulangi. Ada. Bersama. Beomgyu.

Taehyun beralih menatap Beomgyu yang sudah terduduk lemas, bersandar ke dinding, dan memeluk lututnya. Taehyun yakin 100% kalau Beomgyu sudah tahu kondisinya dan dia kecewa.

"Beomgyu," panggil Taehyun pelan.

Sebuah isakan kecil mulai terdengar. Taehyun melihat tubuh Beomgyu bergetar dan bahunya naik turun.

"Kenapa kau tidak pernah mengatakan apa-apa padaku?" Tanyanya sambil menangis.

Sungguh ini pertama kalinya Taehyun melihat Beomgyu sehancur ini. Dan yang membuatnya sakit adalah Beomgyu menangis karenanya. Karena tahu rahasia yang sudah Taehyun sembunyikan beberapa waktu belakangan ini.

"Kau berencana untuk meninggalkan aku sendiri? JAWAB AKU! KAU AKAN MENINGGALKAN AKU KAN?"

Beomgyu menarik baju Taehyun dan meninjunya sekali lagi. Ujung bibir Taehyun berdarah karena pukulan itu namun dia tetap diam karena dia tahu kalau Beomgyu sedang melampiaskan kekecewaannya. Hanya dua pukulan yang dia terima dan hal itu tidak sebanding dengan rasa sakit yang dirasakan Beomgyu saat ini.

Alarm Taehyun berbunyi. Laki-laki itu segera berdiri dan meminum obat yang tadi dilemparkan Beomgyu ke arahnya. Dia sudah tersiksa kemarin namun rasanya tidak ada apa-apanya dibandingkan sekarang. Dia melukai Beomgyu.

"Maafkan aku, Beomgyu," ucap Taehyun kepada Beomgyu. Taehyun tidak berani menatap Beomgyu yang sedang menangis alhasil dia membelakangi laki-laki itu.

"Kau akan mengatakannya padaku kapan? Kalau kau sudah sekarat, iya?"

Taehyun tidak bisa menjawab pertanyaan itu. Atau lebih tepatnya tidak berani.

 

Aku tidak ingin meninggalkanmu

Aku juga tidak tahu harus mengatakannya bagaimana

Aku takut, Gyu

Aku tidak ingin membuatmu sedih

 

Beomgyu menghapus sisa-sisa air mata dari wajahnya. Tidak ada gunanya menangis sekarang. Waktu Taehyun mungkin tidak lama lagi. Mungkin. Beomgyu tidak boleh menyia-nyiakan satu hari seperti ini.

Beomgyu menarik tangan Taehyun dan menyuruhnya duduk di kursi yang ada di dekat tempat tidurnya.

"Diam di sini," ucap Beomgyu.

Taehyun tidak bisa bergerak kalau Beomgyu sudah berkata begitu. Rupanya Beomgyu mengambil kotak P3K.

Kini Beomgyu sudah duduk di hadapan Taehyun. Dengan hati-hati dia membersihkan luka di wajah Taehyun. Bagaimanapun juga ini akibat perbuatannya.

"Aku minta maaf sudah memukulmu. Sakit?"

Taehyun menitikkan air matanya detik itu juga.

"Cih, bilang kalau sakit. Kau malah menangis."

Taehyun masih menangis sampai Beomgyu selesai memasang plester luka di pipi Taehyun.

"Berhentilah menangis."

"Tidak bisa hiks. Aku menyayangimu. Aku tidak ingin meninggalkan kau sendirian. Aku masih ingin di sini bersamamu. Aku tidak pernah meminta penyakit seperti ini. Aku—"

Beomgyu memberikan pelukan hangat pada orang di hadapannya. Membiarkan Taehyun menangis di pundaknya sampai puas.

Beomgyu memutuskan untuk tidur di apartemen Taehyun setelah melihat Taehyun menangis hebat tadi.

Beomgyu menangis dalam diam melihat Taehyun terlelap sambil memeluknya. Taehyun sudah bertahan sejauh ini demi dirinya. Dia tidak boleh mengecewakan Taehyun seperti tadi.

Beomgyu mengecup kening Taehyun lama sekali sebelum akhirnya laki-laki itu pulang ke rumahnya.

"Aku menyayangimu, Kang Taehyun."

Kalimat itu tidak pernah Taehyun dengar saat dia sadar dan Beomgyu selalu mengucapkan kalimat itu saat Taehyun terlelap. Walau Beomgyu tidak pernah mengatakannya terang-terangan, Taehyun tahu betapa laki-laki itu menyayanginya.

---

Setelah malam itu, Beomgyu tidak menghubungi Taehyun sama sekali sampai sehari sebelum rencana liburan mereka.

Semua jenis pesan dan panggilan dari Taehyun berhasil Beomgyu abaikan.

---

"Gyu, makan malam siap," ucap Taehyun. Tangannya dengan lembut menepuk bahu Beomgyu agar laki-laki itu terbangun dari tidurnya.

"Aku tidak mau makan," jawab Beomgyu.

"Baiklah kalau begitu aku hanya akan makan kalau kau mau makan."

Taehyun melipat kedua tangannya di dada. Ingin melihat bagaimana respon Beomgyu.

"Apa kau gila?" Beomgyu langsung membuka matanya lebar-lebar. Kau itu sakit, bodoh. Kalimat itu hanya mampu dia ucapkan di dalam hati.

"Kau yang gila. Kau yang menangis di apartemenku tempo hari. Kau juga yang marah padaku sampai sekarang. Harusnya kan aku. Kau memukul aku saat itu," jawab Taehyun membela dirinya sendiri.

"Ah diamlah. Aku tidak suka dengan Taehyun yang berisik."

Taehyun menghela napasnya. Tidak akan ada habisnya kalau begini terus. Bisa-bisa mereka ribut sampai pesawat mendarat nantinya.

"Gyu, aku tidak apa-apa kok. Aku sehat sekarang. Aku tidak akan meninggalkanmu," balas Taehyun. "Ya setidaknya untuk saat ini."

Beomgyu mendengus kesal. Laki-laki itu akhirnya mau memakan makanannya. Taehyun pun tersenyum puas melihat hal itu.

Beomgyu melirik Taehyun yang sedang memakan makanannya. Taehyun jauh lebih kurus daripada beberapa hari yang lalu saat mereka bertengkar apartemen.

"Taehyun, apa obat-obatanmu mempengaruhi pola makanmu?"

Taehyun menggeleng sambil mengunyah makanannya. Sangat lucu.

"Kau harus banyak makan."

Taehyun tersenyum sampai lesung pipinya muncul.

"Lihat siapa yang berbicara," ucap Taehyun.

"Sialan," umpat Beomgyu. "Aku hanya ingin kau tumbuh tinggi."

"Hahaha iya-iya, Choi Beomgyu."

Beomgyu menatapnya aneh. Namun Taehyun malah tertawa lebih lepas.

 

Tuhan memang tidak adil. Seseorang sebaik Taehyun harus diberi senyum seindah itu kah? Tidak adil.

 

Keheningan menyerbu mereka cukup lama sampai tiba-tiba ada keributan di depan. Taehyun berdiri dari tempat duduknya dan ingin memastikan ada keributan apa namun Beomgyu menahannya.

"Kau di sini saja," ucapnya. "Biar aku yang ke sana."

Taehyun mengangguk dan menuruti kemauan Beomgyu.

Beomgyu berjalan ke depan untuk mendengarkan keributan apa yang sedang terjadi.

 

"Bisakah kalian tenang?! Suara kalian bisa menggangu para penumpang."

"Bagaimana bisa aku tenang ketika tahu kalau pesawat ini akan jatuh? Bagaimana?!"

 

Cukup. Percakapan singkat itu membuat Beomgyu menghentikan niatnya untuk bertanya. Dia menoleh ke belakang melihat Taehyun yang masih sibuk dengan makanannya. Makanan di sini enak. Mungkin saja Taehyun sangat menyukai itu.

"Taehyun, kalau masih lapar bisa ambil punyaku. Aku sudah kenyang," kata Beomgyu.

"Tadi ada apa di depan?" Pertanyaan Taehyun membuatnya terdiam. "Gyu?"

"Kang Taehyun," panggil Beomgyu. Kalau Beomgyu sudah memanggilnya dengan nama lengkap artinya situasi sedang serius.

"Kau menangis?"

Saat menangis, Beomgyu tidak mengeluarkan ekspresi apapun. Hanya air mata yang keluar dari manik matanya.

Sebuah instruksi untuk penumpang agar tetap tenang membuat Taehyun mengalihkan pandangannya ke seluruh kabin.

"Apakah kita akan terjatuh?"

"Aku tidak ingin mati sekarang."

"Apa yang terjadi?"

Taehyun mengerti sekarang mengapa Beomgyu menangis.

"Gyu, jangan menangis. Kau kan bersamaku. Aku pegang tanganmu ya." Beomgyu membiarkan Taehyun menggenggam tangannya. Genggaman yang jarang dia berikan untuk Taehyun.

"Taehyun, kau tahu kalau aku menyayangimu kan? Aku menyayangimu. Lebih dari apapun. Kau tahu itu kan?"

Taehyun tidak percaya dia akan mendengar kalimat itu di sini saat ini di ketinggian 36.000 kaki.

Seluruh penumpang diinstruksikan untuk tetap tenang di tempat. Semua orang di dalam pesawat sudah memakai pakaian praktis dan masker oksigen.

"Aku tahu kau menyayangiku. Kau selalu tahu kalau aku menyayangimu, Beomgyu."

Taehyun melepaskan genggamannya.

"Kita akan bertemu lagi setelah ini," ucap Beomgyu.

"As we should."

Dan begitulah rencana liburan mereka gagal total.[]

 

THE END

Notes:

Terimakasih sudah mampir di ceritaku<3
Kritik dan saran bisa di kolom komentar atau ke twitter aku hyunetown
Maaf yaa kalau ceritanya aneh, ini ide sekelebat yang muncul waktu aku stres mikir kuliah
Sampai jumpa di lain waktu^^