Actions

Work Header

teori pasangan sempurna

Summary:


"Soulmate kamu sangat ekspresif," Yamamoto-san berkata. Mukanya masih belum balik ke semula, masih terkejut seutuh-utuhnya, dan Itsuki mengerti.

Ia sudah kembali berada di laboratorium Universitas Nasional Honshu, dan lagi-lagi tangannya diletakkan di bawah mikroskop dan kamera dan entah berapa banyak peralatan lainnya. Itsuki marasa bersyukur bahwa ia sungguh penasaran dengan hasil akhir penelitian ini nanti, karena bila tidak mungkin ia tidak bakal tahan begitu intens dijadikan subjek penelitian seperti ini.

Itsuki sudah enam tahun tidak berinteraksi dengan Narumiya Mei.

Namun, tidak ada satu hari pun yang dia lewati tanpa teringatkan akan Narumiya Mei.

[Ditulis untuk event lomba #ItsuMei1122 yang diprakarsai Aiko Blue.]

Notes:

Rating T untuk: brief mentions of drinking/alcohol, beberapa kata yang bisa diinterpretasikan sebagai innuendo, dan karena rasanya kurang cocok bila memberikan rating G.

 

DISCLAIMER: Daiya no A, atau Ace of Diamond, beserta karakter-karakternya adalah milik Terajima Yuuji. Fan fiction ini hanya meminjam setting atau dunianya beserta karakter-karakternya. Author bermain dalam dunia Daiya no A seperti seseorang bermain dalam bak pasir atau memainkan lego; namun author bukanlah pemilik bak pasar atau lego-lego tersebut!

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

Itsuki sudah enam tahun tidak berinteraksi dengan Narumiya Mei. Namun, tidak ada satu hari pun yang dia lewati tanpa teringatkan akan Narumiya Mei.

Hari ini, Itsuki berpikir seraya berjalan melintasi distrik Marunouchi, Seibu Lions akan bertanding melawan Yakult Swallows di Stadium Meiji Jingu.

Langit biru terang sedang membentang di atas Chiyoda pagi hari, dan saat Itsuki menengadah, kenangan membanjiri pikirannya. Berjongkok di lapangan di bawah teriknya matahari sementara seluruh Tokyo menahan napasnya. Memandang ke depan, ke arah mound di mana sang pitcher berdiri gagah, dan di bawah birunya langit musim panas Tokyo, sang pitcher mengangkat tangannya dan–

Lucu, Itsuki berkata dalam hati, dan mulai berjalan setelah lampu lalu lintas menyatakan waktunya menyebrang. Aku sudah bertahun-tahun tidak main baseball, tetapi aku masih memikirkannya.

“Narumiya bakal menjadi starter hari ini, saya rasa.” Itsuki dapat mendengar seseorang berkata saat ia memasuki lobby gedung kantor dan bergegas menuju lift. Seorang pria paruh baya yang tidak ia kenal, Itsuki melihat saat ia menoleh. Kemungkinan besar pegawai dari divisi lain. “Pitcher yang satunya lagi, Hayashi, masih harus–”

Mei-san, Itsuki langsung berteriak dalam hati, setelah pintu lift menutup.

Rasanya, kurang layak untuk memikirkannya sebagai “Mei-san” – kapan terakhir kali mereka berbicara? SMA? Dan bertahun-tahun kemudian mereka kini tidak lebih dari strangers, orang asing, dan Mei-san pastinya sudah tidak mengingat Itsuki.

Namun, meski sekarang sudah lewat lebih dari setengah dekade, Itsuki tidak bisa lagi memikirkannya hanya sebagai “Narumiya”, meski hanya dalam hati pun. Tidak apa-apa, toh Mei-san tidak akan pernah tahu bahwa Itsuki masih memikirkannya seperti demikian.

“Narumiya” bukanlah Mei-san yang Itsuki kenal, atau pernah kenal; Mei-san adalah Mei-san.




Dan Mei-san, dalam dunia Itsuki yang kecil, masih ada di mana-mana.




Kita beda dunia, Itsuki seringkali berpikir kepada dirinya sendiri.

Saat ia melihat iklan yang menampilkan Mei-san, pitcher superstar NPB, yang senyum cerahnya membuat gerbong kereta seolah terasa lebih terang. Saat ia pergi ke bar dan mereka menyiarkan pertandingan Seibu Lions, menunjukkan bagaimana Mei-san tidak pernah berhenti, tidak pernah lelah memukau dunia dan memukau Itsuki juga. Saat ia tidak sengaja melihat tabloid-tabloid yang berspekulasi tentang kehidupan pribadinya, dan saat bos Itsuki mulai mabuk dan memulai perdebatan mengenai kapan Narumiya Mei, rising star Seibu Lions, bakal bergegas pergi dari Jepang untuk memulai hidup baru di MLB, jauh di sisi lain bumi.

Kita beda dunia, tetapi dulu kita pernah berada di dunia yang sama, Itsuki hari ini kembali berpikir saat ia memasang headphones dan menekan play. Salah satu lagu favorit idol group kesukaan Itsuki langsung berputar.

Kita berbeda dunia, dunia, dunia, tetapi aku lalu aku bertanya kepada semesta, semesta, semesta–”

Aneh memikirkannya, Itsuki mengakui kepada dirinya sendiri. Dulu, meski tidak tanpa perjuangan, ia pernah bermain di lapangan yang sama dengan Mei-san, dalam arti harfiah dan arti metaforis – play on the same field.

Namun, sekarang mereka bahkan tidak memainkan permainan yang sama. Mei langsung terjun ke dunia baseball profesional tingkat tertinggi di Jepang yang gemilang dan penuh glamor, dan di sana ia melesat, menjadi lebih besar, lebih perkasa, lebih surreal, dan Itsuki kini mendapatkan kesan bahwa tidak ada satupun warga Jepang yang tidak mengetahui namanya.

Sedangkan Itsuki?

Ia sekarang bahkan tidak memainkan baseball meski hanya untuk bersenang-senang pada akhir pekan. Terakhir kali ia memakai serba-serbi gear untuk catcher, ia masih adalah mahasiswa dan masih berpikir bahwa setelah ia mendapatkan gelar sarjananya dalam Teknik Mesin, ia bakal berkolaborasi dengan orang-orang dari segala penjuru dunia untuk bekerja membuat langsung mesin-mesin paling megah di dunia – mobil-mobil tercepat dan terindah, kapan yang paling besar perkasa.

Bukan dokumen-dokumen birokratis yang masih dicetak di kertas meski menurut Itsuki tidak perlu, ratusan dan ribuan sheet Excel bahkan untuk hal-hal yang menurut Itsuki seharusnya tidak dijadikan spreadsheet Excel, berbaris-baris kode dan angka, angka, angka. Bukan terperangkap dalam sebuah kantor di gedung, menghabiskan jam demi jam dan hari demi hari mengurus berkas demi berkas, permintaan demi permintaan, masalah demi masalah.

Bukannya Itsuki tidak bersyukur – perusahaannya termasuk perusahaan yang cukup besar, sukses, dan prestise, sesuatu yang dibuktikan dengan kemampuannya untuk menyewa perkantoran di distrik komersial Marunouchi di Chiyoda yang cukup elit, kemampuannya untuk sangat membantu Itsuki dalam mendukung oshi-nya.

Meski tidak sesuai ekspektasinya, Itsuki tidak membenci hidupnya sekarang ini – Senin sampai Jumat naik sepeda menuju stasiun sebelum menaiki kereta, menjadi pegawai pertama yang masuk kantor karena ia yang paling muda. Jam demi jam di depan komputer diselingi makan siang bento dari konbini dan kemudian kembali lagi ke pekerjaan. Lalu minum-minum dengan kolega dan bos malamnya, apabila ia tidak langsung pulang ke apartemennya yang sempit dan sepi. Terkadang, ia mengenakan kaos merchandise resmi dan pergi naik kereta ke Akihabara pada akhir pekan, di mana Itsuki tidak pernah bosan mendukung perempuan-perempuan idol yang sudah bagaikan adik-adik baginya, terutama oshi-nya Mayu-chan.

Namun meski dunianya tidak begitu buruk, tidak dapat disangkal bahwa dunianya dan dunia Mei berbeda. Meski, Itsuki mengakui saat ia sejenak memalingkan mukanya ke arah jendela, ia dan Mei-san masih melihat langit Kanto Selatan yang sama.

“Bila aku punya belahan jiwa, aku ingin kamu, aku ingin kamu yang menjadi –”

“Ow!”

Rasa panas yang menyakitkan tiba-tiba membakar kulit Itsuki dalam sekejap, menyengat sebelum kembali hilang tiba-tiba.

Terengah-engah dan kehabisan napas, Itsuki menoleh ke kiri dan kanan; semua pegawai lain sedang fokus pada pekerjaan-pekerjaannya masing-masing.

Dengan jantung yang berdebar lantang, Itsuki pelan-pelan menarik lengan baju kemejanya ke atas, menyingkap soulmark-nya yang tercetak hitam di bawah lengan kanannya.




Penuh energi, amat bahagia, dan sangat dapat diajak bercanda.

“Wow, Anda tidak berbohong,” seloroh Yamamoto-san.

“Untuk apa saya berbohong?” Itsuki bergumam, menahan godaan untuk menggoyang-goyang lengannya, yang saat itu sedang tergeletak di meja dan difoto oleh Yamamoto-san. Ini sekarang sudah jauh lebih mending; Yamamoto-san telah sebelumnya menaruh tangan Itsuki di bawah mikroskop dan segala macam alat yang tidak ia mengerti. “Saya setuju menjadi partisipan penelitian ini tidak karena saya ingin uangnya. Saya sangat tertarik dengan penelitiannya dan ingat melihat penemuan baru-baru dalam bidang ini.”

“Anda tahu saya tidak menuduh Anda, Tadano-san,” Yamamoto-san menyahut sebagai jawab. “Tetapi kita semua tentunya terkejut. Terutama Anda sendiri, saya yakin, sebagai yang pertama kali melihatnya?”

“Sebetulnya tidak,” Itsuki menjawab, membaca kembali apa yang tertulis di lengannya, soulmark-nya. “Saya tidak aktif mengikuti perkembangan dalam keilmuan soulmate, jadi saya tidak tahu bahwa sesuatu seperti ‘Sangat dapat diajak bercanda’ belum pernah sebelumnya tercatat sebagai sesuatu yang dapat tertulis sebagai soulmark.”

Soulmark Anda sebelumnya, terakhir kali, mengatakan hanya ‘Bertekad’, bukan, Tadano-san?” Yamamoto-san bertanya. “Apabila saya tidak salah ingat.”

“Benar, Yamamoto-san.”

“Sangat tipikal untuk sebuah soulmark, sejauh yang kita ketahui. Tetapi ini! Ini menarik. Ini data baru. Belum pernah tercatat bahwa soulmark dapat memberitahukan apakah seseorang dapat diajak melakukan sesuatu, atau tidak. Yang kita ketahui, soulmark menunjukkan keadaan emosional dan kesehatan fisik seseorang …”

Tiba-tiba, Yamamoto-san terkekeh. “Amat bahagia, katanya. Apabila soulmark Anda berubah pada sore harinya dan bukan pagi harinya, saya bakal berpikir bahwa soulmate Anda adalah ngefans dengan Seibu Lions! Tetapi berubahnya di pagi hari ya, bahkan saat pertandingan mereka belum mulai …Tadano-san, Anda mengikuti Seibu Lions, kah? Ah, pitcher mereka, yang Narumiya-chan itu …”

Tiba-tiba, terdengar keras suara pintu terbuka, dan Itsuki menoleh untuk melihat siapa yang telah bergabung dengan ia dan Yamamoto-san pada malam hari ini.

“Yamamoto!” Peneliti yang satunya yang telah sebelumnya Itsuki sudah pernah temui, Mori-san, bergegas masuk ke dalam laboratorium. “Sungguh?!”

Soulmark Tadano-san memang benar mengatakan demikian, Mori!” Yamamoto-san berteriak menjawab tanpa menoleh. “Analisis yang telah kulakukan sejauh ini membuktikan bahwa soulmark-nya ini tidak palsu. Ini berarti yang selama ini kita ketahui tentang soulmark sangatlah kurang lengkap! Ya, kita memang sudah mengetahui itu sih, tapi-!”

Itsuki bersandar pada kursi yang ditempatinya, sedikit tertegun. Saat ia melaporkan perubahan pada soulmark-nya, sesuatu yang dalam kesepakatan mereka akan ia lakukan setiap kali informasi pada soulmark-nya berubah, ia tidak pernah menyangka bakal seperti ini reaksinya.




Beberapa minggu yang lalu …

“Kami sangat berterima kasih kepada Anda, Tadano-san,” Mori-san waktu itu memberitahu Itsuki saat ia datang ke Universitas Nasional Honshu, untuk menandatangani consent form yang menyatakan bahwa Tadano Itsuki memberikan izinnya untuk menjadi subjek penelitian yang dipimpin oleh Profesor Yamamoto Chiyo. “Sangat susah untuk mendapatkan sampel untuk penelitian apapun tentang soulmates, belahan jiwa! Sedikit sekali orang yang pernah mendapatkan soulmark semasa hidupnya, dan lebih sedikit lagi orang-orang tersebut yang berada di wilayah metropolitan Tokyo Raya dan rela menjadi partisipan.”

“Saya dulu sangat kebingungan saat saya pertama kali mendapatkan soulmark saya,” Itsuki berkata. “Saya waktu itu masih mahasiswa, punya banyak sekali pertanyaan … tetapi dari website yang saya temukan, informasinya banyak yang simpang siur atau, yang paling sering, tidak memiliki informasi yang saya inginkan.”

Mori-san tersenyum, dan mulai membuka mulutnya untuk menanggapi, tetapi Itsuki buru-buru melanjutkan. “Dan ternyata masih sedikit yang benar-benar kita ketahui tentang soulmates dan soulmarks, ya kan? Jadi bila saya dapat berkontribusi ke kemajuan pengetahuan dalam bidang ini, saya sangat senang!”

“Benar,” Mori-san menjawab. “Masih banyak sekali pertanyaan kita tentang soulmates yang belum terjawab! Kita yang hidup di abad ke-21 ini sudah sangat terbiasa memiliki akses ke segala macam pengetahuan tentang semuanya. Bagaimana cara tumbuhan berfotosintesis dan mendapatkan energi, bagaimana orang tua menurunkan sifat genetik, dan kenapa langit berwarna biru. Itu semua bisa dicari di internet, semua di genggaman tanganmu karena kita punya smartphone.”

Itsuki mengangguk.

Mori-san kemudian melanjutkan penjelasannya. “Tetapi aku rasa, itu membuat sebagian dari kita berasumsi kita sudah mengetahui segalanya …. Padahal, tidak juga. Sebagai contoh, apakah payudara lebih cepat mengendur apabila kita memakai bra, atau tidak memakai bra? Masih belum ada penelitian yang konklusif mengenai itu.”

Oh.” Itsuki tersenyum sopan, merasa awkward.

“Sejujurnya,” Mori-san melanjutkan dengan tenang, “Setiap kali ada yang bertanya kepada aku soal soulmates, aku paling sering menjawab, ‘Kami belum tahu.’ Dan itu mengecewakan untuk banyak orang. ‘Kok tidak bisa tidak tahu, terus untuk apa kamu dulu sekolah tinggi-tinggi dan mendapatkan gelar Doktor bila itu saja tidak tahu?’, mereka berkata. Tetapi ya, mau bagaimana lagi ya, Tadano-san? Apabila belum ada penelitiannya, atau penelitiannya tidak konklusif atau hasilnya negatif … Ya, memang kita belum tahu, Tadano-san. Kita hanya bisa berspekulasi.”

Ah, ya.”

“Apakah Anda pernah mencari tahu apa saja pertanyaan-pertanyaan terbesar dalam bidang Soulmate Studies, Tadano-san? Kita masih dalam proses mencari tahu apa saja jawaban-jawaban untuk pertanyaan-pertanyaan seperti, Kenapa pasangan soulmate biasanya berasal dari etnisitas, kelas sosial-ekonomi, dan latar belakang yang sama atau mirip? Kenapa sedikit sekali orang yang pernah mendapatkan soulmark? Kenapa mereka mendapatkan soulmark pada usia yang berbeda-beda? Kenapa pernikahan soulmate memiliki keberhasilan yang hampir sempurna? Kami ingin berkontribusi untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut …”

Mori-san tersenyum.

“... dengan penelitian ini, di mana kami ingin mencari tahu seberapa sering informasi pada soulmark berubah-ubah, dan apakah data frekuensi tersebut memiliki korelasi dengan faktor usia, kelamin, kelas sosial-ekonomi, tempat tinggal, waktu, …”

Selama sesaat, tidak ada suara sama sekali. Hening.

“Oh,” Itsuki berkata pelan, tidak tahu lagi mesti berkata apa.

Tapi

“Pertanyaan, Kenapa pernikahan soulmate memiliki keberhasilan yang hampir sempurna, bukankah itu sudah terjawab ya?” Itsuki bertanya. “Karena mereka soulmates. Begitu.”

“Sebetulnya itu belum konklusif, dan masih terbatas hipotesis,” Mori memberitahu Itsuki. “Teori Pasangan Sempurna, begitu namanya. Postulat dasarnya, bahwa soulmate adalah ‘jodoh’ kita yang telah ditandai oleh alam semesta, sehingga memang ditakdirkan untuk menjadi pasangan sempurna kita, yang itu bukan? Masyarakat awam paling kenal dengan Teori Pasangan Sempurna, atau hanya tahu konsep berdasarkan teori tersebut, tetapi sebetulnya dalam di kalangan ilmuwan, hipotesis ini juga banyak dikritik dan tentunya tidak sepenuhnya diterima. Banyak, deh, argumentasinya – misalnya, bahwa hipotesis tersebut bertentangan yang bukti akan keberadaan soulmates yang sepenuhnya platonic.”

“Aku belum pernah mendengar soal platonic soulmates,” aku Itsuki.

“Oh, mereka memang langka, tetapi buktinya ada. Meski banyak yang denial soal keberadaan mereka juga,” Mori-san menyahut. “Salah satu contoh yang pernah saya temukan adalah seorang lesbian yang ternyata soulmate-nya adalah pria, yang juga adalah sahabatnya. Nah.”

Itsuki berkedip. Ia mendapatkan perasaan bahwa contoh yang diberikan oleh Mori-san jauh lebih personal daripada yang kelihatannya, tetapi ... Ah, bukan urusannya.

“Jadi, Tadano-san,” Mori-san mengembalikan percakapan ke topik awal mereka, tanpa ba-bi-bu. “Sesuai yang telah sebelumnya Yamamoto juga sudah menjelaskan, nanti Anda bakal memfoto soulmark Anda tiap kali soulmark Anda berubah, mencatat waktu perubahannya, dan mengirimnya ke kami. Nanti kami akan memberikan sebuah formulir online. Anda tidak perlu datang ke kampus UNH lagi, cukup e-mail kami, kecuali ada kejadian yang tidak disangka. Seperti yang ditulis di consent form, Anda dapat berhenti kapan saja. Apabila Anda berpartisipasi hingga akhir penelitian, yaitu pada tahun depan, Anda akan mendapatkan imbalan sesuai yang telah sebelumnya dijanjikan pada formulir.”

Itsuki menundukkan kepala, melihat kembali soulmark di tangan kanannya. Sedikit lelah, kesal, marah, kurang tidur, begitulah saat itu tertulis di kulitnya, bagaikan sebuah tattoo yang hidup. Indikator tentang keadaan soulmate-nya saat ini, pikir Itsuki. Sudah bertahun-tahun ia memiliki soulmark ini, tetapi tiap kali ia melihatnya, soulmark itu masih terasa benar-benar baru.

“Baik, Mori-san.”




Meski Tadano Itsuki tidak sengaja terlibat sebuah penemuan besar dalam Soulmate Studies, bumi terus berputar seperti hari-hari lainnya, dan hidupnya terus berjalan seperti biasa.

Tidak ada berita apapun tentang penemuan baru dalam bidang ilmu soulmate saat Itsuki bangun pagi esoknya, dan Itsuki tidak terkejut dan terkejut pada saat yang bersamaan. Apabila dipikir-pikir lagi, tentunya tidak bakal langsung diberitakan – mereka mesti pertama menganalisis, mengecek ulang, berdiskusi …

Soulmark-nya juga telah berubah. Sekarang, ia tertulis Lelah, tetapi cukup tidur dan penuh semangat.

"Selamat pagi juga," Itsuki berkata pelan kepada tangannya. "Siapapun kamu. Aku senang kamu cukup tidur, dan penuh semangat. Jaga diri baik-baik ya, saat aku belum bisa di sana di sampingmu!"

Itsuki meletakkan kembali smartphone tersebut ke sebelah bantalnya dan menengadah, memandang langit-langit apartemennya. Apartemennya yang sangat kecil, sempit, sederhana – dan sangat mahal.

Begitulah Tokyo.

Mungkin ia dapat menyewa sesuatu yang lebih baik ... tetapi dia menghabiskan sebagian besar waktunya di kantor, dia tinggal sendirian, dan apartemen ini hanyalah tempat tidur baginya. Mungkin, apabila dia tinggal dengan seseorang ...

Itsuki memposisikan ulang badannya, memikirkan saat ia pertama kali mendapatkan soulmark-nya.




Waktu itu, tangannya tiba-tiba terasa sungguh, amat sakit bagaikan terbakar, tetapi sepersekian detik kemudian sama sekali tidak apa-apa. Itsuki, yang syok, segera membalikkan lengannya dan mendapati kata-kata Sangat lapar tercetak hitam dan jelas pada kulitnya.

Sebuah soulmark!, Itsuki berpikir, agak histeris. Seorang soulmate! Dan dia lapar! Ia buru-buru membalikkan kembali tangannya agar soulmark tersebut tidak terlihat, dan tidak lama kemudian diumumkan di kereta bahwa ia sudah berada di wilayah Kanto.

Jika aku tidak spontan menyetujui pergi ke Tokyo weekend ini padahal tidak masuk akal dan tidak waras, Itsuki berpikir, mungkin aku tidak bakal pernah mendapatkan soulmark ini. Dan tentu saja, dalam perjalanan Itsuki kembali ke tempat berkuliahnya di Fukuoka, soulmark-nya menghilang dari kulitnya tanpa meninggalkan bekas.

Saat ia lulus dari Institut Teknologi Kyushu, hampir semua perusahaan yang ia lamar adalah perusahaan Tokyo, dan benar dugaannya – setelah ia pindah kembali ke Tokyo, seperti dulu semasa SMA-nya, soulmark-nya muncul kembali.

Soulmate Itsuki ada … di sekitar sini. Dan Itsuki tidak menyesali semua pengorbanan yang untuk tinggal di Tokyo, meski ia masih terus bertanya-tanya apakah kompas soulmate bakal pernah muncul di kulitnya.




Begitulah, soulmarks – selain baru dapat muncul setelah usia tertentu, ia turut bergantung pada jarak geografis. Orang yang berbeda memiliki “rentang” atau range yang berbeda, menurut penelitian yang sudah pernah diadakan; bagi sebagian orang, soulmark ia baru bakal muncul jika ia berada dalam rentang 12 kilometer dari sosok soulmate-nya, dan bagi orang lain, angka tersebut bisa 24 kilometer, 48 kilometer, 96 kilometer–

(“Dan itulah salah satu alasan untuk mempelajari laju eksponensial,” salah satu guru matematika Itsuki di Inashiro pernah bercanda.)

Soulmark juga, sejauh yang sudah diketahui, memiliki dua komponen. Satu komponen adalah komponen indikator, yang menjelaskan keadaan sang soulmate dan berubah-ubah dalam hitungan jam atau hari, dan baru akan muncul pada rentang geografis tertentu. Kemarin malam, Itsuki mempelajari bahwa indikator soulmate yang dimilikinya adalah yang pertama tercatat melaporkan apakah sang soulmate sedang dapat diajak melakukan sesuatu atau tidak (dalam kasus tersebut: diajak bercanda).

Komponen yang satunya lagi adalah komponen kompas, yang belum pernah Itsuki dapatkan. Seperti komponen indikator, komponen kompas hanya akan muncul pada jarak tertentu. Bedanya, sang kompas muncul bukan dalam rentang 12 x N^2, tetapi kurang dari 100 meter. Yang paling pentingnya: Panah pada kompas tersebut akan selalu menunjuk ke arah soulmate.

(“Beruntunglah kamu-kamu ini yang memiliki dan sudah tahu soulmate kamu,” dosen Itsuki pernah berkelakar dalam mata kuliah Perpindahan Panas Dasar. “Apabila kamu tersesat atau jadi orang hilang, soulmate kamu bisa dijadikan penunjuk arah! Hahaha!” Sesuai dengan yang diduga banyak orang, mata kuliah tersebut tidak ada hubungannya sama sekali dengan urusan soulmates.)

Itsuki belum pernah melihat kompasnya muncul. Namun, Tokyo adalah daerah yang sangat besar. Belum lagi memperhitungkan apabila ternyata soulmate-nya tidak berada di Prefektur Tokyo, tetapi prefektur tetangga – Chiba. Kanagawa.

Saitama.

(Terkadang, Itsuki bertanya-tanya apakah soulmate-nya bakal ngefans dengan Narumiya Mei, pahlawan lokal prefektur Saitama.)




Setiap hari, Itsuki menghabiskan kurang lebih 70 menit di perjalanan menuju dan dari tempat kerjanya di Chiyoda. Waktu yang amat sangat cukup apabila dipergunakan untuk mendengarkan musik.

Atau hal lain.

“Ini semua hasil kerja tim,” Mei-san berkata dengan sangat amat manis dalam wawancara setelah pertandingan kemarin, yang tidak dapat Itsuki tonton karena ia ada kerja dan kemudian di-summon ke kampus UNH sebelum soulmark-nya punya kesempatan untuk menghilang. “Tanpa mereka, aku tidak bakal dapat …”

Itsuki langsung dapat membayangkan raut muka Mei-san saat ia mengucapkan kata-kata manis berlumuran gula tersebut: cerah, gemilang, menyebalkan, dan agak lucu.

Ia berharap, tadi malam Mei-san dapat tidur nyenyak. Pada malam hari setelah pertandingan, Mei-san selalu ...

Ah. Itsuki sudah enam tahun tidak berpapasan dengan Mei. Apa yang ia ketahui? Semua orang, sedikit atau banyak, bakal berubah setelah beranjak dewasa.




Terkadang, Itsuki lebih memilih untuk menge-scroll Twitter dalam perjalanan komuternya. Seringkali, ia memilih untuk cukup nge-fanboy dengan teman-teman wota-nya. Sekali dua kali, ia pernah berpartisipasi dalam war, dan dari pengalaman-pengalaman tersebut ia memutuskan untuk tidak ikut war lagi.

Dan biasanya, ia sama sekali tidak ada keinginan untuk melakukannya. Biasanya, ia tidak perlu menahan diri.

Biasanya.

Itsuki mengucek matanya, lalu melihat kembali layar smartphone-nya. Matanya tidak salah pertama kali. Fandom AKB64 memang sedang war dengan fandom Seibu Lions. Atau lebih tepatnya, fandom Shirai Mayu sedang war dengan fandom Narumiya Mei. (Fakta bahwa Mei sempat ikut campur sebelum, Itsuki menebak, seseorang menyita smartphone-nya, juga tidak membantu.)

Alasannya? Sesuatu yang benar-benar remeh. Menurut fandom Narumiya Mei, poster AKB64 yang terpampang tidak jauh dari Stadium Meiji Jingu menyindir Mei. Menurut fandom AKB64, tuduhan ini menyinggung Mayu. Ada berbagai thread panjang dari kedua pihak yang menjelaskan panjang lebar dalam puluhan tweets, secara detail, kenapa pandangan mereka benar beserta entah berapa screenshots dan foto, tetapi Itsuki tidak punya waktu untuk membacanya.

Itsuki berhasil menahan keinginannya untuk berkata kasar, dan memutuskan mengantongi smartphone-nya, tidak lagi mampu berkata-kata. Pertama, ini situasi terlalu surreal bagi Itsuki. Dan kedua, bagaimana ia semestinya memilih di antara Mayu-chan dan Mei-san? Tidak bisa!

Dan ketiga, tidak peduli betapa ngefans-nya Itsuki, ia tidak bisa menanggapi drama ini dengan serius. Ini semua karena poster! Poster! Dan kenapa yang tersinggung adalah fandom Narumiya Mei? Narumiya Mei bermain untuk Seibu Lions – home stadium tim dia bukan di Meiji Jingu, tetapi di Seibu Dome di Tokorozawa! Kenapa bukan fandom Yakult Swallows yang tersinggung? Mereka lah yang bermarkas di Meiji Jingu, di Tokyo, di sini!

"Duh," Itsuki mendesah kepada dirinya sendiri, mengambil kembali smartphone-nya. Ada post baru di timeline-nya; gambar photoshoot Miyuki Kazuya dan Hongou Masamune dari Yakult Swallows, Miyuki tanpa kacamatanya dan mereka berdua menatap kamera bagaikan mengundang melakukan sesuatu, berdiri sebelah satu sama lain bagai ... Hmm, ia tidak pernah memikirkan Miyuki dan Hongou dalam konteks seperti itu, tetapi Miyuki dan Hongou benar-benar mengingatkannya akan dirinya dan Mei-san. Tidak ada kemiripan sama sekali antara Itsuki-Mei dan Miyuki-Hongou, sejujurnya.

Tetapi.

Ia menjadi memikirkan ...

Ah, ia jadi kembali memikirkan Mei-san. Terkadang, Mei-san terasa bagaikan hantu, memorinya selalu mengikuti Itsuki ... Itsuki tidak memiliki kenangan buruk dengan Mei-san, tidak memerlukan closure apapun, karena tidak terjadi ataupun tidak terasa apapun antara mereka. Tidak ada pertengkaran, ataupun romansa. Itsuki dan Mei-san adalah Itsuki dan Mei-san, tidak lebih dan tidak kurang.

Namun, mungkin memang sudah takdir baginya untuk memikirkan Mei-san hingga akhir hayatnya. Meski Itsuki tidak tahu kenapa.




“Meski kontroversial, novel Chiyama Haruto tetap laris, ya?”

Itsuki tidak suka menguping. Namun, kedua remaja tersebut berdiri tepat di sebelahnya, dan seraya menunggu lampu lalu lintas berubah warnanya agar mereka dapat menyebrang, Itsuki mau tidak mau turut mendengar pembicaraan mereka.

“Iya! Ai-chan sudah membaca, kah? Transgresif sekali. Novelnya membuatmu berpikir, bukan?”

“Orangtuaku tidak bakal suka. Tetapi aku sudah membaca! Jangan kasih tahu mereka aja, hahaha. Ah iya … Aku jadi berpikir, bagaimana kalau soulmate sesungguhnya tidak seperti yang selama ini kita pikirkan? Bagaimana kalau kamu membenci soulmate-mu seperti dalam novel Chiyama Haruto?”

Itsuki berkedip. Tepat pada saat itu, lampu lalu lintas akhirnya berubah.

Membenci ... Ia merasa tertegun.

Apa, siapa sebetulnya suatu sosok soulmate itu? Itsuki bertanya-tanya. Selama ini, Itsuki hanya tahu apa yang Yamamoto-san sebagai Teori Pasangan Sempurna - soulmate adalah pasangan sempurna, yang ditakdirkan oleh alam semesta, dan soulmark bagaikan tinta yang ditinggalkan oleh dunia untuk menandai, memberitahukan ke mana kita mesti berpaling.

Teori Pasangan Sempurna bukanlah tanpa basis, Itsuki mempelajari dari penelusurannya di internet.

Hipotesis tersebut sudah ada secara berabad-abad, tetapi Alexander Kreyszig lah yang mendapatkan credit untuk tidak hanya mempopulerkannya tetapi juga mempublikasikan hasil penelitian yang menurutnya dapat dijadikan basis. Kreyszig tidak hanya melakukan literature review tetapi juga mengumpulkan datanya sendiri dari segala penjuru dunia. Dari pengamatannya, soulmate hampir selalu adalah lawan jenis dengan perbedaan umur yang tidak jauh, dari latar belakang yang sama dari segi pendidikan, kelas sosial ekonomi, etnisitas, budaya, bahasa, dan masih banyak faktor lainnya. Ia mendapati, bahwa pernikahan antara soulmates hampir selalu sukses - tidak hanya dalam arti tidak bercerai, tetapi juga berdekade-dekade bahagia sebagaimana mereka sendiri melaporkan - dengan pengecualian yang sangat amat sedikit. Soulmates juga hampir selalu adalah pasangan romantis, dan bila tidak, mereka tidak lama kemudian menjadi berpasangan satu sama lain.

Itsuki tidak dapat menyalahkan siapapun yang menggunakan hipotesis tersebut sebagai basis konsep pengetahuan tentang bagaimana mesti menginterpretasi fenomena soulmates. Itsuki melakukan hal yang sama hingga bulan lalu. Namun, setelah apa yang Mori-san katakan, Itsuki tidak dapat tidak berpikir ulang.

Namun, ia tidak pernah berpikir soal benci ... Apa yang dipikirkan Chiyama Haruto, saat ia memutuskan untuk mengeksplorasi konsep tersebut?

Novel Chiyama berkontribusi pada kontroversialitasnya, Itsuki menemukan saat ia kembali membuka media sosial sambil menunggu antrian di konbini, namun bukan pencetusnya. Chiyama Haruto sudah kontroversial sebelum novelnya kontroversial, tetapi ia kontroversial karena ia sangat vokal dalam mengoposisi Teori Pasangan Sempurna, yang ia anggap sebagai dogma. Lalu, publikasi novelnya tersebut menambahkan bara ke api.

"Teori Pasangan Sempurna masih berupa hipotesis dan tidak dapat dibuktikan," ia berkata dalam suatu konferensi, kata-katanya yang melambungkannya ke statusnya sebagai figur terkenal. Setidaknya, itulah bagaimana ia dikutip. "Kita tidak benar-benar tahu apa yang sedang terjadi di sini!"

Tidak benar-benar tahu ...

Itsuki begitu larut dalam pikirannya sendiri ia hampir menabrak seseorang di lobi. Untungnya, dia masih sempat melangkah mundur pada momen terakhir, dan mereka hanya sempat sesaat bersentuh. Namun, sosok yang hampir ia tabrak sudah telanjur menyadari keberadaannya.

"Tadano Itsuki?" Sosok tersebut memanggil, dengan nada suara terperanjat, dan Itsuki memutar balik badan seolah tersentak.

Sosok tersebut, setelah Itsuki perhatikan lagi, adalah seseorang yang ia cukup yakin tidak ia kenal.

"Maaf?"

Tinggi, tegap, berkacamata, dan tampan. Oh, shit,. Apakah ia adalah salah satu pria yang pernah Itsuki tidak sengaja berikan harapan palsu di gay bar? Itsuki percaya akan karma, namun ia juga merasa tidak semestinya karma ini mengejarnya hingga ke tempat kerjanya-

Sosok tersebut tertawa kecil. "Terkadang aku lupa, kebanyakan orang tidak akan mengenaliku bila memakai kacamata seperti ini," ia berkata, lalu mendekati Itsuki yang kemudian seolah membeku. "Hei, hei, aku Miyuki Kazuya. Kita pernah bertanding lawan satu sama lain, ingat?"

Itsuki tersedak. Miyuki menepok punggungnya dengan sopan.

"Anda- Miyuki-san-," Itsuki mulai berkata, sebelum menarik kata-katanya kembali. Sedang apa yang Anda lakukan di sini?! bukanlah sesuatu yang sopan diteriakkan ke seseorang yang 1) lebih tua, 2) tidak ia kenal, dan 3) adalah Miyuki Kazuya.

Namun, tampaknya ia tidak perlu mengatakan apapun. Miyuki langsung mengerti. "Oh, ayahku perlu mengantarkan dokumen fisik ke sini, tetapi ada ... Insiden ... sehingga ia tidak bisa datang. Jadi, karena hanya soal mengantar dokumen, aku bisa melakukan karena Senin adalah hari liburku." Nadanya ramah, tetapi Itsuki merasa seperti Miyuki juga mengancamnya untuk tidak menanyakan lebih lanjut. Seperti apa itu insiden yang dimaksud. Untungnya Itsuki bukan orang yang penasaran dan suka mencari-cari gosip; itu Mei-san.

"Saya mengerti ... Miyuki-san ... Sudah tidak lama bertemu. Saya harap ayah Miyuki-san baik-baik saja."

"Oh, kamu tidak perlu khawatir, pria itu baik-baik saja, sehat, tidak ada masalah apapun, yep. Aku rasa kamu mesti segera pergi kerja? Omong-omong, Mei bagaimana ya kabarnya, Tadano?"

Untuk kedua kalinya di lobi pada pagi hari itu, Itsuki terperanjat.

"Hah, bukannya Miyuki-san harusnya tahu? Apakah kalian bertengkar? Tidak baik itu, bertengkar. Ah, maafkan kelancangan saya." Kata-katanya keluar tanpa sebelumnya matang dipikirkan, tetapi untungnya Miyuki tidak terlihat tersinggung.

"Aku sudah tidak berbicara dengan Mei selama kurang lebih enam bulan," Miyuki memberitahukan. "Tidak ada pertengkaran. Oke, mungkin aku membuatnya kesal satu kali saat itu ... Tetapi dia duluan yang mengesalkan ... Ah, tidak usah hiraukan. Kami baik-baik saja, tetapi aku penasaran dengan keadaannya. Akhir-akhir ini, dia terkesan agak aneh."

Itsuki tersenyum ketus. "Enam bulan, Miyuki-san? Saya sudah tidak berbicara dengan dia selama enam tahun."

"Ah ... Maaf, Tadano. Aku kira kalian anak Inashiro masih lengket dengan satu sama lain ... Baiklah."

Itsuki masih tertegun saat menaiki lift, merasa seolah yang baru saja terjadi sesungguhnya tidak benar-benar terjadi. Andai ia benar-benar mengetahui kabar Mei-san, seperti ia mengetahui kabar soulmate-nya itu.




Di luar dugaan Itsuki, war antara fandom Narumiya Mei dengan fandom Shirai Mayu tidak selesai karena memang urusannya sepele, tetapi memburuk. Selama jam kerja Itsuki, sudah ada beberapa orang yang di-dox, lebih banyak lagi yang di-suspend atau sekadar menggembok akun, dan tidak sedikit yang sampai sudah mendeklarasikan bahwa mereka memutuskan untuk meninggalkan fandom.

Shirai Mayu, perempuan muda yang padahal Itsuki ketahui sudah punya banyak kesibukan tetapi puji syukur Mayu masih kuat dan Itsuki harap dia selalu sehat, sampai turun tangan.

Mei-san belum kembali muncul di Twitter, dan Itsuki menebak bahwa manajemen masih berpikir bahwa ia masih belum siap dilepaskan kembali ke alam buas media sosial.




"Soulmate kamu sangat ekspresif," Yamamoto-san berkata. Mukanya masih belum balik ke semula, masih terkejut seutuh-utuhnya, dan Itsuki mengerti.

Ia sudah kembali berada di laboratorium Universitas Nasional Honshu, dan lagi-lagi tangannya diletakkan di bawah mikroskop dan kamera dan entah berapa banyak peralatan lainnya. Itsuki marasa bersyukur bahwa ia sungguh penasaran dengan hasil akhir penelitian ini nanti, karena bila tidak mungkin ia tidak bakal tahan begitu intens dijadikan subjek penelitian seperti ini.

Namun, ia tidak bisa menyalahkan Yamamoto-san, dan Mori-san, dan beberapa mahasiswa mereka yang kali ini turut datang untuk menjadikan Itsuki sebagai tontonan sekaligus bahan pelajaran. Tidak setiap hari soulmark seseorang menyatakan, Sangat ingin menonjok Miyuki Kazuya.

"Jadi sekarang kita tahu bahwa soulmark pun bisa menyebut-nyebut nama spesifik, iya bukan?" Itsuki berkata kepada mahasiswa asisten penelitian yang berada paling dekat dengannya. "Kamu tahu apa lagi yang bisa menyebut-nyebut nama spesifik-?"

"Saya punya perasaan bahwa Anda sedang membuat sebuah permainan kata, Tadano-san," Yamamoto-san tiba-tiba memotong. "Tapi sayangnya itu tidak diperbolehkan di laboratorium ini. Saya minta agar Anda sebagai tamu menghormati peraturan yang diberlakukan oleh tuan rumah."

Yamamoto-san menunjuk ke arah kertas yang ditempel ke dinding yang sebelumnya Itsuki tidak pernah perhatikan, dan benar, pada peraturan nomor 12 tercetak jelas dalam Times New Roman bahwa, "Di laboratorium 3A ini tidak diperbolehkan siapapun untuk membuat permainan kata pun atau paronomasia. Pelanggar akan didenda lima ratus Yen apabila ia bukan Yamamoto Chiyo, dan dua ribu Yen apabila yang melanggar adalah Yamamoto Chiyo."

Itsuki tidak mau tahu apa sejarah dari larangan tersebut. "Baiklah," ia menjawab, dengan nada menyerah. Mahasiswa asisten penelitian yang sebelumnya ingin ia goda menatapnya dengan tampang mengiba.




Shirai Mayu AKB64 Memohon-mohon kepada Fans Setianya, MAYMAYs, Agar Tidak Bertengkar dengan Mei-Chan Supporters

Itsuki mengerang setelah membaca headline tersebut. Terakhir kali ia mengecek, fanbase Mayu-chan terdiri mayoritas dari pria dewasa, begitu pula dengan fanbase Mei-san. Kenapa seperti ini? Bukankah mereka punya hal lebih baik yang mesti dilakukan daripada bertengkar di internet? Itsuki bahkan tidak sempat menyaksikan sebagian besar drama karena ia mesti bekerja.

Karena ini hari Sabtu, ia memutuskan untuk kembali tidur.




Itsuki tidak ingat kapan ia terakhir kali membuat keputusan spontan seperti ini.

Mungkin, dulu saat rekan mahasiswanya di Kyutech tiba-tiba mendeklarasikan bagaimana jika mereka berkelana ke Tokyo saat akhir pekan. Itsuki mengatainya tidak waras, karena mereka semua masih memiliki banyak pekerjaan yang mesti dilakukan, dan Tokyo sama sekali tidak dekat dengan Fukuoka, dan perjalan tersebut sama sekali tidak murah. Mahasiswa-mahasiswa lain yang saat itu juga ada di sana turut mengatai pencetus ide pergi ke Tokyo.

Namun, pada akhirnya mereka tetap semuanya pergi ke Tokyo, termasuk Itsuki dan termasuk yang sebelumnya mengata-ngatai, dan bila Itsuki tidak spontan memutuskan untuk melakukan hal tersebut, mungkin ia tidak bakal pernah mendapatkan soulmark-nya sekarang. Sangat sedikit orang yang pernah.

Dan sekarang, ia melakukannya lagi: Perjalanan spontan.

Tidak segila dulu, keputusan yang sekarang. Stadium Meiji Jingu hanya kurang lebih 20 kilometer dari Nishitokyo, tempat Itsuki menyewa apartemen. Bukan 1000 kilometer, seperti jarak antara Fukuoka dan Tokyo. Dan Itsuki punya jauh lebih banyak uang miliknya sendiri, sekarang; ia bukanlah mahasiswa muda dengan duit tanggung yang entah kenapa berpikir bahwa spontan berjalan-jalan 1000km adalah ide yang oke.

Namun, Itsuki tidak melakukan "spontan", dan meski perjalanan ini sama sekali bukan apa-apa, jantungnya masih berdebar keras.

Seolah, akan terjadi sesuatu.

Tidak ada yang bakal terjadi, Itsuki mengingatkan dirinya sendiri. Kamunya saja yang kurang pergaulan, sudah, sudah, jangan berpikir macam-macam.

Tidak akan terjadi apapun.

Itsuki hanya tiba-tiba ingin melihat poster yang memulai war ini semua, yang telah memporak-porandakan Twitter Jepang dan menyeret segala macam fandom ke dalamnya, kali ini tidak hanya fandom AKB64 ataupun Seibu Lions tetapi bahkan fandom figure skating dan mechanical keyboards.

Emosi adalah hal yang aneh dan menakjubkan, Itsuki berpikir. Emosi lah yang sering menuliskan dirinya sendiri di tangan Itsuki, memberinya kabar baru tiap kalinya. Emosi lah yang membuat Itsuki terus bernostalgia dan memikirkan Mei-san, emosi lah yang dijadikan inspirasi oleh para songwriters AKB64, emosi lah yang menyulut pertengkaran fandom Shirai Mayu dan fandom Narumiya Mei, dan emosi lah yang membuat Itsuki melangkah cepat ke sini.



"Ow!"



Itsuki menghela napas, memegang tangannya. Rasa sakit kali ini terasa berbeda dari biasanya. Pelan-pelan, ia menyibak lengan bajunya.

Sesuai dugaannya, soulmark-nya berubah dan sekarang mengatakan, Tidak sabar. Namun, ada hal lain yang baru.

Sebuah kompas.

Sebuah kompas, terletak tepat di bawah tulisan Tidak sabar yang sebelumnya. Seperti soulmark indikator, ia terlihat seperti tato, tetapi yang berbeda: Tato ini sungguh, sungguh hidup.

Jarum kompas tersebut berputar, pelan, ke kiri dan ke kanan, dan Itsuki tidak perlu berpikir panjang sebelum bergegas mengikuti arah jarum tersebut.

Kompas tersebut menuntunnya ke arah yang sudah dari awal ingin ia datangi - arah poster kontroversial yang memulai drama besar-besaran di jagat raya Twitter Jepang - dan Itsuki berjalan, berjalan cepat, dan berjalan begitu terburu-buru ia hampir berlari.

Itsuki memposisikan tangannya agar sehorizontal mungkin, dan menunduk untuk melihat kompas yang jarumnya bergerak-gerak tersebut.

Ia hampir tidak melihat orang yang telah dia cari-cari selama ini.

.

.

"Itsuki," Mei-san berkata pendek. Ia sama sekali tidak terlihat terkejut.

"Mei-san," Itsuki berkata.

Hening.

"Hm, aku tidak sepenuhnya yakin, sayangnya," Mei-san berkata. "Tetapi aku selalu yakin soulmark ini milikmu. Toh, kamulah yang aku pilih."

"Hahh?!" Itsuki spontan berjalan mundur. "Hah? Mei-san? Apa- Kenapa-?"

Mei-san tiba-tiba mengenggam pergelangan tangan Itsuki dan menariknya maju, lebih lembut dari yang Itsuki bakal kira. Saat ia membalikkan tangan mereka berdua, terpambang jelas bagaimana kompas soulmark mereka berdua menunjuk ke arah satu sama lain dan telah berhenti bergerak.

"Tuh," Mei-san mendengus. "Kamu butuh bukti apa lagi, Itsuki? Tidak bisa, 'kan, kamu sangkal dan tolak seperti ini? Kamu tahu cara membaca kompas, kan? Aku tidak yakin mereka mengajarkan itu di Teknik Dirgantara."

Itsuki langsung menarik tangannya. "Aku tahu cara membaca kompas!" Itsuki berkata lantang. "Aku anak Teknik Mesin, Mei-san, bukan Teknik Dirgantara! Apa yang kamu mau? Apa yang kamu maksud dengan pilih? Kenapa kamu berada di dekat poster ini apakah kamu ingin dibunuh?!"

"Oh, aku tahu kok kamu anak Teknik Mesin," Mei-san berkata santai. "Aku hanya ingin melihat reaksi kamu, soalnya gini ya, kalau di forum anak teknik yang sering aku browsing itu mereka ngejokes mulu tentang bagaimana anak Teknik Mesin itu musuhan dengan anak Teknik Dirgantara-"

"Stereotip apaan itu?! KENAPA KAMU BROWSING FORUM MEME ANAK TEKNIK?!"

"- dan aku datang ke poster ini, karena lihat, ini di soulmark aku ada tulisan, Gelisah karena drama fandom Mei-Mayu dan spontan ingin pergi ke TKP. Sebetulnya aku harusnya tidak berada di sini, sih, manajemen aku sudah menelpon aku tadi tapi aku pura-pura tidak dengar, tetapi kamu tidak bisa menyalahkan aku, akhir-akhir ini soulmark aku berisi informasi aneh-aneh seperti Ingin bikin candaan pun tetapi tidak ingin didenda oleh profesor, dan Mempertanyakan arti soulmates, dan Kaget karena Miyuki Kazuya, dan masih banyak lagi. Bagaimana aku tidak prihatin, terutama saat Sedang menjadi kelinci percobaan di laboratorium dan yang paling genting, Terpesona dengan senpai dari SMA, kayak, siapa ini rivalku yang berani-beraninya memesona soulmate-ku-"

"ASTAGA!" Itsuki merasa seperti ingin pingsan. Ia tidak pernah memikirkan bagaimana kesannya di depan soulmate-nya, tetapi kalau dipikir-pikir, tentu saja Itsuki bakal turut menyiarkan informasi dirinya sendiri. "Bentar! Apa yang kamu maksud dengan memilih?!"

"Enam tahun yang lalu," Mei-san berkata. "Kamu ingat tidak, saat kita berpapasan di stasiun, sebelum kamu berangkat ke Kyushu untuk berkuliah?" Ia tertawa. "Ah, aku berpikir, kouhai-ku kini jauh lebih dewasa, lebih gagah, dan mungkin aku menjadi sedikit terpesona ... Tetapi bukan itu yang penting. Aku tidak pernah berhenti memikirkanmu setelah aku lulus dari Inashiro, tetapi setelah itu, aku menjadi memikirkanmu ... Dan, aku berpikir tentang bagaimana, ah, kamu pasanganku, partner-ku, temanku, sehabatku, bagaimana aku bakal berbeda sangat tanpamu. Waktu itu, aku tidak begitu mengerti apa yang sedang terjadi, tetapi sudah enam tahun, dan setelah dipikir-pikir ... Waktu itu, aku membuka hatiku."

"Itu tidak menjawab, Mei-san-"

Mei-san mengangkat tangannya. "Sabar. Momen yang paling aku ingat adalah setelahnya, setelah aku memutuskan bahwa aku ingin bersamamu, dalam arti paling abstrak. Belum tentu romantis, belum tentu platonic. Hanya, bersamamu, seutuh-utuhnya. Langsung setelah itu, tangan kiriku terasa sakit dan terukir di kulitku, Cemas tetapi siap menyongsong hal baru. Kamu mengerti, kan? Nah, yang aku tahu, kamu bukanlah soulmate yang dipilihkan oleh takdir, oleh semesta untukku. Aku lah yang memilih kamu. Kamu lihat?"

"Mei-san ..."

Itsuki tidak tahu lagi, berkata apa. Soulmate sebagai sesuatu yang sebetulnya kita pilih sendiri adalah teori yang tidak pernah Itsuki dengar sebelumnya, bahkan dari Chiyama atau Yamamoto atau Mori sekalipun. Dan akan sangat sesuai dengan ego dan kesombongan Mei, bila Mei berpikir ia dapat membuat alam semesta tunduk padanya.

Namun, hal yang Mei ceritakan, tidak terdengar seperti kebetulan.

"Sebentar!" Itsuki memotong. "Aku baru mendapatkan soulmark aku beberapa tahun yang lalu. Kok bisa-bisanya kamu dapat enam tahun yang lalu?!"

"Pakai logika aja sih, ya ga?" Mei-san menjawab santai. "Ya berarti rentang soulmark aku berbeda dengan punya kamu, mungkin lebih perkasa dan jauh jangkauannya! Gampang, kan?"

"Secara teknis," Itsuki berkata, "Itu soulmark milik aku. Semesta hanya menitipkannya ke kamu. Dan Mei-san? Pergilah ke lab bersamaku. Aku ingin mengenalkan kamu ke Yamamoto-san dan Mori-san, dan aku yakin mereka akan sangat tertarik mendengar bagaimana kamu ... memilih soulmate kamu sendiri."

"Bentar!" Mei berteriak. "Kenapa dari tadi kamu mulu yang bertanya, bertanya, dan menyuruh-nyuruh ke aku?! Ah, padahal kamu dulu sopan sekali! Gantian aku, aku mau bilang, aku sangat kecewa dengan kamu. Kamu kenapa tidak membela aku sama sekali di Twitter, sih?! Padahal tiap hari sudah aku stalk, itu yang akun Twitter AbangnyaMayuchan. Itu punya kamu, kan?!"

"Hah?! Kamu nemu dari mana?!"

"Aku tidak sengaja lihat! Terus obvious banget bahwa itu kamu! Jadi kenapa sih kamu enggak membela aku?! Kamu lebih memilih Mayu, ya!"

"Ya tentu saja, Mei-san! Pakai ditanya!"

Tetapi-

Bakal lebih memilih Narumiya Mei daripada Shirai Mayu, tertulis di lengan Mei-san. Mei-san pun memandang Itsuki dengan penuh kemenangan.

"Oh!" Itsuki memandang lengan Mei-san. "Kamu benar-benar harus ke lab bersamaku, sekarang! Aku sebelumnya tidak tahu soulmark bisa dijadikan pengujian kebohongan-!"

"Itsuki, kamu beneran jadi subjek penelitian manusia-?!"




Mungkin, Itsuki belum sepenuhnya tahu apa soulmates itu, apa sebenarnya limitasi soulmarks. Tidak ada yang benar-benar tahu, termasuk Mei-san meski mungkin ia berpikir lain.

Namun, Itsuki tahu bahwa sebagaimana Mei-san telah memilih dirinya, ia pun telah memilih Mei-san meski tanpa sadar, dan ia akan terus memilih Mei-san lagi dan lagi.

"Kamu tahu, kan?" Mei-san berkata, mengenggam tangan Itsuki sejenak sebelum melepaskannya. "Biasanya, orang-orang di cerita-cerita itu mengenalkan pacarnya ke orangtuanya. Bukan ... penelitinya, yang menjadikannya subjek penelitiannya. Baru kali ini aku menemukan orang yang semangat banget jadi subjek penelitian."

"Aku tahu," Itsuki menjawab. "Kamu tahu bahwa aku tahu. Tetapi Tadano Itsuki yang kamu dulu pilih ... adalah Tadano Itsuki yang ini, kan?"

Mei-san tidak perlu menjawab. Itsuki sudah tahu jawabannya.

Notes:

Aku sangat tidak puas, sejujurnya, dengan ini!! Aslinya, aku ingin lebih mendalami worldbuildingnya, dan aku masih merasa ada banyak hal yang seharusnya aku kontruksi dengan lebih kuat, jelas, tidak ambigu. Dan aku tidak melakukan riset sebanyak yang aku inginkan ... Sampai sekarang aku tidak tahu sebetulnya kalau di Tokyo aku sebaiknya menempatkan Itsuki di mana agar biaya sewa apartemen dia tidak mahal-mahal amat, tetapi tidak terlalu jelek juga!

Tapi pacarku kemarin bilang perfeksionismeku ini sebetulnya bikin aku sendiri repot juga, karena aku lebih suka menghabiskan 20 jam untuk sesuatu yang hanya perlu 3 jam, dan? She's got a point. Tadinya aku mau tidak ikut sama sekali aja agar aku tidak perlu mempublikasikan apapun yang di bawah standarku, tapi mungkin sebaiknya aku menjadikan 2022 sebagai tahun aku melawan perfeksionismeku.

Lebih baik selesai daripada sempurna. Toh usernameku "selesai" (ha!)

Karena aku tidak sempat riset macam-macam, sumber inspirasiku banyak yang jadi seolah asal comot/campur aduk karena aku berprinsip "oke yang penting fic ini kelar meski sumber inspirasinya tidak jelas". Beberapa di antaranya:

  • Itsuki berkuliah di Kyutech atau Kyushu Institute of Technology karena salah satu dosen yang aku suka adalah lulusan sana.
  • Aku tidak sempat riset tentang jadwal anak kuliah di Jepang lalu mempadukannya dengan jadwal rookie di NPB, jadi aku menggambarkan seolah Itsuki spontan pergi ke Tokyo meski saat itu secara akademis mungkin bukan waktu yang baik untuk melakukannya. Ini terinspirasi dari beberapa temanku yang sebelum ujian bukannya mengurung diri di kamar atau nongkrong-nongkrong-begadang-nongkrong di kafe seperti kebanyakan mahasiswa yang aku tahu, tetapi malah naik gunung dan camping sambil membawa textbook-textbook kuliah yang berat itu. Capek-capek naik gunung sambil bawa bawaan berat, di atasnya belajar sambil kedinginan ...
  • Alexander Kreyszig adalah dua dari penulis dari textbook yang aku beneran suka, karena materinya menurutku lumayan bagus penyampaiannya sehingga relatif mudah dipahami.
  • Aku pernah menjadi subjek penelitian untuk seru-seruan (dan karena dapat insentif duit).