Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2022-01-30
Words:
661
Chapters:
1/1
Comments:
1
Kudos:
7
Hits:
123

Forelsket

Summary:

Bila hanya ada satu kerucut es krim yang berada di tangan Niccolo, lantas seharusnya Sasha terpaksa menggagalkan ajakannya dan berpikir lagi untuk melakukan permainan lain.

Work Text:

Bisa dikatakan, merupakan sebuah ketidakberuntungan bagi Niccolo yang menjadi pembeli terakhir di sebuah kedai mini yang menjual es krim. Niccolo hanya memperoleh sekerucut es krim, padahal ia hendak membeli dua—satu untuk dirinya sendiri, sedang satu lagi untuk Sasha. Beberapa menit silam, Sasha mengajak Niccolo untuk berlomba menghabiskan es krim. Namun, bila hanya ada satu kerucut es krim yang berada di tangan Niccolo, lantas seharusnya Sasha terpaksa menggagalkan ajakannya dan berpikir lagi untuk melakukan permainan lain.

Seharusnya ... seperti itu, 'kan?

Namun, usai Niccolo memberi tahu bahwa hanya tersisa satu es krim terakhir di kedai, Sasha tak menjawab. Ia meminta Niccolo untuk turut duduk berdampingan di atas hamparan rumput; menghadap genangan danau yang berhiaskan teratai dan eceng gondok.

Ada lengkungan lembayung di ufuk barat. Sebelum mentari beristirahat, maka Sasha manfaatkan binar mentari yang tersisa untuk mengajukan sebuah ide pengganti lomba menghabiskan es krim.

"Bagi dua aja es krimnya," ujar Sasha pelan.
Alis Niccolo mengernyit. "Ini es krim, lho. Bukan roti."

Niccolo mengoyak bungkusan kertas yang terbalut pada es krim tersebut. Ada cokelat pipih bertabur kacang yang terletak di atas krim putih bercampur selai stroberi. Tampak menggiurkan. Kendati begitu, Niccolo berniat menyuruh Sasha untuk menghabiskan semuanya.

"Buat kamu aj—"

"Bagi dua, Kak Nicco!" potong Sasha. "Kakak aja yang makan duluan. Iler Kak Nicco udah mau netes tuh ngeliatin es krimnya."

Niccolo mencibir ringan. "Tumben, biasanya kamu rakus sama makanan."

Bibir Sasha pun mengerucut, ia balas mencibir. "Yeee ... emangnya ngga boleh?" desis Sasha. "Makan duluan, gih! Cepetan, sebelum mataharinya tenggelem, nanti banyak nyamuk!"

Biasanya, Niccolo tahan melihat Sasha makan sendirian walau dirinya tak sedang mengunyah apa pun. Namun, kegiatan hari ini cukup membuatnya penat, ditambah sore itu Sasha mengajak Niccolo mengintari taman umum dengan dalih berkencan. Niccolo tak mampu lagi menahan dahaga, terutama kala telapak tangannya menggenggam sekerucut es krim yang dingin.

Maka, Niccolo segera menggigit sekaligus krim vanila beku serta cokelat batangan yang kini tak lagi utuh bundarannya. Selai stroberi yang turut menyatu pada krim vanila pun menyisakan perisa manis bercampur asam pada indra perasa Niccolo. Dahaganya perlahan ternetralisasi oleh es krim yang beberapa kali melewati kerongkongan.

Mendadak, kedua mata Niccolo terbelalak. Secara tiba-tiba, Sasha menyambar satu gigitan es krim seraya memegangi pergelangan tangan Niccolo erat. Degup jantung Niccolo memacu di atas rata-rata. Bahkan, Niccolo tak mampu mengajukan protes pada sosok Sasha Braus yang menyebabkan seluruh bibirnya celemotan oleh krim vanila.

Aliran darahnya deras tatkala jarak wajah Sasha hanya berkisar lima sentimeter. Sungguh, Niccolo tak mampu berkutik.

"Sha—"

"Aku juga pengen makan, tau," potong Sasha cepat.

"S–sabar, dong—"

"Kak, cokelat batangannya suapin ke mulutku dong," desis Sasha, kemudian sesekali menyesap krim vanila serta selai stroberi yang masih tersisa. "Pake gigi."

Bila gadis itu telah meminta, maka tugas Niccolo adalah mengabulkan. Sebelum binar mentari senja tertutup oleh antariksa yang membiru, permintaan Sasha harus terpenuhi. Kala itu juga, lengan Niccolo mendekap pundak Sasha seraya mengigit sebatang cokelat. Ia biarkan gadisnya menerima satu suapan cokelat dari mulutnya, dengan bonus kecupan manis usai seluruh bagian cokelat masuk ke mulut Sasha.

Kedua tangan Sasha melingkar di bahu Niccolo, kemudian turut membalas lumatan bibir Niccolo yang manis sebab ada sisa krim vanila dan selai stroberi yang menjejak. Sasha mampu merasakan embusan napas hangat, serta saliva Niccolo yang membekas di lidah. Ia tak pernah membayangkan, bahwa bertukar saliva dengan Niccolo ialah suatu hal yang cukup menggairahkan.

Alis Sasha mengernyit tatkala rungunya menangkap dengung nyamuk yang mengganggu. Bola matanya mengerling; mendapati presensi si nyamuk yang hinggap di pelipis Niccolo. Maka Sasha mendadak melayangkan satu pukulan keras hingga kepala Niccolo tertoleh ke kiri—bahkan hampir mencium rumput kalau saja Niccolo tak mempertahankan keseimbangannya.

"SHA! KOK AKU DITOYOR—"

"Ada nyamuk! Udah gelap deh, ayo pulang!"

Sasha mengangsurkan dua lembar tisu, sebelum akhirnya menarik tangan Niccolo untuk segera pergi meninggalkan area taman. Sementara Niccolo tak mampu berkata-kata lagi. Ini kali pertama baginya. Cukup manis dan memabukkan.

Namun, hal itu pun turut membuat Niccolo penasaran, sudah berapa kali Sasha melakukan hal yang sama dengan mantan-mantan kekasihnya?

Yah, biarlah ia bertanya di lain waktu.

 

.

 

.

 

.

 

—FIN.