Work Text:
Sewaktu umurku masih berusia 10 tahun aku bertemu denganmu di taman rumah sakit, kala itu kau nampak bahagia meskipun wajah pucat sedang menghiasi dirimu.
“Halo” kau menyapaku dengan senyuman terbaikmu.
“umm, halo” aku memberanikan diri menjawab sapaanmu, meskipun terdengar canggung oleh orang-orang.
“Kamu anak baru disini ya?” tanyanya seperti senior di rumah sakit ini, dia juga sudah terlihat lama tinggal di rumah sakit jadi aku wajar saja jika dia menanyakanku tentang hal tersebut.
“Iya” jawabku seadanya.
“yeay, aku ada teman main, nama kamu siapa?” ia menanyakan namaku, sepertinya anak ingin menjadikan aku teman bermainnya.
“Iwaizumi”
“Aku Oikawa, salam kenal” ia memberiku salam perkenalan dan aku langsung menerima jabat tanganmu kala itu.
“Aku boleh panggil kamu Iwa chan gak?” jujur saja, ia nampak sangat menyebalkan ketika memberiku nama panggilan yang konyol ini, tetapi karena aku tak tega dengan wajahnya yang sudah banyak menahan rasa sakit akhirnya aku memperbolehkan ia memanggil namaku dengan sebutan “Iwa chan”. Namun percakapan berakhir ketika ada seorang perawat memanggilmu untuk menjalankan pengobatan yang sebentar lagi akan kamu lakukan.
“Aku duluan ya Iwa chan, oh iya kalo kamu mau ke kamar aku boleh aja. nama kamar aku edelweiss nomor 4” teriak Oikawa yang akhirnya pergi bersama perawat tersebut dan meninggalkanku sendirian di taman.
Tak lama Oikawa pergi aku kembali ke ruang kamar inapku yang berada cukup dekat dari taman, begitu sudah sampai aku menatap keluar jendela dan berharap aku bisa cepat keluar dari rumah sakit yang sudah ku tinggali selama 3 hari terakhir. Aku ingin cepat pergi ke sekolah, bermain dengan teman-teman dan menangkap serangga di taman dekat rumahku.
Di malam hari yang bosan, aku diam-diam menuju kamar Oikawa, ketika sudah berada di kamarnya ia menyambutku dengan senyuman antusiasnya.
“Iwa chan” ia berhenti sejenak dari kegiatan menggambarnya untuk menyapaku.
“Aku gak ganggu kamu kan?” tanyaku sedikit berbisik.
“Enggak kok, sini” Oikawa menyuruhku duduk di bangku samping ranjangnya untuk tetap berada di samping dirinya
“Kamu gambar apa?” tanyaku saat itu, karena aku penasaran mengapa ia menggambar seorang anak laki-laki dan bola disampingnya.
“Aku kalo udah gede mau jadi atlet volly” jawabnya seraya menggambar.
Aku menganggukan kepala dan melihat Oikawa menggambar, walaupun gambarnya tidak terlihat bagus tetapi ia menikmatinya. setelah selesai dengan kegiatan menggambarnya aku membantunya mewarnai dengan krayon.
“Iwa chan, baju aku warna biru ya” , biru adalah warna favorit dari seorang Oikawa, sampai sekarang warna itu adalah ciri khas tersendiri bagiku.
“Tooru” seorang wanita masuk ke kamarnya, dia adalah ibu dari Oikawa yang baru saja pulang dari rumah untuk mengambil tas sekolah miliknya, beliau berkata bahwa ia merindukan barang tersebut karena sudah lama sekali tak pergi ke sekolah.
“Tas aku” ucapnya saat melihat tas gendong berwarna hitam pekat, Oikawa nampak terlihat senang melihat barang yang sekian lama ia tinggalkan.
“Teman kamu ya?” orang tua Oikawa melihat ke arahku begitu sadar ada seseorang yang menemani anaknya di ranjang dan ikut mewarnai bersama dirinya.
“Iya ma, namanya Iwa chan” ibunya tersenyum ke arahku dan mengusap kepalaku lembut, beliau menanyakanku dimana aku dirawat dan mengapa aku bisa berada disini pada malam hari. tetapi tak lama kemudian orang tua ku datang dengan wajah yang khawatir karena terus terusan mencariku.
Orang tua Oikawa sangat ramah kepadaku ibuku dan menjelaskan secara detail bahwa aku menemani anaknya agar ia tak kesepian, setelah itu aku dan ibuku meninggalkan Oikawa di kamarnya
“Iwa chan besok ke taman yuk”
Aku menyetujui permintaannya untuk bermain di taman rumah sakit, lagi pula aku bosan jika terus-terusan berdiam diri di kamar. tidak ada yang menemani, hanya melakukan kegiatan secara berulang kali dan lebih parahnya tidak bisa menangkap serangga.
Angin bertiup lumayan kencang pagi ini, aku mengenakan jacket agar tidak merasakan dinginnya udara yang akan menusuk ke tulangku. begitu aku keluar dari kamar inapku aku melihat Oikawa yang berjalan dibantu dengan kursi roda dan lengkap dengan selang oksigen yang ada di hidungya. aku heran mengapa Oikawa mengenakan alat medis tersebut padahal kemarin malam aku melihat ia tanpa alat bantu apapun.
Aku memanggil Oikawa yang sedang di dorong oleh ibunya, “Oikawa” ujarku terhadapnya, orang yang mempunyai nama itu matanya menuju ke arahku dengan berbinar. “Iwa chan” jawabnya dengan ceria.
Begitu sampai di taman aku dan Oikawa bermain melempar tangkap bola, walaupun waktu itu keadaannya bertambah buruk tetapi sakit tidak menjadi halangan bagi Oikawa untuk melakukan hal yang ia suka. semangatnya selalu menjadi inspirasiku sampai sekarang walaupun dirinya sudah tidak ada lagi di sisiku.
“Nanti kalo aku udah dewasa, aku mau jadi atlet volly” ucapnya berulang kali, aku mengiyakan mimpinya tersebut dan berdoa agar kelak Oikawa dapat sembuh sehingga dia bisa keluar dari rumah sakit yang sudah ia tinggali berbulan-bulan dan melanjutkan latihannya yang tertunda. waktu itu aku berpikir aku rela menemaninya latihan agar ia bisa mewujudkan cita-citanya.
Sudah 1 minggu aku menetap di rumah sakit ini, sekarang aku sudah sembuh dan dokter yang merawatku memperbolehkan aku untuk pulang. meskipun begitu keadaan Oikawa bertambah buruk karena penyakit yang di deritanya terus mengerogoti dirinya hingga ia tak berdaya. aku melihat dirinya sudah dipenuhi dengan alat bantu penopang hidup dengan keadaan yang tidak sadarkan diri, biasanya ia akan tersenyum sumrigah kepadaku ketika aku melewati kamarnya tetapi kali ini tidak aku harus melihatnya terbaring lemah di ranjang yang sedang dia tiduri.
Tanpa sadar air mataku terjatuh karena melihat Oikawa dengan kondisi yang mengenaskan, aku ingin berlatih bermain volly dengannya bukan melihat ia terbaring di tempat tidur dengan keadaan koma. Ibuku yang melihat aku sedih buru-buru langsung mengusap air mataku.
“Ma, Oikawa bakal sembuh kan?” aku bertanya kepada ibuku.
“Kita berdoa ya biar Oikawa cepat sembuh” ibuku mengusap kepalaku dan setelah itu aku pergi ke rumah untuk pulang dan istirahat.
Kali ini setiap pulang sekolah aku selalu mampir ke ruang rawat inap Oikawa bersama ibuku, untungnya ibuku menyetujui permintaanku untuk menemui dirinya tetapi dengan syarat jika beliau mempunyai waktu senggang.
Orang tua Oikawa selalu berkata bahwa suatu saat nanti putra kesayangannya itu akan bangun dari tidurnya yang panjang dan bermain bersamaku, keajaiban terjadi hari ini. Oikawa bangun dari komanya dan saat melihatku mulutnya menampakkan senyum yang biasa ia berikan kepadaku.
“Iwa chan” ucapnya lemah, aku cukup senang karena kata pertama yang di keluarkan setelah ia sadar adalah aku. begitu ia sudah sadar sepenuhnya Oikawa berkata kepadaku bahwa ia ingin segera pergi ke lapangan dan bermain bersamaku. aku pun juga berjanji kepada dirinya untuk membawakan kumbang terbaik yang akan aku tangkap, Oikawa dan aku menautkan jari kelingking masing-masing untuk memenuhi janji satu sama lain begitu dirinya sudah keluar dari rumah sakit dan sembuh.
Tetapi takdir berkata lain, sekarang Oikawa sudah berada di pangkuan tuhan dan tidak merasakan sakit yang selama ini di deritanya. sebelum ia meninggalkanku untuk selamanya aku sempat memberikan kumbang yang sebelumnya aku janjikan, mengenai hal itu Oikawa yang memintanya karena ia sadar waktunya tak akan lama lagi. kala itu aku menangis di pemakamannya, aku masih merasa tak rela dengan fakta Oikawa yang sudah tidak ada untuk menemani hari-hariku.
Semua orang sudah meninggalkan makam termasuk juga denganku, disitu orang tua Oikawa memberikan barang peninggalannya seperti bola dan buku gambar. selama dalam perjalanan pulang aku membuka lembar demi lembar buku gambar miliknya, disitu ada gambarku sedang bermain dengannya dan bahkan dia juga menggambar diriku tak lupa dibawahnya ia menuliskan “Thank you for saving me” dan saat sampai di rumah aku menempelkan gambarnya di dinding kamarku untuk selamanya.
Present day
“Good Job” ucap teman sejawatku begitu sudah menyelesaikan pekerjaan kami masing-masing, kini aku menjadi dokter di rumah sakit yang dulu menjadi tempat peristirahatan terakhir Oikawa.
Ketika aku pulang bekerja aku melihat dua orang anak kecil persis sepertiku dan Oikawa dulu bermain bola volly bersama, aku tersenyum kecil melihat hal itu.
Sampai sekarang aku tidak bisa melupakan kenangan bersamanya.
