Actions

Work Header

Geregetan

Summary:

Atsumu sudah ingin berdamai dengan masa lalunya. Tapi bagaimana jika semesta justru beri ia kejutan berupa sang mantan gebetan yang bikin geregetan?

Notes:

(See the end of the work for notes.)

Work Text:

Ada yang berbeda dengan suasana di Kitsune Bar and Bistro malam itu. Mungkin butuh beberapa saat untuk menyadarinya, namun cukup jelas bahwa siapapun yang hadir di sana menggunakan kostum bernuansa monokrom, yang dominan dengan warna hitam atau putih. Kecuali staff yang tengah bertugas dan beberapa orang yang sepertinya tidak sengaja hadir di bar saat itu. Salah satunya pria berambut hitam abu yang tengah duduk sendiri di pojok kanan counter. Tetapi, bukannya ia tidak tahu sedang ada acara apa malam itu, melainkan dirinya yang tak kunjung dapat menentukan antara hitam atau putih, sehingga berakhir pada celana chino cokelat dan jas berwarna abu—satu tone lebih gelap dari warna rambutnya.

Bokuto, pria  berumur 33 tahun yang seringnya menjadi pusat perhatian, terlihat sedikit berbeda dari biasanya. Ia memilih untuk bergeming di posisinya, meskipun acara Matchmaking Night itu justru menjadikan bersosialisasi—yang merupakan keahliannya—sebagai senjata utama. Pun begitu, Bokuto tak hentinya menolehkan kepala tiap ada beberapa orang baru yang memasuki ruangan. Wajar saja, ada sesuatu yang ia tuju—yang ia tunggu kehadirannya. Namun di saat yang bersamaan, Bokuto masih tidak yakin apakah ia melakukan hal yang tepat.

Pasalnya, munafik baginya, apabila mengaku ia tidak merasa bersalah atas masa lalunya.

Seseorang yang berwajah sangat familiar tiba-tiba saja muncul dari balik pintu staff. Bokuto yang tidak siap hati hampir memuntahkan kembali bir-nya, apabila tidak cepat-cepat sadar kalau yang ia lihat bukanlah yang sedang ia nanti, melainkan kembarannya. Bokuto cepat-cepat memalingkan wajah, berharap ia tak menyadari kehadiran Bokuto. Beruntung, sang kembaran dengan segera dikerumuni beberapa staff—yang samar-samar terdengar bahwa mereka tidak menyangka ia akan datang malam itu.

“Kak Bokuto?” Bokuto hampir kembali memuntahkan isi perutnya untuk yang kedua kalinya. Ia cepat-cepat menoleh pada seseorang yang menyapanya dari sebelah kirinya itu.

“Oh—Akaashi!” ucap Bokuto lega, mengenali seseorang itu walau tanpa kacamatanya.

“Sorry telat, gue masih ngurusin printilan acara tadi,” ucap Akaashi buru-buru mengisi kursi di samping Bokuto. “Gila, baru juga sebentar udah mau abis aja segelas.”

Bokuto terkekeh, “Iya nih, nggak sadar mau udah habis aja.”

“Bilang aja gugup kak,” sahut Akaashi tanpa ampun.

“Dia beneran bakal datang?”

“Iya, dua ratus persen yakin, udah pake informasi orang dalem nih soalnya.”

“Kalau orangnya kabur pas liat gue gimana, dong?”

“Ya itu udah di luar kesanggupan gue, kak. Lo yang mutusin, mau ngejar dia atau ngebiarin aja,” ucap Akaashi sekenanya. “Sekali lagi gue ingetin, yang manapun pilihan lo, kak, yang penting jangan nyesel aja.”

Bokuto meringis mendengar ucapan Akaashi yang sedikit banyak terasa mencubit. Bokuto menopang dagunya, kembali menimbang-nimbang apa  yang ia lakukan apabila itu benar terjadi. Bokuto mencoba menarik napas panjang beberapa kali. Namun tiap tarikan napas justru menaikkan rasa cemas dan tidak nyamannya. Bahkan bunyi dentum musik yang ada di udara sama sekali tidak dapat mengalihkan perhatiannya.

Bokuto lalu menggoyangkan gelas yang ada dalam genggaman sebelum membawa gelasnya mendekat, dan menenggak minumannya hingga tetes terakhir. Tepat pada saat gelas meninggalkan bibirnya, ada sebuah riuh rendah menyambut seseorang yang baru saja memasuki ruangan itu. Saat Bokuto akan memutar kepalanya mencari sumber keramaian, telinganya menangkap suara seseorang yang sukses membuat pupilnya berdilatasi.

Bokuto menoleh, melempar pandangan penuh arti ke arah sahabat karibnya itu. Akaashi mengangguk, membenarkan dugaan Bokuto. Akaashi kemudian beranjak dan meremas bahu yang lebih tua sembari berkata, “Good luck ya kak? Gue tau lo nggak bakal ngilang buat kedua kalinya.”

Bokuto menggigit bibirnya. Menghembus napasnya dengan keras sebelum melempar senyum tidak yakin.

“Udah pokoknya nggak usah mikir lama-lama, ntar keburu dia dicaplok orang, loh,”Akaashi lalu mengedikkan dagunya. “Liat aja tuh, yang pake baju hitam langsung pada ngeliatin dia semua,”

Dan benar saja  yang dikatakan Akaashi, hampir setengah dari jumlah orang yang memakai baju hitam menatap lekat sang pria blond dalam balutan kaos lengan panjang berwarna hitam yang dipadu padankan dengan celana ankle cut berwarna beige. Bokuto hanya bisa meringis.

“Udah ah, Gue kesana dulu ya kak, ntar kalo mau gabung, langsung aja ya,” ucap Akaashi, menunjuk salah satu meja yang memang diperuntukkan sebagai ‘lokasi utama’ malam itu. Bokuto mengerti bahwa Akaashi melakukan itu untuk memberinya ruang sebelum melancarkan rencananya.

“Iyaa, udah sana, good luck juga buat lo, ya.”

Tepat setelah Akaashi meninggalkan kursinya, Bokuto memberanikan diri memutar kepalanya. Perlahan tapi pasti, ia menemukan seseorang yang ia nanti tengah berjalan mendekat. Bokuto buru-buru memalingkan wajahnya, sebisa mungkin menyembunyikan wajahnya. Sayangnya, usahanya tidak akan membantu banyak. Karena pria berambut blond yang menguras seluruh antisipasinya malam itu kini berada di serong kiri belakang tempat ia duduk—ke meja dimana kembarannya tengah sibuk dengan iPad-nya.

Pria itu masih tampan. Bahkan jauh lebih memesona dari yang terakhir kali ia ingat. Dan kapanpun si tampan memutar kepalanya, Bokuto tahu mereka akan bertemu mata.

Tapi apa yang akan terjadi ketika itu? Bokuto sungguh ingin tahu.

***

“Kok ada lo, sih?!”

Osamu yang tengah sibuk dengan detail bangunan calon tempat usaha barunya akan buka, hanya memberikan tatapan singkat kepada orang yang memiliki wajah persis sama dengannya itu sebelum kembali ke layar iPad-nya. “Harusnya malah gue, nggak, sih? Yang bilang gitu?”

Atsumu mendecak kesal melihat sikap yang diberikan Osamu padanya, akhirnya ia menghenyakkan diri disebelahnya. “Serius nih, kan lo udah jarang banget nengokin yang ini,”

“Iya tadi pas kepengen mampir, mau liat juga gimana sih acaranya,”

“Mau liat acaranya tapi lo ujung-ujungnya ngecekin kerjaan tuh gimana?”

Osamu tertawa kecil, “enggak, ini pas dapat email revisi dari arsiteknya, gue iseng liat doang kok, ya kali ngurusin ginian di sini.”

Atsumu mencibir saja. “Kan gue niatnya mau bikin heboh acara ini malam ini, tapi malah ada elu,”

“Lah? Ya udah anggap aja gue nggak di sini?” sahut Osamu yang tidak mengerti apa yang dikeluhkan kembarannya itu. “Lagian nggak ada yang baru dari lo jadi banci tampil, ya,”

Atsumu memasang wajah masam. “Nggak ah, ntar lo cepu ke mama, gue yang dicengcengin sampe sepuluh tahun ke depan,”

Osamu mendengus tertawa mendengar protes kembarannya. Ia kemudian mematikan layar iPad-nya dan memasukkan ke tasnya sebelum bersandar nyaman di kursinya. “Udah nemu yang cocok, nggak?”

Atsumu mengedikkan bahunya. “Banyak anak-anak nih, nggak dulu deh gue kalau sama bocah, gue kan maunya  yang—eh anjing.”

Osamu melihat ke arah Atsumu dengan alis bertaut, bingung dengan perubahan nada yang tiba-tiba itu. Sedangkan Atsumu sudah duduk tegang dengan pandangan fokus pada satu titik.

“Sam, itu serong kanan, yang dipojokan, lo familiar nggak sih?”

Osamu mengikuti arah pandangan Atsumu. “Oh, iya, gue liat dia pas masuk tadi, tapi gue nggak yakin itu dia apa bukan, jadi gue diem aja.”

Ah, anjing,” Atsumu menyumpah serapah tertahan. “Gue—ah sial—kenapa malam ini sih—ah anjing—”

“Gue kira lo bilang lo udah biasa aja,” ucap Osamu dengan nada datar.

“Ya iya, tapi kalau gue tiba-tiba ngeliat gini juga gue nggak siap mental,” sahut Atsumu setengah kesal. “Gue kan mau seneng-seneng kesini, kenapa malah gini, sih.”

Atsumu tidak berbohong ketika ia bilang ia sudah baik-baik saja atas apapun yang terjadi—ataupun  yang tidak terjadi—di masa lampau. Tapi ia berbohong jika bilang melihat seseorang itu secara langsung untuk pertama kalinya sejak kejadian itu tidak membuat perutnya merasakan sensasi aneh.

Tidak, ini bukan sensasi yang sama dengan sensasi kupu-kupu terbang yang pernah ia rasakan dulu. Bukan juga perasaan mendidih yang membuatnya ingin angkat kaki dari ruangan itu. Karena jika benar, maka ia tidak akan berlama-lama menatap ke arahnya seperti ini.

“Ditatap terus, ntar tau-tau udah pagi aja.” Celetuk Osamu.

“Nggak, gue mastiin aja ini, kali aja salah orang, kan bisa aja—anjing—”

Atsumu buru-buru membuang muka. Pasalnya ia tidak menyangka akan bertemu mata dengan objek observasinya malam itu. Atsumu benar-benar berharap kalau sepersekian detik itu tidak akan mengarah kepada apapun.

Kecuali, Osamu tidak lama berkata, “Doi bangkit tuh,”

“Sialan, nggak usah diliatin,” ucap Atsumu sembari menatap lekat ke arah kembarannya.

“Lah enggak, keliatan tuh dia ke arah sini,”

Atsumu memejamkan matanya, berharap waktu menjadi lebih lambat. Sayangnya tak butuh waktu lama sampai suara asing namun familiar menyapanya.

“Atsumu?”

Atsumu otomatis membuka matanya, menoleh ke arah lelaki berambut abu yang kini hanya berada di seberang meja, sebelum tersenyum lebar dan berkata, “Ya ampun, Kou? Apa kabar?”

“Hey, untung masih inget gue,” Bokuto tertawa canggung sebelum menatap ke arah Osamu. “Umm, Osamu, ini Atsumu boleh gue pinjem nggak? Ada yang mau gue omongin,”

Atsumu cepat-cepat menatap penuh harap ke arah Osamu—agar ia menyelamatkannya.

“Oh, ya silakan aja,”

Atsumu melotot dan sebisa mungkin menahan untuk tidak mengeluarkan sumpah serapah saat itu juga. Osamu kemudian mendekatkan wajahnya ke telinga Atsumu sebelum berbisik, “Mending lo selesaiin yang belum selesai, deh,”

“Sialan lo,” desis Atsumu, lalu cepat cepat memutar kepalanya. “Lanjut aja, di sini aja nggak apa-apa, kan?”

Bokuto terlihat terkejut, ia menoleh ke sekitar, sebelum menarik kursi dengan ragu-ragu. “O-oh, ya udah, gue duduk sini—”

Tepat pada saat Bokuto angkat bicara, Yamaguchi, DJ yang malam itu bertugas menemani para tamu yang tengah mencari tambatan hati, memulai ritualnya dengan mengajak kerumunan berinteraksi.

“Sorry, kayaknya mending jangan ngobrol di sini, deh,” ucap Bokuto setengah berteriak, agar suaranya tidak teredam.

Belum sempat Atsumu menjawab, Osamu dengan cepat menjawab, “Iya, mending lo berdua ngobrol di luar sekalian, deh,”

Ia sukses membuat Atsumu menyumpah serapah tanpa suara, sebelum akhirnya bangkit meninggalkannya.

***

Tidak butuh waktu lama untuk mereka sampai di luar bar. Dentum musik masih terdengar, namun hanya samar-samar.

“Sorry ya, daripada nggak dengar apa-apa di dalam.” ucap Bokuto memecah keheningan.

Atsumu hanya mengangguk saja. Bokuto kemudian memijat tengkuknya, mencoba rileks dan mengurangi canggungnya. Untungnya, tidak hanya ia yang merasa begitu. Keduanya kemudian menghenyakkan diri, bersandar ke dinding dingin di belakang mereka.

Atsumu merogoh kantung jaketnya, dan mengeluarkan sekotak rokok dan pemantiknya. Tak butuh waktu lama untuk ia menyelipkan sebatang di ujung bibirnya, menyalakan pemantik api, dan menyesap panjang sebelum menghembuskan kepulan asap di udara.

Atsumu kemudian menyodorkan koreknya. “Hmm?”

Bokuto menggeleng. “Enggak, gue udah berhenti dari tahun lalu.”

Atsumu mengangkat alisnya, terlihat terkejut. Batang rokoknya berhenti di udara. “Oh… berhenti toh… nggak nyangka gue lo bisa berhenti.”

“Hahaha, iya ya? Gue juga sempet nggak yakin bisa berhenti,”

Atsumu kembali menyesap panjang rokoknya, kemudian mendekati wajah Bokuto, dan dengan sengaja menghembuskan asapnya di wajah yang lebih tua. Keduanya kemudian tertawa kecil.

“Sejak kapan ganti Lucky Strike? Perasaan dulu demennya yang menthol aja,”

Atsumu tidak langsung menjawab. Ia kembali bersandar sebelum menyesap panjang batang rokoknya, menghembus kepulan asap tebal sembari menatap entah apa di sepatunya, sampai akhirnya berkata lambat-lambat, “menurut lo, sejak kapan?”

Perasaan tidak menyenangkan kembali menyelimuti Bokuto. Ia paham betul kemana arah pembicaraan ini. Bokuto kemudian menimbang-nimbang kembali apa yang harus ia katakan. Tentang hal-hal yang sejak kemarin menguras pikirannya.

Tentang masa lalunya yang belum selesai dengan Miya Atsumu.

“Gimana Bangkok?” Atsumu kembali angkat bicara, memecah keheningan semu di antara mereka berdua.

“Bising.” Jawab Bokuto setelah beberapa saat terdiam. “Rasanya familiar, tapi tetap aja asing.”

Atsumu hanya menanggapi dengan gumaman tidak jelas. Hening yang tidak nyaman kembali hadir di antara keduanya. Bokuto mengutuk dirinya, karena seharusnya ia bisa lebih baik dari ini. Tapi apa yang sudah ia rencanakan sejak kemarin terasa tidak banyak membantu.

“Kita… udah dua tahun ya? Sejak terakhir kali ketemu?”

“Dua tahun delapan bulan. Hampir tiga tahun.” Jawab Atsumu sembari menatap orang-orang yang berlalu lalang.

“Tsum,”

“Hmm?”

Bokuto menarik napas panjang. “Gue… minta maaf ya.”

Atsumu bergeming. Tapi Bokuto menyadari rahang Atsumu yang menegang.

“Gue tahu ini udah terlambat banget,” ucap Bokuto lirih. “Tapi gue bener-bener minta maaf, karena gue langsung ngilang gitu aja waktu itu.”

Atsumu menyesap rokoknya untuk terakhir kalinya, sebelum menjatuhkannya dan menginjaknya. Ia menghembuskan kepulan asap dengan keras sebelum berkata, “ah udahlah, udah masa lalu ini.”

Bokuto merasakan jantungnya mencelos. Ini sama sekali tidak seperti yang ia duga. Ia mengira Atsumu akan mencaci makinya, apabila tidak menendang tulang keringnya, akibat apa yang pernah—atau tidak pernah ia lakukan.

Atsumu kemudian menegakkan badannya. “Udah kan? Kalau udah gue masuk lagi nih—”

“B-bentar, bentar!” ucap Bokuto setengah panik. Tangannya meraih pergelangan tangan kiri Atsumu. Beberapa pejalan kaki yang melewati mereka menatap aneh karena Bokuto yang setengah berteriak sebelumnya. “Kita… kesana sebentar gimana? Biar ga terlalu keliatan sama yang lagi lewat,”

“Harus banget?” ucap Atsumu dengan nada enggan dan alis bertaut.

Bokuto seketika merasa tidak enak hati dengan alasan yang berbeda, ia melepaskan genggamannya. “Maaf, kalau lo keberatan, nggak usah juga nggak apa-apa, kok,”

Atsumu terlihat menimbang-nimbang, lalu berkata, “oke, lo punya lima belas menit,”

Bokuto menghela napas lega. Atsumu kemudian berjalan mendahuluinya ke arah parkiran yang ditunjuk oleh Bokuto sebelumnya. Keduanya kemudian berhenti di sebuah spot parkir yang belum terisi, dan terhalang dari kebanyakan orang.

Atsumu lalu bersandar ke mobil sedan putih, tidak menatap ke arah Bokuto, tidak pula mengatakan apapun. Ia seolah sengaja menjebak  yang lebih tua dengan keadaan yang sangat canggung itu.

“Kayaknya, lo nggak ngarep ketemu gue ya malem ini?”

“Hah? Enggak, lebih ke kaget aja, kan udah lama nggak ketemu ini. “ jawab Atsumu sekenanya. “Lo apaan sih, serius amat. Kalau masih mau ngomongin yang tadi, lupain aja, kan gue udah bilang, udah masa lalu ini, nggak usah dibahas lagi, lah,”

Bokuto menelan ludahnya. Ia tidak dapat mengabaikan rasa sangat tidak nyaman yang kini mencapai puncaknya.

“Udah nih? Kalau udah gue mau balik nih,” ucap Atsumu ringan, ia bahkan tidak menunggu jawaban Bokuto sebelum membalikkan badannya dan melangkah menjauh.

“Lo beneran udah maafin dan lupain segalanya, Tsum?” tanya Bokuto, ia tidak dapat menyembunyikan nada getir dibalik suaranya.

Rupanya ucapannya berhasil menghentikan langkah Atsumu. Namun ia hanya mengangguk tanpa menatap Bokuto, tanpa mengatakan apapun.

Tetapi entah ada dorongan apa, Bokuto buru-buru mendekati Atsumu. Yang disambut dengan Atsumu membuang mukanya—seolah menolak menatap yang berambut abu. “Sorry, Tsum, tapi gue nggak percaya,”

Atsumu menegangkan rahangnya sebelum berkata pelan, “mau lo apa, sih?”

“Gue… boleh balik ke kehidupan lo, Tsum?”

Atsumu menatap Bokuto untuk pertama kalinya malam itu. wajahnya dipenuhi dengan ekspresi tidak percaya. “Lo tuh, brengsek, ya.”

“Atsumu—”

“Udah deh, gue ke sini bukan mau pusing, sorry malah jadi kemana-mana gini omongannya. Gue mau masuk lagi.”

Bokuto reflek menghalau Atsumu. “Tsum, please denger gue dulu,”

“Lo jahat banget, Kou.”

“Gue paham kalau lo marah—”

“Nggak,” potong Atsumu cepat. “Lo nggak paham yang gue rasain, Kou.”

Bokuto menggigit bibirnya. Atsumu benar, ia mungkin tidak tahu apa yang Atsumu rasakan. Bokuto perlahan meraih kedua tangan Atsumu.

“Ah! Anjing!” teriak Atsumu, mengejutkan beberapa orang yang kebetulan lewat. “Anjbangsat! Bangsat lo Bokuto Koutaro! Mudahan ban mobil lo selalu kena tai anjing!”

“Lo ngilang tiga tahun lalu, bangsat, lo ngilang gitu aja, dan sekarang apa tadi? Lo mau balik ke kehidupan gue? Biar apa, Kou? Biar lo bisa ninggalin gue lagi?”

“Tsum—" Bokuto susah payah menahan tangan Atsumu yang tengah berusaha lepas dari genggamannya.

“Gue nggak tahu rasanya dibuat nyaman sama orang lain sebelum lo, Kou.” Potong Atsumu cepat. “Dan lo juga yang berhasil bikin gue miserable. Bikin gue nggak tahu harus apa, karena gue ngira kita udah tinggal satu langkah lagi, tapi lo ngilang gitu aja kayak ditelan bumi.

“Harus gue apain, Kou? Perasaan gue yang berbulan-bulan kayak orang goblok itu? Tapi lo baik-baik aja dengan kehidupan baru lo di Bangkok?

“Sedangkan gue? Gue jadi parno liat mobil yang mirip mobil lo, gue benci banget bau parfum lo, gue bahkan harus ngehindarin resto kesukaan lo tiap kali gue nge-date sama orang lain.”

Bokuto terkesiap, melihat Atsumu yang akhirnya meledak. Bokuto baru akan angkat bicara ketika Atsumu kembali memekik dalam satu tarikan napas, “Kou sialaaaaaan! Playboy! Sok ganteng! Nggak punya hati! Pemberi harapan palsu! Dasar lo tukang ghosting!”

Atsumu terengah-engah, ia merasakan wajahnya memanas, dan merasakan pelupuk matanya penuh. Tapi mati-matian ia menggigit bibirnya agar air matanya tidak tumpah.

Bokuto merasakan napasnya tercekat, pemandangan ini jauh lebih buruk daripada yang ia kira. Tiba-tiba saja ia merasakan air matanya menetes. Sebelum Atsumu sempat bereaksi, Bokuto sudah membawanya ke dalam pelukan erat.

“Maaf banget Tsum, m-maaf banget gue pernah bikin lo ngerasain itu.” ucap Bokuto, suaranya bergetar. “Gue brengsek banget, dan gue nggak punya alasan buat itu, gue bener-bener minta maaf,”

Atsumu terdiam beberapa saat, sampai akhirnya mendorong Bokuto, memaksanya untuk melepaskan pelukannya. “Gue yang harusnya nangis, bangsat.”

Bokuto buru-buru menghapus jejak air matanya. “Sorry, gue juga—ah—sorry,”

Atsumu menatap Bokuto dengan alis bertaut. “Gue nggak ngerti lo.”

“Gue juga.” sahut Bokuto cepat. “Yang gue tahu gue brengsek. Tapi kayaknya gue ternyata jauh lebih brengsek daripada yang gue pikirin.”

Atsumu hanya diam saja.

“Maaf, gue sombong banget udah datang malam ini, segala bilang gue pengen balik ke kehidupan lo,”

Atsumu masih tetap bergeming.

“Lo berhak tetap marah sama gue, maaf gue naif banget malam ini,” ucap Bokuto lambat-lambat, lalu mengalihkan pandangannya ke arah sepatunya. “Mungkin lo bener, mungkin itu udah jadi masa lalu kita aja.”

Atsumu mengepalkan tangannya, namun masih belum bicara sepatah kata pun.

“Udah, gue… kayaknya lo udah nggak mau lama-lama lihat gue, jadi gue, umm, makasih udah dengerin gue, Tsum, dan maaf, soal segalanya.”

Bokuto akhirnya kembali menatap Atsumu, memaksa dirinya tersenyum. “Gue pergi dulu,”

Bokuto memijit tengkuknya, lalu membalik badannya dan berjalan pelan-pelan menjauhi Atsumu.

“Lo bisa janji, nggak? Buat nggak nyakitin gue lagi?”

Mata Bokuto berdilatasi mendengar kalimat yang diucapkan Atsumu dengan suara serak itu. Ia berbalik badan secepat kilat. “M-maksud lo, Tsum?”

Atsumu membuka dan menutup mulutnya tanpa suara beberapa kali, sampai ia berjongkok dengan cepat, mengubur wajahnya di antara lututnya, sebelum melepaskan erangan panjang. “Ugh sialaaaaaan!”

Bokuto buru-buru mendekat dan ikut berjongkok di hadapan Atsumu. “Tsu—”

“Gue benci banget sama lo, Kou,”

Bokuto terlalu bingung untuk menanggapi Atsumu.

“Dan gue lebih benci karena pas liat lo malam ini, tetep aja gue pengen cium lo…”

Butuh beberapa saat bagi Bokuto untuk mencerna kalimat yang baru saja ia dengar. “Hah?”

“Aaaaaah bajingaaaaan, kenapa sih gue tolol?” ucap Atsumu, yang sepenuhnya untuk dirinya  sendiri. “Dan kenapa juga ada lo malem ini, sih? Lo kalau mau ngilang tuh sekalian, jangan mainin hati orang begini, bangsaaaat!”

Mata Bokuto membulat, akhirnya paham kemana arah pembicaraan ini. Sebelum ia sadar, Bokuto sudah berlutut dan membawa Atsumu yang hampir terjatuh ke dalam pelukan. “Tsum, gue janji nggak bakal nyakitin lo lagi,”

Atsumu memperbaiki posisinya yang canggung. Tapi kali ini ia tidak mendorong Bokuto untuk melepaskan pelukannya.

“Awas aja kalau lo berani ngulangin hal  yang sama,”

“Iya, nggak bakalan, gue janji,”

“Gue belum sepenuhnya maafin lo.”

“Iya, maaf,”

“Bacot, udahan maafnya,”

“Iya, maaf.”

***

“Loh? Gue nggak pesen ini?” ucap Osamu ketika salah satu staffnya meletakkan piring berisi Kipfilet salad.

“Oh, ini tadi Kak Atsumu yang minta buat dia tapi kayaknya lagi keluar,” ucap sang pelayan.

“Oh, punya dia,” Osamu kemudian mendengus tertawa. “Ya udah buat gue aja, anaknya nggak bakal balik lagi, kok.”

 

-fin

Notes:

Hi, this is Ellian!
Makasih banyak udah baca sampai akhir :D
Gimana? Kurang panjang? Atau kurang hot?

kalau itu sih, sampai bertemu di lanjutannya, ya :D