Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2022-02-26
Words:
1,863
Chapters:
1/1
Kudos:
17
Bookmarks:
1
Hits:
134

Pillow Talk

Summary:

“Kamu pacaran sama Oikawa Tooru???”

“Gak pacaran!” Seru Kuroo frustasi, namun juga ingin tertawa karena kalimat barusan terdengar sangat bodoh di telinganya. “Kita tuh cuma kaya... main-main aja gitu lho. Gak serius.”

Notes:

Cuma ingin domestik sakuroo ngobrol-ngobrol aja.

Work Text:


“Kamu pacaran sama Oikawa Tooru???”

“Gak pacaran!” Seru Kuroo frustasi, namun juga ingin tertawa karena kalimat barusan terdengar sangat bodoh di telinganya. “Kita tuh cuma kaya... main-main aja gitu lho. Gak serius.”

“Kapan? Kelas berapa?” Tanya Sakusa sembari memainkan jarinya pada rambut Kuroo yang membaringkan kepala di dadanya. Lelaki yang lebih tua mengidikan bahu.

“Waktu kelas satu? Tapi gak pacaran, Mi. Cuma ciuman doang ya abis itu gak ada lanjutannya aja.” Kuroo memutar bola matanya jengkel sembari menggertakkan giginya saat mendengar Sakusa terkekeh. “Kita masih bocah dan eksperimental. Kaya macam gay awakening gitu lho, ah. Kamu janji gaakan ketawa!” Ujar Kuroo kesal sambil terbangun, menatap Sakusa dan mencubit pinggangnya kecil.

“Iya, iya, maaf. Terus? Kenapa gak pacaran aja?” Tanya Sakusa mengangkat tangannya sambil mengelus rambut Kuroo pelan saat Kuroo kembali menyandarkan kepalanya lagi.

“Gak aja. Pertama mungkin karena kita juga gak gitu serius, kedua jarak juga bikin males. Kan aku bilang pas kelas satu, masih bocah aja mikirnya...” jelas Kuroo yang disambut dengan deheman paham.

“Terus pas sama Bokuto tuh—eh Oikawa duluan apa Bokuto, sih?” Tanya Sakusa lagi.

“Oikawa kan gak pacaran!” Koreksi Kuroo.

Sakusa berseringai usil. “Berati Bokuto tuh pacar pertama?”

“Iya bisa dibilang gitu kali ya.” Jawaban Kuroo mengundang alis berkerut di wajah Sakusa. “Aku sama Bo gak ada kata pacaran, tapi kita emang ada hubungan aja.”

“Jadi fwb gitu?” Kuroo menerawang saat Sakusa menyebutkan kata itu.

“Gak bisa dibilang fwb juga sih. Bo penasaran aja sama hal-hal seksual dan aku juga gak keberatan ngasih tau. Tapi kita gak pake label pacaran atau fwb, cuma kita saling suka dan kita tau masing-masing saling nyaman.”

Wajah Sakusa mengeras, dia tak berkata apapun sampai tangannya berhenti mengelus rambut Kuroo. Si mata emas tentu menyadari perubahan aura Sakusa yang tiba-tiba terdiam.

“Mau berhenti aja gak?” Kuroo bangkit dari posisinya yang tadinya berbaring di dalam pelukan Sakusa, sekarang melepas diri dan terduduk sembari memainkan jarinya satu sama lain dengan rasa gugup yang mulai datang. Sakusa yang menoleh ke arah Kuroo dan melihat wajah cantik itu mulai muram, mengambil tangan Kuroo dan menautkan jari-jari mereka berdua sebelum membawa mereka ke bibirnya untuk dikecup lembut.

“Padahal aku udah tau ceritanya, tapi kalo denger langsung dari kamu gini ternyata bikin kesel juga.” Ujar Sakusa jujur. Kuroo yang masih agak resah meraih selimut untuk menutupi badannya yang hanya berbekal boxer hitam, namun masih mempertahankan posisi duduknya sambil menunduk dan membuat Sakusa ingin segera menyelesaikan pembicaraan ini.

“Sama Bo gak lama kok. Setelah kita berdua lepas jabatan kapten, aku sibuk ngurusin untuk kuliah dan gak ketemu Bo lagi. Kita ketemu lagi waktu dia bilang mau pergi ke Osaka. Jadi ya, balik lagi kaya temenan aja.”

Sakusa mengangguk mengerti, toh dia memang tahu bahwa Bokuto hampir belum pernah bertemu Kuroo selama trainingnya dengan MSBY di Osaka, dan juga karena Kuroo sibuk dengan kuliahnya. Baru semenjak Kuroo lulus dan bekerja untuk JVA mereka jadi sering bertemu kembali. Dan itupun dengan seluruh sejarah mereka seperti terlupa dan bahkan dianggap tak pernah terjadi.

“Bisa ya kalian balik jadi temen lagi setelah punya sejarah kaya gitu.” Komentar Sakusa dengan senyuman kecil. “Aku sampe kaget waktu dia minta kamu jadi salah satu groomsmen nya dia nanti.”

Kuroo menelengkan kepalanya. “Aku sama Bo terlalu deket, udah nganggep masing-masing sebagai saudara. Untuk putus hubungan total emang kayanya gak bisa. Tapi kita juga udah gak punya rasa romantis untuk satu sama lain lagi. Emang udah sepakat kita lebih baik temenan aja.” Ujar kuroo sambil tersenyum kecil. “Dan aku seneng banget kok waktu tahu dia mau nikah sama Atsumu. Aku tahu Atsumu orang baik, dan Bo juga bisa bahagia sama dia.”

Sakusa kembali menatap Kuroo yang tersenyum tulus, mata emasnya bersinar saat mengingat senyum bahagia Bokuto ketika sang sahabat mengumumkan rencana pernikahan padanya 5 bulan yang lalu.

“Oke.” Sakusa mengangguk, mengundang tatapan dari Kuroo. “Berarti sama Akaashi pas kuliah?” Kuroo bergumam mengiyakan. “Seserius apa?”

Kuroo terdiam sesaat, rasa gugup kembali melanda hatinya. Ia remas tautan jari mereka berdua untuk mendapatkan fokus dari Sakusa sepenuhnya. “Sebelum aku cerita, janji dulu kamu gak akan mikir yang aneh-aneh, ataupun sampai mikir aku masih punya rasa sama Keiji. Aku dan Keiji udah putus lama lho ya, inget lho.”

Sakusa tersenyum. “Iya, iya, aku paham. Aku juga gak akan ada disini kalo kalian masih pacaran.”

Si mata emas masih terlihat tak yakin, namun ia lanjutkan ceritanya dengan hati-hati dalam memilih kata di kepalanya. “Kalau ditanya seserius apa, mungkin bisa dijawab dengan lamanya kita pacaran. Empat tahun bagi aku gak sebentar, itu waktu yang cukup untuk aku memantapkan hati dan niat yang kuat buat nikah sama dia. Jujur aja kadang aku masih ngerasa aneh banget kalau inget sedeket apa kita dulu, yang bahkan Ayah aja kaget waktu tahu kita putus.”

Kuroo terhenti sebentar, ditatapnya Sakusa yang raut wajahnya kembali mengeras. Sakusa sebenarnya tahu bahwa Akaashi adalah mantan Kuroo yang paling disayangkan oleh semua orang, termasuk ayah dari Kuroo sendiri. Dan ia juga tahu bahwa Kuroo sudah hampir melamar Akaashi, mereka bahkan sudah tinggal di satu apartemen yang bisa dibilang sangat bagus dan mendukung untuk pasangan muda yang baru menikah. Lokasinya bahkan strategis antara kantor keduanya. Bahkan anjing peliharaan keduanya sampai sekarang masih sering Akaashi kunjungi, sekedar bertegur sapa dengan Kuroo kembali.

Pertanyaan demi pertanyaan dilontarkan karena banyak orang tak paham mengapa Kuroo dan Akaashi memutuskan untuk berpisah. Banyak yang berasumsi bahwa ada orang lain diantara mereka, terlebih mengingat kepribadian Kuroo yang ramah pada semua orang dan memiliki lingkungan pertemanan yang lebih luas dari Akaashi. Namun tentu saja Akaashi membantah karena memang itu tidak benar.

Tidak ada orang ketiga. Atau mungkin lebih tepatnya, sesuatu yang berdiri diantara meeka berdua bukanlah sesuatu yang bisa dilihat dan hanya bisa dirasakan oleh Kuroo dan Akaashi.

“Kalau misal dibilang aku gak kangen juga bohong sih. Tapi mungkin aku lebih ke kangen sama kenangan yang bagusnya aja. Kaya, setahun sebelum pisah tuh, gak ada satupun memori yang ingin aku inget-inget.”

Sakusa menatap Kuroo lekat dalam diam, tidak ingin memotong ucapannya sedikitpun.

“Tapi anehnya aku juga gak ada nyalahin Keiji untuk ninggalin aku. Malah waktu aku sadar Keiji udah gak ada rasa itu lagi sama aku, aku ngerasa ini udah gak bener untuk dilanjutin. Akhirnya, yah, you know what happened.”

Sakusa mengangguk, sambil mengelus lembut jemari Kuroo dengan ibu jarinya. Rasanya sulit dipercaya jika dilihat secara garis besar jika alasan Akaashi mengakhiri hubungan mereka adalah karena alasan sesederhana itu, namun tak bisa dipungkiri bahwa jika hubungan itu dipaksakan akan berakhir lebih buruk.

“Kamu mikirnya aku naif gak?” Tanya Kuroo, menatap Sakusa yang terlihat berpikir untuk menjawab. Semua orang berpikir bahwa Kuroo terlalu naif karena membiarkan Akaashi mengakhiri hubungan mereka dengan tiba-tiba, apalagi Ayah yang dulu bersikeras ingin Kuroo memperjuangkan mantan kekasihnya itu. Namun Kuroo selalu hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya setiap topik itu dibahas. Dalam hatinya, Kuroo hanya tidak ingin berjuang sendirian ketika Akaashi tak mampu lagi bertahan. Ditambah lagi setahun setelah putus, Kuroo dengar Akaashi sudah menjalin hubungan baru dengan orang lain.

“Aku gak pernah ngalamin gimana rasanya fall out of love, jadi aku gak bisa bilang kalo kamu naif atau engga.” Jawab Sakusa yang terlihat tak yakin dengan jawabannya sendiri. “Tapi kalau misal kamu nanya aku dengan posisiku sekarang, telanjang bareng ama kamu di tempat tidur kaya gini,” Kuroo tertawa mendengarnya, membuahkan sebuah seringai di wajah Sakusa. “Aku sih bersyukur ya, meskipun mungkin kamu nyebut diri sendiri naif. Karena toh, aku bisa deketin kamu dengan leluasa berkat kenaifan kamu itu.”

Kuroo masih tersenyum lebar, mendekatkan wajahnya pada Sakusa dan mengecup bibir lelaki berambut ikal itu cepat, sebelum akhirnya mendapatkan ciuman balasan dari Sakusa dan mendekapnya lebih erat.

Dengan iseng, Sakusa melepas ciuman mereka dan berseringai kembali. “Tapi ya sebenernya aku tuh pengen ketawa aja semua mantan kamu diembat sama Miya dua-duanya.” Kuroo langsung tertawa mendengarnya. “Seorang Kuroo Tetsurou, kalah sama duo Miya gitu lho, kek... wow... gak masuk nalar...”

Kuroo terkekeh sebelum tersenyum. “Terus? Kamu juga mau ama Miya aja? Apa nunggu ada Miya baru?”

Sakusa menaikkan alisnya. “Oh ya untungnya aku gak nafsu ama Miya ya, mau itu Miya Onigiri atau Miya Rambut Pipis. Ato mungkin kalo bapaknya mereka hot sih—aduh!” Sakusa meringis sambil terkekeh saat merasakan pinggangnya dicubit kecil oleh Kuroo yang juga ikut tertawa. “Enggaklah.” Sakusa menarik kembali wajah Kuroo untuk memberikan ciuman lembut. “Kamu juga tau sendiri aku udah suka sama kamu dari jaman SMA. Cuma gak pernah berani maju aja karena tau kamu ada yang punya. Tau-tau beberapa tahun kemudian baru aku tau kamu single dari Bokuto, kan.”

Kuroo tertawa. “Aku masih gak nyangka Bo nyoba nyomblangin kita.”

“Oh itu sih aku yang minta. Aku langsung minta nomor telepon kamu waktu tau kamu single.”

Kuroo mengerutkan alisnya, menatap Sakusa dengan senyuman tertarik. “Hah? Pas hari itu kamu telfon aku itu?”

“Iya. Itu tuh abis latian, terus kita ngobrolin mau pulang ke Tokyo karena golden week. Terus pas dia bilang mau hang out sama kamu, ujungnya jadi malah ngomongin kamu—dan aku baru tau kamu udah putus sama Akaashi tuh ya pas itu.” Cerita Sakusa, menarik tautan jari mereka dan mencium jemari Kuroo lembut.

Lelaki yang lebih tua tersenyum. “Aku kaget sih pas kamu telfon. Seorang Sakusa Kiyoomi, nelfon aku ngajak ngedate, haha~”

“Ya kapan lagi kan? Kesempatan emas gaboleh disia-siain. Itu aku telat dikit aja pasti udah ada yang nikung.” Kuroo tidak bisa menahan rasa gemas saat mendengar ucapan itu keluar dari mulut Sakusa, ia cubit kecil dagu lelaki yang berbaring di sampingnya itu. Sakusa menatap bola mata emas yang memandangnya dengan lembut. “Gak nyesel kan, jalan sama aku?”

Kuroo mendengus sambil tertawa. “Ih, ya enggaklah! Kok gitu ngomongnya?”

Sakusa menarik Kuroo mendekat padanya hanya untuk mengecup bibirnya. Kuroo memposisikan dirinya untuk kembali bersandar di dada yang bidang, membiarkan Sakusa mendekapnya dibalik selimut.

“Aku kali yang mestinya tanya. Kamu nyesel gak jalan ama aku, dan sekarang tau aku kaya gimana orangnya.” Tanya Kuroo pelan, merasakan jemari Sakusa mengusap punggungnya dengan sayang.

“Nyesel kenapa gak dari dulu kaya begini.” Ucap Sakusa cepat, mengundang senyuman di wajah Kuroo. “Mestinya waktu kamu putus sama Bokuto tuh aku kejar aja ya? Aku telat sih, Akaashi gercep juga.” Sebuah tawa kecil terdengar dari mulut Kuroo, Sakusa menarik tangannya dari punggung Kuroo dan memindahkannya lebih atas untuk mengelus rambut Kuroo pelan.

“Kamu gak ada niatan pacaran sama sekali emang sebelum ketemu aku? Kata Komori kamu ngejomblo dari SMA masa?” Tanya Kuroo lagi, jelas masih penasaran dengan sejarah seorang Sakusa yang mulai terlihat lebih tenang.

“Hm, pas kuliah ada sih. Tapi gak ada yang serius juga. Gak ada yang nyampe setaun juga. Paling lama mungkin 6 bulan, itu pun udahan bahkan sebelum aku ke Osaka.” Jawab Sakusa seadanya. “Gak tertarik aja gitu, terus juga sibuk sama voli, jadinya gak ada waktu.”

“Emangnya sekarang gak sibuk sama voli?” Goda Kuroo iseng.

“Sibuk juga sih, gimana dong? Putus aja gitu?” Balas Sakusa tak kalah iseng, membuat Kuroo terbangun dan memandangnya tak percaya. “Ya beda dong kalo sekarang. Secinta apapun aku sama voli, kamu tetep aja bakal aku prioritasin.”

Kuroo memasang wajah jijik seakan bergidik mendengar kata-kata Sakusa barusan, membuat Sakusa tertawa.

“Bucin.” Komentar Kuroo sambil bersandar kembali pada dada Sakusa.

“Gara-gara siapa coba?” Balas yang lebih muda.

“Aku, hehe~”

“Ih, jelek ketawanya.”

“Biarin.”

Keduanya tertawa kecil namun semakin dipeluknya erat sang kekasih dalam lelap sampai matahari muncul dari ufuk timur di kemudian hari.