Work Text:
"Pak Taka bisa nyanyikan sebuah lullaby buat Cia?"
Hari menjelang pagi itu terasa makin sunyi, deru AC sayup-sayup mengisi ruangan. Satu perempuan bertubuh mungil terletak di atas kasur empuk dengan seorang pria-yang jauh lebih tinggi darinya-duduk di sebuah kursi yang berhadapan dengan perempuan itu. Pria itu senantiasa mengamatinya, menenangkannya sewaktu-waktu sleep paralysis milik perempuan ini kambuh mendadak. Napas itu terlihat tidak teratur lebih seperti ia mengambil napas selepas lari cepat dua ratus kilometer jauhnya, dari gerak pundaknya naik-turun. "Pak Taka?" Perempuan itu memanggil nama pria yang tengah bersamanya dengan suara pelan dan lemahnya, khas orang yang baru saja bangun. Pria itu perlahan bangkit dari tempat duduknya, menghampiri sang perempuan tersebut. Perempuan yang masih berbaring memasang wajah layu.
"Kenapa, Cia?" Taka duduk di pinggir kasur, menatap Amicia yang masih setengah sadar.
"Apa kambuh lagi?"
Dengan lemah Amicia menggangguk menanggapi pertanyaan Taka. Kini, tangan Taka mengelus pipi, lalu naik ke kepala Amicia. Seolah hal tersebut akan membuatnya kembali tenang dan bisa tertidur lagi. Ia tidak bisa bergerak, tidak bisa mengajak kedua tangan dan kakinya untuk menghindari mimpi buruk yang mendatanginya lagi dan lagi tanpa rasa bosan menghampiri. Mimpi buruk yang terus berulang disertai sleep paralysis menjengkelkan membuat Amicia terkadang tak ingin tidur namun, atas bujukan Taka-yang bertindak seolah ia adalah ibunya-Amicia terlelap kadang karena tepukan lembut di lengannya atau terkadang karena lullaby kekanank-kanakan yang diminta Amicia. Setidaknya, dengan itu ia bisa terlelap tidur, tapi tidak tenang begitu terlelap. Taka meraih remote AC, kemudian menaikkan suhunya, takut kalau Amicia kedinginan kala berkunjung ke mimpinya dan bertemu lagi dengan apa yang ia benci-sleep paralysis.
"Tidurlah lagi, saya akan siapkan sarapan untuk nanti."
Taka harusnya mengecup pipi Amicia, hanya sekedar tindakan untuk menghibur perempuan itu atau juga, menyatakan secuil rasa khawatirnya terhadap perempuan itu. Perempuan yang terlampau mungil dan imut itu terkadang membuat Taka sering mengira ia sedang ditugasi mengurus keponakannya yang masih duduk di bangku SD. Namun, tidak bisa disangkal sifatnya itu memang cocok dengan umurnya. Langkah Taka membawanya ke tangga untuk mencapai dapur, dirinya hendak membuatkan Amicia sarapan. Apa bubur lagi saja? Taka memikirkan harus membuatkan apa untuk Amicia sarapan. Pandangan matanya tidak fokus pada pijakannya di atas anak tangga, alhasil kakinya tergelincir dari anak tangga semula. Begitu sadar kakinya tergelincir dari pijakan, Taka mengeratkan pegangan pada pegangan tangga supaya ia tak terjatuh dan kepalanya tidak membentur keras tangga. Jantungnya berdetak lebih cepat dengan bulir keringat yang membasahi pipi muncul. Hampir ia bertemu dengan mimpi buruknya-maut-jika kepalanya terbentur sampai geger otak.
Ia terselamatkan dari maut yang menggerikan. Sleep paralysis yang sebenarnya dalam dunia nyata. Yang menghampiri semua orang tanpa melihat keadaannya terlebih dahulu.
"Hampir.. Hampir."
Gumaman itu tak henti-hentinya diucapkan Taka sampai ia menginjak anak tangga terakhir. Mungkin Tuhan ingin Taka hidup lebih lama lagi, untuk membantu Amicia dari sleep paralysisnya. Taka, kau benar-benar mau mengerahkan tenaga dan uang untuk hal yang belum tentu bisa diubah. Hanya ada dua kemungkinan dari ini-apa yang sedang dialami Amicia-pertama tentu saja ia lepas dari sleep paralysis yang selama ini menghantuinya dan kedua, ia bisa saja bertemu dengan sleep paralysis yang sebenarnya, yang lebih mengerikkan dari sekarang. Pikirkanlah kembali Taka, kau ingin membawa Amicia ke pilihan keberapa? Satu? Atau mungkin dua? Jika terlalu lama memilih, bisa saja keadaanya langsung jungkir balik dari apa yang telah diperkirakan olehmu. Berkalut dengan pikirannya itu membuatnya tak sadar telah berada di ambang dapur. Harusnya saya kurangi kebiasaan ini, batinnya mengerang.
Karena terbiasa mengurus rumah-meski berprofesi sebagai CEO sebuah perusahaan-Taka mengerjakan pekerjaan rumah selayaknya seorang ibu yang mengurus rumah ditambah dengan mengurus anak kecil. Itu sebabnya terkadang ia dipanggil 'Takamama' oleh rekannya, baik di luar pekerjaan atau dalam lingkungan pekerjaan. Tetapi tidak dapat disangal bahwa pernyataan tersebut salah, kalau memang salah apa artinya Taka menemani dan menjaga Amicia yang memiliki masalah dalam tidurnya? Taka juga bukan tipikal pria yang akan memungut perempuan kecil nan lemah dengan dalih 'saya membantumu hanya karena rasa kasihan'. Seratus persen, ia bukan tipe pria brengsek yang mengungkapkan kasihan dalam kepura-puraan. Air mengalir ke dalam rice cooker, jumlahnya melebihi banyaknya dibandingkan beras yang ia tuang ke rice cooker. Kemudian menutupnya dan menyalakan rice cooker sampai waktu yang ditentukan.
Mengepul uap panas, tanda bubur telah matang. Sejumlah suwiran ayam, kuah opor yang masih hangat dan seledri menghiasi kepolosan warna putih dari bubur. Sebagai tambahan-yang jika dihilangkan akan sangat terasa kurang-Taka juga membuat dua gelas teh hangat untuk Amicia dan dirinya sendiri. Menggunakan nampan, Taka membawa mangkuk bubur dan dua gelas teh menuju kamar Amicia. Uap dari makanan membawa aroma sedap ke rongga hidup Taka, setidaknya kali ini ia bisa sarapan bersama Amicia di kamarnya sambil sesekali berbincang sebelum Taka bersiap menuju kantor untuk bekerja. Pintu terbuka, di dalamnya menampilkan Amicia yang sedang memeluk boneka pinguinnya, menanti Taka membawa sarapan untuknya. "Udah minum air putih, 'kan?" Sebelum meletakkan mangkuknya, Taka memastikan bahwa perempuan itu setidaknya sudah meneguk segelas air. "Udah kok, Pak," jawab Amicia, dengan nada yang terlampau lemas. Dari suaranya, ada sugesti dalam diri Taka yang mengatakan perempuan di hadapannya-Amicia-barangkali terserang demam.
Spontan, Taka meletakkan punggung tangan kanannya ke kening Amicia, kemudian ke ceruk lehernya. Barangkali ia terserang demam atau barangkali ini kesempatanmu menyentuh kening dan ceruk lehernya? Kalau dilihat dari penampilannya dia memang masih anak-anak, tapi jika dilihat dari mental dan lain-lain ia sudah legal. "Kenapa Pak Taka?" Amicia kebingungan karena tiba-tiba saja Taka meletakkan tangannya di kening dan ceruk lehernya. "Enggak, saya kira Cia kena demam gitu. Suara Cia lemes soalnya," ujar Taka, kini ia mengambil sendok dari mangkuk bubur Amicia. Taka terlebih dahulu meniup sesendok bubur sebelum menyuapkannya ke Amicia. Pemandangan tersebut lebih terlihat sebagai pemandangan seorang ibu yang menyuapi sang anak ketika sedang demam ketimbang seorang pria yang membantu seorang perempuan memakan sarapannya. Tidak berkesan berlebihan atau romantis, hanya ada kesan sederhana dan hangat.
"Enak gak buburnya?"
"Mhm, kayak biasa bubur buatan Pak Taka enak."
Pujian itu, seperti biasa, diucapkan dengan nada lemas. Tapi bagi Taka, hal itu terdengar sudah cukup baginya sebelum ia berangkat kerja. Hal sederhana yang membuatnya mengebu-ngebu.
_________
Balutan pakaian kerja yang biasanya digunakan Taka berangkat kerja, dengan rambut cokelat disisir rapi menyamping. "Saya berangkat dulu, kalo ada apa-apa telepon aja saya, pasti saya angkat, ya? Tolong jaga rumah, terus kalo mau makan siang udah saya siapin tinggal panasin aja. Hati-hati di rumah," pamit Taka. Maniknya menatap wajah Amicia sejenak, lalu tangannya menepuk puncak kepala Amicia perlahan. Dengan polosnya Amicia mengangguk. "Habis saya pulang kerja, nanti kita ke dokter lagi. Sleep paralysis Cia kayaknya makin parah." Lagi-lagi, Amicia mengangguk patuh. Setidaknya jika ia menuruti aturan Taka, ia yakin dirinya itu bisa terlepas dari sleep paralysis yang terus menempeli pikirannya selama tidur. "Iya, Pak Taka hati-hati di jalan juga." Taka mengangguk dan mengulas senyum tipis. Amicia melambaikan tangannya, sebagai ganti dari 'semangat, Pak Taka'. Pintu tertutup bersamaan dengan figur Taka yang terhalangi pintu. Amicia mengintip lewat jendela, mengamati Taka yang sedang memasuki mobilnya. Tepat sebelum mobil itu melaju dan mengecil kemudian menghilang dari pandangan Amicia.
Ada sedikit harapan, harapan kecil yang mungkin saja tumbuh.
Di antara keduanya.
Mobil melaju dengan kecepatan sedang menuju sebuah kantor di perkotaan padat yang sibuk. Melewati lalu-lalang kendaraan lain menjadi rutinitas Taka, hampir setiap hari harus berurusan dengan kemacetan yang ia tak sukai, pekerjaan yang terkadang ia tak sukai. Tapi tak mengapa, dengan semua kerja keras ini ia bisa mengantar Amicia pergi ke dokter untuk mengobati sleep paralysis milik perempuan itu. Sampai akhirnya, yang akan dijumpai oleh Amicia adalah tidur tenang tanpa pikiran yang merayapi. Apa yang didamba oleh Amicia bisa terkabul. Hanya dengan itu, ia juga sudah merasa cukup. Mobil berbelok menuju parkiran yang letakannya di bawah gedung, memarkirkan di pojok yang sepi. Sebelum akhirnya memutuskan untuk memasuki gedung kantor, Taka menatap kontak Amicia terlebih dahulu, memastikan tidak ada missed call dari Amicia. Rasa lega sedikit mengambil alih pikiran Taka kali ini, berharap tidak ada kejadian aneh yang membahayakan Amicia dan rumahnya.
"Semoga aja makin baikan deh."
Harapan itu, tulus sekali, ya, Taka? Kau yang berharap supaya Amicia bisa terlepas dari kutukannya-sleep paralysis. Kira-kira untuk apa kau mau berjuang menghabiskan tenaga dan uangmu, apa yang kau maksud dari semua ini? Apa yang sebenarnya kau incar dari Amicia, Taka?
"Pak Taka akhir-akhir ini suka datang telat, ya?"
"Ada yang perlu saya urus sebelum berangkat."
"Wah, kira-kira apa itu?"
"Kau mau dipecat sekarang juga?" hardik Taka.
"Ampun, padahal 'kan saya cuman nanya." Rekan kerja Taka mengerucutkan bibirnya, memasang ekspresi
Salah satu rekan Taka menyambut kedatangan Taka di elevator menuju ruang kerjanya. "Si cewe itu?" tanya rekannya, hati-hati, takut menyinggung Taka dengan pertanyaan lebih lanjutnya. "Kayaknya bener, ya?" Rekannya itu bersiul rendah selagi elevator membawa mereka ke lantai atas. "Emang sejak kapan si cewe itu kena sleep paralysis?" Taka menatap atap lift, mengingat kembali kapan pertama kali Amicia mengeluhkan sleep paralysis dan tidurnya yang tidak nyaman itu. "Ngomong-ngomong namanya Cia, mungkin sejak dua bulan lalu," jawab Taka dengan sedikit keraguan tentang ingatannya. "Kenapa segitunya pengen banget dia sembuh, padahal kayaknya kalian gak ada hubungan khusus?" Bagaimana kau menjawabnya, Taka? Kau sendiri tampaknya belum menentukan apa yang mendorongmu sejauh ini untuk membantunya, tentang saja, kalau ia sadar dengan sleep paralysisnya yang semakin parah ini, kau juga akan mengerti kenapa kau mau membantunya sampai saat ini.
"Lebih baik kau laporkan dokumen yang kemarin belum kau selesaikan daripada bertanya begitu."
Lift berhenti di lantai, yang mana terdapat ruang kerja Taka.
Apa yang mendorongmu untuk membantunya? Apa yang sebenarnya kau cari darinya, Taka?
Berhentilah memikirkan hal seperti itu, saya sedang di kantor, keluhnya tentu saja ia tujukan untuk otaknya yang sekarang tidak bisa diajak kerja sama.
Perlahan, langit mengubah warnanya secara alami. Menumpahkan warna biru gelap ditambah kelip bintang malam cantik yang jarang-jarang terlihat. "Sudah malam, ya ternyata," gumam Taka begitu pandangannya mengarah ke belakangnya, dinding kaca yang menembus pemandangan luar. Keadaan kota super sibuk di malam hari. Jadwal untuk cek ke dokter-tentunya bagi Amicia-tinggal sedikit lagi. Taka membereskan tumpukan dokumen yang sudah ia cek, bergegas mengambil ponselnya yang dimatikan daya. Mengoperasikannya, mengecek pesan atau panggilan dari Amicia, barangkali saat ini ia melewati panggilan penting dari perempuan ini. "Tidak ada kabar, artinya tidak terjadi apa-apa." Telunjuknya cepat-cepat menekan tombol lift, supaya lift tersebut terbuka. Sunyi, tatapan Taka tertuju pada layar ponsel, memerhatikan dengan jelas jika ada pesan masuk dari Amicia. Benar saja, tak lama panggilan dari Amicia masuk, membuat ponsel Taka berdering ramai dikeheningan lift. "Kenapa Cia?" Taka membuka suara, mengawali percakapan mereka.
"Pak Taka masih lama pulangnya?"
"Ini lagi pengen jalan, Cia siap-siap, ya. Habis ini kita ke dokter, tunggu di ruang tamu aja, oke? Saya bakal pulang secepatnya."
"Cia mau nitip makanan atau yang lain?"
"Enggak usah, Pak Taka cepet pulang aja, di rumah sepi."
"Oke, oke. Tunggu sebentar lagi, saya bakal pulang kok."
Kekehan lepas dari mulut Taka begitu mendengar permintaan Amicia dari seberang. Telepon terputus tak lama kemudian, Taka menyimpan ponselnya di dalam saku takut sewaktu-waktu ia keluar dari lift benda itu akan jatuh karena telapak tangannya sekarang berkeringat. Jantungnya berdebar melebihi debaran jantung ketika ia mengadakan meeting penting. Lift berhenti di lantai dasar, menampilkan sepinya lobby yang hanya dinyalakan lampunya. Seorang wanita yang masih menempati tempatnya di meja resepsionis memasang senyum begitu melihat Taka berjalan menjauhi lobby. Kontrol ke dokter sebelum jam sembilan, apa engga kemaleman, ya? Taka mlangkah menuju parkiran, menuruni tangga dingin dan menyusuri lorong sepi yang cahayanya remang-remang. Begitu menemukan mobilnya, Taka bergegas memuka pintu mobil, menutupnya kembali ketika ia sudah duduk dengan nyaman. Mobil berwarna hitam mengkilap melaju melewati jalanan besar yang sudah tak begitu ramai ketimbang saat ia berangkat. Nyala lampu meriah menyaingi kelip bintang di atas sana.
Gaung knalpot mobil dan motor bercampur, membuat malam yang semula tenang menjadi ribut karena suara lalu lintas. Radio malam menyala, suaranya memenuhi isi mobil. Alunan lagu 80an-90an menggantikan suara bising, Taka melepas luaran jasnya, melonggarkan sedikit dasinya, dan melepas dua kancing paling atas. Diusapnya juga kedua matanya yang makin lelah karena terlalu lama menatap layar laptop dan barisan kalimat. Panggilan telepon kembali masuk dari ponsel Taka yang ia simpan di saku celana. Telepon dari Amicia tertera di layar. "Kenapa Cia? Di rumah ada apa?" tanya Taka, matanya harus tetap fokus ke arah jalan meski sedang mengangkat telepon. Ponsel ia letakkan di dashboard mobil, sedangkan ia tetap pada posisinya menyetir. "Pak Taka masih lama?" Suara Amicia terdengar, menggantikan suara statis sebelumnya. "Ini lagi di jalan, kok. Sepi, ya di rumah?" Terdengar suara 'mhm' dari seberang, artinya Amicia setuju. Di sana, Amicia berbaring di atas sofa sambil mengeratkan pelukannya pada boneka kesayangannya.
"Tunggu sebentar, ya, Cia. Saya sedikit lagi bakal nyampe."
"Cia ngerasa halusinasi atau ngerasa gelisah sama gak nyaman?"
"Cia ngerasa gak nyaman sama halusinasi, kalau gelisah Cia engga ngerasain."
"Sekarang Cia keluar aja, saya udah ada di depan gerbang."
"Ah, iya sebentar Pak Taka."
Amicia mengintip ke arah jendela, benar saja, mobil milik Pak Taka terlihat dari tempat ia berdiri. Tangannya membuka pintu rumah, tak lupa membawa boneka miliknya, berjalan menggunakan alas kaki yang ia letakkan di samping pintu kemudian menutup pintunya rapat-rapat dan bergegas menuju mobil Taka terparkir. Dari dalam Taka membukakan pintu untuk Amicia masuk, disambut pula dengan senyum hangat. "Pakai sabuk pengamannya, jangan lupa," ingat Taka sebelum ia meyalakan kembali mobil tersebut supaya melaju. Taka-bersama Amicia kali ini-kembali menyusuri jalan di malam hari, hendak menuju sebuah rumah sakit yang letaknya cukup jauh untuk menjalani kontrol. "Tadi siang udah makan 'kan, ya?" Taka bertindak seolah ia ibu dari Amicia yang sedang merawatnya kala sakit. "Udah, Pak Taka sendiri udah makan tadi siang?" Amicia balik bertanya kepada Taka. Suara kekehan terdengar pelan di telinga Amicia. "Saya gak perlu dikhawatirin, Cia. Fokus ke pengobatan sleep paralysismu itu dulu, ya." Percakapan mereka timpang tindih dengan suara radio dan knalpot kendaraan, meski begitu, mereka tetap dapat mendengar suara masing-masing.
Perjalanan panjang terpangkas karena mereka sama sekali tidak fokus pada lamanya waktu yang diperlukan. Gedung besar berwarna putih dengan papan bertuliskan nama rumah sakit tersebut terpampang ketika mereka memasuki area rumah sakit. "Ayo turun, udah sampe di rumah sakitnya." Pria itu sedikit mengguncangkan pundak Amicia, yang tiba-tiba saja terlelap setelah lelah berbincang. Matanya terbuka perlahan, menyesuaikan cahaya yang ada di hadapannya. "Udah sampe?" Suaranya parau, napasnya terlihat lebih teratur ketimbang tidur sebelumnya. Sleep paralysisnya tampak masih senang berada di dalam dirinya dan memperburuk kondisi tubuh kecil itu. Pintu terbuka bersamaan dengan figur Taka dan Amicia turun dari mobil, langkah mereka seiringan supaya tidak meninggalkan satu sama lain di belakang. Tangan Taka mengandeng lembut tangan Amicia yang jau lebih kecil dan lebih halus ketimbang telapak tangannya. Begitu masuk lobby rumah sakit, cahaya lampu begitu mencolok retina mereka.
Langkah mereka yang seiringan membawa figur masing-masing ke arah resepsionis. "Taka Radjiman dan Amicia Michella, benar?" tanya sang resepsionis. Taka mengangguk, membenarkan pernyataan tersebut. Ia tahu bahwa yang dimaksud oleh sang resepsionis tersebut adalah pasien yang akan menjalani kontrol bersama seorang dokter dijadwal yang telah ditetapkan sebelumnya. Amicia hanya mengamati sekitar sesekali menolehkan kepalanya ke arah belakang untuk melihat keadaannya, tampak seperti seorang anak gadis dari duda yang tengah menunggu ayahnya selesai berbicara dengan rekan kerjanya. Pemandangan yang dilihat dari manapun akan nampak penuh kehangatan.
"Cia, ayo naik lift."
Taka menggoyangkan pegangan tangan mereka, supaya Amicia tersadar dari lamunannya. Keduanya berjalan menuju lift yang menghubungkan lantai dasar dengan lantai tiga rumah sakit. Poli psikologis, Taka berpikir sekilas jika sleep paralysis yang dialami Amicia ini ada kaitannya dengan beban yang Amicia tanggung selama ini. Terlebih dahulu, pintu ditekuk sebanyak tiga kali sampai terdengar suara menyahut dari dalam ruangan. Amicia meraih gagang pintu, membukanya sekuat tenaga sampai celah tersebuh bisa memuat dua orang atau lebih untuk masuk. "Taka Radjiman dan Nak Cia, ya?" Wanita berumur paruh baya itu menyambut keduanya dengan senyum hangat. Ini bukan pertama kalinya mereka mengadakan kontrol, tapi sudah berkali-kali. Keduanya duduk di hadapan sang dokter. "Sleep paralysis Nak Cia belum membaik, ya. Padahal sudah dua bulan berlalu." Dokter itu meraih tangan Amicia, mengelusnya dengan penuh perhatian.
"Apa akhir-akhir ini Nak Cia mengalami sleep paralysis disertai narkolepsi?"
"Untuk itu, iya kadang Cia juga mengeluh sering halusinasi, bukan?"
"Iya, jadi rasanya sulit membedakan yang mana halusinasi dengan kejadian nyata."
Sang dokter mengangguk, menuliskan sesatu pada secarik kertas kosong di meja rendah yang berada di hadapannya. "Kalau begitu, mulai malam ini Nak Cia harus minum obat agar sadar dari halusinasinya." Hah? Taka mengulas senyum untuk Cia, bukan senyum yang biasa ia lihat. Senyum yang menunjukkan bahwa ialah pemenang.
Sadar.
Bangun.
Bernapaslah.
Buka matamu.
Lihat sekeliling.
Ini bukan tempat seharusnya kau berada, Cia.
"Lullaby seperti apa yang Cia mau?"
"Apa saja, yang penting menenangkan."
Hari menjelang pagi itu terasa makin sunyi, deru AC sayup-sayup mengisi ruangan. Satu perempuan bertubuh mungil terletak di atas kasur empuk dengan seorang pria-yang jauh lebih tinggi darinya-duduk di sebuah kursi yang berhadapan dengan perempuan itu. Pria itu senantiasa mengamatinya, menenangkannya sewaktu-waktu sleep paralysis milik perempuan ini kambuh mendadak. Napas itu terlihat tidak teratur lebih seperti ia mengambil napas selepas lari cepat dua ratus kilometer jauhnya, dari gerak pundaknya naik-turun. Sesak, terlampau walau ingin menggangkat tubuh. Ia bisa merasakan napasnya yang berantakan, tidak diatur dan sulit untuk diatur, serupa dengan seseorang yang baru saja dikejar anjing tetangga yang amat galak. Sadar, harus cepat sadar, batin Amicia merintih. Ia hanya perlu menggerakkan tubuhnya, entah itu kepala, tangan atau pun kaki. Yang mana sana, yang penting anggota tubuhnya mau bekerja sama dengannya saat ini. Buka mata, perlahan. Akhirnya, ia sudah mendapatkan kesadarannya baik secara fisik dan otak.
Ia selamat. Ah, benarkah?
"Sudah sadar, ya?"
Jantungnya berdegup lebih cepat. Amica Michella, inilah yang seharusnya kau sebut sleep paralysis. Taka duduk di kursi, tepat di hadapan Amicia. Pria itu mengulas senyum seperti biasanya.
"Cia mau sarapan?" "Cia mau dibuat tidur lagi?"
"Cia, yang kau sedang hadapi sekaranglah sleep paralysis yang sebenarnya."
Mulutnya kelu. Tidak, tidak ingin, tidak mau, jangan, Cia cuman pengen tidur tenang, Amicia tak henti-hentinya mengucapkan kata-kata tersebut selayaknya ia mengucapkan sumpah serapah. "Cia mau tidur lagi, ya? Masih ngantuk?" Dengan lembut Taka menyisir helai Amicia, perlahan seperti mengelus kaca yang baru saja keluar dari pemanas. "Kali ini tidurnya bareng saya, ya."
Rupanya, Taka, kau selama ini membantunya hanya karena hal ini?
Supaya bisa menjaganya, meski itu di dalam mimpi Amicia sekali pun.
the end.
