Actions

Work Header

Mereguk

Summary:

Menyicip akan pahit dan manis yang melebur.

Notes:

(See the end of the work for notes.)

Work Text:

Strawberries & Cigarettes © Troye Sivan

Jujutsu Kaisen © Gege Akutami

SatoSuguSato Fic


Suguru, can you come over?

Pertanyaan itu selalu menjadi awal dimana suara mesin Chevrolet Corvette buatan tahun 1967 akan terdengar. Menderu begitu keras membelah jalanan sepi menuju daerah tempatku tinggal. Menjadi sebuah pertanda bahwa aku harus mulai mengendap dan keluar dengan celana jeans hitam yang masih kukenakan sedari sore. 

Lalu kau di sana, dengan sebatang lintingan tembakau yang terselip di belah bibirmu. Satu alis terangkat, diikuti sebuah dongakan kecil diberikan sebagai perintah implisit agar aku segera masuk. Menghitung bersama dalam empat belas detik sembari mobil tua itu berbelok, sebab setelahnya kami tertawa akan betapa tepat hitungan tersebut hingga kepala pelayanku menyadari bahwa aku kembali dibawa olehmu.

“Kemana?”

Tanyamu dan aku mengendik. Selalu tak tahu kemana aku ingin pergi. Hanya ingin berlari, melarikan diri dari segala tanggung jawab yang ku punya. Melarikan diri dari seluruh tuntutan yang diberikan. 

“Kemanapun kau ingin membawaku?”

Aku menjawab, namun penuh keraguan. Selayaknya menanyakan kembali akan kemana kau akan membawaku. Hingga kau tertawa. Menaikkan lengan kirimu pada pucuk kepalaku. Mengusaknya dengan ringan, membawa dengus hadir membelah hening yang menyelimuti kita. 

Hanya sebentar. Begitu sebentar. Sampai aku merasa akan kehilangan akan afeksi kecil yang memporak-porandakan perasaanku. Seperti sebuah kembang api yang tiba-tiba padam seketika percikan itu mencapai langit. Berpendar sejenak, lalu ditelan oleh tangisan bumantara. 

Sayangnya, kau adalah kau. Dengan segala trik yang kau punya. Meluluhkanku seperti percikan kembang api yang masih berusaha bertahan agar bahagia yang dimiliki semua orang tak hilang begitu saja. 

Kau meraih dashboardmu. Mengeluarkan satu buah permen tangkai rasa stroberi kesukaanku.

“Makanlah.” ucapmu, membuatku mendengus. Meraihnya dan membuka bungkusnya dengan cepat. Memasukkannya dalam mulutku dan membuang wajah ke luar jendela. Berharap bahwa rona merahku teredam oleh remang yang hanya tersinari lampu jalan di luar. 

Aku menatap pergerakan luar yang begitu cepat. Mengingatkan akan waktu yang berjalan dengan pola yang serupa. Terlewat dan akhirnya terlupa. Berjumpa dan mungkin akhirnya akan saling melambaikan tangan berujar selamat tinggal. Diharapkan lalu dihempaskan. Dipuja lalu dibuang begitu saja. 

Hingga aku kini hanya berharap bisa menikmati segalanya yang ku punya sekarang. Menikmati angin yang berhembus menyapa wajahku dengan begitu lembut layaknya sentuhanmu saat kita pertama kali bertemu. Menyapa begitu lancang, namun penuh dengan kehati-hatian. Menyapu dengan begitu lembut, sebelum akhirnya membiarkanku mencicipi rasa gulungan tembakau bercampur sentuhan mint segar di sana. Memagut tanpa malu walau kala itu adalah pertama kali kita bertemu. 

Lalu yang ku rutuk adalah kenapa aku tak menyela. Menikmati, membawa rasa lelehan gula dengan ekstrak stroberi melebur bersama dalam belitan tarian lidah.

“Kita sampai.”

Aku membuka mataku. Menyambut sapaan debur ombak yang mulai menggelitik gendang telinga. Membiarkan rasa asin tercium, namun lewat indera pembau yang ada. 

Kita tak dekat, tak berada di atas pasir yang membentang. Masih terhalang oleh pembatas jalan dengan deru Corvette yang bergemuruh dengan keras. 

“Bahan bakarmu akan habis jika tak kau matikan.”

Ujarku dengan maksud memecah senyap yang masih menggantung di antara kita. Sayangnya kini kau hanya tertawa kecil setelah dengusan dikeluarkan. Membuang rokokmu yang telah habis tadi pada asbak mobil yang ada dan mulai mengeluarkan satu yang baru. Menyangga satu tangan pada jendela yang terbuka untuk membiarkan asap yang terbentuk layaknya sebuah cincin itu keluar dan lenyap terhempas bayu yang cukup kencang petang kali ini.

“Tenang saja, esok akan ada seseorang yang akan mengisinya. Jangan khawatir.”

Kau selalu berujar demikian. Begitu tenang. Seolah hidup tak pernah membawamu pada ujung tebing curam dengan sebuah bongkahan batu besar yang siap datang dan menawarkan ketakutan. Begitu tenang, hingga aku tak pernah tahu seberapa dalam genangan emosi yang kau miliki. Seberapa dalam perasaan yang kau rasakan.

Seberapa – pentingnya diriku untuk dirimu dalam dua tahun kita saling mengenal. 

“Kau harusnya mengkhawatirkan dirimu sendiri.” balikmu dan aku berdecak karenanya.

“Tenang saja, esok aku kembali bersikap biasa saja dan lupa akan segalanya. Jangan khawatir.” 

– dan kau tergelak.

“Kau tahu kalau kau sangat menarik, Satoru?”

“Aku bukan narcissist, jadi aku tak tahu.” sanggahku, lalu membuang wajah ke arah luar. Memandang hamparan kelam yang kini bergantung pada sinar candra semata, sebab kini Corvette tua itu telah dimatikan

Kita selalu seperti sekarang. Keluar. Berusaha menghentikan waktu yang kita punya. Menikmati diri yang saling berdampingan tanpa sepatah kata yang terlontar. Menikmati kala seolah segala yang ada pada pagi buta itu hanyalah potongan cerita yang tak pernah ada. 

Sampai permenku tersisa tangkainya semata, lalu sesak asap itu telah binasa.

Lalu kau akan meraih wajahku dan membiarkan kita melebur dalam satu cumbuan. Membiarkan bibirmu membelah milikku dan melumat seluruh yang ada. Membiarkanku kembali mengecap sisa rasa lintingan tembakau tiga ratus yen itu pada setiap lumat. Membelit. Membiarkanmu meraup seluruh manis yang terselip pada sela gigiku. 

Kelopak mataku tak terpejam. Terbuka begitu lebar menikmati pemandangan sayumu yang jua menatapku. Menyunggingkan sebuah senyum miring semu, selayaknya menantangku untuk saling memakan hingga kita berdua musnah tenggelam dalam gairah penuh erotisme palsu. Mencoba membutakan akan kabut nafsu dengan sebuah benang takdir yang hanya membelit, namun tak akan pernah bertemu. 

– sebab kita berdua jenuh, hingga ketika kita akan berlalu bersama waktu yang terpisah dan melupakan setiap momen satu persatu. 

“Apa kau tahu kalau matamu sangat menawan, Satoru?”

Rayumu – dan aku hanya terkekeh geli karenanya. Mengangkat tanganku dan membelai ujung matamu yang terhias garis mata yang kau gambar entah sedari kapan.

“Berhenti menggodaku, Tuan Rupawan.”

Lalu kau tergelak. Meraih jemariku dan mengecupnya. Mengundang rona merah cempala yang merambati wajahku.

“Aku tak menggodamu. Hanya saja suasananya begitu tepat. Kau yakin tak ingin tidur denganku malam ini?”

Kau kembali menawarkan sebuah omong kosong semata, aku paham jika itu penuh gurauan

Dua tahun mengenalmu hanya dengan kita yang saling kabur dari realita yang ada. Bertemu dalam intimasi yang menaungi, lalu berpura-pura saling tak mengenal kala siang menjelang. 

“Kau tak berkencan dengan pria, Suguru.” ucapku berusaha untuk tak terdengar penuh dengan kegetiran. Berusaha menjaga nada bicaraku dan membuatnya seolah terhantar angin yang berhembus kala aku kembali membuang mukaku pada jendela yang masih terbuka begitu lebar. 

“Jadi kita tak akan bisa?”

Kau menanyakannya dengan begitu lugas pada inti seluruh mesra yang kita tukar petang ini.

“Tidak.”

dan aku menjawab sama lugasnya agar seluruh harapan yang telah terbangun tanpa sengaja ini dapat segera rubuh karenanya.

“Kau begitu aku tak perlu khawatir untuk merasa gelisah.”

Aku menoleh, menampilkan raut penuh tanda tanya akan apa dan kenapa. Membuatmu tertawa dalam merdu yang tanpa ku tahu, aku berpikir bahwa aku akan merindu akannya. 

“Esok – atau mungkin lusa? Aku akan pindah.”

Kau berkata begitu enteng. Begitu lega, namun meninggalkanku dengan batu yang menghimpit dadaku untuk memberikan seluruh sesak di sana.

“Tanpa alasan?”

“Ada alasan. Pendidikanku sudah selesai enam bulan lalu, uangku sudah sedikit cukup untuk hidup dua tahun ke depan, ayahku meninggal, dan aku masih punya ibuku serta dua adik perempuan di sana. Apa ada alasan untukku untuk tak pergi?”

Sebuah senyum kau ulas. Seperti semuanya, seluruh pertemuan singkat kita, adalah satu-satunya yang kau harapkan untuk tetap tinggal, yang pada akhirnya aku sendiri yang memutuskan tali untukmu bergantung dan membiarkanmu tertawa sebelum akhirnya mengikuti arus yang memang tercipta untukmu.

Jemariku terkepal. Mengenggam begitu erat. Ingin berujar jangan, namun aku baru saja melepaskanmu tanpa aku sadari bahwa aku akan kehilangan.

“Kau tak akan merindukanku kan, Satoru?”

“Tidak.” Iya.

“Kau akan baik-baik saja, kan?”

“Tentu.” Mana mungkin.

“Kau akan melanjutkan hidupmu dengan baik setelah ini, bukan?”

“Pasti.” Bagaimana bisa?

“Apa kau akan memelukku untuk terakhir kali?”

“Ya.” 

Lalu aku mendekapmu. Membiarkan kaos hitam bergambar band lawas dengan bau rokok itu menempel pada kemeja oversize ku. Mendekap halus sisa kelam surai yang selalu kau cepol sebagian. Berharap seluruh aroma tubuh yang akan aku rindukan ini tetap tinggal di sana. Menghirup seluruh raksi yang aku harapkan untuk kembali hadir dalam pagi buta dengan seluruh pemikiran yang berkelana. 

Hingga akhirnya malam itu usai. Kita kembali dalam cerita dengan lembar yang berbeda seperti biasa. Tak saling berkaitan dengan kata yang melengkapi ketika halaman kertas usang itu saling ditumpang tindihkan. 

Lalu ketika pagi buta keesokan harinya, bukan aku yang mengirimmu pesan terlebih dahulu. Akan tetapi, pesanmu yang masuk ke dalam milikku.

Aku tak berkencan dengan pria, kecuali jika itu denganmu.

– dan aku tahu, mungkin nanti deru Corvette itu bukan akan mendatangiku, namun berbalik dengan halaman yang dibuka dari sisi kanan.





Notes:

ku dah lama ga nulis stsgst yang panjang wwww
selamat menikmati, semoga ini ga mengecewakan sih<3

Series this work belongs to: