Actions

Work Header

Kadar

Summary:

Mereka kembali dipertemukan dalam ketentuan yang Tuhan ciptakan.

Notes:

super late submission for SasoDeiWeek2022
Day 2 - Soulmates
Day 5 - Hurt/Comfort
Day 6 - Unconditional | Tied Up
Day 7 - Confession

Chapter 1: Pertama

Chapter Text

Naruto © Masashi Kishimoto

SasoDei Fic


Ada banyak hal yang Deidara tak paham mengenai dunia ini. Begitu banyak hal. Begitu banyak hingga ia tak ingin lagi memberikan seluruh waktunya untuk berpikir. 

Ia pernah mati. Dua kali. Atau entah berapa kali, sebab pada kehidupannya yang sesaat kala itu, ia bisa mati beberapa kali. Lalu kali ini, ia kembali terlahir, namun bukan sebagai dirinya yang dulu. Dirinya yang menjadi seorang ninja pelarian. Akan tetapi, dirinya yang menjadi orang biasa. 

Pada kehidupan kali ini, Deidara merasa bahwa segalanya tampak membosankan. Hidup yang terlampau damai dan hidup yang terlampau bahagia, mungkin? Entahlah. Ia hanya tak terbiasa. Kehidupannya seolah berbanding terbalik dengan apa yang ia punya dulu ketika ia masih menjadi seorang buronan. Memiliki kemampuan ninjutsu dan mati dengan meledakkan diri pada sebuah tanah lapang melawan bocah yang lebih muda darinya. 

Pada kehidupannya kini, ia terlahir di sebuah keluarga dengan orang tuanya yang terlampau sibuk dan fiannsial yang terjamin. Ia juga terlahir tanpa sebuah mulut di perut ataupun pada kedua tangannya. Ia juga terlahir dimana meledakkan sesuatu akan menjadi sebuah masalah dan berakhir dengan ia yang ditangkap dengan begitu mudah. 

Cukup menyebalkan. Akan tetapi, Deidara tak membencinya jujur saja. 

– atau mungkin ada satu yang membuatnya cukup tak menyukai dunia barunya ini, ketika konsep soulmate itu harus ada.

Deidara tak kesal dengan konsep tersebut karena ia yang ingin memilih pasangannya sendiri tanpa paksaan. Ia tak seperti teman-temannya yang meributkan hal tersebut. Memiliki pasangan bukan tujuan hidupnya dan itu menjadi sebuah masalah. 

Dalam dunia ini, ia harus menemukan mereka. Merasakan sakit yang mereka rasakan. Merasakan sebuah ketidakberdayaan, sebab Deidara pun tak tahu mereka ada dimana sehingga ia tak bisa menghentikan seluruh kesakitan tersebut. 

Ini menyebalkan. Begitu menyebalkan. Ia merasa tak berdaya. Terlebih untuk melawan rasa berontak untuk bersikap tak peduli akan kesakitan yang dirasakan oleh sosok yang sama sekali tak ia kenal tersebut. 

Deidara menyukai segala bentuk kesakitan. Ia pernah mati dengan tubuh yang tercerai berai. Lengannya pernah terpotong dan seluruh darah mengucur dari sana. Ia pernah terluka, tersayat, dengan segala perih yang ia rasakan. Akan tetapi, rasa sakit yang ia tebak hadir karena pukulan yang diberikan itu seolah terasa berkali-kali sakitnya, dan ia tak menyukainya .

Sampai ketika Deidara bertemu lagi dengan sosok itu. Sosok bersurai merah pendek dengan anak rambut yang terhempas kecil oleh bayu yang bermain di sana. Membelai begitu lembut, tak berbeda dengan apa yang Deidara ingat dulu. Dalam diam. Dalam seluruh senyap yang selalu menyelimuti mereka yang tak pernah Deidara rasakan betah akannya. Dalam seluruh hening yang ingin ia robohkan, sebab Deidara merasa bahwa dinding yang pria di hadapannya bangun itu juga ikut terbentuk bersama dengan geming diantara mereka.

Danna –

Panggilan itu tak berubah. Begitu pula wajah yang tertoleh padanya.

“Deidara?” 

Suara itu masih sama. Mengalun begitu lembut, namun tajam dalam satu waktu bersamaan. Menggetarkan dalam ketakutan dan juga ketenangan yang diberikan. Suara tersebut bagaikan sebuah oasis, namun bukan rerumputan sebagai alasnya, akan tetapi rentetan kaktus yang terbentang di sana. 

“Aku terlahir kembali. Bertemu denganmu lagi. Apa setelah ini Zetsu juga akan muncul di antara kita hm?”

Deidara berujar dengan kesal. Seolah mengingat bahwa dulu setelah mereka dihidupkan kembali, Zetsu juga ada di sana. Entah kenapa ia tak ingin membahas benang merah lain yang selalu ada di antara keduanya. Sasori yang selalu meninggalkannya terlebih dahulu. Apakah di dunia ini akan sama?

– dan yang ditanya, mendengus kecil karenanya. Membuat Deidara cukup terheran akan senyum kecil yang terbit di paras rupawan yang selalu nampak sama sekalipun jaman terus beralih dan berganti. 

“Kau melembut.”

“Bukankah kau sama?”

Pria yang baru menginjak kepala dua itu menoleh. Menghasilkan kibasan kecil pada surai kuning panjangnya untuk menatap sosok rekannya di kehidupan lampau tersebut, sosok yang sibuk menerawang pada langit yang kini berarak menuju kelam.

“Jika tidak, aku pasti sudah menemukan beritamu meledakkan sesuatu.” 

Ia bergurau dan Deidara merengut karenanya. 

“Aku tak bodoh, un. Aku tahu aturan main yang harus aku jalani.” kini ia ikut membuang muka. Menatap langit yang hampir mendung sepenuhnya. “Aku juga punya keluarga yang entah kenapa bersikap baik padaku.” 

Sebuah senyum juga terulas, mengingat akan kehidupan baru yang ia jalani sekarang ini. Tak seperti dirinya yang dulu dibesarkan oleh desa, kini Deidara merasakan kasih sayang dari sosok bernama ayah dan ibu yang tak pernah ia rasakan dulu. Sekalipun pada kehidupan ini, mereka hanya hadir di kala pagi dan petang selain akhir pekan. 

Tanpa Deidara sadari, sosok di sebelahnya merasa kekosongan kembali hadir. 

“Syukurlah kalau kau hidup baik sekarang ini.”

Tepukan kecil dan ucapan itu diberikan tepat sebelum sosok itu berbalik. Meninggalkan Deidara yang kembali menatap punggung itu kembali. Sama seperti dulu. Sama seperti mereka yang biasanya.


Entah siapa yang memulai, namun atap kampus di lantai 3 seolah menjadi tempat dimana mereka berdua akan bertemu. Pada pukul dua siang, di Hari Senin, Rabu, dan Jumat. Tak ada yang menginisiasi, tak ada yang berujar secara verbal bahwa mereka akan bertemu di sana tiga kali dalam seminggu. Bahkan kadang tak ada percakapan yang tercipta, hanya hening dalam nyaman yang hadir dalam lima belas menit hingga setengah jam yang mereka habiskan. 

Hal yang Deidara tahu mengenai kehidupan baru Sasori, sosok tersebut , di kehidupan ini adalah ia hanya satu tahun lebih tua, namun berada di tingkat yang sama dengannya karena cuti yang ia ambil di tahun kedua. Mengambil jurusan sculpture dengan enam kelas yang tersisa. Satu di Hari Senin siang, dua di Hari Rabu, satu di Hari Kamis pagi, dan dua di Hari Jumat. Berbeda dengan Deidara yang masih memiliki sepuluh kelas di jurusan Keramik yang ia ambil.

Tak ada yang lain. Mungkin karena Sasori yang jarang bercerita dan Deidara yang memang terbiasa akannya. Mungkin Sasori masih membawa seluruh apa yang ia rasa dari kehidupannya dulu ke dalam kehidupannya yang sekarang, masih merasa menjadi yang tertua diantara mereka denga jarak yang cukup jauh yang tercipta. 

“Danna, kalau begitu, semester depan saat pameran dan kolaborasi jurusan kita, apa kau mau satu kelompok denganku?”

– dan bagi mereka, itu adalah awal segalanya.