Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandoms:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Series:
Part 16 of Gabut
Stats:
Published:
2022-03-19
Words:
396
Chapters:
1/1
Comments:
2
Kudos:
12
Hits:
227

Tired

Summary:

Keduanya bertemu dan berbagi lelah yang sama

Notes:

Jujutsu Kaisen © Gege Akutami

Work Text:

"Terluka lagi?"

Pertanyaan itu terdengar kala jarum jam menunjukkan tepat pukul sepuluh lebih dua lima. Waktu dimana Nanami begitu ingat bahwa akan ada seseorang yang membuka pintu rumah sewanya dan dengan arti lain bahwa seharusnya ia sudah tak berada di ruang tengah, membelit dirinya dengan perban setelah membasuh luka menganga di perut kirinya, namun sudah bersiap dengan catatan mengenai pekerjaannya esok di atas ranjang. 

"Ya. Bukan masalah."

Nanami memang berkata demikian. Bukan hanya karena ia tak ingin sosok itu mulai khawatir, namun juga ia yang tak ingin malam ini kembali panjang dengan seluruh nasehat yang sudah begitu ia hafal di luar kepala. 

"Kento tidakkah kau lelah?"

Pria itu mengesah. Meletakkan tas kerjanya di meja dan duduk bersila di hadapan Nanami yang berada di atas sofa. Menyandarkan kepala, tak ingin membalas tatapan kelam lawan bicaranya. 

"Kita sudah pernah membicarakan ini sebelumnya,  Higuruma- san. Walau aku tak menyukainya, kita berdua ta "

"Aku lelah." 

Perkataan Nanami terpotong dengan sebuah beban pada pahanya. Membuatnya menunduk. Menatap puncak jelaga yang kini bersandar padanya. Menutup pandang dari raut yang ingin ia lihat. Akan lelah yang dikeluhkan untuk pertama kalinya oleh pria yang sembilan tahun lebih tua darinya. Tak seperti biasanya, dimana pria itu akan memberinya wejangan dan mereka yang berakhir dengan percakapan panjang menuju tengah malam. 

Lalu hening menyelimuti. Jam berdetak mengejek. Dingin merasuk tanpa permisi yang terucap. 

Hingga akhirnya yang lebih tua mengangkat kepalanya. Menunjukkan senyum lelah pada wajah yang mulai muncul beberapa lipatan pertanda usia di sana. 

"Kita sama-sama lelah, tapi kita tak bisa berhenti, bukan?"

Jemari dingin itu naik. Merayap dari kumpulan otot dan daging yang masih berlapis celana bahan abu-abu. Meraba hingga ujung jemari menyentuh perban baru yang terlilit pada perut kekasihnya yang terbuka. 

"Kau belum mandi, bukan?"

Pertanyaan itu mengalun begitu saja, yang dibalas dengan gelengan kecil dari yang lebih muda. 

Dengan itu, kekasih Nanami, Higuruma bangkit. Mengusak kecil rambut pirang kekasihnya. Tersenyum kecil sebelum melangkah dan menghilang di balik dinding yang terhubung dengan tangga menuju lantai dua. 

– dan sebelumnya ia berkata, "Tunggulah sebentar. Aku akan menghangatkan air dan membantumu membasuh diri nanti."

Bagi Nanami, ada banyak yang ia syukuri sebab ia adalah sesosok manusia. Sekalipun ia berjuang dengan keras dalam kehidupan, terkadang ada setitik manis yang coba takdir tawarkan. Sehingga ia sama sekali tak keberatan untuk merasakan seluruh lelah yang menghajar tubuhnya setiap saat, sebab ia dapat berbagi lelah dengan yang terkasih ketika petang telah datang.


 

Series this work belongs to: