Actions

Work Header

Atau Mungkin Tidak

Summary:

Karena keduanya mungkin tahu, atau mungkin juga tidak.

Notes:

Genshin Impact © miHoYo, Shanghai Miha Touring Film Technology Co., Ltd

(See the end of the work for more notes.)

Chapter 1: Baskara

Chapter Text

Hari itu adalah hari biasa di Tavern. Penuh dengan orang-orang yang berbincang memenuhi malam dengan bau alkohol yang mengudara. Kau kemudian datang. Seperti biasa. Dengan sebuah sapaan ramah kepada semua orang yang dibalas dengan riuh sorakan yang ada.

Aku mendengus. Tipikal. Lalu kau yang melihatnya tersenyum miring menertawakan, namun bukan dalam artian yang buruk.

Seperti biasa, katamu dan aku tak menyahutinya. Membiarkanmu menumpukan dagu di atas kepalan tangan kanan. Memperhatikanku dengan seksama seperti biasanya.

Tentu saja, seperti biasanya. 

– dan sama seperti biasanya, aku akan mengabaikanmu ocehanmu sepanjang malam. Membuatmu akhirnya menyerah dan berpindah dari counter bar.

Kau mungkin tahu, atau mungkin tidak, bahwa aku masih memperhatikan setiap gerak gerikmu sekalipun tanganku penuh dan sibuk meracik satu minuman ke minuman lain. Netra ahmar ku menari seiring dengan satu dua dan beberapa orang yang silih berganti menemanimu sepanjang malam. Lalu kau mungkin tahu, atau mungkin tidak tahu, akan aku yang menyadari satu titik yang begitu menggangguku. 

Kakimu yang sedikit terpincang dan celanamu yang mengkhianati ucapan akan kau yang baru selesai berpatroli.

Hingga akhirnya aku hanya mendengus. Tipikal, namun kali ini aku begitu mafhum jika itu dirimu. 

Bahkan sebelum personalitasmu menjadi seringan sekarang, kau selalu menyembunyikan segalanya. Menyembunyikan luka di lututmu ketika kau terjerembab di dekat kebun anggur, menyembunyikan goresan di tanganmu sebab kau yang mencoba untuk memasakkan sesuatu untukku, menyembunyikan siapa dirimu yang sebenarnya.

Segala hal yang kau sembunyikan membuatku muak. 

Terkadang aku berpikir, adakah orang lain yang dapat membuatmu seterbuka koran di pagi hari? Atau setidaknya kau dapat menunjukkan seluruh terang kala siang layaknya terik sang baskara? Ataupun dingin dan buruknya permukaan candra di atas sana kala petang menjelang? Tidakkah kau pernah berpikir bahwa aku mungkin pantas untuk menjadi orang tersebut dibandingkan orang lain?

Atau mungkin tidak? Pikirku dan aku tertawa. 

Benar. Mungkin tidak. Aku bahkan hampir membunuhmu ketika kau mencoba untuk menunjukkan siapa dirimu sesungguhnya. Mencoba membuka dirimu layaknya koran pagi yang selalu ku baca.

Lalu ketika fajar hampir menyingsing, aku melihatmu yang tertidur di meja. Membiarkan permukaan kayu kotor bekas tumpahan arak orang-orang mabuk itu tertempel di pipi lembutmu itu. Ah, apa aku pernah mengungkapkan mengenai ini sebelumnya? Tentang aku yang menyukai saat-saat dimana aku dapat membelai wajahmu kala kau menjemput bunga tidur dengan damai?

Hari itu, aku tak membangunkanmu seperti biasa. 

Hari itu, aku meminta Charles, pegawaiku, untuk menyelesaikan sisanya. Membiarkanku menutup kedai minumku dan membawamu ke lantai tiga. Di ruangan yang selalu terkunci tanpa siapapun yang pernah masuk ke sana, kecuali kau dan aku pastinya.

Aku membaringkanmu di atas ranjang. Mencari baju ganti yang nyaman di satu-satunya lemari yang ada di sana. Sebuah lemari dengan empat baju dan celana yang tergantung di dalamnya, dua milikmu dan dua milikku. Mengambil salah satunya dan meletakkannya di sebelah dirimu yang kini tak menunjukkan tanda-tanda apapun untuk segera terbangun dan merengek padaku seperti biasanya. Memberikan beribu protesan dengan gumaman yang tak jelas terdengar. 

Kakiku lalu melangkah menuju kamar mandi dalam yang ada. Mengambil sebuah handuk dan ember berisi air sebelum akhirnya kembali padamu. Menatapmu yang masih terbaring dalam damai dan deru nafas teratur yang menemani. Membiarkan bulu matamu menyapu pipi atas dengan begitu cantik. Panjang dan lentik. Menghias rupamu dengan begitu apik.

Tanganku kini dengan telaten mencoba untuk melepas seluruh fabrik yang melingkupi dirimu. Mencoba untuk berhati-hati dan sesekali mengangkat tubuhmu yang entah hanya perasaanku saja atau memang demikian, terasa semakin ringan dari yang terakhir kali ku ingat. 

Sampai ketika aku melepas celanamu, aku menghela nafasku dengan penuh lelah yang kentara di sana. 

Benar saja, batinku. Paha kirimu terluka dan kau tak membalutnya dengan baik. Tak ayal langkahmu tampak pincang sedari tadi sekalipun kau coba tutupi. 

Aku merutuk seketika. Mengingat akan betapa ceroboh dirimu dan bagaimana kau sangat tak peduli dengan apa yang terjadi dengan dirimu sendiri, hal yang selalu membuatku ingin merutukimu. Padahal kau bisa saja pergi ke gereja dan meminta pengobatan di sana oleh Barbara, namun kau lebih memilih untuk menghabiskan malammu dengan alkohol begitu saja. Memuakkan.

Pada akhirnya aku membuka perban tersebut. Terkesiap kecil ketika melihat luka bakar yang tampak di sana. Menerka-nerka siapa yang kau hadapi hingga kau mendapatkan satu yang cukup buruk di tempat tersebut. Bahkan aku yakin jika kau tak akan berjalan dengan baik hingga dua hari ke depan. Terlebih jika kau tetap tak ingin mengobatinya seperti sekarang.

Aku kembali mengesah lelah. Kau memuakkan.

Kini ku memutuskan untuk menyelimutimu terlebih dahulu. Memilih turun untuk mencari antiseptik yang ada. Kembali ke atas dan membersihkan serta mengobati luka memuakkan mu itu. Membalutnya dengan perban baru yang memang selalu tersedia di laci nakas. Kemudian kembali pada niat awalku untuk mengganti pakaianmu.

Seluruhnya selesai. Akhirnya selesai.

Lalu kantuk ikut menerpaku. Membawaku mencari ruang di sebelahmu dan berbaring menghadap paras rupawanmu. 

Ada satu hal yang selalu aku ingin katakan ketika kita saling berhadapan satu sama lain dalam sebuah makna yang tak buruk. Aku ingin melihat mata kananmu, lagi. Untuk kedua, ketiga, dan seterusnya hanya jika kita berdua. Manik yang hanya pernah aku lihat sekali ketika aku hampir membunuhmu saat itu. Manik yang menghantuiku bertahun-tahun dan merundungku dengan rindu ketika aku berada jauh darimu.

Kini ibu jariku kembali lancang untuk membelai pipimu. Merasakan halus yang selalu ku ingat kala kau menyerahkan diri seperti sekarang ini. Kala kita tak terkekang oleh apapun itu, terutama oleh ego.  

Mengusapnya perlahan dan kemudian turun untuk membelai bibir bawahmu yang terbuka. 

Aku masih ingat rasanya, maksudku tentu saja mana mungkin aku akan lupa, kala kau menciumku saat itu. Kala malam di minggu kedua sejak kembalinya diriku. 

Kau tak sadar akannya, mungkin – atau mungkin tidak. Rasiomu penuh akan minuman keras yang kau tenggak saat itu. Kemudian berjalan sempoyongan menuju ke arahku ketika tak ada lagi siapapun di dini hari seperti sekarang ini. Menangkup wajahku kemudian mempertemukan kedua belah bibir kita dalam satu kecupan dalam. Lalu kau tak sadarkan diri setelah mengajak lidahku berdansa, meninggalkanku dengan rasa alkohol yang aku pikir bahwa aku tak begitu membencinya jika itu ku cecap dari oris milikmu.

Bibirmu lembut. Begitu lembut. Layaknya sebuah marshmallow dengan kualitas bagus yang tak langsung meleleh ketika masih ke dalam mulut. Memantul kecil, namun tetap meninggalkan manis itu di sana. Membuat dadaku selalu berdegup penuh deru ketika mengingatnya. 

Hingga kini aku hendak dengan lancang mencicipinya lagi. Memajukan diriku dan hendak membiarkan wajah kita bertemu, sebelum langit malam milikmu terbuka. Membiarkan jarak masih tersisa di antara kita.

“Diluc,”

“Maaf, lanjutkan saja tidurmu. Aku akan ke baw –”

Kau memotong ucapannku dengan kecupan itu. Membiarkanku kembali mewujudkan hal yang menggangguku setiap malam yang datang. Terpikirkan akan seluruh rasa yang tersisa dalam setiap permukaan yang lidahku kini jelajahi. 

Masih manis. Masih begitu manis seperti yang terakhir ku ingat. Masih begitu manis seperti buah anggur pertama yang ku petik bersamamu dengan berbagai crystalflies di antara kita di sebuah siang yang terik di tengah musim panas dengan tawamu yang mengudara bebas.

Ketika kita saling mencumbu, aku menatapmu. Membiarkan crimson ku menatap manik kirimu yang jua terbuka layaknya sebuah langit malam dengan satu lintang yang begitu terang di sana. Begitu cantik hingga tak ada lagi kata yang dapat menggambarkannya.

 – dan jemari cempalaku kini menyapa penutup mata kananmu, hingga kau terperanjat dan mendorongku. Menciptakan jarak yang kembali hadir di antara kita.

“Kaeya,” aku memanggilmu. Tersirat nada memohon yang begitu kentara. Rasa inginku di pagi buta ini seolah menghapuskan seluruh ego yang ada di kepala. Merendah, demi siang dan sang baskara yang akan kembali ku lihat untuk kedua kalinya.

“Kau akan menyesalinya.”

“Aku tidak.”

Kataku dan kau tertawa dengan seluruh sarkasme yang kau punya. Mengejek akan kisah lampau yang kita berdua sama-sama tahu akan kejadian yang menimpa.

“Katakan itu pada sosok yang pergi setelah mengetahui semuanya.”

“Kau harusnya lebih marah akan aku yang hendak membunuhmu saat itu.” ucapku. Mengatakan sesuatu yang begitu aku sesali karena pernah melakukan itu padamu. Akan tetapi kau menarik ujung bibirmu dan sayangnya itu merupakan senyum masam penuh kepedihan yang ada.

“Aku lebih berharap kau membunuhku saat itu.”

Jam dinding mengisi kekosongan. Melakukan tugasnya seperti biasa dalam mengolok kita. Menertawakan akan versi dewasa dirimu dan diriku saat ini yang bahkan tak sempat untuk memiliki satu detik pun waktu yang terbuang dalam bisu saat kita kecil dulu. 

“Aku benar-benar menyesal akan itu. Kau tahu kan jika saat itu –”

“Kau sedih? Karena kehilangan ayahmu? Apa kau pikir bahwa saat itu aku bahagia? Layaknya melihat orang tua yang dengan mudahnya ditipu seorang anak yang ditinggalkan begitu saja sebagai mata-mata?”

Aku melihat jemarimu mengepal. Kau tak menunduk. Masih mempertahankan tatapanmu yang begitu terluka itu padaku.

“Ayahmu sudah ku anggap sebagai ayahku sendiri. Kala itu aku sedih. Sama sepertimu, tentu saja. Tapi kau tahu apa yang lebih membuatku sedih saat itu, Luc?”

Aku yang pergi.

“ – kau yang juga pergi. Membuatku tak memiliki siapapun lagi.” 

Kini aku melihatmu menarik nafas. Mencoba untuk menenangkan dirimu sekalipun aku dapat melihat badai tengah berlangsung melalui manik malammu itu.

“Hingga aku melihat sebagian besar orang-orang di Mondstadts bersedih karenanya dan aku akhirnya berpikir bahwa mungkin aku akan menggantikan dirimu di sana sebagai bayaran dibandingkan aku yang membunuh diriku saat itu juga.”

Kau tertawa kecil, mencoba menyembunyikan tetesan air mata yang jatuh membasahi sprei putih di bawahmu ketika kau menunduk.

“Saat kau pergi aku seperti mati. Hidup melupakan tujuan awalku dan memiliki tujuan yang hanya ditujukan untuk dirimu. Lalu kau tahu, Luc?” Kau meremat fabrik dalam genggamanmu. Begitu erat. Menampilkan kusut kentara di sana.

“Ketika kau kembali, beban akan kesalahan diriku yang tak mati saja hari itu, akhirnya terangkat.” 

Kau mendongak. Menunjukkan senyum baik di bibir beserta kelopak matamu. Senyum akan seluruh kepasrahan yang kau punya. Senyum akan suatu hal yang begitu menyedihkan dan juga memuakkan bagi dirimu karena kau ingin tertawa karenanya.

“Lalu ketika kau kembali, aku sudah bersiap dengan seratus enam puluh delapan calla lily dan small lamp grass di ujung bukit seberang sungai dekat dengan Dawn Winery, namun Barbatos seolah tak mengijinkanku. Lucu, bukan?”

Kau tertawa. Layaknya kalimatmu akan sebuah rencana bunuh diri yang gagal adalah sebuah guyonan semata. Hingga tanpa ku sadari kini rahangku mengeras. Menggertakkan gigi dalam diam yang masih ku coba pertahankan. Tak ingin jika aku kembali melepas murka yang ada dan melukaimu untuk yang kesekian kalinya. 

“Padahal aku bukan anak Mondstadts, namun dia seolah menyukaiku sebegitunya.” Kini kau tampak lebih tenang, namun netra itu masih layaknya melawan badai yang ada. Perang dalam rasio yang begitu bising dalam kepala.

“Ia memainkan Fireside rest untukku yang hanya bisa tersenyum dan menutup mata. Membiarkan dinginnya air mengguyur seluruh akal sehatku.” Kau kini menggenggamku. Membiarkan jemari kita saling terkait akan satu sama lain. “Saat itu aku berpikir bahwa kehilanganmu untuk kedua kalinya akan benar-benar membunuhku, sehingga malamnya aku  datang ke sini. Mabuk hingga tak sadarkan diri, namun menciummu dengan seluruh kewarasan yang ada. Aneh memang, namun memang begitu adanya.”

“Jadi, Luc. Aku –”

Pagi itu, kalimatmu tak usai. Aku memukul tengkukmu dengan dalih memelukmu. 

Aku membuatmu tak sadarkan diri. Aku kini mengisi pagi itu dengan menangis sendiri. 

Aku – tahu bahwa aku tak akan memaafkan diriku setelah semua kisah yang ku dengar pagi ini.