Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Series:
Part 1 of Over the Moon
Stats:
Published:
2022-03-17
Words:
1,219
Chapters:
1/1
Comments:
9
Kudos:
49
Bookmarks:
4
Hits:
380

Over the Moon

Summary:

Renjun masih percaya cerita soal kelinci bulan yang menumbuk kue beras. Namun, ia lebih suka membuat cerita versi dirinya sendiri. Dan kali ini Jaemin turut serta.

Notes:

Fic ini saya buat untuk event Pelanginya Renjun yang diadakan jaemrentalk

[Day 1; mint]

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

Menginjak usia 17 tahun, Renjun masih percaya adanya kelinci bulan yang menumbuk kue beras, pun pada cerita mama tentang mendengar lonceng yang berarti jodoh kita di masa depan ada di sekitar kita. Untuk yang kedua, rasanya Renjun tengah mengalaminya saat ini. Kedua indera pendengarannya menangkap suara genta angin seperti di rumah nenek.

Kepalanya celingukan. Sebab, saat ini Renjun tengah bersembunyi dari keramaian di belakang gedung C sekolah, siap melanjutkan gambarannya pada batu-batu kali yang ia pungut saat liburan musim panas lalu. Tidak ada siapa pun di halaman belakang gedung kecuali dirinya. Renjun yakin, tidak akan ada yang mendekat mengingat kantin sekolah lebih menarik daripada tempat persembunyiannya saat ini.

Renjun yakin itu, Renjun yakㅡ

"Huang Renjun?"

Ah, Renjun salah.

Tapi, saat ini Renjun lebih menyalahkan cerita mama tentang suara lonceng dan jodoh yang ia dengar saat usianya 7 tahun yang demi apapun kenapa malah semakin teringat saat ada Na Jaemin berdiri di hadapannya?

"Lagi ngapain?"

"Huh?"

Ketua kelasnya itu ikut berjongkok di hadapan Renjun. Melarikan pandangannya pada beberapa batu yang sudah diberi warna dan gambar.

"Kamu yang bikin?"

"O-oh, iya."

"Mau bikin apa?"

Renjun jadi teringat tujuannya sebelum suara genta angin sialan itu menyapa telinga dan berakhir mengganggu pikirannya.

Sebuah kehidupan di luar angkasa, seperti yang Renjun pikirkan selama ini.

"Kelinci?"

"Kelinci bulan," jawab Renjun. Ia berusaha mengabaikan eksistensi Jaemin dan mengambil sebuah batu tipis juga palet dan beberapa cat warna yang akan ia tuangkan seperlunya ke atas palet.

"Mau gambar apa?"

"Lumpang buat kelinci bulan numbuk kue beras."

Suara kekehan kecil membuat Renjun mengalihkan pandangan. Ia tatap sinis lelaki penyumbang tawa yang sedikit menyakiti hatinya saat ini.

"Kalau mau ngetawain mending pergi aja," ucap Renjun sinis. Ia kembali menumpuk fokus pada batu di tangannya.

"Sori, aku nggak bermaksud buat ngejek. Aku ketawa soalnya lucuㅡlucu bukan dalam artian negatif maksud aku, jadi lucu yangㅡ"

"Iya, paham."

Jaemin menggaruk tengkuk yang tidak gatal, salah tingkah. Mood si kecil di hadapannya sedang tidak baik dan itu karena dirinya. Lalu Jaemin lebih memilih untuk diam selama beberapa menit. Ia perhatikan satu-satu batu yang sudah diwarnai dan digambar.

Ada banyak sekali hasil karya yang Jaemin yakini jika Renjun sendiri yang membuatnya.

Ada beberapa batu diberi gambar planet-planet dengan warna yang tidak seperti aslinyaㅡhampir semuanya berwarna-warni yang menurutnya Renjun sengaja berikan sesuai imajinasi laki-laki itu. Ada juga tiga buah roket, beberapa bintang, dan sebuah batu yang paling besar tapi Jaemin tidak yakin gambar apa itu.

"Ini planet jupiter ya?" Jaemin bertanya setelah hampir lima menit keduanya terdiam.

Renjun melirik sekilas melihat batu yang Jaemin pegang. "Bukan. Itu bulan."

Kening Jaemin mengernyit. Yang benar saja? Kalau Jenoㅡsi anak klub astronomiㅡtau ini, pasti sudah marah-marah karena tahu Renjun membuat bulan lebih besar dari saturnus. Bahkan anak SD juga akan menertawakan Renjun. Tapi pada akhirnya, Jaemin memilih diam.

"Mana, bawa sini semuanya," pinta Renjun yang langsung dituruti Jaemin.

Renjun menata batu-batu karyanya sembarangan, dengan posisi Bulan berada di tengah. Di samping kanan bulan ada kelinci yang sejak awal menarik perhatian Jaemin, juga sebuah batu bergambar bulatan berwarna kuning dengan mata yang hanya menyerupai sebuah noktah cukup kecil dan ditambah lengkungan mirip bibir, seperti wajah sedang tersenyum yang Jaemin sendiri tidak tahu sebenarnya gambar apa itu. Seperti matahari karena berwarna kuning, tapi tidak mungkin.

"Ini injeolmi, kue beras pertama yang ditumbuk kelinci Nanaㅡ"

"Nana?"

Renjun mengangguk. "Nama kelinci bulannya Nana."

Perut Jaemin mendadak berisi beberapa kupu-kupu yang sedang berterbangan ke sana-kemari. Nana ya?

"Injeolmi nggak akan dimakan siapapun. Kelinci Nana yang minta ke Dewi Luna biar Injeolmi jadi teman Kelinci Nana. Sebagai gantinya, Dewi Luna minta Kelinci Nana buat numbuk kue beras setiap hari tanpa berhenti."

"Capek dong?"

"Konsekuensi. Kelinci Nana juga nggak keberatan soalnya ada Injeolmi."

"Injeolmi bantu?"

Hhhhhh, "enggak, cuma lihat aja."

"Kita ubah aja deh ceritanya."

"Mana bisa?!" Renjun mendelik menatap Jaemin yang saat ini memilih duduk di sebelahnya.

"Bisa dong, lagian ini semua kan juga cerita karangan kamu aja." Jaemin menaik-turunkan alis sebelum meraih batu yang belum tersentuh cat dan kuas. Menggambarkan sesuatu di sana.

Sebuah kepala anjing putih dan beruang.

"Catnya masih basah, jangan dipegang." Jaemin memukul pelan tangan Renjun yang terulur hendak mengambil hasil karyanya yang tidak seberapa itu.

"Kenapa gambar anjing sama beruang?"

"Buat nemenin kelinci Nana dong. Yang ini namanya Nono puppyㅡ" Jaemin diam sebentar, mengamati ekspresi Renjun yang mengernyitkan dahinya tidak suka. "Ini Haechi bear."

Kerutan di dahi Renjun semakin dalam. "Jeno sama Haechan?"

Jaemin mengangguk.

"Kenapa?"

"Kan temen aku. Biar mereka yang jadi temen kelinci Nana. Injeolmi pensiun aja deh."

"ENAK AJA!"

Tawa Jaemin menguar saat mendengar sahutan tidak setuju dari bibir si kecil.

"Injeolmi biar di sini aja," ia pindahkan batu kue beras warna kuning ke dekat sebuah planet yang ia yakini adalah saturnus meski warnanya ungu dan krem yang dibuat seperti kelereng. "Biar lihat kelinci Nana dari jauh," ujar Jaemin sambil tatap lekat netra rubah milik Renjun yang juga tengah menatapnya. "Kaya kamu, yang selalu liatin aku dari jauh,"

"soalnya aku juga begitu, Renjun."

"Kelinci Nana itu aku, kan?"

Renjun mengalihkan pandangannya. "Sok tahu. Awas mau aku beresin." Jemarinya hendak meraup batu warna-warni yang berserakan di hadapannya sebelum pergelangan tangannya dicekal Jaemin.

"Siapa lagi cowo paling keren yang pakai hoodie warna mint ke sekolah kalau bukan ketua kelas kamu ini?"

"Aduh, percaya dirimu itu lho."

"Sejak kapan ada kelinci digambar pakai baju warna mint?"

"Sejak aku yang gambar."

"Kamu ngelak terus ih, aku cium nih."

Jaemin tertawa terbahak-bahak melihat wajah merona Renjun.

"Jadi bener kan, itu aku? Terus, Injeolmi itu kamu?"

".........ya."

"Kalau suka sama aku kenapa nggak coba ajak ngobrol? Kamu lebih banyak diem kalau aku deketin."

"Ya malu lah, apalagi."

Suara tawa Jaemin terdengar semakin menyebalkan.

"Ohooo ternyata kamu udah lama naksir aku ya."

"Jaemin! Berhenti ngejek aku!"

"Oke oke, maaf ya, Injeolmiii. Sekarang kita bikin cerita baru."

"Apa lagi sih?"

Jaemin mengambil batu bergambar kelinci Nana dengan baju warna mint, Injeolmi kuning, Nono puppy, dan Haechi bear. Menatanya di atas batu besar yang Renjun anggap sebagai bulan dengan kelinci Nana dan Injeolmi di tengah, serta dua lainnya berada di sisi kanan.

"Injeolmi siap? Kita bakal melakukan misi."

"Misi apa?"

"Minta izin ke Dewi Luna buat nggak cuma jadi teman numbuk kue beras, tapi jadi teman hidup. Nono sama Haechi udah siap jadi saksi."

"Sinting." Pipi Renjun kembali memanas.

"Sebentarㅡ" Jaemin membuat sebuah noktah berwarna merah di kedua sisi wajah batu Injeolmi. "Mirip kamu sekarang, pipinya merah."

Na Jaemin benar-benar sinting!!!

 

 

 

"Kamu tau dari mana kalau aku di belakang gedung C?"

"Aku juga suka sama kamu ya, jadi aku tau banyak soal kamu apalagi cuma tempat kaburmu waktu istirahat."

"Ck!"

"Haechan yang bilang. Dia minta aku nemenin kamu gara-gara kamu nggak mau diajak main futsal."

"Ah, dasar Haechan! Padahal aku udah biasa sendiri juga."

"Sekarang nggak akan lagi. Injeolmi sama kelinci Nana kan udah janji bakal terus sama-sama sehidup semati."

"Jaemin!"

Jaemin kembali terbahak.

"Kamu bilang, kamu juga suka sama aku. Sejak kapan?"

"Masa orientasi. Kamu bakal percaya nggak, kalau aku bilang waktu orientasi aku kaya denger suara lonceng angin, terus waktu aku noleh ke arah kamu, bibirku naik sendiri. Aku ternyata senyum lebar banget. Dunia di sekitar aku kaya berhenti, aku ngerasa terbang ke bulan waktu lihat cowo kecil manisㅡ"

"Stop. Kamu berlebihan banget."

"Aku serius."

"Iya, tapi berhenti aja ah. Aku nggak mau denger lagi, geliii."

"Kamu nggak mau tau lanjutannya? Waktu kita sekelasㅡ"

"STOOOP NGGAK MAUUU."

"Renjun! Injeolmi!"

"JAEMIN STOOOOP."

 

ㅡfinㅡ

Notes:

Halooo

Ide ini udah dari lama ada tapi baru saya tulis. Alurnya kerasa buru-buru banget soalnya baru sempet ditulis jam 9 tadi. Semoga tetap ada yang suka hihi

Ini ngejar waktu mumpung belum lewat hari, saya pikir yg penting dipost dulu(ᗒᗩᗕ)

Series this work belongs to: