Work Text:
Renjun tidak mengerti mengapa manusia gemar sekali mengatakan hal buruk soal orang lain tanpa melihat ke dalam diri mereka terlebih dahulu. Maksudnya adalah manusia-manusia yang baru saja ditemuinya dalam perjalanan ke belekang gedung Cㅡtempat persembunyiannya, dan beberapa manusia lain yang akhir-akhir ini sering mengganggunya dengan ucapan mereka.
Ada perasaan ingin memaki di dalam diri Renjun, tapi urung ia lakukan. Alasannya, ia tidak tahu cara untuk memaki. Alih-alih, ia akan berbicara sehalus mungkin dengan diawali kata 'maaf' seolah dirinyalah yang bersalah dengan tampang memelas seperti anak kucing yang meminta makan.
"Hei."
Renjun mendongak melihat Jaemin datang membawa dua mi dadak di kedua tangan. Satu cup mi diletakkan di hadapannya saat Jaemin mengambil tempat duduk di sebelah kanannya.
"Ada apa dengan wajahmu?" Jaemin bertanya sembari mengeluarkan dua buah sosis dan dua soda dari dalam kantong hoodie.
"Memang kenapa wajahku?"
"Kamu marah?"
"Tadinya."
"Sekarang kayaknya masih, tuh. Ada apa?"
Helaan napas panjang keluar dari dua bilah bibir Renjun yang terbuka. "Mereka mengataiku, lagi."
"Mereka siapa?"
"Orang-orang tanpa perasaan."
"Kamu ngomong apa, sih?"
Jaemin tampak mengernyit bingung. Renjun sendiri bimbang akan menceritakannya kepada lelaki di sampingnya ini atau tidak. Ia takut Jaemin tidak akan mengerti.
"Aku nggak akan makan minya sebelum kamu cerita."
Renjun menunduk. "Mereka bilangㅡaku nggak tahu siapa nama mereka, aku aneh. Orang nggak jelas dan nggak punya teman. Katanya juga, aku sombong karena punya nilai bagus. Terus, tadi waktu bantu ngambilin buku mereka yang jatuh aku dibilang sok baik, cari muka."
Renjun melihat reaksi Jaemin. Lelaki itu diam saja, tapi ada kerutan di dahinya.
"Kebanyakan dari mereka selalu bisik-bisik tapi sengaja dikencengin tiap aku lewat, kata mereka, aku terlalu dekat sama kamu, dan mereka nggak suka itu."
"Oke, karena kamu sudah cerita, aku mau makan mi dadaknya. Tapi," Jaemin menjeda ucapannya dan menatap Renjun. "Aku mau makan di bulan. Dan kamu harus ikut."
Kedua alis Renjun bertaut. Ia tidak paham dengan ucapan Jaemin. Ah, Renjun juga kesal karena Jaemin tidak menanggapi ceritanya.
"Sini, genggam tangan aku."
Jaemin mengulurkan tangan kiri dengan jemari terbuka. Menunggu Renjun meraihnya sebelum ia menautkan jari-jari mereka.
"Agen Aries sudah siap? Misi pendaratan ke bulan akan dilakukan dengan pesawat ulang-alik Polaris 427. Tapi sebelum pesawat lepas landas, tolong pejamkan mata Anda karena Agen Leo juga akan melakukannya."
Jaemin menoleh ke arah Renjun yang tampak kebingungan.
"Pejamin mata kamu."
Renjun menutup kedua matanya setelah Jaemin kembali menghadap ke depan dan memejamkan mata.
"Polaris 427 akan lepas landas dalam sepuluh, sembilanㅡ"
"Jangan lama-lama, Jaemin."
"Ssstt dilarang berisik." Jaemin menyahut lalu melanjutkan. "Lima, empat, tiga, dua, satu, perjalanan ke bulan dimulai."
Jaemin membuat suara aneh yang membuat Renjun terkekeh geli.
"Kita telah melewati atmosfer, sampaikan salam sampai jumpa untuk penduduk bumi."
Renjun mengikuti alur cerita Jaemin. Lama-lama ia jadi bisa membayangkan bahwa mereka tengah berada di dalam pesawat luar angkasa yang hanya pernah ia lihat dari layar ponselnya. Membayangkan ia dapat melihat meteorit, bintang, dan planet-planet dari jendela pesawat.
"Ada benda langit menuju pesawat kita!"
Tubuh Renjun tiba-tiba oleng ke kiri karena dorongan badan Jaemin. Ia tertawa. Khayalan Jaemin benar-benar menyenangkan baginya.
Renjun kembali membayangkan perjalanan keduanya ke luar angkasa. Mereka telah pergi sangat jauh dari bumi. Dan, KE BULAN! Kebahagiaan rasanya seperti bom yang meledak di dalam hati Renjun. Ia merasa sangat senang. Seperti saat pertama kali papa dan mama mengajaknya pergi ke Everland, menaiki berbagai wahana yang menambah buncah di hatinya, perasaan itu kembali datang.
"Dalam waktu kurang dari tiga puluh detik, kita akan mendarat di bulan. Kita bisa melepas genggaman tangan untuk bersiap."
Bukannya melepas genggaman seperti yang Jaemin katakan, Renjun justru semakin erat menggenggam jemari Jaemin. Ia tidak ingin semua ini berakhir.
"Kita sudah berhasil mendarat di bulan dengan selamat. Sekarang, waktunya kita keluar dan menikmati mi dadak sebelum mengembang."
Renjun kembali terkekeh mendengarnya.
"Buka matamu, Renjun. Kita udah di bulan," Jaemin berbisik tepat di telinganya.
Perlahan, kedua mata Renjun terbuka.
"Kita di bulan. Kamu lihat yang di sana?" Jaemin menunjuk sebuah batu cukup besar di dekat kolam ikan yang sudah kering. "Itu bumi. Kita udah jauh dari bumi. Cuma kita berdua, manusia bumi yang ada di sini."
Renjun menoleh menatap Jaemin yang kini tersenyum padanya. Senyum itu menular.
"Ini kan, yang kamu mau? Makan di bulan sambil lihat bumi. Tapi, sekarang nggak ada daging. Jadi, kita makan mi yang udah ngembang aja, ya." Jaemin meraih mi milik Renjun dan memberikannya kepada si empunya. Ia juga mulai mengaduk miliknya sebelum menyantapnya.
"Minya jauh lebih enak dimakan di bulan, kan?"
Sebuah anggukan Jaemin terima sebagai jawaban. Ia membuka sebungkus sosis untuk diberikan kepada Renjun yang tengah lahap menyantap mi.
"Kalau suasana hati lagi nggak baik, memang paling enak makan. Tapi, pelan-pelan aja Renjun, nggak ada yang mau ambil mi kamu, kecualiㅡ kelinci Nana! Kamu lihat yang di sana? Itu kelinci Nana lagi numbuk kue beras, di sebelahnya ada Injeolmi. Kita harus makan dengan tenang biar mereka nggak ke sini dan minta mi kita."
Jaemin tidak percaya dengan apa yang baru saja ia katakan. Ia merasa heran dengan dirinya sendiri karena bisa membuat skenario pergi ke bulan, mengatakan beberapa hal di sekitar mereka sebagai bumi, kelinci Nana, juga Injeolmi. Jaemin berpikir yang dilakukannya sedikit kekanakan. Tapi, ia tidak menyesal setelah melihat pipi Renjun yang naik. Hanya lelaki kecil ini yang menyantap mi dadak yang sudah mengembang sambil tersenyum.
Jaemin masih menunggu Renjun menghabiskan sekaleng sodanya. Tangannya terulur untuk menghapus jejak kuah mi dan air soda di sekitaran bibir Renjun dengan tisu.
"Berpikir sebaliknya," ucap Jaemin tiba-tiba. Sadar akan kebingungan Renjun, Jaemin melanjutkan. "Soal perkataan orang lain."
Jaemin menoleh menatap Renjun yang diam, masih menyimaknya. "Kalau mereka bilang kamu aneh, pikirin aja waktu kamu minum teh. Orang aneh lebih suka minum minyak goreng daripada teh."
Tawa Renjun menguar. "Minum minyak goreng itu bukan hal biasa, Jaemin."
"Maka dari itu, apa yang kamu minum kan hal yang biasa, jadi kamu nggak aneh."
Oke…
"Kalau mereka bilang kamu nggak punya teman, ingat saja si Zhong Chenle. Kamu bahkan berteman sama selebriti yang terkenal banget itu."
Ya…
"Kalau mereka nggak suka lihat kamu dekat dengankuㅡ"
"Apa?" Renjun menunggu.
"Aku bakal buat mereka selalu lihat kita ada di dekat satu sama lain."
Renjun mengerjap. Sekali, dua kali, tiga kali, berharap Jaemin melanjutkan ucapannya dan mengatakan hal lain yang membuat jantungnya berdetak kembali normal. Tapi kedua bibir Jaemin terkatup.
"Kamu nggak ngerti, Jaemin."
"Aku ngerti. Kamu pikir aku nggak pernah dikatai macam-macam?"
Hampir tiga bulan dekat dengan Jaemin, Renjun baru tahu fakta satu ini. Karena yang Renjun tahu, Jaemin adalah siswa populer dengan banyak penggemar. Ke mana pun Jaemin melangkah akan ada bisik-bisik dan pekikan riang, bukan bisik-bisik seperti yang Renjun terima.
"Aku sering dengar mereka mengataiku sok keren, anak mama, dan tampangku biasa saja."
Renjun ingin menyangkal, karena semua yang orang lain katakan soal Jaemin itu salah.
"Saat dengar kata sok keren, aku selalu ingat waktu diriku berhasil melakukan three point shot dan bikin timku menang, atau saat berhasil ngalahin Jeno waktu kami bersepeda di jalan menanjak."
Renjun mengangguk setuju. Jaemin tidak sok keren, tetapi memang keren. "Kamu juga bukan anak mama. Kamu bisa melakukan banyak hal sendiri."
"Hm-hm. Itu juga yang aku pikirin." Jaemin tersenyum.
"Lalu kalau wajahmuㅡ"
Kali ini Jaemin yang menunggu Renjun menyelesaikan ucapannya. Ditatapnya wajah lelaki yang telah mencuri perhatiannya sejak masuk menjadi siswa menengah atas.
Renjun salah tingkah saat kedua matanya tidak sengaja menatap sepasang netra mirip rusa milik Jaemin. Ia mengalihkan pandangan ke batu di dekat kolam.
"Tampan," ucap Renjun lirih.
Aaaaaa Mama, Renjun ingin pulang!
Jaemin terkekeh. Ia larikan tangan kirinya ke belakang kepala Renjun dan mengusapnya beberapa kali.
"Terima kasih, aku tahu aku memang tampan. Makanya sekarang aku selalu abaikan omongan orang lain yang nggak sesuai fakta itu," ujar Jaemin. Tangannya beralih pipi kanan Renjun. Ia usap lembut dengan ibu jarinya. "Jadi Renjun, aku harap kamu jangan pernah hiraukan omongan orang lain yang buat hati kamu nggak tenang, yang bakal ngejatuhin kamu."
Renjun mengangguk. Ia masih tidak berani menatap Jaemin dan membiarkan lelaki itu terus mengusap pipinya.
Sampai akhirnya, "Tapi, kamu harus ngomong sama aku kalau ada yang bilang nggak suka lihat kamu dekat aku. Nanti aku cium kamu di depan mereka."
"Dasar sinting!"
Jaemin tertawa. Ia berpura-pura kesakitan saat Renjun memukul lengan kirinya. Saat ini Jaemin menemukan hobi baru selain bersepeda. Menjahili Renjun. Reaksi lelaki itu sangat menggemaskan.
Trip ke bulan dengan Polaris 427 hampir berakhir. Keduanya bersiap untuk kembali. Jaemin kembali mengulurkan tangan kirinya dan kembali disambut Renjun. Jaemin tersenyum melihat Renjun memejamkan mata tanpa ia minta.
"Polaris 427 bersama Agen Leo dan Agen Aries telah menyelesaikan urusan di bulan. Perjalanan kembali ke bumi akan dilakukan dalam sepuluh, sembilan, delapanㅡ"
Misi berhasil. Si kesayangan tidak lagi muram. Bonus wajah merah lucu milik Renjun karena Jaemin benar-benar mencium pipinyaㅡmeski tidak di hadapan orang lain, saat ia menyelesaikan hitungannya.
Jaemin segera memungut sampah bekas mi dadak, sosis, dan kaleng soda yang sudah habis untuk ia buang bersamaan dengan dirinya yang berlari meninggalkan belakang gedung C dan Renjun yang meneriakkan namanya. Jaemin bisa mengerti keterkejutan Renjun karena ini kali pertama mereka. Namun untuk berikutnya, Jaemin akan menagih Renjun untuk melakukan hal yang sama.
Satu hal yang Jaemin lupa, soal keinginan Renjun untuk makan daging di bulan sambil melihat bumi, Jaemin tidak sengaja membacanya saat meminjam buku catatan matematika lelaki itu. Jaemin akan mengatakannya nanti saat Renjun berhasil menangkapnya.
ㅡfinㅡ
