Chapter Text
Suatu pagi yang cerah, di sebuah komplek perumahan, terdapat SMA yang luas nan megah. SMA itu bernama Teyvat High School. Salah satu SMA swasta yang sangat berprestasi. Karena prestasinya itu, SMA ini menjadi salah satu SMA yang terkenal satu negara.
Namun itu hanyalah sekedar apa yang orang awam tahu, di komplek perumahan tempat SMA ini berada, SMA ini terkenal dengan anak-anaknya yang sengklek nan ajaib.
Namaku Aether, aku salah satu murid yang sekolah di Teyvat High School. Lebih tepatnya aku ada di kelas 11 IPS 1. Aku memiliki kembaran perempuan yang lahir beda lima menit dariku, namanya Lumine. Dia juga sekolah di Teyvat High School dan ada di kelas 11 IPS 2. Dia anaknya baik kok, cuman emang suka rada-rada kalau udah ngomongin kipop bareng teman-teman sebangsanya. Kemudian aku juga punya kakak, namanya Dainsleif, dia merupakan salah satu guru di Teyvat High School. Tampangnya memang tampang satpam, tapi hatinya bak hati Hello Kitty. Kak Dain itu orangnya sabar pake banget-nget-nget, karna kalau nggak sabaran, pasti Teyvat High School udah dia bakar.
Sekali lagi, namaku Aether, dan sekarang aku akan menceritakan kejadian konyol yang terjadi di sekolah tercintaku ini.
Jam menunjukkan pukul 05.40 di pagi hari dan aku sudah ada di sekolah. Kenapa kok pagi-pagi sekali sudah ada di sekolah? Padahal jarak dari rumah ke sekolah sebatas keluar rumah belok kiri sampai ke pertigaan belok kiri kemudian lurus sampai mentok alias tinggal ngesot juga sampai? Jawabannya itu mudah, karena aku mau menempati (baca: menjajah) kursi yang dekat dengan stop kontak. Hal ini akan mempermudah hidupku dalam ngecas HP saat dibutuhkan.
Seperti yang aku bayangkan, sekolah masih sepi. Ketika di rumah, jangankan Lumine, Kak Dain yang biasanya bangun lebih awal dariku pun menatapku aneh begitu melihat aku sudah siap masuk sekolah lebih duluan dari dia. “Kesambet apa kamu sampai jadi rajin begini?” Pertanyaannya hanya kujawab dengan cengengesan andalanku. Intinya aku menghindari pertanyaan Kak Dain.
Kembali ke sekarang. Aku menempati kursi yang teman-teman sekelasku setuju kalau itu memang tempat andalanku. Karna sekolah masih sepi, bahkan kak Dain dan Lumine saja masih di rumah, dan lampu di depan kelas masih menyala. Aku memutuskan untuk melipat tangan di atas meja dan tidur sambil menunggu bel masuk.
“…Ther,”
“…Aether,”
“Aether bangun,”
Aku sontak terbangun begitu mendengar suara khas dari seseorang yang paling aku takuti kalau udah marah. Benar saja, orangnya udah ada di depan muka. Muka Kak Dain tetap datar melihat aku bangun dari tidur pulasku, untungnya dia tidak marah. “Hehe, maaf Pak,” Kalau di sekolah, sudah otomatis aku panggil Kak Dain dengan sebutan pak untuk formalitas, meski kadang aku masih suka keceplosan memanggil kak di kelas.
Begitu Kak Dain berputar badan dan berjalan menuju meja guru, aku langsung mendelik ke arah teman sebangkuku yang sedang menahan tawa. “Heh, bukannya bangunin malah dibiarin,” Teman sebangkuku—yang tidak lain dan tidak bukan adalah si badut bule nyasar ke senayan alias Childe alias Tartaglia alias Ajax.
“Ya abisnya lu pules bener tidurnya, gue kan jadi gak tega buat bangunin,”
“Halah, sok baik kau, buktinya barusan mau ketawa,”
Dan terlepaslah tawaan membahana Childe yang berhasil membuat satu kelas sport jantung. Di tengah tawaannya yang membahana nan menggelegar itu, ada sebuah spidol yang melayang dan mendarat tepat di jidat si badut bule nyasar ke senayan itu.
BLETAK
“ADUH!”
Childe mengusap jidatnya yang habis dicium dengan mesra oleh spidol tadi sambil meringis. “Childe, atur volume suaramu itu.” Titah Kak Dain yang sudah mengeluarkan aura hitam pekat di sekujur tubuhnya, mukanya pun berubah mejadi sepuluh kali lebih garang dari biasanya. “Yah Pak, masa saya ketawa dilempar spidol tapi Aether tidur dibanguninnya baik-baik?”
“Kamu diam sekarang juga atau saya suruh kamu berdiri di lapangan?”
“Eh iya Pak, maaf,”
Setelah percakapan itu satu kelas berusaha menahan tawa, termasuk aku. Childe memicingkan matanya ke arahku dan mendengus sebal. Aku pun menutupi kepalaku dengan jaket untuk meredakan suara tawa. “Puas kau ketawa,” Aku menganggukkan kepalaku sambil menyengir ke arah Childe yang masih panas dengan hal yang baru saja terjadi.
Kak Dain pun berdehem sambil menaruh jurnal kelas dan buku daftar hadir di atas meja kembali, tanda-tanda dia ingin berbicara. “Sebelum pelajaran dimulai, seperti biasa saya mau menanyakan keadaan kelas. Gimana kemarin? Tidak ada masalah kan?”
Seluruh siswa-siswi di kelas sontak menggelengkan kepala. Kak Dain memanggutkan kepalanya sebelum akhirnya bertanya lagi. “Gimana kalau kamu, Childe? Tidak ada masalah kan dengan guru atau tugas?”
Childe dengan skill dramatisnya sontak menaruh kedua tangan di atas dada sambil memberikan ekspresi layaknya anjing yang ditendang keluar oleh majikannya. “Ya ampun, Bapak jangan sudzon dong, saya kan anak yang baik hati,”
“Saya gak tanya soal itu,”
Seketika semua murid tertawa begitu mendengar jawaban dari Kak Dain kecuali Childe yang memasang wajah mesem karena diketawain satu kelas. “Nggak Pak, tugas saya aman,” Kak Dain kembali menganggukkan kepalanya. “Baiklah, saya akan keluar kelas. Habis ini kalau tidak salah mapel seni budaya, berarti jamnya Pak Venti, kalian yang baik-baik ya.”
“Siap Pak!” Ujar satu kelas dengan kompak. Dengan begitu, selesai sudah pertemuan rutin pagi hari dengan Kak Dain yang kebetulan menjadi walas di kelasku. Waktu pertama kali aku mendengar kalau Kak Dain jadi walasku, aku langsung sorak sorai di rumah sambil mengejek Lumine yang kurang hoki di gacha walasnya. Dia kebetulan dapat Bu Raiden yang notabene adalah guru ter-killer sejagad Teyvat High School. Kasihan sekali memang kembaranku yang satu ini.
“Oke, jadi botol minuman yang sudah kalian bawa ditaruh di depan meja kalian ya. Jangan sampai jatuh tersenggol sama kertas A3 kalian.”
Aku bisa mendengar Childe disebelahku menggerutu sambil menghapus goretan pensil di kertasnya. “Di saat ini gue berharap punya tangannya Albedo,” Aku mengamini perkataan Childe. Menggambar itu susah, apalagi Pak Venti itu tidak mengajar, melainkan “Kalian gambar sebisa kalian ya~ bye~” lalu dia akan berputar menghadapi papan tulis dan mulai menggambar sendiri.
Detik berubah menjadi menit dan menit berubah menjadi jam. Tidak terasa akhirnya pelajaran Pak Venti selesai dan aku sedang berjalan menuju kursiku dengan muka yang terlihat lelah. “Gimana gambarnya?” Tanya Childe yang sudah tengkurep di mejanya.
“Jelek banget,”
“Tos,”
Aku membalas tosannya dan kembali duduk di kursiku, helaan napas yang panjang keluar dari mulutku. Hening untuk beberapa saat sebelum akhirnya dipecahkan oleh Scaramouche yang baru balik sehabis mengumpulkan tugasnya diikuti oleh Signora di belakangnya. Mereka berdua duduk di sebrang meja Childe. “Gak ngerti gue gunanya ni pelajaran apaan,” Gerutu Scara sambil melipatkan kedua tangannya di depan dada dengan muka yang terlihat sangat sebal. “Ngomel mulu lo, lama-lama jadi tua.” Komentar Signora mendapatkan mata melotot Scara yang khas.
Childe tertawa mendengar pembicaraan mereka. “Scara masih bocil dah jadi kakek-kakek aje,” Secara otomatis, Scara langsung menjitak si kepala oren dengan keras. “Aduh! Tadi udah dilempar spidol sama Pak Dain, sekarang dijitak sama Scara. Kenapa si semuanya pada benci gue?!”
“Soalnya akhlak lo minus,”
“Bacot lu, ngaca sana,” Balas Childe garang ke arah Signora yang masih merasa tidak bersalah. Sembari mendengus sebal, Childe memain-mainkan botol minuman Spr*te di mejanya yang sudah dia minum setengah. “Terus ini diapain minumannya?” Aku menatap aneh Childe sembari meneguk botol P*cari Sw*at yang aku bawa. “Ya minumlah, masa dioplos?”
Seketika mata Childe berbinar ketika mendengar jawabanku. Seketika aku merasakan hawa-hawa tidak enak dan Childe menengokkan kepalanya ke arah Scara dan Signora yang sibuk berdebat keong apa yang paling beracun, entah apa gunanya perdebatan itu. “Scara, Signora, mau nyoba oplos minuman gak?”
Di saat itu juga aku membelalakkan mata ke arah Childe yang baru saja menanyakan sebuah ide gila dengan polosnya. Scara juga menatap aneh ke arah Childe layaknya dia muncul tanduk di kepalanya, sementara Signora memberikan jawaban yang membuat aku dan Scara semakin kaget. “Boleh juga ide lu,”
Childe menyengir setelah mendapat persetujuan dari Signora. Scara menganga setelah mendengar jawaban dari Signora dan mulai mempertanyakan apakah dia masih sehat atau sedang kerasukan. “Bisa-bisanya lu terima ide sinting gitu,” Signora hanya tersenyum licik sambil melirikkan matanya ke arah Scara, menantangnya. “Kalau gue tebak, mungkin lu itu pengecut kalau gak bisa nerima tantangan kayak gitu doang,”
Dengan mudahnya, Scara terpancing oleh perkataan Signora. “Si anjir, siapa bilang gue pengecut?! Ayo sini oplos minumannya!” Aku hanya bisa cengo sementara Childe tertawa menang. Kemudian, Childe memutarkan badannya ke arahku dan menyengir lebar bak kuda lumping. “Ayo Ther, lu juga!”
“Gak makasih, gue mending jadi pengecut dibanding mati konyol,” Aku tolak dengan tegas sambil meminum kembali P*cari Sw*atku yang sempat tertunda tadi. Childe hanya mengangkat kedua bahunya, lalu dia mengambil botol Spr*te miliknya yang tinggal setengah dan mengambil minuman Scara yang berupa C*ca C*la dan punya Signora yang berupa F*nta.
Sambil mengernyitkan alisku, aku mencuri-curi lihat ke arah meja guru yang dimana aku baru sadar bahwa Pak Venti sudah keluar kelas. Yang berarti murid-murid dibiarkan berkeliaran bebad. Mampus sudah tiga bocah di sampingku ini, pasti sebentar lagi bakal jadi korban ke UKS.
Childe mulai menuangkan kedua minuman teman-temannya itu ke dalam botol Spr*te dan mengocoknya. Setelah itu, dengan pandangan horror, aku menonton Childe, Scara, dan Signora meminum oplosan itu sampai habis. Dengan tangan bergemetar, aku tanya mereka bertiga. “Anjir, bisa-bisanya kalian habisin itu oplosan, masih sehat kah?”
“Sehat kok, cuman aneh aja rasanya gitu,” Jawab Childe sambil menyapu bibirnya dengan jempolnya. Perkataan Childe diberi anggukan oleh Scara dan Signora secara bersamaan. Namun, aku tetap tidak percaya dengan perkataan mereka.
Dan benar saja, setelah itu muka mereka bertiga mulai membiru. Mereka kemudian sontak berdiri dari kursi masing-masing dan mulai berlarian ke luar kelas. Beberapa orang di kelas menatap ketiganya dengan aneh, sementara aku tertawa terbahak-bahak melihat ketiga orang tadi langsung cabut ke kamar mandi.
Fischl yang kebetulan duduk di belakang kursi Scara, bertanya kepadaku. “Ther, itu Childe, Scara, sama Signora kenapa?” Aku berusaha meredakan tawaku, namun gagal total. Aku malah tertawa lebih lama lagi sampai-sampai dadaku terasa sesak. “Jadi gini Fischl…” Aku mulai bercerita.
Berikutnya adalah pelajaran Kak Dain, alias matematika, musuh bebuyutan makhluk-makhluk jurusan IPS. Begitu Kak Dain masuk ke kelas, seluruh murid sudah kembali duduk tenang di kursi masing-masing. Matanya kemudian langsung tertuju ke arah kursi yang tengah kosong di sebelahku dan juga dua kursi yang kosong di sebelahnya. “Kenapa tiga kursi itu kosong?” Tanya Kak Dain sambil menunjuk ke arah tiga kursi tadi.
“Childe, Scaramouche, sama Signora izin ke UKS, Pak,” Kak Dain menatapku seolah memberikan isyarat untuk menjelaskan maksud dari jawabanku tadi. “Mereka habis minum oplosan dari bekas minuman buat digambar pas seni budaya tadi, Pak. Awalnya mereka sehat-sehat aja terus tiba-tiba mereka lari keluar kelas. Habis itu si Childe balik, bilang ke saya mau minta izin ke UKS,” Aku mencoba untuk menjelaskan sambil menahan tawa begitu muka Childe yang pucat pasi.
Kembali satu kelas dipenuhi oleh tawaan, sementara Kak Dain hanya bisa menggelengkan kepalanya, dia yakin pasti Pak Baizhu selayaknya guru biologi rangkap guru pengawas UKS akan menceritakan soal ini kepadanya. Jujur, aku agak kasihan dengan Kak Dain kalau sudah ada masalah dengan murid di kelasnya. Tapi mau bagaimana lagi, memang murid kelas ini banyak yang akhlakless.
To Be Continued…
