Actions

Work Header

Sunflower

Summary:

Layaknya bunga matahari yang tidak bisa berpaling dari matahari, seperti itulah perasaan seorang Kurt kepada Juna.

Work Text:

Anggota team ekskul bola tenis baru saja kembali ke asrama. Mereka pulang dengan membawa kabar gembira, mereka berhasil memenangkan pertandingan hari ini. Yang mana berarti kesempatan untuk melangkah ke tingkat nasional tinggal satu langkah lagi, mimpi mereka untuk berdiri gagah di tengah GOR untuk mewakilkan nama sekolah sudah berada di depan mata, hanya tinggal melawan satu sekolah lagi untuk membuat nama Thors Branch Campus masuk dalam list anggota turnamen nasional.

Juna Crawford menyesap teh hijau miliknya, kini ia tengah berada di sofa lantai dasar, duduk dikelilingi teman sekelas yang antusias mendengar ceritanya hari ini. Manik sewarna giok melirik ke samping saat suara temannya memasuki telinga. Itu Louise, bergantian cerita tentang perjuangan mereka menghadapi lawan hari ini, yang kemudian disambung oleh Jessica Schleiden.

Aroma teh hijau yang menguar memberi rasa tenang untuk Juna yang gelisah sejak mengetahui kemenangan teamnya. Jika diperhatikan, tangannya sedikit gemetar karena irama jantung yang naik dua ketukan. Bukannya tidak senang karena bisa melangkah maju menuju nasional, tapi membawa nama sekolah di ajang bergengsi bukanlah perkara yang mudah, bagai ada beban ratusan ton yang menumpuk di atas pundak.

Juna menarik nafas panjang, ia sudah tidak lagi fokus mengikuti arah pembicaraan. Dirinya sudah terlalu lelah–baik fisik maupun mental, ingin segera berendam di air hangat lalu merebahkan diri di atas kasur. Ia ingin tidur cepat malam ini, berharap esok pagi terbangun dengan perasaan yang jauh lebih baik. Tapi sepertinya, pembicaraan masih akan memakan waktu yang cukup lama. Lihatlah bagaimana Louise dan Jessica yang masih memiliki semangat untuk bercerita.

Langkah kaki samar-samar terdengar dari arah tangga, menyebabkan seluruh pandang mata berpusat ke arah yang sama, untuk kemudian melihat Instruktur Towa yang menuruni anak tangga sambil membawa tiga handuk putih.

“Kalian bertiga, silahkan beristirahat.”

Juna mendesah lega, sebisa mungkin ia menahan sudut bibirnya untuk tidak tertarik lebar–takut menyinggung teman-temannya. Instruktur Towa memberikan handuk itu pada Juna, Louise, dan Jessica. Menyuruh mereka untuk segera berendam di kolam air hangat.

Juna yang bangkit paling pertama, ia berpamitan untuk bergegas naik ke lantai dua–menaruh tasnya, kemudian kembali ke lantai dasar dan berendam di kolam besar untuk meluruskan ototnya yang menegang. Memang, ada senyum yang mengembang di birainya sebelum ia beranjak dari sofa. Tapi, satu orang di antara teman sekelasnya tahu bahwa itu bukanlah sebuah senyum yang tulus, ada sesuatu yang sedang disembunyikan oleh gadis itu.

Sepasang maniknya diam-diam mengekori Juna sejak team bola tenis pulang, ia merasa ada yang janggal dengan bahasa tubuh sang gadis, pun dengan raut wajah yang sangat berbeda dari Juna yang biasanya. Lelah, itu pasti. Ia cukup mengerti akan hal itu. Tapi ia tetap merasa ada sesuatu yang tidak biasa, seakan Juna sedang menyembunyikan rahasia.

Hipotesisnya terjawab saat matanya menangkap tangan Juna yang gemetar, teh hijau dalam cangkir sedikit berguncang saat dibawa ke udara, pun sampai si empunya kembali meletakkan di atas meja. Bahkan saat menerima handuk dari Instruktur Towa, gemetar di tangan Juna masih belum hilang juga. Yang kemudian buru-buru disembunyikan oleh si empunya di balik lipatan handuk. Senyum di birainya hanya pengalihan agar tak satupun menyadari hal itu. Tapi sayangnya, dia sudah menyadarinya sejak awal.

Dia, Kurt Vander, sudah memperhatikan Juna Crawford sejak lama.


Juna meregangkan tubuh di atas kasur, satu jam berendam di air hangat sudah lebih dari cukup untuk membuat otot-ototnya kembali rileks. Tapi meski begitu, ternyata beban di pundaknya tidak turut hanyut terendam air. Ia masih terbebani oleh pertandingan yang akan ia hadapi minggu depan. Pertandingan terakhir untuk menentukan siapa yang lebih pantas untuk melaju ke tingkat nasional.

Manik hijaunya tertutup, membiarkan segala pikiran berlalu-lalang bagai benang kusut–seperti rambutnya yang basah dan dibiarkan terurai tanpa disisir. Juna merasa tidak lagi memiliki kekuatan untuk melakukan gerakan berlebih, ia bagaikan seekor ubur-ubur yang tidak memiliki tulang.

Derit pintu membuatnya kembali membuka mata, melihat teman sekamarnya yang masuk dengan membawa cangkir putih di tangannya. Dari aroma yang menguar, bisa ditebak cangkir itu berisi coklat panas.

“Tiduran saat rambutmu masih basah dapat menyebabkan sakit kepala,” Altina mengingatkan, diletakkannya cangkir itu di atas nakas lalu berjalan menghampiri Juna. “Biarkan aku menyisirnya.”

Mau tidak mau, Juna bangkit dari tidurnya karena Altina menggesernya dengan paksa. Tidak ada protes saat Altina mulai menyelipkan sisir di belahan surai merah muda, gadis Orion itu begitu telaten menyisir anak rambut yang kusut, begitu hati-hati karena takut menyakiti.

Ya, tentu saja Juna tidak protes. Karena hal itu merupakan satu kemajuan untuk Altina yang masih belajar mengenal emosi. Ia tahu teman sekamarnya memiliki emosi yang sangat minim, tapi gadis itu mau untuk belajar memahami berbagai macam perasaan, dan menerapkannya secara perlahan.

“Allie, menurutmu ... apa aku bisa memenangkan pertandingan minggu besok?” Juna bertanya tiba-tiba, kakinya ia tekuk ke atas lalu memeluknya.

Mendapat pertanyaan seperti itu, Altina memiringkan kepalanya–merasa aneh. “Apa kau sedang tidak percaya diri?” Tanyanya balik, membuat Juna sedikit gelagapan.

“T-tidak! Aku tidak pernah tidak percaya pada diriku sendiri. Aku pasti bisa! Haha ... ya ... aku pasti bisa.”

Altina bergeming, tidak menjawab apapun sebab tahu gadis di depannya tidak akan jujur dengan perasaannya jika terus didesak. Jika ingin mendengar pengakuan dari Juna, cukup diam dan biarkan ia bercerita dengan sendirinya. Meski memakan waktu, tapi, cepat atau lambat, Juna pasti akan bercerita jika waktunya sudah pas.

“.... Sebenarnya, iya. Aku ... merasa takut untuk menghadapi pertandingan minggu depan.”

Altina masih belum menjawab sampai tugasnya selesai mengurus rambut Juna. Ia beranjak dari kasur, menuju nakas untuk meletakkan sisir dan mengambil minumannya. Juna bergeser, bersandar pada tembok supaya lebih leluasa untuk bercerita. Ia menunggu Altina kembali duduk di kasurnya sebelum melanjutkan perbincangan.

“Apa yang membuatmu takut?” Tanya Altina, cangkir putih bertatakan piring kecil ia letakkan di permukaan kasur yang lebih rata.

“Banyak hal. Aku memikul banyak harapan untuk menang dari orang-orang, sekolah yang akan kami hadapi minggu depan pasti memiliki pemain yang hebat, aku takut tidak bisa mengimbangi permainannya,” Juna memberi jeda, arah matanya menatap bawah, “aku takut mengecewakan banyak pihak.”

“Aku percaya kau bisa, Juna. Aku percaya pada kemampuanmu.” Altina meraih sebelah tangan Juna untuk diusap, “kalaupun kau kalah, tidak ada alasan untuk kami merasa kecewa. Kalian sudah berlatih dengan keras untuk sampai di titik ini.”

Juna merasakan panas di matanya, pandang matanya sedikit buram.

“Kau perlu bersantai sejenak. Jangan biarkan pikiran negatif terlalu lama memenuhi dirimu. Mungkin, secangkir coklat panas bisa membuatmu tenang.” Altina menghapus jejak air mata yang baru saja turun, menyebabkan Juna memajukan badan untuk mendekap tubuhnya yang jauh lebih kecil.

“Terima kasih, Allie. Kau memang sahabat terbaikku,” bisik Juna penuh haru.

Altina bergumam sebagai jawaban, ia menepuk-nepuk tubuh Juna dengan pelan. Sekiranya satu menit kemudian pelukan itu terlepas, Juna menghapus air mata yang membanjiri matanya. Tangannya terulur menuju cangkir yang masih terisi penuh, kepulan asap sudah tidak sebanyak tadi. Sedikit lagi ia meraih gagangnya, namun tiba-tiba cangkir beserta piring kecil itu bergeser menjauh–ditarik oleh Altina.

“Jangan sentuh milikku.” Altina membawa cangkir itu dalam dekapan.

Juna mengerutkan alis, “Bukankah kau bilang secangkir coklat panas bisa membuatku tenang?”

“Ya, lalu?”

“Bukankah artinya kau membuatkan itu untukku?” Juna menunjuk cangkir saat mengucapkan itu.

Altina menggeleng, “Aku tidak sebaik itu untuk membuatkanmu coklat panas, Nona Crawford.”

Jawaban itu membuat Juna mengerucutkan bibirnya, merasa kecewa dengan ekspetasinya. Tapi di detik berikutnya, ia kembali merubah air mukanya. Matanya berbinar, menatap penuh harap layaknya seekor anak kucing yang minta dikasihani.

“Apa coklat panas itu boleh untukku saja? Kau bisa buat yang baru,” Juna menampilkan senyum semanis mungkin.

“Dalam mimpimu.” Altina sama sekali tidak terpengaruh dengan tatapan itu, ia berdiri dari kasur Juna, “gerakkan tubuhmu dan berhentilah menjadi ubur-ubur.” sambungnya sebelum berjalan ke kasurnya sendiri yang bersebrangan.

Senyum di birainya kembali luntur, berganti raut kekecewaan untuk kedua kalinya. Benar ia merasa senang dengan kemajuan Altina dalam menunjukkan emosi, tapi, ada sisi lain juga dari Altina yang tidak disukai oleh Juna. Seperti ini, misalnya.

Sebenarnya, bisa saja Juna tetap di kasurnya dan mengurungkan niat untuk meminum coklat panas. Tapi, aroma yang masih menguar di udara terlalu menggoda hingga menggelitik perutnya. Maka pada akhirnya, Juna memutuskan untuk membuatnya sendiri.

Ia menuruni anak tangga, berjalan menuju dapur asrama. Sepi, mungkin karena waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Ia mengambil cangkir bening di rak bawah, kemudian mencari coklat batang di rak atas untuk dilelehkan. Namun ia tidak mendapatinya, hanya beberapa kotak aneka ragam teh yang ada di sana. Apa mungkin coklat yang dipakai Altina adalah stock terakhir? Kalau begitu, kenapa Altina tidak memberitahunya sebelum ia ke dapur?

Helaan nafas terdengar dari belah bibirnya, Juna harus menelan kembali rasa kecewa untuk yang ketiga kali. Ia membuka rak bawah, berniat mengembalikan cangkir bening ke tempat asalnya. Tapi tiba-tiba, pintu dapur terbuka dan menampilkan sosok Kurt sambil membawa gelas berukuran medium.

“Maaf, apa kau mau membuat coklat panas?” Tanya Kurt, langkahnya terus mendekat ke arah Juna.

Juna mengangguk, “Ya, tapi sepertinya persediaan coklat sudah habis–”

“Ah, maafkan aku. Aku yang menghabiskannya,” Kurt buru-buru meminta maaf, “aku melihat tanggal kadaluarsa yang tinggal hari ini, sedangkan coklat itu masih lumayan banyak. Ku pikir, tidak ada lagi yang mau memakainya, jadi daripada dibuang, aku membuatnya jadi minuman.”

Juna melirik gelas yang masih dipegang Kurt, kepulan asap yang masih banyak membuatnya yakin minuman itu baru saja dituang. Ia sedikit membentuk senyum sebelum menatap iris kebiruan sang pria, “Tidak masalah, Kurt.”

Senyum itu lagi.

“Maaf mengganggumu, aku akan kembali ke kamar sekarang.” Juna menutup rak bawah, sekali lagi memberi senyum sebelum melangkah.

Tapi, tepat saat ia berada di samping Kurt, pria itu mengucapkan sedikit kalimat yang membuat bola mata Juna membulat, “Kita bisa berbagi coklat panas ini.”

Hal itu lantas membuat langkah Juna terhenti, ia melirik ke samping guna mengkonfirmasi bahwa telinganya tidak salah mendengar. Kemudian, yang ia dapati adalah raut wajah Kurt yang tidak menunjukkan apapun, seakan tidak ada yang salah dengan kalimat yang baru saja mengudara.

Dan memang tidak ada yang salah. Tapi, rasanya sangat mengejutkan jika kalimat itu keluar dari belah bibir seorang Kurt Vander.

Berbagi, katamu?” Ulang Juna, yang dijawab berupa anggukan dari sang pria.

“Hanya jika kau mau,” sambung Kurt sambil menaikkan bahu.

Hening melanda, Juna masih berdebat dengan pikirannya sendiri. Setengah dari dirinya betul menginginkan secangkir coklat panas, sedangkan setengahnya lagi meminta untuk kembali ke kamar saja.

Melihat tidak ada pergerakan dari gadis di depannya, Kurt berinisiatif mengambil cangkir bening yang tadi sempat dipegang Juna, lalu menuangkan coklat panas hingga memenuhi cangkir yang kosong dan menyisakan tepat setengah gelas untuk dirinya sendiri.

“Untukmu.” Kurt menyodorkan cangkir itu pada Juna yang masih diam memperhatikan.

Manik hijau itu bergulir menatap cangkir, ada jeda beberapa detik sebelum sang puan menerima suguhan. Baik Juna maupun Kurt sama-sama terkesiap saat kulit tangan mereka tidak sengaja bergesekan ketika Juna mengambil alih cangkirnya, menimbulkan sensasi asing yang menggelitik.

Juna dengan cepat membalikkan badan, kemudian mengucap, “Terima kasih,” sebelum akhirnya melanjutkan langkah yang tertunda untuk kembali ke kamar. Sebelah tangannya sudah memegang gagang pintu saat tiba-tiba suara Kurt kembali memecah hening yang ada.

“Semoga coklat panas itu bisa membuatmu sedikit membaik.”

Kalimat penutup di malam itu yang menyebabkan semu kemerahan menjalar di kedua pipi Juna Crawford. Gadis itu tidak menjawab, memilih tetap melanjutkan langkah tanpa berbalik badan–seakan tidak mendengar apa-apa. Ia menaiki anak tangga dengan sedikit tergesa, ingin segera tiba di kamar untuk menenggelamkan diri di balik selimut.

Aneh. Sungguh aneh. Dari mana Kurt tahu bahwa dirinya sedang tidak baik-baik saja?


Juna terbangun pukul tiga dini hari dengan peluh yang membasahi kening. Bola matanya terbuka lebar, nafasnya memburu, degup jantungnya berdetak dua kali lipat. Ia baru saja mendapat mimpi buruk yang terasa begitu nyata, tentang dirinya yang tidak berhasil membawa nama baik sekolah untuk masuk ke daftar peserta nasional. Ia kalah di pertandingan penentuan.

Tubuhnya terasa sulit untuk digerakkan, terasa sangat berat bahkan untuk sekadar menarik nafas pun ia kesusahan. Takut. Juna merasa sangat ketakutan. Lamat-lamat ia merasakan panas di kedua mata, yang kemudian membiarkan air mata jatuh tak tertahan dari ujung mata. Ia menggigit bibir bawah untuk menahan isak tangisnya agar tidak membangunkan Altina yang masih terlelap.

Tenggorokannya yang terasa sangat kering membuat Juna sekuat tenaga menggerakkan badan, bergeser sedikit demi sedikit untuk bisa bangkit dan mengambil segelas air putih yang biasanya memang ia sediakan sebelum tidur. Arah pandangnya lurus menatap nakas, ia tidak mendapati adanya gelas tinggi yang biasa diletakkan di sana, diganti dengan cangkir bening berisi coklat–tidak panas- yang masih penuh.

Itu dari Kurt. Juna masih jelas mengingat bagaimana dirinya berjalan dengan tergesa menuju kamar dan langsung masuk ke dalam selimut setelah meletakkan cawan di atas meja, berniat menenangkan diri dari sesuatu yang menggelitik namun berakhir dengan dirinya yang larut dalam alam bawah sadar–membiarkan minuman itu menjadi dingin.

Sekitar tiga menit berlalu dengan Juna yang hanya diam menatap cangkir itu. Pikirannya masih kalut bagai benang yang kusut, dipenuhi bayangan negatif yang membuat tangannya kembali gemetar. Butiran bening masih turun dari pelupuk mata, namun Juna sama sekali tidak berniat untuk menghapus jejaknya.

Perlahan, ia mulai merangkak ke ujung kasur, meraih cangkir untuk menyesap coklat panas yang sudah dingin. Rasa manis menyebar memenuhi sudut mulut saat ia menyesapnya, memadamkan kering di tenggorokan yang serasa terbakar. Benar kata Altina yang bilang bahwa coklat panas bisa membuat tenang. Terbukti, perasaan Juna lambat laun jadi membaik.

Menit di jam dinding sudah berada di angka delapan, sudah memasuki waktu fajar. Juna menghembuskan nafas panjang, tubuhnya masih terbalut selimut dengan punggung yang bersandar pada tembok, air dalam cangkir sudah habis tak bersisa. Ia berniat untuk mencucinya di dapur lalu kemudian berlatih seorang diri di lapangan akademi.

Udara masih sangat dingin saat Juna membuka pintu asrama. Belum ada cahaya matahari yang menyapa, masih diterangi oleh sinar bulan purnama. Sejujurnya, ia sedikit takut untuk berjalan seorang diri di tengah gulita. Tapi, ia tidak ingin mimpi tadi malam menjadi kenyataan. Juna tidak ingin kalah dalam pertandingan. Ia ingin melatih diri untuk bisa bermain lebih baik dari yang kemarin.

Juna berdiri di tengah lapangan sambil memegang raket miliknya, tidak lupa membawa sekardus bola tenis milik sekolah. Ia mengambil satu bola, melambungkannya tinggi-tinggi, menunggunya untuk kembali terjun ke bawah kemudian memukulnya dengan keras saat tepat di depan mata.

Aku harus bisa masuk nasional.

Satu bola berhasil dipukul.

Aku harus bisa membuat nama Thors Branch Campus masuk dalam daftar peserta nasional.

Dua bola.

Aku harus bisa membuat teman-temanku merasa bangga.

Enam bola.

Aku harus berlatih keras untuk bisa mengalahkan lawan.

Delapan bola.

Lawan yang akan dihadapi memiliki anggota yang sangat berbakat, bukan?

Sebelas bola.

Apa ... aku bisa mengalahkan mereka?

Empat belas bola.

Aku ... tidak punya kemampuan untuk melawan mereka.

Lima belas bola.

Apa ... aku pantas untuk masuk nasional?

Tepat saat bola ke dua puluh, Juna ambruk di atas tanah, ia menunduk hingga anak rambutnya turun menutupi wajah. Bayangan negatif kembali memenuhi pikiran, ia kembali mempertanyakan kemampuannya untuk menghadapi lawan terakhir yang menjadi penentu siapa yang pantas untuk masuk ke tingkat nasional. Dan, ya ... Juna merasa kemampuannya sangat jauh berada di belakang team lawan.

Juna tidak sedikitpun meragukan Louise yang akan menjadi partnernya nanti, ia tahu betul kemampuan temannya itu, dan ia percaya Louise bisa mengalahkan lawan jika Jessica yang menjadi pasangannya, bukan dirinya. Karena jika dibandingkan dengan Jessica, ia bukanlah apa-apa.

Langkah kaki yang samar-samar terdengar melangkah mendekat, membuat Juna berdecak pelan. Ia tidak suka jika sisi lemahnya dilihat oleh orang lain. Lagi pula, siapa yang berkeliaran di pagi buta begini?

“Kau baik-baik saja?”

Suara yang amat ia kenal masuk dalam indra pendengaran, tanpa melihat pun ia tahu siapa sosok yang berdiri di samping kanannya sekarang. Sosok yang tadi malam memberinya secangkir coklat panas

Itu Kurt. Lelaki itu memang mempunyai jadwal untuk lari pagi disetiap harinya. Ia sedang melewati lapangan saat manik birunya melihat seseorang yang tiba-tiba ambruk ke tanah. Maka, ia memilih menghampiri guna memastikan keadaannya. Dan Kurt tidak tahu sosok itu adalah Juna, karena minimnya cahaya.

Juna tidak menjawab, ia memilih diam sebab tahu suaranya akan gemetar jika bersuara. Lama tidak mendapat jawaban, Kurt berjongkok agar bisa sejajar, sebelah tangannya ragu-ragu menyentuh anak rambut Juna untuk diselipkan ke belakang telinga, ia ingin memastikan kondisi sang gadis yang tidak bergerak seinci pun.

Kurt mengerjap kaget, begitu pun dengan Juna yang langsung menoleh ke arahnya dengan sebelah tangan menghalangi wajah. “Apa yang kau lakukan?!” Juna masih dengan keterkejutannya.

“Aku hanya ingin memastikan kau baik-baik saja,” jawab Kurt, bola matanya bergulir ke bawah, “maaf jika membuatmu tidak nyaman.”

Hening melanda. Juna dan Kurt sama-sama larut dalam pikirannya sendiri. Yang lelaki, sedang menyesali tindakan gegabahnya yang berani memegang rambut wanita. Dan yang wanita, sedang merasakan detak jantung yang tidak karuan karena mendapat perlakuan mendadak dari seorang Kurt.

Gemerisik daun yang bergesekan ditiup angin menjadi satu-satunya suara yang ada. Kurt kembali berdiri, berniat untuk pergi meninggalkan Juna yang dipikirnya sedang marah karena masih saja diam. Tapi belum sempat kakinya melangkah, suara Juna lebih dulu membuatnya urung.

“Menurutmu, apa aku pantas untuk masuk ke tingkat nasional?”

Kurt melirik ke bawah, ke arah sang gadis yang kembali menundukkan wajah. “Tentu saja.”

“Apa aku bisa menang di pertandingan minggu besok?”

“Tentu saja.”

“Tapi, lawan yang dihadapi jauh berada di depanku. Kemampuan mereka lebih mumpuni untuk melangkah ke tingkat yang lebih tinggi.”

“Lalu?”

Jeda cukup lama sebelum Juna menjawab, “Aku tidak ada apa-apanya dibanding mereka. Aku jauh tertinggal di belakang mereka.”

“Apa kau ingin berhenti?”

Juna buru-buru menatap Kurt dengan alis bertaut, “Tentu saja tidak!”

“Kalau begitu, tinggal perbanyak latihan saja, bukan? Jika memang kau tertinggal di belakang, bukan berarti kau harus berhenti. Masih ada opsi yang lebih baik, yaitu melangkah maju untuk mengejar hingga bisa sampai sejajar.”

Bola mata Juna melebar mendengar penuturan yang panjang, angin yang tiba-tiba datang secara dramatis membelai surai mereka ke sana kemari sebelum akhirnya kembali ke tempat semula. Itu kalimat terpanjang yang pertama kali Juna dengar dari Kurt, berisi tentang hal yang seakan menampar dirinya yang hampir putusasa.

“Lebih percayalah pada dirimu sendiri, Juna.” sambung Kurt.

Mata mereka saling menatap, hijau dan biru bertemu dalam satu jalan yang sama. Juna benar-benar ditarik keluar dari kegelapan oleh kalimat si surai biru, gadis itu bagai menemukan kembali dirinya yang sempat tersesat beberapa saat. Manik hijaunya melihat Kurt yang salah tingkah, lelaki itu mengusap leher belakangnya dan pandang matanya berlarian tidak menentu. Seperti ada yang ingin dibicarakan.

“Bagaimana kalau ... kau ikut denganku ke cafe untuk menikmati sepotong kue? Bersantai sejenak tidak masalah, bukan?” Ajak Kurt akhirnya, matanya tidak sanggup berlama-lama menatap sang gadis.

Usai ajakan itu mengudara, rona kemerahan menjalar di pipi keduanya. Lagi, desiran asing seakan mengundang kupu-kupu untuk terbang di dalam dada. Juna turut mengalihkan pandang, tangannya mengepal menahan gejolak yang dirasa. Sungguh, ada apa dengan Kurt dari kemarin malam?

“Kalau tidak mau tidak apa–”

“Mau.” Juna dengan cepat memotong, ia melirik pada Kurt sejenak sebelum mengulangi ucapannya, “aku ... mau.”

Kurt sebisa mungkin menahan sudut bibirnya untuk tidak tertarik lebar, meski dalam hati ia bersorak gembira penuh kemenangan. “Hari ini, pukul tiga sore.”

Juna menggelengkan kepala, “Hari ini aku ada latihan.”

“Oh? Lalu, kapan kau bisa?”

Gadis itu mengingat-ingat jadwal latihannya, mencari hari yang sekiranya bisa untuk sekadar bersantai beberapa saat. Lalu, “Lusa, setelah jam tiga.”

Kurt mengangguk, “Baik. Lusa, jam empat sore, aku tunggu di Recette Cafe.”

Kalimat itu menjadi kalimat terakhir dari Kurt yang pergi melanjutkan kegiatan lari paginya, meninggalkan Juna yang masih terduduk di atas tanah dengan desiran aneh yang masih menggelitik dada.

Aku menerima ajakkannya hanya sebagai tanda terima kasih karena sudah diberi semangat. Kalimat itu terus diulang Juna dalam hati, sedikit terganggu dengan irama jantung yang naik dua ketukan ketika kalimat Kurt kembali terdengar. Ia memejamkan mata, menggelengkan kepala kuat-kuat guna mengusir bayangan si bungsu Vander dari pikiran. Fokus. Dirinya harus fokus pada pertandingan yang menjadi penentuan.

Juna bangkit dengan semangat yang baru, ia mengambil nafas dalam, menghembuskannya pelan-pelan sambil membuka mata. Kilat mata hijaunya berubah dari yang tadi, kali ini, kentara jelas ambisinya untuk menang dengan telak. Persetan siapapun lawannya, Juna akan menghadapinya tanpa ragu.


Dua hari berlalu sejak ia membuat janji untuk bertemu dengan Kurt. Selepas latihan, Juna bergegas kembali ke asrama untuk bebenah diri, berkejaran dengan waktu yang enggan berjalan lambat untuk menempati angka empat. Dirinya setengah berlari menuju tempat yang dituju, takut membuat Kurt terlalu lama menunggu.

Tepat di depan Recette Cafe, Juna berhenti sejenak untuk merapihkan anak rambutnya. Sebelum melangkah masuk, ia berdeham guna meredam irama jantung yang kembali naik satu ketukan. Lonceng di atas pintu berbunyi saat ia membuka pintu, manik hijaunya berkeliling mencari eksistensi si surai biru–yang ternyata duduk di bangku pojok kiri. Sosoknya tengah menatap kehadiran dirinya yang berjalan mendekat.

“Maaf membuatmu menunggu lama,” Juna berbasa-basi, mengambil posisi tepat di kursi depan Kurt. “Jam latihan sepuluh menit lebih lama dari yang biasa.”

Kurt menggeleng dua kali, “Tidak masalah. Aku baru lima menit tiba di sini,” sedikit berbohong, karena sebenarnya Kurt sudah tiba bahkan saat jarum jam masih berada di pertengahan angka tiga dan empat–entah dirinya takut terlambat atau karena terlalu bersemangat.

“Sudah pesan sesuatu?”

“Belum, aku menunggumu.”

Sarsaparilla dan cheese cake.” Juna menyebutkan menu kesukaannya di cafe ini yang sudah ia hapal di luar kepala. “Ah, biar aku saja. Apa pesananmu?” ia menahan Kurt yang hendak berdiri untuk memesan makanan.

“Tidak apa, biar aku saja. Tunggu di sini sebentar.” Kurt melebarkan lima jari tangannya–membuat gestur untuk menyuruh Juna menunggu. Tungkainya langsung berjalan ke meja kasir, memesan pesanan Juna ditambah caramel macchiato dan buttermilk waffles untuk dirinya sendiri.

Sambil menunggu Kurt yang memesan makanan, Juna memutar otaknya untuk memikirkan topik obrolan apa yang akan ia bicarakan. Pasalnya, ini kali pertamanya untuk pergi berduaan dengan Kurt diluar kepentingan sekolah. Tidak memakai seragam, tidak ada kawan yang lain. Hanya mereka berdua, duduk berhadapan.

“Bagaimana latihan hari ini?”

Juna yang masih sibuk dengan pikirannya sendiri, dibuat terperanjat mendengar suara Kurt yang tiba-tiba. Ia menoleh, manik hijaunya mengekori pergerakan si surai biru sampai kembali duduk di hadapannya. “Seperti biasa,” jawabnya kemudian.

“Sudah lebih percaya pada dirimu sendiri?”

Lamat-lamat Juna melebarkan senyum sambil mengangguk, “Ya, terima kasih.”

Kurt memasang wajah bingung mendengar jawaban Juna, lantas ia kembali bertanya, “Terima kasih untuk?”

Juna memutuskan kontak mata, ia memalingkan wajah ke arah lain dengan pipi memerah sampai ke telinga, “Untuk ucapanmu.” jawabnya dengan sedikit gengsi. Tapi bagaimanapun, ia harus berterimakasih pada Kurt, karena berkat ucapannya, Juna kembali menemukan ambisinya yang sempat menghilang.

Kurt tertawa pelan melihat adanya warna merah yang menjalar di wajah sang gadis, ia tidak menanyakan lebih lanjut karena tahu Juna sedang menahan malu. Maka, Kurt mengalihkan pembicaraan pada topik lain yang masih seputaran tentang pertandingan penentuan. Ia mendengarkan dengan penuh perhatian, memusatkan mata dan telinga hanya untuk Juna seorang. Yang tanpa ditahui, hal itu membuat irama jantung sang gadis menjadi tidak beraturan.

“Aku dan teman-teman akan datang untuk mendukung teammu,” Kurt kembali membuka topik baru, “apa hal itu akan menjadi beban untukmu?”

Juna menggeleng, “Tentu saja tidak! Semangatku akan semakin bertambah jika mendapat dukungan dari kalian.” jawabnya tegas, “akan aku kalahkan team lawan di depan kalian dan membuat kalian bangga.”

Satu senyum terbit di birai sang pria, “Semangat yang bagus. Aku akan memberikanmu sesuatu jika kau berhasil menang di pertandingan besok.”

“Kalau aku kalah?”

“Tetap akan aku berikan. Karena kau sudah berusaha sebaik mungkin.”

“Untuk Louise juga, kan?”

Kurt menggeleng, “Hanya untukmu.”

Juna sudah sampai pada batasnya untuk menahan gejolak di dalam dada. Mendengar jawaban dari Kurt, ia merasakan panas di wajah dan aliran darahnya serasa mendidih. Manik hijau itu bergulir ke sisi lain, sedikit menunduk untuk menyembunyikan wajah dari pandangan sang pria. Beruntung, seorang pelayan datang untuk membawakan pesanan mereka. Langsung saja Juna menyesap minumannya guna menetralkan detak jantungnya.

Tidak ada obrolan lagi setelah itu, mereka sama-sama menikmati hidangan dalam diam. Terlalu hening hingga perbincangan dua gadis yang duduk di meja sebelah samar-samar terdengar.

“Menurut buku yang ku baca, jika wanita dan pria jalan berdua, itu namanya kencan.”

Juna hampir tersedak potongan kue saat mendengarnya. Sebisa mungkin ia bersikap tenang, seolah tidak mendengar apa-apa meski dalam hati berteriak menolak pernyataan tersebut. Tidak mungkin dirinya dan Kurt saat ini sedang berkencan, kan? Kencan hanya berlaku bagi mereka yang memang sudah mempunyai hubungan lebih. Ya, pasti begitu.

“Bukankah kencan hanya untuk mereka yang sudah mempunyai hubungan?”

“Tidak juga. Sebagai teman pun, bisa disebut kencan. Karena secara garis besar, kencan adalah tahap pengenalan sebelum menuju langkah yang lebih jauh.”

Dan kali ini, Juna dibuat tersedak karena kalimat itu mengudara saat dirinya tengah menyesap minuman. Kurt membantu menepuk pundaknya perlahan, sampai sekiranya sang gadis sudah merasa lebih baik.

“Kau baik-baik saja?” Tanya Kurt, ada nada khawatir yang tersirat dari suaranya.

“Aku baik.” Jawab Juna yakin, manik hijaunya menatap kelereng biru di hadapan, “jangan khawatir.”

Meskipun begitu, Kurt tetap merasa khawatir dengan keadaan Juna, karena, “Wajahmu merah.” sebelah tangannya terangkat, berlabuh di kening sang gadis untuk merasakan suhu tubuhnya–takut demam mendadak. Detik setelahnya, air mukanya tampak keheranan karena yang didapati adalah suhu tubuh yang normal. Lantas, kenapa wajah Juna begitu merah?

Jangan tanya keadaan Juna sekarang, gadis itu membeku seakan menjadi batu. Lupa caranya bernafas karena jutaan kembang api yang meletup di dalam dada membombardirnya tanpa ampun.

“Kau yakin baik-baik saja?”

“Aku baik-baik saja, dan tolong jangan menyentuhku tanpa izin.” Juna menjauhkan tangan Kurt dari keningnya, sedikit memberi tekanan saat mengucap kata tolong.

“Tapi wajahmu–”

“Kurt, jangan membuatku mengulangi kalimat yang sama untuk ke tiga kali.” Juna memotong, matanya menatap lurus ke arah Kurt.

Ada jeda sebelum Kurt mengucap, “Maaf.” Mata birunya masih mencari penyebab yang membuat wajah Juna memerah, tapi ia memilih menyerah karena takut membuat Juna semakin merasa tidak nyaman.

Kembali hening, Juna menghabiskan sisa potongan kuenya sambil sesekali mencuri pandang ke arah Kurt. Dapat ditangkap olehnya raut penyesalan dari wajah sang pria, merasa bersalah karena sudah dua kali menyentuhnya tanpa izin. Meski sejujurnya itu tidak masalah bagi Juna. Yang jadi masalah adalah irama jantungnya yang berubah tak karuan tiap kali Kurt menyentuhnya.

Sebelum suapan terakhir, Juna berdeham sambil membetulkan posisi duduk, meminta atensi dari sosok di depannya. “Menurutmu ... apa kita sedang berkenca–”

“Ku rasa kau harus mencoba makananku.” Kurt–entah sengaja atau tidak- memotong ucapan Juna, ia membawa potongan waffle yang ditusuk menggunakan garpu ke udara, menyodorkannya pada Juna. “Aku yakin kau akan menyukainya.”

Juna masih diam menatap garpu, lamat-lamat ia memajukan kepala, memakan potongan waffle yang disodorkan oleh Kurt tanpa mengambil alih garpunya. Menyebabkan semu merah muda menghiasi pipi sang pria, pasalnya ia berpikir Juna akan mengambil garpunya dan menyuap sendiri. Bukan seperti ini.

“Aku suka.” dengan pipi yang juga memerah, Juna mengangguk menyetujui ucapan Kurt.

Satu menit kembali hening sebelum akhirnya Kurt mengalihkan topik sebelumnya, sebisa mungkin ia bersikap biasa saja, “Apa yang tadi ingin kau tanyakan?”

“Ah, itu ...” Juna sedikit ragu untuk menjawab, namun kemudian ia mengambil nafas panjang sebelum mengulangi pertanyaan, “apa menurutmu, kita sedang berkencan?”

Juna menunggu Kurt yang sedang menyesap minuman, tidak ada reaksi kaget dari sang pria atas pertanyaannya barusan. Rasanya, detik berlalu sangat lama sampai Kurt selesai dengan minumnya. Saat belah bibirnya mulai terbuka untuk menjawab, Juna semakin menyiapkan mental untuk mendengar apapun yang akan terlontar.

“Ya.”

Hanya, ya? Bagaimana bisa lelaki itu menjawabnya dengan wajah datar begitu? Berbanding terbalik dengan sang gadis yang semakin dibuat tidak karuan.


Pertandingan yang sangat sengit membuahkan hasil yang manis untuk Juna dan Louise. Mereka berhasil memenangkan pertandingan, berhasil membawa nama sekolah untuk masuk sebagai daftar peserta nasional. Tangisan Juna pecah saat melihat papan skor yang menunjukkan angka teamnya lebih unggul. Ia memeluk Louise dengan erat, menyalurkan rasa bahagia atas kemenangan yang mereka perjuangkan mati-matian.

Di kursi penonton, Juna melihat teman-temannya turut bersorak gembira, termasuk Kurt Vander yang melebarkan senyum penuh rasa bangga saat ia menatapnya, senyum yang membuat dua sudut bibir Juna ikut tertarik lebar. Selepas mereka menghabiskan waktu berdua di Recette Cafe, Juna merasa hubungan mereka lebih dekat dari sebelumnya. Karena tiap kali mereka berpapasan di asrama, Kurt selalu mengajaknya berbicara dan memberi kata-kata penyemangat untuk menguatkan mental Juna saat menghadapi team lawan. Dan, terima kasih karena berkat kata-kata itu, Juna bisa fokus selama permainan.

Selepas Juna dan Louise berganti pakaian, mereka sudah ditunggu oleh teman-temannya di lobby gedung–bahkan Kepala Sekolah ada di sana, memberi ucapan selamat dan pelukan bangga karena berhasil lolos ke tingkat yang lebih tinggi. Mereka berbincang sebentar sebelum berjalan bersama menuju stasiun untuk pulang ke asrama. Langit sudah berwarna jingga saat mereka keluar dari gedung. Samar-samar, Juna mencium wangi makanan kesukaannya–pretzel, ia menoleh ke kiri-kanan mencari sumber aroma, namun tidak mendapati adanya penjual makanan itu di sudut manapun.

“Kau mencari ini?” Suara itu terdengar dari belakangnya, diiringi aroma pretzel yang semakin kuat. Ia menoleh ke belakang, mendapati Kurt yang membawa sebungkus pretzel berjalan tepat di belakangnya. Dan tanpa suara pun, Kurt sudah tahu jawaban Juna. Maka, ia membawa bungkusan itu ke atas kepala sang gadis, “untukmu.”

Juna mengambil paper bag dari atas kepala, mengintipnya sedikit dengan mata hijau penuh binar. Ia kembali menoleh ke arah Kurt untuk mengucapkan terima kasih, namun belum sempat bibirnya terbuka, ia dikejutkan dengan tangan Kurt yang menahan sedikit bajunya–memintanya berhenti berjalan dan membiarkan teman-temannya melangkah lebih dulu.

Ash dan Altina yang menyadari itu, hanya diam saja dan membiarkan dua remaja itu berdua di bawah langit senja. Sedikit banyak mereka paham dengan hubungan Kurt dan Juna yang semakin dekat. Dirasa sudah cukup jauh, Kurt melepaskan tangannya yang masih memegang sedikit baju Juna. Manik birunya bergulir menatap sang gadis, ia dibuat tergugu melihat indahnya garis wajah Juna yang terkena bias mentari sore.

Cantik.

“Ada apa?” tanya Juna, kelopak mata yang berselimut bulu mata lentik berayun pelan.

“Selamat atas kemenanganmu,” ucap Kurt, dilebarkannya dua sudut bibir hingga menenggelamkan setengah mata. “Kau hebat, Juna.”

Juna membalas senyum itu, “Terima kasih atas ucapannya, Kurt. Jika pagi itu kau tidak menghampiriku, mungkin sekarang aku akan kalah karena masih kehilangan arah.”

Hening lima detik dengan hanya saling melempar senyum, kemudian Kurt teringat satu hal, “Ah, apa kau bisa menutup mata sebentar? Aku ingin menepati ucapanku saat di cafe.”

“Huh? Bukankah kau mau memberiku ini?” Juna mengangkat paper bagnya.

Kurt tertawa kecil, “Tentu saja bukan. Ada sesuatu yang lebih baik dibanding pratzel.”

“Apa itu?”

“Tutup matamu sebentar.”

Ragu-ragu, Juna menuruti ucapan Kurt. Ia menutup matanya dengan hati berdebar, menerka apa gerangan yang akan diberikan si surai biru. Satu menit berlalu, akhirnya Kurt memintanya untuk membuka mata. Indra penglihatannya langsung disapa oleh tiga kuntum bunga matahari yang memang sudah Kurt siapkan sebelum datang ke sini.

“Maaf jika sedikit aneh karena aku bukan memberikan bunga mawar, tapi ... ada alasan kenapa aku memberimu bunga matahari,” Kurt bersuara, sedikit salah tingkah dengan pipi memerah, “bagiku, senyuman yang kau miliki secerah matahari pagi. Aku tidak bisa berpaling jika kau sedang tersenyum. Bahkan saat senyuman itu bukan untukku.” Jeda sejenak, “anggaplah aku bunga matahari, dan kau adalah mataharinya. Aku tidak bisa berpaling darimu, Juna. Aku ... mencintaimu.”

Kosong. Juna merasa dirinya berada di ruang hampa udara, ia tidak lagi merasa sedang menapaki bumi, ia merasa terbang ke angkasa. Jika ini mimpi, tolong bangunkan Juna dengan hati-hati.

“Aku ... juga suka,” Juna membalas pelan, sangat pelan bahkan kalah dengan suara embusan angin. Tapi Kurt mendengarnya, ia akan tetap mendengar dengan jelas sekalipun Juna bersuara dalam hati. Lantas, tiga kata dari Juna membuat merah di pipi Kurt semakin jelas warnanya, kini gantian dirinya yang merasakan letupan kembang api di dalam dada. “... bunganya.” sambung Juna kemudian, membuat senyum sumringah di birai sang pria perlahan luntur berganti reaksi terkejut.

“A-ah ... ya ... aku senang jika kau suka bunganya.” Kurt memaksakan senyum, diserahkannya kuntum bunga itu pada sang gadis. Bukan salah Juna, itu salahnya sendiri yang terlalu percaya diri dengan apa yang ia dengar.

Juna mengangkat tangan, berniat menerima bunga matahari itu. Tapi saat sudah dekat dengan tangkainya, ia melebarkan senyum dan tertawa pelan, kemudian tubuhnya ikut maju melewati tangan Kurt, terus maju hingga tubuhnya menabrak tubuh sang pria. Membisikkan kalimat yang membuat bola mata Kurt membulat, diakhiri dengan sensasi yang membuat keduanya kembali terbang ke atas awan.

“.... dan juga dirimu. Aku juga mencintaimu, Kurt.”


 

Series this work belongs to: