Actions

Work Header

Muffin Blueberry

Summary:

Percobaan menu baru yang berujung pada kejadian manis di kala hujan.

Notes:

Didedikasikan untuk Fp

Work Text:

Gumpalan awan berwarna abu membuatnya mempercepat langkah, sedikit berdecak kesal karena cuaca yang berubah tanpa aba-aba. Ia menutupi kepala saat rintik hujan mulai turun, melindungi mahkota senada warna langit yang baru saja ditata. Baru sepuluh menit ia mengitari kota Shibuya–melihat tiap-tiap sudut kota yang ia cinta, namun kegiatannya terpaksa harus berhenti karena rintik halus yang kian deras. Alih-alih segera meneduh, ia memilih untuk terus melangkah menuju satu tempat yang hadir dalam pikiran. Satu tempat dimana sebagian besar waktunya ia habiskan di sana.

WildKat Cafe. Sebuah kedai kecil di pinggir jalan yang merupakan milik kawan lamanya, Sanae Hanekoma. Iris ungunya tidak mendapati adanya pelanggan yang datang saat ia tiba di sana, hanya ada si pemilik cafe yang tengah memunggunginya dan berkutat dengan entah apa di sebrang meja kasir. Ia melangkah masuk, sedikit menepuk kemeja putih yang basah di bagian atas, kemudian menggusak rambutnya guna menghilangkan tetesan air yang menyelinap di antara helainya yang lebat.

Merasa ada yang datang, Hanekoma menolehkan kepala, kacamata hitamnya turun hingga pangkal hidung. Ia menarik dua sudut bibirnya saat melihat siapa yang datang, “Yo! Habis main hujan-hujanan, Josh?”

Joshua mendengus, ia memilih tidak menjawab dan duduk di kursi dekat counter. “Tolong buatkan aku minuman.” pintanya, yang langsung dituruti oleh Hanekoma. Aroma kopi menguar kala pria berkacamata hitam itu bermain dengan mesin kopi, membuatkan segelas minuman yang menjadi menu utama di cafenya.

“Satu gelas kopi dengan takaran seperti biasa,” Hanekoma meletakkan cangkir putih bertatakan piring kecil ke hadapan Josh. Si surai abu menarik piring kecil itu untuk semakin mendekat, jari-jarinya ia tempelkan pada cangkir untuk mendapatkan kehangatan. Melihat itu, Hanekoma berniat untuk menawarkan pilihan, “mau ganti baju? Aku bisa meminjamkan bajuku kalau kamu mau.”

Senyuman miring tercipta di bibir Joshua, “Baju dengan gaya bapak-bapak itu maksudmu? Tidak, terima kasih.” jawabnya, kemudian menyesap kopi miliknya dengan wajah tanpa dosa. Hanekoma hanya tersenyum penuh maklum, sudah terbiasa dengan ucapan Joshua–meski terkadang ada rasa kesal dalam hati.

Ia menarik kursi dan duduk berhadapan dengan Joshua, dipisahkan oleh meja yang menjadi sekat. Sebelah tangannya menopang kepala, arah matanya memerhatikan sosok di hadapan yang masih menyesap kopi sambil memejamkan mata. Saat kelopak mata berbalut bulu mata lentik itu terbuka, Hanekoma menyambutnya dengan senyuman yang membuat si empunya menaikkan sebelah alis–merasa heran. Namun Joshua memilih abai, ia melirik ke arah luar, melihat hujan yang masih menghantam bumi tanpa belas kasih. Dapat dipastikan hujan tidak akan reda dalam waktu dekat.

“Menyantap ramen disaat hujan begini bisa membuat perut hangat,” ucapan Hanekoma yang tiba-tiba membuat Joshua kembali menatapnya, “hanya sekedar informasi.” lanjutnya sambil menaikkan bahu karena tidak mendapat respon dari yang lebih muda.

Joshua tampak berpikir, ia setuju dengan ucapan Hanekoma, tapi perutnya masih terasa penuh karena tadi pagi ia makan cukup banyak. Bola matanya melirik ke etalase yang berisi makanan, mencari makanan ringan yang sekiranya cocok untuk disantap dengan kopi dicuaca begini. Yang didapati adalah menu yang sama seperti hari kemarin, kue-kue yang memiliki rasa manis berlebih di lidahnya.

“Apa kamu sudah cukup puas dengan menu yang ada saat ini?” Joshua bertanya, ia melipat tangannya di atas meja. “Aku yakin pelangganmu akan pergi karena bosan.”

Tepat saat Hanekoma ingin menjawab, suara dentingan dari oven lebih dulu terdengar. “Waktu yang tepat!” ia menjentikkan jari sebelum berdiri, membuat kursi yang didudukinya mundur beberapa centi, “tunggu sebentar.” kemudian meninggalkan Joshua yang kembali menyesap minumnya.

Dari ujung mata, Joshua melihat Hanekoma mengambil sesuatu dari dalam oven. Tidak terlihat jelas karena terhalang etalase. Tak lama kemudian, aroma yang belum pernah ditemuinya memasuki indra penciuman. Dari wangi yang menguar, Joshua menebak Hanekoma pasti membuat kue yang–terlalu- manis–di lidahnya- lagi.

“Aku baru saja mencoba membuat muffin blueberry. Mau mencobanya dan memberi ulasan?” tanya yang Hanekoma dari balik counter, “rencananya mau kutambah dalam daftar menu jika memungkinkan.”

“Pelangganmu akan mati keracunan gula jika memakannya.”

Lagi, Hanekoma hanya tersenyum maklum mendengar jawaban itu. Seakan tidak peduli, ia tetap membawa tiga cup muffin ke meja Joshua, mengundang delik dari si empunya karena disuguhi kue yang dipenuhi gula.

“Aku tidak berniat untuk membunuhmu. Dicoba dulu, baru berkomentar.” ucap Hanekoma lebih dulu saat melihat Joshua hendak bersuara. Ia sudah tahu kalimat apa yang akan diucapkan si surai abu; apa kamu berniat untuk membunuhku?

Joshua tidak bisa mengelak lagi, alisnya yang menaut menandakan bahwa dirinya sedang kesal karena ucapannya sudah ditebak oleh Hanekoma. Ditambah, si pemilik cafe yang duduk di hadapannya memasang ekspresi penuh kemenangan. Sungguh menjengkelkan! Hal itu membuatnya mau tak mau mengambil satu cup muffin blueberry untuk dicicipi. Untuk satu menit, ia hanya menatapnya dengan horror, sebelum kemudian membawanya ke depan mulut–menggigit kecil dan langsung memejamkan mata karena rasa manis mendominasi lidah. Dan reaksinya itu mengundang tawa dari Hanekoma.

“Berapa karung gula yang kamu pakai?” Tanya Joshua dengan nada sarkas setelah bersusah payah menelan gigitan kecil muffin itu. Kemudian, dibawanya kue itu ke depan wajah, memutarnya untuk dilihat dari segala sisi, sebelum kemudian kembali tertawa meremehkan, “manusia mana yang mau memakan ini? Kurasa, hewanpun akan memilih kabur daripada harus memakannya.”

“Sebegitu buruknya kah?” Hanekoma berbalik tanya, suaranya sedikit murung.

“Ya. Coba saja rasakan sendiri.” jawab Joshua memasang wajah acuh.

Hanekoma menurut. Ia setengah bangun dari duduknya, memajukan tubuh untuk menggigit muffin yang dipegang Joshua. Dan remaja delapan belas tahun itu tidak siap dengan apa yang terjadi, ia tergugu saat wajah Hanekoma begitu dekat dengan wajahnya. Dapat dilihatnya kelopak mata yang tertutup saat si empunya tengah menggigit kue itu, kemudian memamerkan sepasang manik jelaganya sebelum ia kembali ke posisi semula.

Sambil membetulkan kacamatanya, Hanekoma berucap, “Tidak seburuk itu. Sesuai dengan apa yang aku harapkan.”

Joshua memalingkan wajah, ia meringis karena tiba-tiba merasakan desiran asing di dalam dada. Untuk mengalihkannya, ia mengambil muffin yang baru dan menggigitnya dengan asal. Manis berlebih yang menguasai rongga mulut tidak lagi ia hiraukan, pikirnya saat ini hanya ingin menetralkan detak jantung yang begitu menggelitik. Iris ungunya bergulir ke kanan-kiri, menatap apapun kecuali ke arah pria di depannya. Sial. Kenapa bisa dirinya terpaku pada lelaki tua itu?

“Benarkah seburuk itu, Josh?” Hanekoma kembali menampilkan raut penuh kemenangan, birainya membentuk senyuman miring. Melihat Joshua yang salah tingkah setelah mendengar pertanyaannya, membuat gelak tawanya pecah. Lelaki berambut hitam mencuat ke atas itu sampai memegangi perutnya, sangat puas menertawai si surai abu. Sedangkan sosok yang ditertawakan memasang wajah sebal, wajahnya bersemu merah entah menahan amarah atau karena malu.

“Hentikan tawamu!” sentak Joshua dengan mata memicing dan alis bertaut. “Hey, dengar aku, Pak Tua! Kue ini tidak layak untuk dimakan!” kemudian muffin itu ia letakkan kembali ke atas piring.

Satu menit berlalu sampai akhirnya tawa Hanekoma mereda, ia memandangi raut wajah Joshua yang masih terlihat memerah. Joshua itu ... senang mengejek orang lain, tapi dirinya sendiri tidak suka jika diejek. Sifat yang terasa menyebalkan untuk orang yang baru kenal dengan remaja itu, namun Hanekoma sudah lebih dari kata terbiasa untuk menghadapinya. Karena ia tahu, di balik sifat jeleknya itu, Joshua adalah anak yang baik.

“Kue ini tidak layak untuk dimakan!” ulangi Joshua lagi. Ia memutuskan kontak mata dengan Hanekoma, kembali memandang ke arah jalanan yang masih diruntuhi hujan.

“Cobalah sesekali berkata jujur, Josh. Kamu menyukai muffin ini, kan?” Hanekoma melepas kacamatanya, menatap dengan tatapan menggoda. “Untuk kamu tahui, aku mengurangi takaran gulanya, jadi manisnya tidak seperti muffin pada umumnya. Dan kamu cukup menikmatinya, bukan?”

“Blueberrynya asam. Para pelangganmu akan sakit perut dibuatnya.” Tidak ingin kalah, Joshua kembali melontarkan alasan lain untuk mengelak. Karena dalam riwayat hidupnya, tidak ada catatan dirinya kalah dari ucapan Hanekoma. “Sudahi saja angan-anganmu untuk menjadikan ini sebagai menu baru. Oh! Dan kurangi gula dari semua masakanmu.”

Hanekoma bergeming, mendengarkan semua ucapan yang dilontarkan Joshua dengan senyum miring yang masih terpatri di birainya. Manik jelaganya fokus menatap remehan muffin yang menempel di sudut bibir Joshua–karena remaja itu memakannya dengan asal, hal yang cukup mengganggu untuk dilihat. Dan kemudian, tubuhnya seakan bergerak sendiri tanpa harus diperintah oleh otak. Ia bangkit, kembali memajukan tubuh sambil menuntun wajah Joshua untuk menatapnya. Semakin mendekatkan wajah dengan remaja itu, mengikis jarak yang menganga untuk kemudian melabuhkan bibirnya di milik Joshua. Dapat dirasakan olehnya tubuh remaja itu yang menegang, hal yang wajar karena ini adalah kali pertamanya melakukan hal semacam ini.

Ciuman itu tidak menuntut lebih, hanya sekadar mempertemukan dua gumpalan lembut dalam satu sentuhan. Belum sempat Joshua bereaksi atas hal yang terjadi, ia semakin dibuat lupa caranya bernapas kala Hanekoma menjilat sudut bibirnya. Menimbulkan sensasi geli yang menggelitik seluruh badan, membuat aliran darahnya terasa mendidih hingga menyebabkan tubuhnya panas dari dalam.

Setelahnya, Hanekoma kembali duduk di kursinya. Dengan wajah tanpa dosa yang menampilkan seringai, seakan tidak merasa bersalah karena telah membuat sosok di depannya terdiam bagaikan batu–dan juga telah mencuri ciuman pertamanya.

“Ada sesuatu di wajahmu.” ucapnya dengan santai.

Joshua belum bisa menanggapi, ia masih mencoba memproses apa yang baru saja dialami. Wajahnya yang semakin memerah padam membuat Hanekoma sedikit merasa bersalah karena menciumnya tanpa izin, tapi tak bisa dipungkiri, ada kepuasan tersendiri saat melihat Joshua yang biasanya menyebalkan berubah menjadi diam seribu bahasa–kehilangan kata-kata, terlebih saat kelopak mata berbalut bulu mata lentik itu berkedip dua kali, seakan baru saja tersadar dari lamunan. Oh, kapan lagi ia bisa melihat Joshua seperti ini?

“Lain kali, tolong beri aba-aba dulu supaya aku siap.” dan kali ini, gantian Hanekoma yang kehilangan kata-kata setelah mendengar penuturan dari Joshua.


 

Series this work belongs to: