Work Text:
Butiran salju turun dengan perlahan, menutupi jalanan distrik Shibuya di malam natal. Putih yang mendominasi sangat kontras dengan warna langit yang hitam pekat, membuat daerah yang dikenal sebagai pusat tren di kota Tokyo terlihat begitu terang. Meski di tengah dingin yang melanda, tetap banyak orang yang berlalu lalang memenuhi sudut jalan, berbondong-bondong menuju tempat-tempat yang sengaja dihias untuk menyambut hari ini tiba.
Sepasang kelopak mata perlahan terbuka, memamerkan iris sewarna buah anggur yang berkilau saat terkena cahaya lampu. Ia berdiam diri di tengah jalanan, berbaur dengan ratusan manusia yang tengah menyebrang di zebra cross. Tubuh rampingnya yang sedikit terhuyung saat tak sengaja bersenggolan dengan orang lain membuatnya menarik sudut bibir, merasa senang karena tandanya ia berhasil pindah ke dunia yang lain–sebuah dunia alternatif yang jauh berbeda dari tempatnya tinggal.
Di dunia ini, penampilannya terlihat lebih muda karena ia menurunkan kekuatannya. Meski hanya memakai kemeja putih lengan pendek, ia sama sekali tidak merasa menggigil di tengah guyuran salju. Beberapa orang memandangnya keheranan, namun setelahnya kembali abai dan melanjutkan jalan. Hal itu disebabkan karena dirinya masih tetap seorang Composer meski berpindah dunia. Joshua, Composer Shibuya.
Kakinya mulai melangkah saat lampu di tiang sudah berganti kuning. Tidak ada yang berbeda dari tata letak gedung dan juga pepohonan, semuanya sama persis dengan dunia asalnya. Mungkin bedanya, tidak ada monster yang berkeliaran di dunia ini.
Dua tangannya dimasukkan ke saku celana, ia berjalan dengan santai mengikuti ke mana kakinya melangkah. Tiada tujuan tertentu, tiada pula hal yang mengundangnya untuk bertandang. Ia datang hanya untuk menghabiskan malam natal dengan suasana yang berbeda, ingin berbaur dengan manusia.
Aroma makanan dari toko-toko yang dilewatinya saling bercampur di udara, seakan bersaing untuk menarik orang-orang mampir membeli. Rasa hangat perlahan memenuhi rongga dada kala matanya melihat raut bahagia dari setiap orang yang ditemui. Satu hal yang ia simpulkan, dunia ini adalah tempat yang sangat damai. Tiada Reaper’s Game ataupun sejenisnya, mereka hanya manusia biasa yang ditakdirkan untuk saling mencinta, karena pada hakikatnya mereka tercipta dengan penuh cinta.
Tapi meski begitu, Joshua sama sekali tidak merasa iri. Ia senang dengan dunia asalnya, pun dengan semua isinya. Reaper’s Game dan semua kesibukannya sebagai Composer adalah sumber keseruan yang membuat hidupnya tidak monoton, ada kesenangan tersendiri kala ia sedang menjalankan tugasnya.
Joshua menghentikan langkah saat tiba di tempat yang dipenuhi warna biru. Matanya berbinar, pun mulutnya sedikit terbuka, terpesona akan indahnya Ao no Doukutsu yang baru pertama kali dilihatnya.
Ratusan ribu lampu berwarna biru melilit tiap-tiap pohon yang berjejer rapi di dua sisi, di tengahnya, ada jalan lurus yang cukup lebar sebagai tempat untuk berjalan. Banyak orang yang berhenti di sana untuk mengabadikan moment menggunakan ponsel. Kapan lagi bisa melihat salju yang berubah biru di malam natal?
Joshua masih terdiam di pelataran, masih belum bergerak seincipun sampai-sampai puncak kepalanya mulai ditutupi kepingan salju. Untuk sekian menit, bising di sekitar mendadak hening–seakan terserap oleh indahnya pemandangan yang disuguhkan. Mungkin terkesan berlebihan, tapi itulah yang Joshua rasakan. Ia benar-benar menikmati hal yang baru pertama kali dilihatnya.
Lamunannya buyar saat seorang anak kecil tidak sengaja menabraknya. Ia mengerjapkan mata, menatap sekeliling yang ternyata semakin ramai, kemudian secara perlahan suara bising kembali terdengar di telinga. Setelahnya, Joshua kembali melanjutkan langkah untuk masuk lebih jauh, menyusuri ke mana Gua Biru itu membawanya–meski harus berdesakan dengan banyak orang.
Dalam diam, dua sudut bibirnya sedikit tertarik ke atas, membentuk sebuah senyuman tipis yang jarang diperlihatkan. Maniknya asik bergulir ke kanan-kiri, menyapu setiap sudut yang berwarna biru. Seperti berada di dalam laut, batinnya bersuara.
Langkahnya kembali berhenti saat pandang matanya menatap ke sisi kanan, sedikit terperanjat karena dua sosok yang amat ia kenali masuk dalam indra penglihatan. Bagaikan sebuah cermin yang berjalan, ia melihat dirinya sendiri yang sedang bersama Hanekoma di ujung sana, terbalut coat tebal dan syal yang melingkar di leher.
Posisi mereka sangat dekat, sama-sama menatap layar kamera di tangan Hanekoma. Sepertinya sedang melihat hasil foto yang baru saja diambil?
Joshua dibuat keheranan saat melihat raut bahagia dan tatapan hangat dari dirinya di dunia ini ketika sedang berbincang dengan Hanekoma. Mereka terlihat sangat akrab, bahkan lebih akrab dibanding hubungan ia dan Hanekoma dunia underground. Rasa penasaran menyelimuti hati. Maka, dari kejauhan, ia memilih untuk mengekori mereka yang kini kembali meneruskan jalan.
Dari posisinya, Joshua dapat melihat mereka yang sesekali saling menatap sambil tertawa bersama, seakan memecah hawa dingin dengan penuh suka. Entah topik apa yang mereka angkat ke udara, jaraknya terlalu jauh untuk mendengar obrolan mereka barang sedikit. Dan Joshua tidak ingin lebih dekat dari ini, ia tak tahu harus bereaksi apa jika dirinya di dunia ini melihat dirinya yang berasal dari dunia lain.
Joshua tergelincir saat menapaki jalan yang terdapat salju setengah mencair. Tubuhnya terhuyung ke belakang, dan pasti akan jatuh ke tanah kalau saja Hanekoma tidak dengan sigap melingkarkan lengan di pinggangnya, menahan tubuh yang lebih kecil untuk aman dalam dekapannya. Mereka sedikit berinteraksi setelahnya, Joshua dapat melihat raut khawatir dari wajah Hanekoma, dan kurang lebih bisa menangkap gerak bibirnya yang mengucap; hati-hati.
Mereka melanjutkan jalan dengan posisi yang kian rapat, sebelah tangan Hanekoma meraih tangan Joshua untuk kemudian menautkan jemari dengan erat. Layaknya seorang anak kecil yang menggenggam barang kesayangan–tidak ingin lepas, tidak ingin hilang, menjaganya dengan hati-hati. Hal yang membuat sepasang manik ungu membulat di belakang sana, terkejut akan apa yang baru saja dilihatnya.
Semakin menarik. Joshua mulai berpikir tentang hubungan apa yang dirinya jalani dengan Hanekoma dari dunia ini? Tentu perlakuan semacam itu tidak akan ditemui dalam hubungan yang hanya sebatas teman semata. Ia dan Hanekoma bahkan hanya bertemu untuk membicarakan hal-hal penting menyangkut Reaper’s Game, tidak pernah sekalipun sengaja bertemu untuk menghabiskan waktu berdua–terlebih di malam natal begini.
Ujung jalan membawa mereka pada jejeran stand makanan yang berbaris rapi, ada satu stand di tengah-tengah yang terdapat banyak orang mengantri. Entah apa yang dijual, Joshua tidak dapat melihat sebab tertutup orang-orang. Joshua terlihat menunjuk ke arah tempat itu sambil memasang wajah memelas–membujuk Hanekoma untuk mau ikut mengantri. Untuk beberapa lama, Hanekoma terlihat menolak permintaan Joshua sebelum akhirnya menghela napas lalu mengangguk dua kali. Merubah raut memelas itu menjadi sumringah.
Ada kiranya lima belas menit mereka mengantri, sampai tiba giliran Joshua untuk mendapatkan pesanannya–satu cone ice cream dengan tiga varian rasa yang saling menumpuk. Senyuman lebar tak henti terpancar dari Joshua saat berjalan keluar dari kerumunan, manik ungu itu tidak melepas pandang dari es krim dalam genggaman sedang sebelah tangannya masih digenggam Hanekoma. Benar membuatnya seperti seorang anak kecil yang baru saja dibelikan es krim oleh ayahnya.
Ia berhenti di sisi yang lebih luang untuk mencicipi varian pertama–vanilla, beberapa detik terdiam sebelum akhirnya mengangguk dua kali sebagai bentuk respons. Kemudian dua varian lain berwarna ungu dan merah muda–blueberry dan strawberry-pun dicicipi, lalu menyodorkannya pada Hanekoma untuk turut merasakan.
Lelaki yang lebih tinggi menyambut tawaran itu tanpa ragu, ia sedikit merendah untuk menjilat bundalan es berwarna ungu. Jarak wajah mereka begitu dekat, sangat dekat kalau mau diperjelas. Membuat seseorang di ujung sana mengatupkan bibirnya rapat-rapat karena merasakan desiran asing di dalam dada kala matanya melihat pemandangan itu.
Ada satu hal yang terjadi beberapa menit setelahnya, yang membuat Joshua merasakan aliran darahnya terasa mendidih hingga menyebabnya timbulnya raut kemerahan yang menghiasi pipi. Saat dua manusia di sana kembali berbagi es krim. Namun kali ini, Hanekoma menjahili sosok di sampingnya, ia mencuil sedikit es krim untuk kemudian ditempelkan ke ujung hidung Joshua. Tidak sampai di situ, saat si empunya ingin membersihkan, Hanekoma bergerak lebih cepat, membersihkannya menggunakan bibir. Lantas membuat dua insan itu tertawa bersama, seakan dunia hanya milik berdua.
Rasanya, Joshua ingin berbalik badan dan kembali pulang ke dunia underground. Mengurusi Reaper’s Game ternyata jauh lebih baik untuk kesehatan jantungnya dibanding harus melihat dua manusia itu yang membuat detak jantungnya naik satu ketukan. Tapi, seluruh tubuhnya seakan enggan mengikuti perintah otak, lebih memilih mengikuti kemauan dari dasar hati yang ingin terus mengekori mereka berdua. Terlalu penasaran tentang apa saja yang akan dilakukan, ke mana saja tujuan mereka berjalan, dan ... kejutan manis apa lagi yang akan ia dapatkan. Maka pada akhirnya, lelaki yang hanya memakai kemeja pendek di tengah cuaca dingin itu kembali melangkah, mengikuti dua orang di depan sana yang kembali menautkan jemari.
Aroma makanan pedagang kaki lima yang tadi memenuhi udara perlahan menghilang seiring mereka yang sudah menjauh dari area Ao no Doukutsu. Mereka kini berjalan di atas trotoar pinggir jalan, kemudian berbelok ke gang kawasan kuliner. Puluhan restoran berjejer rapi di kiri dan kanan, banyak aneka makanan yang dijajakan–yang dipajang dalam etalase bening maupun baliho warna-warni.
Di Jepang, makanan di malam natal identik dengan KFC. Maka, Joshua dan Hanekoma memilih untuk makan di restoran itu yang berada di paling ujung dekat dengan jalan raya bagian lain. Antrian di depan kasir tidak terlalu ramai sebab banyak di antara mereka yang memilih untuk drive thru–atau delivery order. Satu hal yang menguntungkan untuk mereka berdua.
Sementara itu, Joshua menunggu di sebrang restoran, di dekat vending machine minuman yang terdapat kursi panjang di sampingnya. Ia membeli sekaleng kopi hangat, beruntung ada beberapa keping uang logam di saku celana yang tersisa. Pandang matanya menyapu sekeliling, tidak bosan memandang gemerlap kota Shibuya di malam natal yang bersalju.
Dua orang di dalam sana duduk berhadapan tepat di pinggir kaca besar, mereka memakan pesanannya sambil sesekali bersenda gurau. Hanekoma menyodorkan potongan kentang goreng pada Joshua, begitupun sebaliknya. Mereka saling menyuapi satu sama lain, tidak peduli pada keadaan sekitar yang ramai orang berlalu-lalang. Ditambah suara lantunan lagu romantis yang samar terdengar seakan mendukung kegiatan mereka berdua.
Hanekoma lebih dulu selesai dengan makanannya, ia menyesap minuman sambil menopang kepala–menatap Joshua yang masih sibuk mengunyah. Tatap matanya begitu teduh, menyiratkan sebesar apa rasa sayangnya pada sosok yang duduk di hadapan. Hingga tanpa sadar, bulan sabit selalu tercipta di birainya tiap kali Joshua masuk dalam indra penglihatannya.
“Kenapa lihatin aku terus? Aku lucu, ya?” ucap Joshua dengan percaya diri, ia berpose sambil tersenyum lebar.
Hanekoma terkekeh pelan, sebelah tangannya terulur untuk menangkup pipi Joshua, “Iya, lucu banget kayak bayi,” lalu dicubitnya pelan pipi gembil itu.
“Aku udah gede, tahu! Bukan bayi!”
“Oh, ya? Memang berapa umur kamu?” Hanekoma menarik tangannya, melipatnya di atas meja lalu memasang raut wajah meledek.
“Dua puluh tahun,” Joshua menjawab sambil menggerakan jemarinya, membentuk huruf V dan O. “Aku bukan bayi, tapi aku lucu, kan?”
Ada senyuman miring yang begitu tipis di bibir Hanekoma, merasa mendapat bahan yang pas untuk menggoda kekasih kecilnya. Lantas ia menjawab, “Iya, lucu. Kalau kita punya anak, pasti lucunya persis kayak kamu.”
Layaknya anak panah yang tepat mengenai sasaran, Joshua dibuat gelagapan setelah mendengar rangkaian kalimat itu. Pipinya memerah padam, ia memutus kontak mata dari lelaki di hadapan yang tengah tertawa puas. Padahal bukan kali pertama ia digoda begini, tapi selalu saja ia dibuat tersipu. Kekasihnya itu memang sangat pandai membuat jantungnya berdebar.
Sepuluh menit kemudian, mereka keluar dari restoran cepat saji itu. Melanjutkan langkah ke tujuan berikutnya, ke cafe favorit Joshua yang menjual berbagai macam dessert dan juga latte art 3D-nya yang menggemaskan. Jalanan masih ramai meski jarum jam terus naik ke angka dua belas, toko-toko yang biasa tutup lebih awal, kini mundur beberapa jam.
Joshua menenggak habis sisa kopi kalengnya sebelum membuang ke tempat sampah yang dilewati, ia masih mengekori dengan dua tangan yang dimasukkan ke dalam saku celana. Rambut abunya berlarian tiap kali diterpa angin, lalu kembali ke posisi semula dengan dramatis.
Reissue Cafe adalah tujuan selanjutnya. Sepasang kekasih itu masuk ke dalamnya yang langsung disambut oleh suara lonceng yang tergantung di atas pintu. Aroma khas kopi dan makanan manis langsung menyapa indra penciuman, seakan merayu untuk segera memesan meskipun hanya satu. Mereka berjalan ke meja kasir untuk memesan dua latte art 3D berbentuk kucing–untuk Joshua- dan bentuk kelinci–untuk Hanekoma, serta satu potong strawberry cake untuk berdua–karena masih merasa kenyang.
Dan Joshua kembali menunggu di luar, bersembunyi di balik tiang-tiang lampu. Ia berdecak sebal. Andaikata ia tahu dua insan itu akan melipir ke cafe, tentu dirinya tidak akan membeli kopi kalengan di mesin otomatis tadi, sesekali ingin merasakan kopi dari cafe lain selain milik Hanekoma.
Beralih pada pasangan kekasih di dalam sana, kini dua cangkir putih berserta satu piring kue sudah tiba di hadapan mereka. Joshua mengeluarkan ponsel untuk memotretnya dari banyak sisi, bentuk kucing yang menyembul ke permukaan begitu lucu untuk dipandang, dan terasa sayang untuk dilenyapkan.
Ia terlalu fokus dengan ponselnya, mengabaikan sekitar hingga terdengar suara bidikan kamera yang berasal dari arah depan. Kepalanya menoleh, menatap Hanekoma yang baru saja memotretnya dengan kamera yang dibawa.
“Lucu,” gumam Hanekoma memperlihatkan hasil bidikannya.
“Paparazzi, huh!”
Hanekoma terkekeh, “Kalau kamu mau tahu, rasanya aku pengen motret kamu setiap detik. Karena tiap kedipan mata kamu ‘tuh terlalu berharga untuk dilewatkan.”
“Nggak sekalian motret aku setiap aku napas?” Joshua mencebir–tidak dalam artian serius. Di masukkannya kembali ponsel itu ke dalam tas, lalu menarik cangkir miliknya agar lebih dekat.
“Mhn, ide yang bagus!” Hanekoma memasang raut berpikir, menganggukkan kepala beberapa kali lalu kemudian tertawa karena mendapat tatapan tajam dari Joshua.
“Aku laporin polisi, lho!” ancam Joshua bercanda.
“Polisi nggak akan terima laporan kamu,” Hanekoma mengibaskan tangannya di udara, “pasti kamu dimintai nomor telpon orang tua untuk jemput kamu, deh.”
“Kenapa gitu?”
Senyuman kembali mengembang sebelum lelaki yang lebih tua itu menjawab, “Polisi nggak terima laporan dari anak kecil.”
Detik berikutnya, Joshua meninju pelan lengan kekasihnya, turut tertawa bersama akan candaan yang baru saja mengudara. Candaan yang tidak akan bosan untuk didengar meski telah beribu-ribu kali terlontar.
Mereka sama-sama mulai meminum minumannya, dengan berat hati menghilangkan hewan gemas yang menyembul di sisi cangkir. Rasa Caramel latte memenuhi sudut mulut, terasa sangat pas di tengah udara dingin yang melanda.
“Kamu tahu nggak kenapa aku pilih bentuk kucing?” Joshua membuka obrolan, memotong sedikit kue dengan garpu kecil.
“Kenapa?”
Ditelannya terlebih dulu kue itu sebelum menjawab, “Karena ngingetin aku sama kamu.”
Hanekoma menaikkan sebelah alis, “Kucing ‘kan suka ngedusel, manja, maunya di elus terus. Ya ... memang sama kayak aku kalau ke kamu, sih. Setiap berdua sama kamu di kamar ‘tuh maunya–”
“Stop! Stop! Jangan diterusin lagi!” Joshua sesegera mungkin membekap mulut Hanekoma sebelum kalimatnya tuntas terucap. Wajahnya memerah padam sampai ke daun telinga. Padahal niatnya ingin menggombal, ingin melihat si surai hitam itu malu-malu. Tapi yang terjadi malah sebaliknya. Memang kekasihnya itu menyebalkan, huh!
“Sekarang gantian aku yang nanya. Kamu tahu nggak kenapa aku pilih bentuk kelinci?” satu senyuman terukir di birainya saat Joshua menggelengkan kepala, “kelinci tuh menggambarkan diri kamu. Butuh temen, tapi kabur kalau ada yang deketin. Nggak sembarangan yang bisa deketin kamu. Bener nggak?” Hanekoma menggantung kalimat, menunggu respons Joshua yang mengangguk dua kali, “dan ternyata, si Kucing mampu meluluhkan si Kelinci sampai-sampai mau berbagi kandang.”
Butuh waktu beberapa detik untuk Joshua menangkap arti ucapan Hanekoma, sebelum akhirnya suara tawa terdengar di antara mereka. Sebuah perumpamaan yang entah di mana letak korelasinya, namun tetap saja Hanekoma dengan segala keahliannya dalam menggombal mampu membuat lelaki kecil itu tersipu.
“Jelek banget masa perumpamaannya,” cibir Joshua lalu kembali meminum kopinya.
“Nggak apa, soalnya di dunia ini, yang cakep itu cuma kamu. Kelinci-nya Hanekoma.”
Kalau tidak terbiasa, mungkin Joshua akan tersedak kopi yang masih berproses menuruni kerongkongannya. Siapa yang tidak terkejut jika mendapat kalimat begitu tanpa aba-aba terlebih dulu? Kelinci-nya Hanekoma, dua kata yang memporak-porandakan hati Joshua hingga membuat detak jantungnya tidak lagi beraturan. Dan untungnya, lelaki berambut kelabu itu sudah terbiasa akan hal itu, yang setidaknya tidak membuatnya tersedak meski kemerahan di pipi tidak dapat ia hindari.
Hanekoma mengambil buah beri merah yang berdiri di atas kue, membawanya ke samping pipi Joshua untuk disejajarkan, “Pipi kamu merahnya sama kayak stroberi. Boleh aku makan nggak?”
“Boleh, makan aja. Aku udah cukup makan cakenya aja, kok.”
“Bukan stroberinya, lho ....”
Joshua menautkan kedua alis, “Terus?”
“Pipi kamu.” Hanekoma mecubit pelan pipi kekasihnya, lalu memainkannya dengan gemas, “ini, lho, merah banget kayak mochi stroberi.”
Joshua membiarkan Hanekoma memainkan pipinya, tidak protes untuk minta dilepas ataupun memintanya untuk berhenti. Ia selalu suka tiap kali kekasihnya melakukan hal itu–selalu suka dengan semua sentuhan dari Hanekoma.
Sebagian lampu yang dipadamkan pihak cafe seakan memberitahu mereka bahwa sebentar lagi cafe akan tutup. Wajar saja, jam di dinding sudah menunjukkan angka sepuluh malam. Padahal seingat Joshua, mereka masuk pukul sembilan lewat sepuluh. Sangat tidak terasa sudah lima puluh menit mereka berada di sana, waktu seakan enggan untuk berjalan lambat tiap kali mereka bersama.
Berbeda dengan mereka, Joshua yang menunggu di luar cafe entah sudah keberapa kali mengembuskan napas. Merasa bosan karena menunggu terlalu lama. Mau ditinggal, tapi masih penasaran akan hal yang mereka lakukan setelah ini. Terlebih, tentang topik apa yang mereka bicarakan hingga membuat keduanya sering tertawa bersama. Sungguh, ia sangat ingin tahu walau hanya satu paragraf.
Tubuhnya yang tadi bersandar pada tembok, kini ditegakkan saat melihat dua insan itu keluar dari cafe. Ia menarik napas dalam-dalam sebelum melanjutkan langkah, mengira-ngira ke mana tujuan mereka selanjutnya. Apakah ke taman? Bioskop? Area streetfood? Atau langsung pulang? Ke mana pun itu, Joshua sudah bertekad untuk berada lebih dekat dari yang sebelumnya.
Dan ternyata, mereka masuk ke toko yang menjual berbagai macam barang. Hiasan dinding, gantungan kunci, alat rumah tangga, lampu warna-warni, pernak-pernik lucu, dan lain sebagainya tersedia di sana. Banyak orang yang datang untuk membeli kado. Di depan pintu masuk, ada Santa Claus yang membawa karung di pundak, membagikan susu kotak pada tiap pengunjung yang datang.
Kali ini, Joshua ikut masuk ke dalam karena takut kehilangan jejak–toko itu memiliki banyak rak yang menjadi sekat, sekaligus ingin melihat barang apa saja yang dijajakan di dalam sana. Baris perbaris ia lalui, melihat kiri-kanan juga dua orang di depan sana agar jangan sampai menghilang dari pandangan. Mereka terlihat berbincang sebentar sebelum akhirnya berpencar. Joshua ke arah kanan dan Hanekoma ke arah kiri.
Sosok yang berdiri di tengah rak dibuat kebingungan perihal siapa yang akan ia buntuti. Ia takut kalau-kalau satu di antara mereka berpapasan dengan dirinya. Bisa gawat. Dan pada akhirnya, ia lebih memilih untuk mengekori dirinya sendiri dengan menutupi wajah menggunakan kipas tangan yang baru saja diambilnya–meminjam, hanya untuk berjaga-jaga.
Joshua berhenti di depan rak khusus pernak-pernik. Gelang batu berwarna ungu muda berkilau menjadi benda pertama yang diangkatnya ke udara, kemudian beralih pada benda-benda yang lain. Di ujung rak, ada deretan kacamata hitam yang menarik perhatian Joshua. Ia mendekat, melihat-lihat dengan seksama sebelum akhirnya mengambil satu kacamata dengan model kekinian, memperhatikan tiap detail, dan membayangkan saat Hanekoma memakainya–apakah cocok atau tidak.
Ya, mereka berpencar untuk bertukar kado.
Satu senyuman mengembang sebelum ia membawa benda itu kembali ke tempat tadi mereka berpisah. Tak lama, datang Hanekoma dari arah kiri yang membawa music box berbentuk bola kristal LED yang terdapat figura kucing di dalamnya.
Mereka langsung berjalan menuju kasir untuk membayar tanpa saling berbicara terlebih dulu. Mungkin dikarenakan suasana yang ramai atau alasan lain yang hanya diketahui oleh mereka berdua. Di depan pintu, mereka diberi susu kotak oleh Santa Claus sebelum berbelok ke arah kiri.
Joshua buru-buru mengikuti setelah kembali menaruh kipas tangan yang tadi dipinjamnya, langkahnya dihadang Santa Claus yang juga memberinya sekotak susu meski ia tidak membeli apa-apa. Awalnya ingin menolak karena rasa yang didapatnya adalah rasa yang sangat tidak ia suka. Tapi ia tidak punya cukup waktu untuk itu, dibanding harus kehilangan jejak, ia lebih memilih menerima dan menyusul mereka berdua.
Semakin sepi jalan yang disusuri, mungkin karena jam yang semakin larut. Toko-toko sudah banyak yang tutup, trotoar jalan pun tidak lagi sepadat tadi. Dua orang itu memasuki kawasan Taman Yoyogi, dekat dengan lokasi Ao no Dokutsu. Mereka duduk di kursi panjang dekat air mancur, di bawah pohon yang–setidaknya-melindungi mereka dari butiran salju. Sementara Joshua bersembunyi di balik pohon besar yang posisinya ideal–tidak jauh dan tidak dekat, namun cukup untuknya mendengar percakapan mereka.
Mereka sama-sama mengeluarkan barang yang tadi dibeli, “Aku beli kacamata buat kamu. Alasannya, karena model kacamata yang kamu punya udah ketinggalan zaman. Yang ini lebih keren, kan? Kayak anak muda,” Joshua memberikan hadiahnya untuk Hanekoma.
“Terima kasih, Kecil. Mulai besok aku pakai, ya,” Hanekoma tertawa kecil menerima hadiah dari kekasihnya, “ini, aku beli music box yang bisa dipakai sebagai penghantar tidur kalau kamu lagi insom. Kebetulan banget ada patung kucing di tengahnya, aku pikir mungkin kamu akan suka.” diserahkannya bola kristal itu pada Joshua.
“Makasih! Aku suka banget. Dan pasti akan berguna, karena udah dua minggu ini aku susah tidur,” Joshua terlihat sumringah menerima hadiahnya. Dihidupkannya lampu LED dan diputarnya kunci musik beberapa kali hingga terdengar instrumen yang begitu mendayu memasuki telinga. “Kucingnya lucu banget, sama kayak kamu, Ha-neko-ma.”
Hanekoma kembali tertawa, sebelah tangannya mengusap puncak rambut Joshua dengan penuh sayang. Disampirkannya helaian rambut yang menghalangi wajah kekasihnya ke belakang telinga. Kemudian jemarinya turun membelai pipi mulus yang sedikit kemerahan.
“Eh, ini susu yang tadi di kasih Santa, ya?” Joshua mengambil susu kotak di dalam plastik, “yeay! Aku dapet rasa matcha.”
“Aku dapet rasa ....” Hanekoma menggantung kalimat karena masih merogoh kantung belanjanya, “pisang? Emang enak, ya?”
“Enak, ‘lho! Cobain, deh.”
“Tukeran, dong.”
Joshua menggeleng cepat, “Nggak boleh. Cobain aja, nih.”
“Kalau cobain di sini, boleh?” Hanekoma menunjuk bibirnya, mengisyaratkan sesuatu yang membuat Joshua memalingkan wajah.
“No!” jawaban singkat yang membuat lelaki jangkung itu kembali tertawa.
Semua tingkah kekasih kecilnya itu memang selalu lucu. Bukan hanya membuat tertawa, tapi juga membuat rasa sayangnya kian bertambah.
Sementara dua orang itu diselimuti bahagia, Joshua kembali mengembuskan napas saat melihat susu kotak dalam genggamannya. Entah kesalahan apa yang ia lakukan sampai-sampai mendapat varian rasa yang seumur-umur ia hindari. Rasa taro, musuh bebuyutannya.
Gamang. Joshua bingung mau meminumnya atau tidak. Satu sisi ia tidak suka dengan rasa taro, di sisi lain ia cukup haus tapi tidak punya cukup uang lagi untuk membeli minuman kaleng. Terlalu lama menimang untuk akhirnya memilih mengalahkan ego, meminum susu itu meski harus bersusah payah menelannya.
Dua orang di sana sudah kembali berdiri, bersiap untuk melanjutkan langkah yang entah ke mana lagi.
“Terima kasih untuk hari ini. Aku antar sampai stasiun, ya?” ucap Hanekoma lembut sambil membersihkan sedikit salju yang jatuh di atas kepala dan syal Joshua.
“Terima kasih juga. Selamat natal!” balas Joshua, memberikan senyum lebar hingga menenggelamkan mata.
Cukup lama mereka berdiri berhadapan, Hanekoma menoleh ke kanan-kiri, melihat kondisi sekitar yang sudah sepi untuk mencium bibir Joshua. Tidak ada permintaan lebih dari ciuman itu, hanya sebatas menempelkan dua gumpalan lembut dalam kecupan panjang di malam natal. Sebuah kecupan yang menyalurkan rasa sayang, memecah dingin berganti hangat, menjadi penanda bahwa mereka saling memiliki satu sama lain.
Setelahnya, Joshua tertawa kecil, terlihat sangat bahagia. Sangat sangat bahagia, kalau mau diperjelas. Raut bahagia yang berbeda dari sebelum-sebelumnya, yang membuat Joshua mengedipkan mata dan berbalik badan–menempelkan punggung pada batang pohon di belakang. Ia bingung, tanda tanya besar menggelayut di pikiran. Bagaimana bisa dirinya memasang ekspresi begitu hanya karena hal kecil?
Bahagia karena makan bersama atau diberi hadiah, itu adalah hal wajar. Tapi, bahagia hanya karena satu ciuman? Bagaimana bisa hal itu terjadi?
Pada akhirnya, Joshua memilih untuk berhenti mengikuti mereka. Ia merogoh saku celana untuk meraih ponsel, jemarinya dengan cepat mencari nama Hanekoma untuk minta dijemput–yang ternyata lelaki itu sudah terlebih dulu mengiriminya pesan. Tiga puluh menit lalu, menanyakan keberadaan dirinya.
Sepuluh menit ia menunggu, dua orang yang tadi dibuntuti sudah pergi entah ke mana. Susu kotak dalam genggaman sudah habis tak tersisa, terlalu tenggelam dalam pikiran hingga tidak lagi peduli pada rasa susu yang diminumnya.
“Menunggu lama?” suara sapaan dari Hanekoma yang baru saja tiba membuatnya menolehkan kepala.
“Tidak terlalu, baru sepuluh menit.” Jawab Joshua sambil melangkah mendekat, membuang kotak susu ke tempat sampah di dekat Hanekoma.
“Seharusnya kamu berhenti melakukan ini, Josh.” Hanekoma memegang pelipisnya, pening akan kelakuan sang Composer.
“Aku melakukan ini supaya kamu tidak terus bersembunyi di dalam kafemu yang payah itu, Mr. H.” jawab Joshua enteng.
Hanekoma tertawa canggung, “Ya, ya. Terima kasih atas perhatiannya.” Meski baru saja mendapat ucapan tidak mengenakkan, Hanekoma melepaskan syal yang dipakainya untuk dikalungkan pada Joshua. Nampak si surai abu yang sedikit terkejut dan hanya memandangnya dalam diam. “Aku tahu rasa dingin tidak terlalu mengganggumu, tapi tolong turuti aku, ya?”
Merasakan syal yang melingkar di leher, Joshua kembali teringat akan pemandangan yang tadi dilihatnya, tentang dirinya yang sebegitu bahagianya saat dicium oleh Hanekoma. Dari jarak sedekat ini dan di selimuti oleh rasa penasaran yang besar, Joshua akhirnya memberanikan diri untuk berjinjit–menyamai tingginya dengan Hanekoma untuk mencium bibirnya tanpa permisi.
Mata ungunya membulat, kemudian ia menyudahi ciumannya yang hanya berlangsung selama beberapa detik. Kini, rasa penasarannya sudah terjawab. Perihal bagaimana bisa dirinya sebahagia itu hanya karena dua gumpalan lembut yang saling menempel.
“Mhn, itu tidak buruk. Aku rasa, aku sudah tahu jawabannya.” monolog Joshua pelan, ia menutupi sebagian wajahnya yang terasa memanas, kalau di lihat, ada segaris senyum yang tercipta di sana.
Sementara itu, sosok yang dicium tanpa aba-aba seakan membeku, terlalu terkejut akan apa yang baru saja di terimanya, “Apa maksudmu?” responsnya kemudian, ia berdeham setelahnya, “yang lebih penting, apa yang–”
Joshua mengatupkan tangan di depan dada hingga menimbulkan suara, lalu berbalik badan memunggungi lelaki jangkung itu–sengaja memotong ucapannya.
“Stop memikirkan hal-hal yang remeh,” Joshua menggosokkan telapak tangannya, sambil setengah berbalik badan ke belakang ia melanjutkan, “ayo pulang, dan traktir aku dengan kopimu. Aku mulai merasa sedikit dingin.” Semburat merah begitu terlihat di kedua pipinya, ia tersenyum malu-malu lalu melangkah maju lebih dulu.
Baru dua langkah, ia harus kembali berhenti karena ucapan Hanekoma membuat tubuhnya benar-benar terasa panas.
“Hei, anak nakal. Akan kuajari bagaimana caranya berciuman dengan benar.”
