Work Text:
Bibir mungil itu mengembuskan napas panjang kala matanya melihat rintik hujan yang masih turun dengan lebat. Diliriknya jam dinding yang sudah menunjukkan pukul empat lewat tiga puluh sore. Sekolah sudah sepi karena bel pulang sudah berbunyi satu setengah jam yang lalu. Latihan piano yang berlangsung selama satu jam menyebabkan dirinya harus pulang lebih larut dari jam yang seharusnya.
Ia menutup pintu loker yang tertulis namanya setelah mengganti sepatu indoor menjadi sepatu outdoor. Kemudian sebelah tangannya mencari payung di dalam tas selempang yang dikenakan sembari kakinya melangkah menuju pintu. Ia berhenti setelahnya, mencoba membuka payung itu dengan menekan bundalannya–yang entah kenapa-terasa keras.
Alisnya bertaut, ibu jarinya menekan semakin kuat hingga kukunya memutih. Namun, payung itu tak kunjung terbuka, rusak disaat yang tidak tepat. Padahal kemarin sore, ia masih bisa menggunakannya tanpa kendala. Mata ungunya menyapu sekeliling, mencari seseorang yang sekiranya ia kenal untuk dimintai pertolongan. Tapi nihil yang didapat, hanya segelintir siswa yang masih tinggal dan tidak satupun yang ia kenal.
Untuk ke dua kali, ia menghela napas panjang–kali ini terdengar begitu pasrah. Dimasukkannya kembali payung itu ke dalam tas, lalu merenung memikirkan dua pilihan yang harus segera dipilih. Memaksakan pulang tapi harus basah kuyup, atau tetap tinggal untuk menunggu hujan yang entah kapan akan reda? Jika saja ada satu orang yang ia kenal, ia akan memilih untuk minta tumpangan payung sampai ke stasiun.
Tapi sekali lagi, semesta sedang tidak berpihak padanya.
Pandang matanya lurus menatap tanah, larut dalam pikirannya yang sedang kritis memikirkan segala kemungkinan yang akan terjadi. Bisa saja ia memilih opsi pertama, lari ke stasiun sambil membentengi kepala menggunakan tas. Tapi badan bagian bawahnya akan tetap basah dan pasti akan membuat jejak air di dalam kereta. Jika memilih opsi ke dua, bagaimana kalau sampai malam ternyata hujan tak juga reda? Apa ia harus menginap di sekolah?
Oh, tentu tidak! Ia tidak seberani itu untuk bertemu dengan mereka.
Ia tenggelam dalam pikirannya sendiri, tidak lagi memperhatikan sekitar yang semakin sepi. Bahkan, saat ada seseorang yang berjalan dari sisi kiri dan mendekat ke arahnya pun ia tidak menyadarinya.
“Joshua?”
Merasa namanya dipanggil, ia menoleh ke sumber suara, mendapati sosok Guru Kesenian yang tadi mengajarinya kini berhenti di sampingnya sambil menggenggam payung bening. “Ya, Mr. H?”
“Belum pulang? Sedang menunggu jemputan?”
Joshua menggeleng, “Tidak. Payungku rusak, jadi aku menunggu hujan reda.”
Nampak sang Guru yang menggangguk dua kali, “Bagaimana kalau ternyata sampai malam masih belum reda juga?” Pemikiran yang sama dengan Joshua barusan, “ayo, kuantarkan sampai stasiun.”
Siswa berambut abu itu nampak berpikir beberapa lama sebelum akhirnya dengan malu-malu menganggukkan kepala sebagai jawaban. Ia melirik ke arah lain saat Guru itu semakin mendekat, mengikis jarak untuk membawanya ke bawah payung yang sama.
Tidak ada obrolan untuk sementara waktu, Joshua masih sibuk menetralkan jantungnya yang berdesir tak karuan karena wangi khas tubuh Hanekoma yang menyapa indra penciuman. Sementara lelaki yang lebih tinggi berkali-kali melirik ke samping, memastikan murid kelas dua itu tidak terkena air hujan. Karena sejujurnya, payung yang sedang digunakan adalah payung untuk kapasitas satu orang, terlalu kecil untuk membentengi mereka berdua dari derasnya hujan.
Dengan gerakan perlahan yang tidak terlalu terlihat jelas, Hanekoma menggeser payung itu agar lebih melindungi Joshua. Terlebih, saat ada embusan angin yang membuat rintik air turut bergeser, ia akan kembali melirik untuk melihat keadaan muridnya.
“Aku akan tersipu kalau kamu terus menatapku seperti itu, Mr. Hanekoma.” Joshua menyindir, membuat sang Guru tertawa kecil.
“Maaf, maaf. Hanya ingin memastikan Yang Mulia tidak kehujanan.” Hanekoma membalas sindiran itu. Tubuhnya bergeser untuk lebih mendekat ke Joshua hingga bahu mereka saling bersentuhan, mengundang tatap dari sang murid yang lebih pendek darinya.
“Sebenarnya, tidak perlu sampai begini, Mr.H.”
“Lalu aku harus meninggalkanmu sendirian, begitu?” Hanekoma menatap mata Joshua, “ya ... aku memang bukan seorang malaikat, sih. Tapi aku tidak mungkin melakukan itu. Lagipula, aku yang memberi tawaran, kan? Santai saja.” lalu birainya membentuk senyuman lebar.
Bola mata Joshua bergulir ke sisi berlawanan, dengan pipi yang sedikit bersemu ia menjawab, “Ya, Mr.H memang baik ke semua orang.” Jeda beberapa lama, sebelum kemudian ia kembali melirik dan melanjutkan ucapan, “tapi ya ... aku tidak komplain, sih. Aku juga kan dapat untungnya,” kembali jeda, “tapi minimal, biarkan aku ikut pegang payungnya.”
Ada udang di balik batu. Ada maksud terselubung di kalimat terakhirnya.
Hanekoma tertawa kecil, “Wah, terima kasih atas bantuannya.” sarkasnya bercanda, karena biasanya murid kelas dua itu hanya ingin terima beres. Dan ia sama sekali tidak menyadari adanya maksud lain dari ucapan Joshua.
Siswa itu perlahan menggenggam gagang payung, di bawah tangan Hanekoma. Sebenarnya, ini adalah kali pertama mereka jalan sedekat ini. Biasanya, Joshua hanya melihat Hanekoma dari kursi murid, dan kalaupun mereka dekat, hanya sebatas jarak Guru yang mengajari muridnya. Tidak benar-benar saling bersentuhan bahu seperti sekarang.
Maka, Joshua tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan. Ucapannya barusan adalah modus semata supaya ia bisa mencuri-curi kesempatan untuk–setidaknya-bisa menempelkan tangannya dengan Hanekoma. Pipinya memerah, detak jantungnya bekerja lebih cepat saat ia mulai melancarkan aksinya. Tangannya perlahan semakin naik, terus naik hingga kulit mereka benar saling bersentuhan.
Joshua sedikit menunduk hingga rambutnya turun menutupi wajah, ia melebarkan senyumnya yang tidak bisa lagi ditahan. Gesekan antara kulit mereka terasa bagai sengatan listrik yang membuat tubuh Joshua melemas, tiap-tiap syarafnya dibuat berdenyut hingga tubuhnya gemetar. Bukan karena dingin, tapi karena dentaman jantung yang mengacaukan pikiran.
Hanekoma melirik saat merasakan bahu Joshua yang bergetar, dilihatnya anak murid yang sedang menunduk dan benar tubuhnya gemetaran. Dipikirnya, Joshua menggigil karena dinginnya angin yang berhembus. Jarak ke stasiun masih lumayan jauh, pun tidak ada tempat untuk berteduh–karena sekarang mereka sedang melewati sungai. Sebagai seorang Guru yang baik, ia berinisiatif untuk meminjamkan jaket.
“Kamu kedinginan, Josh? Mau pakai jaketku?” Hanekoma mengangkat sedikit tangannya, menunjukkan jaket hitam bergambar kucing yang dilipat dua. “Tapi, aku takut satpam kereta melarangmu naik karena mengira kamu masih anak SD.”
Joshua mendengus, “Jangan tersinggung, tapi maaf saja, aku memang tidak mau memakai jaketmu itu. Aku tidak mau kalau sampai tercium parfume orang tua sepertimu, Mr. Hanekoma.”
Hanekoma yang tadi tertawa kecil, kini berubah menjadi tawa yang canggung. Anak itu memang selalu to the point jika berbicara, tidak peduli jika itu menyakiti orang lain. Tapi meski begitu, di antara teman-temannya, Joshua adalah anak yang asik untuk diajak berbincang. Salah satu hal yang membuatnya menjadi murid favorite Hanekoma.
“Oh ... begitu, ya?” lalu hening kemudian, hanya suara dentaman air hujan yang menemani langkah mereka.
Joshua memandang ke arah lain, diam-diam ia menggigit bibir bawahnya karena menahan sensasi letupan kembang api di dalam dada. Lain di mulut, lain di hati. Jauh di dalam hatinya, Joshua sangat ingin menggangguk dan menerima tawaran yang baru saja diberi Hanekoma. Kapan lagi ia bisa memakai jaket dan mencium wangi khas sang Guru? Belum tentu kesempatan yang sama akan datang di esok hari.
Tapi, Joshua takut kakinya tidak bisa lagi melangkah jika ia melakukan itu. Baru ditawari saja, rasanya ia begitu berbunga-bunga sampai-sampai kakinya terasa lemas. Apalagi kalau benar-benar memakainya? Mungkin Joshua akan langsung jatuh terduduk di tanah karena kakinya yang sudah berubah menjadi jelly.
Lima menit mereka berjalan tanpa adanya topik obrolan yang diudarakan. Joshua sedikit merasa bersalah karena mengira Hanekoma marah akan ucapannya tadi. Tidak jauh di depannya, ada vending machine yang menjual minuman. Joshua berniat untuk membeli dua kopi kaleng yang dulu pernah direkomendasikan Hanekoma–supaya ada bahan obrolan antara mereka.
“Mr. H, aku mau beli minuman dulu,” Joshua menoleh, menunjuk mesin penjual otomatis yang dimaksud.
“Jangan di sini, nanti saja di stasiun.” Hanekoma menjawab, “tanggung, sebentar lagi sampai. Lagipula, di situ tidak ada kopi, hanya ada teh dan soda.”
“Memang siapa yang bilang aku mau beli kopi?”
“Oh? Aku kira kamu mau membelikanku kopi sebagai tanda terima kasih.” Hanekoma tertawa setelahnya, tidak menyadari bahwa ucapannya hampir tepat sasaran.
Pada akhirnya, Joshua kembali mendengus karena niatnya sudah ketahuan. Lelaki jangkung itu sering asal berbicara, namun sialnya selalu hampir menebak semua isi hati Joshua.
Remaja abu itu tidak melihat jalanannya di depannya, terlalu fokus menatap tanah dengan pipi yang sedikit menggembung. Hingga kemudian ia dibuat terkejut saat Hanekoma tiba-tiba menariknya ke dalam dekapan.
“Perhatikan langkahmu, Josh. Apa ukuran tiang rambu itu masih kurang besar di matamu?”
Joshua lupa caranya bernapas, matanya membulat sempurna saat daun telinganya tepat menempel di dada Hanekoma, membuatnya bisa mendengar detak jantung sang pria yang bekerja dengan normal–tidak sepertinya yang irama jantungnya dibuat tak menentu.
Kalau saja Hanekoma tidak dengan sigap membawa Joshua dalam dekapan, bisa dipastikan remaja itu akan terpental ke belakang setelah menabrak tiang.
“Memang anak kecil sepertimu harus dituntun sepanjang jalan.” Hanekoma melepaskan pelukannya, memindahkan jaket yang tadi dipegang untuk disampirkan ke pundak.
Kemudian ia meraih tangan Joshua, menyelipkan jemarinya di antara celah jari Joshua untuk digenggam dengan erat sebelum melanjutkan langkah. Joshua masih tidak berkutik sebab masih terlalu terkejut akan hal yang baru dialami. Dapat dirasa olehnya telapak tangan sang Guru yang sedikit kasar namun menyalurkan kehangatan.
Manik ungu itu mencuri pandang ke Hanekoma, menatap garis wajah tegasnya yang sejak awal pertemuan sudah menarik bagi Joshua–bagai sebuah magnet yang memiliki daya tarik yang kuat. Ke manapun Joshua mengalihkan pandang, pada akhirnya, akan tetap jatuh pada sosok yang kini menggenggam tangannya.
Stasiun sudah berada di depan mata, butuh waktu sedikit lagi untuk mereka tiba di sana. Hal yang membuat Joshua mendesah kecewa dalam hati karena enggan melepaskan tautan tangan yang baru terjalin sebentar. Dalam hati, ia berharap kekuatan Doraemon untuk menghentikan waktu dapat terjadi detik ini juga. Ia ingin berlama-lama merasakan hangatnya genggaman tangan Hanekoma, ingin lebih lama mencium aroma cendana dari jarak sedekat ini, ingin sekali lagi merasakan pelukan Hanekoma.
Joshua tidak pernah tahu bahwa Hanekoma membawa kehangatan untuk dirinya. Segalanya tentang Hanekoma–lahir maupun batin- mampu memecah segala dingin yang melanda Joshua. Tubuhnya menjadi hangat, hatinya menjadi hangat sebab perlakuan sederhana yang tiba-tiba.
Terima kasih pada payung yang tiba-tiba rusak, karena dirinya jadi bisa mendapati momentum yang langka ini.
Mereka sudah tiba di depan stasiun, Joshua sengaja tidak melepaskan tautan tangannya, pun dengan Hanekoma yang lebih memilih repot-repot melipat payung dengan hanya sebelah tangan.
“Keretamu sepuluh menit lagi tiba,” Hanekoma membaca papan informasi yang menggantung di langit-langit stasiun, lalu menoleh pada Joshua–memberi sebuah senyum sebelum melepaskan genggamannya. Diambilnya jaket yang tersampir di pundak, lalu dibuka lebar dan dipasangkan pada Joshua, “Hati-hati di jalan.”
“Sudah aku bilang aku tidak mau meminjam jaket–”
“Di dalam kereta dingin, Joshua. Kamu sedikit banyak terkena air hujan, ini untuk berjaga-jaga supaya tidak masuk angin. Jangan menolak.” Hanekoma memotong ucapan, membungkam Joshua yang tidak lagi memiliki alasan untuk menolak.
Ia memakai jaket itu, ukuran yang lebih besar dari tubuhnya membuat tubuh kecil itu tenggelam saat memakainya. Tangannya hanya terlihat ujung jarinya saja, sementara ujung dari jaket itu berada beberapa centi di atas lutut. Dipakainya kupluk jaket itu untuk menutupi kepala, yang ternyata ada tambahan bahan yang berbentuk telinga kucing.
Ya, sekarang Joshua berubah menjadi kucing hitam.
Hanekoma berdeham setelah sekian detik memperhatikan Joshua. Anak kelas dua itu terlihat begitu menggemaskan dalam balutan jaket yang kebesaran. Untuk mengalihkannya, Hanekoma berniat untuk membeli minuman di mesin sana. Sekaligus untuk Joshua untuk nanti diminum di dalam kereta.
Tapi baru juga ia ingin melangkah, ada satu suara yang membuat pikirannya kacau balau. Rasanya ingin membenturkan kepala ke dinding lalu menggigit apapun untuk dijadikan pelampiasan.
“Miaw~”
Oh, God! Apa hal yang lebih menggemaskan selain Joshua yang meniru suara kucing lengkap dengan tangannya yang mengepal di depan dada?
Tidak ada. Mau cari di belahan dunia manapun, tidak akan ada.
“Ayo ikut aku pulang, Kucing Nakal.”
