Work Text:
“SATU green tea latte ya, Kak. Ada tambahan lain?”
“Itu aja. Makasih, ya.”
Setelah mengangguk dan tersenyum sopan, pelayan kafe itu meminta izin untuk mengangkat dua gelas bekas cappuccino yang disimpan di pinggir meja oleh si empunya dengan janji bahwa calon gelas ketiganya―green tea latte-nya―akan datang dengan segera.
Tempat ini tidak terlalu padat pengunjung di jam-jam sore begini. Namjoon mengedarkan mata ke sekelilingnya. Semuanya masih sama. Dengan interior seperti ruang tengah rumah pribadi dengan banyak sofa dan pouffe, juga hiasan lampu meja dan radio tua, membuat suasana kafe masih sehangat dulu.
Namun rasanya kini berbeda bagi Namjoon.
Sudah satu tahun Namjoon tidak menginjakkan kaki di tempat ini.
Betul kata orang-orang. Ketika kita bersedih dan merasa pijakan kita runtuh, bagian paling pahit―namun nyata―adalah dunia tetap berputar seperti biasa. Seperti tidak peduli. Dan kita tetap bernapas dan berfungsi. Bahkan organ tubuh pun kadang menolak bekerja sama untuk tenggelam dalam rasa frustrasi.
Seperti kafe ini.
Yang tetap buka dan menawarkan menu dengan suasana yang sama seperti sebelum-sebelumnya.
Namun rasanya kini berbeda bagi Namjoon.
Sangat berbeda.
Tidak ada kekasih yang duduk di hadapannya sambil menopang dagu untuk mendengarkan ceritanya tanpa menginterupsi. Tidak ada kekasih yang mengusap ujung bibirnya dari busa kopi atau isian kue sus favoritnya. Tidak ada lagi semerbak Orange Blossom milik Jo Malone yang masuk ke penghidunya. Tidak ada kekasih yang menyetir untuk membawanya pulang yang ia temani dengan berdendang di seperjalanan.
Hanya ada satu Namjoon dan tiga gelas minuman yang tak berhenti dipesan untuk membantunya menghilangkan rasa gugup. Mungkin ia sudah menjadi buah bibir pegawai kafe sejak kedatangannya sendirian tadi. Seseorang sempat bertanya mengapa hampir setahun ia tidak mampir untuk ngopi―biasanya hampir seminggu tiga kali ia nongkrong di tempat itu untuk bertugas atau meeting daring―dan mengapa ia datang sendirian tanpa Jimin.
Oh.
Nama itu.
Namjoon hanya tersenyum maklum ketika melihat pramusaji tersebut sempat diberikan sikutan yang sepertinya menyakitkan dari pemilik kafe―yang adalah Hoseok, teman dekat Namjoon juga.
“Ini mau ketemu kok,” jawabnya.
Namjoon sempat melihat Hoseok melotot namun ia segera berjalan ke sudut favoritnya―dan Jimin―dulu sebelum sempat dibombardir pertanyaan oleh sahabatnya itu.
Hoseok dan Seokjin sudah terlalu banyak Namjoon repotkan dalam fase patah hatinya. Membawa Namjoon yang mabuk menangisi Jimin yang pergi lalu muntah di mobil mereka sudah seperti menjadi rutinitas bulanan dalam semester pertama ia tinggal dengan pasangan tersebut. Keduanya tidak ada kekurangan sebagai housemate. Namun terkadang melihat interaksi dua sejoli yang begitu domestik itu, membuat Namjoon teringat kembali pada masa-masa manisnya dahulu bersama kekasih. Maka itu Namjoon memutuskan untuk mencari apartemennya sendiri di tiga bulan ke belakang.
Dan berhasil.
Sebenarnya tidak terlalu berhasil karena ia tetap meratap di akhir minggu. Atau bernyanyi sendu lalu menangis. Atau menulis sesuatu yang mampu meluapkan rindu. Atau menyibukkan diri dengan tangannya sendiri di malam hari yang sepi dengan membayangkan dirinya sedang dicumbu.
Sebenarnya tidak terlalu berhasil karena Namjoon memang tidak ingin melupakan Jimin, lelaki yang sudah lima tahun menghiasi hari-hari sebagai kekasihnya. Sebenarnya tidak terlalu berhasil karena suatu sore, tepatnya dua hari lalu, orang yang menjadi sumber kegamangannya setahun ini mengiriminya pesan bahwa ia sedang tugas di dalam kota dan meminta sedikit waktu Namjoon untuk berjumpa.
Di tempat biasa, katanya.
“Hey?”
“Hey!”
Wangi parfum favorit Namjoon akhirnya bersatu dengan udara yang ia hirup.
Jimin. Park Jimin. Dengan kemeja putih dan celana hitamnya yang rapi, berdiri di hadapannya. Ia meminta izin untuk duduk di seberang Namjoon yang kemudian Namjoon persilakan.
Selalu sesopan itu.
“Aku telat banget, ya? Kamu pasti udah lama nunggu. Maaf banget!”
“No worries,” Namjoon melambaikan tangannya pertanda ia tidak masalah. Toh ia datang lebih pagi memang disengaja. Supaya ada waktu untuk menata perasaannya dulu. Dan membuat beberapa skenario dialog di kepala untuk berjaga-jaga.
“Aku dateng setengah jam tadi sebenernya. Tapi meditasi dulu di parkiran,” ujar Jimin sembari membuka lembaran buku menu yang sebenarnya tidak perlu. Keduanya sudah hafal semua menu di tempat ini di luar kepala.
Namjoon menyadari bahwa Jimin yang salah tingkah ini imut juga.
Bahaya.
Ada kepakan-kepakan sayap di dalam perut Namjoon ketika mengetahui Jimin sama groginya. Ayolah, Namjoon menghabiskan waktu dua jam untuk memilih pakaiannya sore ini. Mundur lagi, Namjoon mengambil cuti setengah hari khusus untuk hari ini. Yang ia pakai untuk potong rambut, melamun untuk merana sebentar, tidur siang, dan mengacak isi lemari sampai ia akhirnya memilih setelan sweatpants abu-abu yang ia padukan dengan parka selutut warna biru kelasi yang senada dengan sepatu botnya.
“Yeah?”
“Ngeliat mobil kamu rasanya grogi.” Namjoon terdiam. Jimin berdeham lalu melanjutkan, “kamu apa kabar?”
Begitu saja.
Tidak ada skenario obrolan habis di jalan jika itu dengan Jimin. Seharusnya Namjoon tidak perlu khawatir. Lelaki tampan yang kerap menyugar rambut hitamnya ke belakang ini―dan membuat Namjoon merasa mau mampus lalu mengumpat dalam hati―selalu tahu apa yang membuat obrolan keduanya terus mengalir tanpa beban. Cerita soal keluarga, peliharaan, pekerjaan dan teman-teman menjadi bahasan yang tidak menjemukan selama keduanya menghabiskan hidangan utama.
“Jungkook sempet cerita kemarin waktu kamu operasi. Kok bisa? Kamu nggak jaga makan ya, setahun ini?” Namjoon tahu ia berjudi dengan membawa topik ini.
Jimin menatapnya sekilas lalu menunduk, menggeleng sambil tersenyum. Namjoon ingin marah. Sejak kapan Jimin, yang pola makan dan olahraganya lebih disiplin dan selalu mencereweti Namjoon soal clean eating ini terkena appendicitis?
Dari teman-temannya ia tahu bahwa Jimin sama-sama mengalami waktu yang berat saat mereka memutuskan berpisah setahun lalu. Namun Namjoon tidak menyangka jika masuk ke ruang operasi menjadi salah satu efek sampingnya. Mengingatnya, Namjoon ingin menangis saja.
Memorinya kembali pada bagaimana kalut dirinya saat tahu Jimin―Park Jimin-nya―masuk ke instansi gawat darurat untuk segera dilakukan operasi pengangkatan usus buntu. Ia mengambil pesawat dengan penerbangan terdekat―dengan harga yang dua kali lipat―untuk memastikan sendiri keadaan mantan kekasihnya. Setelah bercengkrama singkat dengan orang tua Park dan memastikan operasi Jimin berjalan lancar, Namjoon segera mengambil penerbangan berikutnya karena dalam waktu empat jam ia harus melakukan presentasi di Seoul.
“You went there, right, Joonie?”
“Huh?”
Jimin baru saja memanggilnya Joonie.
Joonie.
Isi kepala Namjoon mendadak kosong.
“All night long during my surgery.”
“I’m―”
“Makasih banyak, ya.”
“It’s not a big deal … really.”
Namjoon memutuskan untuk tidak mengelak.
“It was. It is.” Tatapan Jimin kembali terpancang padanya dan Namjoon merasa kedua lututnya lemas. “Operasinya juga termasuk operasi kecil, tapi kamu bela-belain terbang ke Busan. Maaf udah ngerepotin ya, Joon?”
Suara Jimin terdengar begitu lirih dan merdu.
Nada bicara yang selalu Jimin pakai untuknya. Namjoon ingin meluruh saja di tempat duduknya. Rindu akan suara itu yang dulu kerap dibisikkan dekat dengan telinganya sebelum tidur, atau setelah lembur yang melelahkan, atau selepas mereka bercinta.
“Nggak ada kali kedua, janji sama aku, Ji.” jawab Namjoon sembari mengaduk latte-nya yang tinggal tersisa lelehan dari es batunya saja dengan warna hijau pucat encer menyedihkan.
“Mungkin jadinya impas ya, dibayar sama paniknya aku waktu kamu masuk ER gara-gara kebut-kebutan di sepeda trus berakhir difisioterapi.”
“Bisa nggak bahas itu nggak, Ji? Malu banget asli.” Namjoon mengerang seraya mengusapkan kedua telapak tangannya pada wajahnya sendiri.
Malu sekali.
“No no no, Joonie, let me get this straight …” Jimin sepertinya sedang dalam mood ingin menggoda, dan Namjoon kembali mengerang protes walau ia dengarkan juga―dan oh, Jimin memanggilnya Joonie lagi barusan. Telinganya memang tidak salah dengar, ‘kan? “Kim Namjoon, anak sepeda senja selama dua puluh tahun lebih bisa nyusruk ke gorong-gorong tuh gimana ceritanya coba?”
Jimin tertawa.
Kedua matanya hilang dan tubuhnya berguncang. Tampan sekali. Satu tangannya kadang mencoba menutupi bibirnya atau wajahnya yang merona―padahal tak usah ditutupi, ia terlihat indah sekali.
Tentu saja Jimin tahu perkara Namjoon yang diam-diam menjenguknya ke rumah sakit di tengah kesibukan pekerjaannya waktu itu sebagaimana Namjoon yang tahu bahwa Jimin diam-diam menjenguknya saat ia sedang tidur di ruang perawatan karena tulang tempurung kakinya bergeser. Salahkan teman-temannya yang seperti ember bocor.
Jimin tidak usah tahu bahwa sebab sebenarnya adalah saat itu ia sedang bersepeda dengan kecepatan tinggi sambil menangis karena rindu kekasihnya, rindu Jiminnya ada di sampingnya.
Setidaknya kini Namjoon mengerti. Cuaca hujan, air mata yang menggenang, dan jalanan licin ternyata bukan perpaduan yang baik untuk menghilangkan rasa sepi di dalam hati.
“Ati-ati lain kali, Joon. Jangan ngelamun. Kebiasaan kamu tuh.”
Ada nada ngomel yang familier dari cara bicara Jimin barusan dan―sumpah mati―Namjoon nyaris saja beranjak dari tempat duduknya untuk berlutut dan meminta Jimin menjadi kekasihnya kembali.
Menjadi miliknya lagi.
Namun sepertinya tidak perlu karena setelah beberapa saat hening yang syahdu, Jimin mengatakan sesuau padanya.
Suaranya lirih.
Jika Namjoon tidak ada di hadapannya, ia pasti berpikir jika pria di hadapannya sedang berbicara pada dirinya sendiri.
“I missed you, Joon. I missed you so much it’s … God, it hurts.”
Kalut sekali.
“Shush … it’s okay. I’m here.”
Sama, Ji.
“Maaf kalo pertanyaanku lancang, tapi aku butuh tau,” Jimin menghela napasnya panjang sebelum kembali mengatakan, “are you … seeing someone right now?”
Namjoon nyaris tersedak ludahnya sendiri dan menjatuhkan gelas isi es batunya jika ia tidak segera menguasai diri.
Gimana aku bisa cari pengganti kalau di setiap aku nutup mata, cuma ada kamu, senyuman bodoh kamu, lengkungan mata bulan sabit bodoh kamu, dan cekikikan bodoh kamu yang selalu muncul, Ji?
Namjoon menelan isi kepalanya yang riuh untuk menjawab sesuai dengan pertanyaan yang diajukan lelaki yang terlihat sungkan untuk menatapnya tepat di mata berlama-lama.
Kini ia bahkan sudah lupa alasan mereka putus dulu itu apa. Yang pasti penyebabnya adalah keputusan yang diambil ketika kepala keduanya sedang tidak waras.
“I’m not. Are you?”
Jimin mengangkat wajahnya.
Lalu menggeleng.
Seperti gerakan lambat di film-film.
Senyumnya tipis merekah, yang dibalas oleh Namjoon seperti keduanya sedang becermin.
Kemudian mereka kembali pada keheningan yang nyaman. Dengan tambahan lirikan malu-malu yang dicuri di tiap kesempatan seperti remaja yang sedang kasmaran.
Menggelikan.
“Joon?”
“Mm?”
“Is there … still any chance … for me? For us?”
Namjoon meraup sebanyak-banyaknya oksigen sembari memejamkan mata. Ia membuka kelopak matanya hanya untuk bertemu dengan pandangan Jimin yang terpaku ke arahnya hampir tanpa diselingi kedip. Fokus, memuja, merindu, dan pasrah sekaligus.
Namjoon merindukan dipandang seperti itu.
“Always, Ji.”
Perlahan, Jimin mengulurkan tangannya untuk menggenggam telapak tangan Namjoon di atas meja.
Perlahan, Namjoon mengaitkan jemari keduanya.
Rasanya seperti menemukan kepingan puzzle yang sempat hilang, yang kini bertaut saling melengkapi.
Untuk kali ini, tidak akan pernah dilepas lagi.
*
Grup Bertujuh
Yoongi: tes tes
Yoongi: grupnya aktifin lagi ya. dua oknumnya udah balikan soalnya
Tae: HALELUYA!
Tae: gc minjoon die hard support system dibubarin aja ya kak
Me: gc WHAT
Pacar: haiiii~
Seokjin: hai hai aja lu biji pala. sungkem!
Hobi: ahaha, kak!
Jungkook: hai juga jimin :D
Jungkook: kalo boleh usul besok2 gausah putus2 lagi ya. yang puyeng sekampung soalnya, segala pake masuk ruang operasi lu. joon juga pake keserimpet segala :D
Pacar: ga janji ya kook :p
Me: sayanggggg :’(((
Pacar: noooo don’t :’((( me, becanda sayanggg :*
Hoseok: HOEK
Yoongi: anjir. bubar bubarrr
Seokjin: kick gue dari grup ini plis bgt inimah
*
