Chapter Text
Sanji membenci hal ini. Dimana dia tidak berguna dan hanya menyusahkan seluruh kru.
Sanji terkena buah setan yang menyebabkan ia menjadi orang pesakitan. Buah itu menyebabkan ia menderita deman luar biasa dan juga tubuhnya memiliki suhu yang tidak normal. Hari ini tubuhnya akan sepanas 39 derajat, keesokan harinya tubuhnya sedingin es. Ditambah fakta kalau kepalanya pusing seperti ditimpa gajah, juga perut Sanji tampaknya tidak bisa dimasukan makanan apapun, karena dia selalu merasa mual, hingga memuntahkan makanannya.
Semua itu membuat Sanji tak bisa menggerakkan tangan dan kakinya untuk berdiri dan juga untuk mengambil sesuatu. Faktanya Sanji bahkan kesusahan untuk duduk juga Sanji bahkan tak bisa mengangkat tangannya ke rambutnya sendiri.
Dan disinilah ia sekarang, terbaring lemas tak berguna di ruangan Chopper dengan selang infus. Bahkan ada tabung oksigen di sebelahnya karena Sanji pada saat tertentu kesulitan bernafas.
Sanji saat ini sendirian, karena yang lain sedang rapat mengenai kondisi juru masak topi jerami itu.
.
.
"Kita harus menemukan pria yang membuat Sanji seperti ini." Ucap Nami dengan penuh tekad. Well, dengan keadaan Sanji yang seperti ini, mereka kehilangan tidak hanya koki terbaik di dunia, tapi juga Trio Monster yang selalu melindungi kru mereka.
"AKU INGIN MAKAN MASAKAN SANJI. AKU AKAN MENGHAJAR ORANG YANG MEMBUAT SANJI BEGINI!" Luffy berteriak menggebu-gebu, kesal karena sudah puasa selama seminggu tak makan masakan Sanji.
"Kau benar Luffy. Aku juga ingin makan enak lagi. Dan yang terpenting, kru kita dalam masalah kalau Sanji tak bisa bertarung." Ucap Usopp dengan pucat pasi mengetahui kalau tanpa Sanji, nyawanya bisa melayang kapan saja di kapal beranggotakan orang gila ini.
"Dan yang terpenting, Sanji tampaknya sangat menderita sekali karena sakitnya. Hikss...! Aku ingin dia cepat sembuh." Chopper, rusa lucu mereka menangis mengingat wajah sakit Sanji.
"Ya, kita harus menemukan orang itu karena jika dibiarkan selama 3 bulan lebih, Cook-san bisa mati." Ujar Robin datar dengan raut wajah seperti dia membacakan berita.
"ROBIN!!" Sahut mereka bersamaan ngeri dengan ucapan Robin, karena ucapan Robin itu kebanyakan adalah fakta.
"Yang jelas aku akan menebas siapapun yang membuat Cook seperti ini."
Semua orang terdiam mendengar Zoro menggeram seperti itu. Usopp bersumpah dia melihat Iblis dalam diri Zoro.
.
.
Lalu kecelakaan pun terjadi, mereka semua diserang oleh Marinir, dan kali ini ada 30 kapal yang mengepung mereka.
Luffy adalah Luffy, Kapten mereka yang kadang tidak punya otak. Dia menghajar para Marinir itu tanpa pikir panjang, mereka semua berusaha kabur dari sana.
Semua orang dalam keadaaan genting, dan melupakan Sanji yang lemah yang bahkan tak bisa menggerakkan satu jari pun terbaring lemah di ruangan Chopper.
"Well, aku tak tahu kalau kru Topi Jerami yang fenomenal itu rupanya punya anggota seorang pesakitan."
Ujar para Marinir, yang berjumlah sekitar 5 orang itu. Sanji marah mendengarnya, tapi juga mengutuk kebenaran yang diucapkan oleh mereka, karena selama ia sakit, dia tidak berguna.
"Tutup mulutmu brengsek!" Dan Sanji yang kesal mendesis dan mengumpati mereka, seperti biasa.
"Wah wah, masih bisa berbicara rupanya!" Ejek mereka.
"Kalau tidak salah kau Black Leg Sanji, benar kan?" Tanya seorang Marinir, mencoba mengingat-ngingat.
"Benar, orang yang tak sempat di foto itu kan? Makanya di gambar?!" Tanya satu lagi, saat mengingat salah satu fakta.
"Wah, ternyata foto itu jelek sekali. Kalau dilihat dari dekat ternyata kau lumayan manis juga pirang." Ujar yang lain, sambil matanya menunjukkan pemujaan yang membuat Sanji mual.
"Ka-kalau itu benar, kita harus cepat." Ucap satu marinir yang tampak ketakutan saat teman-temannya berbicara tentang Sanji.
"Kenapa?" Tanya mereka semua kompak, Sanji pun penasaran. Sial! Jika dia sehat, dia bisa mengalahkan mereka semua dengan mudah. Batin Sanji kesal.
"Ka-karena, kalau kita tidak cepat dan ketahuan, kita akan mati, oleh si Pendekar Pedang, Pemburu Bajak Laut Roronoa Zoro."
'Hah?!' Batin Sanji bertanya-tanya. Apa hubugannya ia dan Marimo bodoh itu?
"Jadi gosip itu benar ya? Ternyata si Roronoa itu pacar si pirang manis ini? Heh! Ternyata Pemburu Bajak Laut itu tahu juga memilih pasangan." Ujar salah seorang dari mereka sambil menatap Sanji di sekujur tubuhnya.
"Cepatlah kita bawa yang ini dan kita dapatkan hadiahnya." Ujar para marinir, dan mereka segera mendekati Sanji.
Sanji berusaha menggerakkan seluruh tubuhnya mencoba melawan, mulai dari menggigit tangan yang mencoba menutup mulutnya, memukulkan kepalanya ke badan mereka, dan meronta-ronta. Tapi perlawananya tak mampu membuat ia lepas dari cengkeraman merek.
'Tolong! Siapapun tolong aku!' Batin Sanji mulai ketakutan karena akan dibawa oleh para marinir dengan keadaan seperti ini.
'Luffy! Usopp! Nami-san! Robin-chan! Chopper! Marimo! Zoro! Zoro tolong aku!' Sanji berusaha menjerit, tapi mulutnya ditutup oleh 2 tangan hingga dia tidak bisa berteriak.
Para Marinir sudah meninggalkan Going Merry dan saat ini Sanji sudah berada di kapal angaktan laut. Para Marinir hebat sekali menyelinap di kapal kecil itu tanpa ketahuan oleh kru topi jerami lain. Sanji sudah berada di dalam kapal, dan akan dibawa dan dimasukan di penjara kapal sebelum darah tiba-tiba mengalir mengenai wajah Sanji.
"Lepaskan dia." Zoro menggeram rendah, seperti binatang buas yang sedang murka. Sanji selalu tahu kalau Zoro bertampang bengis bagai iblis, julukan Setan East Blue memang pantas dia dapatkan.
Tapi kali ini Zoro tampak sangat marah dan terlihat sangat ingin membunuh, bahkan para marinir yang ada di kapal tampak menggigil ketakutan.
Zoro berhasil menebas para Marinir yang ada di kepal tersebut, tapi si Marinir yang memegang Sanji, pria yang ketakutan itu ternyata cukup licik menjadikan Sanji sebagai tameng agar tidak dicincang oleh Zoro.
"Aku sudah tahu kalau kelemahan Roronoa adalah dirimu. Jadi, tidak mungkin Samurai itu menebas diriku kalau kau dijadikan tameng!" Ujarnya senang mengetahui kalau dia selamat karena memegang Sanji.
"Dasar bajingan pengecut!" Umpat Sanji, dan si marinir pengecut itu merasa terhina dengan umpatan Sanji.
BRUG
Ditengah pelariannya, marinir itu masih sempat memukul kepala Sanji, menyebabkan kepala si pirang yang sudah berat semakin berat.
'Sialan!' Batin Sanji kesal. Sanji berharap kalau kepala Marimo itu menyerang tanpa ampun walaupun ada Sanji disana. Sanji mengetahui sejak ia sakit, Marimo menganggap kalau dia adalah benda rapuh yang mudah rusak. Sialan sekali Marimo itu.
Sanji tidak ingin diselamatkan oleh manusia gua berambut hijau itu. Sanji akan selamat karena usahanya sendiri.
Dengan menahan sakit yang teamat sangat di sekujur tubuhnya, Sanji bersiap melakukan serangan yang bisa dia lakukan saat ini.
BRUG
Dengan sekuat tenaga, Sanji membenturkan kepalanya dengan kepala Marinir itu, hasilnya si Marinir pingsan dengan darah di kepala dan hidungnya, hal yang sama terjadi pada Sanji, dengan kepalanya yang sangat pusing.
BRUG
Sanji dan marinir itu jatuh dan Sanji memucat saat melihat segerombolan marinir ke arah mereka, dan di kejauhan, Sanji melihat Going Merry akan kabur dari kekacauan ini, meninggalkan Zoro dan juga dirinya yang masih di kapal angkatan laut.
"ZORO!!! PERGI DARI SINI DAN KEMBALI KE MERRY!" Teriak Sanji sekuat tenaga, menyuruh manusia gua itu untuk meninggalkannya.
Sayangnya, Marimo tidak pernah mendengarkannya.
"Santoryu! ONIGIRI!"
CLING
SPLASH
Zoro menebas gerombolan marinir itu, menyebabkan mereka semua jatuh ketanah.
"BODOH! MARIMO BODOH! KAU LIHAT GOING MERRY AKAN PERGI BODOH!"
Sanji berteriak kepada Zoro saat si rambut hijau justru menyelamatkan dirinya ketimbang pergi menuju ke Merry yang melaju kencang meninggalkan mereka.
GREB
Tak memperdulikan ucapannya, Zoro segera menggendong Sanji, mencoba mengejar Merry yang sudah jauh.
"Zoro tinggalkan aku!" Sanji mencoba menggeliat, tapi cengkeraman Zoro membuatnya tak bergeming.
"Tinggalkan aku dan selamatkan dirimu!" Ujar Sanji sambil menarik-narik rambut hijau Zoro.
Zoro kesal, dia dengan cepat mengambil kedua tangan Sanji dengan satu tangannya yang bebas, dan memberi Sanji wajah bengis.
"Diam Cook! Aku tidak akan meninggalkanmu! Tidak akan pernah!" Ujar Zoro penuh keyakinan.
Zoro berlari dengan cepat, tapi semuanya sudah terlambat. Bukan hanya karena Merry sudah sangat jauh, tapi juga ada badai topan dahsyat yang menyerang mereka.
Karena itulah Merry pergi. Pikir Zoro menyadari keadaan.
Terpaan angin yang sangat kencang membuat Zoro segera memeluk Sanji dan berlari kedalam. Setelah sampai di dalam, Zoro menatap Sanji yang sudah memerah karena panas tubuhnya.
'Sial! Dia bahkan sepanas bara.' Umpat Zoro.
Ombak segera menerjang mereka, dan segera Zoro mengambil kembali kemudi kapal angkatan laut itu.
"Cook dengarkan aku!" Ujar Zoro setengah berteriak karena si pirang seperti mau pingsan kapan saja. Sanji mengerjapkan matanya sebagai tanda dia mendengarkan.
Mengetahui Sanji mendengarkannya, Zoro menarik bandana hijau miliknya, mengikatkannya dengan tangannya si Cook ke lehernya agar saling terkait. Di badai seperti ini, dan juga dengan kondisi Sanji, bukan tidak mungkin kalau Sanji akan terlempar keluar ke laut.
GREB
"Aku akan mengemudikan kapal ini menjauh dari badai. Kau bisa tidur, tapi saat kau merasa sangat sakit, kau harus memberitahuku! Badai sialan!"
Zoro mengemudikan kapal marinir itu dengan Sanji dia gendong di punggungnya, mencoba melewati badai dan mengabaikan kalau dia buta arah, apalagi ini dilaut.
"Marimo, kalau, kalau aku mati, aku ingin kau tahu bahwa..."
"Tutup mulutmu bodoh! Kau tidak akan mati! Kita tidak akan mati! Aku akan menjadi pendekar pedang terhebat bersama dirimu Curly!"
Zoro memotong ucapan Sanji dengan tegas sebelum Sanji melanjutkan omongannya.
"Aku berjanji kita akan selamat!" Janji Zoro dengan penuh tekad dan keyakinan. Bisa dirasakan oleh Zoro bahwa Sanji yang digendong dipunggungnya tersenyum bahkan tertawa kecil.
"Aku senang kau disini Marimo."
Itu yang diucapkan Sanji sebelum pening dan rasa sakit di badannya membuat dia tak sadarkan diri.
.
.
PLAK
"USOPP BODOH! KITA MENINGGALKAN SANJI-KUN DAN ZORO!!"
Nami berteriak marah setelah memukul Usopp.
"Tapi atas perintahmu menyuruh kita pergi karena badai itu!" Bela Usopp, dia hanya menjalanlan perintah Nami.
"Tapi aku tidak tahu kalau Sanji-kun dan Zoro tak ada." Nami mencoba membela diri.
"Bagaimana ini? Zoro dan Sanji hilang." Chopper menangis dengan ingus yang keluar.
"Kita tidak tahu mencarinya kemana karena badai raksasa itu, bahkan kita tidak tahu apakah mereka berdua masih hidup." Ujar Robin tenang, tapi ucapannya membuat semua orang tidak tenang.
"JANGAN MENGATAKAN HAL YANG GILA!" Teriak Nami, Usopp, dan Chopper berbarengan.
Mereka terus berdebat, hingga Luffy berdiri.
"Yosh! Kita akan mencari Zoro dan Sanji! Mereka saat ini pasti sedang berjuang dan berpetualang!" Ujar Luffy dengan penuh tekad.
Mendengar ucapan itu membuat hati mereka sedikit lega.
"Kau benar, Tuan Pendekar Pedang dan Cook-san tidak mungkin kalah oleh badai." Ujar Robin sambil tersenyum.
"Benar!" Ucap Nami, Usopp, dan Chopper.
"Yosh! Ayo kita cari Zoro dan Sanji!" Seru Luffy dengan semangat.
.
.
.
Sanji merasakan ada yang menepuk-nepuk pipinya, dia mencoba untuk bangun, tapi badannya tak mau merespon. Rasanya sekujur tubuhnya dingin sekali seperti habis mandi air es. Dan sekilas warna hijau nampak di pandangan Sanji.
"Cook."
"Oy Cook!"
Zoro mencoba membangunkan Sanji yang saat ini tubuhnya sedingin es. Mata Sanji mengerjap-ngerjap, tanda dia sudah sadar. Tapi tampaknya badai membuat penyakit buah iblis itu semakin parah.
"Ma..ri..mo." Ucap Sanji antara sadar atau tidak.
"Sial Cook! Kau sedingin es." Umpat Zoro sangat khawatir dengan keadaan Sanji.
Saat ini mereka ada di pulau antah berantah. Zoro berhasil membawa kapal itu keluar dari badai dan mendaratkannya di pulau. Tapi pulau ini penuh dengan salju seperti tempat asal Chopper.
Dan keadaan Sanji yang saat ini sedingin es tidak membantu. Zoro mencari selimut atau apapun yang bisa menghangatkan Sanji, tapi semua selimut juga baju basah karena badai. Hanya ada satu selimut lusuh terselip antara plastik yang tidak basah. Dan selimut itu sudah melilit Sanji, tapi tetap saja percuma.
"Cook." Panggil Zoro lagi, kali ini Zoro mendudukan Sanji bersandar di dinding kapal. Zoro memutuskan untuk mencari bantuan dengan keluar dari kapal ini.
Dia akan menyamar menjadi Angkatan Laut, atau lebih tepatnya Kapten Angkatan Laut karena ada jubah kapten angkatan laut yang sekarang basah di kapal.
Juga ternyata kapal ini punya banyak cukup uang juga beberapa emas di brankas yang menyatu dengan kapal. Sayangnya Sake, minuman kesukaaan Zoro juga makanan semuanya terlempar ke laut. Juga mayat para angkatan laut yang ditebas Zoro sebelumnya.
Jadi dengan uang dan jubah itu, Zoro akan mencari dokter, obat, pakaian, dan makanan untuk mereka berdua sambil mencari atau menunggu Luffy datang menjemput mereka.
.
.
.
"Marimo." Sanji memegang tangannya saat Zoro ingin menggendongnya, terlihat kalau Sanji sedang menahan sakit saat ini.
"Tenanglah, aku akan mencari dokter. Tahan sebentar lagi." Ujar Zoro sambil mengelus sayang rambut Sanji. Entah kenapa, melihat Sanji selalu membangkitkan rasa aneh di hati Zoro, apalagi saat dia sedang sakit saat ini, perasaan itu semakin aneh dan menggebu-gebu.
Lalu Zoro menggendong Sanji seperti gaya pengantin, Sanji mengumpat dalam hati. Jika dia sehat, dia akan menendang kepala Marimo sekuat tenaga karena memperlakukannya seperti ini.
"Jadi, kau menyamar menjadi angkatan laut?" Tanya Sanji pelan, Zoro berdehem menjawab. Sanji tersenyum kecil.
"Ya ternyata tidak seburuk itu kalau Marimo jadi Kapten Angkatan Laut." Ujar Sanji jujur, Marimo itu tampak cukup tampan dalam jubah angkatan laut.
"Aku lebih suka jadi bajak laut." Jawab Marimo santai.
"Tapi kau dulu pemburu bajak laut Marimo. Aku bingung bagaimana bisa pembunuh bajak laut menjadi bajak laut. Dia pasti bodoh." Ucap Sanji lagi, Sanji rasanya senang sekali bisa mengobrol sambil menghina Zoro.
"Aku juga penasaran, bagaimana seorang koki jadi bajak laut. Mungkin dia lebih bodoh." Balas Zoro sambil menyeringai, Zoro senang karena Sanji ternyata memang pas di gendongannya dan nyaman apabila menjadi bantal guling pribadinya.
Mereka terus seperti itu dari kapal menuju tempat yang ada kehidupannya. Zoro buta arah, jadi Sanji yang sedang sakit terpaksa mengarahkan manusia buta arah itu agar tidak melewati jalan yang sama.
Mereka akhirnya sampai di sebuah tempat yang sangat ramai, seperti kota kecil yang indah di negeri bersalju, bahkan tempat ini jauh lebih indah dari kampung halaman Chopper.
Tapi, Zoro juga Sanji kaget melihat penghuni kota kecil itu.
"Halo manusia!" Sapa penghuni kota itu, seorang atau sebuah manusia salju.
"Hai." Jawab Sanji pelan, Sanji bahkan tak tahu apakah suaranya kedengaran atau tidak, tapi Sanji tahu kalau Marimo si manusia gua tak akan membalas sapaan sopan itu.
Ternyata mereka mendengarnya, ya mereka, saat ini seluruh atensi para manusia salju seukuran 1 meter yang hidup itu tertuju pada mereka berdua.
"Kami mencari dokter." Ujar Zoro tanpa basa basi, membuat Sanji mencubit lengan besi Zoro namun sama sekali tidak berhasil, karena ototnya keras sekali.
"Dokter? Kami punya dokter! Ngomong-ngomong siapa yang sakit?" Tanya salah satu manusia salju.
Zoro menjawab dengan menepuk kepala Sanji.
"Ahh... jadi istrimu sedang sakit." Jawab mereka serempak. Tak tahu jawaban mereka membuat Zoro dan Sanji terdiam.
"Aku bukan istrinya!"
"Dia bukan istriku."
Bantah mereka berdua berbarengan. Tapi tampaknya para manusia salju itu tidak perduli. Karena mereka dengan segera mengantarkan mereka berdua menuju rumah iglo besar yang tampaknya adalah rumah sakit.
.
.
.
"Jadi apa keluhannya nyonya?" Tanya seorang manusia salju yang tampaknya adalah seorang dokter.
"Aku akan membunuhmu kalau aku sudah sembuh nanti. Aku bukan nyonya!" Sanji mendesis marah dengan seluruh jiwa raganya mendengar ucapan itu. Tapi sang dokter sama sekali tak bergeming. Bahkan Zoro menyeringai geli melihat Sanji yang marah dengan wajah memerah menahan tangis.
"Dia demam tinggi, hari ini tubuhnya sedingin es, besok akan sepanas bara. Lalu Cook juga mengalami mual dan akan memuntahkan makanannya. Lalu, dia juga terkadang sering sesak nafas." Mengabaikan Sanji yang masih kesal dibilang 'nyonya', Zoro memberitahukan keadaan Sanji.
Si dokter tampak mencoba memahami hal itu.
"Anda sedang hamil Nyonya." Ujar sang dokter dengan santai.
"TUTUP MULUTMU DOKTER GADUNGAN!" Teriak Sanji murka dan akan membenturkan kepalanya ke manusia salju itu jika Zoro tidak menghentikannya.
"Dia tidak hamil. Dia laki-laki. Tolong jangan membuatnya marah dan berikan saja obat untuk menyembuhkan gejala yang kusebutkan tadi." Ucap Zoro jengkel, karena sepertinya manusia salju di depannya ini tampaknya memang dokter gadungan.
"Baiklah. Kau suami yang baik tuan." Ucap manusia salju itu, tampak bangga melihat sikap Zoro, Sanji semakin marah mendengar ucapannya tadi.
"Anda adalah orang yang beruntung nyonya. Memiliki suami sebaik ini."
Zoro kemudian memeluk erat Sanji yang tampak akan membunuh dokter itu.
.
.
"Boleh kutahu ini dimana?" Tanya Sanji kepada salah satu manusia salju yang tampak seperti perawat itu.
"Anda di rumah sakit nyonya." Jawabnya polos, Sanji menghela nafas agar ia tidak mengamuk.
"Maksudku, ini negeri apa?" Tanya Sanji sambil cemberut.
"Negeri Arendelle nyonya." Jawab si perawat.
"Jangan panggil aku nyonya, aku laki-laki. Panggil aku Sanji." Tegur Sanji, Sanji tak ingin lagi mendengar ucapan nyonya itu. Tampaknya manusia salju itu mengerti.
"Jadi, Sanji bagaimana kau sampai disini?"
"Aku tidak tahu, Marimo itu yang bawa kapal sampai kesini."
"Marimo?"
"Orang berambut hijau itu."
"Oh suamimu!"
"Dia bukan suamiku!"
"Tapi kau istrinya kan?"
"Bukan!"
"Oyy Cook! Aku lapar! Ayo kita makan, lalu kau bisa minum obat."
Pembicaraan mereka terputus saat Zoro telah kembali dari menebus obat.
"Ya Kepala Marimo! Dasar manusia gua. Terima kasih ya sudah menjadi teman bicaraku!" Ujar Sanji sambil tersenyum.
Para manusia salju itu menatap saat Zoro dipukul saat hendak memakaikan Sanji syal, penutup telinga, sarung tangan, dan kaus kaki yang mereka dapatkan secara gratis untuk mereka berdua dari para manusia salju. Mereka saling berteriak, dan menghina, sebelum akhirnya Zoro menggendong Sanji dipunggungnya setelah melilitkan semua atribut plus 2 selimut di tubuh Sanji.
"Tunggu sebentar." Ujar manusia salju yang tadi ngobrol dengan Sanji.
"Tolong pakailah topi ini biar istrimu tidak kedinginan." Sanji langsung melotot mendengar ucapan itu, sebelum Zoro mengambil topi itu dan langsung memakaikannya di kepala pirang Sanji.
"Terima kasih." Ujar Zoro sebelum mereka pergi.
Para manusia salju menatap kepergian mereka.
"Apa kita harus beritahu mereka legenda negeri ini?" Tanya si manusia salju yang memberi topi entah kepada siapa.
"Ya mereka akan tahu dengan sendirinya."
.
.
