Work Text:
Hari ini perkemahan musim panas. Dan jadwal perkemahan saat ini adalah berkeliling hutan yang mengelilingi tempat mereka berkemah.
Semua peserta berjalan dengan posisi berbaris seperti kereta api dengan pendamping sebagai kepala dan juga ekor barisan.
Tapi, walau seharusnya di bagian belakang ada pendamping, tetap saja ada dua partisipan yang tersesat. Keduanya juga tidak mengerti kenapa bisa mereka tersesat dan kenapa juga hanya mereka berdua yang tersesat?
Damian Desmond, salah satu anak yang tersesat itu menatap sekeliling dengan tatapan takut; siapa juga yang tidak takut ketika tersesat di tengah hutan dengan seorang anak perempuan aneh dengan semangat tinggi seperti teman satu kelasnya ini?
“Wah, ini pertama kalinya Anya tersesat!”
Damian menghela nafasnya berat. Anak perempuan disebelahnya ini benar-benar tidak ada harapan sama sekali. Bagaimana bisa ia menyerukan kalimat seperti itu dengan nada riang selayaknya tidak terjadi apa-apa?
“Kenapa Damian terlihat tidak bersemangat?” si anak perempuan bertanya, kepalanya terlihat miring sedikit untuk menatap wajah Damian yang sibuk menatap pepohonan dengan takut.
Damian menoleh dan ia terlonjak dengan kaget kala melihat wajah Anya—anak perempuan yang tersasar bersamanya—berada sangat dekat dengan wajahnya. Astaga, Damian tidak pernah membayangkan akan berhadapan dengan Anya dengan jarak sedekat ini!
“Aku hanya tidak nyaman karena tersesat bersamamu.”
Anya menepuk kedua tangannya kencang ketika Damian menyelesaikan kalimatnya. Ia menatap si anak laki-laki dengan serius, menguncinya dengan sempurna. “Damian benci menghabiskan waktu bersama Anya?” tanya Anya pelan, suaranya seperti bisikan.
Damian panik. Maksudnya tidak seperti itu! Ia hanya tidak nyaman dengan suasana yang menyelimuti mereka berdua, terlebih berduaan di hutan? Tersesat bersama anak perempuan yang kau sukai? Damian benar-benar hilang akal kalau begini caranya!
“Bukan seperti itu,” ujar Damian mendudukan diri pada salah satu batang pohon besar yang sudah jatuh, tidak lama kemudian Anya mengikutinya dengan sempurna. Ia mengambil posisi tepat di sebalah Damian. “aku hanya tidak nyaman karena aku tahu kalau Becky, sahabatmu itu pasti akan berisik ketika kita berdua sudah ditemukan oleh para kakak-kakak pembimbing.”
Si pemilik surai merah jambu mengangguk paham akan alasan Damian yang menurutnya cukup masuk akal karena Becky benar-benar anak yang cukup cerewet. Ia akan mengomel ketika dirinya dan Damian kembali menuju tempat mereka berkemah.
“Kalau kita tidak ditemukan oleh kakak pembimbing malam ini, apa yang akan kau lakukan?”
Anya tersentak ketika rungunya menangkap pertanyaan yang diberikan oleh Damian. Anya jarang sekali mendapat waktu luang untuk berbicara dengan Damian seperti saat ini, seringnya ketika mereka di sekolah, Anya yang akan mengganggu Damian dan Damian akan marah-marah kepadanya.
“Anya akan mengikuti kemanapun Damian pergi dan apapun yang Damian lakukan,”
Satu alis milik Damian terangkat dengan otomatis ketika ia mendengar jawaban Anya. Mengikutinya? Apa ia tidak salah dengar?
“Kupikir kau akan menjawab pertanyaanku dengan jawaban aneh seperti ‘Anya akan mencari jalan keluar sendiri!’ atau ‘Anya akan menganggu Damian seperti biasa’ seperti itu.”
Anya tertawa dengan nyaring, mengayunkan kedua tungkainya yang tidak menapaki tanah dengan riang. “Ternyata image Anya di kepala Damian tuh seperti itu, ya,” ujar si merah jambu menatap langit yang terlihat cerah. “wajar juga sih, habisnya Anya memang suka menjahili Damian di sekolah.”
Celaka.
Bagaimana jika Anya berubah dan menjaga jarak dengan dirinya? Bagaimana jika Anya marah karena dirinya berkata hal yang tidak-tidak pada si merah jambu?
Ayo cepat berpikir, Damian!
“Habisnya, wajah Damian selalu merah ketika Anya menjahili Damian,” ujar Anya tiba-tiba, membuat Damian secara cepat menolehkan kepalanya ke arah Anya. “Damian terlihat lucu, jadi Anya ketagihan melakukan hal itu.”
Si bungsu Desmond merasakan bahwa kedua pipi dan telinganya menghangat begitu saja ketika memahami maksud dari pernyataan Anya barusan. Demi Tuhan, Damian benar-benar membenci kepribadian Anya yang tidak pernah menyadari situasi!
“Ah. Aku tidak tahan, aku ingin cepat-cepat ditemukan.”
“Damian merah!”
“Aku tidak merah!”
“Merah!”
