Actions

Work Header

02:35

Summary:

Mitsuya sudah tidak pulang sejak satu minggu lalu dan Draken menjemput dirinya pada pukul dua lebih tiga puluh lima dini hari.

Notes:

Since today is Kiss Day in Japan, I present you kiss kiss kiss doramitsu for your daily dose of happiness. Enjoy!

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

Sudah hampir satu minggu lamanya sang tuan dengan surai dwiwarna—lilac dengan hitam tidak keluar ruang kerja miliknya karena ia harus mengerjakan belasan rancangan untuk pagelaran busana yang akan ia adakan musim depan. Ia rasa tubuhnya sudah tidak mampu untuk menggoreskan pensil kesayangannya di atas kertas putih yang selalu menjadi barang yang ia bawa kemanapun sang tuan pergi.

Visual sang pemilik asma Mitsuya Takashi itu terlihat begitu berantakan. Rambutnya acak-acakan, pipinya terlihat menirus (tidak seperti Mitsuya yang biasanya, yang selalu kawan-kawannya sebut memiliki pipi bulat seperti mochi) dan kantung mata terlihat dengan jelas di rupanya yang (anehnya) masih terlihat menawan.

Tok, tok.

Kepala sang pemilik ruangan tergerak ke arah pintu yang baru saja diketuk dua kali dari arah luar. Ia sedikit terkejut karena ia tahu kalau saat ini sudah lewat dari tengah malam dan siapa juga yang ingin bertamu ke ruangannya? Para asisten juga pekerja yang lain sudah pulang sejak tadi, dalam hati Mitsuya berdoa agar sosok yang mengetuk pintu kerjanya adalah manusia baik.

“Ya?” sahut Mitsuya hati-hati.

Tepat setelah suara Mitsuya menggema, ia dapat melihat pintu ruangan terbuka dengan lebar dan satu pasang kelereng sewarna lavender miliknya menangkap tubuh jangkung yang sudah terasa familiar memasuki ruangan dengan aura yang cukup menyeramkan.

“Ayo pulang,”

Adalah kalimat pertama yang laki-laki jangkung itu katakan ketika ia sudah berada di dalam ruang kerja Mitsuya.

Mitsuya mendongakkan kepalanya untuk menatap laki-laki yang saat ini tengah berdiri di depannya dengan satu tatapan memohon agar ia tidak dipaksa untuk pulang. “Pekerjaanku masih banyak,” ujarnya seraya memberanikan diri untuk menatap.

“Takashi,” panggil laki-laki di hadapannya melembut, “ayo pulang dulu. Kamu udah lebih dari satu minggu gak keluar ruang kerja kamu dan aku tahu persis kamu belum tidur dari kemarin,”

“Kemarin aku tidur! Cuma hari ini aku belum tidur sama sekali...” cicit Mitsuya di akhir kalimat.

Draken—laki-laki yang sejak tadi menatap Mitsuya menghela nafasnya dengan berat, “Hari ini kamu ambil istirahat, asisten kamu udah super khawatir karena jadwal tidur kamu sampai dia minta aku buat jemput kamu,” ujar Draken seraya mengulurkan jari untuk mengusap wajah kekasihnya dengan lembut. “asisten kamu gak mau lihat kamu sakit karena kamu kerjain semuanya sendirian. Mereka bilang ke aku kalau mereka bisa handle semuanya dan pengen kamu istirahat, kamu bisa kerjain pekerjaan kamu dari rumah,” lanjutnya menyampaikan pesan asisten Mitsuya yang tadi pagi baru saja ia dengar.

Mitsuya mengusap wajahnya, ia tahu kalau ia juga memiliki asisten dan ia bisa melakukan segalanya dari rumah sejak hari pertama proyek dilaksanakan. Namun ia tidak ingin membuat orang-orang disekitarnya merasa kesusahan karena proyek yang ia kerjakan. Ia tidak ingin membuat para pekerjanya bekerja terlalu berlebihan karenanya.

“Sekarang jam berapa?”

Draken melirik ke arah arloji yang melingkar di lengan kanannya, “Dua lebih tiga puluh lima pagi,” balas Draken.

“Kamu kenapa malah kesini bukannya tidur?”

“Karena aku tahu kalau kamu belum tidur sama sekali. Aku pengen lihat kamu tidur, sama aku.”

Mitsuya tertawa pelan, “Kamu kangen aku?” tanya Mitsuya dengan senyuman simpul terlihat di wajah, kali ini ia sudah bangkit dari posisi nyamannya untuk menghampiri Draken yang mengangguk dengan pelan.

“Banget.”

Mitsuya berjinjit, berusaha menyamakan tinggi badannya dengan wajah Draken (walau ia tidak mampu) dan menarik tengkuk yang lebih jangkung agar ia dapat melihat wajah yang sejak tadi memperlihatkan bahwa ia tengah khawatir.

I miss you more,” ujar Mitsuya kemudian tersenyum, memangkas jarak antara dirinya dan juga Draken dengan satu kecupan pada bibir yang lebih tinggi.

Draken mengangkat tubuh Mitsuya setelah kekasihnya itu menjauhkan jarak wajah mereka berdua. Membiarkan tungkai laki-laki yang jauh lebih kecil darinya itu melingkar pada pinggangnya sebelum ia memberi Mitsuya beberapa kecupan pada bibir dan juga memberinya ciuman manis di sana, membuat Mitsuya melingkarkan sepasang lengan miliknya pada leher Draken serta menyeludupkan jemarinya ke dalam surai pirang milik Draken yang tidak di ikat seperti biasanya.

Ia menyecap serta melumat kedua bilah bibir milik si surai dwiwarna dengan teratur, berusaha memberitahu bahwa ia benar-benar rindu akan presensi sang kekasih.

Ciuman mereka berdua tidak berlangsung lama karena Draken ingat bahwa tujuan utama dirinya datang ke tempat bekerja Mitsuya adalah untuk membawanya pulang dan membiarkan laki-laki itu beristirahat.

“Yah ... kok berhenti,” ujar Mitsuya dengan bibir mengerucut ketika Draken mengusap sudut bibir Mitsuya menggunakan ibu jari.

“Nanti aku kasih cium lagi, sekarang kita pulang dulu dan tidur,” balas Draken seraya bergerak menuju luar ruangan masih dengan Mitsuya yang ia gendong layaknya koala.

Mitsuya mendengus karena ia tidak bisa melayangkan protes pada Draken. Kalau ia tetap memaksa untuk tinggal di kantornya, bisa-bisa dirinya tak akan mendapat cium dari Draken selama berbulan-bulan lamanya. Maka dari itu ia membiarkan kepalanya beristirahat pada bahu Draken dengan tangan yang masih memeluk leher Draken dengan erat, membiarkan indera penciuman miliknya menghirup aroma tubuh Draken yang selalu ia sukai.

Notes:

Segala jenis komentar, kudos dan yang lain-lain sangat aku apresiasi! Kalian juga bisa mengobrol sama aku di akun Twitter punyaku atau di akun Retrospring punyaku!

Series this work belongs to: