Work Text:
.
Itu adalah malam ketika mereka akan berangkat ke pertarungan mereka di Onigashima. Hampir seluruh kru sudah tertidur, kecuali Jinbe yang berjaga di depan. Sanji berada di dapur, menyiapkan seteko teh hangat, dan kepalanya menoleh dengan cepat ketika mendengar pintu dapur terbuka.
“Jadi, bagaimana calon pengantinmu?”
Pintu tertutup perlahan. Suara serak Zoro mengisi keheningan di dapur itu.
“Kau tahu kalau itu bukan pernikahan yang kuinginkan, Kepala Lumut.”
Sanji menuang teh hangatnya ke dua gelas, mendekat kepada Zoro, kemudian memberikan satu gelas kepada si pendekar pedang.
Zoro menerima gelas itu perlahan.
“Hmp.” Zoro berbalik, sudah bersiap untuk membuka pintu dan keluar sebelum Sanji menahan kaki Zoro dengan kakinya sendiri.
“Kita belum selesai bicara.”
“Tidak ada yang perlu dibicarakan.”
“Kau tahu aku pergi ke sana untuk melindungi Luffy! Melindungi kita.”
Sanji menempatkan tubuhnya di hadapan Zoro dan menutup kembali pintu yang sudah sedikit terbuka. Jarak wajah mereka tidak sampai seinci sekarang. “Kau tahu kondisinya seperti apa kalau kita berhadapan dengan Big Mom waktu itu.”
Zoro hanya mengangguk.
“Aku mau keluar.”
“Sudah kubilang kita belum selesai bicara.”
Zoro tidak menjawabnya, hanya menatap Sanji dingin.
“Heh. Apa kau cemburu?”
Mengingat mereka sudah menghabiskan waktu bersama cukup lama, meskipun diiringi dengan pertengkaran-pertengkaran kecil di depan kru, jengkel dengan satu sama lain, namun malam-malam yang panas ketika semua kru sudah tertidur—
“Apa itu yang kau inginkan?”
Sanji mengangkat sebelah alisnya. “Apa? Menginginkan kau cemburu? Idiot—”
“Pernikahan.”
Sanji membelalakkan matanya.
“Mungkin. Suatu saat.” Sanji menarik napas panjang. “Tidak sekarang. Tidak ketika masih banyak yang harus kita tempuh. Setelah mengalahkan Kaido, masih ada Yonko yang lain, belum lagi Angkatan Laut.”
Sanji mengambil kembali gelas Zoro, kemudian meletakkan gelas mereka berdua di meja sebelahnya. Jari-jarinya mengelus rahang Zoro yang tegas. Zoro menahan tangan Sanji lebih jauh.
“Kita sudah selesai bicara.”
“Apa maksudmu?”
“Aku tidak bisa.”
“Apa?”
“Aku belum memikirkan hal itu.”
Zoro menghela napas. Sanji bisa merasakan napas dan kulit Zoro. Sanji merasakan bagaimana tatapan Zoro yang tadinya dingin, kemudian melunak, lembut, menghangat, sampai akhirnya kembali seperti orang asing.
Tangan kasar Zoro merambat ke jari-jari Sanji yang dipenuhi cincin. Jari telunjuk, jari tengah, jari kelingking … semuanya. Kecuali jari manis.
“Zoro. Aku tidak minta kita menikah. Bodoh. Sudah kubilang jalannya masih panjang.”
Zoro mengecup buku-buku jari Sanji satu per satu.
“Zoro—”
“Aku tidak bisa menjanjikan hal itu—”
Sanji menarik sudut-sudut bibirnya. “Ya, aku tahu. Bukan masalah. Aku tahu di otakmu cuma ada pedang, menjadi pendekar pedang terkuat di dunia, dan sake.”
“—tapi lihat nanti setelah Luffy menjadi Raja Bajak Laut.”
“Heh,” Sanji terkekeh. “Apa kau melamarku? Tidak ada romantis-romantisnya sama sekali, bego—”
Zoro tidak menjawab, ia hanya mendekatkan kepalanya kepada Sanji, dan si pemuda berambut pirang pun memejamkan matanya, merasakan bibir Zoro di bibirnya.
“Jangan pergi terlalu lama lagi,” bisik Zoro.
“Tidak akan,” balas Sanji.
“Jangan mati.”
Sanji menggelengkan kepalanya. “Sejak kapan sih kau menjadi seperti ini?”
“Sejak kau pergi dan mau menikah, Alis Keriting tolol.”
“Oh, ada bagusnya juga—”
“Tidak ada bagus-bagusnya!”
“—kau jadi bisa mengungkapkan perasaanmu.”
Zoro menutup mulutnya.
Memang, selama ini ia tidak pernah mengungkapkan perasaannya secara verbal. Ketika mereka bercinta, hanya Sanji yang mengatakan I love you sementara Zoro membalasnya dengan kecupan di bibir atau mata. Tapi, setelah hampir harus menerima fakta bahwa Sanji akan menikah dan meninggalkan kru begitu saja, tanpa selamat tinggal, tanpa kata-kata terakhir, dan bahwa mereka akan berpisah jalan ….
Diamnya Zoro membuat Sanji bingung. Apa ia salah bicara? Sudah bagus Zoro setidaknya menunjukkan sedikit peduli ketika ia pergi. Apa ia mengacaukan semuanya lagi?
Kedua tangan Zoro kini berpindah posisi dan memeluk pinggang Sanji.
“Sanji.”
“Hm?”
“I love you.”
Kedua mata Sanji tidak bisa lebih lebar lagi. Wajahnya menghangat.
“Hmm, tapi alurnya terbalik, Marimo. Harusnya kau mengatakan itu dulu sebelum kau bilang akan menikah—”
Zoro hanya menyeringai lebar sembari membuka kancing jas Sanji perlahan.
Oh, well, sepertinya teh yang Sanji buat akan menjadi dingin ketika mereka selesai ‘berbicara’.
.
[end]
