Work Text:
Minggu pagi ini biasa saja, seperti halnya hari libur pada umumnya.
Namun, aku akui kalau hari ini ada satu hal yang berbeda. Karena pada pukul tujuh pagi, aku sudah mendapati sesosok inkarnasi dari malaikat yang bersinggah di pinggiran ranjangku.
Pujaan hatiku. Kekasihku. Belahan jiwaku. Serta sebutan lain yang sama maknanya.
Kupandangi dia dari balik Nintendo yang menjadi pusat fokusku pagi ini. Helai rambut berwarna abu-abunya sedikit berantakan, kaus yang dikenakannya adalah kaus milikku yang baru saja kupakai beberapa hari yang lalu, dan pasang kakinya yang jenjang dan putih bersih terpampang nyata pada pantulan cermin yang berada di hadapannya. Bahkan celananya tidak terlihat dari tempatnya duduk. Hentikan, Atsumu, ini masih pagi.
Aku melihat bagaimana jemarinya yang lentik meraba titik-titik tertentu pada romannya yang elok dan perfek. Ternyata dia sedang memperhatikan jerawat-jerawat yang ada di sana.
Ah, aku baru saja ingat, beberapa hari yang lalu dia berkata padaku kalau wajahnya sedang mengalami break out—jerawat pada tampangnya meradang pada waktu yang bersamaan. Dia mengatakannya dengan paras yang menyedihkan, nampak sekali kalau dia tidak percaya diri. Aku juga sudah bilang padanya kalau aku tak masalah dengan hal itu.
Namun, aku sadar betul kalau apa yang aku katakan padanya tidak berpengaruh sama sekali. Karena lihat dirinya sekarang, muka yang ada di depan cermin kamarku ini adalah muka yang sama persis ia tunjukkan pada hari itu. Kelam dan suram, seperti ketika dia marah besar kepadaku ketika aku menjahilinya habis-habisan.
Aku lantas mendengar bagaimana ia menggerutu berulang kali. “Kok banyak banget sih?“
“Kok wajahku gini amat?“
“Sumpah, aku nggak pernah jerawatan separah ini, lho.”
Dan sebagainya. Tak lupa dengan suara 'ck' yang kerap dibuatnya. Jari-jarinya sibuk mengusap jerawat yang memerah dan memenceti komedo. “Nggak usah dipegang-pegang, Samu.”
Dengusan kesal terdengar tepat setelah aku mengutarakannya. Osamu tak menggubris perkataanku, ia tak melepaskan jari-jari isengnya dari wajah barang sedetik pun. Aku pun ikut berdecak. “Kalau gitu terserah kamu. Nanti kalau makin parah, jangan tambah kesel ya.”
Lagi-lagi, aku tak dipedulikannya. Ya sudah, daripada kita bertengkar, lebih baik aku kembali memainkan Nintendo-ku.
Suara tombol Nintendo yang kumainkan memenuhi ruangan penuh sunyi tersebut. Sedangkan barang yang bergerak di dalam ruangan hanyalah gorden yang sering kali tertiup angin pagi. Lantas keheningan itu terusik oleh nada dering teleponku. “Iya? Gimana, Kags?”
“Iya, nanti gue ikut kok. Gue jadi jemput lo nggak?”
“Oke, sampai ketemu nanti.”
Kusentuh tombol merah pada layar ponselku. Lalu aku kembali mendengar Osamu bercedak kesal. Namun, bedanya dia kini tidak lagi iseng dengan mukanya—terlihat dari sudut mataku kalau kedua tangannya kini telah turun. Bagus.
Namun, ada yang janggal.
Karena kedua iris kelabunya kini menatapku tajam. Oh? Dia kesal?
Aku menaruh Nintendo-ku, kemudian menatapnya balik. Kutunjukkan tatap “Coba bilang padaku, kamu kenapa?” kepadanya. Tak lama setelah itu, Osamu mengalihkan pandangannya dan membuang napas dengan kasar.
Ya, itu adalah pertanda kalau Osamu benar-benar gusar. Dalam dirinya, pasti hatinya menjerit, “Tanyain aku kenapa, dong!“
Dengar, Sayang. Mau sekesal apa pun dirimu, aku tak akan menanyakannya. Karena kau tahu sendiri, kau tak akan memberitahukannya padaku jika aku yang membahasnya terlebih dahulu.
Maka dari itu, utarakanlah, Sayang.
Aku mengamati pujaan hatiku yang mengusapi rupanya dengan kesal. Embusan napas lantas tertangkap oleh indra pendengaranku, disusul dengan suara berdeham.
“Tsumu,”
Anak pintar.
“Iya, Sayangku? Sini.” Salah satu tanganku menepuk tempat rumpang di dekat ragaku, memintanya mendekat.
Orang yang menyandang titel sebagai kekasihku kini tengah mendekatiku yang dari tadi pagi duduk bersandar pada kepala kasur. Selama ia mendatangiku, ekspresinya yang cemberut terus dipasangnya. Tak lupa dengan bibir pink yang mengerucut. Astaga, gemasnya! Ingin sekali kucium-ciumi parasnya!
Diam, Atsumu, jangan membuat dia semakin sebal.
Kami bertukar pandang begitu lama, menjadikan kesunyian kala itu jadi tak berarti sama sekali. Bibirnya yang merah jambu terus membuka dan mengatup, dia sibuk menyusun kata-kata yang ia simpan di batin. Tak apa, Sayang, tidak usah buru-buru. Pun kalau kau begini sampai nanti malam, aku akan tetap menunggumu.
“Tsumu,”
“Hm?” Tanganku secara impulsif merapikan poninya yang hampir menutup manik. “Gimana, Sayang?”
“Kamu ... nggak suka sama Kageyama, 'kan?”
Sudah kuduga.
Aku menggeleng pelan, tanganku beralih pada pipinya. Berusaha mewujudkan rasa nyaman di tengah keresahan yang dia rasakan. Aku bisa merasakan napasnya sedikit demi sedikit melembut. “Nggak, Sayang, nggak akan pernah. Kage juga baru deket sama Tsukki kok, malahan dia kemarin curhat sama aku.”
“Bagus kalau gitu,” tukasnya setelah melepas napas lega. Kemudian Osamu kembali terdiam.
Alisku yang satu naik. Ini saja yang ingin dia bicarakan? Aku hendak bertanya ketika dia berujar, “Kayaknya aku belum mau selesai ngomong, deh. Aku mau bilang sesuatu sama kamu.”
Diriku spontan mengiakan. “Iya, bilang aja, Sayang.”
“Um,” gumamnya gugup. Aku mengerling ke bawah, jari-jarinya memainkan seprai kasur kami tiada henti. Lalu aku kembali ke pada romannya, ia juga sibuk menggigiti belahan bibirnya yang bawah.
Aku betul-betul risi dengan cara Osamu memperlakukan tubuhnya sendiri. Saking tak sukanya, kernyitan pada keningku tercetak amat dalam. “Samu, jangan digigitin bibirnya. Nanti luka.”
“Aduh, iya. Maaf, refleks.” Dia serta-merta menghentikan kebiasaan buruknya. Dia memang begini kalau sedang gugup. Aku menggelengkan kepala.
“Um, karena akhir-akhir ini kamu suka main sama Kageyama, aku jadi kepikiran.”
Benar adanya kalau terhitung tiga minggu ini aku selalu didapati bersama dengan orang itu. Kageyama adalah teman seangkatanku yang baru saja masuk ke klub voli universitas. Dia baru saja masuk karena selama ini dia sibuk dengan turnamen tingkat nasional.
Begitu dia masuk ke dalam klub, ia langsung tertarik dengan Tsukishima—yang juga temanku di klub. Tentu kalian tahu apa selanjutnya. Betul, aku jadi comblangnya. Namun, masalahnya aku belum menceritakan hal itu pada Osamu. Jadi wajar saja kalau dia bertanya-tanya.
“Kepikiran gimana, hm?” Aku mengelus tangannya.
“Kageyama orangnya cakep banget, Tsumu. Udah cakep, nggak jerawatan juga. Nggak kayak aku.”
Ini dia. Aku memang tak pernah salah dengan prediksiku. Dari cara dia memperlakukan jerawat-jerawatnya dan cara dia bereaksi terhadap teleponku tadi sudah menjelaskan semua. Jujur, aku cukup bangga pada diri sendiri karena aku tak perlu susah-susah bertanya kepadanya. Oke, kembali ke topik.
“Sayang, kamu cemburu?”
Netra indahnya sekarang menemui milikku. Terselip rasa takut pada pendarnya yang disinari cahaya matahari dari celah jendela. Kemudian ia menenggak ludah. Tunggu, apa dia takut dengan responsku yang selanjutnya? “Iya.”
“Osamu,” sebutku dalam bisik. Maniknya terkunci padaku. “Kamu boleh cemburu, tapi aku nggak ngebolehin kamu rendah diri karena kondisi fisikmu. Aku nggak suka.”
Kubawa tangannya pada bibirku, ciuman yang lumayan lama aku bubuhkan pada punggung tangannya. “Jerawat sama komedomu itu sama sekali nggak mempengaruhi cara pandangku ke kamu. Kamu tetep indah dan sempurna, dengan atau tanpa jerawat.”
“Jerawatmu juga nggak akan selamanya ada, kok, jadi nggak usah khawatir. Tapi kalau kamu beneran nggak nyaman, aku bisa bawa kamu ke dokter sekarang juga.”
Kau tak tahu (mungkin sedikit, pun begitu kau juga tak meyakininya) seberapa besar rasa cintaku padamu, Sayang. Bahkan hadirnya segala kekuranganmu pun tak akan pernah mengubah perasaan itu barang setitik. Maka dari itu, aku akan pastikan kalau kau yakin bahwa aku selalu ada di sini untuk mencintaimu segenap hati.
“Tsumu,” panggilnya di sela napasnya yang tercekat. Raganya menubruk milikku tanpa aba-aba, kedua tangannya merengkuh leherku dengan erat. “Makasih udah selalu ada buat aku.”
“Makasih udah selalu dengerin dan nanggepin omelanku.” Suaranya menjadi parau. “Makasih buat semuanya, Tsumu.”
Aku balas mendekap pinggangnya. Kurasakan getaran dari badannya, membuat diriku refleks mengelusi punggungnya yang lebar. “Apapun buat kamu, Sayang.”
Kutemani kekasihku sepanjang pagi. Kudengarkan segala curahan hati yang lolos dari mulutnya. Walau begitu, ia sisipkan pula beberapa rengekan yang manjanya minta ampun. Kalau ditanya, aku rela mendengarkannya seperti ini tiap hari karena Osamu yang mengatakan seluruh suara hatinya adalah hal jarang.
“Oiya, sama satu lagi,” kataku sewaktu tangisnya reda total. Irisku mendapati Osamu yang diam membeku, menunggu diriku melanjutkan. Aku mengusapi kedua sisi lengannya.
“Apa?”
Tidak kumungkiri, aku menyalahkan diri sendiri karena menjadi alasan pujaan hatiku menangis. Lihat, matanya yang elok kaubuat memerah, tampangnya juga sembab. Atsumu bodoh. “Jerawatnya nggak boleh dipegang-pegang lagi, ya. Nanti makin parah, sembuhnya juga makin lama.”
Osamu mengangguk-angguk. “Iya, nggak lagi kok.”
“Inget juga apa yang aku bilang, ya? Cemburu boleh, tapi jangan disimpan sendiri. Oke?”
“Iya,” jawabnya dengan cepat.
“Janji?”
Aku menyelidiki air mukanya. Diriku yakin Osamu pasti salah tingkah jika aku mengawasi gerak-geriknya. Lihat, dia kini menghindari tatap netraku. “Tsumu, jangan dilihatin terus, aku malu. Aku janji, kok. Stop ngelihatinnya.” Rona merah timbul pada pasang pipinya. Demi Tuhan, anugerah-Mu yang satu ini tak akan pernah kusia-siakan.
Aku tersenyum lebar, lalu aku mencium-ciumi rupanya. Aku tak kuat, terlalu gemas. “Sip! Pintarnya Sayangku ini!”
“Tsumu!” Kudengar kekeh geli darinya. “Udah, ih!”
Aku menurut—kuhentikan kegiatanku, lantas kembali bertemu dengan iris yang kilau riangnya telah kembali. Senyum sejuk juga terulas pada bibirnya. Syukurlah. “Kalau cium lagi, boleh?” tambahku.
Aku tahu godaanku tidak pernah gagal membuatnya salah tingkah. Karena iris abu-abunya sekarang melotot seakan keluar dari tempatnya. Lucu sekali. “Barusan 'kan udah!”
Tubuhku maju, kemudian mendekat ke telinganya. “Maksudku di tempat yang lain,” bisikku nakal. Aku menarik kembali ragaku dan menemukan rupa Osamu yang semerah tomat.
Jemariku menggapai dagunya, mengangkatnya sedikit. “Ya?”
Kumendengar Osamu membuang napas dengan berat. Saliva ditenggaknya secara paksa. Tanggapan berupa angguk kecil ditunjukkannya.
“Pintar, Sayangku,” tuturku seraya kembali memajukan badan. Bibirku mendarat sejenak di bibirnya, lalu ia meraup kembali bibirku sebagai timbal balik. Lumat demi lumat dilakukan dengan lembut dan subtil. Tanganku ikut bereaksi dengan memegangi tubuhnya yang molek—memeluknya seperti hari ini adalah hari terakhir kami hidup.
Ciuman tersebut ditutup dengan tubuh yang berdekapan dan napas yang terengah-engah. Aku kembali terpana mendegarkan bagaimana Osamu menghirup dan mengembuskan napasnya; bagaimana badannya naik turun karena sibuk mengatur pernapasan. Sumpah, hal kecil seperti ini saja sudah mampu membuatku tergila-gila padanya.
“Aku cinta sama kamu, Osamu,” kataku refleks. Perasaan dalam hatiku seolah meluber, menggenangi organ tubuhku yang lain. Sampai-sampai aku mengatakannya tanpa berpikir panjang.
Namun, Osamu adalah sosok yang pantas mendapatkannya. Tak akan ada orang lain yang bisa menggantikan posisinya. Aku garis bawahi, tidak akan ada.
Orang yang kuajak bicara mendengus geli, lalu membalas dalam bisik, “Aku juga cinta sama kamu, Atsumu.”
