Actions

Work Header

Dear Future Husband

Summary:

Pangkat Alfred sebagai Raja Kerajaan Spade tidak berarti dia bisa dengan mudah mendapatkan Arthur, putra keempat keluarga Kirkland sekaligus Ratu Kerajaan Spade.

USUK
Cardverse
SongFic

Notes:

Disclaimer: Hetalia © Himaruya Hidekaz
Song: Dear Future Husband by Meghan Trainor

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

 

.

.

.

.

.

Dear future husband

Here's a few things you'll need to know if you wanna be

My one and only all my life

.

.

.

Siapa pun tidak pernah berkata bahwa untuk menikahi seseorang itu mudah.

Terutama untuk menikahi Ratu kerajaan Spade. Alfred tahu benar untuk hal yang satu itu.

Ada daftar panjang yang harus ia penuhi untuk menjadi pendamping putra keluarga Kirkland tersebut.

Alfred memang bukanlah tipikal pria paling romantis. Dari lahir ia lebih menyukai sesuatu yang bersifat heroik, bukan roman. Ia menyukai segala sesuatu berjalan mudah dan efisien. Berkebalikan dengan semua tetek-bengek picisan yang harus ia penuhi dengan semua cara tradisional dan klise.

Tapi masalahnya, begitulah yang diinginkan keluarga Kirkland, mereka ingin pernikahan yang didahului serangkaian panjang courting. Arthur sendiri juga bilang bahwa dia ingin courting yang benar. Iya, bahkan tradisi Speerin yang merepotkan dan melelahkan itu.

Dan kapan Alfred bisa menolak permintaan Ratunya?

.

.

.

Take me on a date

I deserve a break

And don't forget the flowers every anniversary

.

.

.

Alfred berjalan di koridor istana dengan langkah yang lebar dan cepat. Pegawai istana atau penjaga yang tengah sibuk bekerja memberikannya sapaan yang ia jawab dengan senyum atau balasan singkat karena Raja muda tersebut terlihat sekali terburu-buru.

“Ah, Yang Mulia!”

Alfred membalikkan tubuhnya dengan segera. Ia melihat seorang prajurit yang berlari ke arahnya.

“Ada apa?” tanya Alfred.

Prajurit tersebut berhenti di depannya dan menegakkan sikap tubuhnya setelah memberikan hormat singkat.

“Kepala kebun istana berkata bahwa buket bunga sudah ia siapkan, ia ingin tahu kapan anda akan mengambilnya,” jawab prajurit tersebut.

“Ah! Hampir terlupa. Terima kasih, aku akan ke sana sekarang. Apa dia ada di rumah kaca istana?”

Prajurit muda itu mengiyakan ucapannya dan Alfred mengizinkannya untuk pergi. Pria itu membelokkan arah langkahnya dan keluar dari bangunan istana dan segera menuju rumah kaca yang ada di ujung area kastil. Bangunan besar dengan dinding transparan dipenuhi pot-pot tanaman.

Ia masuk dan melihat beberapa pekerja yang membungkuk memberi hormat melihat kemunculan dirinya. Ia tersenyum ramah dan mengedarkan pandangan mencari seseorang.

“Yang Mulia!” Ia langsung melihat seorang pria tua yang didampingi seorang pekerja wanita melangkah tergesa-gesa ke arahnya. Mereka memberi hormat setelah tiba di hadapannya.

“Ini buketnya sudah kami siapkan,” sahut pria tua dengan wajah lembut yang bertugas sebagai kepala taman istana, wanita yang bersamanya menyerahkan buket berisi bunga mawar biru yang dikelilingi bunga baby breath, kertas yang dipakai berwarna perak dengan pita berwarna ungu.

“Terima kasih, aku tadi hampir lupa,” sahut Alfred menghela napas lega. Ia tersenyum lebar dan mengucapkan terima kasihnya. Kemudian dengan langkah yang semakin terburu-buru Raja muda itu melanjutkan jalan ke arah tujuannya.

Ia segera sampai ke pintu depan istana. Sebuah kereta kuda terparkir, dan sosok yang mengenakan jubah biru tua yang ujungnya menutup sampai ke betis, berdiri dengan tangan bersidekap dan terlihat mengecek jam saku dengan kerutan halus di antara alisnya.

Senyum Alfred merekah. Ia menghampiri sosok itu dengan langkah panjang-panjang. Sosok tersebut terkejut begitu Alfred memeluknya dengan satu tangan, tak menyadari langkahnya yang berisik karena sibuk menggerutu pelan. Mengeluarkan teriakan kecil karena kaget.

Alfred, si pelaku, hanya tertawa geli dan mencium pelipisnya.

Git! Kemana saja kau! Kau hampir terlambat tahu!” korbannya berseru kesal, menggeliat di dalam pelukan Alfred dan memutar tubuh agar bisa menghadap Raja muda tersebut, sama sekali tidak berniat melepaskan diri.

Sorry, Artie. Aku lupa waktu,” jawab Alfred.

Arthur berdecak. Menyilangkan tangan di depan dada. “Ubah kebiasaanmu itu. You are the King of Spade, for bloody sake!”

Ia menunjuk pada jam simbol Alfred yang rantainya disematkan pada saku dada jubah sang Raja. “Orang-orang bisa tertawa karena Raja yang kemana-mana selalu membawa jam tetapi tidak pernah tepat waktu,” lanjutnya mengomel.

Alfred menghela napas. Terbiasa dengan ocehan yang sama bahkan sebelum ia resmi dinobatkan sebagai Raja.

“Iya, iya. Paling tidak aku tidak benar-benar terlambat kan,” sahut Alfred. Arthur mendelik dan Raja muda itu tersenyum kikuk.

“Dan selamat hari penobatan Artie,” ujarnya menyodorkan buket bunga yang sedari tadi dipegang.

Ia melihat bagaimana kilau rasa puas dan senang di mata Arthur, tersembunyi dengan raut wajah tenang. Garis bibirnya melengkung tipis.

Tangan yang dibalut sarung tangan putih milik pria bermata hijau itu terjulur menerima buket pemberian Alfred.

Thank you, poppet,” sahutnya dengan nada tenang dan anggun. Alfred tersenyum lebar.

“Tapi jangan sangka kalau aku akan melupakan kesalahanmu, kau tidak bisa mengalihkan pembicaraan begitu saja,” tukas Arthur mengangkat alisnya yang tebal ke arah Alfred.

Raja muda itu mengerang. “Aku mengerti Artie,” ucapnya pasrah. Ekspresi merajuknya kemudian luruh karena ia tidak benar-benar merasa jengkel. Alfred menegakkan tubuh lagi dan mengulas senyum.

Now, shall we go?” tanyanya, tangan terangkat membentuk siku di samping tubuhnya.

Sudut bibir Arthur terangkat lebih tinggi. “Sure thing,” balasnya masih dengan keanggunan yang luar biasa mengalungkan lengannya pada lengan Alfred. Keduanya berjalan menuju pintu kereta yang dibuka oleh seorang pelayan yang menunduk hormat sembari tersenyum pada kedua bangsawan tersebut.

Sang kusir dan sang pelayan bertukar pandang saat kedua bangsawan tersebut telah masuk dan bersiap untuk pergi. Kedua pekerja itu memberikan helaan napas lega.

Lega bahwa sang Raja tidak lupa dengan buket bunganya.

Semua orang tahu kebiasaan dan kemauan sang Ratu. Setiap ada hari spesial, ia menginginkan gestur romatis dan hormat. Memberikannya sebuket bunga adalah keharusan.

Tak terkecuali dari sang Raja.

Terutama bagi kekasihnya.

Jadi, jika sang Raja muda itu lupa dengan persyaratan kecilnya, dapat dipastikan betapa kesalnya ia. Dan kalau sudah begitu, sepanjang hari dan bahkan beberapa hari kedepannya, suasana hatinya akan sangat buruk.

Kata-katanya akan tajam dan tegas. Ia tidak akan tersenyum, dan kalaupun harus, hanyalah senyum dingin. Mata hijaunya yang terang akan berkilat dengan tajam dan sengit, mengintimidasi siapapun yang menatap.

Semua pekerja istana akan merasakan tekanan mental yang luar biasa.

Karena itulah, para pegawai kebun sudah menandai hari-hari khusus seperti hari penobatan, ulang tahun sang ratu, hari perayaan pertunangan raja dan ratu, dan mempersiapkan sebuket bunga kesukaan Arthur. Tak lupa mengingatkan sang Raja untuk membawanya sebelum bertemu dengan sang Ratu.

Dan beruntung bagi Alfred, bunga kesukaan Arthur adalah mawar biru yang merupakan bunga nasional kerajaan Spade. Bunga yang tertanam di sepenjuru taman istana.

Jikalau sang Ratu menyukai bunga edelweis putih yang hanya tumbuh di pegunungan bersalju kerajaan Club, hidupnya tidak akan pernah tentram.

.

.

.

'Cause if you'll treat me right

I'll be the perfect wife

Buying groceries

Buy-buying what you need

.

.

.

Sedari awal, Arthur membuatnya sangat jelas kalau mengencaninya bukanlah hal yang mudah.

Ia adalah seorang yang banyak maunya. Ia seseorang yang punya standar untuk segala hal. Ia punya keinginan yang spesifik untuk ini dan itu.

Hadiah yang harus dipikirkan dengan banyak pertimbangan di setiap kesempatan khusus. Hari perayaan yang penuh kejutan romantis. Serta kencan-kencan kecil di sela-sela jadwal sibuk sebagai bangsawan.

Jika bukan karena Alfred amat cinta mati, ia yakin tidak bisa menjalani semua itu. Tidak dengan sifatnya yang benci kekangan dan senang melakukan sesuatu sesuka hatinya.

Pun begitu, Alfred tak benar-benar mengeluh.

Arthur memang membuat jelas bahwa mengencaninya adalah hal yang sulit, tapi ia juga menunjukkan bahwa ia memberikan balasan yang sama besarnya dengan perjuangan Alfred.

Perlakukan dia dengan baik dan pantas, maka kau tidak akan mendapatkan pasangan yang lebih sempurna daripada Arthur.

Selalu memperhatikanmu. Selalu pandai merayu. Selalu pandai membuatmu tersenyum dengan kata-katanya yang menyenangkan dan penuh permainan. Selalu memberikan sentuhan sayang dan penuh kasih.

Dan jangan membuat Alfred mulai membanggakan apa yang ia terima di dalam privasi kamar mereka.

Arthur seolah selalu bisa mengintip dalam fantasi kepala Alfred. Ia selalu tahu gaun tidur mana yang harus ia beli untuk kemudian dipertunjukkan pada sang Raja muda di atas ranjang mereka.

Dan Alfred tetaplah pria yang bisa bertekuk lutut terhadap godaan.

.

.

.

You got that 9 to 5

But, baby, so do I

So don't be thinking I'll be home and baking apple pies

.

.

.

Ketenaran Alfred di sepenjuru bentangan Suit bukan semata-mata karena titel Rajanya.

Semua orang, baik itu rakyat Kerajaan Spade maupun ketiga tetangga mereka, selalu memuji-muji pemuda tersebut.

Seorang pemuda tampan dan gagah yang memiliki beragam karisma menarik.

Mata birunya besar dan cemerlang menjadi pelengkap seraut wajah menyenangkan. Senyumnya yang cerah dan riang selalu menular. Sifatnya yang terbuka dan gaya bicaranya yang lugas membuatnya mudah disukai. Bahu tegap dengan dada membusung bangga. Kepercayaan diri menguar dari auranya yang terang.

Selain itu, ia adalah pemuda yang amat cerdas pemikirannya. Pandai dalam ilmu-ilmu hitung. Menyenangi setiap penemuan terbaru. Ditambah dengan kesehatan dan kekuatan fisik yang mumpuni dalam berbagai cabang olahraga.

Alfred patut untuk menyandang nilai tertinggi sebagai pria paling didambakan. Segala kualitasnya itu membuat semua orang merasa ia pantas diperlakukan dengan terhormat dan istimewa.

Tapi begitupula sebaliknya dengan Arthur.

Tidak ada seorangpun yang bisa berbohong mengatakan bahwa sang Ratu Spade itu tak menarik—kecuali tentu saja lawan debatnya adalah Raja Francis dari Kerajaan Diamond.

Wajah yang dipahat anggun dengan kulit seputih dan selembut kelopak lili Kerajaan Diamond. Rambutnya pirang keemasan, jarang tersisir benar-benar rapi, tapi entah kenapa tidak mengurangi penampilannya yang selalu berkesan layak. Bahkan alis super tebal yang membuatmu dilempar tatapan tajam mematikan saat menyinggungnya pun tidak buruk sama sekali.

Dan mata hijaunya itu.

Oh, mata hijau yang jernih dan bersinar unik itu.

Mata hijaunya yang sudah membuat para penyair menuliskan berbagai sajak untuk menggambarkan keindahannya. Sepasang permata yang menjadi hiasan pada kesempurnaan rupanya.

Namun, sang Ratu bukanlah hanya sekedar pemanis pemandangan.

Ia mempunyai ketertarikan besar pada literatur. Kata-kata yang keluar dari mulutnya sama berkelasnya dengan yang tertulis pada buku-buku yang senang ia baca. Ia punya ketelitian dalam berpolitik, selalu tahu apa yang harus diperbuat dengan hubungan antar kerajaan mereka.

Gerak-geriknya selalu anggun, penuh arogansi yang layak. Setiap langkah dan uluran tangannya mengalir halus bagai wine merah yang kental.

Sempurna sebagai perwujudan bangsawan sejati.

Tak satupun yang bisa disepelekan darinya. Dibalik tubuh ramping itu, dia adalah komandan tertinggi angkatan laut Kerajaan Spade. Kau akan selalu mendengar gerutuan si Ace Diamond mengenai betapa menyebalkannya beradu ketangkasan kapal melawan sang Ratu pujaan Spade.

Jadi, tidak heran bahkan pria sekelas Alfred pun tidak akan mendapatkannya dengan mudah.

Pun setelah dipersunting ia tidak selayaknya hanya menjadi istri yang diam dan penuh kepatuhan.

Ia mempunyai kekuasan yang lebih dari itu.

.

.

.

I never learned to cook

But I can write a hook

Sing along with me

.

.

.

Alfred melepaskan jasnya dan melampirkannya ke atas meja rias pada kamarnya. Arthur tengah duduk di depan perapian dengan sebuah buku di pangkuannya. Raja muda itu hampiri Ratunya dan ikut duduk di sebelahnya.

Arthur hanya mengangkat pandangan sekilas meliriknya sebelum kembali fokus pada lembaran buku.

Alfred memandangi tubuh Arthur yang memakai piyama satin. Warnanya merah hati, tak seperti pakaian formal pada siang hari yang melulu biru. Warnanya menonjolkan pergelangan tangan dan kakinya yang pucat.

Pandangannya teralihkan saat Arthur memajukan tubuh untuk mengambil secangkir teh chamomile. Menyesap perlahan dari cangkir keramik berukiran bunga mawar biru. Meletakkannya kembali tepat di samping piring berisi kudapan malamnya.

Mau tak mau Alfred tersenyum geli. Mudah sekali menebak bahwa kudapan malam Arthur dibuatnya sendiri alih-alih minta dibuatkan oleh koki istana. Kue—entah kue jenis apa itu—tampak hangus pada bagian luarnya. Bagian dalam kue itu tak sepenuhnya matang, masih seperti adonan setengah jadi. Alfred berani bertaruh kalau kue itu rasanya sama sekali tak manis walaupun dengan taburan kismis yang ditambahkan.

“Ehem, what are you snickering about, dear?”

Alfred menoleh saat Arthur berujar dengan nada menajam. Buru-buru pria itu pasang wajah lugu.

Nothing, sweetheart, just thinking about how pretty you look in that pajama,” ujarnya riang dengan senyum lebar.

Arthur mendengus, senyum geli membayang di wajahnya. “Cheeky brat.”

Senyum Alfred makin terkembang. Beringsut semakin dekat dengan Arthur. “Kau sedang membaca sajak, Arthur?” Alfred mengintip pada buku yang terbuka di pangkuan Arthur.

“Mau kubacakan?”

“Aku lebih ingin mendengar syair yang kau karang sendiri,” sahut Alfred jujur.

Sing one to me, please?” pintanya diiringi kecupan pada bibir Arthur.

Arthur mengerling padanya dengan jenaka. Kilat pada mata hijau itu dengan cepat berubah main-main. Sesuatu pasti terlintas dipikirannya.

Arthur mengubah posisi duduknya, sepenuhnya menghadap Alfred. Mencondongkan tubuh dan menumpukan keseimbangan pada lutut. Kelopak matanya merendah memandang Alfred. Jari-jarinya yang lentik menangkup pipi Alfred.

I want a red dress.

I want it flimsy and cheap,

I want it too tight; I want to wear it

until someone tears it off me.

I want it sleeveless and backless,

this dress, so no one has to guess

what’s underneath.”

Suara nyanyian Arthur mengalir. Nadanya rendah dan iramanya mendayu-dayu. Begitu merdu dan memesona.

Nyanyian Arthur tidaklah seperti nyanyian para penyanyi opera yang agung dan menggetarkan jiwa. Kesempurnaan yang seharusnya diharapkan dari bangsawan.

Nyanyian Arthur begitu berbeda.

Suara Arthur bagai nyanyian siren pada malam berkabut. Dan Alfred adalah pelaut yang tersesat karenanya.

Nyanyian itu membuat darahmu berdesir. Panas dan menggelegak. Liriknya menggelitik perutmu. Membuat kepalamu kosong dan pikiranmu mengambang seolah kau sedang mabuk.

I want to walk like I’m the only

woman on earth, and I can have my pick.

I want that red dress bad.

I want it to confirm

your worst fears about me,

or anything except what

I want. When I find it, I’ll pull that garment

from it hanger like I’m choosing a body

to carry me into this world, through the birth—cries and the love—cries too,

and I’ll wear it like bones, like skin,

it’ll be the goddamend

dress they burry me in.”

Dan sama seperti pelaut yang tersihir oleh nyanyian merdu siren, Alfred pun akan melakukan apapun yang diinginkan pemilik suara itu.

.

.

.

After every fight

Just apologize

And maybe then I'll let you try and rock my body right

Even if I was wrong

You know I'm never wrong

Why disagree?

Why, why disagree?

.

.

.

Alfred dengan keagresifan yang tak diperlukan menandatangani berkas-berkas dokumen. Yao yang menungguinya menyelesaikan dokumen tersebut untuk kembali diperiksa mengangkat alis, dan Alfred berpura-pura tidak sadar.

“Kau akan menyobek kertas-kertas itu kalau menekan pena sekuat itu, aru,” sahut pria itu tenang.

Alfred mendelik padanya, namun Yao sama sekali bergeming diberi pandangan tajam pria paling berkuasa di Spade tersebut.

“Kalian masih bertengkar?” tanya Yao. Tangan dilipat kedalam lengan pakaiannya yang lebar.

Alfred mendengus, tidak menjawab dan kembali pada dokumen-dokumen di atas mejanya. Karena, bukankah sudah jelas?

Jika bukannya karena masih bertengkar dengan Ratunya tersebut, mana mungkin ia sedari pagi menggerutu dan menulisi dokumennya dengan tenaga berlebih.

Yao menghela napas panjang. Setengah jengkel, setengah maklum.

Sebelum menjadi sepasang kekasih, Alfred dan Arthur memang sering berdebat. Dan setelah menjadi kekasih pun, itu tidak mengubah kebiasaan mereka. Wajar saja dengan perbedaan karakter yang sangat kontras, belum lagi keduanya sama-sama kompetitif, berdebat dan berbentur pendapat tidak akan pernah terhindarkan.

Paling tidak, biasanya pertengkaran mereka akan redup pada malam hari. Tapi terkadang ada pula kalanya pertengkaran mereka terseret sampai beberapa hari.

Alfred meletakkan lembaran terakhir. Yao mengambil tumpukan kecil dokumen itu.

“Kemudian tanyakan lagi pada Ratu mengenai urusan untuk mendatangi festival kerajaan Hearts, aru,” sahut Yao, merapikan kertas-kertas.

Alfred mengerang. “Kenapa tidak kau saja, atau orang lain?” keluhnya.

Yao dengan tenang menatapnya. “Karena aku masih ada pekerjaan, dan kau tidak. Lagipula, mana mungkin aku sembarangan saja menyuruh orang lain padahal urusan ini masih hanya dibicarakan di antara Royals?” sahut pria itu dengan diplomatis. Alfred kembali diingatkan sudah betapa lamanya Yao menjabat sebagai seorang Jack. Sama sekali tidak bisa dibantah.

But… Yaoooo…” Alfred merengek, membulatkan matanya dan memajukan sedikit bibir bawahnya, menghasilkan ekspresi yang biasa terlihat pada anak kecil.

Yao hanya menggeleng, memeluk dokumen yang telah rapi dan memutar tubuhnya keluar dari ruang kerja Alfred.

Alfred mendengus agak sebal. Yao adalah satu dari sedikit orang yang tahan dengan pesona kekanakannya. Bahkan Arthur pun tidak seratus persen imun dengan serangan ekspresi manjanya.

Menghela napas, akhirnya dengan enggan Alfred berdiri dan menyeret langkahnya untuk menuju sayap kiri istana dimana sang Ratu tengah menerima laporan-laporan para delegasi luar kerajaan.

Kedua prajurit yang berjaga di depan pintu memberi bungkukan hormat singkat sebelum dengan cepat membuka pintu ruang pertemuan tersebut. Alfred melangkah masuk dengan sikap seperti seorang pemimpin. Senyum tipis berwibawa ia pamerkan pada para pegawai kedutaan yang menyegerakan diri berdiri saat melihatnya masuk.

“Maaf sudah menyela pertemuan kalian, aku hanya ingin memastikan sesuatu sebentar dengan Ratu,” ucapnya melempar senyum.

Yes, Your Highness?” Arthur melipat tangan rapi di atas meja dan menatapnya lurus dengan wajah nyaris tak berekspresi. Kekakuan yang cukup membuat Alfred meringis di dalam hati.

Satu hal yang Arthur selalu lakukan kalau mereka cekcok. Pria itu tak akan memanggilnya dengan nama, hanya Your Highness atau Your Majesty. Bahkan dia tidak akan memanggilnya dengan kata ‘My King’, mungkin karena kata My masih melengketkan hubungan personal, padahal menurut Alfred, begitu saja sudah dingin sekali.

“Yao menyarankanku untuk bicara denganmu tentang festival kerajaan Hearts yang akan datang.” Alfred berdehem memulai pembicaraan.

Arthur mengangguk. Wajahnya masih amat serius.

“Kalau soal itu aku sudah menyiapkan dokumen mengenai apa saja yang perlu kita perhatikan sebelum kunjungan ke Hearts nanti,” sahut pria bermata hijau tersebut. Ia melambaikan tangan pada salah seorang pelayan pria, menyuruhnya untuk mengambilkan beberapa lembar kertas yang ada di meja kecil yang terletak di sudut ruangan.

Sang pelayan tersebut menyerahkan kertas itu kepada Alfred yang agak kebingungan.

“Silahkan Yang Mulia menilai mana yang sudah baik dan mana yang perlu dibicarakan lebih lanjut,” sahut Arthur tenang. “Kami masih harus menyelesaikan pembicaraan.”

Alfred mengedipkan mata beberapa kali. Tertegun.

Apa ia baru saja secara tak langsung disuruh pergi?

Apa ia, seorang Raja, baru saja diusir?

Untung saja yang melakukannya adalah Ratu serta kekasih Raja muda tersebut. Mana mungkin orang biasa sanggup melakukan hal berani seperti itu.

Wajah para delegasi tampak mulai tak nyaman, sepertinya menangkap aura dingin tak ramah sang Ratu. Alfred sedikit merasa kasihan, tapi ia merasa untuk saat ini keadaannya sendiri jauh lebih memprihatinkan karena ialah sasaran sikap kaku tersebut.

Alfred memaksakan senyum. “Baiklah, aku akan membaca ini dan menyerahkan kembali nanti. Maaf telah menunda pekerjaan kalian, silahkan dilanjutkan kembali pembicaraannya.”

Semuanya segera memberi bungkukan hormat dan Alfred keluar dari ruangan itu. Ketika ia sudah berjalan menjauh meninggalkan pintu ruangan, barulah ekspresi ketergunan lepas di mukanya.

Ia sudah tahu sikap Arthur bisa sangat dingin kalau sedang kesal, tapi itu bukan berarti ia tidak akan dibuat tercengang setiap kali diberikan sikap seperti tadi.

Alfred menghela napas panjang dan lelah.

Arthur keras kepala. Dan tidak pernah ragu memberikan Alfred rasa pahit jika berdiri di sisi buruknya.

Sepertinya dia tidak bisa diam saja dan menggerutu. Alfred memutar langkah dan berbelok, keluar dari gedung istana untuk menuju perkarangan. Ia harus mengunjungi tukang kebun istana hari ini. Dan kemudian dapur istana setelahnya.

Malamnya, dengan hati-hati ia mengetuk pintu kamar.

Ya, dia mengetuk dengan sopan sebelum masuk ke kamarnya sendiri.

Gumam tak jelas dari dalam mengindikasikan kalau ia boleh memasuki kamar.

Alfred membuka pintu, masuk beberapa langkah dan berdehem pelan untuk menarik perhatian seseorang yang tengah memunggunginya. Berkutat dengan jubah tidur berwarna hitam yang ia kenakan.

Alfred berdehem pelan, Arthur masih memunggunginya, jadi ia mengambil langkah pelan mendekati pria itu. Kemudian sang Raja muda mengulurkan buket bunga ke depan Arthur dengan ia masih berdiri di belakangnya.

Ratu tersebut menolehkan sedikit wajahnya. Ekspresinya masih tak banyak berubah. Satu alis naik dan Alfred diberi pandangan dingin.

“Maafkan aku Arthur,” gumamnya pelan sembari memasang tampang paling menyesal.

Arthur kembali menghadap ke depan. “Hum…” ia tidak menjawab Alfred dan kembali tak mengacuhkannya.

Alfred menghela napas. “Aku minta maaf Arthur, aku yang salah… jadi apa kau mau memaafkanku? Aku sangat menyesal…” ulangnya.

Arthur menelengkan kepala, seolah ia berpikir sejenak. Kemudian ia menjulurkan tangan dan mengambil buket mawar biru dan tulip putih yang dipegang Alfred. Sebuah keranjang kecil juga diulurkan oleh Raja muda tersebut.

“Karena kau meminta maaf dengan tulus, dan karena kau juga membawakanku stroberi, aku memaafkanmu.” Arthur kemudian menenggadahkan kepala dan mengecup pipi Alfred sekilas.

Alfred menghela napas lega dan tersenyum tipis.

Arthur meletakkan buket bunga dan keranjang berisi stroberinya ke atas meja rias mereka. Alfred dengan hati-hati melingkarkan lengan ke pinggang Arthur. Jari-jarinya hanya mengambang pada renda-renda gaun tidur Arthur.

Walaupun Arthur bilang telah memaafkannya, Alfred masih perlu berhati-hati bersikap, jangan sampai sesuatu tak sengaja membuatnya kesal kembali.

“Aku senang kau sudah sadar kembali kalau apa yang kukatakan itu benar,” sahut Arthur dengan nada puas. Alfred mengatupkan bibir, tersenyum masam. Menahan diri untuk tidak membantah.

Arthur keras kepala. Arthur itu angkuh. Terutama setelah sebuah argumen, dan Alfred cukup bijak untuk tahu supaya menerima saja sikap tersebut.

Lagipula…

Arthur menyentuh pipinya lembut, bibirnya menyunggingkan senyum miring. Dan Alfred, sebagai pria yang terlalu mencintai Ratunya, meleleh melihat ekspresi seksi itu.

Arthur memutar tubuh dalam dekapan Alfred. Lengannya mengalung leher Alfred dan ia menempelkan lebih dekat tubuh mereka. Mata hijaunya menatap Alfred dengan pandangan jahil, ia menggesekkan hidungnya dengan hidung Alfred.

As the rewards for being such a sweet man, I’ll give you so many kisses,” ucapnya.

Alfred menyeringai lebar, membalas pandangan menggoda Arthur dengan pandangan main-main pula. “Only kisses?”

Arthur terkekeh pelan. Membiarkan tangan Alfred melepas ikatan gaun tidurnya.

And my body,” sahutnya kemudian mencium Alfred yang melepaskan gaun Arthur dari bahunya.

Inilah kenapa Alfred tak pernah keberatan meminta maaf dan menerima kekeraskepalaan Arthur. Semuanya selalu terbayarkan ketika Arthur menghadiahinya dengan satu malam penuh gairah.

.

.

.

You gotta know how to treat me like a lady

Even when I'm acting crazy

Tell me everything's alright

 

Dear future husband

Here's a few things you'll need to know if you wanna be

My one and only all my life

Dear future husband

Make time for me

Don't leave me lonely

And no, we'll never see your family more than mine

.

.

.

Walaupun kedudukan tidak punya hubungan mutlak dengan gender, tapi tetap saja tak menampik seorang Ratu erat kaitannya dengan lady yang terhormat dan perlu diperlakukan dengan sopan santun yang ekstrim.

Termasuk—terutama—Arthur.

Dia tumbuh dari keluarga yang status sosialnya tinggi, jadi dia akan menginginkan semua orang mengikuti tata krama yang benar.

Dan itu artinya, memperlakukannya sebagaimana seseorang memperlakukan nyonya besar.

Pegang tangannya dengan sopan saat turun dari kereta. Berdiri begitu dia memasuki ruangan dan menggeserkan kursinya. Bicara dengan suara rendah dan tenang dan kepala menunduk hormat. Iringi dia berjalan-jalan dan tolong dia dengan barang bawaannya.

Itu sedikit dari tata krama bagaimana ia harus diperlakukan.

Hal yang bahkan dipelajari dan diterapkan dengan patuh oleh Alfred yang lahir dengan tata krama bebas.

Dan yang tak kalah pentingnya. Sesuatu yang hanya Alfred bisa lakukan adalah memenuhi keinginannya untuk diperlakukan dengan manis diluar kewajibannya untuk bersikap gentleman.

Ketika Arthur dilanda kecemasan, kelelahan, dan tekanan yang menumpuk, dimana ia merasa pikiran dan emosinya tak stabil, Alfred harus menenangkannya. Berbisik kata-kata yang menghibur dan mentrentamkan hatinya.

Membisikkan bahwa ia tak perlu khawatir, bahwa Alfred ada di sisinya dan mendukungnya selalu. Sehingga semua akan baik-baik saja untuk Ratunya tersebut.

Karena walaupun memiliki sisi yang tenang, agak workaholic, mandiri, dan bukan tipikal orang yang overfriendly seperti Jack kerajaan Hearts, Ratunya itu sebenarnya tak suka kesepian.

Dia akan uring-uringan kalau Alfred pergi melakukan kunjungan politik terlalu lama. Ia akan tidak pernah mengaku, tapi ia selalu menunggu dengan tidak sabar setiap surat yang dikirim Alfred.

Raja itu setidaknya harus meluangkan waktu untuknya barang sebentar setiap harinya. Harus ada kencan pribadi dan tertutup hanya untuk berduaan.

Sebegitu manjanya ia. Bahkan juga pada keluarganya.

Mereka harus mengunjungi keluarga Kirkland setidaknya tiga sampai empat kali dalam setahun. Walaupun Arthur berdalih dia perlu memeriksa keadaan keluarganya karena kakak-kakaknya itu tidak ada yang seserius dia, Alfred tahu ia sebenarnya hanya rindu saja.

Jadi Alfred lebih sering ada di mansion keluarga Kirkland dibanding rumah kelahirannya.

Beruntung baginya, Matthew sang kembaran terpilih sebagai Ace dan juga berkerja di istana. Paling tidak, ia masih dekat dan bertemu keluarganya cukup sering juga.

.

.

.

I'll be sleeping on the left side of the bed

Open doors for me and you might get some kisses

Don't have a dirty mind

Just be a classy guy

Buy me a ring

Buy , buy me a ring, babe

.

.

.

Adakalanya, Francis berkomentar bahwa Alfred terlalu memanjakan Arthur. Hal yang dielakkan Alfred karena mereka sering sekali bertengkar dan sering menjahili satu sama lain.

Tapi bagaimanapun, pendapat Francis ada benarnya.

Ia hampir selalu menyanggupi permintaan Ratunya tersebut. Hal-hal sekecil apapun dia biarkan Arthur untuk memilih dan meminta. Seperti misalnya di sebelah mana ia ingin tidur. Warna apa tirai kamar mereka. Anggur apa yang disajikan untuk pesta.

Alfred beralasan bahwa itu hanya hal kecil dan merepotkan, jadi ia lebih senang jika orang lain mengurusnya. Sama sekali tidak mau mengakui kalau yang ia senangi itu adalah wajah antusias Arthur saat melakukan kegiatan-kegiatan tersebut.

Alfred tidak akan mengakuinya, tapi ia memang memanjakan Arthur dengan hal-hal kecil seperti itu.

Tangan Alfred akan mendorong pintu dan membungkuk kecil mempersilakan Ratunya tersebut.

Arthur akan tersenyum. Puas dengan perlakuan sopan Alfred. Kemudian pria itu akan menyentuh pipi Alfred, menelengkan wajah dan mengecup pipinya yang satu.

Thank you, darling,” ucapnya manis yang dibalas dengan cengiran senang Alfred.

Mereka duduk dan mengikuti pertemuan. Sayangnya ini bukanlah pertemuan yang membahas politik pun juga bukan pesta yang kasual, ini adalah sambutan basa-basi delegasi kerajaan Club. Pembahasannya tidaklah serius, namun juga tetap kaku sehingga Alfred dengan cepat bosan.

Tak peduli bahwa dia orang yang bertanggung jawab dalam menjalani tugasnya sebagai Raja, dia tidak bisa menyangkal bahwa pertemuan-pertemuan seperti ini sangat anti baginya.

Ia berusaha dengan tidak kentara melayangkan pandangan ke berbagai hal. Mulai dari makanan dan minuman, wajah-wajah para anggota delegasi yang butuh waktu beberapa menit untuk Alfred ingat, penampilan mereka dan gerak-geriknya—yang dengan cepat juga membosankan bagi Alfred karena mereka benar-benar tipikal bangsawan kuno—dan terakhir pandangan Alfred jatuh pada Ratunya.

Arthur duduk dengan sikap tegak dan dagu yang terangkat. Tampak begitu percaya diri. Kepalanya mengangguk-angguk anggun merespon orang yang tengah berbicara. Benar-benar seorang Ratu yang karismatik.

Alfred diam-diam tersenyum, ia memutuskan untuk memperhatikan Arthur saja. Tak peduli bahwa ia hampir setiap hari telah menatap Ratunya tersebut, Arthur akan selalu menarik untuk dipandang.

Wajahnya yang indah dengan sedikit perubahan yang tak kasat mata, berusaha untuk mempertahankan raut tenangnya walaupun beberapa orang sikapnya menyebalkan dan ia menahan untuk tidak mendengus mencemooh. Perubahaan sekecil itu membuat Alfred selalu senang saat berhasil menyadarinya.

Tapi memandang Arthur memang sudah cukup menyenangkan. Alfred akan selalu dibuat melamunkan mata hijaunya yang cantik, kulitnya yang halus, semburat merah manis pipinya, serta bibirnya yang menggoda.

Ah, memikarkannya membuat Alfred jadi ingin mencium dan mencumbu Ratu tercintanya tersebut.

Alfred mengulum senyum, tangannya menggapai ke bawah meja. Arthur terkesiap saat merasakan tangan Alfred diletakkan di pahanya.

Ia melirik pada Alfred yang hanya balas dengan kilat mata jahil. Arthur mengerutkan kening pertanda dia memperingati Alfred untuk tidak iseng. Alfred tak kunjung menyingkirkan tangannya dan Arthur membuang pandangan dan kembali memberi perhatian pada pembicaraan yang tengah berlangsung.

Tangan Alfred mengelus paha Arthur dan meremasnya pelan, kembali membuat tubuh Arthur menegang karena terkejut.

Arthur mendelik lagi. Kini tangannya ikut menyelinap ke bawah, dengan paksa mengangkat tangan Alfred dan menyingkirkannya.

Alfred merengut seperti anak kecil. Ia menyorongkan tubuh mendekati Arthur.

“Oh ayolah, Arthur,” bisiknya merajuk.

Arthur menggeleng kecil, wajah masih lurus kedepan walaupun ia ikut mencondongkan badan ke arah Alfred.

“Kita saat ini bersama orang-orang penting. Jaga sikapmu.”

Alfred semakin memasang tatapan merajuk. Ah, mereka tidak memiliki wewenang setinggi itu untuk menegur Royals, itupun kalau memang mereka ketahuan melakukan kenakalan kecil-kecilan.

Arthur melirik pada Alfred yang melengos. Masih tak senang kemauannya tidak dituruti dan disuruh untuk kembali fokus pada acara membosankan itu.

If you behave, I will make it up to you tonight.” Arthur mencondongkan tubuhnya lebih jauh sehingga ia bisa berbisik di telinga Alfred.

Ekspresi Alfred langsung berbinar tertarik. Ia melirik Arthur yang melemparnya dengan senyum jenaka.

Then, I guess I can wait,” jawab Alfred tersenyum lebar.

Kalau begini, dia akan bertahan sedikit lagi tinggal di acara membosankan ini.

Pertemuan itu akhirnya berakhir setelah dua jam. Afred langsung melingkarkan lengannya pada pinggang Arthur. Menghujaninya dengan kecupan seolah-olah mereka belum bertemu sebulan saja, padahal sedari tadi mereka duduk berdampingan.

Arthur menghela napas, dengan tak sepenuh hati memprotes kelakuan kekasihnya tersebut.

“Jangan langsung terkam saja dong. Orang-orang bahkan belum pergi selama semenit,” gerutunya.

“Kenapa tidak boleh? Aren’t you mine? Jadi aku bisa melakukan apapun yang aku mau bukan?”

Arthur menatapnya dengan satu alis dinaikkan, mengangkat tangannya dan merenggangkan jari-jarinya. Jari manisnya digoyangkan, memamerkan cincin pertunangan mereka.

“Ganti dulu cincin ini baru kau bisa bilang begitu.”

“Baiklah, kalau begitu aku akan segera belikan cincin baru,” jawab Alfred, nada suaranya main-main tetapi binar matanya bersungguh-sungguh.

Arthur menggelengkan kepala pelan dengan senyum geli.

And it has to be better than this.”

Of course, babe, you know me,” balas Alfred mengedipkan matanya ceria.

.

.

.

Dear future husband

Here's a few things you'll need to know if you wanna be

My one and only all my life

Dear future husband

If you wanna get that special loving

Tell me I'm beautiful each and every night , that's right

.

.

.

Alfred berdiri dengan tegap. Wajahnya tenang, walaupun sinar matanya tidak bisa menyembunyikan rasa antusiasnya. Iris matanya melirik kian kemari entah karena gugup atau ketidaksabaran.

Matthew yang berdiri di sebelahnya dan diam-diam memperhatikannya menyunggingkan senyum geli. Tak pelak lagi menangkap rasa senang yang disembunyikan oleh saudaranya tersebut.

“Bersemangat, heh. Kau tidak gugup?” bisiknya jahil.

Alfred dengan tak kentara mendelik pada Matthew. “Tentu saja,” balas Alfred dengan nada yang menyiratkan ‘duh’.

“Jangan terlalu panik, Yang Mulia, bisa-bisa kau pingsan lebih dulu. Memalukan bukan, pingsan di hadapan pengantinmu,” lanjut Matthew dengan cengiran. Di saat seperti inilah kemiripannya dengan Alfred menjadi semakin jelas, ekspresi nakal yang biasanya hanya diasosiasikan dengan Alfred dan bukannya senyum manis yang dikenal kebanyakan orang.

Alfred mendengus terhadap ejekan saudaranya. Ia ingin membalas Matthew, hanya saja suara pintu terbuka yang sudah lama-lama ia tunggu menarik perhatiannya. Dengan kecepatan kilat ia menoleh.

Senyum lebar langsung merekah di wajah Raja belia tersebut. Alfred sama sekali mengabaikan seringai Matthew karena tindakan tak sabarannya.

Dada Alfred bergemuruh, dari balik tirai berendanya, Arthur meliriknya dengan senyum main-main.

Pria bermanik hijau itu berjalan dengan langkah tenang, entah bagaimana caranya bahkan jauh lebih anggun lagi daripada hari-hari biasa.

Di sampingnya, Seamus mengiringi adiknya itu dengan sikap tubuh tegap. Air mukanya tenang seperti biasanya, hanya saudara-saudaranya yang bisa melihat senyum samar di wajahnya. Pria berambut gelap itu memakai setelan hitam mengkilap. Kontras dengan jubah putih mengembang yang dikenakan Arthur.

Jubah putih yang dilengkapi tudung berenda halus dan dihiasi sulaman dari benang-benang sutra berwarna royal blue, semakin lengkap dengan buket mawar biru yang dikelilingi bunga myrtle. Sepasangan dengan setelan dan jubah Alfred yang berwarna royal blue lalu dipenuhi ornamen-ornamen putih.

Instrumen mulai memainkan wedding march, bertimpa dengan riuh rendah suara tamu. Dari tepi-tepi pandangannya ia bisa melihat para Royals kerajaan lain yang duduk di barisan depan. Kemudian keluarga mereka, dua kakak Arthur yang lain,  Dylan dan Alistair tersenyum dengan lebar, mata mereka lekat pada sang adik. Terakhir, bangku-bangku yang tersisa dipenuhi oleh para bangsawan dan teman-teman dekat mereka.

Akhirnya Arthur berdiri di sebelahnya. Alfred tersenyum lembut pada kekasihnya tersebut, mengagumi dan bertanya-tanya bagaimana sesuatu yang sempurna bisa lebih indah lagi.

Hello, love,” bisik Arthur dengan nada sarat kemesraan.

Hello to you too, gorgeous,” balas Alfred dengan nada yang sama pula.

Keduanya kemudian menghadap lurus ke depan.

Yao memberikan mereka sekilas senyum sebelum kembali memasang ekspresi serius.

“Hari ini kita berkumpul untuk merayakan upacara suci dan membahagiakan. Yang mengikat dua insan. Yang menyatukan keduanya tak hanya sebagai Raja dan Ratu.” Suara Yao berkumandang, menjadikan suasana semakin khidmat. Ia lalu meluruskan tatapan pada Alfred.

“Apakah anda, Alfred F. Jones, King of Spade, menerima Arthur Kirkland sebagai pasangan sah mu, dalam suka dan duka, dalam senang dan sedih?”

Alfred tersenyum. Pandangannya terkunci pada Arthur saat ia mengucapkan, “Saya bersedia.”

“Dan apakah anda, Arthur Kirkland, Queen of Spade, menerima Alfred F. Jones sebagai pasangan sahmu, dalam suka dan duka, dalam sehat dan sakit?”

Arthur mengangguk pelan. Tersenyum lembut sembari mengucap, “Saya bersedia.”

Sebuah kabut penuh kerlap-kerlip merah muncul di hadapan mereka. Menghilang dan menampilkan sosok anak laki-laki dengan setelan hitam. Cengiran cerianya begitu manis, mata birunya yang besar berkilat-kilat jahil.

“Silahkan cincinnya, pasangan yang dimabuk cinta,” ucapnya dengan seringai nakal. Tangan kecilnya mengulurkan kotak cincin.

Arthur mendelik padanya walaupun hanya pura-pura, dibuktikan dengan senyum lebar yang gagal ia sembunyikan.

Alfred tersenyum geli. Ia meraih satu cincin.

Thank you, Peter,” sahutnya pada bungsu Kirkland sekaligus salah satu dari dua Joker tersebut. Anak itu memberikan cengiran lebar padanya.

Alfred berbalik menghadap Arthur. Pria itu menaikkan sebelah alisnya, masih saja menggoda Alfred yang gugup disaat-saat begini. Raja Spade tersebut dibuat gemas olehnya.

Dengan senyum geli akhirnya Arthur mengulurkan tangannya dan segera Alfred menggenggamnya lembut.

We finally tied for forever, huh…”

Alfred memakaikan cincin dari emas putih yang dihiasi safir yang dipahat seperti simbol kerajaan mereka ke jari manis Arthur.

Arthur mengulum senyum, memberikan Alfred ekspresi khasnya yang angkuh dan menggoda.

“Sebaiknya kau bersiap Yang Mulia, kau sudah terikat dengan orang yang menyebalkan.”

Alfred membalasnya dengan senyum penuh percaya diri.

“Tak perlu khawatir, aku terlalu cinta pada orang tersebut untuk berpikir lari darinya,” sahutnya dengan suara pasti. Semua kesungguhannya ikut bercampur dengan nada humoris yang selalu disana saat mereka bertukar rayuan.

Arthur tertawa pelan. Memiringkan wajah, kelopak matanya menutup lambat, menyambut Alfred yang menunduk menciumnya,

.

Future husband, better love me right

.

.

.

.

Notes:

Yesssssss, aku akhirnya bikin fanfic dengan cardverse au juga! au favoritku di hetalia!
Ahhhhh, cuman setengah kebawahnya masih kurang memuaskan bagiku! (≥~≤)

Oh ya, sajak yang dinyanyiin Arthur disini tuh adalah puisi yang berjudul “What Do Women Want?” dari Kim Addonizia. Interpresentasinya yang pasti bukan begitu seharusnya, tapi aku terlanjur suka puisinya.

Fanfic ini terinspirasi dari AMV cardverse!usuk dengan lagu yang sama. Liriknya yang You gotta know how to treat me like a lady mengingatkan banget akan kedudukan Arthur sebagai Ratu (dan mungkin juga karena lirik di bagian I never learn to cook itu, lmao).

Speerin: Tradisi dari skotlandia dimana mempelai pria menuntaskan tugas-tugas yang diberikan oleh ayah mempelai wanita untuk dapat menikahi putrinya.
Myrtle: adalah bunga yang dipakai untuk buket pernikahan di Wales.
Aku masih mau masukin banyak tradisi pernikahan dari UK tapi aku gak yakin bakalan sesuai dan malah ngehancurin alurnya. Dan urutan kegiatan pernikahannya kayaknya gak teratur, but emang sengaja hehehe…

Rencananya ini murni manis dan innocent, tapi malah nyerempet spicy. Namanya juga aku sebagai fangirl England, lemah sama keseksiannya… (;-;)

Untuk saudara Arthur, Seamus adalah Scotland, Alistair adalah North Ireland, Dylan adalah Wales. Beginipun sebenarnya udah susah nulis mereka :’v. Hima-sensei jahat banget sih bikin Fanon dan Canonnya jadi beda banget.

Aku udah gak tau mau ngebacot apa lagi. Terima kasih udah baca dan semoga suka :)
See you…
Ai19

Series this work belongs to: