Work Text:
.
.
.
Aku melayangkan tatapan dinginku yang terkenal itu, dan gadis-gadis yang menjadi teman sekelompokku mengkerut di kursi mereka. Sedangkan rekan-rekanku yang laki-laki memalingkan wajah. Selama sedetik dua menyembunyikan rasa takut mereka.
“Apa kalian sudah mulai mengerjakan bagian-bagian kalian untuk makalahnya?”
Semua mengangguk. Tak sekalipun membalas pandanganku.
“Benarkah?” Mataku kusipitkan, memperhatikan mereka semua sebelum kembali pada print-out yang kupegang.
“Apa bab pembahasannya sudah selesai?” Aku melayangkan pandangan pada gadis yang kebagian untuk mengerjakan bagian tersebut.
Gadis itu semakin mengkeret di tempat duduknya. “Sudah kok Put,” cicitnya tergagap sedikit.
“Benar? Sudah sampai mana? Semua kata kuncinya sudah terdefenisi?” cercaku lagi.
Ia gelagapan dan aku mendengus. Jelas sekali bahwa aku menangkap basah kebohongannya. Ia pasti belum mengerjakan sedikitpun.
“Kalau belum katakan saja. Lalu kerjakan segera,” sahutku tanpa ampun.
Dengan pasrah gadis itu mengangguk lemah.
Setelah itu aku melanjutkan untuk menanyai satu per satu dari mereka. Dan dengan ringkas dan cepat aku menyudahi pertemuan kami. Mereka semua bergegas keluar dari ruang kelas kosong yang kami gunakan.
Tidak pelak lagi ingin menjauh dariku secepat mungkin. Aku sama sekali tidak tersinggung karena sudah terbiasa begitu.
Aku sendiri tidak meninggalkan ruang itu segera. Menuliskan beberapa hal yang harus kukerjakan ke dalam buku agenda kecil yang mulai kupakai saat kuliah.
“Seperti biasanya, lo bener-bener kejam ya!”
Aku mengangkat wajah, melotot pada suara ceria yang sepertinya tidak takut mati karena mengkritikku.
Seraut wajah meyeringai jahil dan dirias gotik adalah pemilik suara cempreng tersebut. Di sampingnya juga ada sosok yang memakai jaket abu-abu dan topi berwarna senada, penampilan yang tak pernah berubah selama bertahun-tahun.
Aku mendengus. “Aku cuman memastikan mereka bekerja dengan benar. Bukannya main-main dan membuat tugas kelompok nggak selesai sampai deadline.”
“Yah, tapi nggak perlu lo interogasi juga mereka kayak tadi. Gila, kalau liat dari mukanya, mereka kayaknya siap buat ngebocorin semua rahasia gelap mereka saking takutnya sama elo,” sahut Aya.
“Bagus kalau begitu. Biar mereka tahu berbohong padaku itu nggak ada gunanya,” balasku.
“Ah, tapi anak-anak emang biasanya suka bohong sih kalau soal tugas-tugas,” celetuk Erika. “Lagian hal remeh begitu juga.”
Aku menatap gadis tomboy itu dengan sengit. “Aku tidak menolerir sebuah kebohongan sekecil apapun,” tegasku dan kemudian berdiri dan memasang tas selempangku. “Ayo kita pergi, kita masih perlu ketemu dengan Rima, kan?”
Erika dan Aya bertukar pandang dan mengangkat bahu. Aku tahu apa yang tengah mereka pikirkan.
Mereka semua tidak pernah menyatakannya, tapi mereka khawatir dengan sikapku yang satu itu. Namun, mereka juga tahu aku punya alasannya.
Dari dulu aku tipe yang lebih memercayai tindakan daripada kata-kata.
Tapi kini lebih-lebih lagi. Bahkan tindakanpun aku curigai dan aku pertanyakan dulu dua kali, tiga kali, bahkan sampai sepuluh kali.
Satu-satunya yang bisa kupercayai sepenuhnya adalah anak-anak Guntur. Terutama Rima dan Aya.
Kami terhubung oleh hutang budi yang besar pada Mr. Guntur. Sama-sama mengabadikan hidup kami untuk membalas hutang itu. Mereka tidak akan merusak kepercayaan Mr. Guntur.
Dan sebagai perpanjangannya, mereka juga tidak akan mengkhianatiku.
Aku tidak ingin dikhianati lagi. Tidak lagi.
Tidak setelah semua yang telah kulalui.
Orang yang pertama menanam benih paranoia itu adalah Dicky.
Pacar pertamaku yang menorehkan luka yang sangat dalam. Yang ternyata mengangapku gadis tak memiliki perasaan.
Kemudian orang-orang yang telah kuanggap teman pun mendukung kebohongannya.
Walaupun mereka tidak terlibat dalam rencana Dicky untuk menjatuhkanku, tapi mereka ternyata sama sekali tidak menganggapku teman. Aku dianggap sebagai seseorang yang bisa ditegai untuk dibohongi.
Orang yang memperparah keadaan adalah cowok iblis tukang bikin darting itu, alias Damian Erlangga.
Yah, lagi-lagi laki-laki.
Lagi-lagi mengenai hati.
Kurasa aku memang sial banget kalau berurusan dengan percintaan. Atau mungkin hidup secara general.
Apa yang kurasakan pada Damian jauh lebih dalam daripada yang aku rasakan untuk Dicky, walaupun cowok itu tak pernah menjadi pacarku. Setidaknya tidak sungguh-sungguh.
Tapi pengkhiantan yang dilakukan Damian jauh lebih menyakitkan.
Dan aku hanya bisa menyalahkan diriku karenanya.
Damian sudah sedari awal menjadi musuh kami. Pihak yang bertentangan dengan kami, dan dengan keras mendeklarasikan tujuan untuk menyakiti kami. Yet, I still fall for him.
Aku bodoh banget jatuh kedalam rencana-rencananya. Terus dipermainkan olehnya. Dijadikan alat untuk mempermudah urusan jahat mereka.
Tapi yang paling tidak bisa kumaafkan adalah janji terakhirnya.
Dia bilang dia akan keluar dengan selamat. Dia bilang dia akan menyusulku. Tapi apa, sampai gedung itu habis terbakar pun dia tidak ada.
Dia bilang dia akan datang ke prom denganku. Untuk menyampaikan salam perpisahannya saat nanti berdansa.
Tapi nyatanya aku sudah menunggu-nunggu selama berjam-jam dengan penampilan terbaikku. Menunggunya di luar.
Dia tetap tidak datang.
Tidak datang untuk menyampaikan salam perpisahannya.
Tidak datang untuk mengatakan bahwa apapun yang terjadi, ia sebenarnya mencintaiku.
Sekarang bagaimana caranya aku bisa mempercayai orang lain lagi?
