Actions

Work Header

Under the Drizzle

Summary:

Alfred mendapati bahwa musim hujan Kerajaan Spade tak sesuram yang ia selalu pikir.

Notes:

Because I love my royal couple to be in love <3

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

 

Alfred benar-benar tidak menyukai bulan hujan di Spade. Dari pagi sampai malam hari Kerajaan itu akan diguyur gerimis. Langit selalunya kelabu oleh awan yang tebal. Kabut pekat akan menyelimuti pagi. Dan kuncuran hujan lebat paling tidak sekali dalam sehari.

Semua orang akan terhambat aktivitasnya. Semua wanita akan menggerutu tentang cucian yang tak kunjung bisa kering, pria-pria akan mengeluhkan tak bisa mengnjungi bar favorit mereka dengan teman. Anak-anak merengek kebosanan karena tak bisa main di luar—tentu saja mereka bisa bermain di luar, hanya kalau ingin menghadapi omelan ibu mereka.

Pendeknya, bulan-bulan hujan Spade benar-benar membuat perasaan seseorang suram.

Terutama bagi Alfred yang tidak tahan berdiam diri. 

Hujan yang tak ada hentinya menggangu latihan prajurit. Tentu mereka tidak berhenti latihan. Mereka tetap melakukan pelatihan dibawah rintik gerimis dan melangkah di tanah yang basah, hanya pelatihannya menjadi tak seintens yang biasa dan akan berhenti begitu petir terdengar.

Ini adalah kali ke-empatnya pelatihan dihentikan karena hujan.

Biasanya jika latihan dibatalkan, para prajurit akan berkumpul di kamp. Bermain kartu sebagai sarana hiburan. Tapi ada batasnya juga kartu akan cukup menghibur setelah bermain berkali-kali.

Namun selain itu, biasanya para prajurit akan diperintahkan menjadi penjaga sebagai ganti latihan yang dibatalkan. Hal membosankan lainnya, hanya berdiri di depan pintu ruangan.

Alfred menguap begitu lebar dan hampir tersedak ludah sendiri karena kaget saat pintu tiba-tiba terbuka.

Begitu melihat warna royal blue di pandangannya, Alfred segera menegakkan sikap tubuh dan senyum lebar mengarah jahil, ditegaskan oleh binar matanya. 

"Selamat pagi, Your Highness!" Alfred menyapa dengan suara nyaring. Nada cerianya sedikit berhias kesan main-main. 

Sikap Alfred bisa dibilang sangat informal, lancang malah. Sesuatu yang pastinya akan membuat pemuda bermata biru itu dihukum jika kepala prajurit melihat kelakuannya. 

Dan Alfred sendiri juga cukup kagum kenapa dia belum dilempar ke penjara oleh sang Ratu yang terkenal galak. Alih-alih, Alfred hanya mendapat sebuah dengusan yang mengiringi bola mata hijau berputar. 

Yap. Alfred tau dibalik sikapnya yang cenderung tempramental, Ratu Spade itu berhati lembut (Matthew mengatakan pendapatnya sangat bias karena perasaan pribadinya, tapi hei, tak ada salahnya kan memuji Ratu kerajaanmu sendiri?). 

"Penuh energi seperti biasanya, lad. Kupikir kesuraman bulan-bulan hujan akan membuat mu lesu," Sang Ratu dengan balutan jubah birunya berucap. Ada sedikit sarkasme dalam nada bicaranya, sesuatu yang dulu membuat Alfred sering mengerutkan alis, tapi kini ia telah mengerti memang begitulah sifatnya orang Spade kepulauan. 

Alfred mengangkat bahu. "Jujur saja, aku tidak suka hujan, tapi harus ada yang tetap tersenyum untuk menyeimbangkan raut cemberut seseorang, bukan begitu, Your Highness?" Prajurit muda itu menggerakkan alisnya dengan sikap menggoda.

Lagi-lagi, luar biasanya, Alfred tidak diteriaki untuk dihukum. Ia hanya mendapat pelototan setengah hati, bahkan ada senyum yang membayang di bibir tipis itu. 

Pria yang mengenakan jubah biru itu melangkah. Menyeberangi koridor untuk tiba ke teras.

“Yang Mulia!”

Alfred agak terkejut saat Ratu itu bukannya berhenti dan hanya memandang rintik air, tetapi malah seperti akan melanjutkan langkahnya keluar. Buru-buru prajurit muda itu mengambil payung yang disediakan di dekat pintu—sesuatu yang biasa dilakukan kerajaan Spade jika bulan-bulan hujan sudah datang.

Alfred mengembangkan payung dan setengah berlari menyusul. Berhasil tepat waktu menaungi kepala yang dihiasi topi kecil tersebut sebelum keluar dari lingkup beratap. 

Ratu Arthur tersenyum samar, terlihat puas bahwa Alfred cukup mengerti apa yang harus ia lakukan. Alfred menghembuskan napas agak jengkel.

Ia mengikuti sang Ratu melintasi halaman. Sampai pada kebun mawar kebanggan istana. Berbagai petak luas yang diisi mawar yang berbeda-beda warnanya disetiap petakan. Merah, putih, merah muda, dan biru yang dilatar belakangi hijau daun mereka. 

Alfred sedikit mensyukuri bahwa jalan-jalan setapak kecil diantara bedeng-bedeng bunga terbuat dari kerikil. Tak terbayangkan kotornya sepatu bot kulit bagus yang digunakan sang Ratu jika jalan setapak hanya tanah, yang pastinya akan sangat basah oleh hujan.

Sembari berjalan, Arthur menyentuhkan ujung jarinya pada kelopak-kelopak mawar. Lembaran-lembaran kelopak bunga tersebut tampak seperti beludru yang dihiasi permata-permata kecil karena titik air hujan yang mengkilap.

“Gorgeous lil’ things, aren’t they?” Arthur bertanya dengan nada retoris, pandangan lekat pada pohon mawar biru. Alfred tahu bahwa ia tidak perlu menjawab, jadi ia fokuskan perhatiannya pada payung yang ia pegang dan tatapan senang sang Ratu yang sarat akan bangga.

Mawar adalah bunga kesukaan Ratu Arthur. Tidak ada yang menyukai bunga nasional Spade sebesar sang Ratu kerajaan tersebut.

Ia tampak begitu bangga dengan keindahan bunga-bunga tersebut, seperti seseorang yang berbangga akan kecantikan anaknya. Tatapan matanya akan selalu melembut dan bibir tipisnya akan melengkungkan senyum hangat yang begitu berbeda dari seringai sinis yang sering terlihat saat ia bekerja. 

Diam-diam Alfred merasa beruntung bisa menyaksikan kelangkaan itu.

Tanpa berpikir, Alfred memetik satu kuntum bunga biru.

“Hey! Apa yang—!”

Arthur berseru terkejut, berpaling dengan begitu cepatnya pada Alfred.

Ekspresi wajah pria itu tampak seperti akan marah. Namun tertegun karena Alfred malah memberikannya cengiran tanpa rasa takut ataupun bersalah.

Tangannya menjulurkan bunga mawar biru ke arah Arthur. 

Arthur mendengus, ia tidak terlihat seperti akan meledak marah lagi, tapi kerutan diantara dua alis tebalnya masihlah dalam. 

"Kau tahu perlakuan seperti itu tidak akan mengesankanku. Dan berani sekali kau memetik mawar didepanku!" Ratu itu berucap dengan nada yang hampir mengancam. 

Namun Alfred tahu bahwa itu hanyalah pura-pura (paling tidak, ia harap sang Ratu hanya berpura-pura mengancamnya). 

Kemudian, tiba-tiba bola mata Arthur melebar. "Dan lihat! Kau bahkan membuat dirimu terluka karena sembarangan saja memetik mawar. Kau kan tahu kalau mawar biru adalah yang paling berduri diantara semua mawar!" Omel Arthur. Tangannya terangkat, dengan keraguan menyentuh jemari Alfred yang berdarah tertusuk duri. 

Ekspresi Arthur mencair menjadi kekhawatiran. Membuat Alfred pasti dia tidak akan mendapatkan hukuman karena kelancangannya memetik mawar di kebun bunga sang Ratu. 

Alfred menatap bunga yang masih ia pegang. Mengerutkan dahi samar pada duri-durinya. Sekonyong kemudian ia mulai mematahkan dan mencabut semua duri yang ada. Ia mengangguk puas begitu semua duri bersih. 

Ia kembali menjulurkan bunga yang ia pegang pada Arthur dengan cengiran lebar. 

"Sekarang baru pantas kuberikan," Ucapnya, tampak bangga dengan apapun itu yang sudah ia lakukan. "Yang Mulia tidak akan terluka."

Arthur menggelengkan kepala dengan sikap tak percaya. Ia akhirnya menjulurkan tangan untuk menerima bunga yang sedari tadi disodorkan Alfred. 

"Kau tidak perlu melakukannya. Aku menyukai mawar sebagai mana adanya." Pria bermata hijau itu memutar mawar dengan jemarinya. "Mereka indah, kecantikan yang menarik orang dan kau kira kelopaknya yang lembut rapuh. Tetapi mereka memiliki duri yang akan membuat mu menyesal meremehkannya. Cantik namun berani."

'Just like you,' bisik hati Alfred saat melihat senyum lembut yang indah tersungging di bibir Ratunya. 

Arthur berbalik. Tangannya yang menggenggam mawar diangkat dekat dengan dadanya. Ratu Spade itu kembali melangkah, dan sang prajurit muda mengikutinya, masih setia melindunginya dari rintik gerimis. 

Melihat mawar selalu membuat hati sang Ratu senang, tapi Alfred ingin merasa sombong karena ia bisa membuat Ratu tersebut jauh lebih senang lagi. 

Senyum hangat yang baru pertama kali ia lihat itu. 

Dan tiba-tiba, kelabu hujan Kerajaan Spade tak terasa sesuram yang biasanya. 

Notes:

I don't intend to write fic to be honest. I kind of feeling down for few so long...
But, the theme is fluff... I couldn't deny my tittle as a fluff author. And this idea justru popped out of nowhere. I'm surprise ini could write it without trouble, and only need two days even!

Okay, i will stop my rambling now :)
Thanks for reading.

Series this work belongs to: