Actions

Work Header

When the Butterfly Flutters Away

Summary:

Pertanyaannya sederhana—

“Berarti, kalo nanti waktuku udah datang, Pak Zhongli masih hidup, dong?”

— dan seperti yang Zhongli katakan tadi, ini adalah rahasia umum yang semua orang pasti tahu jawabannya.

Notes:

this was supposed to be hu tao's birthday fic but im lazy, and i first wrote it in jan lol

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

Dia tidak pernah memberi tahu, pun berniat untuk melakukannya. Karena untuk apa? Toh, gelar itu bukan miliknya lagi. Sudah lama sejak sang Archon menanggalkan gelar yang membuat dirinya miliki kuasa atas negeri ini. Tapi gadis remaja itu selalu saja penasaran. Bukan lagi sekali atau dua kali ia mencoba untuk membuktikan bahwa salah satu karyawannya adalah seorang Dewa dan seorang mantan Archon yang pernah memimpin negeri tempatnya lahir dan tinggal.

Zhongli sama sekali tidak masalah. Lagi pula, andai kata Hu Tao percaya bahwa Zhongli adalah seorang Dewa dan mantan Archon, lalu ia menyebarkan berita itu kepada masyarakat Liyue, memang siapa yang mau memercayai ucapan seorang gadis remaja? Terlebih, ini Hu Tao.

Namun pada akhirnya, sang Direktur tetap saja sering lemparkan godaan sebagai candaannya kepada Zhongli mengenai hal tersebut. Seperti pada suatu hari lalu, Zhongli meminta tolong Hu Tao untuk mengecek sesuatu dan gadis tersebut menjawab, "baik, Tuan Rex Lapis Yang Terhormat. Akan segera saya laksanakan," diiringi kekehan kecil setelah mengucapkannya.

Sekali lagi, Zhongli sama sekali tidak masalah. Hu Tao hanyalah seorang remaja.

Kemudian pada saat-saat tertentu, mungkin setelah jam kerja mereka selesai, Hu Tao akan menghampiri Zhongli dengan membawa puluhan pertanyaan mengenai hal-hal yang menyangkut urusan Dewa Celestia.

Zhongli mengerti peraturannya. Ia tidak sembarang memberikan jawaban kepada manusia biasa. Maka dari itu Zhongli selalu menemukan cara untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang dilempar Hu Tao kepadanya.

Dan dari sekian pertanyaan yang telah ia terima, ada satu pertanyaan yang bahkan sampai saat ini masih sering terbesit di memorinya.

Saat itu seluruh pegawai Wangsheng Funeral Parlor telah meninggalkan tempat kerja dan kembali ke tempat tinggal mereka masing-masing. Dan entah karena kebiasaan, atau mungkin memang sang pria bersurai gelap itu ingin memastikan tidak ada barang yang tertinggal di tempat kerjanya, ia menjadi orang terakhir yang meninggalkan kantor.

"Emang Dewa perlu kerja juga, ya?" Sebuah suara dari jarak tidak jauh dari posisi Zhongli membuatnya hentikan kegiatan sebentar dan menoleh ke sumber suara. Di sana ia menangkap presensi seorang gadis yang sangat familiar.

Zhongli tersenyum kecil. "Coba tanyakan mereka sendiri," jawabnya.

"Kenapa Pak Zhongli nyamar jadi manusia? Bukannya lebih enak jadi Dewa aja terus disembah orang-orang? Kalo jadi manusia, siapa yang mau nyembah?"

Belum sempat Zhongli memproses pertanyaan Hu Tao, si gadis menambah lagi daftar pertanyaannya.

"Oh! Kenapa Pak Zhongli milih bentuk tubuh ini? Kenapa gak.. jadi cewek aja? Terus, terus, kenapa milih nama 'Zhongli'? Emang nama Rex Lapis kurang keren, ya?"

Zhongli menghela napas seraya mempertahankan senyum kecilnya. Ia tidak menyalahkan Hu Tao atas rasa penasarannya. Hanya saja, kadang kala, pertanyaannya terlalu sulit untuk Zhongli cari jawaban asal-asalannya. 

"Direktur Hu," Zhongli berkata. "Saya tidak tahu, saya bukan Dewa." Tentu Zhongli berbohong. Mendengar jawaban Zhongli, Hu Tao memasang ekspresi muka kecewa. Lalu, ia melipat kedua tangannya di depan dada. "Pak Zhongli gak seru."

Zhongli tersenyum. Ia masih lanjutkan kegiatannya untuk merapikan meja kerjanya sebelum hari semakin gelap. Seraya melakukan itu semua, sang remaja masih diam di tempatnya, seperti menunggu si pria tua itu di ruangannya.

“Dewa, tuh, immortal, ya?” celetuk Hu Tao setelah membungkam mulutnya selama beberapa menit.

Karena ini adalah rahasia umum, yang semua orang pasti tahu jawabannya, maka Zhongli menjawab, “iya,” tanpa ragu.

Ada jeda beberapa saat setelah Zhongli menjawab pertanyaan sang Direktur, sebelum Zhongli menyelesaikan kegiatannya dan hendak membalikkan badan. Mulut Zhongli setengah terbuka berniat untuk berkata pada gadis remaja di depannya agar segera menutup kantor dan pulang, ketika sebuah pertanyaan lain keluar dari mulut Hu Tao yang membuat Zhongli mematung di tempatnya.

Pertanyaannya sederhana—

“Berarti, kalo nanti waktuku udah datang, Pak Zhongli masih hidup, dong?”

— dan seperti yang Zhongli katakan tadi, ini adalah rahasia umum yang semua orang pasti tahu jawabannya.

Akan tetapi kedua bagian bibir sang Dewa yang awalnya terpisah kini perlahan memotong jarak satu sama lain dan melekat erat. Netranya menatap kosong ke depan. Seketika suaranya sulit ditemukan, kendati mulanya ia hendak mengatakan sesuatu— seperti ada hal yang menghalangi kata-katanya untuk keluar.

Yang ditanyakan adalah pertanyaan mudah, kan? Dan juga pertanyaan Hu Tao bukanlah macam pertanyaan yang menuntut penjelasan dengan dasar mengapa atau bagaimana. Semua orang tahu jawabannya. Zhongli tahu jawabannya.

Tapi kalimatnya tidak ada yang keluar sehingga suasana kini menjadi hening.

Zhongli tidak menyalahkan Hu Tao atas keingintahuannya mengenai hal-hal yang ia curigai pada pria bersurai coklat gelap itu. Pun Zhongli tidak pernah menganggapnya serius. Selama ini Zhongli selalu menemukan jawaban-jawaban lain untuk membalas semua pertanyaan Hu Tao. Namun tidak untuk kali ini.

“Aku kira—” Suara Hu Tao memecah keheningan yang diciptakan dua orang terakhir yang berada di kantor Wangsheng Funeral Parlor malam itu.

Zhongli menyela, “Direktur Hu.” Kalimatnya tegas.

Ada nada dingin dan tak acuh yang Hu Tao temukan pada ucapan Zhongli barusan, membuat ia arahkan manik crimson-nya untuk bertemu manik amber milik Zhongli.

“Sudah malam, mari pulang,” lanjut Zhongli.

Setelahnya, keadaan tidak ada yang berubah.

Bahkan, setelah lima puluh tahun berlalu, keadaan tidak ada yang berubah.

Kerumunan manusia berpakaian hitam mendominasi ruangan yang dipenuhi suara tangisan lembut dan bisik-bisik beberapa orang yang berusaha menenangkan satu sama lain. Pria berambut perak duduk menyendiri di salah satu sudut ruangan, mengawasi seluruh kegiatan yang terjadi di depannya. Sesekali ia mengerutkan dahi ketika mendengar suara tangis yang awalnya lirih, menjadi satu-satunya suara yang dapat didengar oleh seluruh orang dalam ruangan tersebut. Apakah mereka tidak mengerti? Sebelum gadis— salah, wanita tua itu memutuskan untuk selamanya berbaring dalam peti tersebut, ia dengan sangat jelas menyatakan bahwa ia tidak mau ada satu tetespun tangisan yang keluar di pemakamannya. Apakah mereka tidak mengerti?

Pada saat prosesi upacara dimulai, Zhongli mengacuhkan segala suara yang sejak tadi mengganggunya. Ia memasang air muka datar tanpa ekspresi di balik kerutan-kerutan yang menghiasi wajahnya. Tentu saja, Zhongli harus menyamar agar tidak dicurigai. Ia meninggalkan penampilan pria muda dengan rambut coklat gelap dan netra amber menyala, dan memilih untuk menyamar menjadi seorang kakek-kakek dengan rambut yang mayoritas berwarna perak. Netra ambernya ia biarkan meski terlihat redup.

Tidak ada yang curiga bahwa kakek tersebut adalah Zhongli, mantan pegawai Wangsheng Funeral Parlor sekaligus salah satu pria yang sangat dipercaya oleh Hu Tao. Bahkan tidak ada satupun yang mengenalnya. Semenjak ia masuk ke ruangan dan duduk, tidak ada yang datang dan menyapanya. Ia seperti kakek-kakek yang hilang dan lupa jalan pulang. Tetapi pada saat Hu Tao masih terbaring di kasur meski tenaganya tak tersisa banyak, ia berkata bahwa pria itu harus datang ke upacara pemakaman dan saat ia dikebumikan.

Setelah dilaksanakan prosesi berdoa, seorang pemimpin prosesi pemakaman, Xin Shang, kemudian mengarahkan anggota keluarga dan kerabat untuk mendekati peti kayu yang terbuka setengah itu dan menampakkan setengah badan dari wanita tua yang terbaring tak bernyawa di dalamnya. Seluruhnya maju bergantian. Hingga tiba giliran Zhongli untuk maju.

Dengan perlahan dan berhati-hati, Zhongli membawa tubuhnya bergerak dari kursi dan mendekati peti. Suasana ruangan itu sedikit lebih tenang, hanya terdengar sisa-sisa isakan kecil dari beberapa orang. Beberapa pasang mata juga tak lepas pandangannya dari presensi Zhongli dalam ruangan itu. Dapat ditafsir sebagian dari mereka penasaran siapa pria tua itu.

Zhongli memberi jarak satu langkah antara dirinya dan peti di depannya. Netra sang Dewa mengunci presensi seorang wanita tua yang rambutnya telah memutih dari akar hingga ujung. Masih segar di ingatannya, ketika helaian-helaian rambut itu masih berwarna coklat gelap tertiup angin malam, puluhan tahun yang lalu. Di balik kelopak mata yang tertutup rapat, disimpannya netra crimson menyala yang membuat siapapun akan menghentikan kegiatannya barang hanya sedetik untuk memandangnya. Jemari yang sudah keriput itu juga tidak lagi bisa digunakan untuk berkacak pinggang ketika salah satu pegawainya membuat kesalahan, atau untuk menjahili teman-teman sebayanya.

Banyak perubahan nyata yang terjadi di sana. Tapi di mata pria itu, ia tetaplah seorang gadis ceria yang selalu punya cara untuk menghiburnya.

"Direktur Hu," Zhongli berkata lirih, hampir berbisik. "beberapa puluh tahun yang lalu, Anda bertanya pada saya, apakah seorang Dewa itu immortal. Saya jawab, 'iya.' Karena itu adalah sebuah fakta yang hampir seluruh orang tahu, tidak perlu ditutup-tutupi."

Kepingan memori dari puluhan tahun lalu berputar di otak pria tua itu layaknya sebuah film yang sedang tayang. Rasanya seperti baru kemarin, ketika ia sedang membereskan meja kerjanya sebelum ia pulang, dan gadis itu ada di ambang pintu kantornya.

"Lalu, Direktur Hu bertanya lagi. Direktur Hu memang suka bertanya, dan saya sama sekali tidak keberatan. Namun, pertanyaan kali ini membuat saya hampir tidak bisa tidak memikirkannya setiap kali saya bertemu Anda.

"Direktur Hu bertanya, 'jika waktuku sudah datang, Pak Zhongli akan masih hidup, ya?' Pada saat itu juga, saya berhenti memikirkan masalah lain. Padahal, seharusnya saya bisa menjawab pertanyaan tersebut dengan mudah. Bahkan semua orang tahu jawabannya, saya tahu jawabannya. Tapi saya memilih diam dan tak menjawab apapun.

Zhongli lalu diam dan menelan air liurnya sendiri. Netranya tidak beranjak barang sejengkal pun. Ia melanjutkan, "maka saya akan menjawabnya sekarang.

"Saya masih hidup, Direktur Hu. Dan mungkin akan terus hidup, entah sampai kapan."

Pria itu menutup kelopak matanya, lalu tersenyum tipis. "Selamat malam, Anda sudah pulang. Semoga dapat beristirahat dengan tenang."

Notes:

halo! aku minta maaf banget kalo ada salah dalam penjelasan tentang chinese funeral procession. aku bukan orang chinese dan gak familiar sama prosesinya. aku research berbekal google sama youtube aja :'))) jadi kalo ada salah, please do let me know in the comments!! i will appreciate that a lot <33

anw, thank you for reading!