Work Text:
Ke mana pun Inukai pergi, di benaknya terbayang sebuah lubang ancaman besar. Begitu besar dan menakutkan, seperti siap menelannya hidup-hidup.
Inukai sadar, di kalangan teman-temannya, dia tak lebih dari seonggok daging yang pantas untuk dirajam. Sekalipun begitu, kalau mati, Inukai tetap menginginkan tempat yang pas dan pantas untuk jasadnya. Keinginan itu memuncak ketika kadar gula dalam darahnya mencatat titik yang belum pernah tercapai. Inukai semakin sering merenung. Di waktu-waktu tertentu, kengiluan yang merebak ke seluruh tubuh Inukai membuatnya semakin yakin bahwa maut tidak lagi bisa ditampik.
Sepetak tanah di kota itu, yang penuh sesak dan berkembang begitu liar, bukanlah komoditas yang bisa menjadi impian semua orang. Kecuali bagi Inukai. Bagian depan lahan itu dia cita-citakan sebagai rumahnya di alam kubur. Setelah lahan itu dikuasai, boleh dibilang hampir setiap hari Inukai berdiri di situ. Inukai memandangi kota yang terhampar di bawah, walau alam terasa tak bersahabat dengannya. Batang kakinya kebas. Ranting-ranting pohon menatapnya dengan dingin. Sementara angin darat yang lembab berdebu mengembus seperti berbisik meledek.
Selama ini, Inukai sadar akan apa yang telah dia lakukan terhadap teman-temannya dan betapa mencemaskan kemungkinan dendam yang harus ia hadapi suatu hari nanti. Kecemasan dan ketakutan yang semakin mendesaknya ke dalam lubang maut. Dan kematian akhirnya datang meringkusnya berbarengan dengan kecemasan yang tak tertahankan. Suatu subuh, sekujur tubuh Inukai menggigil hebat. Tubuhnya mengejang dan dalam hitungan menit ia sudah kaku. Inukai mati.
Kehendak siapa sehingga rumah duka itu tetap sepi manakala jenazah Inukai sudah berjam-jam lamanya menanti pelayat? Masa lalu yang ditinggalkan oleh jasad Inukai, yang terbaring membatu di ruang tengah itu, benar-benar datang membawa dendam. Tidak ada teman lama yang datang. Para rekan sejawatnya dahulu semasa ia menjadi polisi juga tidak nampak batang hidungnya. Demikian pula orang-orang militer. Tidak satu pun. Pepatah ‘habis manis sepah dibuang’ sungguh menemukan perumpamaan pada peti mati itu. Kesepian yang mendidih. Tak ada kematian sesia-sia ini.
Ketika tengah hari tiba, peti mati itu diantarkan mobil jenazah ke areal pekuburan. Peti mati itu dibujurkan di tanah, dengan kepala jasad yang menghadap ke arah kota. Kemudian mobil jenazah yang mengantar jasad Inukai segera meninggalkan petak kematian tersebut. Sunyi siang bolong di pekuburan itu semakin menekan. Angin yang kering. Tak tercium bau air mawar. Tak ada karangan bunga. Tak terdengar ucapan bela sungkawa. Betapa bentuk kematian yang hina dialami oleh mantan penjaga lapas itu.
