Work Text:
Touya pertama kali bertemu An di sebuah kafe yang terletak di ujung jalan. Kafe yang ternyata dimiliki oleh ayah An sendiri, Shiraishi Ken. An hampir selalu ditemui sedang ikut membantu melayani para pengunjung di sana. An begitu lihai dan hangat, membuat banyak orang memuji keahliannya dalam meracik kopi dan kemampuannya melayani bermacam-macam pengunjung.
Meja di pojok kafe tersebut tetaplah menjadi tempat yang menggugah. Duduk sambil menikmati secangkir kopi—atau coklat panas untuk mereka yang kurang menyukai asupan kafein, dan hidup dengan pembicaraan yang ngalor-ngidul dan tawa berderai. Terkadang turut ditingkahi oleh alunan instrumen yang dimainkan lincah oleh beberapa kerabat Shiraishi Ken yang berbakat besar dan berketerampilan majemuk. Menjadikan meja di pojok ruang kafe itu bagai semacam suar yang punya daya tarik khusus bagi pengunjung yang lain, termasuk Touya.
Namun Touya tahu ada waktu-waktu di mana ia tidak seharusnya berada di sini. Jalan menuju rumah masih cukup jauh dan ada segunung tugas menunggu untuk diselesaikan. Ketika melihat langit mengelabu dan awan-awan kian berarak–menciptakan firasat bahwa sebentar lagi hujan akan mengguyur wilayah tersebut, Touya segera bergegas mempercepat gerak kaki menuju terminal. Walau demikian, hujan tetap turun sebelum Touya sampai pada destinasi.
An yang melihat Touya berteduh di beranda kafe segera membujuknya masuk dan mempersilakan Touya untuk menunggu di dalam. Ransel pada pundak yang semakin berat dan pening di kepala membuat segalanya bertambah buruk. Bisa saja Touya menerjang hujan, tapi ia tidak ingin mengambil resiko bahwa buku-bukunya yang kelak akan menjadi korban kehujanan. Dalam usaha mengalihkan perhatian, Touya mulai mengeluarkan buku dari dalam tasnya sambil memastikan buku-buku lain tetap aman dari rembesan air hujan.
Hujan reda beberapa saat sebelum matahari terbenam. Jingga di langit telah berlalu terganti oleh gradasi gelap. Touya sedang mempertimbangkan untuk segera beranjak ketika sebuah tepukan lembut mendarat di bahunya. Ia menengadah dan mata kecoklatan itu seketika menyapa. An tersenyum lebar. Hangat. Perempuan itu menyodorkan secangkir minuman yang masih menguapkan panas.
"Secangkir kopi untuk Touya yang sudah berjuang keras!"
