Work Text:
Kohaku memungut kerang-kerang kosong tanpa peduli bajunya basah dilebur ombak. Ia mengumpulkan beberapa yang dapat ditemukan sepanjang tepi pantai, bertelanjang kaki sementara rambut panjangnya teracak-acak oleh angin. Udara pantai selalu jadi favorit Kohaku; mungkin karena Himeru juga suka, atau mungkin Kohaku sendiri yang murni menyukai, Kohaku tidak terlalu peduli.
Memeluk kerang-kerang dengan dua tangan, Kohaku berbalik arah. Ia mulai membayangkan aksesori buatan tangan apapun dari kerang-kerang ini. Ia pikir akan bagus jika bisa membuat satu untuk Himeru.
Langkah Kohaku terhenti sejenak. Tsukasa ada di sana, berdiri tepat di bibir pantai, menatap jauh ke bentang horizon, angin memainkan ujung-ujung rambut dan langit menyiramnya dengan lelehan senja. Kohaku tersenyum, sedikit mengendap-endap untuk mengagetkan Tsukasa.
Kohaku memang tersenyum tapi tidak matanya. Kohaku tertawa tapi tidak pipinya. Kohaku berkata tidak apa-apa tapi tidak hatinya. Tsukasa mulai mengingat kapan dan bagaimana Kohaku menutupi masalah. Kohaku adalah pembohong yang baik. Tsukasa belajar hal ini berkali-kali, bagaimana senyum Kohaku menyamarkan sedih dan kalimat lembut menyembunyikan ragu. Tsukasa mulai tahu gelagat Kohaku jika ia dirundung masalah, Tsukasa mulai tahu kapan dia harus menutup mulut dan membuat Kohaku tersenyum lagi.
Mungkin ini rasanya belajar mencintai. Tsukasa membiarkan Kohaku tersenyum pada orang lain. Tsukasa membiarkan Kohaku menyambut uluran tangan Himeru. Tsukasa membiarkan Kohaku terpesona pada kemampuan Himeru. Tsukasa membiarkan tawa riang Kohaku diberikan tulus kepada Himeru. Tsukasa membiarkan Kohaku menatap Himeru lewat sorot yang tak pernah Kohaku berikan pada orang lain; sorot yang Tsukasa inginkan sedari dulu. Tsukasa membiarkan jari-jari kecil Kohaku hangat dalam genggaman Himeru. Tsukasa membiarkan Kohaku jatuh pada Himeru.
Tsukasa membiarkan dirinya menjadi idiot. Idiot yang hanya melihat dari kejauhan. Idiot yang jatuh cinta dalam diam.
