Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Series:
Part 5 of 500 kata or less
Stats:
Published:
2025-05-19
Words:
500
Chapters:
1/1
Comments:
1
Kudos:
3
Hits:
29

seperti takdir kita yang tulis

Notes:

judul fic ini diambil dari lagu seperti takdir kita yang tulis milik nadin amizah, karena fic ini ditulis sambil denger lagu tersebut :D

Work Text:

Taman istana diselimuti keheningan musim semi saat angin lembut membelai rambut pirang dua sosok yang duduk berdampingan. Ingrid menatap lurus ke depan, suaranya tenang namun penuh ketegasan saat berkata, “Putra mahkota tidak boleh ragu.”

Dimitri menunduk, pandangannya tak lepas dari bunga liar di dekat sepatunya. “Tapi manusia biasa boleh, bukan?”

Ingrid tidak menjawab. Dia tahu—Dimitri bukan sekadar manusia biasa; di pundaknya tergantung masa depan sebuah negeri. Ia merupakan sosok yang akan ditakdirkan untuk merangkai kembali dunia dari puing-puingnya.

Namun bagi Ingrid, Dimitri lebih dari itu.

Dimitri adalah masa kecilnya—teman bermain pedang kayu, tempatnya menjerit karena takut petir, dan orang pertama yang mengatakan bahwa keberanian tidak harus terlihat garang.

Dimitri adalah masa kininya—bukan dalam arti sederhana sebagai seseorang yang ada di hadapannya saat ini, tapi sebagai sosok yang mewujudkan semua luka, harapan, dan ketakutan yang ia tanggung setiap hari. Di setiap langkah Ingrid, ada bayangan Dimitri yang berjalan di sampingnya: bukan sebagai pangeran yang gagah atau pahlawan dalam balada, melainkan sebagai manusia yang hancur, yang mencoba menyatukan dirinya sendiri dari pecahan yang nyaris tak bisa dikenali. Luka yang tak pernah kering dan senyum yang lebih sering pecah oleh rasa bersalah daripada kebahagiaan.

Dan Ingrid tahu… bahwa Dimitri adalah masa depannya. Kehadiran Dimitri membuat segala hal terasa mungkin. Ia satu-satunya orang yang mampu membuat Ingrid tetap bertahan dalam medan perang maupun dalam sunyi malam. Ia adalah alasan Ingrid terus melangkah maju—tak hanya sebagai kesatria, tapi sebagai seseorang yang masih ingin mencintai dan dicintai.

Tapi Ingrid pun tahu, Dimitri tak pernah benar-benar bisa mengatakan hal yang seharusnya diucapkan.

“Aku menyayangimu.”

“Aku takut kehilanganmu.”

“Jangan tinggalkan aku.”

Kata-kata itu tidak pernah keluar dari mulut Dimitri. Hanya isyarat yang samar, tatapan panjang, dan tangan yang gemetar ketika Dimitri menggenggam tangannya setelah pertempuran.

Ingrid sudah terbiasa dengan diamnya.

Namun malam itu berbeda.

Setelah pertempuran terakhir, ketika tanah Kingdom masih berlumur darah dan langit akhirnya menunjukkan bintang, Dimitri berdiri di balkon kastel, tubuhnya dibalut jubah kerajaan, tapi matanya masih menyimpan luka seorang anak kecil yang kehilangan segalanya.

Ingrid datang tanpa suara, berdiri di sisinya. Hening bagai menggantung di antara mereka. Waktu seakan melambat, sampai akhirnya Dimitri memecah kesunyian dengan suaranya yang pelan.

“Ingrid… Kau tak pernah pergi walau aku sudah berkali-kali runtuh." Dimitri menunduk sejenak, seolah merapikan kembali kepedihan di balik kalimatnya. Suaranya nyaris berbisik, "Kau selalu ada... bersamaku."

Itu bukan pernyataan cinta. Bukan pula permintaan untuk tetap tinggal. Tapi bagi Ingrid, itu cukup.

Karena mungkin, bagi seseorang yang hatinya dipenuhi luka dan trauma seperti Dimitri, mencintai bukan soal kata, tapi tentang bertahan. Tentang tetap melanjutkan hidup untuk melihat wajah orang yang sama, setiap hari.

Dimitri tak perlu mengungkapkannya dengan benar. Karena Ingrid sudah tahu.

Ingrid adalah bagian dari masa lalu Dimitri—yang ikut menangis saat Faerghus runtuh.

Ingrid adalah bagian dari masa kini Dimitri—yang berdiri di sisinya saat ia hampir hancur dan nyaris tenggelam dalam kegelapan.

Dan kelak Ingrid akan menjadi bagian dari masa depan Dimitri—selama sang raja masih mau menggenggam pedang dan menatap dunia bersama—di suatu hari nanti.

Series this work belongs to: