Chapter Text
Cecil pertama mengenal Richard dari latihan dasar kepemimpinan. Richard berakhir sebagai Ketua MPK dan Cecil berakhir sebagai Sekretaris OSIS. Secara visi misi organisasi, keduanya berarti berada di kubu yang berbeda, tapi pada kenyataannya, mereka tetap saja bertemu di berbagai kepanitiaan.
Buat Cecil, Richard adalah seorang otoriter yang memimpin organisasinya dengan muka dingin. Dari yang Cecil lihat, Richard adalah orang yang sulit menerima sanggahan, seperti yang tampak di rapat evaluasi lalu. Kalau mau jujur, Cecil paling tidak suka dengan orang yang semacam ini, yang tidak dapat menghargai opini sesamanya. Cecil tidak bertanggung jawab pada Richard, tetapi pada Jo. Lain halnya dengan Richard, Jo menangani urusan organisasi dengan pikiran terbuka dan sikap yang mengayomi. Cecil mensyukuri hal ini dan berusaha abai akan komentar-komentar pedas sang pimpinan MPK pada OSIS secara keseluruhan di rapat evaluasi, terlebih pada Jo sang ketua.
Pada tahun ketiganya di SMP, Richard ternyata satu kelas dengan Cecil, begitu juga dengan Jo, padahal selama dua tahun, Cecil tidak pernah sekelas dengan mereka. Ini juga adalah tahun ketiga Jo dan Richard ada di kelas yang sama.
Seperti yang Cecil duga, posisi ketua kelas antara jatuh pada Richard atau pada Jo. Yang terjadi adalah yang pertama dan (sialnya) Cecil kembali memegang posisi sekretaris. Jo tidak menjabat apapun dan hanya menepuk-tepuk pundak Richard yang bermuka masam sehabis terpilih.
"Chard, muka lo jelek amat. Seneng dikit, dong!"
"Berisik. Kerjaan gue jadi dobel kan," gerutu Richard iritasi sambil menyingkirkan rangkulan Jo di pundaknya. Lengan Jo, si kapten tim basket inti sekolah, tetap kokoh di tempat, sebagaimana saat di lapangan lawan untuk memperebutkan gelar juara.
Cecil memerhatikan semua dari kejauhan, dengan ekspresi datar dan mungkin sedikit kesal. Yang pekerjaannya menjadi dua kali lipat bukan hanya Richard. Pengurus kelas sembilan berarti harus mengurus pula kaus kelas dan tetek bengek lain untuk acara wisata tahunan ke Malang dan Surabaya. Mengurus proposal untuk persiapan Cup sekolah saja sudah membuat nilainya terancam terombang-ambing, apalagi ini.
Di tengah kebosanannya, Cecil memandang Jo dan Richard yang masih berbincang (meski satu arah dan tampak berat sebelah ke arah Jo). Jo masih konsisten dengan anggota gerak atasnya di badan Richard, dan Richard masih konsisten dengan bahasa tubuhnya yang meneriakkan ketidaksukaan.
Cecil tidak mengerti apa yang mereka bicarakan karena jarak papan tulis dan pojok kelas terpaut begitu jauh serta kelas yang terlalu ribut, tetapi sepertinya Richard habis mengatakan sesuatu yang lucu, sebab sekarang Jo tengah terpingkal-pingkal sambil memegangi perutnya. Pandangan Cecil bergulir ke arah wajah Richard, dan menemukan segaris senyum kecil di wajah yang biasanya keras itu.
Cecil tertegun, kemudian berkedip.
Senyum itu sudah hilang, tapi Cecil yakin seyakin-yakinnya pada kacamata barunya yang sudah diganti ukuran.
Richard tersenyum, terlebih-lebih, karena Jo yang selalu ia galaki saat bercengkerama, yang ia sarkastiki saat rapat antarorganisasi, dan yang ia sindir saat Jo mengeluhkan latihan basketnya yang membuat ia terlambat datang rapat.
Cecil berpikir, sejenak, bahwa mungkin satu tahun ke depan akan jadi tahun yang lumayan menyenangkan.
.
(bersambung)
