Work Text:
Kata orang jatuh cinta itu indah, tapi bagi Riki, cinta itu memecahkan kepala, saking membingungkannya. Di umur yang tanggung begini, konon katanya bakal ada banyak pilihan yang nantinya disesali. Apalagi urusan hati.
Tapi mau dilihat bagaimanapun, disangkal dengan alasan apapun, memang benar kata orang, cinta memang indah. Seindah senyuman yang Riki lihat waktu itu. Awalnya memang sedikit menyebalkan, melihat manusia yang bertingkah seperti tidak punya masalah, menempelkan diri ke semua orang, cari perhatian.
Sampai genggaman tangannya Riki rasakan sendiri, cukup hangat ya, mungkin ini kenapa orang-orang nyaman. Bisikan semangat di telinga kanan dari orang-orang sudah biasa ia dapatkan, tapi kali ini bukannya keluar dari telinga kiri kenapa justru masuk ke hati?
Ambisi selalu nomor satu, kalah tidak pernah menjadi pengalaman yang menyenangkan, tapi hari itu rasanya aneh. Pertama kalinya Riki merasakan sakit yang sedikit lebih sengit dari biasa. Apa ini efek ambisinya yang semakin besar, atau karena melihat tangis pemuda di sampingnya di hari ulang tahunnya sendiri, di bawah payung yang mereka genggam bersama?
Di umur yang bahkan belum mencapai setengah dari 30 tahun saat itu, berada jauh dari rumah ternyata lebih sulit dari perkiraannya. Tapi apa kata mama ya, kalau di tengah perjalanan ternyata Riki menemukan rumah kecil yang hangat dengan dekapan yang nyaman, menjadi pengantar tidurnya saat hujan terdengar lebih deras dari biasanya. Dekapan yang lama-lama membuatnya terbiasa.
Air bening jatuh, meluncur di pipi, sedikit melunturkan riasan yg dipakainya sejak tadi pagi, mendengar namanya dipanggil di panggung sebagai penutup dari perjuangan terakhir Riki menuju mimpinya, dia menang. Tapi mengapa ya? ada bagian yang tetap hampa bahkan ketika kakinya sudah berdiri di podium tinggi, wajahnya disinari cahaya menyilaukan hari, dan semua kamera terarah ke diri. Mungkinkah hanya karena ada nama lain yang ia ingin dengar saat itu juga? Sekedar jaminan bahwa nanti ada yang bisa mendekapnya di malam hari, atau mungkin lebih dari itu?
Ternyata tuhan cukup baik, harapan yang mereka berdua ucapkan bersama di gelap malam waktu itu terpenuhi, seiring tangisan yang lebih tua, berjalan dengan bibir mengerucut menuju podium setelah menyampaikan pesannya sebagai anggota terakhir, sebagai pelengkap sempurna mimpi Riki.
Setiap memutar memori ini, rasanya selalu sendu bagi Riki. Andai kata sejak saat itu tidak ada yang berubah. Andai egonya tidak terlalu tinggi. Andai saja Riki sedikit lebih berani. Dan andai Sunoo tidak baik-baik saja. Bagi Riki, ini semua tidak adil, kenapa semua rasa ini ada? Disaat dia selalu bergantung pada Sunoo, kenapa Sunoo bisa begitu lepas berkelana?
Dalam hati juga Riki tau, apa sebenarnya yang ia rasakan. Cuma rasanya sakit, mengakui bahwa sosok yang membuat hatinya jatuh terlihat tidak menaruh perasaan yang sama. Rasanya nyeri melihat Sunoo tertawa kencang mendengar cerita Jay yang kemungkinan sudah dia dengar belasan kali. Atau saat melihat Sunoo memakai cincin pemberian Heeseung. Dan mungkin lebih konyol lagi, saat ia tak sengaja melihat kompilasi video Sunoo dengan anggota lain lewat di beranda YouTubenya.
Dan Riki sadar, ternyata orang orang terlalu mengagungkan perkataan bahwa cinta itu indah. Sampai lupa, kala indahnya hanya dirasakan satu insan, yang datang selanjutnya hanyalah kecewa. Cukup hampa sebenarnya, bangun di saat semua orang sudah melakukan aktivitas, melihat ke samping dan sosok yang biasanya hadir sudah tidak di tempatnya.
Butuh cukup lama bagi Riki untuk membiasakan diri, kadang ia mencoba melakukan hal yang sama pada yang lain. Tapi kenapa berbeda? Apa karena yang biasanya dipeluk sedikit lebih mungil? Atau karena pipinya lebih empuk? Bahkan disaat bersama Jungwon yang notabene sama kecilnya pun, kenapa tetap berbeda? Ah, mungkin karena bahu Jungwon sedikit lebih lebar, segala alasan ia kumpulkan, mencoba menyingkirkan rasa.
Tapi memang, waktu adalah obat paling ampuh bagi patah hati. Hari hari berlalu, akhirnya Riki sadar, bukan rasa sakitnya yang pudar, tapi Ia yang sedikit demi sedikit tumbuh. Seiring bertambahnya umur dan tinggi badan, ternyata kapasitas hati Riki juga bertambah.
Riki sadar, tingkat jatuh cinta yang paling tinggi itu bukan saat kita bersama orang yang kita cintai, melainkan saat kita merelakan mereka mengejar kebahagiaannya.
