Work Text:
Read Pondok Kayu here.
Untuk obat dalam sepiku,
Park Jimin
Kau tidak pernah benar-benar datang. Berkali-kali kukatakan pada hatiku yang terus gelisah, kau cuma singgah. Kau selalu punya rumah. Rumah yang bukan aku.
PARK Jimin yang memasak adalah pemandangan asing. Jeongguk tidak mengerti kenapa punggung kecil yang sedang membelakanginya sekarang terlihat akrab. Seperti bukan pertama kali. Padahal ia tahu dengan jelas bahwa Jimin tidak pernah memasak; setidaknya sewaktu mereka bersama.
Sesekali, Jimin akan bersenandung. Jeongguk tidak begitu kenal lagu-lagu yang lelaki itu senandungkan. Ia hanya tahu Keep Me In Your Heart dari Warren Zevon, yang kerap kali Jimin nyanyikan di waktu-waktu yang acak. Mungkin ini alasan kenapa Yoongi terus-terusan protes pada Jeongguk dan bilang bahwa dia mendengarkan terlalu sedikit lagu. Jeongguk tidak begitu memahami maksud pernyataan Yoongi saat itu, tetapi ia mengerti sekarang. Di dalam kepalanya, Jeongguk hampir bisa melihat Yoongi tertawa ke arahnya sambil berkata; “Sudah kubilang, ‘kan!” .
Pagi itu, Jeongguk bangun dengan setumpuk rasa heran. Seperti asing, namun akrab di waktu yang sama. Hidupnya terasa janggal, tetapi Jeongguk tidak bisa temukan alasan mengapa. Ia hanya merasa hari-harinya berjalan asing bagi dirinya sendiri. Mungkin karena ada Park Jimin di sini; laki-laki yang padanya Jeongguk tumpahkan rasa sakit dan kehilangannya. Laki-laki yang menemani Jeongguk menghadapi setan-setan dalam kepalanya sendiri. Laki-laki yang sedang memasak itu, yang sekarang sudah berbalik dan menyapa Jeongguk dengan ucapan selamat pagi.
“Aku masak telur dadar dan menumis bayam. Semoga tidak keasinan dan kamu tidak keberatan.” Jimin meletakkan dua piring berisi telur dadar di atas meja sambil berkata. Bentuk telur dadarnya sangat biasa, tidak bisa dibandingkan dengan telur gulung yang saban hari Jeongguk cicipi sebab Yoongi suka memasak untuk mereka berdua. Tetapi telur dadar yang sangat tidak istimewa ini berhasil membuat hati Jeongguk terenyuh.
Derit kursi terdengar sewaktu Jeongguk menarik salah satu dari empat buah keluar dari bawah meja. “Kalau kamu masih mau makan yang lain, masak sendiri. Hanya segini yang aku bisa,” Jimin berujar lagi, menyadari bahwa Jeongguk tidak berkata apa-apa.
“Aku bahkan tidak pernah berharap kamu akan pernah memasak.”
Jimin mendengus, lantas tertawa setelahnya. “Kamu menyebalkan.”
Jeongguk ikut tertawa. Aneh, pikirnya. Rasa akrab ini masih saja aneh tidak peduli berapa lama waktu berlalu. Jeongguk tidak tahu harus bagaimana menjelaskan keakraban ini—keintiman yang belum pernah ia rasakan datang bersama orang lain selain Jimin— dan Yoongi . “Aku sudah tahu itu sejak lama,” timpalnya, mengusir pergi pikiran-pikiran sialannya. Ia tidak mau terlalu banyak berpikir.
Barangkali sarapan dengan Jimin akan membantu.
∞
JEON Jungkook adalah paket lengkap manusia yang Jimin damba. Jimin tidak mau berbohong dengan bilang kalau Jeongguk tidak cukup hebat untuk disebut luar biasa. Laki-laki itu bisa melakukan nyaris semuanya (dan sewaktu Jimin bilang semuanya, itu berarti benar-benar semuanya ). Jeongguk bisa menjadi montir, barista, bapak rumah tangga, filsuf, koki, musisi, atlet … bahkan pengrajin kayu dan tukang bangunan. Nyaris segala hal Jeongguk lakukan seorang diri, dan bagi Jimin yang tidak pernah merasa mandiri, Jeongguk selalu terlihat nyaris sempurna .
“Bagaimana caranya kamu mencuci sampai bisa sewangi ini, sih?”
Tumpukan pakaian kering menggunung di atas karpet, tepat di sebelah Jimin. Jeongguk duduk di atas sofa, membaca buku yang entah apa isinya. Laki-laki yang lebih tua dari Jimin itu sedikit terkekeh tanpa melirik sama sekali. Ini sudah pertanyaan yang ke tiga sepanjang mereka (nyaris bisa dianggap) tinggal bersama, dan Jeongguk tidak pernah memberi jawaban yang Jimin minta.
“Kamu menyebalkan,” cetus Jimin dengan bibir sedikit maju.
Hanya berjarak satu lengan, Jeongguk melipat buku lantas memberi kecupan ringan di puncak kepala Jimin. Sebuah gestur yang selalu ia berikan setiap kali Jimin terlihat sedikit jengkel. Gestur yang ampuh, sebab Jimin tidak pernah berhasil menahan senyuman setiap kali Jeongguk berubah menjadi sedikit manis.
“Tidak perlu tanya-tanya terus. Selama bersamaku, kamu tidak akan pernah mencuci baju,” kata Jeongguk, mengusap leher Jimin penuh afeksi. “Pekerjaan kamu adalah melipat baju.”
“Kita berbagi tugas?” tanya Jimin retorik.
Jeongguk tersenyum. “Kita berbagi tugas.”
Maka Jimin mengangkat wajah, dan menyambar bibir Jeongguk membawanya dalam ciuman singkat. Bibir Jeongguk sedikit masam, dengan rasa pahit yang samar dan cepat hilang. Rasa yang datang dari kopi Plaga yang Jeongguk beli minggu lalu dan belum habis sampai kini. Jimin mulai terbiasa pada masam kopi yang kerap tertinggal di bibir Jeongguk setiap kali mereka berciuman. Rasa yang lama-lama familier itu membuatnya merasa ganjil. Seolah rasa masam kopi di bibir Jeongguk diciptakan untuk ia kecap, dan Jimin menyukai itu.
“Kamu benar-benar membuat aku gila,” kata Jimin, di jeda antara ciuman mereka yang dipakainya untuk menarik napas.
Jeongguk tersenyum miring, berkata, “Senang mendengar kalau aku tidak jadi gila seorang diri,” sebelum kembali memagut bibir Jimin untuk waktu yang lebih lama.
∞
SATU lagi pagi datang bersama keakraban itu. Jeongguk tidak lagi pusing memikirkan dari mana datangnya atau kenapa perasaan itu bisa datang padanya. Lepas menghabiskan sepuluh menit untuk memastikan bahwa ia benar-benar sudah terbangun, Jeongguk merangkak turun dari ranjang. Jimin masih tidur dengan lelap di sampingnya, dalam balutan pakaiannya, dengan napas yang berembus halus secara teratur.
Jeongguk harus mencuci pakaian hari ini, membuka kembali kedai yang sudah dua hari tutup, dan menunggu Jimin bangun sambil memasak sarapan. Di dalam kepalanya selagi ia menggosok gigi, Jeongguk menyusun agenda harian. Menyelipkan rencana mencium Jimin di sana-sini atas dasar ingin , sebelum sadar bahwa ia sudah menyelipkan terlalu banyak rencana mencium Jimin dalam satu hari. Lelaki itu tertawa di depan cermin, dalam keadaan mulut penuh busa pasta gigi, berpikir bahwa ia mulai terdengar konyol bahkan bagi dirinya sendiri.
“Sudah bangun?” Suara serak Jimin menghentikan Jeongguk dari kegiatannya memakai kaos kaki. “ Jogging lagi?”
Jeongguk menggumam pendek sebagai jawaban. “Tidurlah lagi,” kata Jeongguk sebelum membubuhi ciuman singkat di pelipis Jimin yang masih terpejam.
“Bangunkan aku sewaktu kamu pulang.”
“Hmm.”
“Cium di sini.” Jimin menunjuk bibirnya sendiri.
Jeongguk terkekeh. “Kamu selalu banyak meminta.”
“Salahkan diri kamu sendiri karena selalu memberi.”
Jimin dan lidahnya yang pandai bersilat. Jeongguk tertawa, lantas memberinya kecupan di seluruh wajah membuat Jimin ikut tertawa bersamanya.
∞
ORANG-ORANG di desa berhenti mencoba mencari tahu hubungan Jimin dan Jeongguk sewaktu mereka berjalan ke toko kelontong sambil berpegangan tangan. Waktu itu Jimin bersikukuh kalau tangannya dingin, dan Jeongguk yang menyodorkan kantong pemanas dengan wajah datar sama sekali tidak membantu. Jeongguk bukannya tidak tahu kalau Jimin minta digenggam, tetapi ia berpikir bahwa pergi ke luar dengan tangan saling bertaut bukanlah keputusan yang bijak.
“Persetan apa kata orang,” kata Jimin setelah Jeongguk mengutarakan alasan. “Pertanyaannya sekarang, apa kamu mau pegang tanganku?”
Jeongguk tidak tahu harus menjawab apa. Terlihat jelas dari raut wajahnya yang bingung dan tampak terbebani. Jadi Jimin putuskan meraih jemari laki-laki yang penuh rasa takut itu, untuk kemudian menariknya ke luar dengan senyum lebar. Jimin ingat bagaimana telapak tangan Jeongguk terasa basah dalam genggamannya; pertanda bahwa laki-laki itu sedang gugup. Ia ingat dirinya menggenggam tangan Jeongguk lebih erat, sambil sesekali menoleh padanya untuk berkata bahwa segalanya akan baik-baik saja. Meskipun tidak begitu.
Jimin tahu apa yang Jeongguk takutkan, sebab ia pernah punya ketakutan yang sama. Tetapi sudah lama sekali sejak Jimin memutuskan untuk berhenti peduli pada orang-orang dan apa yang mereka pikirkan. “Jangan takut,” kata Jimin sewaktu mereka berhenti di depan pintu toko kelontong. “Kalau kamu mengangkat wajah, kamu akan tahu kalau sebenarnya tidak ada yang perlu ditakutkan. Ada aku di sini.”
Seisi desa sempat berisik oleh bisik-bisik setelah hari itu, dan Jeongguk menutup Pondok Kayu selama tiga hari. Tidak satu kali pun Jimin pulang ke rumah selagi Jeongguk tidak membuka kedai. Mereka menghabiskan waktu menonton serial TV, membaca komik, menyangrai kopi, memasak, mengobrol, dan bermain gitar sambil bernyanyi untuk membunuh sepi. Hanya ada Jimin dan Jeongguk, dan dunia yang mereka bangun berdua.
“Aku seperti hidup di dunia lain sewaktu bersama kamu,” kata Jimin setelah Jeongguk selesai menyanyikan Take Me to Church dari Hozier. “ It’s like the world has been filled with just the two of us .”
“Kamu memang tempat lari paling sempurna,” timpal Jeongguk. Jarinya dengan lihai mulai memetik senar gitar.
“Seharusnya kamu bertanggung jawab, Jeon Jeongguk- ssi . Kamu membuatku kesulitan membedakan mana rumah dan mana tempat singgah.”
Jeongguk tertawa. “Aku harap kamu bisa terus lupa.”
Jimin melempar bantal, yang berhasil Jeongguk hindari dengan lihai. Wajahnya matang oleh rasa malu dan jantungnya berdebar kencang sekali. Berulang kali Jimin katakan pada dirinya sendiri bahwa tenggelam adalah hal yang lazim terjadi sewaktu ia memutuskan untuk berenang tanpa pelampung. Bahwa terpesona pada Jeongguk bukan hal yang bisa ia hindari, dan Jimin sama sekali tidak keberatan untuk jatuh lebih dalam lagi.
∞
“JANGAN menyemprot ke arah sini, Jimin!”
Jimin tertawa. Tubuhnya sendiri sudah basah nyaris sepenuhnya, tidak jauh berbeda dengan pickup truck milik Jeongguk yang sedang mereka cuci bersama. Toyota Tacoma keluaran tahun 2015 itu sudah selesai digosok, tetapi lelaki yang bertugas membilas bagian luarnya malah sibuk membuat Jeongguk basah. Cengiran di wajah Jimin terlihat segar, seolah malam panas mereka gagal membuatnya kepayahan. Kemeja putih kebesaran milik Jeongguk yang dicurinya dari lemari lagi dan lagi mulai terlihat transparan, sukses memperlihatkan kulit kecokelatannya yang tampak seksi.
“Tahu begini lebih baik kamu mencuci sendiri saja,” kata Jeongguk. Tidak ada kejengkelan dalam suaranya. “Lihat itu? Baju kamu bahkan tidak lagi punya fungsi.”
“Kalau kamu basah kuyup, aku akan cium kamu sebanyak yang kamu mau.”
“Kamu selalu cium aku sebanyak yang aku mau,” balas Jeongguk, terdengar tidak tertarik. Laki-laki yang beberapa senti lebih tinggi itu melangkah mendekat pada Jimin, lantas merebut selang air yang dipegangnya dalam satu kali percobaan. “Tapi kalau kamu mau bermain dulu, aku ladeni,” kata Jeongguk, sebelum menyemprot tubuhnya sendiri dengan selang air.
Jimin tersenyum lebar.
“Nah, sekarang …. ” Jeongguk menarik pinggang Jimin mendekat. Napasnya meniup titik-titik air di wajah Jimin, membuatnya kegelian. “Mana ciuman buatku?”
∞
“IYA , nanti aku tanya dulu.” Jimin menggumam. Tangannya sibuk memainkan jemari Jeongguk, memilin-milinnya sebelum menariknya tanpa tenaga. “Iya, Ayah. Kalau dia mau, ya.”
The Witcher terputar di layar televisi, menyedot separuh fokus Jeongguk. Setengahnya lagi dicurahkan untuk Jimin dan permainan jarinya di atas jemari Jeongguk. Laki-laki itu sibuk mengobrol dengan ayahnya di sambungan telepon. Membicarakan perkara yang Jeongguk sudah hafal di luar kepala; kepulangannya.
Jimin menutup ponsel setelah sambungan terputus, lantas menghela napas cukup keras. Jeongguk bukannya tidak tahu berapa banyak Tuan Park meminta Jimin pulang; sekalipun lelaki itu berkali-kali menolak. Jeongguk juga bukannya tidak sadar bahwa Tuan Park ingin ia ikut serta dan berkenalan secara resmi. Jimin bersikeras bahwa ia dan Jeongguk tidak dalam fase hubungan semacam itu , tetapi ayahnya tidak kenal kata menyerah.
Bukannya Jeongguk pernah menolak atau tidak setuju, tetapi seperti yang Jimin katakan, posisinya di sini sedikit ambigu. Dirinya dan Jimin hanya dua orang yang kebetulan bertemu, lalu kebetulan mencoba mengisi rasa kesepian satu sama lain. Hanya saja, cobaan datang sewaktu mereka berdua diharuskan menjelaskan keadaan.
"Lagi?" Jeongguk bertanya. Ia raup jemari Jimin dalam sebuah tautan erat, membiarkan keringat di telapak tangan mereka saling menempel.
Jimin mengangguk.
"Aku tidak keberatan, kok, Jimin. Kita bisa pulang ke Seoul kalau Ayah kamu terus memaksa."
"Aku hanya tidak mau kamu repot. Lagi pula, Seoul bukan tempat favorit kita berdua sekarang." Suara Jimin terdengar frustrasi. "Kamu harus, setidaknya , menutup kedai selama beberapa hari."
Jeongguk terkekeh. "Sejak bertemu kamu, aku tidak pernah keberatan menutup kedai. Kamu sudah berkali-kali memaksaku menutup kedai karena terus merengek, bilang kalauㅡ"
"Jeongguk!" Jimin berseru.
Jeongguk tertawa lebih keras lagi. “Baik, baik. Jangan merajuk begitu, Jimin,” bujuknya halus. “Intinya, aku tidak keberatan menemani kamu pulang ke Seoul. Kedai atau perkara yang lain, jelas mereka tidak lebih penting dari kamu.”
Pipi Jimin bersemu sampai telinga. Jeongguk perlu mengingatkan dirinya sendiri untuk tidak menggigit bagian belakang telinga laki-laki itu lantaran gemas.
∞
Pada suatu waktu yang tak bisa kuduga kapan, kelak kau akan pulang. Lalu pada saat itu barangkali aku akan pergi. Ke semua tempat akan kuseret kakiku agar mereka bisa kuat berjalan sendiri.
HARUS Jimin akui bahwa ada kekosongan dalam hatinya sewaktu ia lihat kursi itu kembali terisi. Kursi yang ditinggalkan Taehyung, yang kini diduduki Jeongguk. Jeongguk dan kursi di seberang kursi ayahnya itu adalah perpaduan yang aneh, dan Jimin tidak terbiasa menghadapi keanehan. Kecuali fakta bahwa ia dan Jeongguk adalah fenomena aneh itu sendiri; orang asing yang menemukan kedamaian pada satu sama lain.
“Aku suka sekali kopi. Berkali-kali kuminta Jimin menemaniku minum kopi, tetapi dia bersikeras lebih suka cokelat panas. Tidak kusangka, Jimin malah menemani kamu minum kopi lebih dulu dari aku, Jeongguk.”
Jeongguk tertawa. Tawanya terdengar renyah, melebur bersama kekehan dari ayah Jimin. Kedua orang itu terlihat seperti sepasang sahabat lama yang kembali bertemu setelah bertahun-tahun. Ayahnya tidak pandai membuka diri, tetapi di hadapan Jeongguk ia berubah menjadi laki-laki yang tidak Jimin kenali.
Barangkali begitulah sihir Jeongguk bekerja. Pada Jimin dan orang-orang yang dikenalnya. Laki-laki itu seperti suaka bagi segala sesuatu yang hilang. Jimin, misalnya. Juga ayah dan ibunya yang sama-sama kehilangan Taehyung. Jimin tahu bahwa ia tidak seharusnya memandang Jeongguk sebagai sebuah pengganti; tapi begitulah mereka sepakat memandang satu sama lain. Di hadapan Jimin, Jeongguk selalu adalah bayangan Taehyung. Dan di mata Jeongguk, Yoongi selalu berada dua langkah lebih dulu dari Jimin.
“Paman bisa datang kapan saja. Nanti aku buatkan kopi khusus. Pondok Kayu selalu terbuka untuk Paman dan Bibi,” kata Jeongguk, bermulut manis.
“Kenapa dinamai Pondok Kayu, Jeongguk?” ibu bertanya penasaran. Tangannya dengan lihai menyendok japchae untuk ia letakkan di mangkuk Jeongguk yang dua pertiga kosong.
Jeongguk memandang japchae di mangkuknya dengan tatapan teduh. Seolah ia melihat lebih dari setumpuk nasi dan japchae . Jimin ingin tahu pada apa Jeongguk melihat, tetapi ia tahu bukan tempatnya untuk bertanya.
“Sewaktu sekolah dulu, temanku bilang dia pernah kehujanan,” Jeongguk membuka. Bibirnya mengulas senyuman tipis yang entah kenapa terlihat getir. “Keluarganya bukan orang-orang terbaik di dunia, dan dia pernah keluar dari rumah setelah dipukuli berkali-kali. Dia berlari dan akhirnya berteduh di bawah sebuah gazebo kayu. Dia duduk di gazebo kayu itu bahkan setelah hujan berhenti, dan tidak ada yang mengganggunya karena semua orang sibuk buru-buru pulang. Dia berkata gazebo itu terasa seperti tempat berlindung baginya.”
Jimin mengepalkan tangan. Tahu betul siapa teman yang Jeongguk maksud. Barangkali sewaktu memandang pada japchae itu, Jeongguk mengingat Yoongi. Mungkin saja Jeongguk mengingat Yoongi setiap saat, setiap waktu. Bersama setiap hela napas dan kedipan mata. Jimin kerap merasa iri pada laki-laki bernama Min Yoongi yang belum pernah ia temui itu. Pada bagaimana Jeongguk mencintai laki-laki itu begitu dalam sampai kepayahan sendiri. Pada bagaimana keberadaannya memberi dampak yang begitu besar bagi orang lain; bagi orang yang mencintainya.
Bagi Jeongguk.
“Aku memakai Pondok Kayu dan menganggapnya sebagai memoar untuk temanku itu.”
Ibu Jimin meraih tangan kiri Jeongguk, menggenggamnya erat berharap bisa mengurangi duka yang mengental di wajah itu. Andai saja Jimin bisa berkata bahwa tidak ada yang bisa ibu ( maupun dirinya ) lakukan. Sebab boleh saja luka Jeongguk sudah sembuh, tetapi rasa sakitnya tidak akan pernah hilang.
“Temanmu adalah orang yang beruntung sebab dia punya kamu, Jeongguk. Aku turut berduka,” kata ayah Jimin, terlihat dipenuhi rasa bersalah.
Jeongguk tersenyum tipis. “Aku juga berharap begitu,” sahutnya.
∞
JIMIN barangkali tidak akan pernah mengerti kehilangan macam apa yang Jeongguk rasakan. Dirinya menghabiskan banyak sekali waktu menangisi kepergian Taehyung. Tetapi bagi Jeongguk, bahkan menyesal saja tidak akan cukup. Untuk hidup saja mungkin rasanya tidak adil. Jeongguk tidak pernah benar-benar bicara soal Yoongi. Berbeda dengan Jimin yang kerap menyebut Taehyung di sana-sini. Dalam hubungan mereka berdua, Jeongguk menjadi pihak yang menyimpan lebih banyak rahasia.
Untuk bertanya soal Yoongi, Jimin selalu merasa bahwa ia tidak berhak. Bahwa sosok macam apa pun yang lelaki itu refleksikan lewat dirinya bukanlah masalah. Jimin seharusnya menutup mata dan menerima, seperti bagaimana Jeongguk menerimanya tanpa pernah bertanya mengapa. Tetapi malam ini, Jimin ingin tahu. Malam ini Jeon Jeongguk secara resmi masuk dalam hidupnya dan keluarganya, dan Jimin ingin tahu lebih dari yang lelaki itu pernah bagi dengannya.
“Kalau kamu bisa gambarkan, berapa besar cinta kamu buat Yoongi?”
Jimin iri pada laki-laki bernama Min Yoongi itu. Sebab bahkan setelah ia tidak lagi hidup di dunia, ada orang yang dengan sukarela mengenangnya sepanjang usia. Cinta yang Jeongguk miliki untuk Yoongi adalah perasaan yang mengalahkan segala jenis batas. Jimin ingin memiliki cinta semacam itu untuk dirinya sendiri. Jadi sewaktu ia dihadapkan pada begitu banyak pertanyaan, Jimin ingin Jeongguk mengukur cintanya sendiri. Pertanyaan yang bodoh, Jimin tahu.
Jeongguk tidur telentang di samping Jimin, sembunyi di bawah selimut yang sama. Matanya yang selalu menatap Jimin dengan hangat memandang pada langit-langit yang berwarna abu-abu. Napasnya berembus teratur, dan harum kopi bercampur mint yang kerap keluar darinya menyapa hidung Jimin.
“Menurut kamu, alam semesta ini punya batas, tidak?” Alih-alih menjawab, Jeongguk justru melayangkan pertanyaan baru.
Jimin mendengus, tidak suka ditanya balik, tetapi tetap menjawab. “Tidak punya. Manusia ‘kan masih belum bisa menemukan ujung alam semesta, Jeongguk.”
“Nah, begitu perasaanku pada Yoongi.”
Seharusnya Jimin sudah tahu jawaban macam apa yang akan Jeongguk layangkan. Laki-laki itu menoleh, menatap Jimin dengan tatapan teduh, lantas menariknya dalam pelukan. Untuk sepersekian waktu yang singkat, Jimin berpikir bahwa tidak peduli seberapa dalam dia menyelam, Jimin tidak akan pernah berhasil menggali emosi di kedua mata Jeongguk.
“Aku belum pernah berada pada keadaan di mana aku tidak mencintai Yoongi, jadi aku tidak tahu. Aku bahkan masih mencintainya sampai sekarang.”
Jimin bukannya tidak pernah merasa kehilangan, tetapi ada hal-hal yang tidak bisa Jimin pahami dari kehilangan yang Jeongguk rasakan. Jadi di bawah selimut, Jimin mendekat. Tangannya memeluk tubuh Jeongguk sambil pelan-pelan merapatkan diri, berharap kehadirannya bisa memberi Jeongguk apa pun yang laki-laki itu butuhkan meski hanya sedikit.
∞
GUCI abu-abu dengan ukiran nama Min Yoongi masih seperti terakhir kali Jeongguk mengingat. Sewaktu ia pertama kali melihat guci itu, Jeongguk ingat emosi apa yang mendera hatinya. Rasa sakit yang tidak bisa dijabarkan kata-kata. Kekosongan yang tidak berdasar, dan sesal yang terus menumpuk tinggi. Jeongguk tidak tahu apakah ia memang pandai mengingat segala sesuatu, tapi rasa sakit yang datang dari kepergian Yoongi selalu terasa baru.
Ada satu buket bunga mawar kecil yang sudah layu terletak di samping guci abu milik Yoongi. Kelopaknya sudah berjatuhan memenuhi ruang, dan bunga-bunga itu mungkin saja sudah tidak lagi harum. Mungkin buket itu berasal dari Hoseok, atau Namjoon. Atau mereka berdua. Atau dari keluarga Yoongi yang pernah mengusirnya dengan keji tetapi menangis meraung-raung sewaktu pemakamannya berlangsung. Ada perasaan senang yang ganjil sewaktu Jeongguk sadar bahwa dia bukan jadi satu-satunya orang yang mengenang Yoongi.
“Hai, Sayang.” Jeongguk menyapa, yang dibalas kesunyian. “Sudah lama tidak bertemu.”
Aneh. Jeongguk pikir waktu bisa menyembuhkan segala sesuatu. Tetapi kepergian Yoongi tampaknya tidak dapat diisi oleh apa pun tidak peduli berapa lama waktu berlalu. Laki-laki yang dicintainya itu sudah mati, dan Jeongguk kesulitan mengatasi kehilangan. Tidak peduli seberapa hebat Jeongguk terluka, ia tak bisa mengubah apa-apa.
“Maafkan aku karena baru berkunjung lagi. Namjoon dan Hoseok tidak tahu, omong-omong. Mereka bisa memanggangku hidup-hidup karena tidak pernah menghubungi. Segala hal yang mengingatkanku pada kamu membuatku kesulitan, Yoongi. Aku ingin kamu ada di sini. Kenapa kamu tega sekali meninggalkan aku sendiri?”
Di bagian depan guci, ada foto mereka berempat. Yoongi tertawa lebar sekali hari itu, dengan pakaian wisuda dan buket bunga lili besar yang Jeongguk belikan untuknya. Namjoon berdiri di sampingnya dengan pakaian wisuda yang sama. Hoseok bangun kesiangan hari itu, dan Jeongguk harus berlari ke kampus dari toko bunga agar bisa sampai tepat sebelum Yoongi dan Namjoon keluar dari aula.
“Jimin bersikeras meminta ikut. Katanya biar ada yang bisa mengusap air mataku kalau-kalau aku menangis. Dia memang selalu mengerti. Mungkin karena Jimin tahu rasanya ditinggalkan dan kehilangan, dia memahami apa yang aku butuhkan. Dan keluarganya … Yoongi, seandainya kita berdua punya orang tua seperti mereka, mungkinkah hidup kita bisa jadi lebih baik lagi?”
“Keluargaku bukan orang-orang terbaik di dunia, Jeongguk. Tapi mungkin keluargamu iya.”
“Kita harus sering-sering menonton Spirited Away. Kapan lagi aku bisa lihat kamu menangis hebat begini?”
“Bisa bantu aku mencuci piring, Sayang? Kamu baik sekali.”
“Titip kopi … Eh, iya, tidak. Jangan melotot begitu. Baik, baik. Tidak ada kopi seminggu ini.”
“Kamu sepertinya memang punya bakat mencuci.”
“Tidak apa-apa, Jeongguk. Semua akan baik-baik saja.”
“Aku cinta kamu, Jeongguk. Selalu cinta.”
Jeongguk ingin Yoongi tahu bahwa hidup tanpa Yoongi adalah mimpi yang lebih buruk ketimbang kehilangan orang tuanya. Jeongguk ingin Yoongi berdiri di sampingnya sewaktu ayahnya mencoret Jeongguk dari keluarga Jeon. Jeongguk ingin Yoongi menenangkannya sewaktu dunia berbalik memusuhinya. Seperti bagaimana ia dan Jimin melawan rasa sepi, barangkali Jeongguk dan Yoongi bisa melawan dunia yang tidak pernah adil ini bersama-sama. Maka Jeongguk mau tidak mau terus berpikir; seandainya ia melakukan segala hal lebih cepat, mungkin saja Yoongi akan terus mendampinginya.
Tetapi keterlambatan memang selalu ditemani sesal, dan Jeongguk harus menanggung itu sendirian.
“Maaf, Hyung . Maafkan aku,” suara Jeongguk terdengar lirih. “Seandainya waktu itu aku menemani kamu ke toko. Seandainya waktu itu aku tidak membuat kamu sedih. Seandainya aku bukan seorang pengecut. Seandainya aku bisa jadi orang yang lebih baik lagi ….”
Ada ribuan pengandaian yang Jeongguk harap bisa menggantikan realita. Barangkali pada andai yang ke sekian, dirinya dan Yoongi bisa hidup bahagia di Pondok Kayu, dengan bau kopi dan buku-buku. Ia akan bangun dan pergi tidur bersama Yoongi, dan mereka akan bersama selama-lamanya, seperti kata penutup di halaman terakhir buku-buku dongeng. Mereka menghabiskan begitu banyak waktu berharap dan berencana, untuk kemudian Yoongi tinggalkan Jeongguk membangun mimpi-mimpi mereka seorang diri.
“Sebagian diriku berkata bahwa aku tidak seharusnya memandang Jimin lewat bayanganmu. Belakangan ini, kebiasaan itu semakin berkurang. Belakangan ini Jimin terlihat seperti– Jimin . Dan aku melakukan segala sesuatu dengan wajahnya di dalam kepala. Tapi rasa bersalahku masih tetap ada,” Jeongguk menggigit bibir bawahnya. “Maaf karena aku tidak bisa jadi orang baik untukmu, Hyung . Maaf juga karena aku menebus dosa-dosa itu lewat orang lain– orang yang bukan kamu . Maaf karena aku pikir hidupku harus terus berjalan, dan kali ini bukan karena kamu.”
Maka Jeongguk bersimpuh. Setelah bertahun-tahun ia lari dari Seoul, lari dari kenyataan yang tidak ingin ia terima, Jeongguk akhirnya kembali lagi. Pada Yoongi dan tanah dan menelannya. Di tempat di mana Jeongguk kehilangan Yoongi selama-lamanya. Laki-laki di pertengahan usia tiga puluhan tahun itu menangis tersedu-sedu sambil berulang kali memanggil nama yang sama. Nama yang setiap malam ia igaukan dalam tidurnya. Nama yang tidak akan pernah bisa Jeongguk hapus dari hidupnya.
“Aku akan pulang hari ini. Ke Pondok Kayu, ke tempat yang seharusnya jadi suaka untuk kamu dan aku. Tidak pernah satu hari pun berlalu tanpa aku berharap kamu ada di sisiku,” Jeongguk mencengkeram ujung pakaiannya sendiri, meninggalkan jejak kusut di bagian luar fabrik berwarna gelap itu. “Aku ingin melupakan kamu, Yoongi. Aku berharap kamu bisa mengajari aku bagaimana caranya. Tapi aku akan sampai di sana. Aku harap kamu tidak keberatan melihatku menghidupi hidup yang tidak bisa lagi kamu jalani.”
∞
HARI itu seperti biasa, Jimin bangun pukul delapan. Entah sejak kapan, langit-langit kamar yang sebelumnya asing berubah menjadi familier, dan hari-hari yang berbeda seiring waktu terasa biasa. Tinggal di rumah nenek mengubah Jimin dalam satu atau lain hal. Seoul mendadak terasa asing, dan halaman rumah nenek menjadi tempat yang setia menemaninya menyambut pagi setiap hari.
Sebelum ini, Jimin tidak pernah berpikir bahwa Busan akan meninggalkan kesan yang teramat dalam. Jimin tidak terlalu menyukai tempat ini, kalau dia boleh berkata jujur. Tetapi sekarang ia bahkan enggan berlama-lama di Seoul. Halaman rumah nenek, hamparan ladang sawi dan timun, Pondok Kayu, serta rumah Jeongguk yang sudah jadi tempat tinggal kedua Jimin selalu berhasil membuatnya rindu.
Malam tadi, Jeongguk menginap di rumah nenek. Entah sejak kapan mereka berdua tak lagi bisa tidur tanpa kehadiran satu sama lain, dan Jimin menyukai perkembangan hubungan mereka. Laki-laki yang selalu bangun lebih dulu itu belum pulang lari pagi, dan Jimin berniat menyiapkan sarapan sewaktu bel di pintu depan berbunyi. Suaranya yang nyaring memantul di ruang tengah. Siapa pun yang berdiri di depan pintu jelas bukan Jeon Jeongguk.
“Sia–”
“Hai, Jimin?”
Kim Taehyung. Laki-laki yang sudah berbulan-bulan tidak Jimin lihat batang hidungnya itu berdiri di depan pintu dengan senyum kotak yang Jimin sukai. Rambutnya dipangkas pendek dan rapi, meninggalkan poni depan yang cukup panjang untuk bisa disisir rapi ke belakang. Laki-laki itu memakai pakaian kasual, sebuah kaos panjang hijau tua dan celana warna krem. Dia terlihat baik-baik saja, kecuali pipi yang tirus dan kulit yang makin gelap.
“Taehyung? Kenapa kamu bisa di sini?”
Taehyung tersenyum kikuk, lantas menggaruk tengkuknya dengan gerakan canggung. Ia terlihat kesulitan menemukan jawaban, dan Jimin tidak cukup sabar untuk menunggu. Terlalu pagi bagi hatinya untuk diporak-porandakan sekarang. Jeongguk akan pulang sebentar lagi, dan entah mengapa gambaran soal pertemuan Jeongguk dan Taehyung membuat Jimin merasa buruk.
“Kamu bisa kembali siang nanti kalau ada yang mau dibicarakan,” kata Jimin. Suaranya terdengar terburu-buru. “Jam sebelas. Datang ke sini lagi jam sebelas.”
Lalu pintu menutup.
∞
JEONGGUK pulang pukul sembilan. Sedikit lebih siang dari biasanya, dan Jimin terlalu sibuk dengan pikirannya sendiri untuk sekadar bertanya. Seperti pagi-pagi lainnya, Jeongguk memasak sarapan. Sepiring telur orak-arik dan roti panggang. Sarapan pagi itu mereka habiskan dengan sunyi, dan Jimin mulai menyadari bahwa ada yang berbeda.
“Kamu diam terus,” kata Jimin dengan mulut setengah penuh.
Jeongguk tidak tahu bagaimana caranya menjelaskan pada Jimin bahwa ia tahu laki-laki itu bisa saja menghilang seperti asap mulai hari ini. Bahwa Bibi Son, yang tinggal dua ratus meter dari rumah nenek, berkata bahwa ada laki-laki tampan berkunjung ke rumah nenek dan bertemu Jimin. Bahwa Jeongguk tahu lelaki itu adalah Taehyung, dan Jeongguk tahu lelaki itu barangkali meminta Jimin kembali. Sebab orang gila mana yang bisa melepas Jimin nya ?
“Tidak apa-apa,” kata Jeongguk. Perasaan enggan menjalar di hatinya. Diikuti rasa takut, yang menurut Jeongguk tidak beralasan. Mereka bukan pasangan sungguhan. Jeongguk tidak berhak merasa terluka.
Di pertemuan pertama mereka, sewaktu Jeongguk memberi jaminan pada Jimin bahwa ia akan selalu ada, mereka tidak pernah mencium Jimin di tengah tangisan lelaki itu yang mengucur deras, Jeongguk tahu mereka akan berakhir pada waktunya. Jeongguk dan Jimin tidak pernah saling berjanji. Pada faktanya, mereka hanya sepakat untuk saling mengisi. Lalu saat mereka berdua sembuh, keduanya akan berjalan maju tanpa repot menoleh lagi.
Barangkali Jeongguk hanya iri. Pada Jimin dan kesempatan kedua yang dia dapatkan. Pada kehidupan yang bisa Jimin reset dan jalani dari awal. Pada fakta bahwa di antara mereka berdua, Jimin adalah orang yang pergi lebih dulu. Mungkin Jeongguk hanya iri pada kenyataan bahwa akan ada orang yang menatap punggung Jimin saat ia melangkah maju, meninggalkan Jeongguk untuk terus diam di tempat.
“Jeongguk?” Jimin menyentuh pipi laki-laki itu. Matanya menatap Jeongguk penuh kekhawatiran.
Ah, mungkin Jeongguk hanya tidak ingin kehilangan Jimin. Ia hanya tidak ingin bangun sendirian, dan menghadapi kekosongan dalam hidupnya seorang diri. Ia terbiasa pada kehadiran Jimin dan pelan-pelan melupakan rasanya ditinggalkan. Jeongguk tidak siap menerima kepergian Jimin sebab di matanya Jimin bukan lagi tempat untuk singgah. Dia adalah rumah.
“Aku tidak apa-apa,” Jeongguk tersenyum, menarik tangan Jimin untuk ia kecup di bagian telapak. “Kamu tidak perlu khawatir, Sayang.”
Pipi Jimin bersemu. “Sejak kapan kamu mulai memanggilku ‘Sayang’?”
“Kamu tidak suka?”
Jimin menggigit bibir. “Lakukan lebih sering,” katanya, nyaris terdengar seperti bisikan.
Jeongguk tertawa.
∞
Aku melihat kenanganku berlari melewati aku yang kepayahan berdiri. Sebelum kemudian tertimbun oleh sesal yang aku gunakan sebagai bekal di perjalanan. Setiap hari, tubuhku tanggal satu-satu. Meninggalkan tanda di atas aspal untuk kau ikuti kelak sewaktu engkau menyesal tak tinggal.
“BAGAIMANA kabar kamu, Jimin?” Adalah kalimat pembuka yang Taehyung pilih. Tangannya berkeringat, dan laki-laki itu terus memainkan jemarinya sendiri. “Maaf. Seharusnya aku bisa lebih baik lagi.”
“Maksud kamu soal berbasa-basi?” Jimin menimpal.
Taehyung menggigit bibir, terlihat menimbang-nimbang hendak mengatakan apa. Jimin benar soal pipi yang lebih tirus dan kulit yang lebih gelap. Entah sudah berapa bulan mereka tidak bertemu, Jimin tidak lagi menghitung. Tetapi perubahan Taehyung terlihat amat signifikan dan Jimin ingin tahu kenapa.
Sudut kecil di hatinya berbisik bahwa mungkin saja Taehyung menyesal. Mungkin saja lelaki itu datang ke sini untuk meminta Jimin kembali. Lalu Jimin dan Taehyung akan kembali pada hari-hari mereka yang dulu sebelum berpisah, dan ruang kosong yang janggal di meja makan keluarga Park tidak akan lagi membuat Jimin merasa aneh.
Lalu ia akan datang pada Jeongguk dan berkata bahwa hatinya sembuh. Bahwa lukanya secara ajaib tertutup dan menghilang tanpa bekas.
“Bagaimana kabar kamu, Tae?” Jimin bertanya, enggan membiarkan keheningan di antara mereka bertahan lebih lama lagi. “Kamu kelihatan lebih kurus sekarang.”
“Begitu-begitu saja,” kata Taehyung, dan Jimin tahu lelaki itu sedang menahan diri untuk tidak mengeluh.
“Kamu kelihatan lebih kurus.”
Taehyung tersenyum kikuk. “Hanya ke sana-sini, ikut dengan pamanku. Kabarmu sendiri, Jimin?”
“Aku baik,” Jimin tersenyum balik. “Di luar dugaan, rupanya aku suka tinggal di sini.”
Jemari Taehyung saling bertaut di atas meja makan dan matanya bergerak ke segala arah. Jimin melirik pada piring-piring kotor di wastafel yang belum sempat ia cuci setelah sarapan, lalu pada mantel Jeongguk yang menggantung di dekat pintu depan. Jeongguk tidak ada di sini, tapi Jimin merasa bahwa laki-laki itu hadir . Kehadiran Jeongguk yang Jimin rasakan lewat benda-benda tidak hidup itu membuat Jimin merasa aman. Lucu sekali kalau dipikir lagi, sebab tidak ada satu pun ancaman di sini. Hanya Taehyung .
“Soal hubungan kita,” Taehyung berucap setelah jeda yang agak panjang. “Aku minta maaf, seharusnya aku bisa lebih baik lagi.”
Jimin bungkam.
“Aku menghabiskan berbulan-bulan untuk meyakinkan diriku sendiri bahwa ini adalah keputusan yang paling tepat. Kamu tahu aku pengecut, dan aku mengakui bahwa aku pengecut. Tapi rupanya setelah berpisah dari kamu, aku hanya merasa bahwa aku sudah mengambil keputusan yang salah. Aku selalu menjadi pengecut, Jimin. Tapi setelah tidak ada lagi kamu di hari-hariku, rasanya aku rela melakukan apa saja untuk bisa berhenti jadi Kim pengecut Taehyung yang aku tahu.”
Tidak pernah satu kali pun Jimin absen mengharapkan kalau hari ini akan datang. Di hari-hari pertama kedatangannya ke Busan, Jimin akan pergi tidur sebelum bermimpi kalau Taehyung akan tiba-tiba mengetuk pintu depan rumah nenek. Lalu Taehyung akan memintanya kembali, dan ia akan menjadi Jimin yang penuh cinta seperti sedia kala. Jimin ingin Taehyung menyesal. Ia ingin Taehyung sadar bahwa keberadaan Jimin adalah penting, dan mereka harus bersama. Jimin ingat bagaimana dia meminjam Pondok Kayu untuk menangis, sebelum mempersilakan Jeongguk masuk ke hidupnya sebagai substitusi bagi Taehyung yang tidak lagi hadir.
Tapi bukan perasaan semacam ini yang Jimin pikir akan ia rasakan. Bukan rasa bersalah dan tidak nyaman. Seharusnya ia menghambur ke pelukan Taehyung dan berkata bahwa segala sesuatu terasa berat setelah mereka tidak lagi bersama. Bukannya memikirkan Jeongguk dan merasa terluka setelah sadar bahwa ia bisa jadi harus melepas Jeongguk setelah ini.
“Taehyung, aku ….”
“Aku akan bilang ke orang tuaku soal kita, Jimin. Aku janji. Aku cuma … mau kamu kembali. Aku masih sayang kamu. Tidak pernah berkurang dan terus bertambah. Jadi … kembali padaku, Jimin, apa kamu mau?”
∞
JEONGGUK tahu kalau Jimin dan Taehyung sudah bertemu sewaktu laki-laki yang lebih muda berjalan masuk ke Pondok Kayu dengan wajah rumit. Jeongguk tidak berkata apa-apa dan mendorong secangkir cokelat hangat ke arah Jimin. Jimin berterima kasih dengan suara pelan sebelum menyesap isi cangkirnya pelan-pelan. Sore sudah hampir habis, diganti langit malam yang mendung. Jeongguk ingin sekali bertanya apa yang mereka bicarakan, meski tahu bahwa hatinya tidak akan siap menghadapi jawaban Jimin.
Mungkin ini cinta. Atau mungkin juga Jeongguk hanya enggan kembali mengecap posisi sebagai orang yang ditinggal pergi. Entah alasan yang mana, Jeongguk sepenuhnya sadar bahwa ia tidak berhak menahan Jimin andai kata laki-laki itu memutuskan untuk berhenti.
“Jeongguk ….”
“Aku tahu Taehyung datang ke rumahmu,” Jeongguk bicara. Tangannya sibuk mengelap gelas yang sudah bersih berulang kali, mencoba mencari kegiatan di tengah sepinya kedai. “Kamu tidak perlu merasa bersalah padaku, Jimin. Kamu bisa melakukan apa pun yang kamu mau, aku tidak mau jadi pembatas.”
Mata Jimin memandang Jeongguk dengan tatapan yang sulit dibaca. Entah berusaha menyampaikan apa, Jeongguk tidak mau asal menduga-duga. Jeongguk tahu kalimatnya tadi terdengar memaksa, tapi setiap kata yang Jeongguk muntahkan tidak bisa dia telan kembali.
“Kamu tahu seharusnya kamu tidak bilang begitu padaku, Jeon.”
Jeongguk menelan ludah. Tangannya meletakkan gelas di atas konter, lalu memandang Jimin setelah sejak tadi susah payah menghindari mata cokelat tuanya. “Maafkan aku,” kata Jeongguk sepenuh hati. “Tapi aku sungguh tidak ingin kamu merasa tertahan olehku. Sekali lagi aku tekankan, kamu bisa melakukan apa pun yang kamu mau .”
“Sekalipun kamu terluka?”
Jeongguk terkekeh. “Percayalah aku lebih dari mampu untuk mengatasi perasaanku sendiri, Jimin. Kamu hanya perlu fokus pada apa yang membuatmu bahagia.”
Jeongguk memperhatikan bagaimana Jimin bangkit dari sofa di dekat rak buku yang biasa ia duduki; melangkah mendekatinya. Di dalam kepalanya, Jeongguk mengulang berpuluh-puluh pujian untuk Jimin. Pujian yang jarang ia utarakan langsung. Jeongguk tidak membual kalau dia bilang Jimin memesona. Cantik adalah kata yang terlalu sederhana, pikirnya. Andai saja Jimin bisa ia gambarkan dengan kata-kata.
Tangan Jimin terulur, yang disambut Jeongguk secara otomatis dalam sebuah genggam hangat. “Tangan kamu penuh keringat,” kata Jimin, diikuti seulas senyum tipis. “Aku membuatmu gugup?”
“Kamu selalu membuatku gugup,” timpal Jeongguk separuh bergurau.
It’s so magical how his hand fits perfectly in Jeongguk’s fingers. As if they were built to be each other’s companion . Jeongguk hampir mentertawakan isi kepalanya sendiri, andai Jimin tidak bersandar di atas meja dan menatapnya dengan sayu.
“Aku takut, Jeongguk,” kata Jimin, mengeratkan genggamannya.
“Aku mau cium kamu,” kata Jeongguk. “ And if the kiss doesn’t feel right, you are free to go .”
Tangan Jeongguk yang dingin dan lembab menarik tengkuk Jimin, mempermudah bibir mereka menemukan satu sama lain. Pertemuan pertama mereka berkelebat cepat di dalam kepala Jeongguk, diikuti ingatan-ingatan lain selama berbulan-bulan perkenalan mereka berdua. Lewat ciuman ini, Jeongguk berusaha mengatakan pada dirinya sendiri bahwa Jimin tidak harus tinggal. Sekalipun tahu bahwa untuk pertama kalinya, ia ingin punya kesempatan kedua. Kesempatan yang tidak akan Jeongguk sia-siakan.
Kalau Jimin memilih tinggal, Jeongguk akan memberi lebih banyak. Kalau Jimin memilih tinggal, Jeongguk akan mengakui perasaan ini. Kalau Jimin memilih tinggal … Jeongguk ingin sekali memohon padanya untuk tetap tinggal .
“Kalau kamu ingin pergi, Jimin ….” Jeongguk berkata di tengah ciuman mereka. “Aku akan melepaskan kamu. Tapi kalau kamu memilih tinggal, aku akan memberi semua yang aku punya untuk kamu.”
Jimin menahan napas, memandang benang saliva yang menggantung di antara bibir mereka. “Tapi kalau kamu mendengar permohonanku … tetaplah tinggal, Jimin ….”
∞
Saat itu, barangkali yang akan kau temukan dari aku hanyalah sisa. Puing-puing bekas jiwaku yang sudah tuntas.
ASAP dari kopi hangat milik Jimin dan Taehyung mengepul ke udara dalam bentuk gumpalan-gumpalan putih tipis. Pondok Kayu sepi siang itu. Di siang hari, orang-orang desa belum selesai bertani. Jeongguk berdiri di konter, menyeduh satu cangkir kopi untuk dirinya sendiri sebelum pergi ke sudut terkecil kedai lalu mulai membaca.
Jimin selalu kagum pada Jeongguk dan bagaimana laki-laki itu bisa bertahan pada segala keadaan yang tak ramah padanya. Pada bagaimana laki-laki itu mempersilakan Jimin dan Taehyung meminjam Pondok Kayu untuk bicara, meskipun tahu bahwa ada kemungkinan Jimin akan menyerah atasnya. Sejak permohonan Jeongguk semalam, Jimin tahu lelaki itu mencintainya. Entah dalam bentuk macam apa, atau apakah cinta itu bisa menggantikan cinta yang Jeongguk punya untuk Yoongi, Jimin tidak peduli. Jeongguk mencintainya, dan fakta itu adalah perkara yang paling penting.
“Kamu tahu bagaimana perasaanku sewaktu kamu minta putus dulu, Tae? Kamu adalah pacar pertama yang aku kenalkan ke Ayah dan Ibu, orang yang aku pikir akan menemaniku selama-lamanya kalau selamanya benar-benar ada. Aku tahu kamu belum berani jujur pada orang tuamu soal kita, dan aku tidak masalah. Aku lebih dari bersedia untuk menunggu. Tapi kamu menyerah, Tae. Kamu menyerah soal kita.”
Jimin mengangkat cangkir, mendekatkan mulut cangkir ke bibirnya sebelum menyesap kopi yang mulai mendingin. Taehyung menunduk, menghindari tatapan Jimin sebab takut menghadapi apa pun yang coba mata itu sampaikan padanya.
“Sewaktu kamu meminta berpisah, aku masih berharap kamu datang lagi. Tapi kamu tidak pernah meminta maaf, tidak pernah memintaku kembali, tidak pernah mencariku, dan aku harus hidup dengan angan-angan yang lama-lama harus kupupuskan sendiri.” Jimin menarik napas dalam-dalam. “Kesempatan kamu sudah habis, Taehyung. Sudah habis lama sekali sejak aku bertemu Jeongguk. Cinta kita mungkin punya jejak yang panjang, tapi jalan yang jejak itu buat sudah lama sekali putus. Kamu yang memutuskan jalan itu.”
Taehyung menoleh, mencari Jeongguk hanya untuk menemukan bahwa laki-laki itu tersenyum pada buku yang ia baca. Senyum yang seolah sedang mengejek Taehyung dan kebodohannya. Sewaktu Taehyung menatap Jimin, laki-laki yang dicintainya itu rupanya sedang menatap ke arah yang sama, memandang Jeongguk dengan sorot lembut dan penuh kasih. Taehyung tidak bisa berhenti bertanya pada dirinya sendiri; apakah Jimin menatapnya seperti ini dulu? Sebelum Taehyung dengan bodoh memilih menyerah sebelum mencoba, memutuskan melepas laki-laki itu untuk kemudian menyesal setengah mati.
“Kamu bisa berjalan maju sekarang, Taehyung. Karena aku juga akan melakukan hal yang sama. Maaf karena aku tidak bisa kembali, kamu harus berjalan sendiri.”
∞
BUNGA mawar kering yang sebelumnya Jeongguk lihat tergeletak di samping guci abu milik Yoongi tidak lagi ada. Diganti sebuah lili putih segar yang dibawa Jimin, yang Jeongguk letakkan penuh kehati-hatian. Musim dingin sudah datang, dan Jimin berkata bahwa ia akan terus berdoa semoga Yoongi tidak kedinginan. Mereka menyalakan lilin dan meniup setumpuk donat bersama-sama, merayakan ulang tahun Yoongi yang ke tiga puluh lima. Yoongi sudah tiga puluh lima, tapi bagi Jeongguk, laki-laki itu selamanya akan berusia dua puluhan tahun.
“Hai, Hyung . Aku datang lagi. Kamu lihat biru di pipiku? Hoseok memukul keras sekali, kemarin. Tahu-tahu tadi pagi sudah jadi biru saja. Kamu harus datang ke mimpinya dan memarahi dia. Kamu sering memarahinya kalau dia iseng padaku dulu, bukan begitu?”
“Jangan merajuk seperti anak kecil, Jeongguk,” Jimin mencubit lengan Jeongguk, mengingatkannya untuk tidak menjadi pengadu meski tetap menerima lelucon Jeongguk dengan tertawa.
“Hari ini aku akan memperkenalkan Park Jimin pada kamu. Orang yang sama sekali berbeda dari kamu, tapi membuatku jatuh cinta dengan cara yang tidak terduga,” Jeongguk melirik pada Jimin yang tersipu. “Maaf karena aku akan melanjutkan hidup dengan orang yang bukan kamu, Hyung . Berkali-kali kukatakan pada diriku sendiri bahwa aku seharusnya hidup dengan penyesalan sampai mati, tapi mungkin Jimin adalah orang yang kamu kirim untuk mengingatkanku kalau hidupku layak dijalani. Layak diisi oleh hal-hal berharga; hal-hal yang tidak bisa lagi kamu nikmati.”
Jeongguk mengeratkan genggaman tangannya pada tangan Jimin, mencoba mencari kekuatan dari tangan mungil itu sebelum kembali melanjutkan cerita.
“Aku akan bahagia, Yoongi. Aku tidak mau berjanji, tapi aku akan mencoba.”
“Aku akan menjaga dia dengan baik, Hyung . Kamu bisa percayakan dia padaku mulai sekarang.”
Jeongguk mendengus. “ Aku yang sebenarnya menjaga kamu . Jangan dibalik-balik begitu.”
Balik mendengus, Jimin melirik dengan wajah galak. "Kamu paling pintar membual."
∞
FIN
