Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationships:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2022-09-12
Words:
1,182
Chapters:
1/1
Comments:
8
Kudos:
74
Bookmarks:
3
Hits:
482

i can be your company

Summary:

Piko akan selalu mencari keberadaan Ucup di tengah ramai; pun di antara hening yang menyakiti.

Notes:

song rec

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

“Lo di sini?”

Pertanyaan retorik tadi jadi sambutan dari Piko kepada Ucup yang jelas-jelas duduk di dalam ruangan setelah satu menitnya ia habiskan untuk menyendiri. Kontras dengan suasana di luar sana, ada sebuah keributan kecil—bukan keributan betulan sebab ini hanya Gofar, dan humornya, yang memperagakan adegan berkelahi Sarah di misi mereka dan bising dari gelak tawa kawan-kawan lainnya.

Sementara Piko justru berakhir menemukan Ucup di sini. Tempat tinggal yang disebut-sebut basecamp itu tampak remang-remang dengan satu lampu bohlam yang menyala redup, dan Ucup berdiam diri di tengah kegelapan tanpa memperdulikan pencahayaan seolah ia tengah sengaja bersembunyi.

“Kenapa ke sini?” tanya Ucup, “di depan lagi seru banget, tuh.” Piko mengambil posisi duduk tepat di depan tempat Ucup bersila. Dalam kegelapan, Piko masih bisa melihat pemandangan Ucup yang tersenyum ke arahnya. Piko selalu menyukai senyum Ucup yang buat hangat di dada. Tetapi bukan berarti ia bisa dibodohi olehnya, lebih-lebih lagi ketika Ucup balik menatapnya.

“Harusnya gue yang nanya gitu,” Piko menyahut heran, “daritadi yang lain berisik, lo diem aja, terus malah kabur ke sini.”

Ucup nggak langsung membalas ucapan Piko melainkan hanya terkekeh kecil sambil mengangguk-angguk. Senyumnya nggak juga lepas, bahkan di menit ketiga setelah mereka berdua kompak berdiam diri. Entah apa arti dari senyum itu; bisa jadi Ucup menganggapnya lucu atau remeh seperti biasa.

Berbeda dengan Piko, baginya ini adalah persoalan serius. Melihat Ucup yang melarikan diri dari keramaian dan menyendiri di tengah kegelapan membuat pikirannya berputar ke mana-mana. Masalahnya, ini kekasihnya, jika terjadi sesuatu padanya, Piko nggak akan segan-segan hancurkan dunia.

Hati Piko bergemuruh sebab ia ingin tahu, tetapi di satu sisi, Ucup nggak juga dalam posisi hutang penjelasan padanya. Ia nggak ingin memaksa. Walaupun yakin dari lubuk hatinya yang terdalam, pasti dia sedang nggak baik-baik saja.

“Berisik banget di luar. Anak-anak pada enggak bisa diem,” Ucup membuka suara pada akhirnya, “gue ngantuk.”

“Jangan bohong,”

“Bohong apanya?” Ucup menyahut cepat dengan alis bertaut bingung.

“Gue bahkan bisa tahu arti dari kerutan-kerutan di kening lo itu,” kata Piko seraya menunjuk-nunjuk kening Ucup, “bukan persoalan rumit lagi buat nebak apa isi kepala lo, Cup. Apalagi kalau lo udah di depan gue kayak gini.”

Ucup hanya mengangguk ketika Piko menatapnya seolah pemuda itu tiada punya niatan melepas. Seandainya Ucup nggak malas dan ingin beradu argumen, mungkin saat ini obrolan sederhana itu belum juga usai.

“Lagi ngerasa lega aja pelanggan terakhir kali, yang bawel itu batalin kontraknya,” Ucup kembali bersuara dengan nadanya yang terdengar mencibir, “songong banget, mana banyak mau lagi.”

Kini giliran Piko yang mengangguk; bersembunyi di balik anggukannya adalah rasa penasaran, juga sedikit nyeri dada. Piko tahu Ucup sedang berdusta dan pemuda itu mungkin nggak akan benar-benar menceritakan situasinya cepat atau lambat di momen-momen seperti ini. Piko sudah terlampau hapal tentang seorang Ucup dan tendensinya dalam mengubur emosi.

Piko kemudian menghela napas pelan. Sejujurnya, ia juga nggak tega melihat Ucup seperti ini. Apa yang ada di depannya bukanlah Ucup yang ingin selalu dia temui. Tetapi dia lebih nggak mau membiasakan Ucup dengan hal-hal yang nggak sewajarnya seperti sekarang ini; berlagak baik-baik saja. Bagaimana pun juga mereka cuma manusia yang selain akal dan pikiran yang mereka punya, ada hati yang sangat perasa. Dan pemuda Yusuf Hamdan itu payah dalam urusan yang ketiga.

Maka untuk kali ini saja, biarkan Piko ikut campur. Inginnya adalah, membiarkan Ucup nggak dalam keadaan terpuruk sendiri. Supaya dia tahu kalau hidup mereka yang sudah menyedihkan, masih bisa disyukuri.

“Lo tuh enggak capek apa pura-pura terus?” Piko sengaja berkata sinis, “kayak pembual lo lama-lama.”

Satu ujung bibir Ucup tertarik, “Pembual, Pik?” ujarnya pelan, “gue enggak akan jadi sebrengsek itu kalau cuma pengen cari bahagia aja.”

So does admitting your feelings, Cup.” Piko menimpali dengan cepat. Sepasang matanya nggak lepas dari Ucup, bahkan ketika jarak mereka mulai terkikis akibat dari intensi Piko sendiri yang nggak ingin menatap lelaki di hadapannya dari jauh. “Bilang ke kita—ke gue kalau lo lagi enggak baik-baik aja, Cup. It doesn’t make you a sinner. Let alone a jerk.

Si hacker handal itu jelas kalah telak tanpa dia perlu bersusah payah mengalah. Yang ia tahu setelah itu adalah dia hanya perlu mengaku dan mungkin, mungkin satu momen panjang itu bisa berakhir saat itu juga. Tetapi itu sebelum Ucup mengikuti ke arah mana telapak tangan Piko membawanya.

Jantung Ucup seakan berhenti tiba-tiba. Warasnya melayang-layang di udara begitu Piko mengelus pipinya. Bersama dengan itu, satu tangan Piko yang lain meraih tangan Ucup untuk dibawa ke dalam genggaman hangatnya. Diusap-usap punggung tangan Ucup dengan penuh kasih sayang.

“Ingat cerita gue enggak, Cup? Mau seberapa senengnya gue coret-coret kanvas, tetep aja kegiatan itu kadang bikin gue stress,” Piko berucap hati-hati. “Gue tahu soal pelanggan lo itu—kemarin enggak sengaja lihat dia di depan. He’s so rude, you know? Dia enggak tahu seberapa kerasnya lo kerja buat menuhin ekspektasi dia. Lo aja sampai kurang tidur dan sering kelupaan makan.”

“Lo merhatiin gue banget, ya?” “Gue pacar lo kalau lo lupa,” Piko mendengkus, “jangan alihin pembicaraan gitu, deh. Gue lagi ngomong serius.”

Ucup mengangguk dengan senyum tipis, “Iya, gue masih dengerin.”

Saat itu, Piko nggak menjawab apa-apa. Apalagi melanjutkan kalimatnya. Ia sibuk membawa tangannya menyusuri wajah Ucup; mengabsen satu per satu fiturnya yang sempirna, mulai dari kedua alis tebalnya sampai ke bawah dagunya. Ucup membiarkan matanya dipejam selagi telapak tangan Piko mengambil tempat singgah di pipinya, dan ibu jarinya bergerak halus ke sana kemari seolah Piko tengah memoles warna jingga di lukisan langit senjanya. Lalu kepala Ucup dituntun untuk bersandar di bahunya. Dibilang lebar juga nggak, tetapi esensinya dalam mengobati segala luka dan lara akan selalu cukup.

“Gue capek, Pik.” Malam itu Ucup membiarkan pertahanannya runtuh sebersamaan dengan satu tetes kristal bening melarikan diri dari naungannya; di bawah kelopak mata yang sudah tak terbendung lagi, air matanya tumpah.

Piko bilang nggak apa-apa menangis di antara usapan-usapan halus di kepala Ucup yang konstan sejak beberapa menit yang lalu. Air mata Ucup terus merembes dan mungkin sudah meninggalkan jejak di bahu Piko, namun empunya balas dengan peluk semakin erat. Piko rela kalau bajunya basah karena air mata jika itu sama artinya dengan dia akan melihat bahagia dari senyum yang terukir indah di paras rupawan kekasihnya lagi.

Hari itu nggak ada yang masuk ke dalam basecamp sampai malamnya sudah larut; sampai Ucup terlelap di bahu Piko yang masih memeluknya sama erat. Bising di luar rumah lambat laun menghilang, dan satu pesan diterima Piko malam itu melalui ponselnya. Dari Fella, katanya mereka pamit pulang dan berpesan untuk keduanya buat jaga diri.

Piko tersenyum. Ia bersyukur dalam hati karena telah dianugerahi teman-teman yang baik hati dan satu manusia yang tertidur pulas di pelukannya saat ini. Malam itu juga, Piko membuat catatan lagi—kepada Ucup, lewat kecupan-kecupan singkat di pucuk kepala sang empu yang tengah berpindah, menyamankan diri pada dada Piko lewat tidurnya.

Catatan yang di pagi hari nanti, akan jadi satu hal pasti; bahwa Piko akan selalu hadir menjadi sedekap peluk yang hangat di hari-hari susah maupun bahagia. Bahwa Piko akan selalu jadi bahu untuk kepala Ucup yang berat karena air mata—untuk segala beban di pundak Ucup yang merajalela.

Bahwa dia, Piko, nggak akan meninggalkan Ucup apa pun keadaannya. Seperti yang dia mau, seperti yang sudah seharusnya.

Notes:

Terima kasih sudah baca. Barangkali ada yang pengen disampaikan bisa lewat kolom komentar ya!