Actions

Work Header

Driving Down The Freeway

Summary:

“Lo percaya sama gue, kan?”

“Selalu. Gue selalu percaya sama lo.”

Notes:

aka the obligatory friends to lovers road trip au nobody asked for but i did anyway. happy reading my cupikos <3

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

Ucup sudah mendengarnya berkali-kali dua minggu belakangan ini: Piko sedang terkena sesuatu yang disebutnya art block yang membuatnya tak bisa berkonsentrasi melukis lebih dari sepuluh menit sehari, padahal deadline tugas kuliah dan lukisan pesanan klien tak akan sudi beramah tamah dan menunggunya kembali mendapatkan ide.

Ini bukan pertama kalinya Piko mengalami art block, tapi Ucup yakin serangannya kali ini lebih parah dari yang sudah-sudah karena Piko yang begitu mencintai seni lukis dengan seluruh keping darahnya, tiba-tiba saja membanting kuas lukisnya dengan kasar ke atas meja kayu lalu berjongkok dengan kedua tangan di sisi kepalanya dan menggeram marah, seolah tengah berusaha memenangkan pertempuran dengan gemuruh di dalamnya.

Ucup beranjak dari tempat duduknya di studio Piko dan menghembuskan nafas keras-keras, tidak bisa lebih lama melihat sahabat baiknya bermuram durja karena keruhnya emosi Piko akan mempengaruhinya cepat atau lambat. Salah satu yang Ucup sesali dari pertemanannya dengan Piko yang telah berusia lebih dari satu dekade—isi kepala Piko perlahan menjelma menjadi isi kepalanya sendiri.

“Udah, udah. Sekali lagi lo pegang kuas, sepuluh menit lagi dia bakal lo patahin jadi dua dan gue yakin lo bakal nangisin perbuatan konyol ini sampai minggu depan,” Ucup menyambar kuas malang yang bergoyang tak stabil di sudut meja saat Piko hendak kembali mengambilnya. “Jangan galak-galak sama diri lo sendiri, Pik. Juga sama alat lukis lo, nggak salah apa-apa mereka.”

Piko tampak mempertimbangkan ucapan Ucup. Ketika tak ada sangkalan keluar dari mulutnya, Ucup mulai bergerak untuk merapikan alat-alat lukis Piko yang berserakan di meja, dan Ucup tahu Piko sedang tidak dalam suasana hati yang cukup buruk untuk beradu argumen dengannya karena pemuda berkacamata itu hanya bergeser dan memberi ruang agar Ucup lebih leluasa berpindah.

Ucup terkekeh, bergerak cekatan memasukkan kuas berbagai ukuran ke dalam tas kanvas berwarna putih yang dihafalnya luar kepala sebagai tempat Piko menyimpan alat lukisnya dan menjejalkannya ke dalam ransel Piko.

“Dah, nggak usah ngelukis dulu hari ini.”

Bahu Piko seketika merosot. “Deadline gue minggu depan, Cup. Dua lukisan. Ini gue belum ada ngapa-ngapain.”

Ucup menatap Piko, campuran antara rasa iba dan ingin menjitak kepalanya. Sudah berulang kali Ucup mengingatkan Piko untuk tidak gegabah mengambil pesanan lukisan di tengah hiruk pikuk proyek kuliahnya karena akan ada saatnya sinar di kepala Piko meredup seperti saat ini, tapi Piko bersikeras. Ucup percaya pada kemampuan Piko dan ia tahu ide-ide gemilang lebih sering berseliweran di kepala sahabatnya daripada tidak, tapi Piko sering lupa bahwa ia bukan situs pencari yang mampu mengangkut semua ekspektasi. 

“Iya, tapi sejam gue liatin lo di sini, lo juga nggak ngapa-ngapain selain marah-marah dan banting kuas,” ujar Ucup tepat sasaran, karena wajah Piko yang sudah masam ditekuk makin dalam. Tapi ia tidak membantah ketika Ucup memakaikan ranselnya dan mendorongnya keluar dari studio—Ucup memaksanya keluar untuk mencari udara segar dengan pergi membeli es krim ke minimarket terdekat, sebuah tawaran yang tidak akan Piko lewatkan.

Ketika mereka duduk bersisian di bangku tinggi di balik jendela kaca minimarket yang berhadapan langsung dengan jalan raya dengan sebuah es krim di tangan masing-masing, barulah Ucup kembali bertanya.

“Mentok banget ya, idenya?”

Piko mengangguk sambil merengut, membuat wajahnya terlihat seperti anak lima tahun yang sedang melakukan aksi mogok makan dan kini Ucup sedang merayunya dengan es krim. Menggemaskan sekali.

“Emang tema lukisannya apa, sih? Sejauh yang bisa gue inget, lo nggak pernah mundur dari tantangan dan selalu bisa nyelesain lukisan itu seaneh apapun topiknya.”

The most beautiful moment in life ,” Piko menjawab lesu. “Sebenernya bukan topik yang susah-susah banget, tapi gue masih belum bisa nentuin apa yang bakal gue lukis. Mana belakangan ini gue lagi suntuk, jadi ngelukis apa aja hasilnya selalu jelek. Ngabis-ngabisin cat sama kanvas aja, lukisannya jadi juga enggak.”

Ucup menatap sahabatnya keheranan. “Lo udah tau lagi suntuk malah maksain ngelukis? Kok pinter banget?”

Deadline, Ucuuuup,” Piko merengek kesal karena dirasanya Ucup tidak peka terhadap penderitaannya saat ini. “Gue lagi suntuk tapi tanggal submit gambar gue ke dosen kan nggak bakal bisa mundur, terus gue ada satu pesenan lukisan lagi yang belum gue kerjain karena gue nggak ngerasa puas sama prosesnya sejak awal.”

Ucup mendengus, “Itu mah lo aja yang kelewat perfeksionis.”

“Ya harus, dong! Gue kan dibayar! Lagian lo juga menikmati duit hasil kerja keras gue buat kita sarapan nasi uduk!”

Sebuah kekehan lepas dari bibir Ucup mendengar Piko mengungkit sesuatu yang hanya dimiliki mereka berdua—Piko selalu membayar dua porsi nasi uduk untuk mereka sarapan setelah upah melukisnya cair, rutinitas yang bagi Piko mendekati kewajiban entah dimulai sejak kapan.

“Oke, kalau gitu,” Ucup memutar kursinya dan kursi Piko agar mereka berhadapan. “Gue akan bantu lo nyari ide. Atau sekedar cari cara supaya suntuk lo ilang dan lo bisa ngelukis lagi, karena gue khawatir bulan depan gue nggak dapat jatah sarapan sama sekali.”

Piko mendecih, “Jadi lo bantuin gue cuma biar lo tetep sarapan nasi uduk?”

Ucup mengangkat bahu, “Rasa nasi uduknya lain kalau makannya nggak bareng sama lo.”

“Soalnya lo harus bayar sendiri?”

“Begitulah.”

Piko menendang tulang kering Ucup sebagai balasan. Yang ditendang menahan kernyitan yang segera berubah menjadi kekehan pelan dan Piko ikut tertawa, karena ia tahu Ucup akan benar-benar membantunya. Ucup tidak pernah setengah-setengah dalam melakukan sesuatu, tidak pernah berbalik meninggalkannya sesulit apapun situasinya, karena ia sudah berjanji akan selalu ada untuk Piko lebih dari satu dekade lalu ketika keduanya masih bocah polos berseragam putih merah.

“Abis ini lo pulang, mandi, tidur. Jangan coba-coba pegang alat lukis lagi. Itu kepala direndem dulu di bak kalau perlu, biar adem.”

Piko mengangguk patuh meski wajahnya masih sendu. Ucup tersenyum dan mengacak rambut pemuda berkacamata dengan lembut, ia tahu Piko akan mendengarkannya karena ia mempercayai Ucup sebagai yang lebih rasional di antara keduanya. Terutama di saat-saat begini; saat Piko seolah tengah berjalan dengan kedua mata tertutup dan hanya mengandalkan Ucup sebagai pemandu.

“Nanti malem telepon, ya?” pinta Piko saat ia dan Ucup hendak berpisah di depan minimarket. “Kali ini beneran bakal gue lempar jendela kamar lo pake batu bata kalo sampe lo ketiduran sebelum gue selesai cerita.”

Ucup meringis, “Galak amat sih ganteng, lagian gue ketiduran cuma sekali itu doang,” ia mencoba membela diri. “Tumben banget ngajak telponan? Kangen denger suara gue, ya?”

Piko memutar bola matanya. “Sejak kapan sih kita butuh alasan buat telponan?”

Itu benar, sebetulnya. Piko dan Ucup tak perlu alasan untuk saling menelepon bahkan di jam paling tidak masuk akal sekalipun karena mereka sudah sering melakukannya sejak belia; berbagi cerita di balik selimut dan temaram lampu tidur di dalam kamar yang lampunya telah padam—dua anak lelaki yang memaksa ingin terjaga dengan suara rendah berlapis kantuk dan mata setengah tertutup. Lagi-lagi, sesuatu milik mereka berdua yang perlahan melebur menjadi rutinitas yang masih terbawa hingga dewasa.

“Kepala gue penuh banget belakangan ini, Cup. Gue butuh temen ngomong, terus sayang banget yang selalu available buat gue cuma elo.”

“Lo nggak punya temen lain selain gue?” Ucup masih ingin menggoda Piko hari ini.

“Bukannya temen lo juga cuma gue?” Piko membalas tak gentar.

Fair point ,” Ucup mengangguk, memutuskan untuk berhenti sebelum menyentuh garis batas emosi Piko yang saat ini sedang rendah-rendahnya. “Nanti malem gue telepon abis kerjaan gue kelar.”

 




Malamnya, Ucup berbaring di tempat tidur, menatap langit-langit dengan wireless earphone terpasang di telinga untuk mendengarkan Piko meluapkan penatnya. Ia bergumam di sana-sini untuk meyakinkan Piko ia masih mendengarkan, meski tak benar-benar memahami istilah seni lukis yang kerap Piko gunakan. Piko tahu Ucup hanya bisa menilai lukisan dengan bagus dan tidak bagus, jadi jelas ia bukanlah tandem yang tepat untuk Piko berceloteh soal teknik shading dan gradasi warna, tapi Ucup selalu bisa memberikan sepasang telinganya.

Lalu Piko menyinggung soal studionya yang belakangan ini terasa menyesakkan karena ia terus menerus berada di sana untuk waktu yang lama sementara pikirannya masih serupa benang kusut, juga tema lukisannya yang menurutnya terlalu jauh dari spesifik dan membuat Piko semakin sulit memutuskan apa yang akan dilukisnya.

Pernyataan itu memberi Ucup ide.

“Kayaknya lo emang harusnya cari tempat baru buat ngelukis, Pik, jangan ngendon mulu di studio. Bertelur lo lama-lama di situ.”

Ucup bisa membayangkan raut cemberut Piko saat protes, “Gak bisa segampang itu, lah. Ngelukis itu alatnya banyak, bawanya repot. Lo gak liat kanvas gue segede jendela nako? Nanti gue udah nemu tempat baru, belum tentu juga gue bisa ngelukis di sana.”

“Bener-bener ya, lo tuh. Milih jurusan kuliah, milih bidang profesi, semua yang berjalan tergantung suasana hati. Persis banget sama orangnya, pantesan ini jalan karir yang lo pilih, Pik.”

“Rese lo, babi.” Piko menggerutu. “Katanya mau bantuin biar gue bisa ngelukis lagi!”

“Ini gue lagi bantuin lo, bawel,” Ucup membalas dengan santai. “Gue temenin lo ngelukis weekend ini, gimana? Gue yang cari tempatnya, gue juga bakal bantuin bawa alat perang lo, deh. Jadi lo tinggal fokus nyari mood dan ngelukis aja sampai utang-utang lo kelar.”

Piko tak langsung menjawab dan Ucup berasumsi ia sedang menimbang-nimbang opsi dari Ucup. Ucup tahu ini adalah pertanyaan yang tidak biasa karena mungkin sepanjang pertemanan mereka, ini pertama kalinya Ucup menawarkan diri dengan sukarela menemani Piko melukis. Biasanya Ucup akan mendatangi Piko saat pemuda berkacamata itu sudah asyik bergulat dengan cat dan palet, dan Piko yang biasa akan menolak kehadiran audiens dalam jarak dekat yang akan membuyarkan konsentrasinya.

“Lo… yakin mau nemenin gue ngelukis, Cup?”

Suara Piko terdengar samar seolah tak percaya, seolah Ucup baru saja menawarkan keajaiban padanya. Ucup menyesal tidak mengutarakan gagasan ini lebih cepat.

“Iya, gue yakin. Pertanyaan lo kayak yang baru sekali aja gue ngeliat lo ngelukis.”

“Tapi lo bakal bosen, Cup. Ngelukis makan waktu lama.”

“Gue tau, Piko. Kalau gue nyari yang cepet, udah gue bobol situs jualan lukisan dan nyolong gambarnya buat lo. Lagian gue yang bilang bakal bantuin lo, jadi pasti udah gue perhitungkan pro dan kontranya. Lo percaya sama gue, kan?”

Lagi-lagi, Piko terdiam. Ucup menunggu respon dari Piko dengan jantung berdegup tak karuan—ia tahu alasannya, tapi perasaan itu tetap membuatnya tak nyaman. Meski seharusnya Ucup bisa menerka jawabannya karena ini Piko, orang yang telah Ucup kenal nyaris sepanjang hidupnya, tapi ia tetap merasakan kelegaan mengalir di tulang belakangnya saat mendengar kembali suara Piko.

“Selalu,” jawaban Piko datang dalam bentuk bisikan, tetapi Ucup mendengarnya dengan jelas di telinganya. “Gue selalu percaya sama lo.”

Senyum Ucup merekah meski Piko tak bisa melihatnya. “Rest assured, then, Your Majesty.”

 


 

Ucup menjemput Piko di rumahnya tiga hari kemudian pada akhir pekan seperti yang telah mereka wacanakan sebelumnya. Ia membunyikan klakson dua kali untuk memberi tahu Piko ia telah tiba dan menyandarkan punggungnya di jok berlapis kulit, mengulum senyum ketika melihat Piko muncul di pagar beserta setumpuk barang dan sebuah kanvas ukuran sedang.

Ucup menekan tombol untuk membuka bagasi saat Piko mengetuk sisi mobilnya lalu memutar tubuhnya untuk menonton Piko memasukkan semua barangnya ke dalam mobil. “Yang fragile taruh di tengah aja, Pik. Biar nggak rusak ketimpa barang yang lain.”

“Gue dong fragile,” Piko menyahut asal dan tertawa saat mendapati Ucup menatapnya dengan mata memicing. Pemuda berkacamata itu berkacak pinggang, meneliti barang bawaannya sekali lagi untuk memastikan tidak ada yang tertinggal. Setelah mengangguk pada dirinya sendiri, Piko menutup bagasi dan berjalan memutar ke kursi penumpang di depan.

Ucup tidak sadar ia menahan nafas ketika melihat Piko dari dekat sampai paru-parunya meronta meminta udara—Piko memakai baju kasual; hanya kaos putih polos di balik kemeja bermotif kotak-kotak lengan panjang yang digulung rapi hingga siku dipadu dengan jeans belel favoritnya dan sepasang sneakers usang. Rambut ikalnya dicepol rendah di tengkuk dengan beberapa helai lolos dari ikatan, dengan sempurna membingkai wajah mungil yang setengahnya tertutup kacamata bertangkai hitam.

Sebenarnya tidak ada yang istimewa dari cara berpakaian Piko yang, secara harfiah, adalah gayanya yang biasa, tapi bagi Ucup ia terlihat begitu memesona hari ini.

“Hai,” Ucup menyapa, menunggu Piko membenahi posisi duduknya hingga nyaman dan memakai sabuk pengaman. “You look pretty today.”

Pujian yang lolos dari bibir Ucup tanpa sempat terfiltrasi itu mengejutkan Piko; matanya membulat selama beberapa detik dan semburat merah bersemu di pipinya. “Ah,” ia berdehem, memegang tali sabuk pengaman dengan sedikit lebih erat dari seharusnya. “Makasih. Lo juga- lo- juga. Keren. I mean.”

Thanks,” Ucup memotong dan terkekeh melihat Piko salah tingkah—dengan efektif menyembunyikan keringat dingin yang sudah terbit di punggungnya karena kelepasan bicara. “Gue sih keren terus tiap hari.”

Piko mendengus tapi tak memperpanjang perdebatan. “Ini mobil siapa, Cup?”

“Bukan mobil gue yang jelas,” tukas Ucup sekenanya. Piko meninju lengannya pelan, meminta jawaban yang lebih relevan. “Gue pinjem dari bengkelnya Gofar sama Tuktuk, khusus dua hari ini untuk menemani Yang Mulia menjemput wangsit supaya Yang Mulia bisa kembali melukis.”

“Emang bisa gitu, ya? Nanti kalau dicariin sama yang punya mobil gimana?” Piko bertanya dengan nada penuh selidik, masih sangsi dengan cara Ucup mendapatkan tumpangannya. Ucup bisa maklum, karena mobil ini bukan mobil biasa yang mudah ditemukan di tempat persewaan pada umumnya. Tapi ini untuk Piko, jadi kelihatannya tak berlebihan jika Ucup mengambil langkah yang sedikit lebih riskan.

“Bisa, orang mobilnya juga dianggurin doang di bengkel nggak diambil-ambil sama yang punya, Tuktuk cuma pesen bensinnya diisi penuh sama baliknya utuh aja.” Ucup mengacungkan jempolnya. “Kita pergi sekarang?”

Piko mengangguk. “Kita mau ke mana?”

Ucup tersenyum dengan tangan bergerak di atas persneling dan kakinya mulai menginjak pedal gas.

“Ke wisata masa lalu.”

 


 

Ada beberapa hal yang tidak Ucup sampaikan pada Piko terkait perjalanan yang tiba-tiba ini, meskipun Ucup sungguh-sungguh ingin membantu Piko mengenyahkan art block-nya.

Yang pertama, mobil ini tidak menganggur di bengkel Tuktuk dan Gofar. Ucup sendiri yang meminta keduanya untuk mencari sebuah mobil yang cukup besar untuk mengangkut alat-alat lukis Piko beserta kanvasnya, dan yang kursinya cukup nyaman untuk dipakai beristirahat bila nanti Piko lelah melukis. Gofar dan Tuktuk tidak henti-hentinya meledek karena menurut mereka yang dilakukan Ucup terlalu berlebihan untuk ukuran seorang teman , dan membuat Ucup terpaksa berjanji pada mereka status hubungannya dengan Piko akan berubah ketika mobil pinjaman dikembalikan.

Yang kedua, Ucup punya motif sendiri mengajak Piko ambil bagian dalam perjalanan ini: ia ingin menghabiskan waktu sebanyak mungkin dengan Piko tanpa distraksi. Mungkin tidak terdengar seperti sesuatu yang aneh karena ini bukan pertama kalinya Piko dan Ucup bepergian berdua dalam empat belas tahun pertemanan mereka, tapi perjalanan ini berbeda karena kali ini karena Ucup tidak mengajak Piko keluar sebagai teman—setidaknya, tidak menurut kamus milik Ucup.

Nyatanya, Ucup tidak pernah lagi melihat Piko sebagai teman biasa sejak mereka duduk di bangku kelas tiga SMP. Sejak Ucup mulai sadar ia suka memperhatikan wajah Piko saat berkutat dengan cat dan kuas meski itu artinya ia harus duduk bersama kebosanan selama berjam-jam karena Piko tak suka diajak bicara ketika sedang melukis, sejak Ucup sadar ia suka menggenggam tangan Piko yang lebih kecil darinya, menyentuh kalus di ujung-ujung jarinya akibat terlalu lama memegang kuas.

Yang ketiga adalah gambling yang dibuat Ucup dengan dirinya sendiri—ia akan menjatuhkan beberapa petunjuk yang mengarah pada ungkapan perasaannya untuk Piko sepanjang perjalanan ini, yang pasti akan mengarah pada perubahan bagi keduanya entah ke arah yang lebih baik atau buruk.

Ucup sudah memupuk perasaannya dengan hati-hati selama lima tahun—benih yang semula hanya seujung jari itu telah tumbuh lengkap hingga ke ranting dan daunnya hingga rasanya mustahil tetap menyimpannya dalam sebuah pot mungil, sebuah analogi untuk Ucup dan perasaannya untuk Piko yang semakin hari semakin sulit dibendung. Hari ini, Ucup akan membawa potnya keluar, memberikannya pada Piko dan membiarkan Piko memutuskan apakah ia akan membiarkan Ucup merawatnya lebih subur atau memangkasnya habis.

Semuanya akan dimulai dan diakhiri lewat perjalanan ini.

 


 

Ucup membawa Piko ke tempat-tempat yang dulu sering mereka kunjungi saat masih sekolah; hence the name wisata masa lalu. Piko tampak menyukai ide ini, Ucup dapat melihat sorot matanya yang berbinar ketika menyusuri jalanan bersama mobil yang lajunya sengaja dilambatkan. Piko membawa buku sketsa dengan sebuah pensil yang sesekali diselipkannya di telinga ketika ia tak sedang menggambar dan fokus mengamati profil benda yang mereka lewati, lalu meraih pensilnya dan mulai mencoret-coret di atas lembar kosong ketika Ucup menghentikan mobil di depan lampu merah.

Lembaran buku sketsa Piko sudah terisi lebih dari setengahnya saat mobil Ucup melambat dan akhirnya berhenti di sebuah kawasan yang dikenali Piko adalah lapangan basket tempat Ucup dan Piko biasa menghabiskan sore sepulang sekolah hingga senja berganti gelap.

“Pik,” panggil Ucup meminta perhatian Piko. “Lo inget tempat ini?”

Piko mengangkat kepala dari buku sketsanya dan menatap Ucup dengan senyum lebar. “Inget, lah. Hampir tiap hari lo minta gue nemenin lo main basket di sini waktu kita SMA. Gue nggak ikut main, jadi gue nungguin lo sambil gambar sampe mata gue pedes karena kurang penerangan.”

“Kalau toko es krim yang sebelumnya kita lewatin?”

“Itu kayaknya tempat kita biasa janjian sebelum berangkat les, ya? Gue selalu dateng duluan, jadi gue tunggu lo di dalem, di kursi deket jendela. Terus lo tiba-tiba dateng dan nempelin muka lo yang jelek itu di kaca biar gue kaget.”

Tawa Ucup pecah mendengarnya. Kenangan-kenangan itu berkelebat dalam kepalanya seperti roll film yang berputar di proyektor, rasanya seperti baru kemarin ia dan Piko melakukan hal-hal gila atas nama masa remaja.

“Terus, lo inget toko kaset lawas deket pasar yang sekarang udah tutup itu?”

“Inget,” Piko mengangguk, tatapan matanya menerawang. “Gue inget toko itu punya semua koleksi album lawas kesukaan lo yang formatnya masih kaset pita. Lo sering ngajak gue ke tempat itu karena cuma gue yang tau selain hobi ngebobol website di internet, lo juga hobi ngoleksi benda-benda antik.”

Ucup bersandar di jok, dalam diam mendengar riuh rendah sorak sorai dari arah lapangan basket yang terasa jauh karena terhalang oleh tembok dan aspal, merasakan gelombang nostalgia menerpanya. Lewat sudut matanya, Ucup menangkap Piko yang sedang membolak-balik halaman buku sketsa, lalu dengan pensilnya membubuhi detail di sana sini untuk sesuatu yang terlihat seperti desain final gambarnya.

Ia senang Piko telah mendapatkan apa yang dicarinya, tapi esensi dari perjalanan ini tidak lantas berhenti sampai di sana.

“Gimana kalau gue bilang tempat-tempat yang kita kunjungi hari ini adalah jawaban gue untuk tema lukisan lo?”

Piko berhenti menggoreskan pensil dan menatap Ucup, terdengar tertarik. “Hmm, kedengerannya menarik karena gue juga dapet ide setelah kita ke tempat-tempat tadi.” Piko nyengir lebar. “Kita udah temenan empat belas tahun, Cup. Gue ngabisin lebih banyak hal bareng lo dalam seumur hidup gue ketimbang gue jalanin sendiri. I guess it’s not surprising that our memories of something good are colliding somewhere?”

Ucup menelan ludah, “Tapi gimana kalo gue bilang semua hal yang kita lewati itu jadi memori yang penting buat gue karena… ada elo?”

Piko menatapnya dengan kening berkerut, tidak memahami maksud ucapan Ucup. Ucup menghela nafas; sudah kepalang tanggung, pikirnya. Ia sudah bertekad tidak akan lari, tidak setelah lima tahun dilewatinya dengan hanya bisa mengagumi Piko dari kejauhan sementara sosok yang begitu ingin digapainya berdiri kurang dari lima jengkal dari tempatnya—begitu jauh namun begitu dekat. Terlalu dekat, bahkan.

“Gue main basket di lapangan karena mau keliatan keren di depan lo,” Ucup memulai pengakuannya. “Gue selalu bilang sama anak-anak kalau elo ada di bangku penonton buat gue. Mereka semua iri.”

Piko mendengus meski kedua sudut bibirnya terangkat membentuk seulas senyum kecil. “Walaupun gue jarang nonton lo main karena sibuk ngegambar?”

“Lo ada di situ aja udah cukup buat gue,” lanjut Ucup, menatap Piko lurus-lurus hingga yang ditatap merasa rikuh. “Lalu soal kedai es krim. Beberapa kali gue dateng duluan, tapi gue nggak langsung masuk. Gue tunggu lo lewat, duduk di kursi kesukaan lo di dekat jendela, pesen dua es krim, dan ngeluarin alat gambar lo sambil nunggu gue muncul. Menurut lo mungkin itu nggak istimewa, tapi nggak buat gue, Pik. Gue selalu suka ngeliat lo berada di zona nyaman, ngelakuin sesuatu yang bikin lo lupa sesaat sama sekitar. You looked… beautiful. And radiant. And I guess that’s how I realized I’ve fallen in love with you, and I still do until this very moment as we speak.”

Ucup mendengar helaan nafas yang tercekat dan itu bukan darinya. Ucup menunggu reaksi Piko, karena ia tidak akan melanjutkan bicara jika Piko tidak ingin mendengar lebih banyak darinya.

“Terus… gimana soal toko kaset?”

Ucup tersenyum kecil ketika kepingan memori lain terbuka di benaknya. “Gue seneng banget lo mau nemenin gue walaupun lo nggak suka dengerin musik pakai kaset jadul. Lo pasti nggak tau gue pernah diketawain sama yang punya toko karena senyum-senyum sendiri di belakang rak, dan dia mergokin gue lagi ngeliatin lo yang berdiri di rak lainnya.”

Ketika Ucup selesai bicara, wajah Piko sudah merah padam seperti kepiting yang baru diangkat dari rebusan. Ia membuka mulutnya hanya untuk menutupnya lagi, mengerjap beberapa kali dan bergerak-gerak gelisah di tempat duduknya.

Piko sepuluh jam yang lalu tidak mengira ia akan duduk di samping sahabat baiknya selama belasan tahun, mendengar pengakuan tentang rasa yang tersimpan rapat seperti di dalam ruang kedap. Piko bukannya tak sadar akan perhatian Ucup yang berbeda, tapi ia berusaha untuk tidak besar kepala karena Ucup selalu baik pada semua orang. Ucup selalu menyenangkan, selalu disukai dimanapun ia berada. Piko tak pernah mengira memori terbaik versi Ucup adalah hari-hari yang dihabiskan pemuda itu bersamanya, menjadi hari-hari dimana Ucup jatuh cinta padanya bertahun-tahun lalu.

Tampaknya Piko sudah terlalu lama terdiam dan itu membuat Ucup resah, karena tepat ketika ia hendak membuka mulut, Ucup buru-buru mendahuluinya.

“Gue nggak minta lo balas perasaan gue, kok, Pik. Lo bisa nolak gue, kalau lo mau. Dan kalau lo merasa keberatan sama perasaan gue, I’ll try to keep it lowkey karena nggak mungkin juga bakal hilang dalam semalam. Just- just don’t push me away. Gue nggak apa-apa nggak jadi pacar lo, tapi gue nggak- gue beneran nggak bisa kalau nggak ada lo…”

Jantung Piko terasa diremas mendengarnya. Ah, Ucup. Pemuda dengan hati yang begitu besar hingga rasanya Piko butuh banyak waktu untuk menyelami perasaannya sampai ke palung terdalam. Pemuda yang membuat Piko selalu merasa memiliki seseorang di pihaknya dalam situasi paling disfungsional sekalipun.

Pemuda yang biasanya penuh percaya diri itu kini bicara terbata setelah menyatakan cinta padanya. Bila Piko adalah mentega, ia sudah meleleh seutuhnya di atas permukaan wajan.

Piko mengulurkan tangan, menyentuh pipi Ucup dan mengusapnya lembut dengan ibu jari. “Hei, inget gue pernah bilang gue percaya, dan akan selalu percaya sama lo?”

Ucup mengangguk, “Gue inget.”

I still do at this very moment as we speak,” PIko mengulangi ucapan Ucup. “Sekarang, giliran lo percaya sama gue kalau gue bisa membayar lima tahun yang lo pakai untuk nungguin gue.”

Including our trip back home?”

Piko tertawa, “Yes, the trip back home is also included.”

Ucup tersenyum lebar dan menghembuskan nafas dengan kelegaan yang tidak dibuat-buat. Ia meraih Piko dalam rengkuhannya, menciumi setiap jengkal wajah Piko yang mampu diraihnya sementara Piko tergelak kegelian tanpa berusaha mendorong Ucup menjauh.

 

Mereka menghabiskan sisa malam itu untuk mengobrol hingga tak terasa sudah terlalu larut bagi Ucup untuk menyetir pulang dan ia tak mengizinkan Piko menggantikannya, jadi mereka memutuskan untuk bermalam di dalam mobil. Ucup menurunkan sandaran jok serendah yang ia bisa, menunggu Piko melakukan hal yang sama dan berbaring miring menghadap Piko dengan tangan terulur, meminta Piko menggenggam tangannya.

Piko meniru posisi Ucup dan menerima tangan Ucup yang terulur. Selama beberapa saat keduanya hanya terdiam, saling mencuri pandang dan tersenyum salah tingkah saat tatapan mereka tak sengaja bertemu.

“Besok, gue mau bawa lo ke satu tempat lagi,” ujar Ucup memecah kesunyian. “Tempat yang katanya bagus buat ngelukis, nggak berisik juga. Tempatnya outdoor tapi permukaannya rata, jadi lo bisa taruh tatakan kanvas lo yang gede banget itu tanpa khawatir dia bakal jatuh.”

“Tatakan kanvas…” Piko berdecak mendengar istilah amatiran itu. “Gue ikut aja ke mana lo bawa gue, deh. Gue udah tau apa yang bakal gue lukis, jadi harusnya pas kita balik gue udah rampungin paling nggak tiga perempatnya.”

“Trus lukisan lo yang satunya lagi?”

“Bisa gue selesaikan di rumah, soalnya udah nggak kena art block lagi.”

“Lo mau ngelukis apa?”

“Rahasia,” Piko menjulurkan lidah. “Lo cukup tau kalau lo bakal ada di lukisan gue.”

Kedua sudut bibir Ucup melengkung membentuk sebuah senyum yang lebarnya bisa membelah wajahnya menjadi dua bagian. “Oh, jadi gini rasanya punya pacar tukang gambar.”

 


 

(Ucup menerima setumpuk buku sketsa yang warna sampulnya telah memudar termakan usia dari Piko, seminggu setelah perjalanan penuh cerita. Ucup segera mengenalinya sebagai buku sketsa yang selalu dibawa Piko saat mereka masih SMA, dan baru hari ini ia sadar ia tak pernah sekalipun mengetahui apa yang Piko coretkan di sana.

“Ini buku yang selalu gue bawa waktu nemenin lo main basket dan nungguin lo di toko es krim,” Piko menjelaskan sambil membuka lembarannya satu per satu untuk Ucup lihat isinya. Pemuda gondrong itu terkesiap mendapati wajahnya ada di mana-mana—di sudut atas dan bawah setiap halaman dalam bentuk gambar seluruh wajah ukuran kecil, juga di tengah dalam bentuk lukisan detail setengah badan.

Wajah Ucup mengisi lembar demi lembar buku sketsa Piko tanpa pernah absen. Ucup yang sedang main basket, sedang menenggak air dari botol air mineral, sedang tertawa dengan teman-temannya, sedang menulis, sedang tidur, sedang bermain game , dan masih banyak lagi dengan beragam ekspresi. Goresan pensil Piko yang tajam dan detail tapi juga halus saat mengukir gurat-gurat wajahnya membuat Ucup merasa seperti sedang menatap foto hasil jepretan kamera dan bukan hasil lukisan tangan.

“Gue suka sama lo dari SMA, tapi gue nggak pernah yakin apa perasaan itu betulan, atau karena gue udah terbiasa sama lo dari SD,” aku Piko, dengan susah payah berusaha menyembunyikan rona di pipinya yang sudah terlanjur Ucup lihat. “Di satu titik, gue sadar perasaan gue buat lo serius karena tiba-tiba, gue ngerasa ada yang hilang kalau gue nggak ngelukis lo sehari aja. Tapi gue masih takut, Cup. Seandainya perjalanan minggu kemarin nggak kejadian, mungkin gue nggak akan pernah nemuin keberanian untuk nunjukin lo gambar-gambar ini dan kita gak bakal sampai di sini.”

Ucup meraba gambar wajahnya di buku Piko, masih merasa takjub dengan rentetan kejadian yang tampaknya telah diikat oleh takdir.

So, the trip was a success after all.)

 

 

Notes:

it took me forever to write this shdajsdnkasd literally just wanted a reason to write them being absolutely in love with each other haha