Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Fandoms:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2022-09-20
Updated:
2022-10-02
Words:
9,499
Chapters:
2/?
Comments:
5
Kudos:
14
Bookmarks:
4
Hits:
176

The White Wolf

Summary:

Selain menembakan kobaran api dan air dari mulut, juga berlari dengan kecepatan super.

Arya Stark bertanya-tanya, apakah semua semua ninja seperti Kakashi itu, aneh?

Chapter 1: Makanan Hangat

Chapter Text

ARYA

 

Dulu biasanya Arya akan terus-menerus  berusaha membujuk ayahnya untuk mengajaknya berburu ke hutan bersama yang lain.

 

Dia ingin berburu binatang besar sambil menunggang kuda dan merasakan angin juga daun yang melewati wajahnya. Dan ketika dia berhasil menangkap mereka dengan tangannya sendiri, dia lalu membayangkan memanggang daging mereka yang gemuk kemudian memakannya dengan lahap. Dia membayangkan rasanya pasti akan sangat memuaskan.

 

Dan sekarang Arya sedang berada di hutan, namun tanpa kuda juga ayahnya, dan dia tidak dapat menemukan satu binatang pun untuk diburu dan dimakan.

 

Karena itu, untuk pertama kalinya, Arya Stark sangat membenci hutan.

 

Perutnya sangat keroncongan karena sama sekali belum terisi, beberapa hari ini dia hanya memakan cacing dan juga serangga-serangga, yang menurut Arya yakin akan membuat Sansa berteriak dengan keras, jika melihat salah satu dari mereka ada di depannya.

 

Memikirkan Sansa lagi membuat Arya merindukannya, walaupun terakhir kali pembicaraan dengannya sangat menyebalkan.

 

Kebisingan Lommy yang berteriak-teriak membuat Arya sangat kesal, anak itu tidak pernah berhenti berkata Yoren seharusnya menyerah atau Kita seharusnya membuka gerbangnya . Arya ingin memukulnya sambil mencaci maki seandainya kaki anak itu tidak sakit.

 

"Jika kita memiliki pancingan, kita bisa memancing di danau itu dan mendapatkan ikan!"

 

Hot Pie yang gendut mengeluh sambil bersandar dibawah pohon besar.

 

"Jika kita memiliki pancingan, kita sudah pasti akan memiliki setumpuk ikan." Gendry yang bertubuh besar diantara mereka semua, menggertakkan gigi dengan kesal.

 

"Jadi apakah kita akan mati disini? Aku bersumpah sepertinya hutan ini tidak berujung."

 

Wajah Gendry mengerut "Jika ini berujung dan kita menemukan desa, kita hanya harus berharap bahwa para Lannister tidak ada diantara mereka semua."

 

Sejak Arya melarikan diri dari King's Landing, Arya sudah melantunkan nama orang-orang Lannister dan sekutu mereka yang sudah membuat dia menderita setiap malam. Dia sudah berdoa kepada dewa, berharap doanya didengar, lalu kemudian mereka semua mati dan dia pulang ke Winterfell dengan selamat.

 

Namun sudah lama semenjak dia pertama kali melantunkan doa-doa, dan sepertinya doa itu tidak akan pernah terkabul.

 

Gendry bangkit dan mengisyaratkan mereka untuk menggotong Lommy dengan tandu kayu, Hot Pie dan Arya menurut meskipun itu sangat berat, dan harus membuat Weasel menyingkir dari kaki Arya yang terus dipeluk.

 

"Matahari akan terbenam dan nyamuk semakin banyak, sebaiknya kita harus cepat-cepat mencari tempat untuk tidur yang aman." Arya berkata. Dia pernah mendengar lolongan serigala pada malam sebelumnya, lolongan-lolongan serigala itu terdengar jauh, namun meskipun begitu itu membuat Arya takut dan kecut, walaupun lambang House Stark adalah seekor direwolf.

 

Lommy sedikit bergeser sambil menggaruk-garuk tangannya yang gatal, dan mengejek.

 

"Bagus jika ada banyak nyamuk, kamu bisa memakannya agar tidak usah menggali-gali cacing lagi, Arry."

 

Marah, Arya membuat tandu bergoyang sedikit, yang membuat Lommy terkejut, begitupula Gendry dan Hot Pie.

 

"Aku muak dengan semua ocehanmu, jika kamu mengejekku lagi, kau akan menerima akibatnya, mengerti?"

 

Kata-kata Arya membuat Lommy ketakutan, Arya bisa melihat itu di matanya. Seharusnya mereka meninggalkan Lommy saja dan membiarkannya mati, agar tidak mendengarkan ocehannya lagi.

 

Namun hati Arya tidak sejahat Lannister, dan gerakkannya tadi hanya untuk menakut-nakuti Lommy saja supaya diam, dan sepertinya itu memang berhasil, yang membuatnya bersyukur untuk itu, karena kepala Arya sudah pusing mendengarkan ocehannya terus-menerus.

 

Mereka berjalan dengan langkah konstan tanpa arah tujuan, lengan dan pundak Arya sakit karena menggotong Lommy, dan dia yakin Hot Pie juga Gendry merasakan hal yang sama.

 

Mereka berhenti di dekat bawah pohon yang tinggi sambil menurunkan Lommy di tanah, dan beristirahat sejenak, kemudian Gendry yang wajahnya sudah mulai menumbuhkan jenggot menatap mata Arya.

 

"Naiklah keatas Arry, dan lihat apakah ada desa atau manusia juga hewan." Kemudian dia mengarahkan pandangan pada Hot Pie "Dan kamu, cari apapun yang bisa dimakan."

 

"Tidak ada yang bisa dimakan disini selain cacing dan serangga." Hot Pie menggerutu, tapi tidak membantah dan segera mencari. Begitupula Arya, dia segera memanjat pohon dan mencari pijakan di antara batang-batang pohon dengan terampil.

 

Dia sudah melakukan ini berulang kali semenjak tiba disini, ketika pertama kali dia memanjat, dia berharap semoga bisa menemukan desa, atau binatang apapun yang bisa dimakan, binatang yang memiliki daging, bukan cacing atau serangga yang tidak enak.

 

Namun setiap kali dia melakukan ini, dia hanya akan tetap melihat pepohonan hijau sejauh mata memandang, dan harapannya semakin memudar dari hari ke hari, termasuk hari ini.

 

Ketika mencapai ketinggian yang Arya rasa cukup untuk melihat kejauhan dalam jangkauan matanya, Arya dengan hati-hati merangkak melalui ranting yang kokoh dan memperhatikan sekeliling di bawahnya.

 

Benar saja, ini seperti kemarin dan kemarinnya lagi, dia tidak melihat apapun yang membuat harapannya terkabul, dan dia semakin putus asa karena perutnya yang keroncongan, Arya merasa sangat lapar.

 

Namun Arya tidak langsung menyerah, dan tetap memperhatikan kebawah selama beberapa menit lagi, dan lalu matanya melebar, itu karena dia yakin dia melihat sebuah rumah , sebuah rumah berwarna coklat di antara dedaunan yang hijau. Rumah itu berada di barat dan terlihat sangat kecil dari jarak Arya melihatnya, namun itu membangkitkan secerah harapan yang tadi terkubur dalam dirinya.

 

Arya tidak menunggu waktu lama dan segera turun kebawah, namun dia juga tidak terburu-buru, karena dia tidak tahu orang seperti apa yang ada di dalam rumah itu.

 

Ketika Arya menyentuh tanah, Gendry segera bangkit dan mengangkat alis.

 

"Kau menemukan sesuatu? Itu lebih cepat daripada biasanya."

 

"Ya, ada sebuah rumah kecil tidak jauh di arah barat, aku tidak tahu mengapa seseorang mendirikan rumah ditempat seperti ini, namun itulah yang hanya aku temukan."

 

Lommy senang mendengar itu, dan berkata dengan nada gembira.

 

"Kalau begitu cepat pergi kesana, dan siapapun orang itu, lebih baik kalian segera menemuinya, dia pasti memiliki makanan!"

 

"Apakah kamu ingin mati jika dia ternyata adalah Lannister atau orang gila?" Arya meninggikan suaranya.

 

"Jika itu Lannister lebih baik kita menyerah! Mereka menyerang kita karena Yoren tidak menuruti permintaan mereka, mereka meminta atas nama raja!

 

"Jika itu orang gila, kita juga bisa melakukan hal yang sama, dan meminta kita untuk menjadikan kami pelayannya untuk mendapatkan makanan!"

 

"Diam!" Gendry berteriak "Arry benar, jika kita tidak berhati-hati, siapa tahu kepalamu akan terpotong beberapa detik kemudian, ketika kami mengetuk pintu orang itu."

 

Lommy menjadi tidak sabar, sementara Weasel mendekati Arya.

 

"Lalu apa yang akan kau lakukan? Menyusup rumah mereka?"

 

Gendry menghela napas.

 

"Kami akan mengintai terlebih dahulu, dan kemudian menyusup ketika sudah dipastikan tidak ada pemiliknya atau dia sedang tertidur, itu satu-satunya cara"

 

Arya tahu itu benar, dia tidak ingin begitu ceroboh lagi, semenjak kedatangannya ke King's Landing, matanya sudah terbuka lebih lebar daripada sebelumnya, dia tahu orang-orang tidak selalu baik seperti cerita yang sangat disukai Sansa. Lalu dia mengajukan diri.

 

"Kalau begitu aku saja yang menyusup, badanku sangat kecil dan lincah, aku lebih baik daripada siapapun disini."

 

Gendry menggelengkan kepalanya "Sebaiknya kita melakukannya berdua, jika rumah itu kecil, dan hanya ada beberapa orang saja, mungkin kami bisa melawannya jika ketahuan, dan kemudian lari, lagipula kau punya pedang." Lalu dia menatap Lommy "Dan kamu, jaga Weasel bersama Hot Pie"

 

Arya mengenggam pedangnya ketika mendengar itu, dan mengangguk. Mata Lommy yang mengamati percakapan melebar dan menjadi sedikit panik.

 

"Kalian akan kembali sebelum matahari terbenam kan?"

 

"Jangan khawatir."

 

Gendry lalu memanggil Hot Pie yang tidak jauh dan sedang mencari-cari makanan kesana kemari dengan teriakan, lalu menyuruh mereka bertiga menunggu, sementara Arya juga Gendry pergi ke arah rumah itu.

 

Arya berlari dengan cepat, memimpin Gendry sambil mengingat arah melalui memori otaknya, tidak sulit untuk sampai di tujuan, dan beberapa menit kemudian mereka berdua melihat rumah yang terbuat dari dinding kayu-kayu yang tidak terpoles itu.

 

Arya dan Gendry bersembunyi di pohon dan menatapi rumah yang berukuran sedang, rumah itu memiliki halaman depan dengan kayu yang dipoles juga tiang dan pagar-pagar yang menyatu.

Ada dua kursi dan meja di halaman itu, beberapa kayu bakar yang dikumpulkan disamping rumahnya, juga sebuah gudang.

 

Arya dan Gendry saling menatap, dan kemudian Gendry berbisik. "Ayo kita berpencar dan lihat apakah ada orang atau tidak didalam, jika tidak, kami akan masuk, dan mengambil makanan jika kami melihatnya. Dan hati-hati dengan jebakan, Arry."

 

Bukannya Arya sebodoh itu sampai tidak akan berhati-hati. Arya sedikit mencomooh Gendry dalam pikirannya, namun ini bukan waktunya berdebat, jadi dia mengangguk dan kemudian mereka berdua berpencar arah sambil mendekati rumah.

 

Dengan hati-hati melangkah dan sedikit membungkuk, Arya memperhatikan bahwa bagian depan rumah itu memiliki jendela, jendela dengan kaca yang termurni dan terbersih yang pernah dilihatnya. Arya semakin mengerutkan kening ketika melihat itu, karena kaca seperti itu seharusnya hanya dimiliki oleh para bangsawan atau orang kaya saja, karena mereka sangat mahal, itu yang Arya tahu.

 

Namun itu malah akan membuat mengintip terlalu mudah, karena penutup kaca di dalam yang terbuat dari kain sedang sedikit terbuka. Arya berdoa dalam hati agar tidak ada siapapun di dalam, dan jika ada, semoga saja mereka merupakan orang yang baik hati, walaupun Arya tahu bahwa itu tidak mungkin sama sekali.

 

Mengintip diantara bangku kayu ke dalam jendela, Arya melihat bahwa ruangan itu cukup bersih, ada beberapa kursi yang terlihat empuk, meja, dan juga perapian yang tidak menyala.

 

Ada beberapa pintu lagi, yang mungkin untuk kamar di samping dinding.

 

Tidak jauh dari sana, ada rak yang memisahkan ruangan yang menandakan dapur dan pintu belakang, karena disana banyak sekali piring kaca cantik, panci-panci dan juga penggorengan.

 

Arya bisa melihat disana ada buah-buahan, mungkin anggur, dan juga roti, dan daging-daging yang ada di atas meja makan. Tidak ada orang saat ini, dan mulutnya mengeluarkan air liur, perutnya bertambah keroncongan, rasa lapar semakin membara dalam dirinya.

 

Tidak berpikir lebih jauh, namun sambil berhati-hati, Arya mencoba membuka pintunya dan berharap itu tidak terkunci. Sepertinya keberuntungan berada dalam pihaknya, karena pintu itu terbuka tanpa masalah sedikitpun.

 

Dengan langkah seperti bayangan Arya menyelinap masuk ke rumah, dan lalu pintu belakang dapur terbuka, itu membuat Arya mengerjap hanya untuk mengetahui bahwa Gendry yang muncul.

 

Mereka berdua tersenyum dan segera menghampiri makanan dan segera mengumpulkan daging, buah-buahan, atau apapun yang bisa mereka makan dengan cepat. Gendry membuka bajunya, dan membuat itu sebagai kantong agar mudah dibawa.

 

Mereka membuka-buka rak, dan menemukan sayur-sayuran, biskuit, dan apapun itu, Arya tidak tahu, dia hanya merasa harus mengambil semuanya. Ketika sudah selesai, mereka berdua segera keluar dan berlari dengan cepat menuju Hot Pie, Lommy, juga Weasel.

 

Tidak ada yang mengejar! Arya merasakan dadanya bergetar dengan hebat dan juga sukacita dalam dirinya, ketika dia berlari, rasanya dia ingin menangis, namun senyum lebar adalah apa yang terpapar di wajahnya. Sudah lama dia tidak mendapatkan makanan seperti ini, membayangkan buah-buahan dan daging-daging segar yang mereka berdua dapatkan, membuat air liurnya hampir menetes.

 

Ketika mereka melihat Hot Pie, Lommy, dan Weasel. Hot Pie segera menghampiri mereka dengan senyum di wajahnya karena melihat apa yang mereka bawa.

 

"Sial! Makanan sebanyak itu, berikan padaku, ayo, aku lapar!" Hot Pie bergembira dan tidak sabar.

 

"Hei jangan lupakan aku, Arry! Gendry! Aku butuh makanan untuk menyembuhkan kakiku!" Lommy berteriak-teriak dengan menyebalkan, namun karena kegembiraan mendapatkan makanan, Arya tidak peduli.

 

Weasel dengan cepat menghampiri Arya, tangannya mencoba meraih makanan, namun Arya menyuruhnya diam, sebelum Gendry yang bertelanjang dada menaruh bajunya yang penuh dengan makanan, dan Arya menumpuknya disana.

 

Hot Pie segera meraih daging asap dan melahapnya dengan rakus, sementara Lommy yang tidak bisa bergerak harus merengek-rengek meminta, Weasel mengambil anggur, dan Gendry memakan apel, sementara Arya menggigit sosis.

 

Lommy yang sudah agak tenang karena diberi sosis, bertanya sambil mengunyah 

 

"Apakah pemilik rumah itu tidak ada, atau seseorang yang baik hati kepada para anak yatim piatu, untuk kalian bisa mendapatkan banyak makanan seperti ini?" 

 

Arya mendengus  "Tidak ada siapa-siapa di rumah itu, mungkin pemiliknya sedang keluar, mungkin juga dia berpikir tidak mungkin ada seseorang yang menemukan rumahnya, sampai-sampai dia tidak repot-repot untuk mengunci pintu."

 

Gendry mengangguk sambil menambahkan dengan mulut penuh, mereka semua sedang bermulut penuh sekarang, karena mereka sangat lapar.

 

"Rumah itu sangat bersih, dan memiliki banyak barang-barang. Aku melihat senjata yang belum pernah ku temui di ruang belakang, dan juga pedang tipis panjangnya itu."

 

Memasukkan anggur ke mulut, Hot Pie menyela "Jadi mengapa kau tidak mengambil pedang juga? Itu bisa membantu kita untuk melawan orang-orang!"

 

"Jika aku membawa pedang, kita tidak akan mendapatkan makanan sebanyak ini, dan dengan pedang juga tidak akan bisa menyelamatkan kami dari para Lannister dan orang lain, kau mengerti?"

 

Gendry menggerutu, dan Arya tahu bahwa itu benar, mereka tidak berdaya jika melawan banyaknya orang seperti Lannister sebelumnya. Bahkan dengan Needle digenggamannya, Arya merasa lemah dan tidak bisa melakukan apapun saat itu.

 

Dia bahkan tidak bisa menyelamatkan Yoren.

 

"Dan makanlah secukupnya, simpan untuk nanti lagi sampai kita keluar dari hutan ini. Pemilik rumah itu mungkin akan menyadari bahwa makanan mereka hilang, jadi kami harus pergi sejauh mungkin dari sini secepatnya." Gendry mengakhiri kata-katanya, dan semua orang segera setuju, kecuali Weasel yang berdiam diri saja.

 

Mereka makan sedikit demi sedikit, dan mengunyah dengan perlahan, Arya ingin menikmati rasa ini selama yang dia bisa,  karena memakan serangga dan juga cacing bukan rasa yang bisa dibilang enak.

 

"Kalian menikmati semua itu, bocah?" Suara seseorang pria yang santai entah darimana membuat mereka semua mengerjap dan melebarkan mata, Arya langsung menarik Needle dan segera  berdiri sambil melihat sekeliling, namun tidak melihat siapapun.

 

"Siapa itu? Aku bersumpah aku mendengar seseorang berbicara!"

 

Hot Pie berkata dengan panik, dan Lommy menganggukkan kepalanya.

 

"Tapi tidak ada orang disini, dia berbicara tentang makanan, apakah makanan ini milik hantu?!"

 

Tidak ada yang namanya hantu, bodoh. Arya berpikir tanpa mengendurkan kewaspadaannya.

 

"Maaa, aku mengumpulkan buah-buahan itu selama beberapa hari, dan kalian hanya mencuri seenaknya saja."

 

Suara itu muncul kembali, dan sekarang mereka semua tahu bahwa suara itu datang dari atas pohon, ketika mereka mengarahkan pandangan mereka kesana. Arya melihat seorang pria aneh yang berambut putih halus seperti Ghost, Direwolf Jon. Dia mengenakan kaos berwarna hitam lengan panjang santai, celana panjang berwarna sama, juga sepatu dan sarung tangannya.

 

Sial, Arya tidak tahu kapan dia ada disana!

 

Pria itu tinggi walaupun sedang duduk di ranting, Arya tahu itu, dengan mata hitam gelap dan bekas luka tajam di sebelah kiri, yang menatap mereka dengan malas dari ketinggian. Namun Arya tidak bisa melihat wajahnya, karena dia memakai topeng aneh yang menutupi setengah wajah.

 

Pria itu lalu melompat, yang membuat Arya lengah karena dia melompat dari ketinggian sekitar 15 meter! Dia akan mati! Arya tidak tahu apakah dia senang karena itu, namun asumsinya dengan cepat dipatahkan karena pria itu turun dengan anggun tanpa ada sedikit pun goyah.

 

Dia tidak tahu bagaimana pria itu melakukan itu, namun itu malah membuat Arya mencengkram Needle dengan lebih keras, dan mengarahkannya ke pria itu. Gendry sudah waspada, dan bersiap juga untuk bertarung, sementara Hot Pie dan Lommy ketakutan, Weasel bersembunyi di antara mereka.

 

"Jangan mendekat!" Arya berteriak, namun orang itu tidak menghiraukan "Kau hanya sendiri! Kau bahkan tidak punya pedang, aku akan menang!"

 

"Kami hanya mengambil sedikit makanan, kami semua lapar, kau lihat bukan? Mereka hanya anak-anak, tidak perlu bertarung." Gendry berbicara dengan tenang, sementara Hot Pie dan Lommy meneriaki Ya!

 

"Maa, mengapa kalian anak-anak selalu begitu dramatis? kalian bisa menyimpan makanan itu, dan lagi, apa yang kalian lakukan di tengah hutan seperti ini?" 

 

Kata-kata pria itu membuat mereka terperangah dan sedikit tenang. namun tidak pada Arya, dia tidak akan percaya pada kata-katanya, sudah banyak tipu muslihat yang dia lihat. Kemudian pria itu mengarahkan pandangan kepadanya.

 

"Dan kamu gadis kecil, jangan memainkan benda tajam, itu akan sakit jika kamu tidak sengaja menusuk dirimu sendiri, kau tahu?"

 

Arya melebarkan matanya mendengar kata-kata pria itu. Dia tahu? Tidak, tidak mungkin! Dia hanya mengejekku! Arya menenangkan diri, dan dia mau tidak mau berpikir, apakah penampilannya mirip seorang gadis? Namun setelah rambutnya dipotong dan tidak mandi selama beberapa hari, Arya yakin penampilannya mirip seorang lelaki, lagipula dia sekotor dan sebau anak lelaki manapun.

 

Hot Pie dan Lommy menjadi santai mendengar itu, itu bodoh, mereka terlalu percaya pada orang asing. Namun yang paling aneh adalah Weasel yang tidak pernah memempelkan tubuhnya selain pada Arya, segera menjadi tenang dan menghampiri pria itu.

 

Pria itu mengacak-acak rambut Weasel yang sudah gimbal dengan senyum dimatanya, setidaknya Arya yakin itu senyum. Lalu Hot Pie mengaku.

 

"Kami adalah anak yatim piatu m'lord, kami seharusnya dibawa ke The Wall untuk menjadi disumpah dan menjadi Night's Watch, namun pemimpin serta semua orang sudah dibantai oleh para Lannister."

 

"Ya, mereka semua orang yang biadab, bahkan membunuh Night's Watch yang sudah jelas tidak memihak siapapun, dan anak-anak!" Lommy mengatakan itu, yang menurut Arya lucu, karena dia mungkin akan menyerah dan mencium sepatu Lannister langsung, jika dia bertemu dengan mereka.

 

Gendry yang masih waspada membuka mulutnya juga.

 

"Kami tidak tahu kami dimana sekarang, m'lord. Beberapa hari ini kami hanya makan serangga dan cacing, jadi kami terpaksa mencuri dari rumahmu. Kami mohon maaf."

 

Setelah itu, hanya ada keheningan yang terjadi, pria itu masih mengacak-acak rambut Weasel, sementara matanya mengamati mereka semua. Itu membuat Arya sedikit gelisah karena takut. Kemudian pria itu menghela napas.

 

"Yatim piatu ya…? Jika kalian benar-benar tersesat dan tidak punya tempat bernaung, ikut denganku, aku tidak suka melihat anak-anak berkeliaran di antah berantah."

 

Pria itu lalu berjalan melewati mereka meninggalkan Arya yang masih memegang Needle dengan ekspresi melongo, sementara Weasel mengikutinya, dan kemudian pria itu menggendong Lommy di depan dadanya.

 

"Ini luka yang cukup parah, tapi aku bisa menyembuhkannya."

 

"Terimakasih, m'lord ." Lommy mengatakannya sambil menahan rasa sakit karena luka.

 

"Maaa. Jangan panggil aku ' m'lord' , aku tidak tahu kata-kata apa itu, panggil saja aku Kakashi." Pria itu, yang bernama Kakashi, menjawab dengan malas.

 

Menyarungkan Needle lagi, Arya lalu mengikuti pria itu bersama Hot Pie yang tersenyum gembira, dan Gendry yang mengerutkan kening.

 

Lalu menurut Arya, mungkin, mungkin memang masih ada pria yang baik di dunia ini.

 

Dan semoga saja harapannya benar, dan  tidak akan pupus lagi.






Sudah dua hari semenjak Arya tinggal bersama Kakashi Hatake, dan dua hari itu membuat hari-hari yang dia alami bersama Yoren seperti mimpi.

 

Kakashi merupakan orang yang aneh, dia selalu mengenakan ekspresi malas di wajahnya seperti orang yang kurang tidur, berjalan membungkuk, dan juga bercanda, walaupun Arya yakin itu sama sekali tidak lucu.

 

Dua hari itu Arya tidur di ranjang yang empuk, dan bukannya tanah yang keras. Mungkin karena sudah lama dia tidak merasakan ranjang seperti itu, jadi dia akhirnya tidur tanpa memimpikan leher ayahnya yang terpotong.

 

Dia juga sudah mandi, dan sebagai akibatnya semua orang sekarang sudah tahu bahwa dia adalah perempuan, karena Kakashi malah membawa baju baru yang memiliki rok dari desa terdekat. Arya tidak tahu itu dimana, dan Kakashi membutuhkan beberapa jam untuk kembali dari sana.

 

Pada saat itu, Arya terus menyangkal, dan kemudian Gendry malah menimbrung sambil berkata juga tertawa: 'jika kamu memang lelaki, keluarkan milikmu dan kencing di depan kami, Arry!' , setelah itu, Lommy dan Hot Pie juga menyetujui, yang membuat Arya kalah.

 

Arya lalu menatap Kakashi sambil bertanya-tanya, bagaimana kamu mengetahuinya? Dan Kakashi hanya tersenyum dengan matanya sambil menjawab 'Seorang Hatake mempunyai penciuman yang kuat kau tahu? Orang bilang kami adalah seekor anjing!'

 

Hatake adalah nama Klan Kakashi, namun Arya tidak pernah mendengarnya, mungkin itu karena dia juga yang sering bolos dalam pelajaran-pelajaran seperti itu, dan jika ada Sansa disini, Arya yakin dia pasti akan tahu.

 

Menguap, Arya turun dari tempat tidur dan keluar kamar, meninggalkan Weasel yang masih tertidur.

 

"Lihatlah, siapa putri yang cantik sudah bangun!"

 

Lommy yang sedang duduk di sofa, mengejek kepada Arya seperti biasanya, yang membuat Arya melotot.

 

"Berbicara seperti itu lagi, dan kau akan kupukul."

 

Arya terlalu mengantuk sekarang untuk meladeni Lommy, Lommy sudah diberi obat oleh Kakashi, setiap hari berlalu dia menjadi semakin sehat dan juga semakin menyebalkan.

 

Tenggorokan Arya kering, dan dia merasa sangat haus, di dapur ada Hot Pie yang sedang memasak. Hot Pie sudah mengajukan memasak semenjak pertama kali melihat kompor Kakashi, dan Kakashi hanya mengajukan beberapa tes sebelum menyetujuinya.

 

"Apa yang kau masak?" Arya berbasa-basi sambil menuangkan air dari teko ke dalam gelas, gelas itu juga terbuat dari kaca, kaca yang halus yang menurut Arya sangat mengesankan.

 

"Ini daging goreng yang dibumbui, telur mata sapi, dan nasi, juga sup terong."

 

Nasi, Arya belum pernah memakan nasi sebelum berada disini, namun itu terasa sangat enak ketika dicampur dengan sesuatu yang gurih, dan membuatnya ketagihan.

 

"Dimana Tuan Kakashi?"

 

"Dia sedang menebang kayu bersama Gendry, Tuan Kakashi memiliki perapian untuk pandai besi, dan Gendry sangat bersemangat untuk menempa lagi katanya, jadi mereka memerlukan kayu untuk dibakar. Mereka sudah pergi lama sekali, dan akan muncul ketika sarapan siap. Tuan Kakashi yang mengatakan itu, mungkin sebentar lagi." Hot Pie mengangkat bahunya. "Dan bangunkan Weasel, sarapannya hampir masak!"

 

Setelah semua kegilaan bersama Yoren, Hot Pie sepertinya tidak bertambah menyebalkan, pikir Arya. Dia lalu membangunkan Weasel untuk sarapan, dan dia bangun dengan semangat, namun anak itu masih belum mau berbicara, atau mungkin dia sama sekali tidak bisa berbicara seperti Hodor.

 

Duduk di kursi, sementara Lommy mengoceh bersama Hot Pie, Arya mendengar ada suara gedebuk di arah luar tempat kayu bakar disimpan, yang menandakan Kakashi juga Gendry sudah kembali, dan kemudian mereka muncul dari pintu depan.

 

"Kalian sudah memulai sarapan tanpaku? Aku terluka"

 

Kakashi mengatakannya sambil duduk, dan Gendry mengikuti sambil berbicara.

 

"Ketika kemarin kami tiba disini, sulit untuk menemukan binatang untuk dimakan, dan jika kami menemukannya, itu adalah jenis yang sulit ditangkap. Tapi tadi aku melihat rusa berkeliaran dan Kakashi langsung menembaknya dengan kunai, itu hebat sekali."

 

Arya tidak tahu apa itu kunai, dan dia sedikit kesal karena memang mereka tidak pernah menemukan binatang untuk diburu sebelumnya, yang membuatnya memakan cacing dan serangga.

 

"Hidup selalu mengujimu, nak, itulah namanya kehidupan. Kau harus terbiasa."

 

Kakashi membalas ketika Hot Pie membagikan nasi di atas mangkuk kepada mereka semua. dan Lommy menimbrung.

 

"Jadi kalian membawa daging rusa? Itu sangat hebat, kami bisa memasaknya sehingga Arry disini tidak perlu lagi memakan cacing!"

 

Mata Arya menyipit dan mengarahkan pandangan tajam karena mendengar itu, namun kata-kata Kakashi tentang rusa membuat Arya kembali memikirkan Ayahnya, ketika pulang dari berburu, Ayahnya paling sering membawa pulang rusa selain babi.

 

Arya masih belum melupakan Ratu Cersei, Joffrey, dan juga para pengikutnya, Arya akan membunuh mereka semua ketika tiba waktunya.

 

"Jika kamu benar-benar mendapatkan rusa, jauhkan dia dari Lommy, dia akan memakan semua daging rusa itu mentah-mentah dan kemudian mati. Lihat saja dia, sangat kurus." Arya mengejeknya kembali.

 

Lommy mengerutkan kening, namun itu dihentikan oleh Hot Pie yang selesai menaruh semua makanan di meja dan tersenyum.

 

"Atau mungkin kita semua bisa memulai makan! Oh aku sangat lapar!"

 

"Anak baik disini benar, diam dan mulai makan, buat diri kalian gemuk." Kakashi menambahkan sambil tersenyum.

 

Kakashi lalu menyatukan kedua tangannya, dan mengatakan 'Selamat makan' Arya tidak tahu mengapa dia melakukan itu, namun mereka semua mengikuti, karena itu terdengar bagus.

 

Arya dan yang lain mengambil sendoknya, sementara Kakashi menggunakan dua tongkat kecil yang disebut 'sumpit', rupanya di tempat asal Kakashi, mereka semua makan menggunakan itu.

 

Saat Kakashi menyebutkan tempat asalnya, itu membuat Arya penasaran, namun ketika dia menanyakannya, Kakashi hanya tersenyum dan tidak menjawab, dan itu malah membuat Arya bertambah semakin penasaran, Arya kesal dengan itu.

 

Masakan Hot Pie tidak terlalu buruk dan bisa dibilang enak, nasinya begitu lembut dan disatukan dengan daging babi panas berlemak juga bawang bombai yang menyerap, bisa menambahkan cita rasa tersendiri.

 

Telurnya renyah ketika Arya menggigit, Arya tahu bahwa itu ditambahkan garam dan juga merica sebagai bumbu. Meminum sup terong dari mangkuk yang sangat kecil dengan lahap, Arya merasa sangat puas ketika kehangatan memenuhi mulut lalu tenggorokannya.

 

Dan untuk sekejap… dia bisa melupakan kekejaman, yang masih bergemuruh di luar sana.




Gendry

 

Kakashi menyuruh mereka untuk berlatih berburu, Gendry sudah bisa berburu, walaupun dia merasa dia akan kalah ketika sendirian menghadapi binatang babi atau rusa yang besar.

 

Dia melihat ke arah Kakashi dan juga Dylan, (itu adalah nama asli Hot Pie, Kakashi tidak ingin memanggil dia dengan Hot Pie, jadi dia meminta nama aslinya.)

 

Mereka berdua sekarang berada di halaman tanah depan rumah, dan sedang berlatih menusuk-nusuk dengan tombak, menggunakan manusia buatan sebesar dan setinggi orang dewasa, yang terbuat dari ranting sebagai target.

 

Dibesarkan di King's Landing dan sebagai pandai besi, Gendry hanya pernah mencoba tombak dan pedang sesekali. Dia memang suka membuat mereka, namun mengayunkannya merupakan satu hal yang berbeda.

 

Melirik ke arah Lommy yang sedang kesal karena masih tidak bisa berjalan, Gendry memperhatikan Arry yang memiliki binar di matanya. Walaupun Arry merupakan seorang perempuan, namun sepertinya dia yang paling terobsesi dengan senjata-senjata tajam itu daripada mereka.

 

Namun siapapun memang bisa kagum ketika melihat Kakashi memperaktikan tombak, dia mengayunkan mereka dengan sangat leluasa dan halus, gerakannya terasa alami saat dia memutar-mutar senjata itu.

 

Di King's Landing banyak orang yang merupakan seorang kesatria, namun Gendry bisa mengklaim, bahwa Kakashi lebih baik daripada mereka hanya dari gerakannya saja.

 

"Kapan giliranku? Hot Pie bahkan tidak bisa mengayunkan mereka, seharusnya aku yang lebih dulu berlatih."

 

Arry bergumam dengan kesal di sampingnya, dia mempunyai Needle , namun Kakashi tidak memperbolehkan dia menggunakannya tanpa diawasi.

 

"Tenanglah, bukannya kamu bisa menggunakan mereka, badanmu begitu pendek sementara tombaknya begitu besar." Gendry bercanda.

 

Arry mendengus "Kalau begitu aku hanya akan menggunakan Needle , aku sudah berlatih berhari-hari menggunakannya, aku bisa melawan seseorang dengan ini."

 

"Aku juga bisa melawan seekor kelinci jika kamu memberikan pedangmu padaku, Arry." Lommy menimpal, yang membuat Arry melotot ke arahnya. Biarpun kakinya sakit dan Kakashi sudah menyuruh dia untuk tidak saling mengejek, entah bagaimana anak itu sama sekali tidak mendengarkan.

 

Mungkin karena dia melihat Kakashi lunak kepada mereka, jadi dia tidak merasa takut. Namun Gendry takut, bagaimana jika Kakashi tidak tahan lagi dan kemudian mengusir mereka? Berdehem, Gendry mengubah arah pembicaraan.

 

"Jika nanti giliranmu, kamu seharusnya meminta Kakashi mengajarimu kunai, Arry. Dan lihat bagaimana dia melemparkannya, itu sangat keren."

 

Arry tertarik dan mencondongkan tubuh.

 

"Ya! Kau selalu membicarakan tentang kunai itu terus-menerus, aku jadi ingin melihatnya."

 

Kunai merupakan pisau lempar milik Kakashi, namun pisau itu berbentuk aneh, dan Gendry belum pernah melihat yang seperti itu sebelumnya. Gendry tidak berbohong soal itu, ketika mereka bertemu rusa, rusa itu lari, dan dia ingat ketika itu, Kakashi dengan malas namun cepat mengambil kunai dari tas kecil yang digantung di celananya, dan segera menembakkan itu menggunakan satu tangan.

 

Lemparan Kakashi sangat kuat, karena kunai itu melesat seperti anak panah dan segera menancap di leher rusa, dan melemparkan tubuhnya ke tanah. Gendry ingat beberapa jam sebelumnya ketika dia menyaksikan hal itu dengan kagum, dia berdiam diri selama beberapa detik, sebelum Kakashi tertawa kecil.

 

Suara retakan boneka ranting membuat Gendry dan semuanya melihat ke arah suara itu, disana Dylan sudah ambruk di tanah dengan napas kelelahan keluar dari tubuhnya yang berkeringat.

 

"Maaa… sepertinya seseorang sudah mencapai batasnya, Gendry, kemari ini giliranmu"

 

Gendry menuruti permintaan Kakashi dan segera bangkit, dia lalu menerima tombak sementara Dylan pergi ke tempat Arry.

 

"Katakan padaku, apakah kamu pernah memegang tombak, Gendry?"

 

"Aku pernah membuat mereka, jadi aku memang pernah memegangnya, tetapi tidak pernah menggunakannya. Jadi kurasa aku buruk dalam hal ini, namun jika hanya untuk membunuh babi hutan, aku yakin aku bisa menggunakannya." Jawab Gendry.

 

Kakashi mengangguk "Betapa hebatnya itu. Kalau begitu tugasmu saat ini adalah berlatih untuk mengalahkan seorang manusia, mengerti? Berburu di hutan terkadang kau akan menemui seseorang yang tidak terduga, jadi aku mau kau bisa membela diri."

 

"Kalau begitu, beri aku pedang, aku lebih hebat menggunakan pedang daripada tombak!"

 

Kakashi mengacak-acak rambut Gendry, dia suka melakukan itu ke siapapun dari mereka semua. Dan Gendry akan berbohong jika dia mengatakan dia menyukai itu, namun dia tidak mengeluh.

 

"Kau tidak bisa selalu berganti-ganti senjata saat berburu, nak, dan seorang pencuri terkadang akan langsung menyergap tanpa pernah diketahui oleh indramu terlebih dahulu.

 

"Jadi pertama, mahirkan penggunaan tombak. Tombak adalah senjata yang paling cocok untuk berburu selain panah… tentu saja yang satu itu untuk jarak jauh, sekarang ikuti apa yang ku katakan, kemudian kau bisa mencoba pedang."

 

Kakashi tidak menunggu jawaban Gendry, dan terus memberikan intruksi. Gendry mengikuti setiap gerakan yang dia peragakan. Memukul, menusuk, menebas, menarik, setiap gerakan demi gerakan membuat Gendry kewalahan, namun beberapa menit kemudian dia semakin terbiasa.

 

"Kami belum membahas asal-usulmu lebih jelas, nak. Katakan, selain menjadi pandai besi, bagaimana dengan kota dan kehidupan sehari-harimu?" Kakashi bertanya dengan malas sambil terus menebas.

 

"Tidak ada hal yang menarik dalam hidupku, Tuan. Ketika aku pertama kali dibawa menjadi magang dari seorang pandai besi dan mulai memanaskan logam sendiri, aku tahu aku ditakdirkan untuk sesuatu yang seperti itu." Gerakan Gendry tidak berhenti. "Aku tidak pernah mengenal ayahku, dan ibuku telah tiada sejak lama. King's Landing sangat keras, dan seluruh wilayah berbau busuk oleh air kencing juga kotoran manusia. Namun ketika aku keluar dari sana dan mengalami hal-hal yang belum pernah terjadi padaku sebelumnya, aku berpikir bahwa aku lebih suka tinggal di sana."

 

Gendry merasakan angin menerpa wajahnya, dan tidak terasa tubuhnya menjadi semakin ringan. Gerakannya menjadi bertambah sedikit lebih cepat dari waktu ke waktu, namun itu masih dalam tahap wajar, dan tidak membuatnya lelah.

 

Gendry belum pernah berlatih seperti ini sebelumnya, dan dia harus mengakui bahwa menggerakan tubuhnya seperti ini membuatnya merasa bebas. Rasanya dia bisa melawan apapun yang berada di hadapannya, dan tidak ada yang akan menghentikannya.

 

Tentu saja itu hanya sebuah perasaan dan imajinasinya, namun tetap saja, rasa senang di dadanya tidak bisa dipalsukan.

 

"Hmmmm… Hobi-mu adalah menempa kalau begitu, dan apa makanan kesukaanmu?" Kakashi menggerakkan tombak dari bawah ke atas dan membuat rumput-rumput bergoyang.

 

Gendry tidak tahu apa maksudnya 'hobi' dan pertanyaan tentang makanan kesukaannya sedikit aneh. Namun ini adalah Kakashi, dan banyak hal aneh datang dari dirinya, jadi dia tidak bertanya mengapa, dan malah memberitahu.

 

"Ah, aku akan memakan apa saja selama bisa dimakan."

 

"Jadi kau akan memakan makanan anjing juga? Yah, itu sebenarnya cukup enak." 

 

Kakashi bercanda. Dan Gendry menjadi malu ketika mendengar itu, dan kemudian membayangkan daging ikan, sapi, atau apapun yang tercampur seperti bubur yang kotor.

 

"Tentu saja tidak! Maksudku, aku tidak pilih-pilih, namun aku lebih suka daging, daging bersih, terutama daging sapi dan babi."

 

"Maaa… sayang sekali, kukira kau suka makan-makanan anjing, dulu aku pernah mencoba Wheskers milik Pakkun, rasa ikan salmon, teksturnya sedikit basah namun tidak buruk."

 

Gendry menatapnya dengan aneh, Pakkun adalah salah satu anjing milik Kakashi, dia sering disebut-sebut, namun Gendry tidak pernah melihatnya, jadi dia berasumsi bahwa mereka mungkin sudah mati.

 

Kakashi menanyakan beberapa hal lagi tentang Gendry ketika mereka menggerakkan tombak, semuanya Gendry jawab dengan kebenaran, namun beberapa kali dia akan berbohong karena malu.

 

Namun dia merasa senang, sudah lama tidak ada yang berbicara padanya… dengan nada kepedulian seperti itu.

 

Dan ketika Gendry mengayunkan tombak lagi, dia menyadari bahwa, dia berbakat dalam hal ini.


"Kau yakin kau bisa membuatnya?" Kakashi bertanya ketika Gendry melihat lebih detail pada Kunai .

 

Sekarang malam hari dan mereka semua sedang duduk di sofa sambil mengenakan 'pakaian santai', lilin dalam kaca sudah dinyalakan dan menggantung di dinding. Cuaca menjadi lebih dingin, dan suara jangkrik terdengar di luar, namun semua itu membuat perasaan Gendry lebih tenang.

 

"Aku yakin Gendry pasti bisa, dia selalu membual tentang menjadi pandai besi, dan helm bantengnya yang selalu dia pamerkan!" Arry mengangguk yakin dengan Weasel yang meringkuk di sebelahnya, dia selalu percaya padanya semenjak kejadian Yoren, dan entah mengapa itu membuat Gendry senang.

 

"Bisakah kamu membuatkan untukku juga? aku ingin mencobanya!" Lommy bertanya dengan nada sedikit memohon, sementara Dylan sedang memakan Onigiri dengan mulut penuh.

 

Arry mendengus mendengar itu. "Untuk apa dia membuatkannya untukmu? Kau bahkan tidak bisa berdiri. Nanti saja, dan biarkan dia membuatkannya untukku dulu."

 

"Melempar pisau tidak memerlukan kaki, dan aku bisa menjatuhkanmu sambil menutup mata, Arry."

 

"Aku akan melakukan itu padamu terlebih dahulu sebelum kamu bisa berkedip!" Arry menjulurkan lidah.

 

Itu lelucon, pikir Gendry. Tadi siang Arry memang mencoba melemparkan pisau itu, namun satupun tidak ada yang bisa mencapai target, namun itu cukup dekat, jadi Gendry memujinya.

 

Sambil masih memegang Kunai, Gendry menatap mata Kakashi.

 

"Ya, tentu saja. Desainnya sederhana dan ukurannya juga kecil. Aku yakin aku bisa membuatnya."

 

"Sudah kubilang!" Arry mengangguk puas.

 

"Hmmm, baik. Kita coba buat beberapa besok, aku masih mempunyai besi di penyimpanan, tentu saja kami harus membuat arang terlebih dahulu."

 

Kakashi berkata dengan nada malas, sambil mengambil Kunai dari genggaman Gendry. Mereka telah mengumpulkan banyak kayu yang sangat besar tadi pagi, banyak pohon-pohon dengan kayu seperti itu di daerah ini.

 

Perapian Kakashi juga besar, dia tidak tahu apakah Kakashi membuat itu dan semua tempat ini sendiri, namun mereka semua terlihat lebih baik daripada yang dimiliki beberapa dari orang kaya di King's Landing.

 

"Daging rusa masih ada banyak, Tuan Kakashi, bisakah kami membuat sesuatu yang lain dengan itu hari ini?" Makanan Dylan sudah habis sepenuhnya, dan dia mengubah percakapan dengan bersemangat. Gendry ingin mendengus karena itu, namun setelah mengalami kelaparan selama beberapa minggu, dia akan lebih menghargai apapun yang bisa dimakan.

 

Selama dua hari ini, Kakashi menunjukan makanan yang belum pernah mereka makan sebelumnya, seperti Ramen berkuah yang dicampur dengan kari ayam juga daging sapi bersama rempah-rempah , Onigiri nasi yang diisi ayam dengan rumput laut di luarnya , Dango kue bulat manis berwarna-warni seperti permen, dan banyak lagi. Mereka semua terlihat menggoda, dan rasanya juga enak dan membuat ketagihan.

 

"Yah, aku juga tidak ingin menyia-nyiakan makanan, kita bisa mengasapkannya sebagian agar mereka bisa disimpan lebih lama. Namun hari ini kita akan menyiapkan Yakiniku, tentu saja jangan memakannya bersama nasi agar tidak terlalu kekenyangan…

 

"...itu tidak baik untuk tubuh."

 

Dylan bersemangat pada ucapan Kakashi, walaupun Gendry yakin dia tidak tahu apa itu Yakiniku . Namun Gendry bisa melihat sedikit sinar di matanya.

 

"Hebat! Bisakah aku membantu menyiapkan mereka?"

 

Arry memutar sedikit matanya walaupun tidak menyembunyikan kegembiraannya juga, dan Kakashi tertawa, yang menandakan 'ya', lalu berjalan ke arah dapur. Dan Dylan mengikuti dengan bersemangat.

 

"Dia sangat bersemangat ketika memasak." Ucap Arry sambil memeluk Weasel di tangan kanannya setelah Kakashi juga Dylan menjauh.

 

"Heh… bagus dia seperti itu, memakan masakan yang enak setelah makan banyaknya serangga adalah surga!" kata Lommy, dan Gendry mau tidak mau setuju, dia masih bisa membayangkan ingatan beberapa hari lalu akan rasa pahit, lendir, juga asam yang tidak menyenangkan di mulutnya.

 

Arry menyeringai, "Jika dia bisa mengubah serangga-serangga itu menjadi makanan lezat, aku tidak keberatan mencoba mereka lagi."

 

Weasel sepertinya tidak setuju, dan Lommy mengerut dengan jijik.

 

"Ugh, apakah kamu serius? Jika aku bisa memilih, aku tidak akan pernah memakan itu."

 

"Bodoh! Maksudku, jika kita tersesat lagi suatu saat nanti, kami akan bisa memakan masakan enak!"

 

"Kepalamu sudah gila Arry, serangga-serangga dan cacing tidak akan pernah enak bagaimana pun caramu memasaknya!" 

 

"Tentu saja aku tahu, aku hanya bercanda dan berandai-andai!"

 

Percakapan mereka yang penuh omong kosong berlanjut begitu lama, sampai-sampai Gendry bosan, tetapi Weasel hanya terus meringkuk. Beberapa menit kemudian Kakashi dan Dylan memanggil mereka semua dari dapur, dan mereka segera berdiri dan menghampiri.

 

Di depan Kakashi, di atas meja, ada yang terlihat seperti tungku segi empat dengan arang di dalamnya dan besi lurus yang dibentuk seperti jaring kotak di atas.

 

Dibelakangnya Dylan berseri-seri mengangkat banyaknya daging mentah yang dipotong-potong menggunakan nampan, dengan beberapa sumpit juga enak mangkuk kecil.

 

"Tuan Kakashi bilang, Yakiniku berarti kami harus memanggang daging yang sudah terpotong sendiri di atas panggangan, dan kemudian memakannya ketika kami merasa itu sudah cukup masak.

 

"Bukankah itu menarik? Memakan langsung setelah dipanggang! Bayangkan seperti apa rasanya. Oh, dan kalian juga bisa mencelupkannya pada saus yakiniku ini! Tuan Kakashi yang membuatnya."

 

Kakashi terkekeh sambil menyiapkan semuanya, Arry dan Weasel duduk bersebelahan, sementara Dylan dan Lommy di seberang mereka, dengan meja ujung masing-masing di isi Gendry dan Kakashi.

 

"Dagingnya juga segar, Yakiniku paling enak saat segar." Kakashi memberitahu.

 

"Tentu saja daging apapun lebih enak dimakan segar." Kata Lommy, datar.

 

"Karena itu, bersiaplah nanti kalian akan memakan daging asap, jika mereka dibiarkan lama, mereka akan mengeras dan kurang lezat."

 

Dari mata Arry dan Dylan, mereka sepertinya tidak sabar untuk memulai apa yang ada di depan mereka. Jadi Arry segera menimbrung.

 

"Bisakah kita makan lebih cepat? Aku ingin mencoba Yakiniku ini!"

 

"Maaa… perut kalian sepertinya mengamuk lebih cepat daripada biasanya." Kakashi menaruh enam mangkuk kecil masing-masing yang dibawa Dylan tadi.

 

Gendry melihat mereka semua bersiap-siap dengan tidak sabar, dan sekali lagi berpikir bahwa bagaimana hidupnya mungkin dengan cepat berubah dalam dua hari ini.

 

Dulu di King's Landing dia beberapa kali memakan di kedai makan bersama teman-temannya, mereka bercanda dan tertawa sekali-kali. Namun pada saat itu rasanya mereka jauh sekali, dan tidak pernah mencapai perasaan hangat.

 

Mungkin saat itu karena dia lebih terobsesi dengan menempa besi dan juga takut akan dimarahi oleh tuannya, jadi dia tidak pernah bergaul dengan teman-temannya secara lama.

 

Namun untuk saat ini, bersama Arry, Kakashi, atau bahkan Dylan, Lommy juga Weasel. Perasaan hangat mulai muncul di dadanya sejak berburu pagi tadi. Dia tidak tahu apa yang menyebabkan itu, namun rasanya menyenangkan dan membuatnya tersenyum.

 

Kakashi mengkipas-kipasi arang agar menyala sesuai kebutuhan, dan tidak mengeluarkan asap, lalu dia menyumpit salah satu potongan daging yang di letakan secara membundar di sekitar kompor,

 

"Lakukan saja seperti ini, lalu tunggu untuk mencapai kematangan sesuai selera kalian, dan kemudian…" Kakashi membalik daging, sementara Dylan mengangguk bersemangat, dan Weasel mengendus-endus.

 

Ketika bau daging menyebar sampai masuk ke hidung Gendry, dan Kakashi rasa sudah siap, lalu mengambilnya dengan sumpit dan mencelupkan daging itu ke mangkuk kecil di tangan kiri dan memakannya— masih aneh rasanya bagaimana Kakashi memakan makanan tanpa membuka topeng, ketika mereka pertama kali melihatnya, mereka semua melongo, dan saat ini pun masih.

 

Gendry tidak tahu bagaimana dia melakukannya, dan Arry pada saat itu dengan blak-blakkan bertanya dan minta diajari. Lalu kemudian, Kakashi hanya tersenyum dan berkata 'Sihir'

 

Sial, Kakashi memang penuh keanehan, dan ketika pertama kali dia turun dari ketinggian 15 meter saja, dan tidak terluka sedikitpun, itu mungkin menandakan bahwa dia memang memiliki sihir.

 

Namun pada saat ini, melihat dia mengunyah walaupun masih tertutup topeng, itu membuat lidah Gendry menjadi semakin asam dan meneguk ludahnya sendiri.

 

Dia ingin mencobanya!

 

Namun Gendry tidak menyangka bahwa, semua anak-anak juga melakukan hal sama, namun itu bisa dipahami karena bau daging itu saja sangat memabukan.

 

Gendry dan mereka semua mulai mengambil daging menggunakan sumpit, itu sedikit sulit dan membutuhkan kebiasaan terlebih dahulu, namun dia mendapatkannya dan segera memanggang. Sementara Dylan kesulitan, yang membuat Kakashi tertawa dan memberinya garpu dan sendok.

 

Jadi ketika daging Gendry mulai kecoklatan, dia mulai mengangkat dan mencelupkan itu ke saus coklat kehitaman yang agak lengket dan memakannya.

 

Pada saat itu, rasa daging yang gurih, dan suara tawa dari semua orang, mungkin tidak akan pernah dia lupakan.