Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Series:
Part 1 of Ushijima Wakatoshi The Boyfriend Material
Stats:
Published:
2022-09-27
Words:
1,202
Chapters:
1/1
Kudos:
12
Bookmarks:
1
Hits:
554

Ushijima Wakatoshi and Me

Summary:

Ushijima Wakatoshi yang ternyata berbeda dengan bayangan orang jika sudah menyangkut orang yang dia sayangi.

Work Text:

Ushijima Wakatoshi. Seorang atlet voli dengan smash mematikan yang terkenal di kalangan masyarakat Jepang. Karena performanya di lapangan, didukung tubuh dan wajahnya, banyak gadis yang mengidolakannya. Orang lain mungkin akan melihat Ushiwaka, akronim yang digunakan masyarakat untuk memanggil Ushijima Wakatoshi, adalah orang yang kaku dan dingin. Itu karena mereka belum mengenal Wakatoshi. Jika sudah mengenal dekat, maka sifat aslinya akan muncul.

Wakatoshi yang kukenal adalah orang yang aneh, pecinta voli sejati, dan yang paling mengejutkan adalah sifat clingy nya. Saat tinggal di asrama atlet, tempat tinggal kami berdekatan. Dan hampir setiap hari Wakatoshi mengunjungi apartemenku untuk sekedar menyapa. Jangan lupakan bahwa ia selalu mengupdate setiap kegiatan yang dilakukannya dilengkapi foto juga lewat pesan. Kemudian di malam hari ia akan melakukan video call denganku setelah ia selesai latihan.

Teman-teman timnya sudah paham dengan kelakuan Wakatoshi yang super bucin ini. Tidak jarang juga mereka menggoda Wakatoshi yang tidak bisa jauh dariku. Lebih parah lagi kalau dia menginap di apartemenku. Love language Wakatoshi adalah physical touch dan act of service. Selama di apartemen, Wakatoshi akan membuatku merasa seperti putri. Ia juga akan memelukku saat kami sedang menonton film di sofa. Tapi itu semua membuatku merasa spesial. Wakatoshi tidak pernah menunjukkan afeksi seperti ini kepada orang lain. Padahal aku duluan yang menyukainya. Sepertinya kalimat ‘she fell first, but he fell harder’ cocok menjadi deskripsi hubungan kami.

Drrttt

Ponselku bergetar, pasti pesan dari Wakatoshi.

[Tobio sedang ngambek karena Shoyo mengambil macaronnya]

Benar, kan. Pasti dari Wakatoshi.

[Haha, mereka itu pasti selalu saja berantem]

Ponselku bergetar lagi.

[Panasnya sudah turun?]

[Masih 38 derajat sih, tapi sudah mendingan]

[Jangan nonton tv, sekarang tidur ya.]

[Siap!]

Mematikan ponselku, aku pun memutuskan untuk tidur. Sudah dari kemarin badanku panas. Wakatoshi masih di Korea dan baru kembali besok. Di saat seperti ini aku sangat merindukan Wakatoshi. Sakit saat tinggal sendiri adalah hal yang paling menyedihkan. Orang tuaku sudah pindah ke Hokkaido, adikku juga sedang ujian. Mau tidak mau aku hanya bisa berbaring sambil makan beberapa roti yang untungny aku beli dua hari lalu.

Entah sudah berapa lama aku tertidur, tapi harum aroma makanan ini membangunkan diriku. Aku pun memutuskan untuk bangun dari kasur dan keluar. Wakatoshi sedang berdiri di depan kompor dan memasak. Tidak pernah sebelumnya aku merasa sebahagia ini. Aku memang bukan tipe orang yang terlalu clingy, jadi aku tidak pernah melakukan hal seperti memeluk atau menelfon Wakatoshi lebih dulu. Tapi sekarang aku berlari ke arahnya dan memeluk Wakatoshi dengan erat. Masa bodoh dengan bauku sekarang, aku bahagia akhirnya Wakatoshi pulang.

“Bukannya kamu baru pulang besok?” tanyaku sambil memeluk Wakatoshi erat.

“Pertandingannya sudah selesai, jadi aku pulang duluan.”

Aku mendongak menatap Wakatoshi. Tanpa bisa kukendalikan, mataku berkaca-kaca mendengar penuturan Wakatoshi.

“Aku sudah membuat bubur, kamu makan dulu ya. Ah, aku beli teh yuzu juga kemarin, aku seduh dulu kalau begitu.”

“Huwaaa Wakatoshii” Aku menangis kencang sambil memeluknya. Wakatoshi tampak terkejut dengan tindakanku.

“Kenapa malah menangis?” tanya Wakatoshi sambil mengusap-usap punggungku.

“Aku hanya senang punya pacar sebaik dan setampan Ushijima Wakatoshi. Maaf ya ‘Toshi, aku kadang dingin kepadamu. Aku janji deh setelah ini aku akan jadi pacar yang lebih baik!” Wakatoshi tertawa mendengarku.

“Terima kasih, tapi aku melakukan semua hal itu bukan karena ingin balasan. Aku melakukannya karena aku menyukainya. Jadi jangan merasa terbebani ya, dan juga jangan terlalu dekat dengan si Atsumu. Aku tidak suka.”

“Hei aku kan tidak ada perasaan dengan Atsumu, lagipula itu semua masa lalu, ‘Toshi.”

“Hmph, asal tau saja ya, dia masih sering mengharapkan kita putus di depan wajahku. Kalau bukan karena kemampuannya sudah kudepak dia.”

Walaupun kemampuannya jelek, kamu juga tidak bisa mengeluarkannya dari timnas, Wakatoshi.

“Iya, aku tidak akan dekat-dekat dengan Atsumu. Aku akan nempel dengan Ushijima Wakatoshi seorang, hihi.”

Wakatoshi dengan sabar menyuapiku bubur buatannya. Perasaan kemarin roti di lidahku saja terasa pahit, tapi kenapa bubur ini sangat enak ya? Apa karena kemampuan memasak Wakatoshi, atau karena disuapi oleh Wakatoshi? Atau mungkin keduanya yang lebih tepat.

Setelah menghabiskan bubur, aku memutuskan untuk mandi air hangat. Suhu tubuhku kini sudah hampir kembali menjadi normal. Pusing yang kurasakan kemarin juga sudah hilang. Dan lagi tubuhku terasa sangat lengket karena keringat. Selesai membersihkan diri, kulihat rumahku sudah kembali rapi. Bahkan sprei dan selimut di kamarku sudah diganti. Berkah mempunyai pacar dengan love language act of service memang.

“Wakatoshi?”

Wakatoshi sudah duduk di tempat tidurku. Ia menepuk-nepuk kasurku, menyuruhku untuk tidur di sebelahnya. Aku pun menuruti kemauannya.

“Untuk pertama kalinya aku tidak bisa fokus saat pertandingan. Bokuto juga menertawaiku karena terpeleset di lapangan.”

Wakatoshi memulai ceritanya sambil mengusap-usap kepalaku dengan pelan.

“Seorang Ushiwaka terpeleset? Apakah ada siaran ulangnya? Aku mau menonton.” Ucapku sambil menahan kikikan tertawa. Tidak bisa kubayangkan Wakatoshi dengan wajahnya yang datar itu terpeleset.

“Entahlah, sepertinya akan ada banyak rekamannya di internet.”

“Aku akan mencarinya nanti.” Wakatoshi membaringkan tubuhnya di sampingku, dan tangannya memeluk tubuhku.

“Lagi sakit masih saja bisa bercanda, dasar kamu ini.”

“Bukan aku namanya kalau tidak begitu.”

Aku merasakan Wakatoshi sedang menatapku lekat-lekat. Dan benar saja saat aku melihat wajahnya, ia sedang menatapku.

“Ketika aku sakit kamu yang menjagaku di rumah sakit, walaupun harus keteteran dengan pekerjaanmu. Bahkan kamu mandi di rumah sakit agar bisa mengejar jam kantor. Tapi saat kamu sakit aku bahkan tidak ada disini.”

“No,’Toshi. Jangan berfikir seperti itu. Seperti katamu tadi, aku melakukannya karena aku suka. Jadi jangan merasa terbebani ya.” Tangan Wakatoshi yang besar meraih wajahku.

“Kalau begitu, menikahlah denganku.” Terkejut, aku langsung duduk dari posisiku tadi. Dasar Wakatoshi, selalu saja punya kejutan untukku.

“M-menikah? Apa itu tidak terlalu terburu-buru? Aku masih 25 tahun, dan kamu juga masih 27 tahun. Kita masih terlalu muda untuk menikah.”

“Apa kesiapan dan kedewasaan seseorang harus diukur dengan umur? Kita berdua sudah stabil secara emosional, finansial, dan juga kita sudah berpacaran selama 7 tahun. Aku rasa itu waktu yang cukup untuk mengenal satu sama lain. Jadi, menikahlah denganku.”

Aku membeku. Tidak kusangka Wakatoshi akan melamarku secepat ini. Genggamannya di tanganku membuatku tersadar kembali. Kucoba mencari keraguan di kedua bola matanya, tapi tidak kutemukan. Wakatoshi serius dengan ucapannya.

Mengingat perjalanan cinta kami yang berliku, memang kami berdua sudah melewati berbagai masa sulit maupun menyenangkan bersama-sama. Wakatoshi ada saat kakak perempuanku meninggal, aku juga ada disana saat Wakatoshi mengalami masa sulit karena sifat ibunya yang keras. Saat aku mendapatkan pekerjaan di perusaah impianku, Wakatoshi datang membawakan kue untuk merayakannya.

Sebelum kami berpacaran, aku adalah orang yang menyukai Wakatoshi lebih dulu. Wakatoshi yang dulu adalah orang yang sangat kaku, pendiam, dan dingin. Walaupun begitu, aku tetap mencoba untuk mendekatinya. Posisiku sebagai manajer mereka mempermudah hal itu. Setelah hampir menyerah, aku bertemu dengan Atsumu yang ternyata menyukaiku. Semenjak itu Atsumu sering mengajakku kencan saat aku menonton pertandingan mereka. Dan sejak saat itu Wakatoshi berubah. Ia mulai menyadari perasaannya, dan singkatnya kami jadian. Bukan berarti perjalanan kami mulus setelah itu. Ada banyak pertengkaran yang terjadi diantara kami. Kesalahpahaman, perbedaan pendapat, dan pertengkaran kecil dan besar lainnya sudah pernah kami lalui. Namun seberapa pun besarnya pertengkaran itu, pada akhirnya kami tetap bersama kembali. Mungkin ini adalah saatnya kami menjalin hubungan ini ke arah yang lebih serius.

Tidak menjawab pertanyaannya, aku justru memeluk Wakatoshi dengan erat kemudian menciumnya. Tindakanku sudah lebih dari cukup untuk menjadi jawaban dari pertanyaannya. Yang terpenting adalah beberapa bulan lagi margaku akan berganti menjadi Ushijima. Marga yang sama dengan lelaki yang selalu ada untukku.

Series this work belongs to: