Chapter Text
Hyogo, Desember 2021.
Ada banyak hal menyedihkan yang terjadi dibalik riuh malam natal. Ramainya dekorasi tak mampu menipu celah mentari yang terhalang mendung, cuaca yang terlampau dingin, serta tubuh yang lebih rentan oleh luka.
Ya.
Luka tidak pernah benar-benar mengering di musim dingin, ia hanya akan membeku—menanti saat yang tepat untuk kembali basah dan terkoyak.
Luka fisik mungkin bisa terobati, tapi luka hati? Siapa yang tahu pasti. Karena Desember selalu membawa kontemplasi, refleksi, dan memori—baik selama sepanjang tahun ini, maupun resolusi bertahun lalu yang tak kunjung tunai.
Bicara perihal memori, sosok orang tua tentu menjadi peran krusial dalam proses mengolah persepsi dan impresi peristiwa-peristiwa yang tersimpan di benak seorang anak, tentu ini bukanlah suatu pengecualian bagi si kembar Miya; Atsumu dan Osamu.
Tumbuh hanya dengan bayang samar akan figur sang Ayah yang telah lebih dulu berpulang, keduanya merasa beruntung karena memiliki seorang ibu yang kuat dan mampu menopang beratnya mengasuh anak kembar di usia yang terbilang muda—serta stigma perempuan sebagai ibu tunggal yang kerap kali menjadi batu sandungan.
Tapi kini, tepat dua tahun setelah sang ibu menyusul belahan jiwa yang terlebih dulu pergi mendahuluinya, Osamu memilih untuk menenggelamkan diri di balik meja kasir—memisahkannya dari lalu lalang laju para pegawai kedai yang mulai merapikan sisa-sisa dekorasi natal dan papan promo potongan harga menu onigiri yang sudah berakhir.
Osamu tidak menunggu kehadiran Atsumu kali ini. Karena pada dasarnya ya sama saja seperti hari-hari, hingga minggu-minggu sebelumnya—terhitung sejak enam bulan ke belakang; Atsumu tidak pernah pulang. Entah apakah ini semua karena keduanya berbagi tabiat yang sama (menimbun kesedihan dengan bekerja), atau karena Atsumu memang benar-benar disibukkan dengan segala turnamen dan latihan dengan MSBY Jackals serta Tim Nasional Jepang. Apapun itu, Atsumu tidak pernah menjelaskan secara rinci alasannya.
Mungkin hanya sekadar pesan singkat berisi ucapan maaf akan janji yang tak mampu ditepati, atau sesekali para kurir membawa bingkisan dari Osaka ke kedai miliknya sebagai bentuk permintaan maaf.
Osamu berusaha untuk tidak menyalahkan Atsumu. Ia berusaha mengerti, terlepas dari kenyataan jika saat ini mereka hanya punya satu sama lain, Atsumu punya jenjang karier serta masa depan cemerlang yang harus diraih secara mandiri.
Everyone has to go on their own show, right?
Begitu hiburnya dalam hati.
Di tengah heningnya kerumunan, Osamu termenung.
Mengapa salju selalu turun di bulan Desember? Mengapa ia harus melewati malam teramai di bulan ini seorang diri? Dan yang paling membuat isi kepalanya penuh dengan tanda tanya, mengapa perih luka di hatinya kembali terasa kala penghujung tahun datang?
Apa karena ia masih belum bisa menerima kenyataan akan kepergian ibunya? Atau karena Osamu merasa, jika cepat atau lambat, semua orang akan pergi dan meninggalkannya di titik yang sama?
Pada akhirnya, semua pertanyaan tak terjawab itu hanya ia simpan sendiri. Meski dirinya terlalu rapuh untuk menahan semua rasa sakit itu seorang diri.
Ada kala di mana Osamu memilih untuk bermalam di kedai, enggan untuk menapakkan kaki ke dalam rumah—ke tempat yang dulu menjadi sumber hangat tawa dan cinta, kini hanya menjadi tempat kosong berisi penuh dengan kenangan. Kenangan yang perlahan menyesatkan Osamu dalam kelamnya sepi.
Kendati demikian, Osamu memilih tetap bertahan di Hyogo. Entah, sudah berapa kali Atsumu membujuknya untuk ikut dengannya ke Osaka hanya untuk ditolak setelahnya.
Mungkin Osamu bukanlah perempuan lugu yang mau-mau saja kena bujuk rayu Atsumu, mengingat ia tidak bisa begitu saja meninggalkan kedai dan rumah hanya untuk tetap dekat dengan saudara kandungnya. Tapi yang tidak disadari oleh Osamu, ia tetaplah perempuan biasa; suatu makhluk dengan persepsi sentimental yang tinggi. Mungkin alasan yang sesungguhnya bukan karena ia tidak ingin pindah ke Osaka, melainkan karena dirinya hanya belum mampu beranjak jauh dari memori yang ada di Hyogo.
Lamunannya goyah kala lonceng pintu kedai berbunyi sepuluh menit setelah tamu terakhir keluar dari sana.
"Sorry, we're closing… Oh," Osamu tertegun memandang siapa yang baru saja memasuki pintu kedainya, "Akaashi-san? Ada acara apa ke Hyogo?"
Merasa panik, pria itu berusaha menjelaskan kedatangannya dengan tergesa-gesa, "A-aku habis ketemu potential mangaka di sini. Dan ini cuma mau takeaway beberapa onigiri untuk perjalanan balik ke Tokyo. Tapi kalo emang udah tutup ya udah, aku bisa beli di konbini stasiun aja."
"Udah, masuk aja…" Osamu terkekeh sembari menurunkan beberapa kursi bar, "aku sengaja siapin beberapa buat diriku sendiri and I have some pretty good booze. Itu kalo kamu mau mampir lebih lama sih."
Akaashi memiringkan kepalanya, "Are we celebrating something?"
"Not really, but I can share it with you. Again, if you're willing to stay a little bit longer."
Dan malam itu, sepi tak lagi menjadi satu-satunya yang menemani Osamu.
Osaka, Mei 2022.
Gemuruh ramai lapangan saat itu tak mampu menggoyahkan perasaan cemas Atsumu. Hatinya sesak-dikerubuti rasa cemas akan saudara kembar perempuannya yang jauh di kampung halaman. Semua berawal ketika ia tak lagi menerima pesan singkat dari Osamu yang bisa dibilang hampir setiap bulan menanyakan kapan dirinya akan pulang. Tapi selama tiga bulan terakhir, dering ponselnya terbatas pada notifikasi pesan grup, media sosial, serta dating apps yang mulai jarang ia periksa.
Dia ke mana, sih?
Pikirnya dalam hati, sembari membagi konsentrasinya pada pergerakan tubuh dan strategi permainan tim.
Atsumu sadar jika dirinya tidak berada di posisi yang pantas di mana ia bisa seenaknya membombardir ponsel Osamu dengan segala pertanyaan sepele nya. Mungkin ia benar-benar sibuk, atau mungkin Osamu punya pasangan baru yang membuatnya lupa jika ia masih punya sanak saudara yang sedang meniti karier di sini.
Eh, kalo dia punya pacar, masa dia nggak curhat sama aku, sih?! Sejak kapan dia jadi secretive gini? Nggak bisa dibiarin nih.
Lamunannya pecah sesaat setelah dirinya terpeleset ketika berusaha mendaratkan kakinya yang ia gunakan sebagai tumpuan set untuk Hinata.
“Atsumu-san, kamu nggakpapa?”, tanya Hinata menunjukkan rasa khawatir.
Seketika sang Kapten, Shuogo Meian, memberi tanda pada pelatih untuk menghentikan sesi latihan hari itu, lalu merangkul Atsumu yang kesulitan berjalan hingga ke ruang ganti.
“Sorry, Capt. Nggak akan keulang lagi deh, beneran!”, ujar Atsumu menahan rasa sakit yang baginya tidaklah seberapa.
“Mikirin apa sih, hmm? Bumble date minggu lalu?”
“Sial, bukan bang!”, pangkas Atsumu cepat, “soal Osamu nih, dia nggak ada kabar sama sekali akhir-akhir ini.”
“Lha gimana? Mau aku tanyain ke dia? Akhirnya ya, Ats, kamu memberi restu untukku sebagai kakak iparmu.”
Atsumu melepas napas berat, “Ah, tau gitu tadi nggak usah cerita.”
Meian tertawa lepas, “Hahaha. Well, I think you’ve been away from home for too long deh, Ats.”
Dan dengan semua luapan pikiran akan segala kemungkinan tentang Osamu, Atsumu memutuskan untuk mengambil cuti dan pulang.
***
Keesokan harinya, ketika semua keperluan miliknya sudah siap di bagasi mobil, Atsumu masih saja gelisah memandangi layar jutaan warna di genggaman tangannya.
Tidak ada balasan apapun dari Osamu. Bahkan akun Instagram Kedai Onigiri dan beberapa pegawainya tidak ada yang menggubris pesan dari Atsumu.
Merasa khawatir, sang supir pun berani membuka suara, “Udah siap semua kak? Apa masih mau nunggu dulu?”
“Oh, udah lengkap kok. Berangkat sekarang aja ya.” Tukas Atsumu memberi kepastian.
Di sepanjang perjalanan yang memakan waktu kurang dari 30 menit itu, ragam pertanyaan kembali berkecamuk di benaknya;
Ada apa dengan Osamu? Apa dia baik-baik saja? Sesibuk itukah ia hingga mengabaikanku?
Tak lama ia merasa ada yang menarik perhatiannya-tepat di pemandangan sepanjang jalan yang ia tangkap melalui ekor matanya. Pemandangan itu tampak seperti transisi antara warna-warni papan toko dengan kontras hijau padi yang belum siap dipanen. Kemudian a terngat bagaimana senior kesayangannya, Kita Shinsuke, memberitahu seluruh anggota tim Inarizaki tentang dasar-dasar menanam dan panen padi saat libur kenaikan kelas di Hyogo.
“Ah,” seketika kenyataan menyambar kesadaran Atsumu, “ terakhir aku pulang tuh kapan sih? Oktober tahun lalu? Eh, bukan. September…”
Sesaat setelah ia menyadari bahwa dirinya sudah tidak pulang ke kampung halaman lebih dari setengah tahun, prasangka nya kini tumbuh semakin meliar dan menjadi-jadi.
Apa jangan-jangan Osamu sengaja diam karena marah sama aku? Karena melewatkan ulang tahun dan satu tahun meninggalnya Ibu?
Salah satu alasan Atsumu jarang pulang karena ia memang benar-benar disibukkan oleh latihan dan serangkaian tes untuk menguji kemampuan dan ketahanan fisiknya untuk persiapan Olympics nanti.
Namun jika boleh jujur, sesungguhnya dirinya tak pernah sampai hati melihat Osamu yang seperti kehilangan arah setelah ditinggal oleh Ibu. Selama ini Osamu lah yang selalu menemani Ibu; mulai dari diagnosa awal kanker payudara, sulitnya masa-masa kemoterapi, hingga saat-saat terakhir Ibu di dunia. Atsumu hanya sesekali menemani ibu di rumah dan merencanakan piknik sederhana di taman dekat kediaman nenek Shinsuke, hingga tak lama kemudian kondisi beliau memburuk dan menghembuskan napas terakhirnya.
Ia sadar perilaku abai yang ia lakukan hanya akan memperburuk hubungan mereka berdua, tapi Atsumu tidak menyangka bila Osamu lebih memilih untuk mendiamkannya-di mana itu belum pernah Osamu lakukan selama ini-berbagi hidup dengannya sebagai saudara kembar.
Waktu terasa dua kali lebih lambat ketika jarak antara rumah dengan posisi dirinya saat ini semakin dekat, Atsumu mempersiapkan mentalnya dengan apapun yang akan ia hadapi beberapa menit ke depan.
“Ini langsung ke rumah, Kak?” Tanya si supir kepada Atsumu yang masih menancapkan pandangan kosongnya ke luar jendela mobil.
“Ah,” Atsumu terhenti sejenak, “ke Kedai Onigiri Miya aja, ya. Coba cari di Maps.”
Tujuan pertama Atsumu menapakkan kakinya di Hyogo tak lain adalah Kedai Onigiri milik Osamu. Sebagai salah satu investor utama, nampaknya Atsumu tidak pernah benar-benar memperhatikan sejauh mana usaha nasi kepal ini telah berkembang. Baginya, investasi yang ia beri semata-mata untuk membantu Osamu untuk mengembangkan potensinya di bidang kuliner. Dan dengan kegigihan serta optimisme yang selalu ia lihat dari saudari kembarnya, sudah tentu Atsumu akan lebih mudah menemukan Osamu di kedai dibandingkan tempat lain di penjuru Hyogo-termasuk di rumah mereka sendiri.
Sesampainya di sana, seperti biasa, Atsumu mengabaikan tanda ‘dorong’ di pintu kedai dan menariknya. Sahut sambutan dari para pegawai Onigiri Miya pun langsung terdengar.
“Selamat datang! Wah, Atsumu-san!!”
“Osamu mana?” Tanya Atsumu dengan mata yang menginspeksi setiap sudut ruangan. Tidak biasanya ia mendapati meja kasir kedai tanpa Osamu.
“A-anu, Atsumu-san..” Ujar salah satu pegawai terbata-bata, berusaha untuk tidak membuat saudara kembar dari atasannya itu mengulang pertanyaan yang sama, “Osamu-san lagi nggak enak badan.”
“Hah? Sakit apa? Dia di mana sekarang? Rumah sakit?” rasa khawatir Atsumu seketika melonjak tinggi, berusaha mencari tahu sebanyak mungkin informasi tentang satu-satunya keluarga yang ia punya.
Pegawai yang lain pun saling melempar pandangan satu sama lain dengan wajah ragu dan takut-seperti sedang menutupi sesuatu.
Berusaha mencari benang merah dari semua kejanggalan yang terjadi tentang Osamu, Atsumu meninggikan nada suaranya dan mendesak mereka untuk membuka suara. “Saya Tanya, di mana Osamu sekarang?”
“Osamu-san ada di rumah,” sambung petugas kasir yang menggantikan sang pemilik kedai, “beliau sekarang hanya sesekali ke kedai dan melakukan pemeriksaan keuangan dari rumah.”
Atsumu kesulitan menerima informasi yang baru ia dengar-merasa jika itu tidak masuk akal.
Osamu? Kerja di rumah? Mana mungkin…
Karena sejauh yang dirinya pahami, Osamu adalah pribadi yang ingin selalu terlibat di dapur. Itulah alasan mengapa ia mendirikan kedai onigiri.
Namun tanpa basa-basi ia langsung keluar dari kedai dan memberi arahan kepada supir pribadinya untuk langsung menuju rumah dengan rute terdekat.
Tak butuh waktu lama bagi Atsumu untuk sampai di depan pagar rumahnya. Dengan segera ia keluar dari mobil dan berjalan cepat menghampiri pintu masuk. Rasa takutnya semakin menjadi-jadi kala diilihatnya pot-pot bunga yang layu, seperti tak pernah dirawat oleh sang penghuni rumah.
“Sam, are you there? Ini aku, Sam.” Ucap Atsumu sembari mengetuk dan sesekali berusaha membuka gagang pintu yang terkunci.
Atsumu berusaha mengintip dari sela-sela korden jendela yang tak sepenuhnya menutupi kaca, samar-samar ia mendapati bayang Osamu yang berdiri tepat di balik pintu.
“I know you’re inside, Sam. Buka dong, please. Segitu marah kah sampe nggak mau bukain pintu?” sambung Atsumu yang terus menerus mengetuk pintu, “Maaf, Sam. Please, aku bisa jelasin.”
“Udah, nggak perlu, mending kamu balik Osaka aja. Aku males ketemu kamu.”
“Oke kalo itu mau mu, tapi seenggaknya please buka pintunya, Sam.”
“Ogah! Udah sana, jangan ke sini lagi!”
“Gini deh,” potong Atsumu memberi solusi, “you don’t have to see me, tapi please dibuka dikit aja pintunya, nggak enak diliat tetangga. Aku janji nggak akan masuk rumah.”
“Janji?”
“Iya, apa gunanya juga bohong..”
“Okay…”
Selang beberapa detik setelah suara kunci yang terbuka terdengar, dengan cepat Atsumu membuka paksa pintu. Bukan Atsumu namanya jika dirinya tidak melakukan trik licik untuk mengelabui Osamu.
“Gotcha! Now tell me what’s happen-OH MY GOD WHAT THE FUCK IS HAPPENED TO YOU???!!”
“Shit!” Antisipasi Osamu yang seketika kembali mengunci pintu dan mau tak mau membiarkan saudara kembarnya masuk ke dalam rumah, “shhh.. shh.. shhh!! Bisa diem nggak?!”
Atsumu tak bisa berhenti memandangi perubahan yang terjadi pada tubuh Osamu. Ia sudah menduga di dalam seluruh scenario terburuknya, namun ia masih tidak menyangka jika kini ada sebuah nyawa yang berada di dalam perut Osamu.
“Yeah, I know. I’m pregnant. Jadi ngeliatinnya nggak usah gitu banget.”
Atsumu menghela napas panjang, “I was gonna say you’re getting more fat but holy shit-that’s unexpected. Jadi ini kenapa kamu ngilang?”
“That’s the reason why I never tell you about…” sentak Osamu menunjuk dan memutar jemarinya kearah perutnya sendiri, “…this! I know you will frak out like this.”
"Ya iyalah!" tukas Atsumu, “Siapa bapaknya, Sam? Don’t tell me if he’s a random guy you’ve met on Tinder?” Tanya nya asal.
Situasi berubah menjadi getir.
Merasa direndahkan, Osamu tak menyangka akan apa yang baru saja dilontarkan oleh saudara kembarnya, “At least he was here when you weren’t! Aren’t you the one who’d rather fuck around instead of checking up on your ONLY family?!” sambung Osamu menghardik, “and I even feel sorry for whomever the woman who will bear your child someday!”
“Wow,” Atsumu terpaku dengan apa yang baru saja ia dengar, “that’s.. harsh, Sam.”
“I know. I’m sorry, Tsum.”
“No. Maaf ya, Sam.”
“It's fine.”
Osamu mempersilahkan Atsumu untuk duduk di ruang makan dan menyodorkan beberapa potong buag apel yang baru saja ia kupas.
“Teh apa kopi?”
Atsumu beranjak dan mengambil gelas, mengisinya dengan air dingin yang selalu tersedia di kulkas.
Hening pun seketika menyeruak di seluruh penjuru ruangan. Keduanya yakin jika salah satu di antara mereka tidak ada yang memulai pembicaraan, rasa canggung ini takkan kunjung reda.
“Akaashi.” Tutur Osamu pelan sambil menuang susu ke dalam mangkuk sereal miliknya.
“What?”, Atsumu terheran mendengar nama yang tiba-tiba terlontar dari mulut Osamu, “It’s him. Akaashi Keiji.”
Atsumu hanya terdiam. Responnya tergolong lambat untuk orang yang terkejut dan tak tahu bagaimana harus bereaksi atas informasi yang baru saja diterimanya.
“WHEN? HOW?”
Osamu mengangkat bahunya, “It just happened waktu malam natal tahun lalu, dan… yaudah. It's not like I can undo my action either, right?”
"Iya sih, mau nggak kamu harus terima segala konsekuensinya."
Osamu tersenyum, ia membelai halus perutnya yang sudah tidak bisa lagu ditutupi oleh sweater, "I never think it as a consequence, though. Having another living being inside me, it's beyond anything you can imagine."
"Well, fair enough.." Atsumu mengubah posisi duduknya agar lebih dekat dengan Osamu, “Dia tau nggak tentang ini? Lalu kamu gimana?”
Osamu berjalan menuju meja makan dan kini duduk tepat di hadapan Atsumu-menggeleng, “Ya nggak gimana-gimana, I’ll keep the baby alone. And don’t you dare to tell a soul about it! Terutama Bokuto-san atau bahkan ke Akaashi.”
Atsumu meraih kedua tangan saudarinya dan menggenggamnya dengan kuat, “Kenapa? Kamu nggak liat gimana susahnya ibu dulu sendirian besarin kita? Kamu mau anakmu nanti bertanya-tanya siapa bapaknya?”
“Justru karena ibu bisa ngerawat kita berdua sendirian, pasti aku akan sama kuatnya kayak ibu. Anakku bakal punya ibu dan oom yang sayang banget sama dia. Ya kan, Tsum?” Jawab Osamu menyambut genggaman Atsumu, berusaha meyakinkan diri jika ia akan baik-baik saja.
Suara Osamu retak, sama seperti pertahanan dirinya yang perlahan runtuh akan derasnya rasa sedih dan kecilnya harapan di pelupuk matanya-merembes basah ke pipi dan punggung tangan yang berulang kali mengusap wajah letihnya.
Tanpa pikir panjang, Atsumu memeluk Osamu dengan segala rasa bersalahnya. “I’m so sorry, Sam…”
“Rasanya sepi banget, Tsum. Aku.. aku kangen Ibu..”
Atsumu hanya mampu mengangguk, berusaha terlihat kuat di hadapan Osamu yang ternyata jauh lebih kuat dibandingkan dirinya sendiri.
“Too bad sekarang kamu cuma punya aku, Sam. Nggakpapa ya, walaupun sekarang cuma punya kakak yang seringnya nggak berguna ini.” Kelakar Atsumu pecahkan pedih yang memberatkan hati keduanya.
Osamu tertawa di tengah-tengah isak tangisnya, “Sialan. Udah ih, lepasin. Keringetmu bau.”
“Eh, sorry. Kamu mual ya? Sensitif sama bau-bau gitu kah?” Tanya Atsumu seketika menarik diri.
“Enggak, emang dasarnya kamu emang bau.”
“Yeee,” peluk Atsumu makin erat, “nih rasakan, bau cowok ganteng!”
Tawa Osamu lepas di antara seka air mata dan hidung yang memerah, “Welcome home, Atsumu.”
“Yeah, I’m home. Sekali lagi aku minta maaf ya udah bikin kamu ngerasa kesepian di sini.”
