Work Text:
Ucup bohong, jika ia mengatakan hatinya tidak melesak melihat Piko patah hati. Tentu saja, ada banyak jenis patah hati di dunia. Ucup tahu. Namun, tidak ada patah hati yang semenyakitkan yang dialami Piko.
Patah hati yang tak terduga.
Piko tidak melihatnya datang.
Tak disangka, tak ditunggu, tak pernah terpikirkan.
Ucup tak berlebihan saat ia berkata, ia nyaris bisa mendengar hati Piko meretak—cepat, tak terhentikan, dan pada akhirnya, runtuh dan hancur.
Dikhianati oleh ayahnya sendiri, satu-satunya keluarga yang Piko punya.
Misi mereka memang berhasil; Raden Saleh di tangan, tawaran Dini menyambut, dan meskipun masa depan tampak tak terprediksi, komplotan kecil ini tahu bahwa hal itu tak lagi terlihat sekeruh sebelumnya.
Bagaimanapun, senyum dan tawa tak mampu menyembunyikan gelap di wajah Piko, kosong yang membayangi tatapnya.
Ucup tahu.
Pengalaman malam ini akan menjadi mimpi buruk bagi Piko.
Dan benar saja.
"Yah—"
Ucup terkesiap, ketika mendengar Piko merintih.
Kantuknya hilang seketika.
Hari ini begitu menguras energi, hingga saat mereka sampai di rumah, hal pertama yang dilakukan Piko adalah mengincar sofa untuk berbaring sejenak.
Sekejap yang menjadi lelap.
Ucup memutuskan untuk tidak membangunkan sahabatnya itu.
Alih-alih menyuruh Piko pindah, Ucup justru menyambar selimut dan bantal, sehati-hati mungkin membuat Piko lebih nyaman dalam tidurnya.
Piko tidak bergeming, bahkan saat Ucup menyelipkan penyangga untuk kepalanya.
Lelah raga dan jiwa tampak nyata dalam raut wajahnya.
Ucup bohong, jika ia mengatakan hatinya tidak mencelos saat melihat Piko terbuai. Beban yang mewarnai perlahan sirna, digantikan tenang dan damai.
Meski tidak lama.
Karena seperti yang Ucup duga, mimpi buruk itu datang tanpa permisi.
"Yah—" Piko mengerang lagi.
Ucup tidak tahu kapan ia bergerak, kapan ia berpindah. Yang ia tahu, mendadak ia bersimpuh di sisi sofa, menggenggam tangan Piko.
"Gue di sini, Pik," bisik Ucup lembut. Dirasa jemari yang bertaut dengan miliknya menguat. "Itu cuman mimpi."
Piko bergumam dalam ketidaksadaran.
Memutar tubuh, ia kini meringkuk menghadap Ucup, menarik tangan mereka berdua ke depan dada.
Ucup bohong, jika ia mengatakan jantungnya tidak jumpalitan tak karuan.
Begitu erat.
Begitu dekat.
Begitu lekat.
Ucup tidak tahu bahwa ia menahan napas, hingga Piko bergumam lagi, dan kali ini jarak di antara mereka tak menghalangi Ucup untuk mendengar dengan jelas.
"Cup."
Satu silabel, dikatakan dengan khidmat.
Seolah Piko tahu Ucup di sini.
Seolah kehadiran Ucup begitu kuat, hingga menembus kabut mimpi.
Ucup bohong, jika ia mengatakan hatinya tidak berdetak dua, tiga, mungkin empat kali lebih cepat.
Dan semuanya terjadi begitu saja.
Ucup merosot mundur.
Tangan Piko menggantung.
Seulas senyum terlukis di wajah sahabatnya, seolah bahagia, seakan itu hasil yang diharapkan dari dorongan sesaat yang menyambangi.
Piko tersenyum.
Dalam tidurnya.
Ucup seharusnya merasa lega.
Namun yang Ucup tahu hanya rasa bersalah atas apa yang baru ia lakukan.
Piko nggak tahu, Ucup menggigit bibir, darah dan sesal tercecap. Perih dan sakit. Yang penting, Piko nggak tahu. Gue nggak sengaja.
Ucup bohong, jika ia mengatakan, semua bukan apa-apa, tak ada artinya, residu adrenalin dan perasaan terpendam yang bertemu.
Bohong.
Ia yang paling tahu kebenarannya.
Ciuman pertama Ucup terasa bagai dusta.
"Makasih udah nyelimutin gue, Cup." Piko menepuk pundak Ucup. Keras dan tegang, Piko tak mengira ia akan menggunakan dua kata tersebut untuk menggambarkan sentuhan sesaat itu.
Namun begitulah bahu Ucup yang terekam oleh tangan Piko.
"Gue pasti capek banget, sampe langsung ketiduran di sofa."
Ucup tidak menoleh, matanya terlampau fokus pada layar-layar komputernya.
"No problemo."
Piko menatap belakang kepala sahabatnya.
Ingin ia memutar kursi Ucup, melempar lebih banyak tanya, menggesa penjelasan, meminta pernyataan.
Tak ada yang dilakukan.
Piko menghela napas.
Tangan terangkat pelan, merabai bibir.
Itu cuman mimpi, simpulnya. Bukan apa-apa.
Dusta.
Ia yang paling tahu kebenarannya.
Piko bohong, jika ia mengatakan hatinya tidak melesak saat menghadapi kenyataan itu.
