Actions

Work Header

Latihan

Summary:

Setelah Ice mengungkapkan kepusingannya tentang hubungan antara Slider dan Goose kepada Maverick, Maverick mendapatkan sebuah ide yang (dia sadari) sedikit bodoh dan impulsif.

Notes:

context:
- this AU is set in the 2010s
- icemav met through goose in their first year of college
- icemav are not in the same major but they're in a compulsory class together

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

Pandangan Ice tertuju kepada Maverick sepanjang kelas. Maverick menyadari itu. Terlalu menyadari, bahkan.

Maverick bisa melihat Ice dari penglihatan periferalnya. Berusaha setengah mati untuk tidak membalas tatapan Ice, ia menahan kepalanya untuk mengarah ke depan kelas.

Apa yang Ice pikirkan? Maverick bertanya-tanya dalam hati. Pasti ada sesuatu yang salah, nggak sih? Maverick mulai berkeringat, menebak-nebak apa yang mungkin terjadi.

Kelas berakhir. Hampir dua jam Maverick duduk di dalam ruangan kuliah tersebut dan rasanya kurang dari sepuluh persen penjelasan mengenai materi di hari itu masuk ke kepalanya. Dia memasukkan peralatan tulisnya ke dalam totebag, tentu saja memperlambat gerakannya.

“Maverick.” Ini dia yang ditunggu-tunggu.

“Hei… Ice.” Maverick berdiri dari tempat duduknya dan menatap Ice.

Mata Ice mengelak dari tatapan Maverick. Dia terlihat ragu atau… gugup? “Bener nggak sih…” Dia nggak menyelesaikan kalimatnya.

Maverick menggenggam erat strap tasnya, hatinya mulai berdegup kencang. “Apaan?”

Tangan Ice menyisir rambutnya ke belakang, dan melihat gestur tersebut membuat jantung Maverick mau copot. Ganteng amat sih. Ice membuka mulutnya. “Anu… Slider sama Goose…”

Oke. Maverick nggak menyangka itu. “Hah… Mereka kenapa?”

Ice melihat ke sekitar. “Jangan disini, deh.”

Ice menggenggam pergelangan tangan Maverick dan mengarahkan mereka berdua ke belakang kantin.

“Kemarin gua ngeliat Slider keluar dari kamar mandi bareng Goose.”

“Hah.”

“Mereka saling merangkul, Mav, dan muka mereka… Gua tuh bingung banget, Mav. Sumpah. Tapi nggak mungkin dugaan gua bener kan?”

“Ice.”

“Kalau bener ya nggak apa-apa sih sebenarnya. Gua nggak homophobic kok, tapi gua nggak nyangka aja. Kok Slider nggak bilang-bilang ke gua ya.”

“Ice.”

“Lo tau kan gua udah curiga sejak mereka sering berduaan. Kali ini fix sih pasti mereka pacaran. Apa FWB-an? Kalau pacaran, udah pasti Slider bakal ngasih tau gua nggak sih? Tapi kalau–”

“Iceman!” Maverick mengangkat suaranya.

“Hah?”

“Eh… Tangan gue…”

“Oh.” Ice melepaskan genggamannya dan Maverick menyesal sedikit.

Ice menyender ke dinding dan merosot ke lantai. Maverick mengikutinya. Mereka duduk tanpa berkata-kata. Setelah beberapa saat, akhirnya Ice memecah kesunyian di antara mereka. “Menurut lo mereka abis ciuman nggak sih?”

“Ya kaga tau gue mah… Palingan iya sih. Lagian emang kenapa?”

“Nggak apa-apa… Kepikir aja.”

“Yaelah, Ice. Perkara ciuman doang lo kepikiran. Emang lo nggak pernah ciuman?”

Ice terdiam. Maverick memandang wajahnya yang tak berekspresi. Anjir… Nggak, nggak. Nggak mungkin cowok secakep Ice nggak pernah ciuman, kan?

“Tunggu, tunggu… Lo udah kuliah 5 semester dan nggak pernah ciuman sekalipun?” Maverick tanya.

Ice mengernyitkan dahinya dan pipinya sedikit memerah. Manisnya, pikir Mav. Ugh, diem deh, Mav. Bukan saatnya untuk itu sekarang.

“Ya, siapa juga yang mau ciuman sama gua, Mav. Elo?” Canda Ice.

Anjir. Iya, Ice. Gue. Tapi nggak mungkin Maverick bilang begitu saja. “Hah. Yang bener aja. Lo kali yang mau cium gue.”

“Dih, ngarep.” Ice menjawab tanpa jeda sedikit pun. 

Ah. Entah kenapa, hati Maverick tersayat mendengar itu. Padahal Maverick juga sadar diri kok. Dia nggak tau Ice suka sama cowok atau nggak. Kalaupun iya, rasanya tetap nggak mungkin Ice bakal mau ciuman dengannya.

Maverick menguatkan mentalnya untuk membalas, “Lo yang ngarep.”

“Elo.”

“Kok bisa sih lo nggak pernah ciuman…”

“Aneh banget emang?” Ice tanya.

“Agak…”

“Ya gue sibuk, sori.”

Maverick mendapatkan sebuah ide. Mungkin bukan ide yang bagus, tapi sebuah ide adalah sebuah ide.

“Emang sekarang sibuk?” Maverick bertanya.

“Maksudnya?” Ice tanya balik.

“Nggak sibuk kan sekarang?”

“Emang kenapa, Mav..?” Ice memicingkan mata, curiga.

“Lo bisa cium gue.” Oke. Sudah keluar dari mulutnya. No turning back now.

Ice terdiam sejenak lalu terkekeh. “Anjir. Lo mau ngeprank gua ya.”

“Gue serius, Ice. Lo nggak pernah ciuman, kan? Anggep aja latihan.”

Ice mengangkat satu alis. “Latihan ciuman?”

“Iya.”

“Udah gila beneran lo kali ini, Mav.” Sepertinya Ice ada benarnya. Maverick merasa sangat gila sekarang.

“Bilang aja lo takut.”

“Takut apaan?!”

“Lo pasti takut gue lebih jago, kan?” Maverick menantangnya.

“Nggak mungkin ah.”

“Emang lo lebih jago? Kan belum pernah.”

“Yang pasti lebih jago dari elo lah.”

“Yaudah, buktiin kalo gitu.”

Pandangan Ice jatuh ke bibir Maverick. Dia berpikir sejenak, lalu kedua tangannya meraih wajah Maverick. 

Ketika bibir mereka bertemu, seluruh tubuh Maverick mematung seperti waktu di tubuhnya sedang terhenti. Bibir Ice menempel pada bibir Maverick dan sedikit mendorong ke arahnya. Maverick terlalu kaget untuk bereaksi. 

Ide konyolnya berhasil? Ice beneran menciumnya?

Seketika pikiran itu terlintas, bibir Ice pun langsung terlepas darinya dan Ice menyandarkan dahinya pada dahi Maverick dengan mata yang masih terpejam. Kedua tangan Ice jatuh dari wajah Maverick dan bertengger di lehernya. Jantung Maverick berdegup kencang. Apa yang sedang Ice pikirkan sekarang?

Pertanyaan itu lenyap dari benak Maverick ketika Ice mempertemukan bibir mereka kembali dan Maverick merasakan otaknya seperti korslet.

Oh. Ice benar-benar menciumnya.

Kali ini, sentuhan bibirnya lebih pelan. Maverick berusaha mengikuti gerakan bibirnya. Ajaib sekali, pikir Maverick. Bibir mereka saling bertaut seperti dua keping puzzle. Begitu pas seakan-akan bibir mereka diciptakan untuk bersatu. Maverick merasakan dadanya seperti menyempit dan meluas sekaligus. Sama sekali nggak seperti apapun yang Maverick pernah alami sebelumnya. Mungkin Ice benar bahwa dia memang jago. Setiap belaian bibirnya membuat Maverick semakin berdebar-debar.

Gerakan bibir Ice semakin lembut, sesekali memberi kecupan kecil di antara ciuman yang lama. Tangan Ice membelai lehernya dan sebagian jarinya menyentuh kulit kepala Maverick. Maverick menarik napas. Sentuhannya begitu pelan, begitu lembut. Seakan-akan Ice sedang bercumbu dengan kekasihnya. Seakan-akan Maverick adalah kekasihnya.

Maverick nggak kuat menghadapi pikiran tersebut. Kali ini, Maverick yang memutuskan pertemuan bibir mereka.

Maverick memandang wajah Ice. Maverick nggak bisa membaca emosi apa yang sedang Ice rasakan dari wajahnya. 

Mata mereka bertemu. Tiba-tiba Maverick dihantam oleh perasaan bersalah.

“Maverick…” Ice bergumam.

“Ice, gue nggak kuat,” Maverick memotongnya. “Gue sebenarnya suka sama lo, Ice. Gue tau lo nggak suka gue balik dan gue nggak masalah dengan itu. Maaf gue udah maksa lo buat cium gue. Gue nggak tau gue mikir apa tadi, tapi gue nggak kuat lagi.”

“Mav…”

“Maafin gue, Ice. Tapi lo berhak untuk tau. Gue sebenernya udah lama suka sama lo. Mungkin sejak Goose ngenalin lo ke gue. Gue waktu pertama kali lihat lo rasanya kayak jadi gila alias lo cakep banget anjir.”

“Mav.”

“Terus kita temenan dan semakin gue kenal sama lo, gue semakin sadar lo itu orang yang hebat dan pinter dan baik walaupun lo kadang nyebelin juga. Lo juga punya masalah lo sendiri tapi nggak pernah mau nyusahin orang lain. Gue pengen jadi orang yang bisa jadi sandaran buat lo, Ice. Gue pengen bikin lo seneng. Gue seneng banget ngeliat lo senyum dan denger lo ketawa dan–”

“Maverick!” Kali ini tangan Ice mencengkram bahu Maverick.

“Ah! Sakit, anjir!”

“Gua juga suka sama lo, Mav.”

Maverick merintih sambil meraba bahunya. Lalu dia terdiam sambil berkedip. Ketika makna dari ucapan Ice sampai ke otaknya, akhirnya ia bereaksi. “Hah?!”

Wajah Ice sedikit memerah.

“Ice… Serius?” Maverick tanya pelan. Karena Maverick nggak mungkin seberuntung ini. Karena Maverick nggak bisa lanjut hidup kalau ternyata Ice hanya mempermainkannya.

“Iya. Gua nggak tau gimana cara jelasinnya… tapi gua nggak nyangka lo ternyata suka sama gua juga.”

“Nggak nyangka? Gue juga sih…”

Ice menggapai tangan Maverick dan memegangnya dengan pelan. “Gua nggak bercanda, Mav.”

Maverick memandang wajah Ice, dan cara Ice memandang Maverick balik sudah cukup untuk membuat Maverick percaya.

“Oke.”

“Oke?” Ice terheran.

“Ya.”

“Cepet juga…”

“Mau nunggu lebih lama?” Maverick menggodanya.

Ice tertawa pelan. “Udah cukup sih.”

“Terus… Sekarang gimana?” Tanya Maverick.

“Ya pokoknya lo sekarang tau gua lebih jago ciuman daripada lo.”

Maverick tertawa. Dia meremas tangan Ice yang menggenggam tangannya. “Ajarin gue dong.”

Ice tersenyum dan mengangkat tangan satu lagi ke bawah dagu Maverick. “Sini.”

Bibir mereka bertaut kembali dan rasanya lebih ajaib lagi dari ciuman terakhir mereka. Kali ini mereka nggak perlu menahan diri.

Lidah Ice menggoda bibir bawah Maverick dan Maverick memberi jalan sehingga lidah mereka bertemu. Keduanya saling bercumbu sampai sebuah pertanyan muncul di benak Maverick.

“Lo mau jadi pacar gue, Ice?” Maverick tanya, bibir mereka sejauh hanya beberapa milimeter.

“Asalkan lo mau jadi pacar gua juga.”

Maverick merasakan kupu-kupu di perutnya, mendengar jawaban Ice. 

Ice berusaha mencium bibir Maverick lagi tetapi hanya mendapat ciuman yang singkat karena Maverick bertanya lagi.

“Menurut lo, kita kasih tau Goose sama Slider, nggak?” 

“Bodo amat,” kata Ice. “Mereka juga nggak ngasih tau ke kita tentang hubungan mereka kan. Ayo ciuman lagi.”

Maverick tertawa pelan melihat ketidaksabaran Ice, dan akhirnya menciumnya kembali.

Ice sedang membuat review suatu materi bersama Slider di perpustakaan ketika handphone-nya bergetar di atas meja. Ice hanya menghidupkan notifikasi untuk dua orang dan salah satunya adalah Slider. Dia langsung menggapai handphone-nya ketika menyadari notifikasi tersebut dari siapa.

Pete Maverick Mitchell: sibuk?

🧊: Kenapa?

Pete Maverick Mitchell: gue sendirian di asrama

🧊: Yang lain pada kemana?

Pete Maverick Mitchell: si Wolfman ngajak karaoke

🧊: Kok nggak ikut?

Pete Maverick Mitchell: gue mau latihan…

Hanya tiga kata namun Ice langsung mengerti makna di balik kata-kata tersebut.

🧊: Oh

Pete Maverick Mitchell: oh doang? :(

🧊: Otw

Pete Maverick Mitchell: <3 !!!

Badan Ice seakan-akan bergerak dengan autopilot, membereskan buku dan alat tulisnya lalu beranjak dari kursinya.

“Eh, Ice, mau kemana lo?” Slider bertanya.

“Ketemu Maverick,” jawab Ice.

“Ada urusan apa emang?”

“...Mau latihan.”

“Oalah, sip, semangat.”

Ice langsung menghilang secepat kilat. Buru-buru banget kayaknya. Slider lanjut menstabilo buku yang ia sedang baca. Lalu Slider baru kepikir. Mereka latihan apa emangnya?

Notes:

this story was born because lio (twitter user MARVSDEVIL) said "if you do it, i'll do my cupiko full indo too" regarding my idea about writing icemav in indonesian.

i've always loved college AUs and i've made a few arts of one for icemav on twitter (i use the same username!). please check them out, and lets talk about these silly gays together!

hope you enjoyed this fic bc i certainly had fun writing it. let me know what you think!