Actions

Work Header

Knock-Knock Your Heart

Summary:

Jungkook yang bekerja sebagai asisten seorang CEO ternama harus dihadapkan dengan anak dari atasannya yang menurutnya benar-benar menjengkelkan karena terus menerus menggoda dirinya. Namun, siapa sangka pada akhirnya ia luluh pada Jimin, yang merupakan anak dari atasannya tempat ia bekerja?

Notes:

(See the end of the work for notes.)

Work Text:


Prologue

Secangkir americano tersuguh apik di atas meja, ditemani beberapa berkas dan laptop berlogo apel tergigit yang menyala. Jari jemari panjang itu menekan tombol keyboard satu per satu, ketikannya bak menghasilkan sebuah nada secara berirama. Kacamata berbingkai emas bertengger di hidung bangirnya, manik tajamnya berfokus pada layar laptop yang menampilkan beberapa laporan di sana. Namjoon seolah berada pada dunianya sendiri, CEO sebuah label musik ternama itu bahkan bisa berdiam diri di ruangannya selama berjam-jam lamanya. Hingga beberapa saat kemudian, ketukan pintu terdengar tiga kali memasuki indra rungunya.

“Masuk,” ujar Namjoon sembari melepas kacamata yang ia pakai.

Seorang lelaki berjas hitam masuk ke ruangan dengan membawa beberapa berkas di tangannya. Dia Jeon Jungkook, asisten kepercayaan Namjoon yang sudah bekerja selama 4 tahun untuknya.

“Berkas yang Anda minta, Pak,” Ucap Jungkook sembari meletakkan beberapa berkas di atas meja.

Namjoon mengangguk, “Terima kasih, Kook.”

Jungkook mengangguk, lantas berpamitan ke luar ruangan. Namun, lelaki itu terkejut kala seseorang menabrak dada bidangnya saat ia membuka pintu. Jungkook mendengus kala tahu siapa pelakunya, sedangkan si pelaku justru terkikik kecil.

“Halo, Jungkookie !”

Aish, menyebalkan sekali


  1. I) Little Rioter

Menjadi asisten seorang CEO label musik ternama seperti Namjoon adalah salah satu impian Jeon Jungkook sejak dulu. Lelaki yang kini berusia 25 tahun itu sungguh beruntung saat melamar bekerja dan mendapat surat panggilan interview kala itu. Meski itu artinya ia juga harus mengikuti ke mana pun Namjoon pergi perjalanan bisnis, Jungkook tetap menyukainya. Apalagi eksistensi seorang Namjoon yang dulunya adalah rapper sekaligus produser ternama dan Jungkook sangat mengidolakannya, menjadi sebuah kesempatan emas yang tak boleh ia lewatkan.

Namun, meski ia begitu menikmati pekerjaannya, ada saja hal yang begitu membuatnya kesal seperti eksistensi Park Jimin, putra atasannya yang entah mengapa sejak pertama kali ia bergabung setahun lalu disini terus-menerus mengganggu dan menggodanya. Kalau kata Mingyu sih, mungkin Jimin suka dengannya. Tentu saja saat itu Jungkook melotot, ucapan kawan satu kantornya itu kadang suka mengada-ada.


Pagi itu Jungkook baru saja selesai membuat secangkir teh di pantri dan memutuskan duduk sejenak di sana kala tiba tiba mendengar suara seseorang yang tidak asing menyapa.


“Selamat pagi, Jungkookie . Semoga harimu semanis senyumku saat tengah jatuh hati,” ujar suara yang sudah sering Jungkook dengar di pagi hari.


Jungkook hanya membalas dengan wajah datar seperti biasanya, mengacuhkan sosok lelaki mungil bermanik sabit yang kini duduk di depannya sembari kedua tangannya menopang dagu dan memasang senyuman manis yang justru menurut Jungkook begitu menyebalkan.


“Pagi lo tuh kayaknya kurang sedep kalo nggak ganggu gue ya, Kak? tanya Jungkook pada Jimin, anak atasannya yang usianya memang terpaut 2 tahun lebih tua darinya.


Jimin menggeleng lucu, sayangnya segala macam tingkah lucunya justru sudah diartikan menjengkelkan bagi Jungkook seorang. Bukan apa-apa, Jungkook hanya risih lantaran semenjak ia bekerja di kantor ini, Jimin selalu menggoda dan mengganggunya setiap hari. Ia merasa segan pada atasannya, Ayah Jimin, Namjoon. Meski lelaki itu bersikap tak ambil hati. Pasalnya, karena itu juga kadang Jungkook mendapat omongan miring jika ia mendekati Jimin demi menjadi pewaris perusahaan lantaran Jimin adalah anak satu-satunya yang Namjoon punya.


“Park Jimin, kembali ke ruanganmu atau Ayah tidak akan memberi izin jika kamu membeli lamborghini lagi.” Itu suara Namjoon yang tiba tiba juga memasuki pantri. Lantas Jungkook bisa bernapas lega karena kehadirannya.


Dapat Jungkook lihat jika Jimin memanyunkan bibirnya kesal, namun setelahnya lelaki manis itu tampak tersenyum jahil dan berkata, “Selamat kerja ya, Calon Suamiku. Doaku untukmu selalu, muach .”


Namjoon melotot, sedangkan Jungkook bergidik, “Dasar gila,” batinnya.

Atasannya itu menggelengkan kepala setelah melihat tingkah laku putra semata wayangnya itu. Tentu saja Namjoon tahu betul akan kelakuan Jimin selama ini pada Jungkook, ia sendiri juga sudah berulang kali mengingatkan. Takut-takut Jungkook risih dan semakin tidak nyaman. Namun tetap saja putranya, Park Jimin itu sangat keras kepala. Maka biasanya Namjoon hanya meminta maaf pada Jungkook karena merasa tak enak hati atas perlakuan jahil sang putra.


Jungkook sendiri awalnya memang risih, namun lambat laun lelaki itu hanya menanggapinya dengan datar dan tak ambil pusing. Meski terkadang ucapan Mingyu mampir sekelebat memasuki pemikirannya. “Apa benar kalau Park Jimin seperti itu karena menyukainya?”

~

Jam makan siang telah tiba, seperti biasanya Jungkook menuju ke kantin karyawan bersama dengan rekannya, Kim Mingyu. Keduanya terlibat sebuah percakapan selama di jalan hingga tiba-tiba lengan Jungkook digenggam oleh seseorang.


"Halooo, Suamiku!" suara yang sangat Jungkook kenali, diiringi kikikan kecil di akhir kalimatnya.

"Kak, anjir! Lepasin tangan gue, kita jadi bahan tontonan. Malu banget," bisik Jungkook.


Namun agaknya, si pelaku, Park Jimin, total abai akan pandangan beberapa karyawan dan karyawati di sana. Si manis tetap bergelayut manja di lengan kekar milik Jungkook, bahkan sesekali mengendus-endus di sana.


"Biarin. Mereka kan punya mata, Jeonggukie. Pasti iri aja liat kita mesra-mesraan gini, iya, 'kan, Ming?" tanya Jimin pada Mingyu yang dibalas dengan anggukan.


Awalnya Jungkook kira semuanya akan segera berakhir, tetapi ternyata kelakuan Jimin yang terus mengganggunya tidak berhenti di sana. 


"Bu Ijah, Ibu tau Jungkook, 'kan? Iya, yang duduk di sana itu pakai kemeja hitam. Itu calon suami Jimin tau, Bu. Nanti Ibu datang ya kalau kami mau menikah, Jimin kasih undangannya, deh," ujar Jimin pada salah seorang penjual di kantin karyawan.


Tentu Jungkook terkejut saat ingin membayar total makanannya dan ibu si pemilik warung mengucapkan nominal yang jauh dari apa yang ia makan tadi.


"Katanya Mas Jimin, Mas Jungkook disuruh ngelunasin kasbon-nya dia karena Mas Jungkook ini calon suaminya. Nanti kalau kalian nikah, Ibu jangan lupa diundang, ya?"


  1. II) A Reason

Yah…selayaknya budak korporat saat jam pulang tiba, Jungkook melangkahkan kaki dengan riang menuju parkiran tempat mobil mercedes benz miliknya yang terparkir apik di sana.

Lelaki itu bersiul-siul kecil saat hendak memasuki mobilnya sembari merapikan anak rambutnya dengan bantuan kaca mobil di sana. Namun, agaknya perasaan senang itu berganti saat tiba-tiba datang tamu tak diundang yang menyelonong masuk begitu saja dan mengambil tempat duduk di sampingnya.

Jungkook menggeram kesal, mendapati Jimin yang memasang senyuman paling menyebalkan dengan raut wajah tak bersalah di sana.


"Kak, turun. Gue mau pulang," ujar Jungkook.

"Nggak mau. Mau ikut Jungkookie aja," balas Jimin dengan puppy eyes -nya.


Jungkook tampak memejamkan matanya sejenak, berusaha mengontrol emosinya.


"Gue nggak ngebolehin, turun sana. Pak Namjoon pasti nyariin lo nantinya," ujar Jungkook lagi berusaha sabar.


Namun, agaknya lelaki manis yang kini tengah menyamar menjadi kucing kecil paling menyebalkan menurut Jungkook setiap pulang kantor itu tetap bersikukuh di tempatnya Membuat Jungkook lagi-lagi mendesah frustrasi lantaran ini sudah kesekian kalinya, Jimin selalu tiba-tiba menyerobot masuk mobilnya. Sekalipun Jungkook juga sudah berulang kali memarkirkan mobil di tempat paling rahasia dan melarikan diri darinya.


"Ayo jalan dong, Jungkookie. Apa kita mau kisseu-kisseu dulu di dalam mobil kayak drama korea gitu?"


Maka Jungkook hanya bisa mengumpat dalam hati, sialan katanya.

~

Lagi-lagi, membawa Jimin setiap pulang kantor memang menjadi hal yang paling Jungkook sesalkan. Sebab, lelaki mungil itu sejak awal tak serta merta mau diturunkan secara langsung di rumah dan Jungkook bisa bebas setelahnya. Jimin selalu punya alasan untuk mengajak Jungkook mampir ke setiap tempat. Sampai-sampai Jungkook hafal dan entah kenapa anehnya ia tetap menurut saja.

Seperti kali ini, si manis bermanik sabit itu mengajak Jungkook untuk ke mal dan makan di sana. Tentu saja Jungkook tetap menuruti meski dibarengi dengan umpatan dalam hati. Membiarkan tangannya diseret ke sana kemari mengikuti ke mana pun langkah Jimin membawanya pergi.


"Bisa nggak langsung pulang aja? Gue capek, Kak. Pengen tidur," gerutu Jungkook.

Jimin menggelengkan kepalanya."Bentar, beli gulali satu dan abis itu kita pulang ya Jungkookie anak baik, anak manis satu dunia."


Jungkook mendesah lelah, mungkin benar saat Mingyu pernah mengatakan jika Jimin hanya butuh seorang saudara lalu ia datang tiba-tiba. Haruskah ia mengatakan pada Pak Namjoon untuk membuat anak baru agar Jimin tak lagi selalu mengikutinya? 

~

Derap langkahnya memasuki kamar bernuansa Eropa klasik itu tak bersemangat. Ia lekas melepas jas hitamnya dan meletakkannya ke sembarang arah. Lantas menjatuhkan tubuhnya ke atas ranjang, menghela napasnya di sana sambil memejamkan mata.

Tak lama kemudian, ketukan pintu terdengar berbunyi tiga kali disusul suara seseorang yang sangat Jimin kenali.


"Ayah boleh masuk?" itu Namjoon, ayahnya.


Jimin hanya menjawab dengan dehaman, lantas Namjoon beringsut mendekat ke arah putra semata wayangnya itu. Mengusap pelan surai Jimin yang memejamkan mata di sana.


"Kamu inget apa yang minggu lalu Ayah bilang, Nak?" tanya Namjoon.

Jimin membuka matanya, pandangannya menerawang sebentar.


"Inget, Yah. Tapi, Jimin boleh minta waktu dulu sebentar buat mikirin semuanya?" balas Jimin.

"Boleh, Nak. Ayah beri kamu waktu satu bulan untuk menyiapkan diri. Lagi pula, Ayah juga tidak ingin memaksa. Mau atau tidaknya kamu, tidak berpengaruh apa-apa untuk ke depannya. Hanya saja, Ayah takut kamu salah orang nantinya,"ujar Namjoon.


Jimin mengangguk, turut memejamkan matanya lagi sembari diam-diam memikirkan ucapan sang ayah. Perkataan Namjoon memang ada benarnya, setiap orang tua pasti menginginkan yang terbaik untuk anaknya.

Tanpa Jimin tahu, Namjoon mengerti dengan benar perihal apa yang putra semata wayangnya itu pikirkan. Satu nama, seorang lelaki yang Namjoon tahu jika sang putra sangat menyayangi dan menaruh rasa dengannya.


III) Matchmaking

"Americano on the Rock-nya satu sama Scarlet Velvet Cake-nya satu juga," ujar Jungkook pada karyawan sebuah franchise merek kopi ternama.


Lelaki itu setelahnya mengeluarkan selembar uang dan berpindah tempat guna menunggu antrean namanya dipanggil. Sembari mengapit iPad hitam miliknya dan mengedarkan manik bulatnya ke sekeliling, mencari tempat duduk yang cocok untuknya.


"Atas nama Kak Jungkook." 


Jungkook mengambil pesanannya setelah mendengar namanya dipanggil dan mengucapkan terima kasih, lantas menuju ke tempat yang sudah ia pilih, dekat jendela dengan view yang mengarah langsung ke jalanan perkotaan.

Lelaki itu lantas membuka iPad miliknya guna menyelesaikan dan mengurus beberapa pekerjaan. Cukup lama hingga hampir satu setengah jam kemudian, kala maniknya tak sengaja mendapati sosok lelaki mungil yang sangat ia kenali di meja seberang tengah bersama seorang lelaki.


"Kak Jimin? Sama siapa dia?" bisiknya sembari menelisik.


Kondisi sekitar tidak terlalu ramai kala itu sehingga sayup-sayup Jungkook bisa sedikit mendengar pembicaraan antara Jimin dan sosok lelaki lain yang tengah bersamanya. Beruntungnya juga, posisinya dan Jimin saling membelakangi, memungkinkan Jimin tidak tahu jika Jungkook juga berada di tempat yang sama.


"Lo beneran mau dijodohin?" tanya lelaki lain yang bersama Jimin itu.


Jimin mengangguk sebentar. "Gue udah bilang sama bokap buat nggak mau dijodohin, kayak orang zaman dulu aja. Bokap malah ketawa. Dia nggak maksa gue kayak adegan-adegan roman picisan gitu sih. D cuma khawatir gue dapet orang yang salah nantinya," ujar Jimin.

"Menurut gue juga percuma kalo lo nolak, selama ini kan lo nggak ada niatan bawa seseorang buat dikenalin sebagai pasangan lo ke bokap. Lo udah jomblo sejak lahir kalo lupa, makanya beliau kira lo nggak laku-laku," balas si lelaki lain yang dipanggil Tae oleh Jimin diselingi kekehan.


"Sialan lo. Apa gue bawa lo aja? Ntar lo pinter-pinter aja deh bilang sama dia kalo kita selama ini pacaran." Tawa kecil Jimin terdengar di sana.

"Gila ya lo! Bisa habis gue pulangnya dicincang Yoongi Hyung . Lagian bokap lo itu juga tahu gue siapa," balas lelaki lain itu lagi.


Setelahnya Jungkook tak bisa melanjutkan mendengar pembicaraan tersebut lantaran ponselnya bergetar di saku celana dan menampilkan nama Namjoon di sana.. Yang pasti, Jungkook pergi sembari memikirkan banyak praduga di dalam otaknya.

"Jimin akan dijodohkan."

~

Manik bambi itu belum juga terpejam meski jarum jam sudah menunjukkan pukul 2 dini hari. Sedari tadi Jungkook hanya terus mengubah posisi tidurnya tanpa ada niatan untuk memejamkan mata. Pikirannya masih terus berkelana tentang percakapan Jimin dan lelaki lain siang tadi yang mungkin adalah teman dekat Jimin sendiri.

Entah mengapa, Jungkook sendiri merasa ia terlalu berlebihan ketika mendengar jika seorang Jimin akan dijodohkan. Bukankah seharusnya ia sendiri senang? Dengan kata lain, setelah itu tak akan ada lagi yang suka mengganggu dan menggodanya saat di kantor.

Tetapi, kenapa hal itu justru membuatnya kepikiran dan tak bisa tidur hingga nyaris semalaman?


"Jeon Jungkook, lo kenapa, sih? Bukan urusan lo juga kalo Kak Jimin mau dijodohin. Kenapa lo yang repot-repot kepikiran gini? Sialan, makin malam gue rasa pikiran gue mulai nggak waras," dumelnya.


  1. IV) A Little Date

Mingyu menatap heran ke arah rekannya itu kala mendapati wajah Jungkook yang begitu lesu dan tampak menguap beberapa kali.


"Woi, kenapa lo? Udah kayak habis ngeronda aja semalam," tanya Mingyu sembari menyeduh kopi.


Jungkook mengusap wajahnya kasar. "Emang nggak tidur gue semalaman, ngantuk banget," balasnya.

"Lah, tumben? Perasaan gue kita lagi nggak ada deadline dalam waktu dekat deh," ujar Mingyu.


Hingga tiba-tiba Mingyu dikagetkan saat Jungkook yang menarik lengannya untuk duduk berhadapan dengan lelaki itu."Mau apa lo? Gila," dumelnya.

"Dengerin gue bentar, gue mau nanya pendapat lo tentang sesuatu." jawab Jungkook.

Mingyu memicingkan kedua matanya heran, rekan karibnya ini memang terkadang sedikit gila dan di luar akal sehat manusia pada umumnya.


"Misal lo denger gue mau dijodohin, reaksi lo gimana?" tanya Jungkook.

"Reaksi gue? Ya senanglah, it u tandanya lo laku," balas Mingyu santai yang justru membuat Jungkook kesal.


"Bukan gitu jawabnya, bego. Ah, males gue nanya sama lo," kesal Jungkook.

"Lah, gue bener kali? Sebagai temen lo, gue harusnya seneng dong pas tau lo mau dijodohin? Masa iya gue harus nangis atau sedih? Kecuali kalau gue suka lo in the romantic way ."


Kali ini justru Jungkook yang terdiam mendengar jawaban dari Mingyu.

~

" JUNGKOOKIE MAU KE MANA?! IKUT DONG!" 


Sebuah suara yang sangat Jungkook kenali terdengar berteriak lantang dari rooftop lantai dua yang mana tentu saja membuat Jungkook begitu malu dibuatnya. Pasalnya, atensi beberapa karyawan dan karyawati langsung saja mengarah padanya.

Jungkook kira si pemilik suara hanya bercanda, namun ternyata empunya sudah berdiri manis di depannya lengkap dengan eye smile -nya.


"Duh, lo kenapa sih selalu ngikutin gue, Kak?" racau Jungkook.

Jimin terkekeh. "Ya nggak apa-apa dong, bosen gue kerjaan juga sudah selesai," balas Jimin.


"Gue mau ketemuan sama seseorang. Lo nggak usah ikut," titah Jungkook setelahnya.

Jimin tampak mencebik. "Ketemuan sama siapa? Lo pasti join aplikasi Tinder, ya? Manik sabit itu memicing ke arahnya.


"Kalo iya, kenapa?" balas Jungkook.

"Gue nggak peduli, gue tetep mau ikut. Setidaknya mau ngeliat siapa yang bisa gantiin posisi gue." Jimin merengek sembari mengguncangkan lengan Jungkook.


Maka Jungkook hanya mengangguk dan memutar bola matanya sebagai jawaban, pasrah untuk kembali diikuti Jimin.

~

Nyatanya, Jungkook tidak pergi untuk berkencan ataupun bertemu seseorang lewat aplikasi Tinder seperti yang Jimin katakan. Sebelumnya, Jungkook memang hanya ingin pergi ke mal setelah meminta izin pada Namjoon untuk membeli kado guna ulang tahun sang ibu esok hari.

Kado belum didapat, tetapi kini keduanya justru tengah asyik mencoba satu per satu game di dalam mal. Bahkan sebelumnya, mereka tampak memasuki stand photobooth yang juga ada di sana. Meski awalnya Jungkook sempat menolak, ia akhirnya luluh juga dan mengambil beberapa foto dengan Jimin di dalamnya.


"Yah, koinnya habis," keluh Jimin sembari memanyunkan bibirnya setelah mengecek koin di saku.

Jungkook tanpa sadar terkekeh kecil."Gue beliin lagi, Kak. Lo tunggu sini," balasnya seraya melangkah menuju counter pembelian koin untuk bermain game .


Keduanya cukup lama berada di arena game tersebut, sejenak melupakan fakta jika waktu terus berjalan dan kado untuk sang ibunda belum juga didapatkan.

 

  1. V) Denial

Jarum jam menunjukkan pukul 5 sore saat Jungkook baru saja keluar dari lift dan menuju lobby kala itu. Ia mendesah pelan kala ternyata hujan belum juga reda padahal sudah satu jam lamanya. Nahas-nya lagi ia lupa membawa mobil lantaran tadi pagi memutuskan naik bus karena terburu-buru. Jungkook tengah mengamati rintik air yang berjatuhan saat tiba-tiba ia dikejutkan dengan tepukan cukup kuat di punggungnya.

Ia menatap masam ke arah Jimin yang tertawa hingga manik sabitnya menyembul. Tampak manis memang, tetapi tetap saja eksistensi Park Jimin seorang sudah menyebalkan baginya. 


“Kok belum pulang?” tanya Jimin basa-basi, jemari mungilnya tampak memainkan kunci mobil yang Jungkook tebak pasti baru lagi karena modelnya berbeda dengan yang kemarin ia lihat.

“Gue nggak bawa mobil,” balas Jungkook.


Jimin mengangguk-angguk kecil, lantas senyuman jahil tampak terbit di bibir tebalnya.

“Bareng gue aja gimana? Tapi nggak gratis dan cuma-cuma,” tawar Jimin.


Jungkook tampak terdiam dan menimbang-nimbang kecil, ia tengah memikirkan apa saja risiko jika saja ia salah pilih nanti.


“Oke, berapa bensin lo, Kak? Gue ganti,” ujar Jungkook usai memilih setuju untuk pulang bersama Jimin.


“Bukan pake uang sebagai gantinya, Jungkookie .” Lantas Jungkook tampaknya sedikit menyesal akan pilihannya. 

~

Jungkook pernah dengar perbincangan Mingyu beberapa waktu lalu yang membahas tentang seorang Park Jimin sangat menyukai berbagai macam daging dan Jungkook langsung tahu ketika lelaki mungil yang usianya 2 tahun lebih tua darinya itu membanting setir ke arah restoran Korean Barbeque -yang tentu saja menyediakan berbagai macam daging dan side dish lainnya.

Sepanjang makan, keduanya tak terlibat percakapan apa pun. Jungkook juga sedikit merasa heran karena biasanya Jimin banyak bicara, kini justru terdiam asyik dengan makanannya. Namun, bukankah seharusnya itu tak menjadi masalah untuknya yang selama ini merasa terganggu dengan keagresifan lelaki bermanik sabit itu?

Jungkook menggelengkan kepalanya, mengusir pemikiran tentang apakah Jimin menyukainya-yang jujur selama ini sering mampir di otaknya. 

Tentu saja tingkah itu tak luput dari pandangan Jimin yang langsung meletakkan sumpitnya dan mengernyitkan dahinya bingung.


"Lo kenapa, Jungkookie?" tanyanya.

"Kak, lo suka gue?" Jungkook balik bertanya tiba-tiba, yang mana membuat Jimin terbatuk lumayan keras.


Sontak saja ia langsung menyodorkan minum pada Jimin, raut wajah si mungil tampak memerah dan sesekali menepuk dadanya pelan.


Suasana menjadi canggung setelahnya, Jimin juga terlihat menghela napas sejenak sebelum berkata, "Gue mau dijodohin, Kook. Lo dateng ya, minggu depan."


Jungkook seharusnya senang, seharusnya merasa bebas dan tidak lagi kesal saat Jimin sebentar lagi akan menjadi milik orang lain meski terikat perjodohan. Karena, setelah itu artinya tidak akan ada lagi perusuh kecil yang selalu menjahili dan menggodanya, bukan?

Benar. Seharusnya seperti itu. 

Namun, semuanya justru berbanding terbalik saat tidur Jungkook mulai tak tenang, pikirannya jadi bercabang tak keruan dan perkataan Jimin yang menyuruhnya untuk datang terus terngiang di ingatan.

Lelaki itu sadar betul, ia tak mungkin secepat ini jatuh hati pada pemilik manik sabit dengan senyum menawan yang selama ini justru ia anggap sebagai perusuh kecil menyebalkan.

Ia bahkan bisa menghitung dengan jari tentang berapa kali mereka menghabiskan waktu ataupun akur bersama. Tidak terlalu banyak dan mengesankan, hanya berisi dirinya yang selalu kesal lantaran terus menerus digoda dan dijahili terus-menerus.

 

  1. VI) Cha Eunwoo

Satu bulan berlalu begitu cepat, setidaknya itu yang Jimin rasakan selama ini. Setelah keputusannya bulan lalu yang meminta waktu kepada sang ayah perihal perjodohan, di sinilah Jimin berada. Di sebuah restoran ternama dengan seorang lelaki yang akan dijodohkan dengannya, namanya Cha Eunwoo.

Awalnya, keluarga Cha adalah rekan bisnis keluarga Jimin. Bahkan ayah dari Eunwoo sendiri kerap bertandang ke rumah untuk sekadar bermain golf bersama Namjoon ataupun berbincang kecil mengenai dunia bisnis. Jimin sendiri sebelumnya memang sudah mengenal Eunwoo pun sebaliknya. Keduanya juga beberapa kali pernah menghabiskan waktu bersama. Agaknya, mungkin itulah yang menjadi bahan pertimbangan bagi Namjoon memilih Eunwoo sebagai calon pendamping putra tunggalnya.


"Lo kenapa, Jim? Kayak gelisah gitu?" tanya Eunwoo usai menenggak cocktail miliknya.

Jimin tersenyum tipis. "Nggak lah. Santai ini gue mah. Jadi, kapan kita mau fitting baju buat lamaran dan pernikahan?"


Eunwoo tampak menyunggingkan senyuman penuh arti di sana, tanpa tahu jika kondisi Jimin di depannya yang tak fokus dengan kehadirannya.

~

Mingyu berlari di koridor perusahaan dengan terengah-engah, lelaki itu tanpa aba-aba langsung memasuki ruangan tempat di mana Jungkook berada. Kehadirannya tentu saja membuat Jungkook terkejut dan mengernyit heran.


"Gue udah bilang sama lo ribuan kali, ketuk pintu dulu tiap mau masuk!" racaunya kesal.


Mingyu tampak mengatur napasnya pelan-pelan, lantas menyodorkan sesuatu ke arah Jungkook.

Sebuah undangan berwarna merah berlapis emas, dengan pita berwarna senada di depannya dan tulisan dua nama yang salah satunya sangat Jungkook kenali.


Park Jimin & Cha Eunwoo


Benar.

Itu adalah undangan lamaran yang Jungkook sendiri juga sudah menerimanya sejak tadi pagi, tepatnya ketika ia memasuki ruangan kerjanya. Tersemat apik di atas meja ditambah imbuhan sebuah tisu bekas bibir berlipstik menempel di sana. Jungkook sempat tertawa kecil, sudah hampir menjadi milik orang pun, Jimin tetap tak gentar untuk menggoda dan menjahilinya.


"Kak Jimin mau dijodohin, cuy . Lo aman, kan? tanya Mingyu tiba-tiba.

"Gue udah tahu lebih dulu, Gyu. Menurut lo sendiri, gimana?" Jungkook bertanya balik, manik bambinya menatap Mingyu menanti jawaban.


Mingyu mendudukkan dirinya di sofa, menghela napas sejenak di sana.

"Gue sebenernya nggak mau terlalu ikut campur atas apa yang terjadi antara lo dan Kak Jimin selama ini. Mungkin menurut lo, dia adalah orang yang paling menyebalkan, suka goda dan jahil banget ataupun buat lo jengkel. But we never know, Kook. Bisa jadi dia ngelakuin itu semua karena ada alasannya biar dia sering dan lebih deket ke lo. Gue sering bilang kalau Kak Jimin kayaknya suka sama lo, tapi lo juga selalu nolak hal itu, 'kan? tutur Mingyu.


Jungkook bangkit dari duduknya, berdiri memandang jendela besar yang ada di ruangannya.

"Dia emang nyebelin, suka godain gue, jahilin gue, ngikutin ke mana pun gue pergi dan bikin jengkel. Jujur, itu bikin gue risih awalnya. Tapi lama kelamaan, nggak tau kenapa gue justru suka sama semua tingkahnya, semua godaan dan jahilnya. Salah nggak ya, Gyu, kalau gue suka dia?"

 

VII) Final

"Belum terlambat kalau lo mau ngutarain hal ini secepatnya, Kook. Bilang sama dia kalau lo suka, jangan jadi pengecut."


Nasihat Mingyu tempo hari agaknya menjadi alasan kuat mengapa Jungkook berlari-lari dari parkiran utama menuju ke lobby Lelaki itu bahkan terengah-engah kala menunjukkan undangan sebagai tanda bukti tamu yang hadir. Seakan tak peduli penampilannya yang sudah acak-acakan, Jungkook menembus padatnya tamu undangan sembari manik bambinya mengedar mencari seseorang.

Hingga maniknya mendapati lelaki manis dengan tuxedo putih tengah berdiri di depan sana didampingi dengan Namjoon, ayahnya, Jungkook dengan mantap melangkahkan kaki menuju mereka.


"Jeon Jungkook, kamu kenapa? Kok panik gitu?" tanya Namjoon heran.

"Maaf, Pak. Maaf banget kalau saya lancang, tapi saya mohon batalin pertunangan ini," ujar Jungkook sembari menggenggam tangan Namjoon.


Kedua alis Namjoon mengerut, lelaki itu langsung melepaskan tangan Jungkook yang menggenggamnya.

"Siapa kamu dengan berani bicara seperti itu? Lagi pula, ini acara saya. Pertunangan putra tunggal saya yang jelas sudah setuju dengan calon suaminya. Kamu bukan siapa-siapa, Jungkook. Tidak ada hak lebih untuk berbicara di luar kapasitasmu sebagai asisten saya," ujar Namjoon tegas. 


Jungkook menatap Jimin penuh harap, namun si manis tetap memilih bungkam tanpa mengeluarkan sepatah kata.

"Saya menyukai anak Bapak, saya cinta Kak Jimin. Saya mohon, Pak, batalkan pertunangan ini," balas Jungkook memohon bahkan sembari bersujud di hadapan Namjoon.


Suasana menjadi hening seketika. hingga Jungkook mendengar sebuah tawa dari Jimin yang sejak awal hanya diam di sana

"AYAH, AKHIRNYA JUNGKOOK JUGA SUKA AKU! NIKAHNYA SAMA DIA AJA."


Ternyata, tabiat jahil dan suka menggoda Jimin itu memang tak ada habisnya.

Maka berakhirlah cerita ini sampai di sini saja. Jika kalian bertanya bagaimana kelanjutannya, tentu saja kedua anak adam yang tengah dimabuk asmara itu dengan lantangnya berani berbicara kalau keduanya saling jatuh cinta.

 
















Notes:

Halo,
Sebelumnya mau ngucapin terima kasih banyak buat yang udah bikin prompt ini
Mau minta maaf juga kalau misal hasilnya nggak sesuai harapan, tapi semoga kamu suka ya

Makasih banyak