Actions

Work Header

Grocery Shopping List #23

Summary:

Raja dan Ali belanja bulanan, seperti apa yang dilakukan di bulan-bulan sebelumnya (dan yang akan datang).

Akan tetapi, hari ini, Raja menyadari bahwa daftar belanjaan yang dibuat Ali lebih dari sekadar... daftar.

Work Text:

"Ali, kamu mau pakai itu ke luar?"

Ali, yang sudah duduk di lantai untuk memakai sepatunya, segera berdiri lagi untuk mematut dirinya di depan cermin. Celana parka, kaus lengan pendek, dan sweater tipis. "Iya, kenapa emangnya, Mas?"

"Tambah jaket lagi, ya? Tadi pagi pas Mas Raja keluar agak dingin soalnya." Raja segera menghilang ke kamar, lalu kembali dengan jaket biru tua favorit Ali yang hampir selalu bertengger di gantungan baju. Ia menyampirkannya di bahu Ali, lalu mengacak rambutnya singkat sebelum beranjak ke dapur.

Tidak sampai beberapa menit setelahnya, Raja dan Ali sudah rapi di luar unit apartemen mereka. Di bahu Raja tersampir sebuah tas besar dari kain blacu yang berisi troli belanja kecil.

Raja menggamit tangan Ali, memasukkannya ke saku jaketnya. "Shopping list-nya udah, kan?" 

Ali mengangguk. “Bigmart ya, hari ini? Ali udah lama nggak lihat promo dagingnya.”

Sure thing! Sekalian cuci mata ya, udah lama nggak ke sana.” Raja mengunci pintu unit apartemen mereka; detik itu juga, agenda rutin belanja bulanan Ali dan Raja dimulai.

Supermarket cukup lengang saat mereka tiba. Setelah beberapa kali trial and error mencari waktu yang pas untuk melakukan kunjungan ke supermarket, Ali dan Raja sepakat bahwa Sabtu pagi menjelang siang adalah waktu terbaik. Jangan lupa, pilih tanggal yang agak jauh dari waktu orang-orang menerima gaji pada umumnya.

 

(01) Susu

“Ali jadi mau nyobain susu plant-based, nggak?” Raja bertanya, saat mereka melewati lorong berisi beragam jenis susu; susu bubuk, susu steril, susu pasteurisasi, susu dalam kemasan galon sampai karton. Raja suka melewati lorong ini, warna-warni kemasannya tidak pernah gagal memanjakan matanya.

“Oh, ya? Emang, Ali pernah bilang gitu, ya?” Ali, dengan sebelah tangannya melingkari lengan Raja, menggelayut manja sambil menyusuri lorong.

“Iya… waktu itu Ali habis nyobain latte pakai plant-based milk di coffee shop deket studio, terus katanya enak, kan? Mau coba bikin sendiri di rumah?” Raja menghentikan troli mereka di depan sebuah rak.

“Oh…” Ali berusaha mengingat-ingat. “Mas Raja mau nyobain yang mana?” Ada terlalu banyak pilihan di hadapan mereka; kedelai, oatmeal, hazelnut, macadamia, pistachio, almond… Ali dan Raja berdiri sambil termenung di hadapan karton-karton itu. Memilih olahan kacang tak pernah semembingungkan ini.

“Mas Raja kan, kalau ngopi nggak pakai susu. Ikut Ali aja. Nanti juga tahu-tahu abis,” selorohnya santai. Raja masih mengamati karton-karton susu, sementara Ali mengedarkan pandangannya ke arah lain. Ada hal lain yang lebih menarik perhatiannya: free tester!

“Mas! Ada yang lagi bagi-bagi tester. Ali mau ke sana dulu.”

Pemuda itu berjingkat riang, kembali dengan dua cup kecil tester susu di tangannya. Ia mengangsurkan satu untuk Raja. “Ini oatmilk, ada yang choco hazelnut sama barista blend, cobain deh, Mas. Ali mau yang barista blend aja ya, tapi.”

Cheers!” Raja bersorak kecil saat gelas mereka beradu. Ali menyesap isi gelasnya pelan-pelan, menahan geli melihat Raja yang menenggak susunya seperti vodka shot

“Enak, deh,” komentar Raja, sambil mengecap bibirnya beberapa kali. “Rasanya kayak… kayak… susu,” lanjutnya, terus mengecap sambil berusaha menemukan kata yang tepat, “kayak lebih cair dibandingin susu full cream biasa, tapi ya enak sih, nggak terlalu kayak taneman gitu rasanya. Terus beneran ada rasa cokelat sama hazelnutnya.”

Great,” sambung Ali, dengan kedua mata berbinar, “soalnya Ali suka yang barista blend ini, mau nyoba beli buat bikin kopi. Mereka lagi ada promo buy 2 get 1. Bungkus ya, Mas?”

“Bungkuuus!”

 

(02) Pasta

"Mas, kita restock pasta, ya!" seru Ali, menunjuk lorong kedua di hadapannya. Bisa dibilang, pasta adalah salah satu makanan pokok di rumah mereka, nomor kedua setelah nasi. Pasta sangat fleksibel; bisa dimasak dalam keadaan terburu-buru ataupun setengah mengantuk, bisa jadi menu one pot, bisa dipadukan dengan berbagai bumbu dan sumber protein, dan yang paling penting, Ali dan Raja suka.

Mereka berhenti di depan rak pasta. Ali memandanginya satu-satu dengan raut serius, sementara Raja melingkarkan lengannya di leher Ali, memeluknya dari belakang. Dagunya bersandar pada puncak kepala Ali; sesekali dilabuhkannya ciuman-ciuman di antara helai rambutnya.

"Fusilli yang kemarin Ali beli enak, nggak?"

"Enak," komentar Raja sambil mengingat-ingat. Sepertinya, yang Ali maksud adalah ketika ia memasak fusilli dengan beef bacon dan keju parmesan. Waktu itu, Ali iseng membeli vegeroni berbentuk fusilli hanya karena warnanya menarik (dan sedang diskon, tentu), lalu ternyata mereka berdua menyukai ide tersebut (“Rasanya kayak jadi anak TK, bekalnya pasta warna-warni,” ujar Raja waktu itu).

"Beli lagi, yuk?" tawar Ali, mengambil kemasan fusilli isi 500 gram seperti yang waktu itu. Raja mengangguk setuju.

"Tambah yang lain lagi, kali ya…" Ali berpikir keras, memantau setiap kemasan pasta di hadapannya. 

"Mas, mending yang linguine atau fettuccine?" 

“Hm?”

Fettuccine lebih enak dimasak pakai saus carbonara atau alfredo, tapi linguine lebih versatile aja nggak, sih? Ali kepikiran bisa bikin spaghetti bolognese lagi soalnya udah lama enggak, atau nggak aglio olio juga enak. Eh tapi, carbonara pakai linguine enak juga, ya…

Mas Raja udah bosen belum sama carbonara?" Ali menoleh ke belakang, mendapati Raja yang sedari tadi memandanginya, masih dengan kedua tangan melingkari lehernya. Alih-alih menjawab, Raja hanya mencondongkan tubuhnya untuk mengecup Ali di bibirnya.

“Ih! M-Mas Raja, kan, Ali nanya!” protes Ali, sambil mendorong Raja menjauh dan melirik ke sekelilingnya dengan agak panik. Beberapa orang memang melewati lorong ini, namun tampaknya mereka terlalu sibuk untuk menyadari pasangan yang bermesraan di depan rak pasta. Yang didorong tertawa semakin lebar, lalu malah merengkuh Ali lebih erat. (maaf, habisnya, kamu terlalu gemas, sih)

"Ya udah, linguine aja, ya? Mas nggak bosen kok, makan carbonara , tapi kemarin ada kolega yang bahas aglio olio ala dia, terus ngasih resep yang katanya enak. Nanti kita recreate, ya.

Kita mau beli pasta yang merek apa jadinya?" Raja mengusap rambut Ali yang masih berada di pelukannya. Ali yang dipeluknya sambil berdiri adalah Ali yang paling menggemaskan. Raja jadi harus menunduk untuk melihat wajahnya, membuat pemuda itu terlihat sangat kecil di matanya.

"Yang itu," Ali menunjuk pasta di rak paling atas, lalu merumuskan penjelasan paling komprehensifnya, "soalnya itu yang ketebalannya paling pas, terus enak juga, kenyal tapi nggak fragile."

Raja sebenarnya sadar bahwa mungkin, Ali hanya berniat mengerjainya dengan menyuruhnya mengambil pasta di tempat yang paling tinggi. Tidak pernah jadi masalah sih, buatnya. "Kasihan, ada yang nggak nyampe, ya?" ledek Raja sambil meraih kotak pasta yang dimaksud Ali.

"Kan, itu gunanya punya pasangan yang lebih tinggi." Ali menjulurkan lidahnya sambil menerima beberapa kotak pasta dari tangan Raja. "Makasih, Mas Sayang." 

Ali berjinjit agar bisa meraih pipi laki-laki itu dengan bibirnya, mengecupnya cepat, lalu kembali fokus menata belanjaannya di dalam troli seolah barusan tidak terjadi apa-apa.

 

(03) Daging dan Telur

Telur memang hampir tidak pernah diskon, tapi Raja bersikeras benda itu harus selalu ada di kulkas mereka. Pasalnya, telur selalu ada di setiap momen kritis mereka. Saat mereka kelaparan tengah malam, Ali akan memasak mi instan rebus dengan telur setengah matang (yang mereka makan sambil berjanji, "sumpah ini yang terakhir minggu ini", tapi lalu dua hari kemudian masak mi instan lagi dengan dalih homesick). Saat mereka terburu-buru hendak berangkat ke tempat kerja masing-masing, Raja akan memasak telur mata sapi; untuk Ali ditangkup dengan dua lembar roti bersama keju dan saus, sementara untuk Raja dimakan dengan nasi dan kecap.

Raja memilih telur ayam dalam kemasan setengah krat, mengamati isinya baik-baik sebelum menempatkannya dalam troli. Ia lalu menyusul Ali yang sudah mondar-mandir di dekat lemari pendingin berisi daging.

Sedikit berbeda dengan telur, daging dan olahannya cukup sering banting harga. Salah satu bagian paling menyenangkan (terutama bagi Ali) dari berbelanja daging adalah menebak-nebak this week's special, atau daging apa yang akan menempati etalase tertinggi, karena itu berarti ada potongan harga. Sebagai orang yang seringkali membuat keputusan berdasarkan apa yang sedang diskon, Ali dan Raja merasa promo this week's special sangat memudahkan hidup mereka.

"Sirloin strips!" seru Ali, mengumumkan this week’s special. Jemarinya menunjuk kemasan-kemasan styrofoam berlapis plastic wrap yang hari ini menempati takhta tertinggi perdagingan itu. "Kita bikin enoki beef roll ya, Mas? Udah lama nggak Japanese night. "

Beberapa minggu sekali, Ali dan Raja akan menghibur diri dengan memasak full course meal bersama seharian, lalu menyantapnya bersama sambil mengobrol atau menonton film di ruang tengah. Biasanya, ada tema besar yang disematkan dalam setiap episode memasak. Kali terakhir mereka adalah Italian night; dengan kemampuan alakadarnya, Ali dan Raja berhasil menghadirkan focaccia dengan taburan rosemary, tonnarelli tinta cumi dengan topping seafood, serta tiramisu parfait ke atas meja makan. 

(pada akhirnya, mereka merasa semua itu adalah… terlalu banyak karbohidrat dalam sekali makan, jadi setelahnya, mereka jalan kaki malam-malam untuk menurunkan isi perut) 

(besok paginya, Raja masuk angin)

“Yuk! Sebenarnya, mau Japanese night, Arabian night, atau apa kek, kalau masaknya bareng Ali pasti Mas akan ikut aja.” Raja mencubit ujung hidung Ali, yang langsung menuai protes dari yang bersangkutan.

“Yeee, gombal,” tuding Ali, meskipun sejurus kemudian, ia kembali mengekori Raja yang seperti sedang menginspeksi daging dalam pendingin. Mereka berhenti di bagian ayam potong.

"Tambah fillet dada ayam ya, Sayang? Soalnya sirloin strips kan, udah lemak semua," usul Raja, sambil meraih kemasan fillet seberat satu kilogram dari pendingin. "Minggu ini Mas lagi agak lowong, nanti Mas bumbuin terus kita stok katsu yang banyak di freezer. Oke?”

Ali mengangguk semangat. Ia suka Raja yang antusias soal meal prepping; pada beberapa hari dalam hidupnya, kebahagiaan Raja bisa jadi sesederhana menyetok bahan makanan di kulkas dan memastikan mereka selalu bisa makan enak, sesibuk apa pun situasinya.

"Sosis masih ada… telur tadi udah… oke, yuk, kita cek lorong sebelah!"

 

(04) Sayur dan Buah

Lorong sebelah, seperti yang dimaksud Raja sebelumnya, berisi aneka sayur dan buah. Ali dan Raja rutin belanja mingguan untuk sayur dan buah di farmers' market dekat apartemen karena harganya lebih murah, tapi mengecek apa yang ada di supermarket sesekali juga menyenangkan. 

"Mas Raja, mirror selfie," bujuk Ali, sambil menarik laki-laki itu mendekat. Di sini, ada dua spot untuk swafoto favorit Ali: pertama adalah tempat mereka berada saat ini, yaitu sebuah cermin besar di antara keranjang buah dengan tulisan besar di atasnya, yang kurang lebih berbunyi, Sudahkah Kamu Makan Buah Hari Ini? Aku sih, Sudah!

Sementara, spot lainnya adalah cermin ramping di sudut lemari pendingin berisi sayur. Di situ, mereka bisa berfoto dengan latar belakang jamur enoki baby spinach. Omong-omong soal jamur enoki, Ali tidak lupa mengambil beberapa bungkus, mengingat mereka sudah menetapkan rencana Japanese night minggu ini.

“Ali, jangan gerak!”

Ali, yang sedang melihat-lihat lemon sementara di tangannya ada sekotak stroberi, sontak berhenti. Raja mengarahkan kamera ponselnya, mengarahkan Ali untuk berpose, “Cheese!”

"Background-nya lucu, buahnya warna-warni," komentar Raja, meninjau ulang hasil fotonya sambil tersenyum. "And you're cute, too."

Ali memasukkan stroberi setengah harga itu ke dalam troli sebelum merebut ponsel Raja dari tangannya. Ia tidak punya waktu untuk salah tingkah. "Mas Raja mundur! Sini Ali foto."

Maka, Raja bergerak menjauh hingga betisnya menyentuh lemari pendingin berisi sayur. Saat Ali mengarahkan kameranya, Raja spontan meraih beberapa ikat daun bawang di sampingnya yang lalu diajaknya berpose.

Ali tertawa kecil sebelum memperbesar pratinjau foto barusan. "Cute," bisiknya.

 

(05) Bumbu Dapur dan Rempah

"Kita yang habis tuh, bumbu apa, sih?"

Lorong berisi bumbu masakan dan rempah-rempah adalah satu bagian favorit Ali dan Raja. Meskipun tidak selengkap bumbu di Indonesia, masakan yang kaya rasa bisa membantu lidah mereka bertahan hidup di New York. Karenanya, bumbu dapur selalu masuk ke dalam daftar belanja wajib mereka.

Paprika powder,” Ali menyebutkan. “Garlic powder sama onion powder juga, terus Italian herbs. Kalau lada sama chili powder tadi Ali cek di kulkas masih ada.”

Raja mengangguk, dengan cekatan mengambil semua hal yang disebutkan Ali dari rak. “Kalau kecap? Kecap manis, kecap asin? Saus tiram? Minyak wijen?”

“Mm… minyak wijen,” Ali membenarkan. Raja meraih sebuah botol kaca yang terletak di salah satu rak teratas, lalu menambahkannya ke dalam troli. Ali mengintip lagi isi trolinya, senyum puas tersungging di bibirnya. Ia selalu suka melihat botol aneka bumbu dan rempah, wanginya yang semerbak sudah terbayang bahkan di luar kepala.

Curry block!” bisik Ali kemudian, saat mereka melanjutkan menyisir isi lorong. Biasanya, ia hanya menjumpai curry block di Asian market, jadi menemui benda itu di supermarket biasa terasa seperti sebuah kejutan yang menyenangkan. Ia meraih sebuah kemasan dengan tingkat kepedasan medium. Setelah setahun lebih tinggal bersama, hasil kompromi mereka selalu jatuh di tingkat kepedasan medium; Raja belajar meningkatkan toleransinya terhadap rasa pedas, sementara Ali mengalah dan menambahkan minyak cabai sendiri saat makanannya terasa kurang pedas.

“Enak, tuh,” komentar Raja. “Kita mau bikin chicken katsu juga, kan? Jadi katsu curry , deh.”

Ali mengangguk senang, sambil matanya berkelana ke arah lain, mencari hal lain yang juga menarik perhatiannya. “Eh, sekarang mayones yang merek ini udah masuk ke supermarket.” 

Ia menunjuk deretan botol mayones dengan tutup berwarna merah. “Chicken nanban juga enak. Hehehe.”

"Ini mah, kita nggak jadi Japanese night. Jadinya Japanese week," kekeh Raja. "Minggu ini bikin beef enoki roll, terus besoknya bikin katsu curry, besoknya chicken nanban, besoknya apa lagi, ya… beli sushi take away aja kali, ya?"

"Ya habis, gimana… tadi kan, dagingnya lagi diskon? Terus enak?" Ali menahan tawa. "Kayaknya Ali bosen juga sebulan kemarin kita sama-sama sibuk, terus lebih sering masak one pot pasta jadinya biar cepet beres."

Jika diingat-ingat lagi, memang bulan lalu adalah bulan yang sangat sibuk bagi mereka. Raja beberapa kali dinas ke negara bagian lain, tapi syukurnya, Ali juga memegang beberapa project di saat yang sama sehingga ia tidak punya waktu untuk berlama-lama memikirkan Raja. Saat bersama di rumah, mereka hanya sempat memasak one pot meal, sementara saat Raja dinas, Ali lebih suka memesan delivery makanan atau makan di luar sebelum pulang.

"Oke, Sayang." Raja mengusak rambut Ali lembut. "Ya udah, ambil aja mayonesnya. Curry block-nya juga. Kayaknya masih masuk budget. Mayones kita pasti kemakan nggak, sih? Kalau goreng kentang sama sosis juga biasanya pakai itu."

Maka, masuk jugalah sebungkus curry block dan mayones Jepang bertutup merah itu ke dalam troli mereka. Sedikit di luar rencana, tapi Ali dan Raja tidak terlalu peduli; mereka sudah lama tidak makan besar di rumah sendiri.

 

(06) Toiletries

“Sabun Mas yang terakhir beli itu enak, itu yang wangi apa, Mas? Kita beli yang gede sekalian aja, di rumah udah mau habis soalnya.”

“Yang ini,” Raja mengambil sebuah botol sabun cair berukuran setengah liter. Ali mengamatinya sejenak, sebelum mengangguk-angguk. “Kayaknya, Ali emang suka wangi lavender, deh. Sebelumnya kita beli linen spray wangi lavender terus Ali suka juga, bikin rileks.”

“Jadi, meluk Mas kalau habis mandi bikin rileks, ya?” goda Raja, sembari menempatkan botol itu di dalam troli.

“Iya, lah! Makanya Ali nggak suka kalau Mas Raja dinas kelamaan, nggak ada yang habis mandi dan wangi, terus bisa dipeluk.”

“Kasihaaan, Sayangnya Mas Raja,” Raja merangkul Ali di lehernya sambil terkekeh menggoda, sementara kekasihnya itu memalingkan wajah dan sibuk mencari-cari hal lain dalam daftar belanjanya. Pasta gigi (dengan ekstra whitening agent karena Ali mulai cemas giginya cepat kuning akibat terlalu sering minum kopi), shower puff, krim dari shea butter untuk Raja yang selalu mengeluh kulitnya lebih kering saat mendekati musim dingin, dan sampo wangi teh hijau kesukaan Ali (Raja juga) dalam ukuran besar segera menyusul menempati troli juga.

Ali dan Raja melintasi lorong lain yang berisi cologne. Cologne murah di supermarket bisa jadi hit atau miss, tapi rasanya, justru di situlah bagian serunya. Mereka bisa menghabiskan beberapa menit sendiri untuk mengendus tester cologne random di supermarket.

“Ali, cobain.” Raja menyemprotkan sebuah botol berwarna biru ke punggung tangannya, lalu mengarahkannya ke dekat hidung Ali.

“Hm… citrusy gitu, ya? Di awal wanginya agak nyegrak tapi, bikin Ali pusing..  dikit,” komentar Ali setelah mengendusnya selama beberapa saat. “Kalau yang ini, Mas?”

Ali menyemprotkan botol lain, kali ini berwarna cokelat, ke area leher dan dadanya. Lokasi yang… aneh, tapi persetan ; Raja menunduk untuk membaui cologne tersebut. Ada wangi oud yang agak pekat, disusul white tea dan… rose? Sepertinya? Apa pun itu, Raja merasa… ini wangi yang cukup seksi.

Raja menelan liurnya beberapa kali, berusaha menjernihkan pikirannya. Ia sudah sangat dekat dari mencium Ali di lehernya jika saja ia tidak menyadari seorang nenek-nenek tengah memerhatikan mereka dari ujung lorong. “Cocok di kamu," bisiknya, di samping telinga Ali.

(sebenarnya, hal lain yang juga sangat ingin ia utarakan adalah, kamu sengaja ya, Ali?, tapi Raja lebih pandai menahan dirinya hari ini)

Ali tersenyum kecil, seperti tanpa dosa. "Bulan depan Ali beli, ini cologne di rumah masih sisa banyak soalnya."

Masih memasang tampang tanpa dosanya, Ali menunjuk dua lorong di depannya. "Mau ngambil makanan kucing bentar. Mas Raja jangan jauh-jauh, ya."

Raja melengos pelan, melihat Ali berlalu. Oke, mari kita cari distraksi lain, pikirnya.

Saat Ali kembali dengan satu plastik besar makanan kucing, ia menemui Raja sedang berdiri di depan rak peralatan olahraga. Laki-laki itu mengangkat sebuah dumbell 3 kg dengan tangan kirinya.

“Mas Raja mau nge-gym, yaaa?” goda Ali sambil menata karton susunya di troli.

“Eh, hmm…” Raja salah tingkah, terlihat berusaha menahan malu saat mengembalikan dumbell ke tempatnya. “Hhmm… iya. Hehehe,” lanjutnya, sambil menegakkan tubuhnya dan cengengesan.

“Mau beli dumbell?”

“Iya, tapi lagi mikir, waktu itu dari kantor kayaknya ada subscription gym yang bisa diklaim gitu… kan, lumayan. Bisa nyobain alat-alat yang lain juga kalau di gym langsung.”

“Emang kenapa mau nge-gym? Kan, Mas Raja suka jogging juga kadang-kadang.”

“Nggak papa…” Raja menggaruk bagian belakang kepalanya, “Mas ngerasa makin buncit aja, jadi kayak om-om gitu. Ya… emang om-om beneran juga, sih . "

“Oh…” Ali mematung sejenak. Raja tidak pernah membicarakan ini dengannya, jadi ia kira, hal-hal seperti ini tidak pernah jadi masalah. Baru-baru ini juga mereka iseng medical check up dengan kupon gratis dari kantor Raja dan tidak ada diagnosis apa pun yang berarti (hanya ada Ali yang mengomeli Raja karena terlalu sering mengonsumsi minuman manis dan Raja yang balas mengomeli Ali karena terlalu sering minum kopi).

“Kalau emang mau nge-gym nggak papa sih, Mas. Tapi…” Ali melingkarkan tangannya di tubuh Raja, lalu mendongak ke atas sambil tersenyum kecil. “Nggak papa tahu gendut dikit, Ali suka… dipeluknya enak.” 

(ah, Raja meleleh, tentu)

Masih penuh senyum, Ali berjinjit lagi (Mas Raja, Ali mau cium) , lalu Raja menyambut bibirnya cepat sebelum melepas pelukannya.

“Eh, tapi… kalau Mas Raja mau beli dumbell buat di apart boleh aja, sih! Tapi bulan depan aja, ya. Soalnya… s-soalnya budget-nya kurang,” Ali tiba-tiba merepet sangat cepat, sebelum membalikkan badannya dan mengecek daftar belanjaannya.

(apa yang Raja tidak tahu adalah hal-hal yang melintas di pikiran Ali sebelum mengambil keputusan demikian; sesungguhnya, ia hanya sedang memikirkan bagaimana akhir pekannya akan berubah dengan menyaksikan Raja workout di balkon apartemen, kausnya lengket ke badan karena peluh)

(lalu, wajah Ali merah sampai ke telinga)

“Oke,” tanggap Raja, senang. Sambil mendorong troli, ia memikirkan harus membeli dumbell warna abu-abu atau biru navy.

 

(07) Deterjen

Ali dan Raja berjongkok di depan rak deterjen.

“Kemarin kita beli deterjen merek X, ya?”

“Iya, soalnya kemarin kan, kita cari yang lagi promo. Terus yang promo yang itu.”

Raja menoleh ke arah Ali. Mereka bertatapan selama beberapa saat, sebelum Ali mencondongkan tubuhnya ke arah Raja agar bisa berbicara dengan sangat lirih. “Wanginya aneh,” komentar Ali pendek.

“Iya, Mas Raja nggak suka juga,” bisik Raja, sambil memantau kalau-kalau sales deterjen tersebut sedang berada tak jauh dari mereka untuk bisa mencuri dengar percakapan ini.

“Deterjen yang kita suka dulu emangnya ke mana, sih?”

“Itu kan, udah discontinued dari lama, Mas. Makanya beberapa bulan ke belakang kita struggling terus nyari deterjen yang cocok.” Mereka terdiam, berpikir keras. Sungguh sebuah permasalahan negara dunia pertama: mencari deterjen dengan wangi yang cocok.

“Ali suka wangi yang kayak gimana? Fresh linen?”

Fresh linen enak, yang seger aja gitu pokoknya Mas, kayak orang habis mandi.”

“Ali kalau habis mandi wanginya juga enak. Apa kita nyuci baju pakai sabun mandi kamu aja?”

Ali menatap Raja kesal, sebelum mencubit pipinya dengan gemas. “Lama-lama kita minta referensi deterjen yang enak ke mas-mas yang jaga coin laundry di lantai satu aja, gimana Mas?” ujarnya setengah bercanda. Raja, masih dengan kedua pipinya di antara jemari Ali, tergelak pelan. Ia mencondongkan tubuhnya untuk mencuri sebuah ciuman sekilas di dahi Ali sebelum melanjutkan,

“Ya udah, bentar. Mas tanya ke mbak-mbaknya dulu. Ali sambil lihat-lihat dulu aja." Raja berdiri, lalu menghampiri mbak-mbak yang sedari tadi sebenarnya mereka hindari (karena takut beliau bisa mendengar mereka sedang menjelek-jelekkan deterjen murahan itu). Sayup-sayup pembicaraan mereka terdengar, Hi, can I get some recommendations on the best budget detergent that cleans well and smells like fresh linen? 

(buset, banyak mau, batin Ali)

Raja kembali dengan beberapa referensi. “Yang ini, terus ini, ini, sama ini katanya.” Sekarang, pilihan mereka mengerucut.

“Ini udah sama softener Mas, ini aja nggak, sih?” Ali menunjuk sebuah kemasan detergent pods berwarna jingga. Long lasting fragrance! Suitable for any kind of fabric!

“Tapi harganya murahan yang ini…” Raja menunjuk kemasan lain yang berwarna ungu.

“Ya kan, kalau nambah softener lagi, makin mahal juga, Mas Sayang,” Ali mulai gemas. 

"Nih, tadi softener harganya segini…" Ali mengeluarkan kalkulator di ponselnya dan mulai menghitung, "terus ditambah segini buat deterjennya. Nah, kalau dibandingin yang ini, bedanya segini… terus isinya nggak jauh beda, murahan ini, kan?"

Raja mengangguk-angguk. "Ya udah, terus, ini kan, ada dua varian, wanginya enakan yang mana kira-kira?"

Mereka terdiam lagi. Ali akhirnya memilih yang warna kemasannya lebih ia sukai karena penjelasan mbak-mbak tadi pun kurang membantu.

"Kenapa ya, yang bikin deterjen tuh, suka ngasih nama wangi aneh-aneh. Kan, jadi bingung. Kita nggak bisa nyium wanginya langsung. 'Morning dew ', lah. 'Summer breeze'. Maksudnya apaan, sih? Baunya kayak baju abis kena matahari seharian gitu? Aneh." Ali masih menggerutu, namun kini dengan deterjen pilihan mereka di pelukannya.

"Nggak papa Sayang, kita coba yang ini dulu. Kalau masih nggak cocok, nanti Mas ngobrol sama mas-mas coin laundry, deh."

Agenda mereka hampir usai. Raja memilih kasir dengan antrian paling pendek sambil menunggu Ali yang tiba-tiba ingin menambahkan keripik kentang dan beberapa cemilan lain.

“Mas,” Ali berujar setelah kembali dengan cemilan-cemilannya. Ia menunjuk etalase kecil di samping kasir. “Buy one get one.”

Raja mengangkat sebelah alisnya. “Mas kira Ali nggak suka soda? Bukannya udah lama nggak minum juga?”

“Iya… tapi Ali suka buy one get one.”

Raja mendengus menahan tawa. “Ya udah, ambil aja. Mas mau yang rasa stroberi.”

Ali dan Raja keluar dari Bigmart; Ali dengan troli kecil berisi belanjaan mereka dan sekaleng soda stroberi di tangannya, sementara Raja dengan sebuah tas kain blacu (yang juga) berisi belanjaan mereka di bahunya. Waktu menunjukkan pukul satu, namun siang ini, matahari tampak malu-malu. Hasilnya adalah kombinasi langit berawan dan hawa sejuk; cuaca yang tepat untuk berjalan kaki beberapa blok kembali ke apartemen mereka.

Sambil berjalan, Raja mengecek daftar belanja yang tadi dibuat Ali, membandingkannya dengan struk belanja mereka. Matanya menangkap sesuatu yang… dirasanya agak asing.

“Ali,” panggil Raja, “kenapa ada tulisannya ‘grocery shopping list #23’?”

Ali yang sedang menyedot sodanya hampir tersedak. Ia susah payah menelan minumannya, sebelum terbatuk-batuk kecil. “Hmmm…

Mas Raja pengen tahu banget?”

“Pengen tahu aja, sih… tadinya, tapi gara-gara reaksi Ali kayak gitu, jadi pengen tahu banget.”

“#23 itu nunjukin udah berapa kali kita belanja bulanan sejak tinggal bareng…” Ali menarik napas panjang sebelum melanjutkan,

“...belanja bulanan itu kan, aktivitas yang mundane , rutinitas yang pasti akan dilakuin terus. Tapi Ali suka, makanya itu penting buat Ali. Sekarang, bareng Mas Raja, Ali juga masih suka belanja bulanan. Even when it's something mundane, I’ve always looked forward to it, and now that I’m with you… I’ll look forward to it more.

I guess, even in another world, I’d… still love to do grocery shopping with you.

Ali tersenyum malu, lalu menambahkan, "Ali harap, angkanya nambah terus. Mas Raja jangan ketawain Ali ya, hehehe.”

Langkah Raja seketika terhenti.

“Enggak, kok.” Raja terdiam cukup lama, memandangi Ali. Mereka berdua masih berdiri di tengah trotoar. Ada banyak hal yang ingin ia lakukan dan utarakan saat ini, tapi semuanya berputar-putar tanpa arah. Ia butuh waktu untuk memahami. Saat ini, ia hanya yakin akan satu hal.

"Kenapa Ali mesti cerita soal ini sekarang, sih?" Raja berujar, nadanya serius.

Kedua alis Ali bertaut. "Karena… Mas barusan nanya?"

“Iya, tapi… kayaknya kita jadi perlu minggir sebentar. Mas perlu cium Ali dulu.”

"...Mas?!"